Setiap kali memandang wajah Buddha di dinding kamarku, selalu saja hadir berbagai rasa dan kesan di dalam hatiku. Dan dari pelbagai rasa dan kesan itu, ada satu yang paling menonjol dan membekas selalu dalam kesadaranku: wajah Buddha senantiasa menghadirkan rasa damai.

Kupikir, jika seseorang bertanya padaku mengenai seperti apakah kedamaian yang hidup itu, maka akan kutunjukkan ia wajah Buddha. “Kawan, lihatlah wajah Buddha. Maka seperti itulah kedamaian yang hidup itu.”

Ketika Setan Alavaka si pemakan manusia bertanya kepada Buddha mengenai rasa termanis, Buddha menjawab: rasa termanis adalah rasa dari pembebasan. Menurutku, yang dimaksud Buddha dengan rasa pembebasan itu tidak lain adalah kedamaian yang dicapai oleh setiap pribadi yang telah cerah.

Sungguh, kedamaian itu benar-benarlah rasa termanis dari semua rasa di alam semesta ini. Lebih-lebih di bumi para manusia, di dalam kehidupan sehari-hari dengan pelbagai problemanya, pelbagai godaan dan nafsu-nafsunya, pelbagai pasang dan surutnya yang seringkali menghempaskan kita, aku makin menyadari betapa sangat manisnya rasa kedamaian yang dapat kita peroleh bila kita telah menempuh jalan Buddha, seperti yang telah Buddha dan para arahat-Nya peroleh.

Bukankah akan sangat indah sekali, jika kita mampu untuk tetap damai di tengah-tengah hiruk pikuk dunia? Tidakkah merupakan suatu kebahagiaan yang luar biasa, bila kita mampu untuk tetap tenang, untuk tetap teduh tak tergoyahkan oleh apa pun yang datang kepada kita dan apa pun yang pergi dari kehidupan kita?

Seperti apakah kedamaian yang hidup itu? Seseorang bertanya kepadaku. Dan kutunjukkan ia wajah Buddha, wajah dari makhluk yang tak tergoyahkan lagi.

Chuang 281002