Tengoklah sekeliling kita, dunia semakin maju. Teknologi canggih telah merambah jauh ke dalam memasuki setiap relung kehidupan kita sehari-hari, khususnya dunia teknologi telekomunikasi. Sepuluh tahun lalu, tidak banyak orang yang punya hape alias handphone. Dan saat itu, tidak banyak pula orang yang menyangka bahwa kini hampir setiap orang memiliki handphone berteknologi canggih dengan harga merakyat. Ya, penjualan handphone sangat marak selaris pisang goreng. Ironisnya, penjualan handphone ternyata jauh lebih laris daripada pisang goreng itu sendiri.

Pada awalnya handphone memiliki dimensi ukuran yang sama dengan telepon rumah, tetapi kemudian berkembang hingga kian hari kian kecil. Handphone yang semula hanya bisa untuk berkomunikasi layaknya telepon rumah, kemudian bertambah dengan fungsi sms, bahkan kini sudah bisa untuk mendengarkan radio, memainkan file musik mp3, jepret sana sini dengan kamera, juga untuk mengakses internet. Handphone yang ringtonenya tidak polyphonic saat ini sudah dianggap kuno.

Di samping kelebihan-kelebihan dan manfaatnya, jika tidak berhati-hati, handphone ternyata juga berdampak sangat buruk bagi perkembangan bathin manusia.

Tak Punya Handphone?

Beberapa tahun lalu, saat semua orang yang saya kenal (saudara, teman, rekan kantor) telah memiliki handphone, saya masih belum memilikinya. Demikian pula kalau saya amati orang-orang yang tidak saya kenal, ternyata banyak juga yang sudah menyandang handphone. Pada kondisi ini, tanpa disadari telinga dan bathin saya menjadi alergi kalau mendengar ringtone handphone. Saya jengkel kalau melihat orang menggunakan handphone. Dalam hati saya berkata: “Sombongnya orang ini!”, “Sok pamer handphone, nih orang!”, dan lain sebagainya. Padahal pandangan saya ini belum tentu benar. Itu hanya perasaan saya yang tidak punya handphone, alias iri dengan orang yang punya handphone.

Ada seorang teman saya merasa malu untuk pergi ke mall. Sekarang ini, hampir di setiap mall ada pemeriksaan barang bawaan pengunjung. Setiap pengunjung diharuskan meletakkan handphone dalam sebuah tempat saat melewati detector. Teman saya merasa malu karena tidak punya handphone untuk diletakkan dalam tempat yang tersedia, sedang hampir semua pengunjung memilikinya. Kasihan deh ……

Saya yakin bahwa bukan hanya saya dan teman saya saja yang mengalami rasa tidak suka dan malu karena tidak memiliki handphone. Ketidaksukaan saya atas kepemilikan handphone orang lain adalah merupakan suatu bentuk “akusala kamma”, yakni berkembang suburnya dosa (kebencian).

Berhandphone!

Akhirnya saya punya handphone juga. Ini sangat baik bagi suasana bathin saya karena tidak perlu iri lagi dengan handphone orang lain. Bahkan saat itu, handphone saya merupakan satu-satunya handphone dengan ringtone polyphonic di departemen tempat saya bekerja. Saya sudah tidak iri lagi dengan handphone orang lain, tapi sebaliknya menjadi sombong atas kecanggihan handphone yang saya miliki. Volume ringtone saya setting maksimal agar seluruh departemen bisa mendengarkan nyaringnya dan bagusnya suara handphone saya saat berbunyi. Hm, polyphonic sih ……

Keinginan vs Kebutuhan

Ternyata, walau sudah punya handphone, masih ada saja perasaan-perasaan negatif yang muncul. Perasaan-perasaan negatif ini ternyata timbul sebagai akibat nafsu keinginan kita. Keinginan, dalam pandangan Buddha Dhamma, merupakan sumber kemelekatan, yang pada hakekatnya merupakan awal dari penderitaan. Keinginan itu betapa kuatnya sehingga mengalahkan kebutuhan. Kebutuhan akan handphone sebagai media komunikasi menjadi kabur tertutupi oleh nafsu keinginan kita. Handphone telah berubah menjadi atribut diri dan identitas status sosial. Tanpa disadari, keinginan memiliki atau mengganti handphone menjadi tidak rasional lagi, bukan dilandaskan pada kebutuhan, melainkan hanya mengacu pada gengsi semata.

Semoga kita tidak terjebak oleh perasaan-perasaan negatif yang timbul dari dampak lahirnya media komunikasi super canggih – handphone. Jangan biarkan rasa iri, gengsi, dan keinginan untuk pamer membuat akar-akar akusala (dosa, lobha dan moha) dalam diri kita menjadi semakin kokoh.

Oh ya, handphone saya udah kuno nich, kapan bisa ganti yang baru yach? Oow…Oow… ?

Sinar Dharma 07