[111] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Suatu ketika Sang Bhagava sedang melakukan perjalanan di sekitar Anga bersama lima ratus bhikkhu, dan ia tiba di Campa. Di Campa Beliau menetap di tepi kolam teratai Gaggara. Pada waktu itu Brahmana Sonadanda sedang menetap di Campa, tempat yang ramai, banyak rumput, kayu, air dan jagung, yang dianugerahkan kepadanya oleh Raja Seniya Bimbisara dari Magadha sebagai anugerah kerajaan lengkap dengan kekuasaan kerajaan.
2. Dan para Brahmana dan perumah tangga di Campa telah mendengar bahwa: "Pertapa Gotama dari suku Sakya, yang telah meninggalkan keluarga Sakya sedang melakukan perjalanan di Anga ... dan sedang menetap di tepi kolam teratai Gaggara. Dan sehubungan dengan Gotama Bhagava Yang Terberkahi telah beredar berita: 'Yang Terberkahi adalah seorang Arahat, Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, telah menempuh Sang Jalan dengan sempurna, Pengenal seluruh alam, Penjinak manusia yang harus dijinakkan yang tiada bandingnya, Guru para dewa dan manusia, seorang Buddha, Bhagava Yang Terberkahi.' Beliau menyatakan kepada dunia ini dengan para dewa, mara, Brahma, para pertapa dan Brahmana bersama dengan para raja dan umat manusia, telah mengetahui dengan pengetahuanNya sendiri. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, dalam makna dan kata, dan Beliau memperlihatkan kehidupan suci yang sempurna, murni sepenuhnya. Dan sesungguhnya adalah baik sekali menemui Arahat demikian." [112] Lalu para Brahmana dan perumah tangga di Campa, berduyun-duyun meninggalkan Campa, berjumlah sangat besar, pergi menuju kolam teratai Gaggara.
3. Kebetulan saat itu, Brahmana Sonadanda baru saja naik ke teras rumahnya untuk istirahat siang. Melihat para Brahmana dan perumah tangga berjalan menuju kolam teratai Gaggara, ia menanyakan alasannya kepada pelayannya.
"Tuan, ada Pertapa Gotama dari suku Sakya ... itulah sebabnya mereka pergi menemui Beliau."
"Baiklah, pelayan, datangilah para Brahmana dan perumah tangga dari Campa itu dan katakan kepada mereka: 'Mohon tunggu, tuan-tuan, Brahmana Sonadanda akan turut menemui Pertapa Gotama.'"
Dan pelayannya itu menyampaikan pesannya kepada [113] para Brahmana dan perumah tangga dari Campa itu.
4. Pada saat itu terdapat lima ratus Brahmana dari berbagai propinsi sedang berada di Campa untuk suatu urusan, dan mereka mendengar bahwa Sonadanda bermaksud untuk mengunjungi Pertapa Gotama. Maka mereka memanggilnya dan bertanya apakah itu benar. "Jadi demikianlah, tuan-tuan, aku akan mengunjungi Pertapa Gotama."
