easter-japanese

“Para bhikkhu, ketika benteng perbatasan seorang raja dengan baik dilengkapi dengan tujuh perlengkapan sebuah benteng, dan dengan mudah mendapatkan, tanpa kesulitan atau kesusahan, empat jenis makanan, maka benteng itu disebut benteng perbatasan seorang raja yang tidak dapat diserang oleh lawan dan musuh eksternal.

“Apakah ketujuh jenis perlengkapan sebuah benteng yang dengan baik melengkapi sebuah benteng itu?

(1) “Di sini, para bhikkhu, dalam benteng perbatasan raja itu, tiang-tiangnya memiliki landasan yang tertanam dalam dan kokoh, tidak bergerak, tidak goyah. Benteng perbatasan seorang raja dengan baik dilengkapi dengan perlengkapan pertama ini untuk melindungi para penghuninya dan untuk menghalau pihak luar.

(2) “Kemudian, dalam benteng perbatasan seorang raja paritnya digali dalam dan lebar. Benteng perbatasan seorang raja dengan baik dilengkapi dengan perlengkapan ke dua ini untuk melindungi para penghuninya dan untuk menghalau pihak luar. [107]

(3) “Kemudian, dalam benteng perbatasan seorang raja jalan setapak untuk berpatrolinya tinggi dan lebar. Benteng perbatasan seorang raja dengan baik dilengkapi dengan perlengkapan ke tiga ini untuk melindungi para penghuninya dan untuk menghalau pihak luar.

(4) “Kemudian, dalam benteng perbatasan seorang raja banyak senjata tersimpan, baik peluru maupun senjata tangan.1 Benteng perbatasan seorang raja dengan baik dilengkapi dengan perlengkapan ke empat ini untuk melindungi para penghuninya dan untuk menghalau pihak luar.

(5) “Kemudian, dalam benteng perbatasan seorang raja banyak tentara berdiam, yaitu, prajurit gajah, prajurit kuda, pasukan kereta, pemanah, pembawa panji, petugas barak, pelayan makanan, para prajurit kasta-ugga, prajurit penyerang garis depan, prajurit sapi-besar, prajurit penyerang, prajurit pembawa-perisai, prajurit budak-rumah-tangga.2 Benteng perbatasan seorang raja dengan baik dilengkapi dengan perlengkapan ke lima ini untuk melindungi para penghuninya dan untuk menghalau pihak luar.

(6) “Kemudian, dalam benteng perbatasan seorang raja penjaga gerbangnya bijaksana, kompeten, dan cerdas, seorang yang menghalau orang asing dan menerima orang-orang yang dikenal. Benteng perbatasan seorang raja dengan baik dilengkapi dengan perlengkapan ke enam ini untuk melindungi para penghuninya dan untuk menghalau pihak luar.

(7) “Kemudian, dalam benteng perbatasan seorang raja tanggulnya tinggi dan lebar, dilapisi oleh lapisan plester. Benteng perbatasan seorang raja dengan baik dilengkapi dengan perlengkapan ke tujuh ini untuk melindungi para penghuninya dan untuk menghalau pihak luar. [108]

“Benteng itu dengan baik dilengkapi dengan ketujuh jenis perlengkapan ini. Dan apakah empat jenis makanan yang didapatkan dengan mudah, tanpa kesulitan atau kesusahan?

(1) “Di sini, para bhikkhu, dalam benteng perbatasan seorang raja banyak rumput, kayu api, dan air tersimpan untuk kesenangan, kenyamanan,3 dan kemudahan para penghuninya dan untuk menghalau pihak luar.

(2) “Kemudian, dalam benteng perbatasan seorang raja banyak beras dan gandum tersimpan untuk kesenangan, kenyamanan, dan kemudahan para penghuninya dan untuk menghalau pihak luar.

(3) “Kemudian, dalam benteng perbatasan seorang raja banyak bahan makanan – wijen, sayur-mayur, dan biji-bijian4 - tersimpan untuk kesenangan, kenyamanan, dan kemudahan para penghuninya dan untuk menghalau pihak luar.

(4) “Kemudian, dalam benteng perbatasan seorang raja banyak obat-obatan – ghee, mentega, minyak, madu, sirup, dan garam - tersimpan untuk kesenangan, kenyamanan, dan kemudahan para penghuninya dan untuk menghalau pihak luar.

“Ini adalah keempat makanan yang didapat dengan mudah, tanpa kesulitan atau kesusahan.

“Ketika, para bhikkhu, benteng perbatasan seorang raja dengan baik dilengkapi dengan ketujuh perlengkapan sebuah benteng ini, dan dengan mudah mendapatkan, tanpa kesulitan atau kesusahan, keempat jenis makanan ini, maka benteng itu disebut benteng perbatasan seorang raja yang tidak dapat diserang oleh lawan dan musuh eksternal.

