easter-japanese

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Kemudian, pada pagi harinya, Yang Mulia Sāriputta merapikan jubah, membawa mangkuk dan jubahnya, dan memasuki Sāvatthī untuk menerima dana makanan. Ia berpikir: “Masih terlalu pagi untuk berjalan menerima dana makanan. Biarlah aku mampir ke taman para pengembara sekte lain.”1

Kemudian Yang Mulia Sāriputta mendatangi taman para pengembara sekte lain. Ia saling bertukar sapa dengan para pengembara itu, ketika mereka telah mengakhiri ramah-tamah itu, ia duduk di satu sisi. Pada saat itu para pengembara itu telah berkumpul dan sedang duduk bersama ketika pembicaraan ini terjadi di antara mereka: “Teman-teman, siapa pun yang meninggal dunia dengan sisa yang masih tertinggal adalah tidak terbebas dari neraka, alam binatang, atau alam hantu menderita; ia tidak terbebas dari alam sengsara, alam tujuan kelahiran yang buruk, alam rendah.”

Kemudian Yang Mulia Sāriputta dengan tidak menyetujui juga tidak menolak pernyataan dari para pengembara itu, melainkan bangkit dari duduknya dan pergi, [dengan berpikir]: “Aku akan mengetahui apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā sehubungan dengan pernyataan ini.”

Kemudian, ketika Yang Mulia Sāriputta telah berjalan menerima dana makanan di Sāvatthī, [379] setelah makan, ketika kembali dari perjalanan menerima dana makanan itu, ia mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. [Di sini ia mengulangi kata demi kata keseluruhan kejadiannya dan mengakhiri dengan:] “Aku bangkit dari dudukku dan pergi, [dengan berpikir]: ‘Aku akan mengetahui apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā sehubungan dengan pernyataan ini.’”

“Siapakah,2 Sāriputta, para pengembara sekte lain yang dungu dan tidak kompeten itu dan siapakah mereka yang mengetahui seorang dengan sisa yang tertinggal sebagai ‘seorang dengan sisa yang tertinggal’ dan seorang tanpa sisa yang tertinggal sebagai ‘seorang tanpa sisa yang tertinggal’?3

“Sembilan orang ini, Sāriputta, yang meninggal dunia dengan sisa yang tertinggal, tetapi terbebas dari neraka, alam binatang, atau alam hantu menderita; terbebas dari alam sengsara, alam tujuan kelahiran yang buruk, alam rendah. Apakah sembilan ini? [380]

(1) “Di sini, Sāriputta, seseorang memenuhi perilaku bermoral dan konsentrasi tetapi melatih kebijaksanaan hanya dalam tingkat sekedarnya.4 Dengan hancurnya kelima belenggu yang lebih rendah, orang ini adalah seorang yang mencapai nibbāna pada masa antara. Ini adalah orang pertama, yang meninggal dunia dengan sisa yang masih tertinggal, tetapi terbebas dari neraka, alam binatang, atau alam hantu menderita; terbebas dari alam sengsara, alam tujuan kelahiran yang buruk, alam rendah.

(2) – (5) “Kemudian, seseorang memenuhi perilaku bermoral dan konsentrasi tetapi melatih kebijaksanaan hanya dalam tingkat sekedarnya. Dengan hancurnya kelima belenggu yang lebih rendah, orang ini adalah seorang yang mencapai nibbāna pada saat mendarat … seorang yang mencapai nibbāna tanpa berusaha … seorang yang mencapai nibbāna dengan berusaha … seorang yang mengarah ke atas, menuju alam Akaniṭṭha. Ini adalah orang ke lima, yang meninggal dunia dengan sisa yang masih tertinggal, tetapi terbebas dari neraka … alam rendah.

(6) “Kemudian, seseorang memenuhi perilaku bermoral tetapi melatih konsentrasi dan kebijaksanaan hanya dalam tingkat sekedarnya. Dengan hancurnya ketiga belenggu yang lebih rendah dan dengan melemahnya keserakahan, kebencian, dan delusi, orang ini adalah seorang yang-kembali-sekali yang, setelah kembali ke alam ini satu kali lagi, ia akan mengakhiri penderitaan. Ini adalah orang ke enam, yang meninggal dunia dengan sisa yang masih tertinggal, tetapi terbebas dari neraka … alam rendah.

