Sejak belasan tahun yang lalu, dua kata sederhana ini sering menggelitik saya untuk mengupas & membedahnya… Saya tidak akan menggunakan definisi kamus, namun hakiki atau makna faktual di dalam keseharian kita…

Percaya merupakan pondasi dari iman, ini merupakan fundamental dari non-Buddhisme. Salah satu kutipan dari Alkitab, ±: “Berbahagialah bagi engkau yg percaya walaupun tidak/tanpa melihat…” Buddhisme menyatakan bahwa salah satu faktor kekuatan adalah saddha atau yakin…

Lantas, mengapa kedua kata sederhana ini menjadi begitu “sensitif” untuk ditelaah? Karena kata merupakan inisiasi bathin (pikiran & perasaan), manifestasi dari sistem spiritualitas kita. Naturenya, kita merupakan “produk” non-Buddhisme; kadar ini yg kita sering terapkan dalam sebagai Buddhis…

Percaya memiliki fatalisme, karena berpijak semata² kepada: sedikit nalar & didominasi oleh latar emosionil, hubungan, ikatan tertentu, dll. Sering disebut juga sebagai “blind faith”… Contoh kasus profokasi beberapa tahun lalu sempat marak: menggerakkan massa & kemudian bertindak anarkis. Dasarnya cuma percaya; bisa karena yang memprovokasi adalah pemimpin yang dikagumi, sanak famili yang mengajak, atau akatan organisasi keagamaan yang dianut… Artinya, percaya ataupun tidak percaya, bisa timbul tanpa didahului pembuktian. Abang saya yang bilang, saya percaya. Seteru saya yang bilang, saya tidak percaya. Mirip pacaran, dibuai hubungan romantis, jadi saling percaya ~ ada karib yang kasih tahu bahwa partnernya selingkuh, gak percaya. Nah, ruang lingkup makna “percaya”, yah essensinya cuma seputar itu lah…

Yakin, memiliki nilai kukuh, jauh lebih mantap daripada percaya. Ada fase analisa dan pembuktian yang mendahului hingga bisa timbul suatu derajat keyakinan. Dari literatur Buddhisme, Kalama Sutta menyinggung value tersebut. Jangan percaya semata-mata karena, bla3x… namun apabila setelah dibuktikan bahwa bla3x… Nah, itu lah fundamental keyakinan Umat Buddha yang ideal… Pembuktian itu sendiri memiliki beberapa metode: analisa logis, perenungan/kontemplasi pd diri sendiri, penghubungan pengalaman, & “test-drive” langsung…

Nah, coba saja kita jalan di mal & polling pendapat, contoh: “Anda percaya akan adanya air dan udara?” Kayanya kita bisa dianggap aneh yah? Eksistensi riil, tidak butuh yg namamya “percaya”… Saya pernah tanya ke teman Nasrani: “Pernah gak U kepikir, kenapa yah penginjilan itu dilakukan terus? Pewartaan akan Tuhan tiada hentinya hingga saat ini? Jangan bilang karena banyak yg belum jadi Kristen, karena kepada umat aktiv pun, ceramahnya itu melulu… Renungkan dulu…” Temen saya itu memang sudah sering saya “skak”, jadi karena takut “salah jawab”, dia bilang gak tahu… Saya bilang: “Karena isi pewartaan itu tidak/belum bisa dibuktikan, makanya diminta percaya terus… Kalo sudah ada fakta nan riil, misalnya: nampak di langit. Yah, tinggal unjuk saja: nooo…” Mirip air & udara kan? Sudah terbukti jelas, diajarai bahwa itu tidak ada, malah sudah tidak bisa. Mengapa? Karena sudah “yakin”! Sudah buktikan dan hidup karena itu…

Office boy di kantor dulu saya bekerja pernah bertanya apakah saya percaya hantu? Saya bilang: “Tergantung dari kata “percaya” yang dimaksud. Karena pertanyaan Kalian lanjutannya adalah: ‘pernah lihat gak?’, betul?” Coba saya minta Kalian lewat kuburan, perasaan yang spontan muncul, apa? Takut! Takut apa? Hantu! Pernah lihat? Tidak! Koq takut? Pasti karena ‘percaya’ itu ada dari cerita orang kan? Ceritanya sudah lewat & ternyata tidak ada. Bukankah ketakutan itu adalah: MENGADA-ADA? Mereka tertawa.. Nah, gimana dengan Tuhan? Ada? Pernah ketemu? Pernah bicara? Tapi katanya ada & itu dipercaya kan? MENGADA-ADA seperti hantu di kuburan itu gak?

Jadi, jika saya ditanya apakah percaya Tuhan? Saya selalu bicara definisi “percaya” dulu, sepakati dulu. Karena hopéng yang minta ‘percaya’, yah chin-chai lah. Besok ada saudara minta jangan ‘percaya’, boleh juga, namanya kerabat. Lusanya pacar minta ‘percaya’, yah nurut apa susahnya, pacar khan? Entah kapan dapat TTM diminta jangan ‘percaya’, lebih nurut lagi… So what gitu lho? Cuma percaya, gak perlu “modal”… Jelas sudah, jika ada yang mengaku Buddhis, trus pindah menjadi non-Buddhis. Artinya dia belum sempat memiliki keyakinan, simplenya, dia tipe ‘percaya’. Tak heran jika lantas dia testimoni tentang betapa tidak bermanfaatnya Buddhisme… Kira², berapa banyak yah umat kita yang punya karakter demikian?

Berapakah derajat keyakinan kita sebagai Buddhis akan Buddha Dhamma? Tinggal ukur seberapa jauh pemahaman intelek kita akan Buddhisme? Seberapa dalam kontemplasi kita akan value Buddhisme pada prinsip hidup kita? Dan tentunya seberapa jauh kita mengaktualisasi Buddha Dhamma dalam hidup keseharian?

‘Percaya’… hmmm… Menurut Pak Haboedi “Sudah Tidak Hightech”… Apalagi main percaya tanpa melihat (buktikan), wah… Haré giné? ± 2550 lalu Guru Agung Para Manusia & Dewa sudah mengumandangkan bagaimana cara membangun keyakinan yang ideal…

Lha… ‘percaya’ yg sudah tidak hightech masih sangat begitu laku & menggiring keluar para pewaris pemrakarsa ‘yakin’. Macam mana ini? Apa kata duniaaa??? Tantangan bagi kita semua yah… Giat dalami Buddha Dhamma & share it dgn B3 (baik, benar, & bijak)…