Apakah dapat disebut egois bila dalam setiap doa kita, kita mengharapkan kebahagiaan untuk diri kita sendiri?

Seorang teman dalam satu kesempatan menvonis saya sebagai orang yang egois, karena ketika ia bertanya kepada saya,”Seandainya kamu diberi kesempatan untuk mengajukan permintaan, apakah yang akan kamu mintakan?” Saya menjawab,”Saya menginginkan kebahagiaan.”

Apa salahnya mengharapkan kebahagiaan untuk diri kita sendiri?

Saya percaya bahwa setiap orang yang berbahagia adalah pribadi-pribadi yang elok, yang bijak dan hidup dalam kebajikan. Tak akan pernah ada seorang yang berbahagia, menjadi si trouble maker, tukang rusuh yang menyebalkan. Sebab ia sendiri adalah orang yang berbahagia, maka ia akan berkecenderungan untuk memancarkan kebahagiaannya itu kepada orang-orang disekitarnya, kepada setiap orang yang mengenalnya, melalui setiap pikiran, perbuatan dan perkataannya. Pendek kata, ialah yang dapat kita sebut sebagai “ yang membawa kebahagiaan bagi setiap makhluk.”

Sebaliknya si tukang rusuh, tukang buat masalah dan sejenis itu, umumnya dapat dipastikan adalah orang-orang yang tak berbahagia. Dikarenakan ia sendiri pada dasarnya tak berbahagia, ia lalu memancarkan ketidakbahagiaannya itu dengan membuat orang lain juga tak bahagia: membuat rusuh, menciptakan berbagai masalah bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

Chuang 220202