Judul yang membosankan dan sudah terlalu sering didengar yah… Namun, koq nampaknya pergeseran maknanya semakin menjauh dari makna hakikinya? Saya akan coba melihat dari beberapa poin untuk membedah ungkapan yang sederhana dan singkat ini…

‘Tipical mistakes’ di dalam dalam komunitas Buddhis yang sering ditemukan adalah:

1) Salam Pembuka: ‘Namo Buddhaya’ plus nama orang yang disalami. Nama Buddhaya ± artinya ‘Dimuliakanlah Sang Buddha’ atau ‘Terpujilah Sang Buddha’. Mirip dengan “Halleluyah” milik saudara kita yang Nasrani: ‘Puji Tuhan’. Atau “Allahuakhbar” milik saudara kita yang Muslim: ‘Allah Maha Besar’… Nah, ketika dikasih embel² nama seperti: Namo Buddhaya Gunasari, artinya menjadi ±: Terpujilah Sang Buddha Gunasari… Kalo Namo Buddhaya Susini, maka menjadi Dimuliakanlah Buddha Susini. Nah, nampak sudah pergeseran maknanya khan? Ini karena apa? Salam Buddhis diidentikkan dengan salam ‘Selamat Pagi’, karena pemahaman akan makna sesungguhnya kurang dipahami, sehingga terjadilah pergeseran…

2) Salam Penutup: ‘Buddha Bless You’. Nampaknya ini mirip juga dengan salam dari saudara kita yang Nasrani: ‘God Bless You’ alias ‘GBU’ yang kita² singkat menjadi ‘BBU’. Jika diingat², nampaknya ada pendahulunya, yaitu dari serial film laga yang mulai di-dubbing ke Bahasa Inggris. “Amithuofo” diterjemahkan menjadi: ‘Buddha Bless You’, saya yakin rekan² yang nonton serial video oriental, pasti tahu hal ini… Secara pemahaman Buddhisme, ungkapan ini tidak selaras dengan pakem Dhamma; saya tidak perlu bahas hal ini (karena sudah banyak dibahas), karena poin di sini adalah: akibat salah terjemahan atau ikut²an justru praktik keseharian kita menjauh dari prinsip essensilnya…

3) Ehipassiko… Yang merupakan salah satu corak istimewa dari Buddha Dhamma (Kalama Sutta menerjemahkannya dengan sangat bagus…). Memang, mungkin karena unsurnya mirip; banyak dari kita menggunakan kata tersebut sebagai “buktikan”. Misalnya: “Coba ‘ehipassiko’ (buktikan) dulu dong!” Atau: “Ayolah kita ber-ehipassiko sama²…” Atau: “Anda sudah ehipassiko belum, jangan main asal ngomong saja…”

Nah… Karena topik utamanya adalah ‘Ehipassiko’, maka coba kita telaah makna essensilnya sebagai berikut… Sehingga kita akan bisa menilai apakah ungkapan di atas sudah tepat? Atau: yahhh, beda² tipis lah, koq sensitiv amat séh? Hé³… kalo bergeser menjadi contoh ? 1 & 2, itu sudah menjadi fatalisme yang tidak terasa yah… Karena sudah menjadi kebiasaan harian kita…

N a h …

Padahal, ehipassiko menggambarkan karakter/value spesifik dari Buddha Dhamma, yaitu: mengundang/menantang (challenge) untuk dibuktikan… Bagaimana caranya? Datang utk mendengarkan, kemudian apa yang didengar itu direnungkan, muncul pemahaman/kebijaksanaan intelektual (Sutamayapañña), hingga timbul semangat/viriya utk diimplementasikan secara riil… Penghayatan & pengamalan inilah yg akan menimbulkan Cintamayapañña (kebijaksanaan kontemplatif antara pemahaman & fakta), kemudian keyakinan (saddha) pun tumbuh kuat & kukuh…

Jadi, banyak proses value yang terjadi: logika, anasila-sintesa, observasi, penyelaman bathin, kontemplasi, hingga implementasi. Artinya, ‘mengundang untuk dibuktikan’ tidak sebatas dengar saja dan kemudian: “Ooo… (sebatas knowledge)…” Sama halnya dengan Kalama Sutta yang tidak benar jika dikutip hanya point² awal saja: “Jangan percaya semata² karena… bla³…” Kalimat endingnya itu: “Namun apabila ajaran tersebut mengarahkan bathin kepada…”

Wajib komplit…

Pada sisi lain, logika, hanya salah satu “tools” untuk menjembatani pemahaman Buddha Dhamma secara hakikat sesungguhnya. Buddha Dhamma tidak sesempit logika semata, salah² malah menjerumuskan & memerosotkan bathin… Maka dari itu, ultimate achivement-nya adalah pañña (wisdom), bukan knowledge… Oleh karena itu, karakter unik lainnya dr Buddha Dhamma adalah: dapat diselami oleh para bijaksana (bukan cendikiawan)…

