Tiap hari sabtu, Hong-Hong sang guru datang ke rumah saya untuk berakhir pekan, sekaligus sambil memberi les privat tentang bagaimana menahan diri, mengembangkan kesabaran, kasih sayang dan pengorbanan kepada saya. Ia akan datang dengan disertai senyum khasnya yang jenaka, dengan binar matanya yang bening, dengan celoteh-celotehnya yang ramai.

Pada awalnya, pelajaran-pelajaran yang diberikannya tidaklah susah sangat, tetapi makin lama makin terlihat kerumitannya. Tetapi anehnya, saya tidak pernah kapok. Berbeda halnya ketika saya harus belajar matematika. Atau ketika saya harus memeras otak untuk memahami mata kuliah analisa numerik.

Sebab cara Hong-Hong sang guru mengajar, bagi saya, sangatlah unik dan menyenangkan, hingga saya tidak merasa sedang diajar.

Ia misalnya, akan dengan cueknya lari ke sana kemari, mengacak-acak mainannya, kemudian lari lagi mengambil mainan yang lain dan mengacak-acak kembali, berceloteh dengan bahasa yang aneh tapi lucu, yang kadang-kadang dapat juga tertangkap maknanya.

Ia misalnya, akan dengan tanpa dosa mengompolin celana yang baru saja diganti akibat ompolnya yang sebelumnya. Dan ketika harus memakai celana, ia kadang-kadang menolak, untuk memilih bertelanjang bulat lari keluar hingga “burung”-nya bergoyang gontal gantul kiri kanan kiri kanan, seperti bandul jam.

Hong-hong sang guru baru berusia 1 tahun 8 bulan. Karena itu, ia belum cukup umur untuk mendapat titel profesor.

Tetapi bagi saya, ia adalah ponakan sekaligus guru saya. Guru yang mengajarkan saya bagaimana untuk tetap sabar menghadapi tingkah lakunya, bagaimana untuk bersedia mengorbankan waktu luang saya demi untuk menemaninya bermain, bagaimana untuk tetap mengasihinya meskipun ia membanting mouse saya, atau memukul-mukul dengan keras keyboard kesayangan saya.

Ia adalah guru saya, dan saya tidak malu untuk berguru pada anak 1 tahun 8 bulan.

Chuang 250401