easter-japanese

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di tengah-tengah penduduk Bhagga di Suṃsumāragira, di taman rusa di Hutan Bhesakalā. Pada saat itu perumah tangga Nakulapitā sedang sakit, menderita, sakit keras. Kemudian sang istri Nakulamātā berkata kepadanya sebagai berikut: “Jangan meninggal dunia dengan penuh kecemasan,1 perumah tangga. Meninggal dunia dengan penuh kecemasan adalah menyakitkan. Meninggal dunia dengan penuh kecemasan telah dicela oleh Sang Bhagavā.2

(1) “Mungkin, perumah tangga, engkau berpikir sebagai berikut: ‘Setelah aku pergi, Nakulamātā tidak akan mampu menyokong anak-anak kami dan memelihara rumah tangga.’ Tetapi engkau jangan melihat persoalan itu dengan cara demikian. Aku mahir dalam memintal kapas dan merajut wol. Setelah engkau pergi, aku akan mampu menyokong anak-anak [296] dan memelihara rumah tangga. Oleh karena itu, perumah tangga, jangan meninggal dunia dengan penuh kecemasan. Meninggal dunia dengan penuh kecemasan adalah menyakitkan. Meninggal dunia dengan penuh kecemasan telah dicela oleh Sang Bhagavā.

(2) “Mungkin, perumah tangga, engkau berpikir sebagai berikut: ‘Setelah aku pergi, Nakulamātā akan menikah lagi.’3 Tetapi engkau jangan melihat persoalan itu dengan cara demikian. Engkau tahu, perumah tangga, dan aku juga tahu, bahwa selama enam belas tahun terakhir ini kita telah menjalani kehidupan selibat umat awam.4 Oleh karena itu, perumah tangga, jangan meninggal dunia dengan penuh kecemasan. Meninggal dunia dengan penuh kecemasan adalah menyakitkan. Meninggal dunia dengan penuh kecemasan telah dicela oleh Sang Bhagavā.

(3) “Mungkin, perumah tangga, engkau berpikir sebagai berikut: ‘Setelah aku pergi, Nakulamātā tidak ingin lagi pergi menemui Sang Bhagavā dan Saṅgha para bhikkhu.’ Tetapi engkau jangan melihat persoalan itu dengan cara demikian. Setelah engkau pergi, perumah tangga, aku bahkan akan lebih giat lagi pergi menemui Sang Bhagavā dan Saṅgha para bhikkhu. Oleh karena itu, perumah tangga, jangan meninggal dunia dengan penuh kecemasan. Meninggal dunia dengan penuh kecemasan adalah menyakitkan. Meninggal dunia dengan penuh kecemasan telah dicela oleh Sang Bhagavā.

(4) “Mungkin, perumah tangga, engkau berpikir sebagai berikut: ‘Nakulamātā tidak memenuhi perilaku bermoral.’5 Tetapi engkau jangan melihat persoalan itu dengan cara demikian. Aku adalah salah satu siswi awam Sang Bhagavā yang berjubah putih yang memenuhi perilaku bermoral. Jika siapa pun memiliki keragu-raguan atau kebimbangan sehubungan dengan hal ini, Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna sedang menetap di tengah-tengah penduduk Bhagga di Suṃsumāragira, di taman rusa di Hutan Bhesakalā. Mereka dapat pergi dan bertanya kepada Beliau. Oleh karena itu, perumah tangga, jangan meninggal dunia dengan penuh kecemasan. [297] Meninggal dunia dengan penuh kecemasan adalah menyakitkan. Meninggal dunia dengan penuh kecemasan telah dicela oleh Sang Bhagavā.

(5) “Mungkin, perumah tangga, engkau berpikir sebagai berikut: ‘Nakulamātā tidak memperoleh ketenangan pikiran internal.’ Tetapi engkau jangan melihat persoalan itu dengan cara demikian. Aku adalah salah satu siswi awam Sang Bhagavā yang berjubah putih yang memperoleh ketenangan pikiran internal. Jika siapa pun memiliki keragu-raguan atau kebimbangan sehubungan dengan hal ini, Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna sedang menetap di tengah-tengah penduduk Bhagga di Suṃsumāragira, di taman rusa di Hutan Bhesakalā. Mereka dapat pergi dan bertanya kepada Beliau. Oleh karena itu, perumah tangga, jangan meninggal dunia dengan penuh kecemasan. Meninggal dunia dengan penuh kecemasan adalah menyakitkan. Meninggal dunia dengan penuh kecemasan telah dicela oleh Sang Bhagavā.

