“Aku berlindung pada Buddha, Ingat selalu takkan lupa……….” Dengan suara baritonnya yang khas, pak Gondo yang biasa saya panggil mpek (pak De ), bersenandung sambil mencukur rambut saya. Sejak umur 5 tahun, sampai saya SMA. beliau selalu mencukur rambut para putranya termasuk saya, seorang keponakannya. Dan karena sekolah SD saya dekat dengan rumah beliau, seusai sekolah, saya selalu ke rumah beliau, sampai menunggu ayah saya menjemput sepulang kerja.

Begitu sering beliau bersenandung lagu Aku berlindung, sampai suatu ketika saya iseng bertanya : “Mpek, apa tidak ada lagu lain selain Aku berlindung?” dan dengan enteng beliau menjawab : “Bagi mpek, tidak ada lagu yang lebih bagus daripada lagu Aku berlindung pada Buddha”.

Pada saat yang lain, kalau sedang mencukur, petuah yang selalu diberikan adalah : “Nanti kalau ada kesempatan, belajarlah meditasi, mpek tidak mendapat kesempatan untuk belajar meditasi pada seorang yang betul betul memahami meditasi, semua belajar sendiri, coba coba sendiri tabrak sana tabrak sini”.

“Kamu ingat ingat ya, untuk bermeditasi, perhatikan napas masuk dan napas keluar itu saja dulu, nanti akan kelihatan pikiranmu itu rame sendiri, nah teruskan perhatian pada napas masuk dan keluar, sampai pikiran rame itu reda dan sepi sendiri”. Sebagai anak kecil, tanpa paham sedikitpun saya hanya mendengarkan selintas, tapi karena sering diulang ulang, lama lama jadi hapal dan teringat terus.

Pada saat lain lagi, beliau berkata : “ Jangan bosan bermedtitasi, memang tidak ada pekerjaan yang lebih membosankan dari duduk diam seperti patung dan memperhatikan napas sendiri, terus tekun melakukan, karena manfaatnya besar sekali bagi dirimu sendiri”

Ketika saya SMP, dan sudah dibelikan sepeda oleh ayah saya, maka mulai jarang ke rumah beliau, hanya kadang kadang datang untuk pangkas rambut, suatu ketika saya pangkas rambut di tukang pangkas dekat rumah, dan waktu saya mau kembali pangkas rambut ke rumah beliau, dengan gusar beliau berkata : “Jangan cukur rambut sama orang lain, mpek masih hidup dan masih kuat, kecuali terpaksa baru boleh. Jangan biarkan sembarang orang pegang pegang kepalamu, mengerti?”. Jadi sampai saya kuliah di luar kota, barulah berhenti pangkas rambut dengan beliau.

Salah satu kisah yang sering beliau ceritakan adalah : “Mpek adalah orang yang ndugal (Bengal dan nakal). Setiap ada orang yang mempromosikan agama apapun, selalu mpek goda sampai dia jengkel. Dari sekian banyak teman mpek di kota Rembang, ada beberapa yang tertarik dengan agama Buddha, dan banyak bercerita, cerita yang menurut mpek, masuk akal. Dan yang mengubah mpek untuk mulai bermeditasi adalah pada waktu tahun 1953, ada perayaan Waisak yang pertama di Borobudur. Mpek saat itu sedang tugas belanja di Rembang, dan diajak oleh teman mpek seorang pengusaha di Rembang untuk ikut menghadiri Waisak tersebut”

Dan dengan mata berkaca kaca, beliau melanjutkan :”Itulah acara Waisak yang paling hebat, yang pernah mpek alami, dan tidak bisa dilupakan, memang hanya beberapa ratus orang yang hadir, dimalam bulan purnama, dengan kelap kelip lilin, sungguh pengalaman luarbiasa, dan setelah baca mantra yang mpek tidak bisa dan tidak mengerti, pemimpin upacara (mpek baru tahu belakangan, namanya The Boan An, dan belakangan menjadi Bhikkhu Ashin Jinaarakkhita), secara singkat menjelaskan cara bermeditasi, kemudian semua mulai bermeditasi bersama. Inilah saat yang mengubah mpek, suasana menjadi begitu hening, mpek mengikuti petunjuk yang diberikan mulai bermeditasi untuk pertama kalinya, dan mendapatkan ketenangan yang luar biasa yang belum pernah mpek rasakan sebelumnya. Sejak saat itu, mpek mulai berlatih meditasi”.

“Mpek tidak punya kesempatan untuk belajar dibawah bimbingan Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, berlatih sendiri, hanya dari tanya teman dan baca baca buku yang dipinjamkan oleh teman mpek, tapi mpek yang dulu berangasan, gampang marah, suka berburu, mulai berubah, menjadi lebih bisa mengendalikan diri, dan meninggalkan hobby berburu karena bisa memahami penderitaan mahluk yang lain. Pengalaman yang membuat mpek berhenti total dari hobby berburu adalah pada suatu ketika teman mpek menembak seekor kera, sampai jatuh, dan itu ternyata induk kera dengan seekor anaknya yang masih bayi. Induk kera yang jatuh itu ternyata belum mati, dan dengan susah payah dia naik lagi ke pohon, meletakkan anaknya di ranting pohon, dan akhirnya karena tidak kuat lagi, dia jatuh dan mati. Sejak itu mpek berhenti total dari berburu, punya hak apa kita merampas kebahagiaan mahluk lain?”