5. "Tuan, jangan mengunjungi pertapa Gotama, tidaklah pantas engkau melakukan hal itu! Jika Yang Mulia Sonadanda pergi mengunjungi Pertapa Gotama, reputasinya akan menurun, dan reputasi Pertapa Gotama akan meningkat. Oleh karena itu, tidaklah pantas Yang Mulia Sonadanda mengunjungi Pertapa Gotama, melainkan Pertapa Gotama yang seharusnya mengunjunginya."1
"Yang Mulia Sonadanda terlahir mulia baik dari pihak ibu maupun dari pihak ayah, keturunan murni hingga tujuh generasi, tidak terputus, kelahiran yang tidak tercela, dan karena itu seharusnya tidak memenuhi panggilan Pertapa Gotama, melainkan Pertapa Gotama yang seharusnya memenuhi panggilannya. Yang Mulia Sonadanda memiliki harta kekayaan yang banyak ... [114] Yang Mulia Sonadanda seorang terpelajar, ahli dalam mantra-mantra, sempurna dalam Tiga Veda, pembabar yang terampil dalam hal aturan-aturan dan ritual-ritual, ahli suara-suara dan makna-makna dan, ke lima, tradisi oral - seorang penceramah, sangat terampil dalam filosofi alam dan tanda-tanda Manusia Luar Biasa. Yang Mulia Sonadanda tampan, menarik, menyenangkan, memiliki kulit yang indah, dalam bentuk dan penampilan menyerupai Brahma, tidak ada bagian yang berpenampilan rendah. Ia seorang yang berbudi, moralitasnya meningkat, memiliki moralitas yang meningkat. Ia berbicara dengan baik, menyenangkan dalam berbicara, sopan, dengan pengucapan yang tepat dan jernih, berbicara langsung pada pokoknya. Ia adalah guru dari para guru dari banyak orang, mengajarkan mantra kepada tiga ratus pemuda. Dan banyak anak muda dari berbagai wilayah berharap mempelajari mantra darinya, ingin mempelajarinya darinya. Ia berumur, tua, terhormat, matang dalam usia, jauh melampaui masa mudanya, sedangkan Pertapa Gotama hanyalah seorang pemuda dan baru saja pergi menjadi seorang pengembara. Yang Mulia Sonadanda terhormat, dianggap penting, dimuliakan, dipuja, disembah oleh Raja Seniya Bimbisara dan oleh Brahmana Pokkharasati. Ia menetap di Campa, tempat yang ramai, banyak rumput, kayu, air dan jagung, yang dianugerahkan kepadanya oleh Raja Seniya Bimbisara dari Magadha sebagai anugerah kerajaan, dan lengkap dengan kekuasaan kerajaan. Oleh karena itu, tidaklah pantas bahwa ia mengunjungi Pertapa Gotama, melainkan sebaliknya Pertapa Gotama yang seharusnya mengunjunginya."
6. mendengar kata-kata ini, Sonadanda menjawab: [115] "Sekarang dengarkan, tuan-tuan, alasan mengapa kita pantas mengunjungi Pertapa Gotama, dan mengapa Beliau tidak pantas mengunjungi kita. Pertapa Gotama terlahir mulia dari kedua pihak, keturunan murni hingga tujuh generasi, tanpa terputus, kelahiran yang tidak tercela ... (seperti paragraf 5). Oleh karena itu kita pantas mengunjungi Beliau. Ia pergi meninggalkan keduniawian, meninggalkan sanak saudaranya. Sesungguhnya ia melepaskan banyak sekali emas dan kekayaan lainnya, baik yang tersimpan maupun yang tidak tersimpan. Pertapa Gotama, sewaktu muda, adalah seorang pemuda berambut hitam, dalam masa mudanya, dalam tahap pertama kehidupannya pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjalani kehidupan tanpa rumah. Meninggalkan orang tuanya yang bersedih, menangis dengan wajah dinodai air mata, setelah mencukur rambut dan janggutnya dan mengenakan jubah kuning, ia menjalani kehidupan tanpa rumah. Ia tampan, ... berbudi, ... berbicara baik, ... guru dari para guru dari banyak orang. Ia telah meninggalkan kenikmatan-indria dan menaklukkan kesombongan. Ia mengajarkan perbuatan dan akibat perbuatan, menghormati kehidupan Brahmana yang tanpa cela. Ia adalah seorang pengembara yang berkelahiran mulia, dari seorang keluarga Khattiya pemimpin. Ia adalah seorang pengembara yang berasal dari keluarga kaya, yang memiliki banyak harta kekayaan. [116] Orang-orang datang untuk berdiskusi dengannya dari kerajaan-kerajaan dan wilayah-wilayah asing. Beribur-ribu Dewa telah menerima perlindungan dari Beliau."
