[87] 1.1 DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Suatu ketika Sang Bhagava sedang mengunjungi Kosala disertai oleh lima ratus bhikkhu, dan ia datang ke suatu desa Brahmana Kosala bernama Icchanankala. Dan Beliau menetap di hutan belantara Icchanankala. Pada waktu itu Brahmana Pokkharasati sedang menetap di Ukkhattha, suatu tempat yang ramai, banyak rumput, kayu, air dan jagung, yang dianugerahkan kepadanya oleh Raja Pasenadi dari Kosala sebagai anugerah kerajaan lengkap dengan kekuasaan kerajaan.1

1.2. Dan Pokkharasati mendengar bahwa: "Pertapa Gotama, putera suku Sakya, yang telah meninggalkan suku Sakya, ... sedang menetap di hutan belantara Icchanankala. Dan sehubungan dengan Yang Terberkahi, telah menyebar berita: 'Yang Terberkahi adalah seorang Arahat, Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, telah menempuh Sang Jalan dengan sempurna, Pengenal seluruh alam, Penjinak manusia yang harus dijinakkan yang tiada bandingnya, Guru para dewa dan manusia, seorang Buddha, Bhagava Yang Terberkahi.' Beliau menyatakan kepada dunia ini dengan para dewa, mara, Brahma, para pertapa dan Brahmana bersama dengan para raja dan umat manusia, telah mengetahui dengan pengetahuanNya sendiri. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, dalam makna dan kata, dan Beliau memperlihatkan kehidupan suci yang sempurna, murni sepenuhnya. Dan sesungguhnya adalah baik sekali menemui Arahat demikian."

1.3. Sekarang, pada masa itu Pokkharasati memiliki seorang murid, pemuda Ambattha, yang adalah seorang murid Veda, yang mengetahui mantra-mantra, sempurna dalam Tiga Veda, pembabar terampil dari peraturan-peraturan dan ritual-ritual, pengetahuan suara-suara dan makna-makna dan, ke lima, tradisi oral, lengkap dalam filosofi2 dan dalam tanda-tanda3 Manusia Luar Biasa, diakui dan diterima oleh gurunya dalam Tiga Veda dengan kata-kata: "Apa yang kuketahui, engkau juga mengetahuinya; apa yang engkau ketahui, aku juga mengetahuinya."

1.4. Dan Pokkharasati berkata kepada Ambattha: "Ambattha, anakku, Pertapa Gotama ... sedang menetap di hutan belantara Icchanankala. Dan sehubungan dengan Yang Terberkahi suatu berita baik telah menyebar ... Sekarang pergilah engkau menemui pertapa Gotama dan cari tahu apakah berita ini benar atau tidak, dan apakah Yang Mulia Gotama adalah seperti apa yang mereka katakan atau tidak. Untuk itu kita akan menguji Yang Mulia Gotama."

1.5. "Guru, bagaimanakah aku mencari tahu apakah berita itu benar atau tidak, atau apakah Yang Mulia Gotama adalah seperti yang mereka katakan atau tidak?" "Menurut tradisi dari mantra kita, Ambattha, Manusia Luar Biasa yang memiliki tiga puluh dua tanda Manusia Luar Biasa hanya memiliki dua kemungkinan. Jika ia menjalani kehidupan rumah tangga, ia akan menjadi seorang penguasa, seorang Raja pemutar-roda hukum kebaikan,4 penakluk empat penjuru, yang menegakkan keamanan negerinya dan memiliki tujuh pusaka,5 yaitu: Pusaka-Roda, Pusaka-Gajah, Pusaka-Kuda, Pusaka-Permata, Pusaka-Perempuan, Pusaka-Perumahtangga, dan yang ke tujuh, Pusaka-Penasehat. Ia memiliki lebih dari seribu putera yang adalah pahlawan-pahlawan, bersosok kuat, penakluk bala tentara musuh. Ia berdiam setelah menaklukkan tanah yang dikelilingi oleh lautan tanpa menggunakan tongkat atau pedang, melainkan dengan hukum. Tetapi jika ia meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjalani kehidupan tanpa rumah, maka ia akan menjadi seorang Arahat, seorang Buddha yang mencapai Penerangan Sempurna, seorang yang menarik selubung dunia.6 Dan, Ambattha, aku adalah pemberi mantra, dan engkau adalah penerima."

1.6. "Baiklah, Guru" Ambattha menjawab Pokkharasati, dan ia bangkit, berjalan dengan sisi kananya menghadap Pokkharasati, naik ke atas keretanya yang ditarik oleh seekor kuda bentina dan, disertai sejumlah pemuda, pergi menuju hutan belantara Icchanankala. Ia berkendara sejauh yang dimungkinkan oleh keretanya, kemudian turun dan melanjutkan dengan berjalan kaki.

1.7. Pada saat itu sejumlah bhikkhu sedang berjalan mondar-mandir di ruang terbuka. Ambattha mendekati mereka dan berkata: "Di manakah Yang Mulia Gotama sekarang? Kami datang untuk bertemu dengan Yang Mulia Gotama."

1.8. Para bhikkhu berpikir: "Ini adalah Ambattha ini, seorang pemuda dari keluarga yang baik dan seorang murid dari seorang Brahmana termashyur Pokkharasati. Bhagava tidak akan keberatan berbincang-bincang dengan seorang pemuda seperti ini." Dan mereka berkata kepada Ambattha: "Itu adalah tempat tinggal Beliau, yang pintunya tertutup. Pergilah dengan tenang ke sana, naiklah ke terasnya tanpa terburu-buru, berdehemlah, dan ketuklah gerendel pintunya. Bhagava akan membuka pintu untukmu."

