Pohon adalah simbol kehidupan, di mana adanya maka dapat dipastikan di sana ada kehidupan yang bernaung di bawahnya. Dan terutama bagi saya, ia adalah benda hidup yang menakjubkan. Ia bisa tumbuh setinggi rumah berlantai tiga, dengan batang utama besar dan kuat, dengan dahan dan ranting-ranting yang menjulang tinggi dan akar-akarnya menghujam dalam-dalam, hanya dari sebutir biji seujung kuku yang tampak begitu sepele. Di kerindangan daun-daunnya adalah tempat paling sejuk dan nyaman untuk beristirahat dari sengatan matahari, atau dari terpaan angin kemarau

Pohon adalah benda hidup yang patut dihormati dan dilestarikan keberadaannya, Seperti yang telah ditunjukkan oleh guru agung kita. Sebab dengan melestarikan dan menghormati pepohonan, berarti kita telah melestarikan dan menghormati kehidupan di planet ini.

Pohon adalah benda hidup yang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ajaran guru agung kita. Ia hidup dalam banyak kisah, sutta, perumpaman dan sebagai simbol pemujaan. Seperti misalnya yang dapat kita ketahui dari kisah kehidupan Buddha.

Sebagai seorang umat Buddha, saya rasa tidak ada di antara kita yang tak mengenal riwayat hidup dari guru junjungan kita. Jika tak mengetahui secara lengkap mengenai-Nya, mnimal kita pasti tahu cerita-cerita mengenai kelahiran-Nya, dan juga pencapaian penerangan sempurna-Nya, atau pun bagaimana Beliau pada akhirnya mencapai pelepasan sempurna dari samsara ini.

Salah satu hal paling menarik yang saya temukan dalam kisah mengenai riwayat hidup Buddha, adalah kenyataan bahwa Beliau yang kita junjung sebagai guru tiada banding selama hidup-Nya tak pernah jauh dari pepohonan.

Kita mengingat kembali ketika Pangeran Sidharta lahir, saat itu Ibunda-Nya sedang berada di Taman Lumbini yang indah, yang pada saat melahirkan makhluk yang luar biasa ini, Beliau berdiri dan berpegangan pada salah satu dahan pohon di taman itu. Dari cerita tersebut, saya mengambil kesimpulan pangeran pastilah lahir dibawah pohon yang dahannya dipegang oleh Ibunda-Nya.

Dan tentunya kita tak kan pernah lupa akan kisah pencapaian tertinggi dari seorang manusia, saat ketika pangeran mencapai pencerahan sempurna di bawah pohon Bodhi. Selama seminggu penuh sesudah itu Beliau lalu menunjukkan rasa hormat-Nya kepada pohon yang telah berjasa menaungi Beliau selama masa pencarian pencerahan-Nya.

Lalu setelah selama kurang lebih 45 tahun Beliau mengembara di antara hutan-hutan dan taman-taman kota, membabarkan ajaran-Nya demi kebaikan bagi segenap makhluk, pada akhirnya Beliau merealisasikan Nibbana sempurna dibawah naungan dua pohon sala kembar, di Kusinara

Dari riwayat singkat tersebut, terasa sekali bahwa Buddha sepanjang hayat-Nya bukan saja tak pernah lepas dari dunia pepohonan, tetapi Beliau berada sangat dekat dan akrab dengan dunia itu.

Sebagai akibat dari kedekatan dan keakraban itu, kita tahu dan kita rasakan dalam ajaran-Nya terkandung rasa penghormatan yang tinggi kepada pepohonan khususnya, dan kepada segenap makhluk hidup umumnya. Dari sini tak terelak lagi kenyataan, bahwa dalam Buddhisme, persoalan melestarikan lingkungan hidup adalah bagian integral dari kebajikan yang utama, salah satu komponen dari jalan menuju kebebasan sejati.

Dan dengan demikian, bila sebagai umat Buddha kita ingin menghormati Buddha, berarti seharusnya kita pun juga menghomarti pepohonan. Bila sebagai umat ingin mencintai-Nya, berarti seharusnya kita pun juga mencintai pepohonan.

Chuang 230904