(6) “Mungkin, perumah tangga, engkau berpikir sebagai berikut: ‘Nakulamātā belum mencapai pijakan kaki, pijakan yang kokoh, dan jaminan dalam Dhamma dan disiplin ini;6 ia belum menyeberangi keragu-raguan, belum melenyapkan kebingungan, belum mencapai kepercayaan-diri, dan belum menjadi tidak bergantung pada yang lain dalam ajaran Sang Guru.’ Tetapi engkau jangan melihat persoalan itu dengan cara demikian. Aku adalah salah satu siswi awam Sang Bhagavā yang berjubah putih yang telah mencapai pijakan kaki, pijakan yang kokoh, dan jaminan dalam Dhamma dan disiplin ini; aku telah menyeberangi keragu-raguan, telah melenyapkan kebingungan, telah mencapai kepercayaan-diri, dan telah menjadi tidak bergantung pada yang lain dalam ajaran Sang Guru. Jika siapa pun memiliki keragu-raguan atau kebimbangan sehubungan dengan hal ini, Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna sedang menetap di tengah-tengah penduduk Bhagga di Suṃsumāragira, di taman rusa di Hutan Bhesakalā. Mereka dapat pergi dan bertanya kepada Beliau. Oleh karena itu, perumah tangga, jangan meninggal dunia dengan penuh kecemasan. Meninggal dunia dengan penuh kecemasan adalah menyakitkan. Meninggal dunia dengan penuh kecemasan telah dicela oleh Sang Bhagavā.”

Kemudian, sewaktu perumah tangga Nakulapitā [298] sedang dinasihati demikian oleh sang istri Nakulamātā, penyakitnya seketika mereda. Nakulapitā sembuh dari penyakit itu, dan demikianlah penyakitnya ditinggalkan.

Kemudian, tidak lama setelah ia sembuh, perumah tangga Nakulapitā, dengan bertumpu pada sebatang tongkat, mendatangi Sang Bhagavā. Ia bersujud kepada Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya:

“Sungguh suatu keberuntungan bagimu, perumah tangga, bahwa istrimu Nakulamātā berbelas kasihan padamu, menginginkan kebaikanmu, dan menasihati dan mengajarimu. Nakulamātā adalah salah satu siswa awamKu yang berjubah putih yang memenuhi perilaku bermoral. Ia adalah salah satu siswa awamKu yang berjubah putih yang memperoleh ketenangan pikiran internal. Ia adalah salah satu siswa awamKu yang berjubah putih yang telah mencapai pijakan kaki, pijakan yang kokoh, dan jaminan dalam Dhamma dan disiplin ini, yang telah menyeberangi keragu-raguan, telah melenyapkan kebingungan, telah mencapai kepercayaan-diri, dan telah menjadi tidak tergantung pada yang lain dalam ajaran Sang Guru. Sungguh suatu keberuntungan bagimu, perumah tangga, bahwa istrimu Nakulamātā berbelas kasihan padamu, menginginkan kebaikanmu, dan menasihati dan mengajarimu.”


Catatan Kaki
  1. Sāpekkho. Mp mengemas kata ini sebagai sataṇho, “dengan ketagihan,” tetapi saya yakin bahwa makna yang dimaksudkan kemungkinan besar adalah “dengan kecemasan, dengan kekhawatiran, dengan kesedihan.” Pāli apekkhā, seperti halnya “cemas,” dapat bermakna kemelekatan maupun kekhawatiran. ↩︎

  2. Mp mengatakan bahwa karena ia tidak mampu menyembuhkan penyakitnya dengan obat-obatan, maka ia mengaumkan “auman singa” ini (sīhanāda) untuk menyembuhkan penyakitnya melalui pernyataan kebenaran (saccakiriyā). ↩︎

  3. Bersama Ce saya membaca varaṃ, bukan seperti Be dan Ee gharaṃ. Mp: “akan mengambil suami lain” (aññaṃ sāmikaṃ gaṇhissati). Baca SED sv vara^2^: “‘pemilih,’ seorang yang mencari gadis dalam suatu perkawinan, pelamar, kekasih, mempelai laki-laki, suami.” ↩︎

  4. Gahaṭṭhakaṃ brahmacariyaṃ. Bukanlah hal yang tidak biasa dalam budaya tradisional Buddhis bagi pasangan yang taat yang telah melahirkan beberapa anak untuk sepakat menjalankan kehidupan selibat. ↩︎

  5. Karena struktur bagian ini paralel dengan kedua bagian yang berikutnya bukan dengan tiga bagian sebelumnya, maka jelas bahwa mam’accayena tidak berlaku di sini. Walaupun ungkapan ini ada dalam ketiga edisi cetakan, sebuah naskah Sinhala yang tercatat dalam Ee menghilangkannya. Seperti kedua bagian berikutnya, bagian ini tidak memiliki kata kerja bentuk masa depan bhavissati. Lebih jauh lagi, paralel dengan kedua bagian berikutnya, Nakulamātā di sini menegaskan bahwa ia pada saat itu memenuhi perilaku bermoral, mengarahkan orang yang meragukan hal ini pada Sang Buddha. Maka dari itu, karena Nakulamātā sedang membicarakan fakta sekarang, maka tidak perlu baginya untuk merujuk waktu ketika suaminya telah meninggal dunia. Mp mengatakan bahwa §§4-6 adalah pernyataan kebenaran Nakulamātā. ↩︎

  6. Na … imasmiṃ dhammavinaye ogādhappattā patigādhappattā assāsappattā. Semua ini adalah cara-cara untuk menyatakan bahwa ia paling sedikit adalah seorang pemasuk-arus. Yang menarik adalah bahwa ia mengaku telah memperoleh pijakan kaki dalam dhammavinaya, yang menyiratkan bahwa dalam konteks tertentu vinaya mengandung makna yang lebih luas daripada sekedar peraturan monastik. ↩︎