easter-japanese

Vihara selama ini dikenal dalam konsep sebagai tempat ibadah umat Buddha. Ya, tidak ada yang salah dengan konsep ini. Yang kita khawatirkan adalah bila konsep ini dipegang secara kaku sehingga vihara hanya menjadi tempat di mana semua hal yang bersifat batiniah menjadi issue tunggal dan semua hal yang bersifat jasmaniah menjadi sesuatu yang tabu untuk ditampilkan.

Konsep yang kaku ini dapat pula menimbulkan asumsi bahwa umat yang datang ke vihara adalah orang-orang yang lelah dengan hal-hal duniawi dan datang hanya untuk mencari ketenangan batin. Dengan kata lain, hanya orang-orang yang stress berat karena tekanan kehidupanlah yang datang ke vihara. Hendaklah mindset seperti ini tidak mendasari makna keberadaan sebuah vihara karena secara tidak langsung telah menempatkan vihara tak lebih hanya sebagai panti rehabilitasi orang stress.

Konsep panti rehabilitasi mengartikan bahwa vihara bisa bertahan hidup hanya karena adanya ‘iuran’ yang dibayar oleh umat stress yang datang mencari ketenangan batin. Iuran ini diberikan dalam berbagai bentuk dana. Kemudian bagaikan gayung bersambut, vihara ternyata juga ikut sibuk menjual buku-buku tentang cara menghadapi masalah kehidupan, solusi mengatasi stess dan lain sebagainya yang semua ditujukan pada masalah-masalah yang bersifat batiniah semata. Vihara yang demikian ini juga menawarkan banyak produk lain yang semata-mata hanya untuk menyejukkan hati umatnya. Seperti halnya candu, alih-alih menjadi obat, produk-produk ini justru menjadi kemelekatan yang baru bagi umat. Mungkin bagi vihara yang berkonsep sebagai panti rehabilitasi, menawarkan atau menjual produk-produk tersebut tidak perlu dipersoalkan, yang penting adalah sumber dana untuk membiayai operasional vihara menjadi terpenuhi.

Bagi sebagian vihara yang memiliki umat cukup tebal dompetnya, menggantungkan operasional vihara pada dana umat tidak terlalu menjadi masalah. Akan tetapi bagi vihara-vihara yang umatnya bukan termasuk kelompok berkantong tebal, kalau hanya semata-mata menggantungkan biaya operasional vihara dari sumbangan umat, maka dikhawatirkan vihara tersebut bisa-bisa hanya akan bertahan seumur jagung, karena umatnya tidak sanggup ‘membeli’ produk-produk anti stress. Bagi umat yang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja sudah ‘ngos-ngosan’, mana ada dana lebih untuk produk-produk demikian? Tapi para umat yang ‘pas-pasan’ secara ekonomi ini justru yang datang ke vihara dengan penuh ketulusan, bukan karena kejenuhan pikiran atau bingung mencari obat stress. Bagi vihara bukan hal yang mudah untuk menggantungkan hidup pada kelompok umat yang tulus tetapi berkantong kering. Di sinilah kita harus mengembangkan konsep vihara yang benar yang juga berusaha membantu menopang kehidupan umat.

Selama ini umumnya vihara hanya menerima dana dari umat, tapi kurang aktif berperan membantu para umat agar dapat berkembang meningkatkan kemampuan ekonomi yang secara konsekuensi berarti menambah kesempatan bagi umat untuk dapat berbuat lebih banyak kebajikan dengan harta yang mereka miliki. Vihara seakan menutup mata bahwa untuk dapat berdana, mendukung operasional vihara, pembuatan media Dharma ataupun dana uluran kasih bagi sesama, umat harus memiliki ‘sesuatu’ untuk didanakan. Jika seluruh penghasilan umat masih belum cukup atau hanya pas-pasan menghidupi keluarga, lalu ‘apa’ yang bisa didanakan untuk menyokong kebutuhan vihara ataupun kebajikan yang lain? Mungkin ada yang menjawab, kan masih bisa berdana tenaga dan waktu? Lha, semua itu kan juga sudah habis digunakan untuk bekerja sepanjang hari? Dalam kondisi seperti ini, tidak heran jika ada vihara yang ikut-ikutan menjadi ngos-ngosan karena dana dari umat tidak mencukupi biaya operasional vihara.

Dalam logika yang sederhana, jika umat berpenghasilan yang cukup untuk berdana, maka vihara juga akan mendapat manfaatnya. Tapi sayangnya jika umat menghadapi persoalan ekonomi, adakah bentuk kontribusi vihara dalam membantu meringankan beban umat tersebut? Tentu membantu di sini bukan berarti memberi “ikan”, tapi dengan cara yang lebih bijaksana, yakni memberi “kail”. Dengan adanya kail maka umat akan memperoleh hasil lebih, dan sudah tentu ini berarti ada yang dapat didanakan. Tetapi meski telah diberi modal kail tetap masih belum mampu mendapat ikan, vihara mungkin perlu mengajarkan teknik mengail yang benar dan efektif. Lebih jauh lagi, bukan hanya sekedar memberi kail atau mengajarkan teknik mengail, tetapi vihara juga bisa berperan menjadi guru yang mengajarkan bagaimana cara membuat kail yang bermutu. Lha, kalau begini, vihara eksis, umat juga bahagia. Setidaknya ucapan “semoga semua makhluk berbahagia” telah mulai direalisasikan secara nyata dalam kehidupan ini, bukan hanya menasehati umat untuk menunggu kehidupan yang bahagia setelah meninggal.

