Dari catatan tentang sejarah kehidupan Buddha, kita tahu bahwa sesaat setelah pencerahan sempurna-Nya, Beliau menyadari betapa luhur dan mulianya Dhamma yang telah Beliau realisasikan, dan karenanya menganggap menjadi sulit bagi kita, para manusia yang terlekati oleh delusi dan kesenangan-kesenagan indrawi, untuk memahami sesuatu yang begitu mulia dan demikian mendalam seperti Dhamma yang Buddha sadari itu.

Lalu mengapa, setelah menyadari hal tersebut, Buddha tetap mengajarkan Dhamma kepada para makhluk?

Dari sejarah yang sama kita juga mengetahui alasannya: karena Brahma Sahampati memohon kepada Buddha sembari menyatakan bahwa ada beberapa makhluk yang hanya memunyai sedikit debu di mata mereka yang akan memungkinkan mereka mengerti dan memahami Dhamma dengan baik.

Selain alasan tersebut, Buddha bersedia mengajarkan Dhamma karena terdorong oleh belas kasih-Nya kepada kita. Sebab bila dilihat dari sudut pandang pencerahan-Nya, Beliau yang telah mengalami pembebasan dan meraih kebahagiaan sejati itu mampu melihat dengan pandangan terang yang berdaya mampu ke dalam segala fenomena, menyebabkan Beliau melihat segala sesuatu dengan sebagaimana mereka adanya. Dan dari pandangan seperti itu, yang bebas dari distorsi dan delusi, Beliau melihat apa yang kita orang awam anggap sebagai kebahagiaan sesungguhnya adalah dukkha, tak ada sesuatu pun yang berharga untuk dilekati.

Melalui pengajaran Dhamma-Nya selama 45 tahun yang bersemangat, Beliau ingin membagi kebahagiaan dan kebebasan sejati yang telah Beliau raih kepada kita. Sebab Beliau tahu bahwa, jika kita para makhluk tidak pernah memperoleh kesempatan untuk mencicipi Dhamma-Nya, kita akan binasa dalam kumbangan kekotoran batin kita sendiri.

Itulah, Buddha mengajarkan Dhamma karena Beliau mencintai kita, tak ingin kita berakhir dalam kumbangan kenestapaan. Dan kini, adalah giliran kita untuk menunjukkan rasa cinta kita kepada-Nya. Untuk membalas belas kasih Buddha dengan penghormatan tertinggi yang selayaknya Beliau terima.

Chuang 18.07.07