Lima belas tahun lalu, untuk pertama kalinya saya mengunjungi candi Borobudur dengan tujuan sekedar jalan-jalan sekaligus ingin melihat dengan mata kepala sendiri sebuah maha karya (masterpiece) nenek moyang yang kini menjadi salah satu landmark dan identitas bangsa kita.

Hingga hari ini, manusia modern masih belum mampu mengungkap secara pasti bagaimana manusia-manusia pada masa tersebut mampu membangun sebuah candi yang demikian agung, demikian besar, demikian halus, demikian indah, demikian menakjubkan dengan hanya bermodalkan peralatan yang sangat sederhana. Bahkan dengan kecanggihan yang ada pada masa kini, sulit membangun sebuah candi yang mampu menyamai keagungan candi Borobudur.

Keagungan candi Borobudur tidak hanya terletak pada hasil yang tampak saat ini, yaitu sebuah candi yang berdiri dengan gagah penuh dengan relief yang indah, tetapi di balik kegagahan dan keindahannya, keagungan Borobudur terletak pada filisofi yang mendasarinya dan mandala yang menjadi dasar arsitekturnya. Selain itu, keagungan Borobudur juga tercermin pada ketidakmampuan kita untuk membayangkan bagaimana sebuah bangunan yang demikian berat dapat berdiri kokoh dengan tanpa perlu memakukan ratusan paku bumi untuk mengokohkan fondasinya, tak terbayangkan pula bagaimana batu-batu yang membentuk Borobudur itu dibentuk dan diangkut ke area pembangunan di atas bukit. Perlu diketahui bahwa bahan yang digunakan untuk membangun candi Borobudur adalah batu kali, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah: adakah kali (sungai) di sekitar Borobudur? Mampukah pula kita mengungkap misteri ‘kecanggihan’ arsitek pada masa tersebut yang merancang candi Borobudur dengan tanpa menggunakan semen sebagai bahan perekat?

Bagaimana mengukur dan memastikan kestabilan tanah yang akan digunakan sebagai lahan candi? Bagaimana memastikan kedataran candi agar tidak miring? Bagaimana mendesign sudut-sudut potongan batu sehingga membentuk sudut yang mendukung (memanfaatkan gaya gravitasi bumi)? Bagaimana cara membangun candi yang demikian tingginya? Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab sehubungan dengan keagungan Borobudur. Semakin banyak pertanyaan yang tidak terjawab, semakin agung pula Borobudur.

Tidak ada yang dapat memungkiri bahwa Borobudur adalah warisan peradaban manusia yang luar biasa. Borobudur adalah kebanggaan bangsa Indonesia karena merupakan warisan nenek moyang bangsa ini. Sebagai umat Buddha, yang kita rasakan lebih dari sebatas bangga, karena nenek moyang yang mendirikan Borobudur adalah penganut Buddha Dharma.

Umat Buddha secara psikologis memiliki ikatan batiniah dengan candi Borobudur. Bagi umat awam, Borobudur hanyalah sebuah bangunan cagar budaya yang punya nilai seni tinggi. Tetapi bagi umat Buddha, Borobudur lebih dari sekedar cagar budaya, Borobudur adalah tempat suci umat Buddha. Bagi orang awam, kebanggaan atas Borobudur mungkin hanya muncul saat mempromosikannya ke wisatawan manca negara. Tetapi bagi umat Buddha, kebanggaan itu ada dan bersemi kapan saja. Setiap mendengar nama Borobudur, kebanggaan itu terasa sekali. Borobudur adalah warisan umat Buddha di masa lalu. Borobudur adalah tempat suci agama Buddha.

Borobudur, bukan hanya sebuah bangunan cagar budaya semata, tetapi Borobudur adalah sebuah tempat suci. Sungguh disayangkan, dari 504 arca yang ada, lebih dari 300 buah telah mengalami cacat yang cukup parah, umumnya tidak memiliki kepala, serta 43 buah telah raib dari tempatnya. Bagian-bagian relief juga telah banyak yang rusak dan kerusakan ini jelas akan semakin parah dari hari ke hari akibat perilaku pengunjung yang tidak semestinya. Borobudur adalah tempat suci. Bagi umat Buddha, cara memperlakukan cetiya, altar, rupang Buddha, serta relik para suci dinyatakan dengan sangat gamblang dalam paritta Puja seperti tersebut di bawah ini:

Vandami cetiya sabbang Sabbathanesu patitthitang Saririka dhatu maha bodhing Buddharupang sakalang sada Bodhisattatupang sekalang sada

Kuhormati setiap cetiya / altar di mana saja berada. Kuhormati relik-relik Maha Bodhi. Dan semua bentuk perwujudan Buddha yang dimuliakan. Semua bentuk perwujudan Bodhisattva yang dimuliakan.

Stupa dibangun sebagai sebuah tempat penyimpanan relik suci ataupun sebagai penghormatan pada seorang suciwan. Stupa adalah lambang Buddhisme. Tidak hanya dikenal dalam ajaran Buddha Gotama, tetapi juga ada dalam ajaran para Buddha terdahulu serta tetap ada dalam ajaran para Buddha akan datang. Karena itu, sudah seharusnya kita umat Buddha bangkit berdiri memberi pengertian pada seluruh warga masyarakat akan makna sakral Borobudur. Pun kita berikan teladan yang benar dalam berperilaku saat berkunjung ke Borobudur.

Ratusan bahkan ribuan tahun, bangsa kita berkembang membentuk suku bangsa yang kaya akan keaneka-ragaman, baik dalam adat budaya, bahasa ataupun agama. Di dalam keaneka-ragaman ini terasa adanya keindahan karena kita saling menghargai, saling menghormati dan menjunjung tinggi rasa toleransi. Melestarikan warisan leluhur, itu sudah seharusnya. Karena itu, melestarikan Borobudur adalah kewajiban setiap insan di tanah air ini. Borobudur akan lestari bila lepas dari tangan-tangan jahil ataupun perilaku tidak seharusnya yang dilakukan oleh para pengunjung.

Tetapi jangan pula lupa bahwa selain sebagai warisan leluhur, Borobudur adalah lambang toleransi beragama yang layak kita tunjukkan kepada seluruh bangsa di dunia ini. Kalau Borobudur merupakan warisan nenek moyang layak kita tunjukkan, maka toleransi beragama jauh lebih layak untuk kita tunjukkan. Sebagai bangsa yang besar, sebagai bangsa yang berjiwa besar, sebagai negara yang berpandangan jauh ke depan, telah tiba saatnya untuk mengembalikan Borobudur kita pada fungsinya semula.

Borobudur milik kita bersama! Lestarikan Borobudur kita! Kembalikan Borobudur kita sebagai tempat suci umat Buddha! Kembalikan Borobudur kita sebagai lambang toleransi beragama!