1.9. Ambattha pergi ke tempat tinggal Sang Bhagava dan naik ke teras, berdehem, dan mengetuk. Sang Bhagava membuka pintu, dan Ambattha masuk. Para pemuda itu masuk, saling bertukar sapa dengan Sang Bhagava, dan duduk di satu sisi. Tetapi Ambattha berjalan mondar-mandir sementara Sang Bhagava duduk di sana, [90] mengucapkan kata-kata sopan yang tidak jelas, dan kemudian berdiri sambil berbicara di hadapan Sang Bhagava.

1.10. Dan Sang Bhagava berkata kepada Ambattha: "Baiklah, Ambattha, apakah engkau juga bersikap seperti ini ketika engkau berbicara kepada para Brahmana yang terhormat dan terpelajar, guru dari para guru, seperti sikapmu padaKu, berjalan dan berdiri sementara Aku duduk, dan mengucapkan kata-kata sopan yang tidak jelas?" "Tidak, Yang Mulia Gotama. Seorang Brahmana harus berjalan dengan Brahmana yang berjalan, berdiri dengan Brahmana yang berdiri, duduk dengan Brahmana yang duduk, dan berbaring dengan Brahmana yang berbaring. Tetapi sehubungan dengan para pertapa kecil gundul, rendah, kotoran dari kaki Brahma, kepada mereka adalah cukup untuk berbicara seperti yang kulakukan kepada Yang Mulia Gotama."

1.11. "Tetapi, Ambattha, engkau datang ke sini mencari sesuatu. Apapun itu yang membuatmu datang ke sini, engkau harus mendengarkan dengan penuh perhatian untuk mengetahuinya. Ambattha, engkau belum menyempurnakan latihanmu. Keangkuhanmu karena dilatih bukanlah apa-apa melainkan hanyalah kurangnya pengalaman."

1.12. Tetapi Ambattha marah dan tidak senang disebut tidak terlatih, dan ia memancing kemarahan Sang Bhagava dengan kutukan dan hinaan. Berpikir: "Pertapa Gotama membangkitkan kebencianku", ia berkata: "Yang Mulia Gotama, Para orang Sakya adalah orang yang galak, berbicara-kasar, mudah marah [91] dan kejam. Sebagai orang yang berasal rendah, sebagai orang rendah, mereka tidak menghormati, memuliakan, menghargai, memuji atau memberi hormat kepada para Brahmana. Sehubungan dengan hal ini, adalah tidak pantas ... bahwa mereka tidak memberi hormat kepada para Brahmana." Ini adalah pertama kalinya Ambattha menuduh orang Sakya sebagai orang rendah.

1.13. "Tetapi, Ambattha, apakah yang telah dilakukan orang-orang Sakya kepadamu?"

"Yang Mulia Gotama, suatu ketika aku pergi ke Kapilavatthu untuk suatu urusan mewakili guruku, Brahmana Pokkharasati, dan aku datang ke aula pertemuan orang-orang Sakya. Dan pada saat itu banyak orang-orang Sakya yang duduk di tempat duduk yang tinggi di dalam aula pertemuan mereka itu, saling menepuk satu sama lain dengan jari mereka, tertawa dan bermain-main bersama, dan sepertinya mereka mempermainkan aku, dan tidak ada seorangpun yang mempersilahkan aku duduk. Sehubungan dengan hal ini, adalah tidak pantas bahwa mereka tidak memberi hormat kepada para Brahmana." Ini adalah ke dua kalinya Ambattha menuduh orang-orang Sakya sebagai orang rendah.

1.14. "Tetapi Ambattha, bahkan burung puyuh, burung kecil itu, boleh mengatakan apapun di sarangnya sendiri. Kapilavatthu adalah wilayah Sakya, Ambattha. Mereka tidak pantas menerima penghinaan karena persoalan kecil itu."

"Yang Mulia Gotama, ada empat kasta:7 Khattiya, Brahmana, pedagang dan pekerja. Dan dari empat kasta ini, tiga — Khattiya, pedagang dan pekerja — semuanya tunduk pada Brahmana. Sehubungan dengan hal ini, [92] adalah tidak pantas bahwa mereka tidak memberi hormat kepada para Brahmana." Ini adalah ke tiga kalinya Ambattha menuduh orang-orang Sakya sebagai orang rendah.

1.15. Kemudian Sang Bhagava berpikir: "Anak muda ini terlalu jauh menghina suku Sakya. Bagaimana jika aku menanyakan nama sukunya?" Maka Beliau berkata: "Ambattha, dari suku apakah engkau?" "Aku adalah seorang Kanhayan, Yang Mulia Gotama."

"Ambattha, di masa lalu, menurut orang-orang yang mengingat silsilah para leluhur, suku Sakya adalah majikan, dan engkau adalah keturunan dari seorang budak perempuan dari orang-orang Sakya. Karena orang-orang Sakya menganggap Raja Okkaka sebagai leluhurnya. Pada suatu ketika Raja Okkaka, yang sangat mencintai permaisurinya, yang ingin mengalihkan kerajaannya kepada puteranya, mengusir putera-puteranya yang lebih tua dari kerajaan ? Okkamukha, Karandu, Hatthiniya dan Sinipura. Dan orang-orang ini, karena terusir, membangun rumah mereka di lereng Himalaya di sebelah kolam teratai dimana terdapat hutan pohon ek.8 Khawatir akan mencemari keturunan, mereka menikahi saudara-saudara perempuan mereka sendiri. Kemudian Raja Okkaka bertanya kepada para menteri dan penasehatnya: 'Di manakah para pangeran menetap sekarang?' dan mereka memberitahunya. Mendengar berita ini Raja Okkaka berseru: [93] 'Mereka kuat bagaikan kayu jati (saka), para pangeran ini, mereka adalah Sakya sejati!'9 dan demikianlah bagaimana suku Sakya memperoleh namanya yang termashyur. Dan Raja itu adalah leluhur dari orang-orang Sakya."