"Berita baik telah beredar tentang Beliau: 'Sang Bhagava Yang Terberkahi adalah seorang Arahat, seorang Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna, Sempurna dalam pengetahuan dan perilaku ...' (seperti paragraf 2). Ia memiliki tiga puluh dua tanda Manusia Luar Biasa. Beliau menyenangkan, kata-katanya baik, ramah, hangat, ucapanya jernih dan spontan. Ia dilayani oleh empat kelompok, dihormati, dihargai dan dipuja oleh mereka. Banyak Dewa dan manusia mengabdi padaNya. Kapan saja ia menetap di suatu kota atau desa, tempat itu tidak akan diganggu oleh makhluk-makhluk bukan manusia. Ia memiliki sekelompok, banyak sekali pengikut, Beliau adalah guru dari banyak orang, Beliau dimintakan pendapatnya oleh berbagai pemimpin sekte. Bukanlah cara Pertapa Gotama mendapatkan reputasinya, seperti halnya beberapa pertapa dan Brahmana, mengenai kepada siapa ini atau itu diberitakan —“ kemashyuran Pertapa Gotama didasarkan pada pencapaian kebijaksanaan dan perilaku yang tanpa tandingan. Sesungguhnya Raja Seniya Bimbisara dari Magadha telah menyatakan berlindung kepadanya bersama puteranya, istrinya, para pengikutnya dan para menterinya. Demikian pula Raja Pasenadi dari Kosala, dan Brahmana Pokkharasati. Ia dihormati, dimuliakan, dihargai dan dipuja oleh mereka." [117]
"Pertapa Gotama telah tiba di Campa dan sedang menetap di tepi kolam teratai Gaggara. Dan pertapa dan Brahmana manapun yang datang ke wilayah kita adalah tamu kita. Dan kita harus menghormati, memuliakan, menghargai dan memuja tamu. Setelah datang ke kolam teratai Gaggara, pertapa Gotama adalah tamu, dan harus diperlakukan sebagai tamu. Oleh karena itu tidaklah pantas jika Beliau mengunjungi kita, melainkan sebaliknya kita yang harus mengunjungi Beliau. Betapapun banyaknya aku memuji Pertapa Gotama, pujian itu tidaklah cukup, Beliau melampaui semua pujian."
7. Mendengar hal ini, para Brahmana berkata kepada Sonadanda: "Tuan, karena engkau begitu memuji Pertapa Gotama, maka bahkan jika Beliau berada seratus yojana jauhnya dari sini, adalah pantas bagi mereka yang berkeyakinan untuk pergi dengan membawa tas bahu untuk mengunjungi Beliau, marilah kita semua pergi mengunjungi Pertapa Gotama." Dan demikianlah Sonadanda pergi bersama sejumlah besar Brahmana menuju kolam teratai Gaggara.
8. Tetapi ketika Sonadanda telah melewati hutan belantara, ia berpikir: "Jika aku mengajukan pertanyaan kepada Pertapa Gotama, ia mungkin berkata: 'Itu, Brahmana, bukanlah pertanyaan yang layak, sama sekali bukan pertanyaan yang layak', dan kemudian teman-temanku akan merendahkan aku, mengatakan: 'Sonadanda adalah seorang yang bodoh, ia tidak mengerti, [118] ia tidak mampu mengajukan pertanyaan yang layak kepada Pertapa Gotama.' Dan jika seseorang direndahkan oleh teman-temannya, reputasinya akan rusak, dan kemudian pendapatannya juga akan rusak, karena pendapatan kami bergantung pada reputasi. Atau jika Pertapa Gotama mengajukan pertanyaan kepadaku, jawabanku mungkin tidak memuaskan Beliau, dan Beliau akan berkata: 'Itu bukan cara yang benar dalam menjawab pertanyaan ini.' Dan kemudian teman-temanku akan merendahkan aku ... Dan jika, setelah sampai di hadapan Pertapa Gotama, aku berbalik tanpa memperlihatkan diriku, teman-temanku akan merendahkan aku ..."
9. Kemudian Sonadanda mendekati Sang Bhagava, saling bertukar sapa dengan Beliau, dan duduk di satu sisi. Beberapa Brahmana dan perumah tangga bersujud kepada Sang Bhagava, beberapa bertukar sapa dengan Beliau, beberapa memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan, beberapa menyebutkan nama dan suku mereka, dan beberapa duduk di satu sisi berdiam diri. [119]
10. Demikianlah Sonadanda duduk dengan banyak pikiran mengganggu benaknya: "Jika aku mengajukan pertanyaan kepada Pertapa Gotama, ia mungkin berkata: 'Itu, Brahmana, bukanlah pertanyaan yang layak, ...' Seandainya saja Pertapa Gotama mengajukan pertanyaan yang kukuasai yaitu Tiga Veda! Maka aku akan dapat memberikan jawaban yang akan memuaskanNya!"
