Di dalam kisah kehidupan Buddha, kita mengenal Sujatta sebagai wanita muda yang memberikan persembahan makanan kepada Bodhisattta Sidharta, menjelang Beliau mencapai penerangan sempurna. Dalam satu dialog dari kisah tersebut, Pertapa Gotama bertanya kepada Sujatta,”Sujatta, apakah kamu bahagia?”

Sujatta menjawab,”Ya Guru, aku bahagia karena aku tidak banyak menuntut dari hidupku. Seperti setetes air sudah cukup untuk memenuhi kelopak bunga lili, begitulah aku sudah terpuaskan oleh apa pun yang kuperoleh dalam hidupku”.

Sebongkah tanah liat meminta dijadikan tempayan kecil kepada pembuat tempayan. Pembuat tempayan heran, karena tidak biasanya tanah liat meminta dijadikan tempayan kecil. Semua tanah liat yang dia kenal selalu ingin menjadi tempayan besar. Lalu sang tanah liat menjelaskan bahwa jika dia menjadi tempayan kecil, maka dia akan mudah terpenuhi oleh apa pun yang mengisinya. Dengan demikian dia akan berbahagia karena mudah merasa puas dan cukup.

Menyenangkan dan pasti akan bahagia sekali bukan, jika kita mampu merasa puas dan cukup dengan apa pun yang datang kepada kita?

Tetapi mudah merasa puas dan cukup disini tidak berarti kita harus hidup ala kadarnya. Sebab pengertian seperti itu sangat dangkal dan tidak bijaksana. Lebih tepatnya seperti yang diungkapkan oleh sebuah kalimat bijak dalam bahasa Inggris “If Better Is Possible, Good Is Not Enough”

Berbuatlah sebaik mungkin dalam hidup ini, dan setelah itu puaslah! Maka dengan sendirinya kebahagiaan akan hadir untuk kita.

Chuang 191103