“Demikian pula, para bhikkhu, ketika seorang siswa mulia memiliki tujuh kualitas baik, dan [109] ketika ia mendapatkan sesuai kehendak, tanpa kesulitan atau kesusahan, empat jhāna yang merupakan pikiran yang lebih tinggi dan kediaman yang nyaman dalam kehidupan ini, maka ia disebut seorang siswa mulia yang tidak dapat diserang oleh Māra, yang tidak dapat diserang oleh Yang Jahat.

“Apakah ketujuh kualitas baik yang ia miliki?

(1) “Seperti halnya, para bhikkhu, tiang-tiang dalam benteng perbatasan seorang raja yang memiliki landasan yang tertanam dalam dan kokoh, tidak bergerak, tidak goyah, yang bertujuan untuk melindungi para penghuninya dan menghalau pihak luar, demikian pula seorang siswa mulia memiliki keyakinan. Ia berkeyakinan pada pencerahan Sang Tathāgata sebagai berikut: ‘Sang Bhagavā adalah seorang Arahant, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, sempurna menempuh sang jalan, pengenal dunia, pelatih terbaik bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para deva dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Suci.’ Dengan keyakinan sebagai tiangnya, siswa mulia itu meninggalkan apa yang tidak bermanfaat dan mengembangkan apa yang bermanfaat, meninggalkan apa yang tercela dan mengembangkan apa yang tanpa cela, dan menjaga dirinya dalam kemurnian. Ia memiliki kualitas baik pertama ini.

(2) “Seperti halnya parit dalam benteng perbatasan seorang raja digali dalam dan lebar yang bertujuan untuk melindungi para penghuninya dan menghalau pihak luar, demikian pula seorang siswa mulia memiliki rasa malu; ia malu terhadap perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran; ia malu memperoleh kualitas-kualitas tidak bermanfaat. Dengan rasa malu sebagai parit, siswa mulia itu meninggalkan apa yang tidak bermanfaat dan mengembangkan apa yang bermanfaat, meninggalkan apa yang tercela dan mengembangkan apa yang tanpa cela, dan menjaga dirinya dalam kemurnian. Ia memiliki kualitas baik ke dua ini.

(3) “Seperti halnya jalan setapak untuk berpatroli dalam benteng perbatasan seorang raja tinggi dan lebar yang bertujuan untuk melindungi para penghuninya dan menghalau pihak luar, demikian pula seorang siswa mulia memiliki rasa takut; ia takut terhadap perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran; ia takut memperoleh kualitas-kualitas tidak bermanfaat. Dengan rasa takut sebagai jalan setapak untuk berpatroli, siswa mulia itu meninggalkan apa yang tidak bermanfaat dan mengembangkan [110] apa yang bermanfaat, meninggalkan apa yang tercela dan mengembangkan apa yang tanpa cela, dan menjaga dirinya dalam kemurnian. Ia memiliki kualitas baik ke tiga ini.

(4) “Seperti halnya banyak senjata, baik peluru maupun senjata tangan, tersimpan dalam benteng perbatasan seorang raja yang bertujuan untuk melindungi para penghuninya dan menghalau pihak luar, demikian pula seorang siswa mulia telah banyak belajar, mengingat apa yang telah ia pelajari, dan mengumpulkan apa yang telah ia pelajari. Ajaran-ajaran itu yang baik di awal, baik di tengah, dan baik di akhir, dengan kata-kata dan makna yang benar, yang mengungkapkan kehidupan spiritual yang lengkap dan murni sempurna – ajaran-ajaran demikian telah banyak ia pelajari, diingat, dilafalkan secara lisan, diselidiki dengan pikiran, dan ditembus dengan baik melalui pandangan. Dengan pembelajaran ini sebagai senjata, siswa mulia itu meninggalkan apa yang tidak bermanfaat dan mengembangkan apa yang bermanfaat, meninggalkan apa yang tercela dan mengembangkan apa yang tanpa cela, dan menjaga dirinya dalam kemurnian. Ia memiliki kualitas baik ke empat ini.

(5) “Seperti halnya banyak jenis prajurit berdiam dalam benteng perbatasan seorang raja, seperti prajurit gajah … prajurit budak-rumah-tangga, yang bertujuan untuk melindungi para penghuninya dan menghalau pihak luar, demikian pula seorang siswa mulia telah membangkitkan kegigihan untuk meninggalkan kualitas-kualitas tidak bermanfaat dan mendapatkan kualitas-kualitas bermanfaat; ia kuat, teguh dalam usaha, tidak mengabaikan tugas melatih kualitas-kualitas bermanfaat. Dengan kegigihan sebagai para prajuritnya, siswa mulia itu meninggalkan apa yang tidak bermanfaat dan mengembangkan apa yang bermanfaat, meninggalkan apa yang tercela dan mengembangkan apa yang tanpa cela, dan menjaga dirinya dalam kemurnian. Ia memiliki kualitas baik ke lima ini.