Vihara harus mulai merubah konsep yang hanya menekankan faktor batiniah. Vihara seharusnya tidak hanya berkutat dengan kebutuhan batiniah (nama) saja tapi juga harus menyentuh kebutuhan jasmaniah (rupa) dari umat. Toh umat juga adalah makhluk yang terdiri dari nama dan rupa. Lalu, kenapa vihara tidak memandang kedua hal tersebut secara berimbang?

Dalam konsep yang lebih menyeluruh, vihara tidak seharusnya hanya merupakan tempat kebaktian, mendengarkan Dharma, atau bahkan menjadi panti rehabilitasi. Vihara harus mampu pula membantu memberdayakan sumber daya manusia para umatnya sehingga keahlian dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidup menjadi lebih baik dan tentu saja kualitas kehidupan umat juga akan meningkat.

Tetapi apakah lantas vihara harus mendirikan usaha bisnis dan menjadikan umat sebagai karyawan? Tentu saja tidak perlu sedemikian ekstremnya. Upaya pemberdayaan bisa dimulai dari hal-hal kecil yang sederhana seperti membantu jenis pekerjaan yang menjadi mata pencaharian umat. Sebagai misal, bisa dengan membuka koperasi vihara. Pun jika sebagian besar umat adalah petani, vihara juga bisa membantu dengan mendirikan koperasi tani yang menyediakan kebutuhan para petani. Koperasi dapat memperpendek rantai distribusi sehingga harga barang yang tiba di tangan petani menjadi lebih bersaing. Ini adalah salah satu solusi.

Lalu, apakah semua jenis usaha dapat dikerjakan dalam vihara yang selama ini dikenal fungsinya sebagai tempat ibadah? Tentu saja tidak semua hal dilakukan dalam vihara, tetapi vihara dapat memainkan peran sebagai penggerak. Usaha yang kemudian dikembangkan oleh vihara, misal koperasi, dapat menjadi aset vihara, tetapi tidak selalu harus didirikan dalam lingkungan vihara. Tetapi apapun jenis usaha yang dijalankan oleh vihara sebagai penggerak pemberdayaan umat, itu harus sesuai dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan, khususnya tentang unsur Mata Pencaharian Benar. Di sini pula akan muncul peran aktif vihara dalam memberi teladan nyata kepada umat tentang jenis usaha yang benar yang tidak melanggar Buddha Dharma.

Sebagai pelaksana ide mulia ini, para umat aktif di vihara ataupun kelompok mahasiswa Buddhis yang berkemampuan (ekonomi mampu, keahlian mampu, pengetahuan mampu, jaringan pemasaran mampu dan segala hal yang tergolong mampu), mungkin bisa memainkan peran yang lebih berarti. Mahasiswa dapat melakukan lokakarya di vihara-vihara untuk memberikan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna dalam memanfaatkan apa saja yang bisa dimanfaatkan dari lingkungan tempat tinggal umat ataupun vihara. Membuat pupuk kompos dari sampah, membentuk jaringan usaha kerajinan tangan, me-recycle kertas bekas menjadi art paper dan sebagainya. Ibu-ibu rumah tangga dapat pula diberi kursus-kursus yang tidak membutuhkan banyak sumber daya ataupun diberikan konsep-konsep sederhana yang bisa merubah waktu senggang menjadi usaha yang produktif. Sudah tentu semua itu juga tidak lepas dari peranan jaringan distribusi pemasaran.

Banyak hal yang bisa dikembangkan, tergantung seberapa jeli para penggerak melihat apa yang ada dan apa yang belum ada. Apa yang ada diusahakan untuk dimanfaatkan dan disulap agar nilai ekonomisnya meningkat. Sedang bagi apa yang belum ada, adalah kesempatan yang baik untuk membuatnya menjadi ada.

Tidak dipungkiri bahwa konsep pemberdayaan ini bukan merupakan konsep baru karena telah ada beberapa organisasi Buddhis berskala internasional yang jauh-jauh hari telah merealisasikannya. Kita bisa melihat hasil karya Tzu Chi Jakarta yang membantu Pemda Jakarta membangun rumah susun bagi warga penghuni pinggir kali. Meski bisa membangun rumah susun yang tidak sedikit biayanya, tetapi Tzu Chi bukan suatu badan usaha yang memiliki jaringan bisnis sebagai penyandang dana di balik semua aksi sosial mereka. Tzu Chi hanyalah sebuah organisasi sosial yang didirikan oleh seorang bhiksuni bertubuh lemah tetapi berjiwa Bodhisattva yang semangatnya keras bagaikan intan. Dana yang diperoleh oleh Tzu Chi merupakan sentuhan hasil penerapan konsep pemberdayaan sumber daya manusia. Kini para umat Buddhis dan umat lintas agama bergabung di bawah bendera Tzu Chi bahu membahu merealisasikan peningkatan kualitas kehidupan jasmaniah umat manusia dengan tidak mengabaikan upaya pemurnian batiniah.

Bila Tzu Chi telah berhasil membuktikan bahwa konsep pemberdayaan bukan tidak mungkin direalisasikan, mengapa vihara tidak bisa? Bila vihara di Thailand bisa mengembangkan konsep pendirian sekolah, rehabilitasi pengguna narkoba, penampungan penderita HIV dan aksi-aksi sosial lainnya, lalu kenapa vihara di tanah air tidak bisa?

Nampaknya sudah waktunya untuk lebih memfokuskan pada pemberdayaan sumber daya manusia umat Buddha khususnya dan masyarakat umumnya, daripada sibuk dengan berbagai kegiatan ritualistik yang notabene tidak menyentuh perealisasian harapan mulia ”semoga semua makhluk berbahagia”!