Digha Nikaya, atau "Kumpulan Kotbah Panjang" (Pali digha = "panjang") adalah bagian pertama dari Sutta Pitaka, dan terdiri dari tiga-puluh-empat sutta, dikelompokkan menjadi tiga vagga, atau bagian:

  1. Silakkhandha-vagga — Bagian Moralitas (13 Sutta)
  2. Maha-vagga — Bagian Besar (10 suttas)
  3. Patika-vagga — Bagian Patika (11 sutta)

Nama penerjemah muncul didalam kurung siku []. Kurung kurawal {} berisi volume dan nomor halaman awal pada Tipitaka berbahasa Pali PTS.

Untuk membaca, silahkan klik judul sutta. Jika sebuah sutta memiliki beberapa alternatif penerjemahan, silahkan klik pada nama penerjemahnya.


1. Silakkhandha-vagga — Bagian Moralitas {D i 1} [go up]

  • DN 1: Brahmajala Sutta — Jaring Tertinggi — Apa Yang Bukan Ajaran {D i 1} [Walshe]. Para bhikkhu menyaksikan pengembara Suppiya berdebat dengan muridnya tentang kualitas-kualitas Sang Buddha, AjaranNya (Dhamma) dan para bhikkhu (Sangha). Sang Buddha mengajarkan kepada mereka agar tidak terpengaruh oleh pujian maupun celaan terhadap ajaran, dan menyatakan bahwa 'orang-orang awam' akan memujiNya karena alasan-alasan remeh dan bukan karena inti ajaranNya. Beliau menguraikan enam puluh dua jenis pandangan salah, yang semuanya berdasarkan pada kontak dari enam landasan-indria dengan objeknya masing-masing. Kontak mengkondisikan keinginan, yang selanjutnya mengarah pada kemelekatan, pada penjelmaan (kembali), pada kelahiran, pada usia-tua dan kematian dan segala jenis penderitaan. Tetapi Sang Tathagata (Sang Buddha) telah melampaui semua ini, dan seluruh enam puluh dua pandangan ini terjebak dalam jaring ini.
  • DN 2: Samaññaphala Sutta — Buah Kehidupan Tanpa Rumah {D i 47} [Walshe]. Raja Ajatasattu dari Magadha, yang memperoleh tahtanya dengan membunuh ayahnya, menghadap Sang Buddha dengan sebuah pertanyaan yang telah ia ajukan dengan sia-sia kepada enam 'guru' saingan: Apakah buah, yang terlihat di sini dan saat ini (dalam kehidupan ini) dari kehidupan tanpa rumah? Sang Buddha menjelaskan kepadanya, dan melanjutkan dengan penjelasan akan manfaat yang lebih tinggi, berbagai kondisi meditative, dan akhirnya kebebasan sejati (bagian ini berulang pada sebelas Sutta berikutnya). Sang Raja, dengan sangat terkesan, menyatakan dirinya sebagai pengikut-awam. Sang Buddha kelak mengatakan kepada para bhikkhu bahwa jika tidak karena kejahatannya, Ajatasattu akan sudah menjadi seorang pemenang-arus dengan 'membuka mata-Dhamma.'
  • DN 3: Ambattha Sutta — Tentang Ambattha — Merendahkan Kesombongan {D i 87} [Walshe]. Pokkharasati, seorang guru Brahmana terkenal, mengutus muridnya Ambattha (yang dianggap sepenuhnya terpelajar dalam pengetahuan Brahmana) untuk membuktikan bahwa 'Petapa Gotama' adalah seorang manusia luar biasa seperti yang diberitakan (jika Beliau memiliki 'tiga puluh dua tanda seorang manusia luar biasa'). Ambattha, sombong akan kelahiran Brahmana-nya, berperilaku bodoh dan angkuh terhadap Sang Buddha, dan karenanya mengetahui satu dua hal mengenai leluhurnya sendiri, selain itu juga tersadar bahwa Khattiya (Kasta pejuang-mulia) adalah lebih superior daripada Brahmana. Dengan rendah hati, ia kembali ke Pokkharasati, yang menjadi marah karena perbuatannya, dan tergesa-gesa menjumpai Sang Buddha, melihat bahwa Beliau sungguh memiliki tiga-puluh-dua tanda manusia luar biasa, dan menjadi beralih keyakinan.
