Benar sekali apa yang pernah dikatakan seseorang tentang perbedaan antara seorang Buddha dan seorang biasa. Katanya, “Perbedaan antara seorang Buddha dengan seorang biasa adalah spt perbedaan antara orang waras dengan orang gila.”

Dilihat dari kacamata seorang Buddha, kita adalah orang-orang gila yang aneh bin lucu. Dikatakan aneh bin lucu, karena kita sesungguhnya orang-orang gila, tetapi kita menganggap diri kita waras, dan kita seringkali bertengkar antar sesama kita untuk memperebutkan klaim kewarasan itu.

Kita hidup di dunia ini dalam waktu yang terbatas, tetapi bukannya mencoba untuk tidak kembali lagi, kita justru menyibukkan diri dengan segala macam kegiatan-kegiatan yang kita anggap penting, yang kita anggap sangat berharga. Padahal tanpa kita sadari, waktu terus berjalan dan umur semakin pendek, seperti nyala lilin yang makin lama makin redup.

Ada orang-orang gila yang menganggap bahwa cinta adalah urusan nomor satu di dunia ini, selama hidupnya ia memburu cinta, sengsara dan bahagia karena cinta, dan pada akhirnya mati karena cinta. Ada orang-orang gila yang menganggap bahwa harta benda adalah hal yang paling berharga untuk diperjuangkan di dunia ini, orang-orang spt ini tidak dapat lagi menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih berharga untuk diperjuangkan dibandingkan dengan materi. Ada orang-orang gila yang gila kekuasaan, baginya kekuasaan itu bisa mendatangkan segala macam kenikmatan duniawi, kebahagiaan semu yang ia kira sebagai sejati.

Kita semua adalah orang-orang gila, dan satu-satunya alasan mengapa kita tidak tinggal di rumah sakit jiwa, spt kata Anthony De Mello, “karena jumlah kita yang terlalu banyak.”

Chuang 150501