Dalam menjalani kehidupan, tak jarang kita merasa bahwa hidup ini tak adil, bahwa hidup tak berjalan sebagaimana mestinya, Terutama bila apa yang kita rencanakan atau angankan tak terwujud dan apa yang tidak kita harapkan malahan terjadi.

Benarkah hidup ini tak adil? Sungguhkah hidup tak berjalan sebagaimana mestinya? Mungkin kalau kita melihat kejadian sehari-hari, entah siaran langsung di sekitar kita ataupun melalui siaran tivi, suratkabar, internet dan sebagainya, tentang orang-orang miskin melarat yang harus bekerja keras hanya demi bertahan hidup di tengah-tengah kesengsaraan dan aniaya yang datang bertubi-tubi sementara di sisi lain kita menyaksikan tontonan kemewahan nan berlimpah ruah dalam kehidupan para dewa-dewi di bumi, kita menjadi yakin dan percaya: YA, hidup memang tidak adil. Lebih-lebih ketika kita melihat penderitaan yang dialami oleh orang-orang baik, sementara mereka yang jahat dan bengis berenang di lautan suka-ria, kita menjadi semakin geram dan percaya: YA, hidup memang sungguh-sungguh tak adil.

Sebenarnya, kalau kita sungguh-sungguh mengerti, menghayati, dan menyandarkan hidup kita kepada hukum Kamma seperti yang diajarkan oleh guru kita nan agung, Buddha Sakyamuni, kita akan melihat dengan jelas bahwa tidak ada kehidupan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Apa yang terjadi dalam kehidupan kita adalah apa yang memang harus terjadi, apa yang datang pada kita adalah apa yang memang harus kita terima, dan sebaliknya apa yang tidak datang adalah apa yang memang bukan bagian kita.

Bila, misalnya, dalam berencana atau berangan-angan kita menginginkan sesuatu terjadi dan akhirnya, melalui daya upaya kita sendiri benar-benar terjadi sesuai harapan kita, maka itu semua memang seharusnya begitu. Sebaliknya, bila segala angan-angan tinggal impian belaka, itulah memang yang seharusnya kita terima. Sebab siapa yang menanam akan menuai hasilnya, dan yang tak pernah menanam tak kan mendapatkan apa pun.

Maka yang bijak tetap bersikap tenang, seimbang, dan rendah hati manakala setiap impian terwujud dengan berpikir, “Ini pun akan berlalu”. Mereka tidak akan larut dalam kegembiraan yang berlebihan. Demikian juga bila setiap keinginan ternyata tak sesuai dengan kenyataan, mereka yang benar-benar memahami hukum kamma akan tetap bersikap tenang dan seimbang dengan berpikir, “ini pun akan berlalu” dan tak larut dalam duka-cita. Mereka mengerti dan memahami dengan jelas bahwa apa yang terjadi memang harus terjadi, buah yang dipetik sesuai dengan benih yang telah ditanamnya. Tidak ada yang patut disalahkan, tidak orang-orang disekitarnya, pun juga dunia. Tidak ada yang telah bersikap kejam dan tak adil padanya, karena kehidupan tidaklah kejam atau tak adil, kehidupan semata-mata berjalan begitu saja sesuai dengan hukum-hukum yang mengaturnya, yang salah satunya adalah hukum Kamma.

Sampai di sini, barangkali ada yang merasa ini mirip seperti takdir. Tentu saja saya tidak bermaksud berbicara tentang takdir. Berbeda dengan pengertian takdir yang umum dikenal orang sebagai semacam suratan hidup yang telah digariskan oleh “sesuatu yang maha kuasa” dan tak dapat kita ubah, dalam ajaran mengenai hukum Kamma dari guru agung kita, kita diajarkan untuk bersikap tenang dan optimistis. Karena, meskipun benar apa yang kita terima sekarang adalah—salah satunya–sebagai buah dari perbuatan dari masa lampau, toh kita tetap dapat membuat perbedaan dengan mengubah cara kita menerimanya. Dengan bersikap tenang dan berpikiran positif dalam menghadapi suatu kemalangan, kita sesungguhnya telah berhasil mengurangi efek negatif dari buah kamma yang harus kita terima, dan pada saat yang sama, karena pikiran yang positif dan sikap yang bijak itu, kita tak lagi menanam kamma buruk yang harus kita petik di kemudian hari. Hal yang sama berlaku juga bila kita menerima suka-ria dalam hidup ini dengan sikap yang bijaksana: dengan begitu, sukaria akan bertahan lebih lama dan akan dengan setia mendampingi kita di masa-masa yang akan datang sebelum pada akhirnya mencapai tujuan sejati kita semua.

Inilah arti dari ungkapan bahwa kamma itu dapat diubah, bahwa kemalangan hari ini tidak harus berarti kemalangan untuk hari esok.

Chuang 141005