easter-japanese

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Taman Timur, di Istana Ibunya Migāra.

2. Kemudian Sakka, penguasa para dewa, mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah memberi hormat kepada Beliau, ia berdiri di satu sisi dan bertanya: “Yang Mulia, bagaimanakah secara ringkas seorang bhikkhu terbebaskan dalam hancurnya ketagihan, seorang yang telah mencapai akhir tertinggi, keamanan tertinggi dari belenggu, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi, seorang yang terkemuka di antara para dewa dan manusia?”1

3. “Di sini, penguasa para dewa, seorang bhikkhu telah mendengar bahwa tidak ada yang layak dilekati. Ketika seorang bhikkhu telah mendengar bahwa tidak ada yang layak dilekati, ia secara langsung sepenuhnya mengetahui segala sesuatu; setelah sepenuhnya mengetahui segala sesuatu, ia sepenuhnya memahami segala sesuatu; setelah sepenuhnya memahami segala sesuatu, apapun perasaan yang ia rasakan, apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, ia berdiam dengan merenungkan ketidak-kekalan dalam perasaan-perasaan itu, merenungkan peluruhannya, merenungkan lenyapnya, merenungkan pelepasannya. Dengan merenungkan demikian, ia tidak melekat pada apapun di dunia. Ketika ia tidak melekat, ia tidak terganggu. Ketika ia tidak terganggu, ia secara pribadi mencapai Nibbāna.2 [252] Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’ Secara ringkas, dengan cara inilah, penguasa para dewa, bahwa seorang bhikkhu terbebaskan dalam hancurnya ketagihan, seorang yang telah mencapai akhir tertinggi, keamanan tertinggi dari belenggu, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi, seorang yang terkemuka di antara para dewa dan manusia.”

4. Kemudian Sakka, penguasa para dewa, merasa senang dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Sang Bhagavā, dan dengan Beliau di sisi kanannya, ia lenyap seketika.

5. Pada saat itu Yang Mulia Mahā Moggallāna sedang duduk tidak jauh dari Sang Bhagavā. Kemudian ia mempertimbangkan: “Apakah makhluk itu menembus makna dari kata-kata Sang Bhagavā ketika ia bergembira, ataukah tidak? Bagaimana jika aku mencari tahu apakah ia memahami atau tidak.”

6. Kemudian, secepat seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, Yang Mulia Mahā Moggallāna lenyap dari Istana ibunya Migāra di Taman Timur dan muncul di antara para dewa Tiga Puluh Tiga.

7. Pada saat itu Sakka, penguasa para dewa, memiliki seratus kumpulan yang terdiri dari lima jenis musik surgawi, dan ia sedang menikmatinya di Taman Rekreasi Sertoja Tunggal. Ketika dari jauh ia melihat kedatangan Yang Mulia Mahā Moggallāna, ia membubarkan musiknya, mendatangi Yang Mulia Mahā Moggallāna, dan berkata kepadanya: “Marilah, Tuan Moggallāna! Selamat datang, Tuan Moggallāna! Sudah lama sejak engkau berkesempatan untuk datang ke sini. Silahkan duduk, Tuan Moggallāna; tempat duduk telah disiapkan.”

Yang Mulia Mahā Moggallāna duduk di tempat yang telah disediakan, dan Sakka mengambil tempat duduk yang rendah dan duduk di satu sisi. Yang Mulia Mahā Moggallāna kemudian bertanya kepadanya:

8. “Kosiya,3 bagaimanakah Sang Bhagavā menjelaskan kepadamu secara ringkas mengenai kebebasan dalam hancurnya ketagihan? Baik sekali jika kami juga mendengarkan pernyataan itu.”

“Tuan Moggallāna yang baik, kami sangat sibuk, kami harus melakukan banyak urusan, tidak hanya dengan urusan kami, tetapi juga dengan urusan para dewa Tiga Puluh Tiga. Selain itu, Tuan Moggallāna, apa yang telah didengar, diketahui, [253] diperhatikan, diingat, telah lenyap seketika. Tuan Moggallāna, pernah terjadi perang antara para dewa dan para raksasa.4 Dalam peperangan itu para dewa menang dan para raksasa kalah. Ketika aku telah memenangkan perang itu dan kembali dari sana sebagai penakluk, aku membangun Istana Vejayanta. Tuan Moggallāna yang baik, Istana Vejayanta memiliki seratus menara, dan tiap-tiap menara memiliki tujuh ratus kamar, dan masing-masing kamar dihuni oleh tujuh bidadari, dan tiap-tiap bidadari memiliki tujuh pelayan. Sudikah engkau melihat Istana Vejayanta yang indah ini, Tuan Moggallāna yang baik?” Yang Mulia Mahā Moggallāna menyetujui dengan berdiam diri.

