Bermula di tahun 1967 atau 1968–saya sudah lupa persisnya–sekitar empat puluh tahun lalu. Pada waktu itu saya masih beragama Islam, sekalipun tidak taat–Islam “abangan” kata orang. Saya menetap untuk sementara di kota Malang, Jawa Timur. Saya membaca sebuah buku saku, “The Teachings of the Compassionate Buddha”, karya Prof. E.A.Burtt–saya memang suka membaca buku-buku spiritual. Isi buku itu sangat menarik bagi saya pada waktu itu.

Melalui buku itu, untuk pertama kali saya mengenal ajaran Sang Buddha. Yang paling menarik dalam ajaran itu bagi saya adalah: masalah “ketuhanan” dan “nibbana” (nirvana). Agama-agama yang pernah saya kenal dan pelajari sampai waktu itu–Kristen, Islam, bahkan Hindu–selalu mengajarkan adanya sosok pribadi tertinggi–kalau pun bukan pribadi, setidak-tidaknya punya nama diri (proper name)–yang digambarkan sebagai pencipta, atau asal mula, dari alam semesta & kehidupan ini: “Allah” dalam agama Islam & Kristen, ?brahman? dalam agama Hindu.

Tapi dalam ajaran Sang Buddha, kok pengertian-pengertian seperti itu tidak ada, setidak-tidaknya pada bagian pertama buku itu yang memaparkan ajaran mazhab Theravada. Alih-alih, Sang Buddha mulai dengan mengajarkan fakta eksistensial & eksperiensial dalam hidup manusia, yakni Dukkha. Lalu diajarkan tentang Lenyapnya Dukkha, yang dinamakan “nibbana”. Apa pula itu? Dikatakan, ?nibbana? adalah lenyapnya kotoran batin, lenyapnya loba, dosa dan moha; dan orang tidak lagi mengalami lahir & mati (samsara).

Tapi, apakah saya, si Hudoyo, sebagai pribadi/individu tetap ada (eksis) ketika itu tercapai? Kalau tidak, apa yang tinggal, apa yang ada? (Belakangan baru saya sadari, bahwa kata “nibbana” itu sendiri berarti “padam”; yakni padamnya apa yang saya kenal sebagai aku, diri, individu, beserta segala pikiran, pengetahuan, pengalaman, perasaan yang bersumber pada aku yang saya miliki.) Ini sangat berbeda dengan apa yang ada dalam agama-agama lain, yang mengajarkan bahwa tujuan akhir dari kehidupan manusia adalah untuk masuk/eksis sebagai pribadi ke dalam suatu keadaan, entah disebut “surga”, entah “penyatuan dengan Allah”, dsb; keadaan yang digambarkan sebagai “sempurna”, sebagai “suci”. Jadi, bagaimana sesungguhnya “nibbana” itu? Apakah “nibbana” ada hubungannya dengan pengertian “kesempurnaan”, “kesucian”, seperti yang kita kenal dengan pikiran kita selama ini?

Demikianlah, pertanyaan-pertanyaan tentang dua hal itu–“prinsip tertinggi” dan “tujuan akhir kehidupan manusia”–terus menghantui pikiran saya pada waktu itu. Saya merasa perlu bertemu dengan seseorang yang bisa menjelaskan masalah itu kepada saya. Melalui seorang kenalan, saya mendengar tentang salah seorang pimpinan Agama Buddha di Malang pada waktu itu, yakni Drs. Djamal Bakir. Maka saya memerlukan datang ke rumah Drs. Djamal Bakir, sebuah rumah kecil yang terjepit di antara toko-toko besar di Jalan Kayutangan, Malang. Di situlah saya berkenalan untuk pertama kali dengan Pak Djamal, Bu Djamal istrinya, dan putra tunggalnya Dik Toni (Sartono), yang ketika itu masih duduk di sekolah dasar. Sebuah keluarga yang amat harmonis dan tenteram. Bu Djamal yang senang ngobrol, Pak Djamal yang sekali-sekali menimpali, keduanya murah senyum dan tawa, dan Dik Toni yang selalu malu-malu kalau berhadapan dengan saya. Mereka adalah keluarga Buddhis yang saleh.

Dalam kehidupan sehari-hari, Pak Djamal menjabat sebagai kepala sebuah SMEA Negeri. Dalam kehidupan religius, beliau adalah Ketua Perbudhi Cabang Malang. Setiap minggu menyelenggarakan kebaktian bertempat di sebuah pagoda kecil di kelenteng Malang. Dengan cepat saya sudah menjadi bagian dari keluarga Pak Djamal. Bu Djamal sering membuatkan saya sayur tumis a la Gorontalo yang pedas. Suami-istri itu pernah bertugas sebagai guru di Gorontalo di tahun 1950-an. Ketika pemberontakan PRRI-Permesta pecah, Pak Djamal beserta para pegawai yang datang dari Jawa bersembunyi di hutan, sedangkan Bu Djamal tetap tinggal di kota. Dalam suasana penuh keprihatinan itu, Bu Djamal berpuasa dan memperoleh kemampuan melihat jauh (dibba-cakkhu). Beliau bisa melihat dengan jelas keadaan Pak Djamal di hutan. Belakangan, setelah keadaan normal kembali, kemampuan itu lenyap.