(6) “Seperti halnya penjaga gerbang dalam benteng perbatasan seorang raja yang bijaksana, kompeten, dan cerdas, seorang yang menghalau orang asing dan menerima orang-orang yang dikenal, yang bertujuan untuk melindungi para penghuninya dan menghalau pihak luar, [111] demikian pula seorang siswa mulia penuh perhatian, memiliki perhatian dan keawasan tertinggi, seorang yang mengingat apa yang telah dilakukan dan dikatakan yang telah lama berlalu. Dengan perhatian sebagai penjaga gerbangnya, siswa mulia itu meninggalkan apa yang tidak bermanfaat dan mengembangkan apa yang bermanfaat, meninggalkan apa yang tercela dan mengembangkan apa yang tanpa cela, dan menjaga dirinya dalam kemurnian. Ia memiliki kualitas baik ke enam ini.

(7) “Seperti halnya tanggul dalam benteng perbatasan seorang raja yang tinggi dan lebar, dilapisi dengan lapisan plester, yang bertujuan untuk melindungi para penghuninya dan menghalau pihak luar, demikian pula seorang siswa mulia bijaksana; ia memiliki kebijaksanaan yang melihat muncul dan lenyapnya, yang mulia dan menembus dan mengarah menuju kehancuran penderitaan sepenuhnya. Dengan kebijaksanaan sebagai lapisan plester, siswa mulia itu meninggalkan apa yang tidak bermanfaat dan mengembangkan apa yang bermanfaat, meninggalkan apa yang tercela dan mengembangkan apa yang tanpa cela, dan menjaga dirinya dalam kemurnian. Ia memiliki kualitas baik ke tujuh ini.

“Ia memiliki ketujuh kualitas baik ini.5

“Dan apakah empat jhāna yang merupakan pikiran yang lebih tinggi dan kediaman yang nyaman dalam kehidupan ini, yang ia dapatkan sesuai kehendak, tanpa kesulitan atau kesusahan?

(1) “Seperti halnya, para bhikkhu, banyak rumput, kayu api, dan air tersimpan dalam benteng perbatasan seorang raja untuk kesenangan, kenyamanan, dan kemudahan para penghuninya dan untuk menghalau pihak luar, demikian pula, dengan terasing dari kenikmatan-kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang siswa mulia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan, yang disertai oleh pemikiran dan pemeriksaan – untuk kesenangan, kenyamanan, dan penghiburan bagi dirinya sendiri, dan untuk memasuki nibbāna.

(2) “Seperti halnya [112] banyak beras dan gandum tersimpan dalam benteng perbatasan seorang raja untuk kesenangan, kenyamanan, dan kemudahan para penghuninya dan untuk menghalau pihak luar, demikian pula, dengan meredanya pemikiran dan pemeriksaan, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki ketenangan internal dan keterpusatan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi, tanpa pemikiran dan pemeriksaan - untuk kesenangan, kenyamanan, dan penghiburan bagi dirinya sendiri, dan untuk memasuki nibbāna.

(3) “Seperti halnya banyak bahan makanan - wijen, sayur-mayur, dan biji-bijian - tersimpan dalam benteng perbatasan seorang raja untuk kesenangan, kenyamanan, dan kemudahan para penghuninya dan untuk menghalau pihak luar, demikian pula, dengan memudarnya sukacita, ia berdiam seimbang dan, penuh perhatian dan memahami dengan jernih, ia mengalami kenikmatan pada jasmani; ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga yang dinyatakan oleh para mulia: ‘Ia seimbang, penuh perhatian, seorang yang berdiam dengan bahagia.’ - untuk kesenangan, kenyamanan, dan penghiburan bagi dirinya sendiri, dan untuk memasuki nibbāna.

(4) “Seperti halnya banyak obat-obatan – ghee, mentega, minyak, madu, sirup, dan garam - tersimpan dalam benteng perbatasan seorang raja untuk kesenangan, kenyamanan, dan kemudahan para penghuninya dan untuk menghalau pihak luar, demikian pula, dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang bukan menyakitkan juga bukan menyenangkan, dengan pemurnian perhatian melalui keseimbangan - untuk kesenangan, kenyamanan, dan penghiburan bagi dirinya sendiri, dan untuk memasuki nibbāna.

