Mendengar celoteh-celoteh ponakan saya yang kini makin ramai (maklum, usianya sudah 2 tahun lebih, jadi sudah makin pandai “berkicau” [^_^] ), saya sungguh seperti mendengar dentang genta kecil yang nyaring. “Duuuuuung……”, betapa membuat hati ini mekar.

Melihat tingkah lakunya yang lucu, yang spontan, yang meskipun terkadang juga menjengkelkan, hati siapakah yang tak riang?

Jika seorang paman seperti saya sudah begitu bahagia mendengar suaranya, atau melihat tingkah lakunya, tak terkirakan tentunya kecintaan dari ayah dan ibunya yang dari mereka ia peroleh darah dan dagingnya.

Kecintaan ayah dan ibu terhadap anaknya, tak kan dapat dirasakan oleh sang anak sampai kelak ia menjadi ayah atau ibu bagi anak-anaknya sendiri. Itulah yang dialami oleh Ajatasattu, itulah yang akhirnya menjadi penyesalan terdalamnya.

Berbeda dengan Ajatasattu yang terlambat menyadari besarnya cinta kasih ayah dan ibunya, kita yang saat ini masih memiliki orang tua, patut bersyukur. Sebab kita dapat bercermin dari kisah tragis Ajatasattu, yang terlanjur membunuh ayah yang sangat mencintainya.

Chuang 061101