1.16. "Raja Okkaka memiliki seorang budak perempuan yang bernama Disa, yang melahirkan seorang bayi hitam. Makhluk hitam, ketika ia lahir, ia berseru: 'Cuci aku, ibu! Mandikan aku, ibu! Bebaskan aku dari kotoran ini, dan aku akan memberimu keuntungan!' Karena, Ambattha, seperti halnya orang-orang sekarang menggunakan istilah hantu (pisaca) sebagai istilah hinaan, demikian pula pada masa itu mereka mengatakan hitam (kanha). Dan mereka berkata: 'Segera setelah ia lahir, ia berbicara. Ia terlahir sebagai kanha, hantu!' demikianlah di masa lalu ... para Sakya adalah majikan, dan engkau adalah keturunan dari gadis budak orang Sakya."

1.17. Mendengar hal ini, seorang pemuda berkata: "Yang Mulia Gotama, jangan keterlaluan menghina Ambattha dengan cerita tentang keturunan seorang gadis-budak: Ambattha terlahir mulia, seorang dari keluarga terhormat, ia sangat terpelajar, ia sopan, seorang pelajar, mampu mempertahankan pendapatnya sendiri dalam diskusi ini dengan Yang Mulia Gotama!"

1.18. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada pemuda itu: "Jika engkau menganggap Ambattha terlahir rendah, tidak berasal dari keluarga terhormat, tidak terpelajar, [94] tidak sopan, bukan pelajar, tidak mampu mempertahankan pendapatnya sendiri dalam diskusi ini dengan pertapa Gotama, maka biarlah Ambattha tetap diam, dan engkau melanjutkan diskusi ini denganKu. Tetapi jika engkau menganggap ia ... mampu mempertahankan pendapatnya sendiri, maka engkau diamlah, dan biarkan ia berdiskusi denganku."

1.19. "Ambattha terlahir-mulia, Yang Mulia Gotama ... kami akan diam, ia akan melanjutkan."

1.20. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ambattha: "Ambattha, aku mempunyai satu pertanyaan mendasar untukmu, yang tidak akan suka engkau jawab. Jika engkau tidak menjawab, atau menghindari pertanyaan, jika engkau berdiam diri atau pergi, maka kepalamu akan pecah menjadi tujuh keping. Bagaimana menurutmu, Ambattha? Pernahkah engkau mendengar dari para Brahmana tua dan terhormat, guru dari para guru, dari mana asalnya suku Kanhaya, atau siapakah leluhurnya?" atas pertanyaan ini, Ambattha berdiam diri. Sang Bhagava bertanya untuk ke dua kalinya. [95] Ambattha masih berdiam diri. Dan Sang Bhagava berkata: "Jawab pertanyaanKu sekarang, Ambattha, ini bukan waktunya untuk berdiam diri. Siapapun, Ambattha, yang tidak menjawab pertanyaan mendasar yang diajukan oleh Sang Tathagata untuk ke tiga kalinya, maka kepalanya akan pecah menjadi tujuh keping."10

1.21. Dan pada saat itu yakkha Vajirapani,11 memegang pentungan besi besar, menyala dan berkilauan, melayang di angkasa tepat di tas Ambattha, berpikir: "Jika pemuda Ambattha ini tidak menjawab pertanyaan wajar yang diajukan oleh Yang Terberkahi untuk ke tiga kalinya, aku akan memecahkan kepalanya menjadi tujuh keping!" Sang Tathagata melihat Vajirapani, demikian pula Ambattha. Dan melihat pemandangan itu, Ambattha ketakutan dan kehilangan akal, bulu badannya berdiri, dan ia mencari perlindungan, tempat bernaung dan keselamatan dari Sang Bhagava. Merangkak mendekati Sang Bhagava, ia berkata: "Apakah yang Yang Mulia Gotama tanyakan? Sudilah yang Mulia Gotama mengulangi pertanyaannya!" "Bagaimana menurutmu, Ambattha? Pernahkah engkau mendengar tentang siapakah leluhur dari suku Kanhaya?" "Ya, aku pernah mendengarnya seperti yang Yang Mulia Gotama katakan, itulah asal mula suku Kanhaya, ia adalah leluhur kami."

1.22. Mendengar hal itu, para pemuda itu berteriak riuh: "Jadi Ambattha terlahir rendah, bukan berasal dari keluarga yang mulia, terlahir dari seorang gadis-budak dari orang-orang Sakya, dan orang-orang Sakya adalah majikan Ambattha! Kami telah menghina Pertapa Gotama, menganggap Beliau tidak mengatakan kebenaran!"

1.23. Kemudian Sang Bhagava berpikir: "Ini keterlaluan, [96] cara para pemuda ini menghina Ambattha sebagai putera dari seorang gadis-budak. Aku harus mengeluarkannya dari situasi ini." Maka Beliau berkata kepada para pemuda itu: "Jangan keterlaluan menghina Ambattha sebagai putera seorang gadis-budak! Kanha itu adalah seorang bijaksana yang sakti.12 Ia pergi ke negeri selatan,13 mempelajari mantra dari para Brahmana di sana, dan kemudian mendatangi Raja Okkaka dan meminta puterinya Maddarupi. Dan Raja Okkaka, marah dan berseru: 'Jadi orang ini, putera dari seorang gadis-budak, menginginkan puteriku!' dan ia memasang anak panah pada busurnya. Tetapi ia tidak mampu menembakkan anak panah itu maupun melepaskannya.14 Kemudian para menteri dan penasehat mendatangi sang bijaksana Kanha dan berkata: 'Ampuni Raja, Tuan, ampuni raja!'"

"'Raja akan selamat, tetapi jika ia melepaskan anak panahnya ke bawah, bumi ini akan gempa sejauh batas kerajaan ini!'"