9. Kemudian Sakka, penguasa para dewa, dan Raja Dewa Vessavaṇa5 berjalan menuju Istana Vejayanta, mempersilahkan Yang Mulia Mahā Moggallāna berjalan di depan. Ketika dari jauh para palayan Sakka melihat kedatangan Yang Mulia Mahā Moggallāna, mereka menjadi malu dan masuk ke kamarnya masing-masing. Seperti halnya seorang menantu perempuan yang malu ketika melihat ayah mertuanya, demikian pula, para pelayan Sakka ketika melihat kedatangan Yang Mulia Mahā Moggallāna, mereka menjadi malu dan masuk ke kamarnya masing-masing.

10. Kemudian Sakka, penguasa para dewa, dan Raja Dewa Vessavaṇa mempersilahkan Yang Mulia Mahā Moggallāna berjalan dan menjelajahi Istana Vejayanta: “Lihatlah, Tuan Moggallāna yang baik, Istana Vejayanta yang indah ini! Lihatlah, Tuan Moggallāna yang baik, Istana Vejayanta yang indah ini!”

“Itu adalah pujian kepada Yang Mulia Kosiya sebagai seseorang yang sebelumnya telah melakukan jasa; dan ketika manusia melihat apapun yang indah, mereka mengatakan: ‘Tuan-tuan, itu adalah pujian kepada para dewa Tiga Puluh Tiga!’ Itu adalah pujian kepada Yang Mulia Kosiya sebagai seseorang yang sebelumnya telah melakukan jasa.”

11. Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna mempertimbangkan sebagai berikut: “Makhluk-makhluk ini hidup dengan sangat lalai. Bagaimana jika aku membangkitkan dorongan spiritual yang mengesankan dalam dirinya?” Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna melakukan keajaiban dengan kekuatan batinnya sehingga dengan ujung jari kakinya ia membuat Istana Vejayanta bergoyang, berguncang dan bergetar.6 [254] Sakka dan Raja Dewa Vessavaṇa dan para dewa Tiga Puluh Tiga merasa kagum dan takjub, dan mereka berkata: “Tuan-tuan, sangat mengagumkan, sangat menakjubkan, sungguh petapa itu memiliki kekuatan dan kesaktian, sehingga dengan ujung jari kakinya ia membuat Istana alam surga ini, berguncang dan bergetar!”

12. Ketika Yang Mulia Mahā Moggallāna mengetahui bahwa Sakka, penguasa para dewa, telah tergerak oleh dorongan spiritual yang mengesankan, ia bertanya kepadanya: “Kosiya, bagaimanakah Sang Bhagavā menjelaskan kepadamu secara ringkas mengenai kebebasan dalam hancurnya ketagihan? Baik sekali jika kami juga mendengarkan pernyataan itu.”

“Tuan Moggallāna yang baik, aku mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah memberi hormat kepada Beliau, aku berdiri di satu sisi dan berkata: ‘Yang Mulia, … [seperti pada §2] … para dewa dan manusia?’ Ketika hal ini dikatakan, Tuan Moggallāna yang baik, Sang Bhagavā memberitahuku: ‘Di sini, penguasa para dewa … [seperti pada §3] … para dewa dan manusia.’ Demikianlah bagaimana Sang Bhagavā menjelaskan kepadaku secara ringkas mengenai kebebasan dalam hancurnya keinginan, Tuan Moggallāna.”

13. Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna merasa senang dan gembira mendengar kata-kata Sakka, penguasa para dewa. [255] Kemudian, secepat seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, ia lenyap dari antara para dewa Tiga Puluh Tiga dan muncul di Taman Timur di Istana Ibunya Migāra.

14. Kemudian, segera setelah Yang Mulia Mahā Moggallāna pergi, para pelayan Sakka, penguasa para dewa, bertanya kepadanya: “Tuan, apakah itu gurumu, Sang Bhagavā?” – “Bukan, Teman-teman, itu bukan guruku, Sang Bhagavā. Dia adalah temanku dalam kehidupan suci, Yang Mulia Mahā Moggallāna.”7 – “Tuan, suatu keuntungan bagimu bahwa temanmu dalam kehidupan suci memiliki kekuatan dan kesaktian seperti tu. Oh, betapa lebih saktinya Sang Bhagavā, gurumu!”

15. Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan bertanya kepada Beliau: “Yang Mulia, apakah Bhagavā ingat pernah menjelaskan secara ringkas – kepada makhluk dewa terkenal yang memiliki banyak pengikut – mengenai kebebasan dalam hancurnya ketagihan?”

