Kepada siapa sebenarnya umat Buddha berdoa dan memohon? Pada Dewa, Tuhan atau Buddha??? (sms pembaca)

Ora et Labora, sebuah ungkapan yang sangat umum kita dengar. Berdoa dan Bekerja, ungkapan yang menjelaskan bahwa di samping berdoa, kita juga harus berkarya. Terlepas dari usaha yang dilakukan, doa bagi banyak orang adalah hal yang sangat pokok, bahkan sering diyakini bahwa tanpa doa manusia tidak akan mencapai apa yang diinginkannya. Kalau memang doa itu demikian krusial dalam hidup manusia, apakah umat Buddha juga harus berdoa? Lalu berdoa pada siapa?

Buddha secara tegas menolak pandangan bahwa apa yang diinginkan manusia dapat diwujudkan lewat doa. Pada satu kesempatan, Buddha berkata pada hartawan Anathapindika:

Oh, perumah tangga, di dunia ini ada lima hal yang diinginkan, menarik dan menyenangkan. Apakah kelima hal itu? Tidak lain adalah usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran dan kelahiran kembali di alam-alam Surga. Akan tetapi, oh, perumah tangga, Saya tidak pernah mengajarkan bahwa lima hal tersebut dapat diperoleh dengan doa (acayana) ataupun dengan kaul/nadar (patthana). Jika seandainya dapat diperoleh dengan doa atau kaul/nadar, siapakah yang tidak akan melakukannya?

Bagi seorang siswa mulia, oh, perumah tangga, yang mendambakan usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran, dan kelahiran kembali di alam-alam Surga; sangatlah tidak tepat apabila ia berdoa atau merasa senang dalam usaha seperti itu. Sebaliknya, ia selayaknya menempuh jalan kehidupan yang mengakibatkan usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran dan kelahiran kembali di alam-alam Surga. Hanya dengan berbuat demikianlah ia dapat memperoleh apa yang diinginkan, menarik dan menyenangkan.

Buddha dalam Dhammapada syair 1 dan 2 secara gamblang mengajarkan:

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya.

Buddha dengan jelas mengajarkan bahwa perbuatan atau jalan kehidupan yang kita tempuh, bukan doa, adalah upaya benar untuk memperoleh keinginan yang menyenangkan. Sedang dari perbuatan yang kita lakukan, pikiran adalah pelopor. Jadi, mengendalikan pikiran yang merupakan sumber awal segala perbuatan adalah jauh lebih penting daripada berdoa. Dengan kata lain, doa yang kita lakukan haruslah bertujuan memurnikan pikiran, bukannya sekedar meminta-minta demi kepentingan pribadi atau bahkan berkehendak melepaskan diri dari tanggung jawab atas perbuatan yang tidak benar yang kita lakukan. Inti ajaran Buddha adalah pemahaman benar tentang hukum karma (hukum perbuatan - sebab akibat). Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. Bukan apa yang kita doakan, itulah yang kita tuai.

Manusia haruslah menjadi makhluk yang menggapai apa yang diinginkan melalui usahanya sendiri, bukan dengan meminta-minta pada sesuatu di luar dirinya. Sudah tentu, usaha-usaha yang dilakukan oleh manusia itu haruslah bajik dan benar. Umat Buddha meyakini bahwa diri sendiri bertanggung jawab atas setiap perbuatan yang dilakukan, oleh karenanya umat Buddha tidak pernah (dan tidak layak) meminta-minta, baik pada Dewa, Tuhan, Bodhisattva atau Buddha.

Tidak di langit, di tengah lautan, di celah-celah gunung atau di manapun juga dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang untuk dapat menyembunyikan diri dari akibat perbuatan jahatnya. Dhammapada syair 127.

Tidak ada tempat untuk bersembunyi dari akibat perbuatan jahat yang dilakukan oleh diri sendiri, ini berarti bahwa tidak ada cara untuk menghindarkan diri dari akibat perbuatan jahat itu. Ini juga berarti, akibat perbuatan bajik itu pun akan datang dengan sendirinya tanpa memintanya.

Sebuah ungkapan bijaksana mengajarkan: hendaknya kita tidak memandang ke luar jendela, melainkan lihatlah ke dalam cermin. Melihat ke luar jendela adalah mencari kejelekan orang lain serta merusak batin dengan hanya tahu berharap dari luar diri sendiri, sedang memandang ke dalam cermin mengajarkan kita untuk introspeksi serta memurnikan batin dengan tidak bergantung pada sesuatu di luar diri sendiri. Kebahagiaan dan kemurnian batin tidak didapatkan dari luar, melainkan berada dalam diri kita sendiri. Bila demikian, apakah kita masih melakukan permohonan doa? Lalu, apa benar umat Buddha itu tidak berdoa?

Sesungguhnya doa dalam ajaran Buddha memiliki definisi yang berbeda dengan khalayak umum. Dalam Buddhisme Theravada dikenal adanya pembacaan paritta (yang sering kali secara umum diartikan sebagai membaca doa). Paritta sesungguhnya bukan doa. Dalam paritta tidak akan ditemukan satupun permintaan ataupun permohonan sebagaimana yang dipanjatkan dalam sebuah doa.