"'Tuan, Ampuni raja, ampuni tanah ini!'"

"'Raja dan tanah akan selamat, tetapi jika ia melepaskan anak panah itu ke atas, hingga batas kerajaannya, dewa tidak akan menurunkan hujan selama tujuh tahun.'"15

"'Tuan, Ampuni raja, ampuni tanah ini, dan semoga dewa memberikan hujan!'"

"'Raja dan tanah akan selamat, dan dewa akan memberikan hujan, tetapi jika raja mengarahkan anak panah ini ke pangeran mahkota, pangeran akan baik-baik saja.'"

"Maka para menteri berseru: 'Biarkan Raja Okkaka membidikkan anak panahnya kepada Pangeran mahkota, pangeran akan baik-baik saja!' Raja melakukannya, dan pangeran tidak terluka, kemudian Raja Okkaka, takut akan hukuman dari para dewa,16 memberikan puterinya Maddarupi. Karena itu, anak-anak muda, jangan keterlaluan menghina Ambattha sebagai putera seorang gadis-budak. Kanha itu adalah seorang bijaksana sakti."

1.24. Kemudian Sang Bhagava berkata: "Ambattha, bagaimana menurutmu? Seandainya seorang pemuda Khattiya menikah dengan seorang gadis Brahmana, dan lahir seorang anak dari pasangan itu. Apakah putera dari pemuda Khattiya dan gadis Brahmana itu akan menerima tempat duduk dan air dari para Brahmana?" "Ya, ia akan menerimanya, Yang Mulia Gotama."

"Apakah mereka akan mengijinkannya makan pada ritual pemakaman, pada upacara persembahan nasi, pada upacara pengorbanan atau sebagai seorang tamu?" "Ya, mereka akan mengijinkannya, Yang Mulia Gotama."

"Apakah mereka akan menutupi atau tidak menutupi para perempuan mereka?" "Tidak menutupi, Yang Mulia Gotama."

"Tetapi apakah para Khattiya akan memercikkannya dengan penahbisan Khattiya?" "Tidak, Yang Mulia Gotana."

"Mengapa tidak?" "Karena, Yang Mulia Gotama, ia tidak terlahir-mulia dari pihak ibunya."

1.25. "Bagaimana menurutmu, Ambattha? Seandainya seorang pemuda Brahmana menikah dengan seorang gadis Khattiya, dan lahir seorang anak dari pasangan itu. Apakah putera dari pemuda Brahmana dan gadis Khattiya itu menerima tempat duduk dan air dari para Brahmana?" "Ya, ia akan menerimanya, Yang Mulia Gotama." ... (seperti pada paragraf 1.24) [98] "Tetapi apakah para Khattiya akan memercikkannya dengan penahbisan Khattiya?" "Tidak, Yang Mulia Gotana."

"Mengapa tidak?" "Karena, Yang Mulia Gotama, ia tidak terlahir-mulia dari pihak ayahnya."

1.26. "Maka, Ambattha, para Khattiya, melalui seorang laki-laki menikahi seorang perempuan atau seorang perempuan menikahi seorang laki-laki, adalah lebih tinggi daripada para Brahmana. Bagaimanakah menurutmu, Ambattha? Ambil kasus seorang Brahmana yang, karena alasan tertentu, dicukur rambutnya oleh para Brahmana, dihukum dengan sekantung debu dan diusir dari suatu negeri atau kota. Apakah ia menerima tempat duduk dan air dari para Brahmana?" "Tidak, Yang Mulia Gotama."

"Apakah mereka mengijinkannya untuk makan ... sebagai tamu?" "Tidak, Yang Mulia Gotama."

"Apakah mereka akan mengajarinya mantra, atau tidak?" "Mereka tidak akan mengajarinya, Yang Mulia Gotama."

1.27. "Bagaimana menurutmu, Ambattha? Ambil kasus seorang Khattiya yang, ... dicukur rambutnya oleh para Khattiya, ... dan diusir dari suatu negeri atau kota. Apakah ia akan menerima tempat duduk dan air dari para Brahmana?" "Ia akan menerimanya, Yang Mulia Gotama." ... (seperti paragraf 24) "Apakah mereka akan menutupi atau tidak menutupi para perempuan mereka?" "Tidak menutupi, Yang Mulia Gotama."

"Tetapi Khattiya itu telah mencapai penghinaan yang paling berat [99] hingga ... ia diusir dari negeri atau kotanya. Jadi, bahkan jika seorang Khattiya menderita penghinaan berat, ia lebih tinggi dan para Brahmana lebih rendah."

1.28. "Ambattha, syair ini dinyanyikan oleh Brahma Sanankumara:

'Khatiya adalah yang terbaik di antara semua kasta;

Ia dengan pengetahuan dan perilaku yang baik adalah yang terbaik di antara para Dewa dan manusia.'

"'Syair ini dinyanyikan dengan benar, tidak salah, diucapkan dengan benar, tidak salah, berhubungan dengan manfaat, bukan tidak berhubungan. Dan Ambattha, Aku juga mengatakan hal ini:

'Khatiya adalah yang terbaik di antara semua kasta;

Ia dengan pengetahuan dan perilaku yang baik adalah yang terbaik di antara para Dewa dan manusia.'

[Akhir dari bagian pembacaan pertama]

2.1. "Tetapi, Yang Mulia Gotama, apakah perilaku, apakah pengetahuan?"

"Ambattha, bukan dari sudut pandang pencapaian pengetahuan-dan-perilaku yang tanpa tandingan, suatu reputasi yang berdasarkan kelahiran dan suku dinyatakan, juga bukan dari kesombongan yang mengatakan: 'Engkau berharga bagiku, engkau tidak berharga bagiku!' Karena dimana ada memberi, menerima, atau memberi dan menerima dalam pernikahan, di sana selalu ada pembicaraan dan keangkuhan ini ... Tetapi mereka yang diperbudak oleh hal-hal demikian adalah jauh dari pencapaian pengetahuan-dan-perilaku yang tanpa tandingan, [100] yang dicapai dengan meninggalkan semua hal tersebut!"

