Segelas besar bir di tangan kanan, dan sebotol lagi di tangan kiri, si pemabuk sedang mengusir setan kegelisahan dan ketidakbahagiaan dari dalam dirinya.

Di tengah-tengah ingar bingar musik yang memukul-mukul gendang telinga, kerlap-kerlip lampu berkilasan menghentak, orang-orang meliak-lukkan tubuhnya untuk mengusir setan kejenuhan dan ketidakpuasan dari dalam diri mereka.

Sebuah kendaran melaju kencang laksana angin, meraung-raung marah kepada dunia, juga kepada setan dari rasa terbuang yang hendak diusirnya.

Kita manusia modern,seperti halnya masyarakat primitif, juga memiliki ritual pengusiran setan kita sendiri. Dan setiap kali kita melakukannya, alih-alih si setan lari terbirit-birit malahan sosoknya menjadi bertambah garang dan semakin menakutkan.

Mengapa?

Karena kita sesungguhnya tak perlu mengusirnya. Karena kita hanya perlu membuka pintu hati kita dan membiarkannya berlalu.

Chuang 060607