Dalam beberapa minggu terakhir ini, saya mendapat banyak kabar mengenai rencana pernikahan dari para sepupu dan keponakan saya. Sebenarnya, bukanlah hal yang baru mengetahui si anu akan menikah dengan si itu yang anaknya koko (kakak) itu atau lainnya, tetapi entah kenapa baru sekarang ini saya dapat menyadari dan melihat dengan jelas bahwa pergantian antar generasi di keluarga saya tampaknya sudah mulai bergulir. Tongkat estafet yang selama ini dipegang oleh generasi terdahulu mulai diserahkan kepada generasi baru.

Saya mengingat-ingat bagaimana kami (saya dan para sepupu) dulu masih sering bermain bersama dan tukar-tukaran buku pelajaran bila tahun ajaran baru sudah datang (pada masa itu buku-buku pelajaran tidak sering berganti-ganti seperti sekarang ini sehingga relatif bisa diwarisi dari kakak kepada adik dan seterusnya)

Saya mengenang bagaimana kami dulu masih suka berlari-lari mengejar ombak di pantai, atau berlomba renang adu cepat, atau bermain sepakbola di pasir pantai.

Kini disini, tak terasa kami semua sudah tumbuh dewasa, sibuk dengan dunianya masing-masing.

Tetapi seriing berjalannya waktu, kami semua tumbuh besar dan terlalu sibuk untuk bermain bersama lagi. Ditambah dengan berhentinya tradisi waris mewarisi buku-buku pelajaran karena buku-buku pelajaran menjadi sangat komersil, praktis kami hanya bertemu pada acara-acara keluarga atau kesempatan-kesempatan lainnya yang tidak begitu sering, menyebabkan sedikit banyak keakraban antar kami menjadi berkurang.

Mungkin terlalu naïf untuk berharap dapat menjalin hubungan dengan jenis keakraban yang sama seperti pada masa kecil kami dulu, tetapi saya tetap merasakan ada sesuatu yang berkurang kini, yang tak dapat lagi saya temukan di dalam dunia dewasa kami.

Perubahan benarlah adalah satu-satunya hal yang abadi di dunia ini, dan saya mau tak mau harus menerimanya dengan lapang dada,