Ketika negeri ini dilanda krisis moneter hebat beberapa waktu lalu, banyak usaha yang terpaksa gulung tikar. Banyak orang yang semula berkantong tebal pun harus mengencangkan ikat pinggang, kehidupan duniawi mereka layaknya roda pedati yang berputar ke bawah. Investasi gagal, harta kekayaan tidak lagi dapat dipertahankan. Bahkan kekayaan yang disimpan dalam bank pun dikhawatirkan tidak dapat diambil kembali. Kekayaan yang melimpah dalam bentuk rupiah seakan-akan menguap seketika saat pemerintah mengambil kebijakan devaluasi yang mereduksi nilai beli mata uang kita.

Ketika kejahatan datang, kekayaan kita berpindah. Perampokan dan pencurian juga mampu mengambil pergi kekayaan yang ada. Ketika konspirasi dan korupsi berlangsung, kekayaan pun tidak lagi dapat dipertahankan lebih lama. Tetapi mungkin akan ada yang mengatakan bahwa hal-hal yang disebutkan di atas adalah sesuatu yang terlalu ekstrem, yang jarang sekali terjadi ataupun bahwa hal-hal tersebut bersifat tidak umum.

Tidak dipungkiri, contoh-contoh ekstrem tersebut di atas memang hanya melihat dari satu sudut yakni harta materi meninggalkan kita. Dan tidak dapat dipungkiri pula bahwa harta itu tidak dapat kita paksakan untuk tetap bersama kita, meski telah berupaya sekuat tenaga untuk mempertahankannya. Ini adalah sisi pandangan ‘mempertahankan’ yang sangat umum di dalam masyarakat kita.

Namun, mempertahankan tidak selalu berarti menjaga kemanunggalan obyek pada subyek, mempertahankan juga berarti menjaga kemanunggalan subyek terhadap obyek. Pemahaman masyarakat umum melihat bahwa obyek (materi) dipertahankan agar manunggal dengan subyek (manusia), sehingga contoh-contoh di atas dirasakan sebagai hal ekstrem yang jarang atau bahkan tak mungkin terjadi. Mereka berpendapat bahwa jika tidak ada krisis ekonomi, tidak ada devaluasi, tidak ada pencurian dan perampokan, maka harta kekayaan masih bisa dipertahankan. Benarkah demikian?

Sebenarnya tanpa hal-hal yang dikatakan ekstrem itu, kekayaan materi di dunia ini tetap tidak dapat dipertahankan. Meski kala tidak ada krisis, tidak ada devaluasi, tidak ada pencurian dan perampokan, kenyataannya manusia sama sekali tidak dapat mempertahankan harta bendanya. Manusia gagal mempertahankan kekayaannya agar selalu bersamanya, bukan saja ketika kekayaan itu pergi meninggalkan pemiliknya (karena diambil pihak lain), tetapi terutama karena manusia tidak dapat membawa serta kekayaannya ketika kematian mendatanginya.

Kematian akan merampas pergi semua kekayaan siapapun karena kekayaan tidak dapat dibawa serta saat seseorang meninggal. Kegagalan membawa serta harta kekayaan saat meninggal adalah bentuk ketidakmampuan mempertahankan harta kekayaan, dan hal ini jelas bukan hal yang ekstrem, bukan sesuatu yang tidak lazim atau tidak umum. Hal ini selalu terjadi, baik ketika krisis ekonomi melanda atau tidak, baik ketika nilai beli mata uang tinggi atau rendah, baik ketika ada pencuri atau tidak, baik siang atau malam. Dan jangan lupa, inilah hal yang paling alami.

Hampir setiap detik, ada manusia yang gagal mempertahankan kekayaannya, karena setiap detik ada kematian yang terjadi di seluruh belahan bumi ini. Dan kegagalan ini adalah sebuah kepastian yang tidak dapat ditawar.

