Persis di samping rumahku ada sebuah tanah kosong yang sudah lama tak berpenghuni. Dulunya di sebidang tanah itu terdapat sebuah pub and bar yang, khas-nya tempat seperti itu, bising dan ramai. Tapi kini tanah itu kosong dirambatin oleh pepohonan liar yang berpenghuni para burung. Maka, jadilah di samping rumahku berdiri sebuah republik burung dengan pelbagai macam burung sebagai penduduknya.

Hampir sepanjang hari para burung itu berkicau, teristimewa di pagi hari saat mereka kompak menyambut datangnya mentari dan sebuah hari baru, sebuah kesempatan baru, kelahiran baru untuk menjadi lebih baik dan bijak.

Aku selalu senang mendengar kicauan mereka, dan tak jarang tubuhku bergelidik karena aliran kebahagiaan yang menjalar dari rasa syukur dan terima kasih yang kutujukan kepada para penyanyi alam itu.

Aku tahu dan sadar diri bahwa para burung tidak berkicau semata-mata karena mereka ingin aku dengar dan puji. Bahkan mungkin mereka tak peduli apakah ada yang mendengar kicauan mereka atau tidak, apakah ada juri yang memberi nilai atau mengeliminasikan mereka. Mereka akan tetap bernyanyi dengan sepenuh hati tanpa mengharapkan tepik sorak dari pemuja mana pun. Karena mereka suka bernyanyi dan bahagia dengan melakukannya, tanpa pamrih apa pun.

Toh begitu, setiap kali mendengar nyanyian mereka, tak bisa tidak aku akan selalu berkata dalam hati: terima kasih para burung, atas kicauanmu yang menyemarakkan pagiku, yang mengusir lelah siangku, dan yang menambah kesegaran soreku. Kalianlah tetangga terbaikku. Kicauan kalian selalu mengingatkan aku untuk bersyukur, bahwa setumpul apa pun adanya telingaku, tetaplah aku masih dapat menikmati keindahan orkestra yang kalian mainkan sepanjang hari.

Chuang 030307