“Ini adalah keempat jhāna yang merupakan pikiran yang lebih tinggi dan kediaman yang nyaman dalam kehidupan ini, yang ia dapatkan sesuai kehendak, tanpa kesulitan atau kesusahan. [113]

“Ketika, para bhikkhu, seorang siswa mulia memiliki ketujuh kualitas baik ini, dan ketika ia mendapatkan sesuai kehendak, tanpa kesulitan atau kesusahan, keempat jhāna ini yang merupakan pikiran yang lebih tinggi dan kediaman yang nyaman dalam kehidupan ini, maka ia disebut seorang siswa mulia yang tidak dapat diserang oleh Māra, yang tidak dapat diserang oleh Yang Jahat.”


Catatan Kaki
  1. Salākañceva jevanikañca. Mp: “Salāka adalah senjata yang dapat dilepaskan (nissaggiya), seperti anak panah dan tombak; jevanika adalah jenis-jenis senjata lainnya, seperti pedang bersisi tunggal.” SED sv śalyaka, berarti “anak panah, tombak.” PED mendefinisikan jevanika sebagai “sejenis senjata (peluru),” tetapi peluru, menurut Mp, adalah termasuk dalam salāka↩︎

  2. Terjemahan saya atas istilah-istilah ini, yang kadang-kadang tidak jelas dalam aslinya, sebagian berdasarkan pada penjelasan yang diberikan dalam Mp. Berikut ini adalah penjelasan yang saya ikuti untuk istilah-istilah yang tidak jelas itu: Celakā (“pembawa-panji”): mereka yang, dalam pertempuran, berjalan di depan sambil membawa panji kemenangan. Calakā (“petugas barak”): mereka yang mengatur barisan militer sebagai berikut: “Ini adalah tempat raja, ini adalah tempat perdana menteri,” dan seterusnya. Piṇḍadāyikā (“pelayan-makanan,” lit., “pemberi gumpalan”): para prajurit perkasa. Dikatakan bahwa mereka memasuki bala tentara musuh dan terbang memotong mereka seolah-olah menjadi gumpalan (piṇḍapiṇḍamiva); setelah bangun, mereka keluar; atau pengertian lain adalah mereka yang membawa makanan dan minuman kepada para prajurit di tengah-tengah pertempuran. [Saya menerjemahkan berdasarkan turunan ke dua ini, yang tampaknya lebih masuk akal.] Pakkhandhino (“prajurit penyerang garis depan”) adalah mereka yang bertanya: “Kepala atau senjata siapakah yang akan kita ambil?” dan diberitahu, “Kepalanya!” atau “Senjatanya!” mereka terjun (pakkhandanti) ke tengah-tengah pertempuran dan mengambilnya. Mahānāgā (“prajurit sapi-besar”) adalah para prajurit yang tidak akan berbalik bahkan ketika gajah-gajah, dan sebagainya menyerang langsung ke arah mereka. Sūra (“prajurit penyerang”) adalah sejenis prajurit, yang dapat melintasi samudra bahkan sambil membawa jaket pelindung atau membawa baju berlapis baja. Cammayodhino (“prajurit pembawa-perisai”) adalah mereka yang mengenakan baju pelindung dari kulit, atau mereka yang membawa perisai dari kulit sebagai pelindung terhadap anak panah. Dāsakaputtā (“prajurit budak-rumah-tangga”): para prajurit budak-rumah-tangga yang penuh kasih sayang. Mp menjelaskan uggā rājaputtā sebagai “putra-putra kerajaan yang berpengalaman dalam peperangan yang telah meningkat lebih tinggi dan lebih tinggi lagi” (uggatuggatā saṅgāmāvacarā rājaputtā). Dengan demikian Mp telah menurunkan kata itu dari uggata, tetapi SED mengatakan bahwa ugra adalah “kasta campuran” (dari ayah Kshatriya dan ibu Ṥūdra).” Kata ini, menurut SED, berarti “kuat, keras, perkasa … kejam, ganas.” ↩︎

  3. Aparitassāya. Lit., “untuk tanpa-gejolak” ↩︎

  4. Tilamuggamāsāparaṇṇaṃ. Mp memecah sebagai berikut: tilamuggamāsā ca sesāparaṇṇañca. Mengikuti Mp, saya menganggap aparaṇṇa sebagai istilah umum yang mana tila, mugga, dan māsa adalah contohnya. Karena itu saya menerjemahkan aparaṇṇa hanya sebagai “bahan makanan.” Baca Sp IV 784,31-33: “Dengan aparaṇṇa yang dimaksudkan adalah sayur-mayur, biji-bijian, wijen, kacang-kacangan kulattha, labu pahit, labu, dan sebagainya” (muggamāsatilakulatthālābukumbhaṇḍādibhedañca aparaṇṇaṃ adhippetaṃ). ↩︎

  5. Saya mengoreksi dhammehi dalam Ce di sini menjadi saddhammehi (seperti dalam Be dan Ee). Terjemahan Sinhala mendukung hal ini dengan terjemahannya sapta saddharmayen↩︎