11. Dan Sang Bhagava, membaca pikirannya, berpikir: "Sonadanda ini gelisah. Baiklah aku akan mengajukan pertanyaan dari keahliannya sebagai guru dari Tiga Veda!" Maka Beliau berkata kepada Sonadanda: "Dengan berapa kualitaskah seorang Brahmana mengenali Brahmana lainnya? Bagaimanakah seseorang menyatakan dengan jujur dan tidak berbohong: 'Aku adalah Brahmana'?"
12. Kemudian Sonadanda berpikir: [120] "Sekarang apa yang kuinginkan, kuharapkan, kunanti-nantikan telah terjadi ... Sekarang aku dapat memberikan jawaban yang akan memuaskan Beliau."
13. Menegakkan badannya, dan melihat ke sekeliling, ia berkata: "Yang Mulia Gotama, ada lima kualitas ... Apakah itu? Seorang Brahmana terlahir mulia baik dari pihak ibu maupun dari pihak ayah, keturunan murni hingga tujuh generasi, ... ia adalah seorang terpelajar yang ahli dalam mantra-mantra, ... ia tampan, menyenangkan, ... berbudi, ...terpelajar dan bijaksana, dan adalah yang pertama atau ke dua memegang sendok pengorbanan. Ini adalah lima kualitas Brahmana sejati."
14. "Tetapi jika satu dari lima ini diabaikan, tidak dapatkan ia diakui sebagai seorang Brahmana sejati, dengan memiliki empat dari kualitas-kualitas ini?"
"Mungkin saja, Gotama. Kita boleh mengabaikan penampilan, karena apakah itu penting? Jika seorang Brahmana memiliki empat kualitas lainnya [121] ia dapat diakui sebagai seorang Brahmana sejati."
15. "Tetapi tidak dapatkan satu dari empat kualitas ini diabaikan, menyisakan tiga dimana seseorang dapat diakui sebagai seorang Brahmana sejati?"
"Mungkin saja, Gotama. Kita boleh mengabaikan mantra-mantra, karena apakah itu penting? Jika seorang Brahmana memiliki tiga kualitas lainnya ia dapat diakui sebagai seorang Brahmana sejati."
16. "Tetapi tidak dapatkan satu dari tiga kualitas ini diabaikan ...?"
"Mungkin saja, Gotama. Kita boleh mengabaikan kelahiran, karena apakah itu penting? Jika seorang Brahmana berbudi, moralitasnya meningkat, ... dan jika ia terpelajar dan bijaksana, dan ia adalah yang pertama atau ke dua memegang sendok pengorbanan —“ maka ia dapat diakui sebagai seorang Brahmana sejati dan dengan jujur mengatakan demikian." [122]
17. Mendengar kata-kata ini para Brahmana berkata kepada Sonadanda: "Jangan katakan hal itu, Sonadanda jangan katakan hal itu! Jika Sonadanda mencela penampilan, mantra-mantra dan kelahiran, ia sebenarnya meniru ucapan Pertapa Gotama!"
18. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada para Brahmana: "Jika kalian berpikir bahwa Brahmana Sonadanda tidak berkonsentrasi dalam tugasnya, menggunakan kata-kata yang salah, kurang bijaksana, dan tidak pantas berdiskusi dengan Pertapa Gotama, maka biarlah ia berhenti, dan kalian berdiskusi denganKu. Tetapi jika berpikir bahwa ia terpelajar, berbicara dengan benar, bijaksana dan layak berdiskusi dengan Pertapa Gotama, maka kalian berhenti dan biarkan ia bicara."
19. Kemudian Sonadanda berkata kepada Sang Bhagava: "Biarlah, Yang Mulia Gotama, dan tenanglah. Aku akan menjawab persoalan ini." Kepada para Brahmana ia berkata: "Jangan menganggap bahwa Yang Mulia Sonadanda mencela penampilan ... dan meniru ucapan Pertapa Gotama! [123] Aku tidak mencela penampilan, mantra-mantra, atau kelahiran."