2.2. "Tetapi, Yang Mulia Gotama, apakah perilaku, apakah pengetahuan?"

"Ambattha, seorang Tathagata muncul di dunia ini, Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna, memiliki kebijaksanaan dan perilaku yang sempurna, telah menempuh Sang Jalan dengan sempurna, Pengenal seluruh alam, Penjinak manusia yang harus dijinakkan yang tiada bandingnya, Guru para dewa dan manusia, Tercerahkan dan Terberkahi. Beliau, setelah mencapainya dengan pengetahuanNya sendiri, menyatakan kepada dunia bersama para dewa, mara dan Brahma, para raja dan umat manusia. Beliau membabarkan Dhamma yang indah di awal, indah di tengah, dan indah di akhir, dalam makna dan kata, dan menunjukkan kehidupan suci yang murni dan sempurna.17 Seorang siswa pergi meninggalkan keduniawian dan mempraktikkan moralitas (Sutta 2, paragraf 41-62); ia menjaga pintu-pintu indrianya, dan seterusnya (Sutta 2, paragraf 64-75); mencapai empat jhana (Sutta 2, paragraf 75-82). Demikianlah ia mengembangkan perilaku. Ia mencapai berbagai pandangan terang (Sutta 2, paragraf 83-95), dan lenyapnya kekotoran (Sutta 2, paragraf 97) ... dan lebih dari ini tidak ada lagi pengembangan yang lebih jauh dari pengetahuan dan perilaku yang lebih tinggi atau lebih sempurna.

2.3. "Tetapi, Ambattha, dalam mengejar pencapaian pengetahuan-dan-perilaku yang tanpa tandingan [101] terdapat empat jalan kegagalan.18 Apakah itu? Pertama, seorang pertapa atau Brahmana yang belum berhasil mendapatkan19 pencapaian tanpa tandingan ini, membawa pikulannya20 dan masuk ke hutan dan berpikir: "Aku akan hidup dari buah-buahan yang jatuh tertiup angin." Tetapi dengan cara ini ia hanya menjadi seorang pelayan dari ia yang telah mencapai. Ini adalah jalan kegagalan pertama. Kemudian, seorang pertapa atau Brahmana ..., karena tidak mampu hidup dari buah-buahan yang jatuh tertiup angin, mengambil sekop dan keranjang, dan berpikir: 'Aku akan hidup dari umbi-umbian dan akar-akaran.'21 ... ini adalah jalan kegagalan ke dua. Kemudian lagi, seorang pertapa atau Brahmana, karena tidak mampu hidup dari umbi-umbian dan akar-akaran, membuat api di perbatasan desa atau kota dan duduk memperhatikan kobaran api22 ... Ini adalah jalan kegagalan ke tiga. Kemudian lagi, seorang pertapa atau Brahmana, karena tidak mampu memperhatikan kobaran api, [102] mendirikan rumah dengan empat pintu di persimpangan jalan dan berpikir: "Pertapa atau Brahmana manapun yang datang dari empat penjuru, aku akan menghormatinya dengan segenap tenaga dan kemampuanku.' Tetapi dengan cara ini ia hanya menjadi seorang pelayan dari ia yang telah mencapai pengetahuan dan perilaku yang tanpa tandingan. Ini adalah jalan kegagalan ke empat.

2.4. "Bagaimana menurutmu, Ambattha? Apakah engkau dan gurumu hidup sesuai dengan pengetahuan dan perilaku yang tanpa tandingan?" "Tidak, Yang Mulia Gotama! Siapakah guruku dan aku dibandingkan dengan mereka itu? Kami jauh dari sana!"

"Baiklah, Ambattha dapatkah engkau dan gurumu, karena tidak mampu mencapai ini ..., pergi dengan membawa pikulanmu masuk ke dalam hutan, bermaksud untuk hidup dari buah-buahan yang jatuh tertiup angin?" "Tidak, Yang Mulia Gotama."

"Baiklah, Ambattha dapatkah engkau dan gurumu, karena tidak mampu mencapai ini ..., hidup dari umbi-umbian dan akar-akaran, ... duduk memperhatikan api, [103] ... mendirikan rumah ...?" "Tidak, Yang Mulia Gotama."

2.5. "Jadi Ambattha, bukan saja engkau dan gurumu tidak mampu mencapai pengetahuan dan perilaku yang tanpa tandingan, tetapi bahkan empat jalan kegagalan pun masih diluar jangkauan kalian. Namun engkau dan gurumu, Brahmana Pokkharasati berani mengucapkan kata-kata ini: 'Para pertapa kecil gundul ini, rendah, kotoran dari kaki Brahma, pembicaraan apakah yang dapat mereka sampaikan kepada para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda?' ? bahkan engkau tidak mampu melakukan tugas-tugas dari seorang yang gagal. Lihat, Ambattha, betapa gurumu telah mengecewakan engkau!

2.6. "Ambattha, Brahmana Pokkharasati hidup dari belas kasihan dan bantuan Raja Pasenadi dari Kosala. Tetapi Raja tidak mengijinkannya untuk menghadap secara langsung. Ketika ia berbicara dengan Raja, mereka dipisahkan oleh sehelai tirai. Mengapa Raja tidak mengijinkan pertemuan langsung dengan seorang yang telah ia anugerahi sumber penghasilan yang layak? Lihat bagaimana gurumu telah mengecewakan engkau!