Ehipassiko, ungkapan yang sangat unik, bercirikan scientific, kontemplatif, & menantang untuk diimplementasikan; tidak sebatas logika, melainkan penyelaman mendalam ke dalam bathin… Sangat bertolak belakang dengan paham lain yg berpatokan pada “percaya” guna tumbuhnya “iman”… Ehipassiko menumbuhkan “keyakinan” (saddha), sehingga timbul pañña (kebijaksanaan)…

Jika merujuk kepada pemahaman/karakter aslinya ‘Ehipassiko’, berarti seberapa kebijaksanaan yang timbul dari penyelaman Dhamma itu sendiri. Bukan artinya diterjemahkan menjadi “buktikan” itu, sehingga semua ‘harus’ dibuktikan dulu. Ada pemahaman yang tumbuh-kembang menjadi wisdom, sehingga ada “first thing first”, kapasitas kemampuan, perlu/patut/pantas atau tidak, serta preferensi bathin. Contoh sederhana: membunuh adalah hal yang tidak bermanfaat, bahkan sangat merugikan; karena bla³… akibatnya bla³… Nah, yang seperti ini, cukup dengan penyelaman bathin saja, maka akan timbul keputusan: oh ya, semakin mantap bagiku bahwa hal itu harus dihindari, bathinku semakin mantap karena aku paham benar akan alasan & akibatnya… Tidak perlu dibuktikan bukan?

Bagaimana dengan topik metafisik? 31 Alam kehidupan, misalnya? Dalam Dhamma sendiri, diajarkan pula cara membuktikannya; butuh usaha, proses, serta kondisi² yang tepat. Karena topik ini tidak sesederhana membuktikan keberadaan pantai atau danau. Nah, kalo belum bisa dibuktikan, tidak bisa dipercaya dong? Memang kita tidak dituntut oleh salah-satupun dr karakteristik Buddha Dhamma untuk percaya koq. Tapi saddha (keyakinan); yang timbul dari praktik. Dan… derajat pemahaman masing²lah yang menentukan apakah hal itu menjadi prioritas untuk urgent dibuktikan atau tidak. Artinya bukan untuk sekadar mampu membuktikan kepada tantangan pihak luar…

Jika ada 2 ungkapan; yang mana menggambarkan Buddhisme & yang mana non-Buddhisme?

  • outside in
  • inside out

Saya sering diskusi dengan pihak Nasrani tentang Tuhan dan keselamatan yang dijanjikan… Mereka memilki dualisme pemahaman yang sangat kontradiktiv:

  • personivikasi Tuhan, sehingga bisa aktiv mengintervensi kita semua…
  • namun hanya bisa dibuktikan keberadaan-Nya secara pasiv…

Artinya, segalanya bisa dari Tuhan (aktiv), kecuali satu: pembuktian keberadaan-Nya, harus dari kita (pasiv)… Jika kita merujuk pd intervensi penuh (aktiv) Tuhan akan kita, ini merupakan ciri “outside in”. Causa prima, bahwa hidup & kehidupan kita ditentukan sepenuhnya oleh sebab tunggal semata… Namun ketika membuktikan eksistensinya, kita ditawarkan ciri “inside out” ~ sangat kontradiktif, bukan?

Contoh racun: memiliki sifat destruktif (aktiv), kalo dikonsumsi maka akan berakibat fatal. Apakah dia (racun) butuh persepsi kita akan sifatnya itu? Dia tidak mau tahu kita tahu atau tidak, percaya atau tidak. Diminum, pasti fatal… Itulah layaknya sifat aktiv Tuhan, absolut! Jika masih membutuhkan persepsi sebaliknya, maka akan menjadi rancu. Jadinya: antara ada dan tiada…

Buddhisme terbalik, inside out… Semuanya bermuara pada perpaduan Pancakkhanda ini, apa yang ada di/dari luar merupakan “obyek tamu” dari pada bathin. Kematangan & kebijaksanaan bathin (inside) sangat menentukan sejauh mana kita mampu me-manage segala sesuatu yang ada di luar atau masuk dari luar (out)…

Jadi; pertanyaan: “Apakah Anda bisa buktikan kepada saya???” ~ masih tepat tidak? Butuh perenungan kembali dari sebagian uraian tersebut di atas, yah…

Contohnya neraka avicci; jika saya diminta buktikan, dan harus saya yang buktikan kepada penuntut (bukan dia sendiri). Berarti saya bunuh ayahanda atau ibunda saya dulu dong? Cari Arahat untuk dibunuh kan sulit, atau pecah belah Sangha, dll… Nah, setelah saya bunuh salah satu ortu, biar cepat/instant untuk membuktikan neraka avicci, saya bunuh diri (supaya/berharap lahir di sana untuk buktiin kepada si penuntut). Ternyata orang yang minta saya butikan masih tertinggal di bumi dan saya jadi penghuni neraka avicci berkappa²…

Jadi, ketika seorang Buddhis meminta pembuktian dari seorang Kristen ~ dan sebaliknya seorang Kristen meminta pembuktian dari seorang Buddhis. Jauh berbeda terminologinya; pakem agama masing² perlu digunakan… Iniside out? Atau outside in?

