Namo Buddhaya…

Karuna merupakan salah satu karakteristik dr Brahma-Vihara (sikap bathin luhur) yang sepatutnya senantiasa dikembangkan oleh Buddhis… Dasar/pondasi dari Karuna adalah Metta (kasih-sayang universal), artinya, jika Karuna tumbuh, maka saat yg bersamaan sarat akan muatan Metta. Apakah obyek bathin dari Karuna? Makhluk yg sedang merana, mengalami penderitaan jasmani/bathin. Karakteristiknya, tanpa batas, artinya kepada makhluk apa saja, tinggi maupun rendah (terutama sekali).

Umumnya, secara global, masyarakat kita, jika disuvey apakah seharian lebih banyak happy ato unhappy? Maka akan lbh banyak yg memprodulsi faktor bathin negativ. Terutama sekali di kota-kota besar. Harus hadapi: jalanan macet yg menyebalkan, antrian di mal, suhu panas yg menyengat, rekan kerja yg ngga kooperatif, konsumen yg ngeluh, anak bandel, postingan yg ngga nyaman di milis, dll… Semua itu berpotensi besar memancing reaksi bathin kita yg negativ utk muncul, bahkan kadang-kadang bisa meledak-ledak…

Jika ditelaah, bahwa banyak obyek yg merana di lingkungan kita, maka lebih besar peluang kita utk praktik pengembangan bathin luhur, khususnya: Metta-Karuna..

Itu idealnya… Namun krn kita tidak terbiasa, malah bereaksi sebaliknya: bukan ber-empati (karuna), justru terinduksi utk ikut-ikut kesal… Tangan mulai nekan-nekan klakson saat macet, berguman/ngoceh saat antian kepanjangan & si kasir slow motion, bentak anak karena sala tulis 2-3 huruf, balas postingan dgn kata-kata keras (bahkan kasar). Mirip-mirip Paritta perenungan yg sering kita baca: jangan krn marah & benci, mengharapkan pihak lain celaka. Contoh: syukurin lu, mampus lu, gua kata juga apa, itu akibat tadi lu gituin gua khan?…

Jika seseorang merana, mungkin masih mudah bagi kita utk praktik Karuna, walaupun kenyataannya masih sering miss (meleset). Contoh pengemis jalanan, jelas lah sdh bhw hidup kita lebih baik daripadanya. Tapi, bukan Karuna yg dikembangkan saat dia mengemis, malah kita komentari cara hidupnya yg malas. Ngga berdana, malah bergumam negativ. Padahal pola hidupnya yg negativ itu, juga merupakan obyek dari Karuna yah???

Nah, gimana jadinya apabila, justru ada pihak yg menyinggung org yg selaras dgn kita (sesuai dgn kita), atau bahkan kita sendiri yg disakiti? Apakah juga termasuk dalam kategori obyek bathin utk kembangkan Karunacitta? Selaras dgn Hukum Kamma-Vipaka, maka sudah jelas dia sdg menanam akusala-kamma, jelas juga bakal terima akusala-vipaka. Utk poin itu, kita tahu bahwa dia sedang menanam kamma negativ, dan… ini bagian yg sering dilupakan, dia sedang memupuk kebiasaan negativnya… Itulah obyek pengembangan bathin Karunacitta…

Ketika menghadapi obyek bathin yg tdk nyaman-nyaman/sedap-sedap di atas, sesungguhnya pd saat itu kita dihadapkan pd banyak pilihan. Netral, tidak senang, marah, kesal, berang, kasihan, prihatin, bahkan membantu.

Tapi karena kita terbiasa utk respon negativ (terlatih dgn baik), maka itu keluar, seakan-akan tidak bisa terkontrol

Itu yg terjadi di dunia riil yg sangat interaktiv, tidak demikian dgn dunia maya kita ini, milis. Yg mana, banyak rentang waktu bagi kita utk telaah, renungkan gejolak bathin dibaliknya, utk mengerti misi sesungguhnya, dll. Kemudian jika memutuskan utk respon, maka adalah dgn memilih yg selaras dgn spirit Karunacitta tsb.

Memang tidak gampang atau sederhana. Namun sangat bermanfaat utk dikembangkan… Mari kita coba bersama-sama…