2.7. "Bagaimana menurutmu, Ambattha misalkan Raja Pasenadi sedang duduk di punggung seekor gajah atau kuda, atau sedang berdiri di atas keretanya, berdiskusi dengan para menterinya dan para pangeran mengenai sesuatu. [104] dan misalkan ia harus menyingkir karena beberapa pekerja atau pembantu pekerja datang dan berdiri di tempatnya. Dan sambil berdiri di sana ia berkata: 'Ini adalah apa yang dikatakan oleh Raja Pasenadi dari Kosala!' Apakah ia mengucapkan kata-kata Raja, seolah-olah ia sama dengan Raja?" "Tentu tidak, Yang Mulia Gotama."

2.8. "Baiklah, Ambattha, ini adalah hal yang serupa. Mereka yang, seperti engkau katakan, para Brahmana kelas satu, pencipta dan pembabar mantra-mantra, yang syair-syair kunonya dibacakan, diucapkan dan dikumpulkan oleh para Brahmana masa kini ? Atthaka, Vamaka, Vamadeva, Vessamitta, Yamataggi, Angirasa, Bharadvaja, Vasettha, Kassapa, Bhagu23 - yang mantranya dikatakan telah diwariskan kepadamu dan gurumu; namun engkau tidak serta merta menjadi seorang bijaksana atau seorang yang menjalankan praktik dari seorang bijaksana ? hal demikian adalah mustahil.

2.9. "Bagaimana menurutmu, Ambattha? Apa yang engkau dengar dari yang dikatakan oleh para Brahmana yang terhormat, tua, guru dari para guru? Para bijaksana kelas satu ..., Atthaka, ... Bhagu ? apakah mereka bersenang-senang, mandi dengan baik, menggunakan wangi-wangian, rambut dan janggutnya terpotong rapi, berhiaskan karangan bunga dan kalung bunga, berpakaian jubah putih, menikmati lima kenikmatan-indria dan menyukainya, seperti yang dilakukan oleh engkau dan gurumu?" [105] "Tidak, Yang Mulia Gotama."

2.10. "Atau apakah mereka memakan nasi khusus yang baik dengan noda-noda hitam yang telah dibersihkan, dengan berbagai sup dan kari, seperti yang dimakan oleh engkau dan gurumu?" "Tidak, Yang Mulia Gotama."

"Atau apakah mereka menghibur diri dengan para perempuan dengan pakaian berlipat dan berumbai, seperti yang engkau dan gurumu lakukan?" "Tidak, Yang Mulia Gotama."

"Atau apakah mereka berkeliling naik kereta yang ditarik oleh kuda betina dengan ekor dikepang, yang mereka kendalikan dengan tongkat-kendali panjang?" "Tidak, Yang Mulia Gotama."

"Atau apakah mereka di kota-kota yang dibentengi dengan pagar dan barikade, dikawal oleh orang-orang berpedang panjang ...?" "Tidak, Yang Mulia Gotama."

"Jadi, Ambattha, engkau dan gurumu bukanlah orang bijaksana atau orang yang berlatih di jalan seorang bijaksana. Dan sekarang, sehubungan dengan keraguan dan kebingunganmu sehubungan denganKu, kita akan menjernihkan permasalahan ini dengan pertanyaanmu dan jawabanKu."

2.11. Kemudian, turun dari tempat tinggalnya, Sang Bhagava mulai berjalan mondar-mandir, dan Ambattha melakukan hal yang sama. Dan sewaktu ia berjalan bersama dengan Sang Bhagava, Ambattha memperhatikan tiga puluh dua tanda Manusia Luar Biasa pada tubuh Sang Bhagava. Dan ia dapat melihat seluruhnya kecuali [102] dua. Ia ragu-ragu dan bingung sehubungan dengan dua tanda ini; ia tidak dapat memutuskan atau yakin akan alat kelamin yang terselubung dan lidah yang panjang.

2.12. Dan Sang Bhagava, menyadari keragu-raguannya, mengerahkan kekuatan bathinNya sehingga Ambattha dapat melihat alat kelaminnya yang terselubung, dan kemudian, menjulurkan lidahnya, ia menjulurkan keluar untuk menjilat kedua telinganya dan kedua cuping hidungnya, dan kemudian menutupi seluruh keningnya dengan lidahnya. Kemudian Ambattha berpikir: Pertapa gotama ini memiliki seluruh tiga puluh dua tanda Manusia Luar Biasa, lengkap dan tidak ada yang kurang." Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagava: "Yang Mulia Gotama, bolehkah aku pergi sekarang? Aku mempunyai banyak urusan, banyak yang harus dilakukan." "Ambattha, lakukanlah apa yang engkau anggap baik." Maka Ambattha naik ke atas keretanya yang ditarik oleh kuda-kuda betina dan pergi.

2.13. Sementara itu Brahmana Pokkharasati berada di luar rumahnya dan sedang duduk di tamannya bersama banyak Brahmana, menunggu Ambattha. Kemudian Ambattha datang ke taman itu. Ia berkendara sejauh yang dimungkinkan oleh keretanya, kemudian turun dan melanjutkan dengan berjalan kaki ke tempat dimana Pokkharasati berada, memberikan salam hormat, dan duduk di satu sisi. Kemudian Pokkharasati berkata:

2.14. "Baiklah, anakku, apakah engkau bertemu dengan Yang Mulia Gotama?" "Aku bertemu denganNya, Guru".

"Dan apakah Yang Mulia Gotama seperti [107] yang diberitakan, dan bukan sebaliknya? Dan apakah ia memiliki ciri-ciri demikian, dan bukan sebaliknya?" "Guru, Beliau adalah seperti yag diberitakan, dan ia memiliki ciri-ciri demikian, dan bukan sebaliknya. Ia memiliki tiga puluh dua tanda Manusia Luar biasa, semuanya lengkap, tidak ada yang kurang."

"Tetapi apakah terjadi pembicaraan antara engkau dengan pertapa Gotama?" "Ada, Guru".

