Namo Buddhaya…

Dulu saya sering sharing dgn karib tentang “Teori 0:2” dlm relevansinya: mengapa kita sulit mengakui kesalahan (yg sering diterjemahkan menjadi kekalahan)… Namun belakangan ini saya renungkan ada satu poin universal yg mudah nampak dari ‘helicopter eyes’ ~ sehingga Teori 0:2 perlu direvisi menjadi Skor 0:3…

Sangat Sukar Akui Kesalahan…

Mengapa demikian? Tidak fair, tidak sportiv, tidak open-minded, tidak humanis (tapi egois), tidak patriotis, tidak logis, bla3 dll… Banyaklah faktor2nya. Tapi saya melihat dari angel yg lebih berbeda, saya misalnya: salah/kalah argue dgn seseorang, yakni:

  1. Skor 0:1of3 untuk: Kalah argue dgn dia, artinya DIA BENAR!
  2. Skor 0:2of3 untuk: Kalah argue dgn dia, artinya SAYA SALAH!
  3. Skor 0:3of3 menurut saya cukup fatal, karena berhubungan dgn pandangan/pengertian keliru yg tidak bermanfaat bagi perkembangan bathin. Kita tahu istilah dalam Buddhisme sebagai ‘micca ditthi’ ~ bukan ‘moha’. Moha semata2 tidak tahu membedakan mana yg bermanfaat & mana yg tidak bermanfaat. Ditthi adalah salah konsepsi, salah persepsi, salah analisa, salah analogi. Dan… pandangan ini dipegang kuat-kuat, dilekati, kuekueh…

Bahkan demi mempertahankan ditthi ini, aksesnya berpeluang menjadi lebih runyam. Misalnya saya lah, karena kuekueh dgn ditthi: saya ngotot dalam berargumen yg NB dalam bentuk komunikasi. Alhasil, pengandalian sila ke-4 menjadi sangat rentan.

Omongan saya juga bisa menkondisikan orang lain pada keki/kesal & bahkan marah. Pd sisi lain, bahkan ada yg justru terkondisi dgn sedemikian rupa sehingga setuju dgn pandangan keliruku itu. Klimaksnya, yah… saya memupuk ditthi itu… Itu akan menjadi kecenderungan (trend) bathin yg baru bagi saya, akumulasi yg senantiasa akan terbawa-bawa.

Nah, 2 poin awal adalah faktor subyektif yg bisa dianalisa dalam bathin masing2. Butuh kejujuran saja utk diakui. Oh, ada lho gejolak bathin yg bo-kam-guan dari dalam diriku utk ngakuin: DIA BENAR & pd saat yg bersamaan AKU SALAH (masih 0:2of3).

Namun poin ke-3, sulit sekali, sangat halus utk diditeksi. Mengapa? Wajar saja, karena bathin saya masih dilandasi oleh: lobha, dosa, & moha. Ini merupakan poin obyektif yg universal, diakui atau tidak, disukai atau tidak; tetap terjadi & akan dinilai & divonis oleh komunitas luas…

Kesimpulannya: banyak varian & probabilita. Sungguh & terlalu banyak yg tidak mau mengakui “kekalahan” saat salah dlm diskusi; fatalnya: dia tdk sadari sebenarnya dia salah… Masih banyak yg tidak mau mengakui “kekalahan” saat salah dlm diskusi; padahal: dia sadari sebenarnya dia salah… Cuma sedikit yg mau mengakui “salah/kalah” saat salah dlm diskusi… Padahal, justru dgn menyikapi dgn bijak poin ke-3 di atas yang nyaris tidak tersentuh ~ tidak akan ada alasan yg lebih baik, bagi saya pribadi tentunya, utk mempertahankan ditthi tersebut. Mengutip makna essensiil dr salah satu ayat Dhammapada yg indah: bagi yg menunjukkan kesalahan pandanagan saya, ibarat saya dikasih peta “harta karun” yg tak mampu dinilai…

NEXT CHALLENGE > Bagaimana apabila Anda pada posisi yang benar?