20. Pada saat itu keponakan Sonadanda, seorang pemuda bernama Angaka, sedang duduk dalam kumpulan itu, dan Sonadanda berkata: "Tuan-tuan, apakah kalian melihat keponakanku Angaka?" "Ya Tuan."
"Angaka tampan, menarik, menyenangkan, memiliki kulit yang sangat indah, memiliki bentuk dan penampilan menyerupai Brahma, tidak ada bagian yang berpenampilan rendah, dan tidak ada seorangpun dalam kumpulan ini yang dapat menyamainya kecuali Pertapa Gotama. Ia terpelajar ... aku adalah guru-mantra-nya. Ia terlahir mulia dari kedua pihak ... Aku mengenal orangtuanya. Namun jika Angaka melakukan pembunuhan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan hubungan seksual yang salah, mengucapkan kebohongan dan meminum minuman keras —“ apa gunanya penampilan menarik, atau mantra-mantra, atau kelahiran mulia baginya? Tetapi jika karena seorang Brahmana berbudi, ... karena ia bijaksana ... ; sehubungan dengan dua hal ini ia dapat dengan jujur menyatakan 'Aku adalah seorang Brahmana.' "
21. "Tetapi, Brahmana, jika seseorang mengabaikan salah satu dari dua itu, dapatkan ia dengan jujur menyatakan: 'Aku adalah seorang Brahmana'?" [124] "Tidak, Gotama. Karena kebijaksanaan dimurnikan oleh moralitas, dan moralitas dimurnikan oleh kebijaksanaan; jika yang satu ada, maka yang lain juga ada, orang yang bermoral adalah orang yang bijaksana dan orang yang bijaksana adalah orang yang bermoral, dan kombinasi moralitas dan kebijaksanaan disebut yang tertinggi di dunia ini. Bagaikan satu tangan mencuci tangan lainnya, atau satu kaki mencuci kaki lainnya, demikian pula kebijaksanaan memurnikan moralitas dan kombinasi ini disebut yang tertinggi di dunia."
22. "Jadi demikian, Brahmana. Kebijaksanaan dimurnikan oleh moralitas, dan moralitas dimurnikan oleh kebijaksanaan. Jika yang satu ada, maka yang lain juga ada, orang yang bermoral adalah orang yang bijaksana dan orang yang bijaksana adalah orang yang bermoral, dan kombinasi moralitas dan kebijaksanaan disebut yang tertinggi di dunia ini. Tetapi Brahmana, apakah moralitas ini dan apakah kebijaksanaan ini?"
"Kami hanya mengetahui sampai sejauh itu, Gotama. Baik sekali jika Yang Mulia Gotama menjelaskan makna dari hal ini."
23. "Maka dengarkanlah, Brahmana, perhatikanlah dengan seksama, dan Aku akan memberitahukan kepadamu." "Baik, Yang Mulia", Sonadanda menjawab, dan Sang Bhagava berkata:
"Brahmana, seorang Tathagata muncul di dunia ini, seorang Arahat, Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, telah menempuh Sang Jalan dengan sempurna, Pengenal seluruh alam, Penjinak manusia yang harus dijinakkan yang tiada bandingnya, Guru para dewa dan manusia, Tercerahkan, Terberkahi. Beliau, setelah mencapainya dengan pengetahuanNya sendiri, menyatakan kepada dunia ini dengan para dewa, mara, Brahma, para Raja dan umat manusia. Beliau membabarkan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, dalam makna dan kata, dan memperlihatkan kehidupan suci yang sempurna, murni sepenuhnya. Seorang siswa pergi meninggalkan keduniawian dan mempraktikkan moralitas (Sutta 2, paragraf 41-63); ia menjaga pintu-pintu indrianya, dan seterusnya (Sutta 2, paragraf 64-74). Itu, Brahmana, adalah moralitas.2 Ia mencapai empat jhana (Sutta 2, paragraf 75-82); ia mencapai berbagai pandangan terang (Sutta 2, paragraf 83-95), dan lenyapnya kekotoran (Sutta 2, paragraf 97). Demikianlah ia mengembangkan kebijaksanaan. Itu, Brahmana, adalah kebijaksanaan."
