Salah satu hal yang paling menyenangkan dalam soal belajar sesuatu yang baru adalah, untuk dapat belajar dengan baik, kita justru harus mengosongkan pikiran kita dari segala pengetahuan yang kita ketahui sebelumnya. Persis seperti kisah Zen mengenai cangkir teh. Apakah anda sudah pernah mendengar atau membaca kisah tersebut? Kalau belum, saya anjurkan anda menghubungi toko buku terdekat (hehehehehhehe)

Seperti kisah Zen tersebut, bagaimana mungkin cangkir yang sudah penuh dapat diisi lagi dengan teh jika tidak dikosongkan terlebih dahulu? Bagaimana mungkin pengetahuan yang baru dapat masuk ke dalam otak kita jika pikiran kita penuh oleh pelbagai pengetahuan dan pra anggapan yang kita peroleh di masa lalu?

Di sini, tampak jelas sekali untuk dapat belajar dengan baik, kita sebagai siswa dituntut untuk mampu bersikap rendah hati, untuk bersikap sebagai orang bodoh. Karena itu, saya ingat bahwa di film-film kungfu sering terlihat bagaimana seorang guru memberi tugas-tugas yang remeh temeh (seperti misalnya mengepel lantai, meninba air, memotong kayu) untuk menaklukan kesombongan seorang siswa yang bangga hati, sebelum ia diperbolehkan belajar kungfu.

Selain soal kerendahan hati, ada satu paradok lagi mengenai belajar: makin kita banyak belajar, makin kita banyak mengetahui. Dan mengetahui di sini termasuk juga mengetahui bahwa makin banyak yang tidak kita ketahui. Ini seperti rantai aksi reaksi. Ada aksi menimbulkan reaksi. Ada pengetahuan menimbulkan ketidaktahuan, makin banyak aksi, makin banyak reaksi. Makin banyak pengetahuan, makin banyaklah ketidaktahuan kita.

Dalam hubungannya dengan ini, tidak heran kalau ada ungkapan bahwa berbahagialah orang yang tidak mengetahui apa pun. Karena orang seperti itu tidak harus terkena kutukan mengetahui bahwa dia tidak mengetahui.

Sebab itulah Buddha dalam perumpamaan mengenai daun simsapa mengatakan bahwa pengetahuan yang Beliau ajarkan itu ibarat hanya segenggam daun simsapa di tanganNya dibandingkan dengan pengetahuan yang tidak Beliau ajarkan. Karena bukan saja pengetahuan yang tidak diajarkan itu tidak berguna untuk mencapai pencerahan, melainkan juga bahwa terlalu banyak mengetahui segala sesuatu hal justru akan menyesatkan kita ke arah tidak mengetahui apa pun.

Begitulah, untuk dapat belajar dengan baik, kita harus pertama-tama bersedia berendah hati dengan melupakah segala hal yang kita ketahui sebelum ini, segala hal yang menjadikan kita dikenal sebagai si tahu atau si cerdas. Dengan kata lain, proses belajar itu menyenangkan karena secara tidak sadar ia memaksa kita untuk bersikap rendah hati. Dan bukankah memiliki kerendahan hati itu ibaratnya memiliki permata yang tiada taranya?

Chuang 150403