Aspirasi ini sering dilafalkan saat puja di vihara. Karena varian dari haikakat pesan tersebut banyak, dari yang kasar hingga halus. Di samping itu memang tidak sederhana dipraktikkan; terkesan menjadi slogan atau bahkan “mantra” semata…

Bentuk kasarnya yang kita bisa amati adalah: penodong/pencopet yang tertangkap massa dan dihakimi ramai². Terdengar teriakan: “Rasain luuu, mampus lu sekalian. Biar tahu rasa!” Bahkan kaum ibu² ~ mungkin itu cara paling mampu untuk menghakimi; karena hukuman fisik itu porsinya para lelaki…

Bentuk kurang kasarnya: kendaraan kita disalib dengan kasar sehingga sempat kaget. Tangan spontan tekan tombol klakson, trus temen di samping/belakang nasehatin: “Sabar saja, biarinin saja, entar kalo ketemu yang gualak, baru tahu rasa dia!” Perjalanan lanjut… Ditutup dengan do’a & pengharapan tadi itu, hé³… Nah, beberapa saat kemudian nampak di depan kendaraan yang tadi nyalib, sedang didongkrak, ganti ban. Kita pelanin kendaraan, din-din, trus keluarin jempol sambil senyum puasss…

Dari makian sampai ke jempol plus senyum, messagenya sama: “Rasain luuu. Syukurin luuu.”

Bentuk yang agak/mulai lembut…

Ada rekan sekantor yang sereh (sebut saja Gunasaro), suka cari muka, dan pernah mengadukan kita ke atasan. Kesal hati tapi tak bisa melawan. Suatu hari, atasan/boss mau keluar kota, selesai briefing dia kejar pesawat buru². Beberapa menit setelah keluar ruangan; semua spontan merayakan “kemerdekaan”… Si Gunasaro nyalain lagu dangdut sambil joget seperti kesurupan. Di meja kita, pesawat telepon berdering ~ diangkat, ternyata satpam di depan kasih bocoran boss balik ke kantor karena ada yg ketinggalan. Waks… spontan saja mau jerit untuk inform ruangan; namun pemandangan Gunasaro si sereh yang berjoget kesurupan di tengah ruangan, terlalu indah untuk diganggu…

Tiba² musik matot (mati total), langsung berubah menjadi suara bentakan boss: “Gunasaro! Temui saya segera sepulang saya nanti!” Aduh bahagianya hati kita dengan adegan itu… Puasss… puasss… puasss… Nah, yang seru adalah yang versi soft bin lembut. Gak terasa, tertanam dalam sekali, sering terngiang, sering terganti oleh obyek lain (tapi kasus sama), dan sering dibantah… Unik sekali…

Supaya lebih bisa riil terefleksi dalam bathin, saya gunakan contoh dari aktvitas milis kita ini saja yah… Contoh… Gunasaro terlibat diskusi dengan Sumedho, cukup seru; nah RPJ coba nimbrung dan pendapatnya agak berseberangan dengan Gunasaro. Tiba² Lily respon dan justru mengkritik pendapat RPJ dengan keras/ketus (contoh lho…); tapi benar² telak tidak terbantahkan. Pas juga diskusi itu happy ending, ada saling pengertian dah… Sejak saat itu, ketelakan respon Lily yg keras sering muter di atas kepada RPJ, kaya lingkaran tokoh The Saint itu…

Sejak itulah, RPJ dengan rajin dan giat selalu mengamati posting Lily. Tekadnya sudah bulat untuk mencari salahnya Lily. Nah, suatu ketika Lilik & Lily terlibat argumen seru tentang lelaki. Pendapat Lilik kurang benar, namun mampu memojokkan Lily; RPJ tahu bahwa Lilik kurang tepat, namun karena posisi Lily sudah terpojok & kurang mampu respon. Akhirnya RPJ memutuskan untuk posting mendukung Lilik dengan memojokkan Lily, dengan tambahan komentar yang dimanipulasi, karena sebenarnya dia tahu bahwa Lilik tidak tepat argumentasinya. Tetapi karena posisi Lily terjepit & lagipula sudah menunggu terlalu lama utk balas. Maka dia “korbankan” kebenaran prinsipnya…

Kita, sering kalanya terperangkap pada WHO daripada WHAT atau HOW daripada WHAT. Kebiasaan ini yang menjerumuskan & memerosotkan bathin kita, sehingga ego menebal, ibarat telapak kaki yang diinjak dan digesek, namun justru menebal… Memang benar & baik, ketika ada pada posisi sebagai penyampai, kita ber-u-sa-ha menjadi sosok yang nyaman (WHO), kemudian cara penyampaian (HOW) yang nyaman pula…

Namun pada sisi lain, ketika kita yang berada pada posisi menerima suatu ide/gagasan/pendapat (WHAT)… Radar kita selalu menyortir: WHO & HOW… Gara² itu, WHAT menjadi rendah maknanya… Mengapa? Entah karena kita berharap sosok itu seperti kita (WHO); atau mengharap sosok itu bergaya tutur seperti maunya kita (HOW). Namun kebanyakan sih karena EGO kita ternah tersentil bin tersinggung.

Sebab yang lebih halus adalah, karena kita suka BER-OBYEK lampau. Artinya, dengan pengalaman sebelumnya tentang sosok (WHO) ini, pasti dia begini nih (HOW)… Kita tidak terbiasa dgn obyek kekinian. Padahal kita tahu sifat universal: anicca… Nah, karena kesal atau tidak puas itulah, kita berharap dia terima kesal juga… Versi halusnya dari: Karena Marah & Benci, Berharap Pihak Lain Cilaka… Benar-benar tantangan berat bagi kita untuk tetap mampu menerima & menilai secara proporsional suatu ide/gagasan/kritik (WHAT) sebagaimana apa adanya, tanpa terdistorsi oleh WHO & HOW…

Mari sama² kita berjuang… Tidak gampang, tapi inilah manfaat kita berkomunitas di milis ini. Untuk saling A3 (asah, asih, & asuh)… Sadhu, Sadhu, Sadhu …