Morrie sang profesor menderita penyakit ALS atau dikenal luas sebagai penyakit Lou Gehrig, yang bila diibaratkan akan nampak sebagai seorang penyiksa ulung. Si penyiksa ulung ini akan menyiksa korbannya, dengan pertama-tama membuat kaki sang korban lumpuh, kemudian naik sedikit, naik sedikit, naik sedikit, hingga tak ada lagi anggota badan yang tak lumpuh.

Morrie sang profesor bukanlah seorang malaikat, atau seorang arahat (orang suci). Ia hanyalah manusia biasa, dan ia tak malu menjadi manusia biasa: ia menangis ketika tahu bahwa ajalnya akan segera tiba, ia kadang-kadang merasa iri melihat orang-orang sehat.

Tetapi satu hal yang menakjubkan dari seorang Morrie, adalah kemampuannya untuk menjadikan penyakitnya sebagai kesempatan untuk memberi kuliah-kuliah terakhir kepada para sahabatnya, kepada semua orang yang bersimpati kepadanya.

Di dalam bayangan saya, ketika Morrie sang profesor mengajarkan makna hidup melalui apa yang ia alami, ia nampak bagai Buddha ketika membabarkan kebenaran pertama dari empat kesunyataan yang telah Beliau pahami: Hidup adalah dukkha, kematian selalu membayang di setiap jejak langkah kita.

Membaca kisah Morrie sang profesor di dalam buku “Selasa Bersama Morrie”, saya merasakan satu kedekatan yang aneh dengannya, seakan-akan Morrie hadir di hadapan saya untuk memberi pelajaran tentang kematian. Mengapa kematian demikian penting untuk dipelajari, adalah suara Morrie yang menjawab,”Begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, berarti kita belajar bagaimana kita seharusnya hidup”.

Chuang 080601