Pak Djamal & istri terlibat dalam kegiatan sosial dengan mengorganisir bantuan bagi anak-anak desa yang miskin di sebuah desa di selatan Malang (Sumberpucung?). Dananya diperoleh dari sebuah organisasi di Belanda. Ada beberapa puluh anak yang mendapat bantuan keuangan untuk pendidikan mereka.

Bu Djamal mendambakan sebuah tempat di luar kota yang bisa dipakai untuk retret meditasi. Saya ikut bersama mereka melihat sebidang tanah di desa Ngandat, tidak jauh dari Batu. Dengan bantuan dana dari beberapa pihak, tanah itu pun dibeli, dan Dhammasala pertama, sebuah bangunan kecil, dibangun. Itulah yang menjadi cikal bakal Padepokan Dhammadipa-arama yang kita kenal sekarang.

Setelah saya meninggalkan Malang, kembali ke Jakarta, hubungan dengan keluarga Pak Djamal tetap terbina dengan baik. Pada tahun 1970-an, setiap tahun kami selalu bertemu di Borobudur dalam perayaan Wesak. Pada waktu itu vihara Mendut masih baru dibangun, dan kami menyewa kamar di rumah penduduk. Pada malam sebelum Wesak, Pak Djamal & istri, saya & beberapa orang lain biasa ?bergadang? di puncak Candi Borobudur semalaman setelah mendapat izin dari penguasa candi. Ini kami lakukan dua atau tiga tahun berturut-turut. Pada waktu itu, jumlah peserta perayaan Wesak di Borobudur masih sedikit, sehingga suasana religius masih sangat terasa; tidak seperti sekarang, di mana perayaan Wesak di Borobudur sudah seperti pasar malam. (Ini kesan saya pribadi, lho, tanpa mengingkari keniscayaan yang memang harus terjadi.)

Kemudian saya mendengar bahwa keluarga Djamal Bakir pindah ke Yangoon, Myanmar. Pak Djamal ditugasi oleh Pemerintah Indonesia untuk memimpin sekolah Indonesia di sana. Sudah tentu bagi Pak & Bu Djamal ini bagaikan pucuk dicinta ulam tiba. Di Myanmar, mereka tinggal di tengah masyarakat Buddhis, yang pada umumnya lebih religius dibandingkan masyarakat Buddhis di Thailand, karena perekonomian Myanmar relatif terbelakang. Keluarga Pak Djamal sering mengikuti retret vipassana di pusat meditasi Mahasi Sayadaw. Mereka tinggal di Myanmar selama lima tahun, kalau tidak salah.

Sekembali di tanah air, Pak Djamal bertugas sebagai pegawai senior di Departemen Pendidikan Nasional di Jakarta. Keluarga itu membeli rumah di bilangan Bekasi. Mereka juga membeli sebuah rumah di samping Vihara Mendut, yang dimanfaatkan dalam kegiatan perayaan Wesak setiap tahun, dan kelak dihibahkan kepada Vihara Mendut.

Pengalaman tinggal di Myanmar rupanya membekas secara mendalam dalam kesadaran Pak Djamal. Saya diberitahu bahwa Pak Djamal merencanakan akan menjadi bhikkhu setelah pensiun, dan Bu Djamal akan membaktikan sisa hidupnya untuk kegiatan penyebaran Dhamma. Rencana itu pun terlaksana pada tahun 1987. Pak Djamal ditahbiskan oleh YM Sukhemo dari Sangha Theravada Indonesia, menjadi bhikkhu dengan nama Khantidharo. Sayang, Ibu Djamal tidak lama bisa membaktikan hidup beliau untuk Dhamma. Beliau meninggal beberapa tahun setelah Pak Djamal menjadi bhikkhu.

Kini YM Bhante Khantidharo Mahathera bermukim di Padepokan Dhammadipa-arama di Ngandat (Batu), Malang. Beliau membaktikan sisa hidup beliau sebagai guru meditasi vipassana yang terkenal di Indonesia. Beliau mengikuti jejak YM Bhante Thitaketuko, yang kini terbaring sakit di Denpasar, menjadi mercu suar bagi para pemeditasi vipassana versi Mahasi Sayadaw.

Demikianlah kenangan singkat saya tentang Bhante Khantidharo dan keluarga beliau, yang telah menganggap saya sebagai anggota keluarga sendiri. Hanya itu detail yang bisa saya ingat. Kepada mereka saya tidak akan pernah lupa, karena melalui merekalah saya mengenal secara nyata ajaran Sang Guru Agung, yang telah membuka mata batin saya.***

[Ditulis untuk buku peringatan 20 vassa lima bhikkhu Indonesia, yang diterbitkan oleh Vihara Tanah Putih, Semarang, pada perayaan Hari Kathina 2007.]