Konon nama baik adalah harta yang paling besar dalam kehidupan manusia. Namun, bahkan nama baik juga tidak dapat dibawa serta saat meninggal, karena nama baik adalah kekayaan yang diinvestasikan dalam pikiran orang lain. Nama baik adalah pandangan orang lain terhadap kebaikan yang dibuat oleh seseorang, yang perbuatan baiknya itu diketahui oleh orang lain. Ketika seseorang mati, nama baik itu tidak dapat dibawa serta juga. Karena itu, muncul peribahasa yang mengatakan ‘gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama’. Ya, nama baik itu juga harus ditinggalkan, tidak dapat dibawa serta.

Tetapi meski demikian bukan berarti tidak ada kekayaan yang tak dapat dipertahankan. Di muka bumi ini, ada satu, ya hanya ada satu kekayaan yang dapat dipertahankan, yakni pahala kebajikan. Pahala kebajikan adalah harta kekayaaan yang tidak dapat dicuri oleh siapapun. Pahala kebajikan tidak dapat dikorupsi, tidak dapat dirampok, tidak dapat didevaluasi, dan yang paling penting adalah pahala kebajikan dapat dibawa melintasi gerbang kematian. Lebih jauh lagi, pahala kebajikan tidak hanya sekedar dapat dibawa melintasi kematian menuju kehidupan yang akan datang, tetapi pahala kebajikan juga merupakan investasi untuk kehidupan berikutnya.

Mangala Sutta mencatat sabda Buddha tentang salah satu berkah utama dalam kehidupan adalah Pubbekatapunnata yang artinya ‘telah menimbun jasa kebajikan dalam kehidupan lampau’. Lalu, mengapa menimbun jasa kebajikan dalam kehidupan lampau menjadi demikian krusial sehingga dikatakan sebagai sebuah berkah utama?

Beberapa ajaran agama meyakini adanya kehidupan (entah di surga atau neraka) setelah kehidupan ini. Surga atau neraka bergantung dari perbuatan manusia selama hidupnya, ya inilah hasil perbuatan hanya dalam satu kali kehidupan setiap manusia. Ajaran ini tidak dapat menerima adanya kehidupan sebelum kehidupan yang sekarang ini bagi setiap makhluk. Buddhisme sebaliknya mengajarkan bahwa jika ada kehidupan yang akan datang yang ditentukan oleh perbuatan selama kehidupan ini, maka konsistensinya adalah tentu ada kehidupan sebelumnya yang menjadi penentu dari kehidupan saat ini.

Hal inilah yang menjadi alasan kenapa timbunan jasa kebajikan di kehidupan yang lampau merupakan bagian dari berkah utama (mangala), karena timbunan pahala kebajikan dalam kehidupan lampau yang akan menjadi penentu dari kehidupan kini, sebagaimana perbuatan pada kehidupan ini menjadi penentu bagi kehidupan yang akan datang.

Ada tidaknya timbunan pahala dalam kehidupan lampau ini pulalah yang mampu memberi jawaban memuaskan mengenai sebab perbedaan yang ada di antara makhluk hidup. Sebab itulah ajaran Buddha secara tegas menolak konsep takdir atau pandangan-pandangan dogmatis yang menyatakan bahwa apa yang menimpa manusia adalah cobaan dari makhluk adikodrati.

Adakah diri kita telah menimbun pahala kebajikan pada kehidupan lampau? Bagi umat Buddha, apa yang sudah lalu tidaklah sepenting apa yang sedang dijalani saat ini. Mencari tahu ada tidaknya timbunan pahala kebajikan dalam kehidupan lampau tidak akan membawa perubahan apa-apa karena yang sudah lalu tidaklah dapat dirubah. Adalah lebih penting berfokus pada saat ini untuk berbuat kebajikan, karena inilah harta yang akan dibawa menuju kehidupan yang akan datang. Dengan demikian, janganlah menangisi diri bahwa dalam kehidupan ini kita tidak mendapat berkah utama (memiliki timbunan pahala kebajikan hasil perbuatan tubuh, ucapan dan pikiran pada kehidupan lampau), tapi segeralah menimbun pahala kebajikan dalam kehidupan ini, sehingga kelak pada kehidupan mendatang kita akan mendapat berkah utama. Inilah kekayaan yang tidak dapat dirampas dari kita, bahkan oleh kematian sekalipun.