Terkadang, di tengah-tengah kesibukkan kita berenang di dalam aliran rutinitas hidup, pikiran tiba-tiba saja bisa menjadi cukup jernih untuk menyadari suatu hikmah seperti selayaknya pikiran dari orang yang sedang berkontemplasi.

Demikianlah yang terjadi pada saya, ketika makan siang tadi tiba-tiba saja pikiran saya terkenang akan orang-orang dalam keluarga yang telah pergi dari dunia ini.

Seperti sedang membuka-buka album foto keluarga, bayangan wajah dari mereka yang saya kenal dan kasihi, juga yang tak sempat saya kenal dan kasihi, melintas jelas dalam benak saya.

Dan terutama sekali, saya mengenang paman kakak tertua dari ibu yang wafat dua bulan lalu. Paman yang baik hati dan ramah pada anak-anak, yang dahulu ketika saya masih kecil suka sekali memberi hadiah permen kepada setiap anak yang bersedia bernyanyi untuknya.

Sebenarnya sebelum ini saya sudah seringkali mengalami kematian dari anggota keluarga besar saya, baik dari pihak ayah ataupun ibu. Tetapi entah mengapa kematian paman kakak tertua ibulah yang menjadi pemicu kesadaran saya mengenai waktu yang terus berputar, perubahan yang selalu abadi: mereka yang dulunya muda pada akhirnya akan tua dan mati, digantikan oleh yang sekarang muda dan kelak pasti akan tua dan mati juga.

Lalu dalam arus perenungan yang sama, saya teringat akan kenangan masa kecil, akan sepupu-sepupu saya dan juga beberapa keponakan yang sebaya dengan saya, yang dahulu masih sama-sama sebagai kanak-kanak atau remaja, kawan bermain dan bergulat dalam suka ria, tetapi kini hampir sebagian besar dari mereka sudah dewasa dan berkeluarga, sibuk berjuang demi kehidupan yang lebih baik bagi diri serta keluarganya.

Betapa cepatnya waktu berlalu!

Dari satu generasi menuju generasi lain kehidupan diwariskan, dan dari orang-orang yang telah pergi kita sadari benar akan perubahan yang abadi dalam hidup ini.

Mengenang kembali mereka yang telah pergi, membuat saya makin meneguhkan hati untuk berbuat sebaik-baiknya dalam hidup ini. Sebab kita semua—saya dan anda– tak tahu pasti apa yang akan terjadi esok kecuali hanya kematian yang pasti akan menjemput kelak. Agar ketika saatnya pergi telah tiba, saya dapat meninggalkan warisan yang cukup berharga bagi generasi penerus, dan membawa bekal yang cukup banyak untuk menuju kehidupan yang lebih baik.

Dan pada akhirnya untuk tak kembali lagi.

Semoga.

Chuang 010404