“Aku ingat, Moggallāna, di sini Sakka, penguasa para dewa mendatangiKu, dan setelah memberi hormat kepadaKu, ia berdiri di satu sisi dan bertanya: ‘Yang Mulia, bagaimanakah secara ringkas seorang bhikkhu terbebaskan dalam hancurnya ketagihan, seorang yang telah mencapai akhir tertinggi, keamanan tertinggi dari belenggu, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi, seorang yang terkemuka di antara para dewa dan manusia?’ Ketika hal ini dikatakan, Aku memberitahunya: ‘Di sini, penguasa para dewa, seorang bhikkhu telah mendengar bahwa tidak ada yang layak dilekati. Ketika seorang bhikkhu telah mendengar bahwa tidak ada yang layak dilekati, ia secara langsung sepenuhnya mengetahui segala sesuatu; setelah sepenuhnya mengetahui segala sesuatu, ia sepenuhnya memahami segala sesuatu; setelah sepenuhnya memahami segala sesuatu, apapun perasaan yang ia rasakan, apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, ia berdiam dengan merenungkan ketidak-kekalan dalam perasaan-perasaan itu, merenungkan peluruhannya, merenungkan lenyapnya, merenungkan pelepasannya. Dengan merenungkan demikian, ia tidak melekat pada apapun di dunia. Ketika ia tidak melekat, ia tidak terganggu. Ketika ia tidak terganggu, ia secara pribadi mencapai Nibbāna. Ia memahami: “Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, [256] apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.” Secara ringkas, dengan cara inilah, penguasa para dewa, bahwa seorang bhikkhu terbebaskan dengan hancurnya ketagihan, seorang yang telah mencapai akhir tertinggi, keamanan tertinggi dari belenggu, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi, seorang yang terkemuka di antara para dewa dan manusia.’ Demikianlah Aku ingat pernah menjelaskan secara ringkas kepada Sakka, penguasa para dewa, mengenai kebebasan dalam hancurnya ketagihan.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Mahā Moggallāna merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


Catatan Kaki
  1. MA memperluas: “Secara singkat, sejauh apa Beliau mengatakan sebagai kebebasan dalam hancurnya ketagihan, yaitu, dalam Nibbāna, hancurnya ketagihan melalui keterbebasan pikiran [yang muncul] dengan menggunakannya [Nibbāna] sebagai objek. Ajarkanlah aku secara singkat praktik awal dari para bhikkhu Arahant yang dengannya ia terbebaskan dalam hancurnya ketagihan.” ↩︎

  2. MA menjelaskan paragraf ini sebagai berikut: “Segala sesuatu” (sabbe dhammā) adalah lima kelompok unsur kehidupan, dua belas landasan, delapan belas unsur. Ini adalah “tidak layak dilekati” melalui ketagihan dan pandangan karena pada kenyataannya terbukti berbeda dari caranya digenggam: digenggam sebagai kekal, menyenangkan, dan diri, namun ternyata tidak kekal, penderitaan, dan bukan diri. Ia “secara langsung mengetahuinya” sebagai tidak kekal, penderitaan, dan bukan diri, dan “memahaminya sepenuhnya” dengan menyelidiknya dengan cara yang sama. “Merenungkan ketidak-kekalan,” dan seterusnya, dicapai dengan pengetahuan pandangan terang timbul dan tenggelam dan hancurnya dan lenyapnya. “Ia tidak melekat” pada bentukan apapun melalui keinginan dan pandangan, tidak menjadi terganggu karena ketagihan, dan secara pribadi mencapai Nibbāna melalui padamnya semua kekotoran. ↩︎

  3. Nama kecil Sakka, berarti “burung hantu.” ↩︎

  4. Para dewa dan para raksasa (asura) digambarkan dalam Kanon Pali sebagai terus-menerus dalam kondisi saling berperang. Baca khususnya Sakkasaṁyutta (SN i.216-28). ↩︎

  5. Satu dari Empat Raja Dewa, penguasa para yakkha, kerajaannya berada di sebelah utara. ↩︎

  6. MA: Ia melakukan hal ini dengan cara masuk ke dalam meditasi pada kasiṇa-air dan kemudian berkehendak: “Semoga fondasi istana ini menjadi seperti air.” ↩︎

  7. Sakka dapat merujuk YM. Mahā Moggallāna sebagai seorang “teman dalam kehidupan suci” karena ia sendiri telah mencapai tingkat memasuki-arus (DN 21.2.10/ii.289) dan dengan demikian menjadi seorang siswa mulia yang pasti mencapai kebebasan yang sama dengan yang telah dicapai oleh Mahā Moggallāna. ↩︎