Seandainya setiap orang dalam memandang orang lain bersikap seperti ketika ia memandang ke dalam cermin, bayangkanlah! Betapa indahnya dunia jika itu benar2 bukan sebatas “seandainya”.

Saya bertemu dengan seorang teman yang suka sekali mendonorkan darahnya. Saya bertanya padanya apakah mendonorkan darah itu terasa sakit? Ia bilang sakit sedikit seperti kalau kita disuntik. Lalu saya tanya mengapa ia suka mendonorkan darah? Ia dengan jujur mengatakan bahwa setiap kali ia mendononkan darahnya, ia selalu mengingatkan dirinya bagaimana seandainya ia ada dalam posisi orang yang membutuhkan darah? Tentunya akan bahagia sekali bila tahu ada orang yang menolong kita. Kaerna itu, dengan mendonorkan darahnya ia berharap akan selalu ada pula orang yang menolongnya bila suatu ketika ia tertimpa bencana atau kecelakaan.

Teman saya itu, meskipun tampak jelas sekali menyimpan pamrih atas perbuatan baik yang ia lakukan, tetapi bagaimanapun hal itu bukanlah sesuatu yang tercela, bukan? Bahkan sebaliknya, dari pengakuannya itu kita dapat melihat ia sebagai orang yang selalu memandang orang lain sebagaimana ia memandang dirinya dalam cermin. Dalam kata lain, teman itu adalah orang yang memiliki empati, yang dapat menempatkan dirinya pada sudut pandang atau posisi orang lain.

Dalam contoh yang lain, dalam memberi pertolongan bagi korban bencana alam, kita dapat mendorong diri kita dengan membayangkan andaikata kita yang berada di posisi mereka

Roda kehidupan selalu berputar, atas menjadi bawah, bawah menuju atas. Dalam kondisi dunia yang berputar bagai roda, bukan suatu hal yang mustahil di suatu saat kita yang ada di atas harus terjun ke bawah. Dan pasti akan tak terkira rasa syukur yang kita rasakan apabila dalam kondisi seperti itu kita mendapat uluran tangan dari para budiman.

Chuang 180707