"Dan tentang apakah pembicaraan itu?" Maka Ambattha menceritakan kepada Pokkharasati semua yang terjadi antara Sang Bhagava dan dirinya.

2.15. Mendengar cerita ini Pokkharasati berseru: "Baiklah, engkau murid kecil yang cerdas, seorang bijaksana yang pintar, seorang ahli dalam Tiga Veda! Siapapun yang melakukan urusannya seperti itu akan, saat ia meninggal dunia, saat hancurnya jasmani, pergi menuju alam bawah, menuju jalan jahat, menuju kehancuran, menuju neraka! Engkau telah menumpuk hinaan pada Yang Mulia Gotama, sebagai akibatnya Beliau akan memberikan lebih banyak lagi hal-hal yang melawan kita! Engkau murid kecil yang cerdas ...!" Ia begitu marah dan murka sehingga ia menendang Ambattha, dan ingin segera pergi menjumpai Sang Bhagava. [108]

2.16. Tetapi para Brahmana berkata: "Sudah sangat larut, Tuan, untuk pergi menjumpai pertapa Gotama hari ini. Yang Mulia Pokkharasati dapat pergi menjumpaiNya besok."

Kemudian Pokkharasati, setelah menyiapkan makanan-makanan yang keras dan lunak di rumahnya, pergi dengan diterangi oleh cahaya obor dari Ukkattha menuju hutan Icchanankala. Ia pergi dengan mengendarai kereta sejauh yang dimungkinkan, kemudian melanjutkan dengan berjalan kaki ke tempat Sang Bhagava berada. Setelah saling bertukar sapa dengan Sang Bhagava, ia duduk di satu sisi dan berkata:

2.17. "Yang Mulia Gotama, apakah murid kami Ambattha datang menjumpaiMu? "Ya, ia menjumpaiKu, Brahmana." "Dan apakah terjadi pembicaraan antara kalian?" "Ya, kami berbicara." "Dan tentang apakah pembicaraan itu?"

Kemudian Sang Bhagava menceritakan kepada Pokkharasati semua yang terjadi antara Beliau dan Ambattha. Mendengar hal ini, Pokkharasati berkata kepada Sang Bhagava: "Yang Mulia Gotama, Ambattha hanyalah seorang pemuda bodoh. Sudilah Yang Mulia Gotama memaafkannya." "Brahmana, semoga Ambattha bahagia." [109]

2.18-19. Kemudian Pokkharasati mencari tiga puluh dua tanda Manusia Luar Biasa pada tubuh Sang Bhagava dan ia dapat melihat seluruhnya kecuali dua: alat kelamin yang terselubung dan lidah yang panjang, tetapi Sang Bhagava mengerahkan kekuatan bathinnya. (seperti paragraf 11-12). Dan Pokkharasati berkata kepada Sang Bhagava: "Sudilah Yang Mulia Gotama merima makanan dariku hari ini bersama para bhikkhu!" dan Sang Bhagava menerimanya dengan berdiam diri.

3.20. Mengetahui penerimaan Sang Bhagava, Pokkharasati berkata kepada Sang Bhagava: "Sudah waktunya, Yang Mulia Gotama, makanan telah siap." Dan Sang Bhagava, setelah merapikan jubahnya di pagi hari itu dan membawa jubah serta mangkuknya,24 pergi bersama para bhikkhu ke tempat kediaman Pokkharasati, dan duduk di tempat yang telah disediakan. Kemudian Pokkharasati sendiri yang melayani Sang Bhagava dengan berbagai pilihan makanan keras dan lunak, dan para pemuda melayani para bhikkhu. Dan ketika Sang Bhagava telah mengangkat tangannya dari mangkuk, Pokkharasati duduk di satu sisi di atas bangku kecil.

2.21 dan ketika Pokkharasati duduk di sana, [110] Sang Bhagava membabarkan khotbah bertingkat tentang kedermawanan, moralitas dan tentang surga, menunjukkan bahaya, penurunan dan kerusakan dari kenikmatan-indria, dan manfaat dari meninggalkan keduniawian. Dan ketika Sang Bhagava mengetahui bahwa bathin Pokkharasati telah siap, lunak, bebas dari rintangan, gembira dan tenang, Beliau membabarkan khotbah Dhamma secara ringkas: tentang penderitaan, asal-mulanya, lenyapnya, dan sang jalan. Dan bagaikan sehelai kain bersih yang semua kotoran telah dihilangkan akan dapat diwarnai dengan baik, demikian pula dalam diri Brahmana Pokkharasati, selagi masih duduk di sana, muncul Mata-Dhamma yang murni dan tanpa noda, dan ia mengetahui: "Segala sesuatu memiliki asal-mula, dan akan lenyap."25

2.22. Dan Pokkharasati, setelah melihat, mencapai, mengalami dan menembus Dhamma, setelah melampaui keragu-raguan, melampaui ketidak-pastian, setelah mencapai keyakinan sempurna dalam Ajaran Sang Guru tanpa bergantung pada yang lainnya, berkata: "Sungguh indah, Bhagava, sungguh menakjubkan! Bagaikan seseorang yang menegakkan apa yang terjatuh, atau menunjukkan jalan bagi ia yang tersesat, atau menyalakan pelita di dalam gelap, sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat apa yang ada di sana. Demikian pula Bhagava Yang Terberkahi telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara ... aku bersama puteraku, istriku, para menteri dan penasehatku berlindung kepada Yang Mulia Gotama, kepada Dhamma dan kepada Sangha.26 Semoga Yang Mulia Gotama menerimaku sebagai siswa awam yang telah menerima perlindungan sejak hari ini hingga akhir hidupku! Dan kapan saja Yang Mulia Gotama mengunjungi keluarga lain di Ukkattha, sudilah Beliau juga mengunjungi keluarga Pokkharasati! Pemuda dan pemudi yang manapun juga akan memuliakan Yang Mulia Gotama dan berdiri di hadapan Beliau, akan memberikan tempat duduk dan air dan akan gembira dalam hati, dan itu adalah demi kesejahteraan dan kebahagiaan untuk waktu yang lama bagi mereka."

