“Janganlah melekat terhadap segala sesuatu apapun, termasuk terhadap dhamma”

“Janganlah melekat terhadap barang yang didanakan, seperti jangan melekat terhadap kotoran yang telah kita buang””

Itulah teori yang tertanam dalam benakku dan sering aku tularkan terhadap teman-temanku. Namun teori membutuhkan praktik dilapangan, agar hakekat dari dhamma tersebut terselami/tertembusi.

Ditempat ku biasa belajar dhamma, aku sering datang 1 jam lebih awal. Suatu hari aku bersama dengan teman seperti biasa datang lebih dahulu, tidak lama kemudian datang juga peserta lain. Peserta yang baru datang ini adalah peserta baru kelas dhamma. Lalu terjadilah pembicaraan diantara kami, aku lebih banyak bertanya pada peserta baru tersebut. Ternyata orang ini(peserta baru) sedikit terbelakang(mungkin autis). Sebenarnya aku salut juga dia mau belajar dhamma. Ditengah pembicaraan dengannya ada hal yang membuat batinku geli, membuat aku menahan tawa agar tidak menyinggung perasaannya. Ternyata ku lihat temanku juga menahan tawa, lalu ku putuskan untuk pergi sebentar meninggalkan mereka berdua agar tidak tertawa lebar.

Diluar ku lihat banyak tukang jajanan, lalu ku putuskan untuk membeli 8 buah combro(mahal juga 1 combro = Rp.1500) untuk para peserta kelas dhamma. Ketika aku hendak kembali(ketempat kelas dhamma) aku berpikir “Wah didalam cuma ada si gendut(tubuhnya memang gendut) dan kawan saya. Pertemuan yg lalu saya perhatikan dia makan martabak hobi sekali, tanpa pikir-pikir orang lain juga mau makan. Dia makan banyak martabak tersebut dengan cepat”.

“Sekarang masih sangat sepi, banyak peserta lain belum tiba, jangan-jangan sebelum para peserta lain tiba dia yang habiskan makanan ini. sama saja saya habiskan uang saya untuk mengenyangkan perut orang itu, apakah perlu saya tahan dulu(tunggu peserta lain berdatangan baru saya keluarkan penganannya) ?”

Begitulah bentuk pikiran awal, yg langsung terbantah lagi dengan pikiran, “Ah barang yang didanakan jangan dilekati. Lebih baik saya langsung umbar saja combro ini, keputusan ini tidak akan saya sesali”. Akhirnya berbekal pikiran tersebut ku taruh makanan itu dimeja yang tersedia, dan berkata. “Nih-nih ada combro makan aja”. Lalu orang itu mengambil combro, dan teman ku berkata “Eh jangan lupa ! cuci tangan dulu ah”. orang itu berkata “Oh !? Iya yah !”. Kemudian dia melahap combro itu, dan temanku pergi cuci tangan. Aku pun mulai melahap combro itu sambil memperhatikan dia, dan berpikir “Mogah-mogahan kamu gak serakah, masih mau mikirin yang lain(peserta yg belum datang)”.

Setelah habis satu combro dilalapnya, dia beranjak dari tempat duduknya dan pergi. Ah ! ternyata dia tidak seperti yang ku duga, dia tidak melakukan hal yang dia lakukan terhadap “martabak” di pertemuan yang lalu. Lega hati ini rasanya. Kemudian temanku yang habis cuci tangan datang dan makan satu dari combro itu, tidak lama kemudian orang itu datang lagi, kali ini dia terlihat lebih sigap, mengambil tempat duduk yang hongsui-nya bagus(tepat didepan makanan tersebut) dan tanpa ragu mengambil satu combro lagi untuk dilahap. Wah Duh! ternyata aku salah duga, kepergian dia yang tadi hanya untuk mengikuti kata-kata temanku yaitu cuci tangan.

Ketika dia sedang makan aku berharap lagi “Semoga kamu bukan orang yang serakah, cuma makan dua saja”. Dan pikiran baik pun timbul menyanggah, “biarkan saja apa yang dia lakukan, yang penting niat dari awal adalah berdana, pertahankan pikiran baik itu(tentang dana), jangan dikotori oleh kemelekatan”. Ah bentuk pikiran ini cukup melegakkan batin, aku tidak terikat lagi oleh combro itu.