(7) “Kemudian, seseorang memenuhi perilaku bermoral tetapi melatih konsentrasi dan kebijaksanaan hanya dalam tingkat sekedarnya. Dengan hancurnya ketiga belenggu yang lebih rendah, orang ini adalah seorang yang mencapai satu-benih yang, setelah terlahir kembali sekali lagi sebagai manusia, ia [381] akan mengakhiri penderitaan. Ini adalah orang ke tujuh, yang meninggal dunia dengan sisa yang masih tertinggal, tetapi terbebas dari neraka … alam rendah.

(8) “Kemudian, seseorang memenuhi perilaku bermoral tetapi melatih konsentrasi dan kebijaksanaan hanya dalam tingkat sekedarnya. Dengan hancurnya ketiga belenggu yang lebih rendah, orang ini adalah seorang yang mencapai dari keluarga-ke-keluarga yang, setelah mengembara di antara keluarga-keluarga baik dua atau tiga kali, ia akan mengakhiri penderitaan. Ini adalah orang ke delapan, yang meninggal dunia dengan sisa yang masih tertinggal, tetapi terbebas dari neraka … alam rendah.

(9) “Kemudian, seseorang memenuhi perilaku bermoral tetapi melatih konsentrasi dan kebijaksanaan hanya dalam tingkat sekedarnya. Dengan hancurnya ketiga belenggu yang lebih rendah, orang ini adalah seorang yang mencapai maksimum tujuh kali yang, setelah mengembara di antara para deva dan manusia paling banyak tujuh kali, ia akan mengakhiri penderitaan. Ini adalah orang ke sembilan, yang meninggal dunia dengan sisa yang masih tertinggal, tetapi terbebas dari neraka, alam binatang, atau alam hantu menderita; terbebas dari alam sengsara, alam tujuan kelahiran yang buruk, alam rendah.

“Siapakah, Sāriputta, para pengembara sekte lain yang dungu dan tidak kompeten itu dan siapakah mereka yang mengetahui seorang dengan sisa yang tertinggal sebagai ‘seorang dengan sisa yang tertinggal’ dan seorang tanpa sisa yang tertinggal sebagai ‘seorang tanpa sisa yang tertinggal’?

“Sembilan orang ini, Sāriputta, yang meninggal dunia dengan sisa yang tertinggal, terbebas dari neraka, alam binatang, atau alam hantu menderita; terbebas dari alam sengsara, alam tujuan kelahiran yang buruk, alam rendah. Sāriputta, Aku belum condong untuk memberikan pembabaran Dhamma ini kepada para bhikkhu, bhikkhunī, umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan. Karena alasan apakah? Karena setelah mendengar pembabaran Dhamma ini, mereka mungkin akan menjadi lengah. [382]` Akan tetapi, Aku menyampaikan pembabaran Dhamma ini dengan tujuan untuk menjawab pertanyaanmu.”5


Catatan Kaki
  1. Seperti pada 7:42↩︎

  2. Bersama Ce dan Be saya membaca (dua kali) ke ca, bukan seperti Ee keci. ↩︎

  3. Perbedaan antara sā-upādisesaṃ dan anupādisesaṃ. Mp mengemas kata-kata ini berturut-turut sebagai “sa-upādānasesaṃ, “dengan sisa yang tertinggal,” dan upādānasesarahitaṃ, “hampa dari sisa kemelekatan.” Baca 7:56, yang juga membicarakan tentang mereka dengan sisa tertinggal dan mereka yang tanpa sisa yang tertinggal. ↩︎

  4. Di mana pun Ce dan Be membaca mattasokārī, “berlatih hingga tingkat sekedarnya,” Ee menuliskan na paripūrakārī, “tidak memenuhi.” ↩︎

  5. Dhammapariyāyo pañhādhippāyena bhāsito. Mp: “Beliau menunjukkan: ‘Ini dibabarkan karena pertanyaan yang engkau ajukan.’ Tetapi untuk melenyapkan keinginan dan nafsu terhadap penjelmaan lebih jauh lagi di antara Sembilan jenis individu ini, Beliau membabarkan sutta: ‘Para bhikkhu, seperti halnya sedikit kotoran tinja adalah berbau busuk, demikian pula Aku tidak memuji sedikit penjelmaan, bahkan hanya selama sejentikan jari’ (1:328). Bukan hanya alam tujuan kesembilan orang ini adalah pasti (gati nibaddhā), tetapi juga alam tujuan bagi keluarga-keluarga yang memiliki jasa pasti misalnya [mengambil] tiga perlindungan dan lima aturan, [memberi] satu kupon makanan, satu makanan dwi-mingguan, satu tempat kediaman masa keberdiaman musim hujan, satu kolam, satu tempat tinggal. Keluarga-keluarga itu serupa dengan para pemasuk-arus.” ↩︎