24. mendengar kata-kata ini, Sonadanda berkata: "Sungguh indah, Bhagava, sungguh menakjubkan! Bagaikan seseorang yang menegakkan apa yang terjatuh, atau menunjukkan jalan bagi ia yang tersesat, atau menyalakan pelita di dalam gelap, sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat apa yang ada di sana. Demikian pula Bhagava Yang Terberkahi telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara. Dan aku berlindung kepada Bhagava Yang Terberkahi Gotama, kepada Dhamma dan kepada Sangha. Semoga Yang Mulia Gotama menerimaku sebagai siswa awam yang telah menerima perlindungan sejak hari ini hingga akhir hidupku! Dan sudilah Yang Mulia Gotama dan para bhikkhu menerima makanan dariku besok!"
Sang Bhagava menerimanya dengan berdiam diri. Kemudian Sonadanda, mengetahui penerimaan itu, bangkit, memberi hormat kepada Sang Bhagava, berjalan dengan Sang Bhagava di sisi kanannya dan pergi. Pagi harinya, ia menyiapkan makanan keras dan lunak di rumahnya, dan ketika persiapan selesai ia mengumumkan: "Yang Mulia Gotama, waktunya telah tiba; makanan telah siap."
25. Dan Sang Bhagava, setelah bangun pagi, pergi dengan membawa jubah dan mangkuknya dan disertai oleh para bhikkhu menuju kediaman Sonadanda dan duduk di tempat yang telah disediakan. Dan Sonadanda melayani Sang Buddha dan para bhikkhu dengan makanan-makanan terbaik dengan tangannya sendiri sampai mereka puas. Dan ketika Sang Bhagava selesai makan dan menarik tangannya dari mangkuk, Sonadanda mengambil bangku kecil dan duduk di satu sisi. Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagava:
26. "Yang Mulia Gotama, jika ketika aku mendatangi pertemuan itu aku bangkit dan memberi hormat kepada Sang Bhagava, teman-teman akan mencelaku. Dan dengan demikian, reputasiku akan rusak, dan jika reputasi seseorang rusak, maka pendapatannya juga akan rusak ... maka jika, pada pertemuan itu, aku merangkapkan tanganku untuk menyapa, sudilah Yang Mulia Gotama menganggap aku telah bangkit dari dudukku. Dan jika [126] saat memasuki pertemuan aku melepaskan turbanku, sudilah Engkau menganggap aku telah bersujud di kakiMu. Atau jika, ketika mengendarai keretaku, aku turun dan memberi hormat kepada Sang Bhagava, teman-temanku akan mencelaku ... maka jika, ketika aku mengendarai keretaku, aku mengangkat tongkat kendali, sudilah Engkau menganggap aku telah turun dari keretaku, dan jika aku menurunkan tanganku, sudilah Engkau menganggap aku bersujud di kakiMu."3
27. Kemudian Sang Bhagava, setelah memberikan nasehat kepada Sonadanda dalam suatu ceramah Dhamma, menginspirasinya, memicunya semangatnya dan menggembirakannya, bangkit dari dudukNya dan pergi.
Catatan
1. Cf. MN 95.6.
2. Jhana di sini dimasukkan, bukan dalam moralitas (sila) tetapi dalam kebijaksanaan (pañña) (RD). Namun tempatnya yang tepat adalah dalam konsentrasi (samadhi), yang tidak disebutkan secara spesifik.
3. Seperti yang dikatakan oleh RD, Sonadanda "hanya memahami hingga batas tertentu". Karenanya, dalam kasusnya tidak disebutkan munculnya "Matta-Dhamma yang murni dan tanpa noda" seperti dalam kasus Pokkharasati (DN 3.2.21) dan yang lainnya. Sonadanda tetap sebagai seorang puthujjana. Puthujjana: seorang "biasa" yang, belum menghancurkan tiga belenggu pertama (pandangan tentang diri, keragu-raguan, kemelekatan pada upacara dan ritual), belum "memasuki arus" dan belum mulai menapaki jalan yang lebih tinggi (lokuttara).