Eh ternyata setelah habis, tanpa ragu dia mengambil satu lagi. saat ini aku percaya bahwa dia tidak akan berhenti, dia akan menghabiskan penganan itu untuk perutnya seorang. batin ku mulai goyah lagi dan terpikir “wah ini sih benar-benar ngabisin uang buat dimasukin perut nih orang”. namun pikiran baik menyanggah lagi, “Sudah-sudah, harus jaga tiga masa, aparapara cetana jangan sampai rusak, jangan melekat, inilah latihan sesungguhnya dari melepas kemelekatan”

Ketika batin sudah tenang kembali, datang seorang bapak-bapak yang juga peserta kelas dhamma. orang itu telah menghabiskan setengah dari combro itu. ketika si bapak yang baru datang mendekat, dia berkata “Pak! makan pak!” dengan gerak tangan mempersilahkan si bapak yang baru datang untuk memakan makanan tersebut, seolah-olah dialah ‘Tuan’ dari makanan itu, dialah yang membelinya. Kali ini aku tersentak “Udah gua yang beli, eh bisa-bisanya lu nawarin ke orang”.

“Aduh! kok begini jadinya!?” malah tambah kemelekatannya, tambah ketahuan pula sang ‘Aku’ berbicara. Kemana batin yang ‘tenang’ tadi, apakah benar-benar ketenangan. Kok setiap peristiwa malah menimbulkan efek yang lebih besar. Ah! ada ‘ego’ ternyata disini! baru ku sadari. Semakin diperhatikan ternyata ada dosa juga, ‘aku’ ‘menolak’ sikapnya yang seolah-olah ‘Tuan’ dari makanan itu. Aku dengan kemelekatanku, segenap berubah menjadi aku dengan ego-ku dan dosa-ku. Sedangkan dia, ‘si manusia terbelakang itu’, makan dengan bahagianya(wajahnya memang sering tersenyum).

Si bapak peserta baru itu hanya mengiyakan saja namun tidak memakan makanan tersebut. padahal sasaran(dana)ku adalah para peserta kelas dhamma, termasuk si bapak. bukan hanya orang ini. bolehlah orang itu mengambil, tapi jangan banyak-banyak.

Aku baru menyadari lagi ego yang satu ini, “‘aku’ ‘mau’ makanan itu untuk banyak orang, dan ternyata segala sesuatunya tidak sesuai dengan ‘keinginanku’”

Kemudian datang lagi peserta kelas dhamma yang lain. Dan apa yang orang itu lakukan? dia berbuat serupa. Dia ambil satu lagi combro dan menawarkan peserta yang baru datang untuk mengambil juga, seolah-olah combro itu yang dia beli. Ketika dia mengambil combro itu, perasaan batinku biasa saja. Apakah batin itu menjadi ‘kebal’? bukan! bukan sekedar kebal. Tidak tiba-tiba kebal, namun didahului oleh pikiran “pasrah”. pasrah terhadap apa yang ‘terjadi’ oleh combro itu, pasrah karena harapan agar si gendut tidak ‘serakah’ tidak terjadi.

Kemudian dia mengambil satu lagi. Lalu bagaimana keadaan batinku? kali ini berbeda, aku pergi menghindar dari tempat kejadian. Mengapa ? karena semua bentuk batin ini, semua ini membuat batinku geli. aku yang sering mengingatkan orang-orang agar jangan melekat terhadap apapun, aku yang sering mengingatkan bahaya kemelekatan, dan aku yang menyarankan kawan-kawan agar jangan melekat terhadap apa yang didanakan. Ternyata melekat pada combro yang kudanakan. Akhirnya aku pergi dari TKP karena tidak mau dianggap aneh tertawa sendirian.

Aku kembali setelah dapat menguasai diri kembali lagi. Kali ini combronya tinggal satu, mulutnya sedang mengunyah. aku yakin peserta-peserta lain tidak ada yang mengambilnya, karena orang yang baru datang biasanya minum dulu, santai sejenak, baru ngobrol-ngobrol sambil memakan penganan. Aku lihat combro yang tinggal satu, dan aku yakin orang itu ‘tanpa belas kasihan pada yang lain’ akan menggasak yang terakhir itu. Dugaanku ini tidak meleset, yang terakhirpun tidak diberi ampun.

Kalau ku perhatikkan dari peristiwa yang terjadi tidak lebih dari lima belas menit tersebut. Kekotoran batinku banyak yang timbul, selain kemelekatan(lobha), penolakan(dosa), ego(atta), ada juga membandingkan(mana). Bila saja orang tersebut adalah pengajar dhamma favoritku, atau bhikkhu, atau pandita, mungkin aku akan rela bila beliau menghabiskannya, namun karena dalam pikiranku yang bersangkutan hanyalah seorang terbelakang aku jadi tidak rela. Tanpa disadari oleh orang itu, perilakunya melatih teori yang ku pelajari. Terima kasih gendut! Bulan depan aku gajian lagi, kalau kau masih datang, sepertinya aku akan latihan lagi.