Tangan-tangan terkepal yang mengacung seakan-akan ingin meninju langit itu bagaikan menara-menara pemancar, mengirim gelombang-gelombang kemarahan dan kebencian yang memenuhi angkasa.

Wajah-wajah yang mengeras liat, sorot mata penuh dendam menyala-nyala dalam kemurkaan, menciutkan nyali siapa pun yang menatapnya. Kata-kata yang kasar dan tajam, menusuk bagai sembilu melukai hati. Udara terasa pengap oleh amarah, panas membara oleh api kesumat yang membuat kedamaian pergi menyingkir jauh-jauh.

Tetapi ada sesosok makhluk yang tertawa terbahak-bahak dan bergembira dalam situasi tersebut. Ialah siluman pemangsa amarah. Ia sedang menikmati hidangan lezat nan berlimpah dari setiap kata-kata, perbuatan, dan pikiran amarah yang membahana. Tubuhnya menjadi semakin meraksasa hingga mampu menutupi terangnya sinar mentari, membuat bumi menjadi gelap segelap-gelapnya hati para manusia penghuninya yang telah terkuasai oleh kebencian.

Chuang 050607