Salah satu karakteristik/corak unik Buddha Dhamma adalah: dapat diselami oleh yang bijaksana dalam bathin MASING²… Bukannya: dapat MENYELAMKAN bathinnya orang kain…

Kemudian: berada sangat dekat, yaitu di dalam perpaduan Pancakkhanda ini; bukan tersebar di 31 alam; sehingga harus dikumpulkan dahulu…

Loka = alam kosmos, sebut saja skala makro…

Bhumi = alam bathin, sebut saja skala mikro…

Puggala = makhluk, jenis kehidupan (manusia, binatang, dewa, setan, dll)…

Jika berbicara tentang pembuktian oleh diri sendiri akan eksistensi alam² kehidupan. Secara hakikat sesungguhnya, manakah yang lebih essensil? Membuktikan ‘loka’ atau ‘bhumi’???

Kita tahu bahwa setelah mencapai Sammasambodhi, Pertapa Gotama merealisasi Nibbana, sebagai Buddha… Di ‘loka’ dunia kita ini kan? Namun Beliau selama beberapa minggu berobyek pada “Nibbana”…

Kita pernah mendengar cerita alam dewa ada perang; ‘loka’-nya surga, tapi ‘bhumi’-nya? Perang! Juga dengan setan yang berbuat baik, atau binatang yang sungguh setia kepada majikan (puggala-nya binatang, loka-nya dunia ini, bhumi-nya makhluk setia/baik).

So, yang penting mana? Loka atau bhumi? Saat meninggal, saat cuti-citta sangat menentukan kita migrasi ke alam (loka) mana & sebagai makhluk (puggala) apa, khan? Tergantung dari apakah kualitas cuti-citta kita itu? Tergantung dari kualitas “bhumi” (alam bathin) kita setiap saat secara akumulatif… Jadi, secara hakiki, apa bedanya ‘loka’ nanti kita migrasi dengan ‘bhumi’ saat kita selama ini???

Secara inside out, it’s a matter of how to deal with those outsider objects… Cash Basis, kualitas itu sudah tertanam sekarang; jatuh tempo mah sudah di tangan… Semua bertumpu kepada ‘dalam bathin’…

Bagaimana dengan pembuktian rebirth?

Oleh diri sendiri yah… Kalo buktikan orang lain, nanti malah melanggar sila ke-1 dari Pancasila Buddhis…

  • Punarbhava = migrasi ‘bhumi’ antar ‘loka’ & ‘puggala’… Sebut saja skala makro…
  • 8 kondisi dunia = untung-rugi, sukha-dukkha, dicela-disanjung, & terhormat-hina. Sebut saja skala middle…
  • Nama-rupa = proses timbul-berproses-tenggelam dari saat ke saat. Rupa (fisik) alami pelapukan. Nama/bathin (citta & cetasika) silih berganti sesuai kondisi & obyeknya. Sebut saja skala micro…

Manakah yang paling penting untuk dipahami secara hakikat sesungguhnya? Kutipan Dhammapada ±: lebih baik hidup walau sehari dengan memahami hakikat Dhamma dari pada hidup sekian lama…

Jika kita setuju bahwa ultimate practise dari Buddhisme adalah Vipassana Bhavana; bukankah itu ada pada poin urutan ketiga di atas? Mana yang menjadi lebih penting, dalam perspektif skala & urgency??? Makro atau mikro?

Hakikat sesungguhnya, ultimate reality, Paramattha Sacca ~ kita setiap saat merupakan proses sambung-menyambung alias rangkain dari kamma-vipaka-kamma-vipaka… Trusss… Setiap saat, kita juga alami pelapukan jasmani (micro), perubahan kualitas bathin… Ungkapan filosofisnya: kita setiap saat rebirth, menjadi sosok nama-rupa yang berbeda pula… Kadang ‘bhumi’ kita peta, ashura, kadang binatang, kadang neraka, jarang² dewa lah…

Jika mengacu kepada azas SKALA dan PRIORITAS? Masing² dari kita (buktiin kepada pihak lain sudah no issue yah?), patut/pantas/perlu menyelami & merealisasi yang mana? Membuktikan yang mana? Makro atau mikro? Sekali lagi, ternyata semua itu kembali kepada wisdom dari kualitas pemahaman Buddha Dhamma itu sendiri. Kualitas ‘ehipassiko’ yang muncul dari interaksi kita dengan Buddha Dhamma yang menentukan, akhirnya…

Jadi, mari kita gunakan ungkapan “Ehipassiko” secara tepat sasaran, sehingga pemahamannya tidak mengalami distorsi. Jika sudah bergeser, maka pertanyaan seputar ke-“ehipassiko”-an pun menjadi tidak proporsional lagi…

Semoga bermanfaat. Sadhu³…