  • DN 4: Sonadanda Sutta — Tentang Sonandanda — Kualitas Brahmana Sejati {D i 111} [Walshe]. Brahmana Sonadanda dari Campa mengetahui kedatangan Petapa Gotama dan pergi menghadap Beliau, menentang nasihat para Brahmana lainnya yang menganggap hal itu akan menurunkan martabatnya. Sang Buddha bertanya kepadanya mengenai kualitas-kualitas seorang Brahmana sejati. Ia menyebutkan lima, tetapi dengan perumpamaan-perumpamaan yang diberikan oleh Sang Buddha, ia mengakui bahwa ini dapat dirangkum menjadi dua: kebijaksanaan dan moralitas. Ia menjadi beralih keyakinan namun tidak mengalami 'terbukanya mata-Dhamma'.
  • DN 5: Kutadanta Sutta — Tentang Kutadanta — Pengorbanan Tanpa Darah {D i 127} [Walshe]. Brahmana Kutadanta ingin melakukan pengorbanan besar dengan membunuh ratusan binatang. Ia memohon (tidak mungkin, seperti yang ditunjukkan oleh Rhys Davids!) Sang Buddha agar memberikan nasehat atas bagaimana hal tersebut dilakukan. Sang Buddha menceritakan kepadanya tentang kisah Raja masa lampau dan Brahmana kerajaan, yang melakukan secara simbolis, suatu pengorbanan tanpa darah. Kutadanta duduk terdiam diakhir kisah tersebut, setelah menyadari bahwa Sang Buddha tidak mengatakan: 'Aku pernah mendengar ini', dan Sang Buddha mengkonfirmasi bahwa kisah itu adalah salah satu kisah kehidupan masa lampauNya, dengan demikian berarti 'Kisah-kehidupan' (Jataka). Sang Buddha selanjutnya menjelaskan tentang 'pengorbanan yang lebih bermanfaat', yaitu, yang bermanfaat lebih tinggi seperti pada Sutta 2. Kutadanta melepaskan ratusan binatang yang ia rencanakan akan dibunuh, dengan berkata: 'Beri binatang-bintang itu rumput untuk dimakan dan berikan air dingin untuk minum, dan biarkan angin sejuk membelai mereka'. Ia menjadi pengikut-awam, dan 'mata-Dhamma yang murni dan tanpa-noda' terbuka dalam dirinya.
  • DN 6: Mahali Sutta — Tentang Mahali — Pemandangan surgawi, jiwa dan badan {D i 150} [Walshe]. Otthaddha (dengan nama keluarga Mahali) seorang Licchavi bertanya kepada Sang Buddha mengenai mengapa beberapa orang tidak dapat mendengarkan 'suara-suara surgawi' dan seterusnya, yang dijelaskan oleh Sang Buddha hal tersebut adalah karena latihan 'samadhi satu sisi' mereka. Pada bagian berikutnya, Sang Buddha menjelaskan bagaimana dua petapa, Mandisa dan Jaliya, pernah bertanya kepadaNya apakah jiwa atau prinsip kehidupan, adalah sama dengan badan, atau berbeda (Ini adalah satu dari 'pertanyaan yang tidak terjawab' yang disebutkan dalam Sutta 9). Sang Buddha mengatakan bahwa siapa pun yang telah mencapai pemahaman yang lebih tinggi tidak akan lagi terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan demikian.
  • DN 7: Jaliya Sutta — Tentang Jaliya {D i 160} [Walshe]. Tentang Jaliya. Hanya mengulang bagian terakhir dari Sutta 6.
  • DN 8: Mahasihanada Sutta — Khotbah Panjang Auman Singa {D i 161} [Walshe]. Khotbah Panjang Auman Singa juga disebut 'Auman Singa kepada Kassapa'. Petapa telanjang Kassapa bertanya, benarkah bahwa Sang Buddha mencela segala bentuk praktik keras. Sang Buddha menyangkal hal ini, dan mengatakan bahwa seseorang harus membedakan. Kassapa menguraikan praktik-praktik standar (beberapa di antaranya agak menjijikkan), dan Sang Buddha mengatakan bahwa seseorang boleh saja melakukan hal ini, namun jika moralitas, hati, dan kebijaksanaannya tidak berkembang, maka ia masih jauh dari sebagai seorang petapa atau Brahmana (dalam pengertian sesungguhnya). Beliau sendiri telah mempraktikkan segala praktik keras, moralitas, dan kebijaksanaan yang mungkin dilakukan untuk mencapai kesempurnaan. Kassapa memohon penahbisan, dan segera, dengan latihan yang tekun, ia menjadi seorang Arahat.

2. Maha-vagga — Bagian Besar {D ii 1} [go up]

3. Patika-vagga — Bagian Patika {D iii 1} [go up]