Berhati-hatilah anda jika makan satu meja dengan saya, terutama jika makanan dalam piring anda dibayar dengan uang saya alias saya yang traktir. Demikian selalu saya ingatkan pada orang-orang yang dekat dengan saya. Kenapa perlu hati-hati? Karena jika tidak memperlihatkan rasa syukur pada makanan yang anda nikmati tersebut, maka setelah selesai bersantap anda akan mendapat makanan penutup tambahan berupa omelan saya dan jangan pernah berharap untuk saya traktir lagi. Jika pergi makan di sebuah rumah makan, kita pasti akan melihat berbagai macam cara orang mensyukuri makanan yang akan disantapnya. Setiap orang melakukan dengan pandangan yang berbeda-beda, tetapi umumnya mereka bersyukur dengan cara berdoa berterima kasih pada Tuhannya masing-masing.

Mungkin ada sebagian dari kita, umat Buddha, yang juga berdoa dan bersyukur sebelum makan. Tetapi tahukah kita akan makna bersyukur itu? Tepatnya, kita bersyukur karena dapat makan atau makan untuk bersyukur? Bersyukur kuranglah tepat bila hanya dilakukan dengan ucapan doa terima kasih, tetapi adalah lebih tepat bila dinyatakan dengan perbuatan yang didasarkan pada pengertian yang benar. Alangkah ironisnya jika sebelummakan kita berterima kasih karena masih dapat makan hari ini, tetapi sehabis makan ternyata menyisakan sisa makanan yang kemudian terbuang sia-sia.

Lalu bagaimanakah seharusnya seorang umat Buddha bersyukur?

Umat Buddha bersyukur dengan bijaksana. Umat Buddha bersyukur dengan pengertian yang benar. Berdoa sebelum makan bukan hal yang tidak dibenarkan dalam Buddha Dharma, tetapi alangkah baiknya jika “doa” dilakukan dengan pengertian yang benar. Dalam berdoa, berterima kasihlah pada mereka yang telah menyiapkan makanan bagi kita (mulai dari petani hingga yang menghidangkannya) dan berharap semoga mereka berbahagia. Selain itu, sebagai umat Buddha, kita juga berterima kasih dengan mengembangkan pikiran welas asih agar semua makhluk juga memperoleh makanan yang layak seperti yang akan kita makan. Jangan sampai muncul celaan atas makanan yang kita makan. Mungkin sebagian dari kita sering kali mempermasalahkan hal-hal sepele atas makanan yang akan dimakan, seperti rasa kurang asin, kurang manis, kurang pedas, kurang kecut, kurang ini dan kurang itu. Hal-hal sepele seperti itu, abaikan saja, toh hanya masalah rasa di lidah. Adalah lebih penting bahwa makanan itu dapat diserap usus, bukan lidah. Dan yang paling penting adalah, entah berdoa atau tidak, entah mencela atau tidak, jangan pernah menyia-nyiakan makanan dengan menyisakannya, walau hanya sebutir nasi saja. Kita kan tahu, diperlukan tenaga banyak orang untuk dapat menghasilkan sebutir nasi itu. Adalah lebih baik bila tidak berdoa, tetapi mensyukuri apa yang anda dapat dengan tindakan nyata daripada berdoa dan bersyukur namun menyia-nyiakan apa yang anda syukuri itu. Memang yang terbaik adalah bersyukur dan bertindak nyata.

Jadi saya ingatkan sekali lagi. Berhati-hatilah jika makan satu meja dengan saya, terutama jika makanan dalam piring anda dibayar dengan uang saya, karena jika tidak memperlihatkan rasa syukur pada makanan yang anda nikmati tersebut, maka begitu selesai bersantap anda akan mendapat makanan penutup tambahan berupa omelan saya dan jangan pernah berharap akan saya traktir lagi. Kini anda tentu sudah tahu kenapa!