"Diucapkan dengan baik sekali, Brahmana!"


Catatan

1. Suatu frasa, seperti pada DN 4.1, 5.1, MN 95.1, dan lain-lain. RD menerjemahkan "pada wilayah kerajaan ... sebagai pemberian kerajaan (rajadayam), dengan kekuasaan atasnya seolah-olah ia adalah raja (brahmadeyyam)", brahmadeyyam = "anugerah tertinggi", yang tidak dapat ditarik kembali.

2. Penjelasan lain untuk Brahmana terpelajar.

3. Untuk penjelasan selengkapnya dari tanda-tanda ini (sebelum masa Sang Buddha), baca DN 30. tanda-tanda ini sangat penting bagi para Brahmana untuk menetapkan kredensial "Pertapa Gotama".

4. Baca DN 17.

5. Baca DN 17.

6. Loke vivattacchado: sebuah ungkapan yang sulit, saya mengikuti DA. "selubung" yang dimaksud adalah kebodohan, dan seterusnya.

7. Pembagian ini dalam empat kelompok menunjukkan tingkatan kasta pada masa-masa sebelumnya. Pada masa Sang Buddha dan di ngeri asalNya, Khattiya ("Ksatria-mulia"), yang adalah KastaNya, merupakan kasta pertama, dengan Brahmana menempati urutan ke dua, walaupun Brahmana telah mengokohkan dirinya sebagai Kasta tertinggi jauh di wilayah Barat, dan jelas memperjuangkan posisi itu di sini. Sang Buddha sendiri lebih sering merujuk pada empat urutan berbeda: Khattiya, Brahmana, perumah tangga dan pertapa.

8. Sakasanda: kata saka juga dapat berarti "tanaman" (RD), tetapi di sini tentu saja bermakna lain yaitu "jati". RD secara keliru menerjemahkan sebagai "ek" demi menjaga agar tidak terlalu banyak permainan kata. Ada permainan kata yang sesungguhnya pada kata sakahi "(saudara-saudara perempuan) sendiri" persis sebelumnya.

9. Sehubungan dengan catatan sebelumnya, RD di sini menerjemahkan "jantung ek" (!).

10. Suatu ancaman yang aneh yang (seperti yang dipelajari oleh RD) tidak pernah terjadi, dan tentu saja berasal dari masa sebelum Buddhisme.

11. Yakkha ini, oleh DA disamakan dengan Indra, siap, seperti dalam MN 35.14, untuk mengambil tindakan. Demikianlah satu dari dewa yang mendukung agama baru. Dalam kitab-kitab Mahayana belakangan kita menemukan satu Bodhisatva dengan nama yang sama. Baca D.L. Snellgrove, Buddhist Himalaya (Oxford 1957), p.62 dan catatan I.B. Horner, MLS I, p.185.

12. Isi (Sanskrit rsi, di-inggris-kan menjadi "rishi". Apakah ia disamakan dengan Krishna (Skt. Krsna = Pali Kanha)?

13. Dakkhina janapada: di-inggris-kan seperti pada Deccan.

14. Menurut DA, ini disebut "Mantra Ambattha".

15. Hanya gertakan, menurut DA: dalam kenyataannya mantra itu hanya dapat mencegah anak panah itu ditembakkan.

16. Brahmadanda: "hukuman berat sekali" (dalam pengertian lain pada DN 16.5.4).

17. Di sini, dan di beberapa tempat yang berhubungan dalam Sutta-sutta lain dari bagian ini, MSS meringkas dan mengatakan "seperti dalam Samaññaphala Sutta". Tetapi dengan "bagian ulangan" berbeda, dan ini tidak selalu jelas seberapa banyak yang DN 2 maksudkan untuk dimasukkan.

18. Upaya-mukhani: secara harafiah "jalan keluar dari kehilangan" ("kebocoran", RD). digunakan dalam makna lain, DN 31.3.

19. Anabhisambhunamano: secara harafiah "bukan terserah padanya".

20. Sebuah galah atau gandar untuk membawa barang-barang miliknya.

21. Yaitu, menggalinya, yang tidak dilakukan oleh kelompok pertama.

22. Api suci, atau mungkin Aggi (agni) sang dewa-api.

23. Para pertapa masa lampau berhubungan dengan syair-syair Veda (cf. DN 13.13). untuk selanjutnya, baca juga DN 27.22ff.

24. Suatu formula yang sering digunakan, dijelaskan oleh RD dalam DN 16.5.19. “Para pengembara … hidup hanya dengan mengenakan satu jubah, yaitu yang dari pinggang hingga kaki. Ketika mereka pergi ke desa ... mereka mengenakan jubah ke dua dan ... membawa yang ke tiga. Di tempat yang sesuai di dekat desa mereka akan mengenakannya juga, dan memasuki – yaitu – secara resmi.

25. Kalimat ini muncul dalam DB 5.29, DN 14.11 dan di tempat lain. Untuk Mata-Dhamma, baca DN 2.102 dan catatan 130. Kalimat pali-nya adalah Yam kiñci samudaya-dhammam tam nirodha-dhammam.

26. Pokkharasati tidak secara jelas berkonsultasi dengan istri, keluarga dan anak-anaknya. Ketika Uruvela-Kassapa ingin bergabung dengan Sangha, Sang Buddha memintanya untuk berkonsultasi dengan para pengikutnya terlebih dahulu (Mv 1.20.18) Tentu saja, suatu perbedaan besar antara menjadi seorang pengikut awam dan bergabung dalam Sangha.