Pernah satu kali ketika libur panjang sekolah, saya masih SMA saat itu, saya diajak beliau berlibur ke kota Rembang, kota kelahiran ibu saya. Di kota tersebut, kami mengunjungi sebuah kelenteng, yang juga merupakan tempat kremasi, ketika itu dikota saya belum ada krematorium, sehingga bila ada yang meninggal dan ingin di kremasi harus dibawa ke Jakarta atau Semarang. Dengan semangat beliau memeriksa krematorium yang masih menggunakan arang, dan komentarnya dengan logat Jawa yang medok : “Nih kamu lihat, kalau mpek sudah mati, yang namanya badan ini sudah rusak dan tidak berguna, jangan repot repot, blusuke (bhs Jawa artinya dimasukkan atau dijebloskan) saja ke lubang ini, uruk dengan arang dan nyalakan apinya, biarkan habis jadi abu, sudah beres”. Dan Pandangan beliau mengenai kremasi seperti ini (pada waktu itu masih belum umum) sering digoda oleh putra putrinya yang sebagian besar bukan Buddhis, antara lain : “Lha pi (papi/ayah maksudnya) apa ndak kepanasan di panggang seperti itu?” Dengan sengit beliau menjawab : “Apanya yang panas, wong sudah jadi bangke, bangke kan tidak bisa merasa. Sudah, pokoknya nanti kalau papi mati, jangan neko-neko, bakar saja beres”.

Menjelang saya berangkat kuliah ke luar kota, mpek secara khusus datang ke rumah saya dengan menaiki sepeda tuanya, dan pesan beliau adalah : “Begitu kamu sampai di kota Bandung, cari kesempatan untuk pergi ke jalan Dago, disitu ada Vihara tempat Bhikkhu Ashin Jinarakkhita tinggal, kamu minta di bimbing beliau untuk ber meditasi, ingat ya di jalan Dago, jangan sia siakan kesempatan untuk belajar meditasi dari beliau, mpek tidak memiliki kesempatan untuk dibimbing beliau”. Saat menjelang beliau pulang, masih sekali lagi diulangi : “ke vihara di jalan Dago ya, temui Bhikkhu Ashin Jinarakkhita”.

Setelah beberapa bulan di Bandung, akhirnya saya mencari cari vihara di jalan Dago, dan berlatih meditasi disitu, dibimbing oleh seorang bhikkhu (bhante DharmaSuryabumi), karena bhikkhu Ashin Jinarakkhita tinggal di Pacet, Cipanas.

Pada waktu bertemu mpek saat liburan kuliah, saat saya menceritakan bahwa saya berlatih meditasi, beliau dengan bersemangat berkata : “Kamu beruntung bisa berlatih dengan dibimbing. Ayo ceritakan, bagaimana petunjuk bhikkhu, supaya mpek bisa berlatih dengan benar”. Setelah saya menyampaikan apa yang diberikan, dan menjawab berbagai pertanyaan beliau. Dengan mata berkaca kaca beliau berkata : “Mungkin pada kehidupan mendatang, mpek baru bisa berlatih Vipassana dengan dibimbing oleh bhikkhu yang mumpuni, tapi tidak sia-sia mpek selalu menasehati kamu untuk belajar ber meditasi”.

Dilain kesempatan, saat bertemu dengan mpek, beliau bertanya : “Masih ingat nggak, kamu waktu kecil, mpek suruh ikut dengan kakak mu yang lain untuk berlatih silat, kamu tidak mau?” Saya tidak ingat lagi, cuma ingat saya merasa tidak suka saja untuk berlatih silat. Mpek meneruskan :”Ingat ngga apa yang kamu katakan waktu itu? “ Tentu saja saya sudah lupa. Sambil tersenyum mpek berkata : “Waktu mpek memaksa kamu –umurmu baru 6 tahunan – untuk ikut latihan silat, kamu bilang, ‘aku tidak suka belajar ilmu memukul dan mengalahkan orang lain, kalau ada, aku mau belajar ilmu supaya orang tidak ingin memukul aku’. Lha ya ndak ada ilmu seperti itu, yang mpek ingat ada pelajaran meditasi yang kalau dilatih dengan baik, membuat orangnya disukai oleh orang lain, bahkan hewan dan mahluk yang lain, cuma mpek tidak bisa menjelaskan . Tapi sejak itu mpek tidak paksa kamu untuk silat, dan lebih banyak cerita mengenai meditasi”.

Mungkin mpek pernah mendengar dari temannya mengenai Metta Bhavana, tetapi karena tidak ada yang membimbing, setahu saya, mpek selalu tekun melatih meditasi dengan objek pernapasan.

Sampai menjelang akhir hayat beliau, beliau benar benar disiplin bermeditasi dari jam 4 pagi sampai jam 5 pagi setiap hari, di taman kecil dibelakang rumah beliau, dan kalau hari hujan, beliau duduk bermeditasi di teras taman.

Pada tahun 1980 beliau meninggalkan dunia ini dan pindah ke alam lain yang tentunya lebih baik.

Semoga benih benih kebaikan yang beliau tanamkan, berbuah dan memberikan manfaat untuk waktu yang lama. Sadhu, sadhu, sadhu.

Ditulis untuk mengenang jasa jasa baik dari Alm Bp. Gondo Sucipto, Oleh Upa. Dayananda TG.