Paritta berisi pernyataan, tekad/ikrar (bukan sumpah) serta pengharapan. Semisal dalam kebaktian pelatihan bersama, pembacaan Vandana adalah pernyataan pencerahan agung Buddha Gautama; pembacaan Tisarana merupakan pernyataan bernaung pada Buddha, Dharma dan Sangha; pembacaan Pancasila Buddhis menyatakan tekad berlatih diri menghindari perbuatan buruk membunuh, mencuri, berzinah, berdusta dan mengkonsumsi sesuatu yang memabukkan; pembacaan Karaniyametta Sutta menyadarkan diri sendiri untuk mengembangkan cinta kasih universal; serta pembacaan Ettavatta menyatakan harapan tercapainya kebahagiaan bagi semua makhluk (dengan melimpahkan jasa kebajikan). Melimpahkan buah perbuatan bajik yang kita lakukan pada semua makhluk agar mereka berbahagia, inilah yang disebut sebagai pelimpahan jasa kebajikan.

Pelimpahan jasa kebajikan demi kebahagiaan semua makhluk juga diterapkan dalam Buddhisme Mahayana. Selain itu, Mahayana juga mengajarkan pernyataan ikrar Bodhisattva. Bodhisattva menunjuk pada makhluk hidup (sattva) yang sadar (bodhi), yang berarti mereka telah sadar akan hakekat sejati kehidupan dan bertekad mencapai keBuddhaan serta membimbing semua makhluk hidup untuk terbebas dari lautan penderitaan yang merupakan putaran kelahiran dan kematian yang tak berawal dan tak berakhir. Jalan Bodhisattva telah tak mengenal lagi kata “aku” atau kepentingan diri sendiri. Segala hal yang dilakukan Bodhisattva adalah demi kebahagiaan semua makhluk.

Baik pembacaan paritta, pelimpahan jasa ataupun ikrar Bodhisattva, semua itu ditujukan demi kebahagiaan semua makhluk, bukan demi diri sendiri. Jadi boleh dibilang, siswa Buddha yang baik tidak mengenal doa yang meminta kesenangan bagi diri sendiri, melainkan pengharapan dan upaya nyata bagi kebahagiaan semua makhluk. Ingin berpenghasilan cukup, maka tempalah diri serta ulurkan tangan welas asih bagi mereka yang membutuhkan bantuan, bukan sekedar berdoa lalu menunggu kekayaan itu tiba. Ingin negara terbebas dari keterbelakangan, maka berpartisipasilah dalam dunia pendidikan dan pemberdayaan sumber daya manusia, bukan hanya sekedar berdoa lalu mengharapkan semuanya berjalan sesuai doa kita. Ingin umat manusia hidup dalam perdamaian, maka bergabunglah dalam barisan pembabar Dharma dan terapkan Dharma itu dalam keseharian, bukan hanya sekedar berdoa lalu beranggapan sudah melakukan yang terbaik.

Singkat kata, doa walau secara psikologis dapat membantu manusia menjadi lebih tegar namun di sisi lain merapuhkan mental manusia menjadi sangat bergantung pada sesuatu di luar dirinya. Ini bukan hakekat doa yang benar. Seorang petani alih-alih berdoa mengharapkan “sawahnya memberi hasil”, tindakan konkrit “mengolah sawah dengan baik” serta perilaku bajik akan memiliki kemungkinan lebih besar dalam mewujudkan harapannya.

Bagaimana pula yang disebut sebagai tindakan konkrit “mengolah sawah dengan baik” serta berperilaku bajik secara Buddhisme? Di samping pemahaman Buddha Dharma yang benar, kita juga harus tekun mempelajari iptek terkait, pun berdisiplin dan sungguh-sungguh dalam menerapkannya. Selain itu, membina kesabaran juga hal yang tak boleh diabaikan karena semua jerih payah itu bukan berlangsung dalam satu malam, juga bila setelah berusaha masih menemui kegagalan, hendaknya kita tidak cepat menyerah dan menerimanya sebagai pelajaran hidup yang berharga, seperti halnya kesabaran Thomas Alfa Edison saat menghadapi 999 kegagalan sebelum berhasil menemukan lampu bohlam. Sudah tentu, untuk dapat bersabar sangat diperlukan konsentrasi (pemusatan kehendak dan semangat) yang tinggi. Selain itu, jangan lupa untuk senantiasa mengulurkan tangan welas asih dengan berdana membantu orang-orang di sekitar yang memerlukan bantuan kita. Dan semua upaya itu harus kita lakukan dengan bijaksana. Saat memperoleh keberhasilan, jangan lupa diri; kala menemui kegagalan, hadapi dengan lapang dada; lakukan semua upaya dengan cara yang tepat dan benar.

Jadi, kepada siapa sebenarnya umat Buddha berdoa dan memohon? Pada Dewa, Tuhan atau Buddha? Dua syair berikut akan menjawab pertanyaan kita.

“Karenanya, Ananda, bersemayamlah sebagai pulau bagi dirimu sendiri, pelindungmu sendiri, tiada pelindung lain; Dhamma (Dharma) sebagai pulaumu, Dhamma (Dharma) sebagai pelindungmu, tiada pelindung lain.” Mahaparinibbana Sutta, Digha Nikaya.

“Buatlah pulau bagi dirimu sendiri. Berusahalah sekarang juga dan jadikan dirimu bijaksana. Setelah membersihkan noda-noda dan bebas dari nafsu keinginan, maka kelahiran dan kematian tidak akan datang lagi padamu.” Dhammapada syair 238.

Pulau pelindung bagi diri kita dan semua makhluk, tak lain tak bukan adalah pemahaman dan penerapan Dharma yang benar dalam keseharian. Inilah hakekat permohonan doa dalam Buddhisme. Sekali lagi, jangan memandang ke luar jendela, melainkan lihatlah ke dalam cermin.

Sumber: Majalah Sinar Dharma Vol. 4, No. 3 | September 2006