Riwayat Agung Para Buddha
(The Great Chronicle of Buddhas)
Tipitakadhara Mingun Sayadaw
Orang yang menyusun Maha Buddhavamsa (Riwayat Agung Para Buddha) bukanlah manusia biasa. Beliau adalah Sayadawgyi Ashin Vicittasarabivamsa, pemegang gelar Tipitakadhara Dhamma Bhandhagarika yang bukan hanya mampu menghafal Kitab Tipitaka yang dibabarkan oleh Buddha, berikut Kitab Komentar dan Kitab Subkomentar, namun juga piawai memahami makna-maknanya secara mendalam. Sungguh seorang bhikkhu terhormat yang luar biasa.
Riwayat Agung Para Buddha adalah mahakarya klasik yang menyeluruh dan akurat, yang mana tidak ada penambahan atau pengurangan yang tak perlu dari Tipitaka. Siapa saja akan dapat memahami riwayat Buddha, Dhamma, serta para siswa-siswi Buddha dengan membaca buku ini. Para bhikkhu dan orang Myanmar membaca, menyukai, dan menghargai Riwayat Agung Para Buddha. Mereka tidak hanya meminjam buku ini, namun membeli untuk koleksi pribadi dan membacanya berulang kali. Naskah buku ini bahkan ditatah di atas batu sebagai upaya pelestarian jangka panjang!
Catatan:
- Untuk keseluruhan jumlah halamannya 3843 halaman. Dibagi menjadi 3 buah buku.
- RAPB merupakan proyek kerjasama antara Giri Mangala dan Ehipassiko.
- Buku ini boleh dicopy, diperbanyak, di-”bajak” tanpa batas, tanpa perlu ijin kepada penerbit.
- Buku dan eBook Riwayat Agung Para Buddha tidak dijual walaupun dengan alasan ganti biaya cetak ataupun jasa.
- Untuk mendiskusikan buku ini, Silahkan bergabung ke milis RAPB (Riwayat Agung Para Buddha) di forum DhammaCitta http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,2900.0.html
eBook Buku 1
Download PDF (4.4 MB)
Download ZIP (3.4 MB)
Baca Online
eBook Buku 2
Download PDF (4.3 MB)
Download ZIP (3.4 MB)
Baca Online
eBook Buku 3
Download PDF (4 MB)
Download ZIP (3.2 MB)
Baca Online

Entries (RSS)
September 20th, 2008 at 08:42
Sdr. Qing Sen,
agar kita lebih leluasa berdiskusi, pertanyaan anda telah saya pindahkan ke forum diskusi, dan di sana saya telah mencoba menjawab sebatas kemampuan saya.
silahkan masuk ke http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=2900.msg84380#msg84380
anda harus registrasi untuk bisa melakukan posting.
Salam
Indra
September 20th, 2008 at 00:17
Anumodana Saudara Indra atas tanggapannya.
Mengenai pembabaran Abhidhamma oleh Sang Buddha secara paralel di alam deva Tavatimsa dan di bumi ( kepada YM. Sariputta ) memang ada dijelaskan di RAPB tentang kekuatan batin seorang Buddha dalam menciptakan dua sosok Buddha yang sama persis dalam mengajarkan Abhidhamma di dua alam berbeda pada waktu yang hampir bersamaan. Dalam kasus ini, tentunya para deva di alam Tavatimsa dan YM Sariputta ( cat : kedua alam tsb berada di bumi ini ) sudah mengetahui hal2 berikut yang terjadi pada saat kemunculan seorang Buddha yaitu : proses masuknya bodhisatta ke rahim Ratu Mahamaya, kelahiran bodhisatta, pelepasan agung, pencapaian ke Buddha-an, dan pembabaran Dhamma yang pertama kali oleh Sang Buddha. Dalam hal ini, tentunya Saddha terhadap Sang Buddha Gotama ( keyakinan bahwa Beliau benar2 sudah mencapai pencerahan sempurna ) adalah tidak tergoyahkan karena peristiwa2 tsb bisa disaksikan oleh para dewa dan manusia di bumi ini.
Kekuatan batin seorang Buddha adalah tidak terbayangkan oleh manusia awam,dan memang tidak tertutup kemungkinan Buddha mengajarkan secara paralel juga di bumi yang lain ( alam manusia, deva dan brahma di bumi yang lain ). Tetapi dalam hal ini akan muncul suatu keraguan dari makhluk di bumi yang lain, siapakah sosok Buddha Gotama itu ? dari mana asalnya ? Bagaimana beliau bisa dikatakan sebagai makhluk yang tercerahkan ? Bagaimana usahanya dalam mencapai ke - Buddha an itu ? Makhluk di bumi yang lain tentunya tidak mempunyai pengetahuan mengenai hal2 tsb, karena berbagai peristiwa tsb hanya berlangsung di bumi ini.
Jika Buddha Gotama mengajarkan kepada makhluk di bumi lain bahwa ini adalah Dhamma, itu bukan Dhamma. Bagaimana makhluk di bumi lain bisa memiliki keyakinan/saddha yang penuh terhadap Sang Buddha ? Bagaimana pula dengan komunitas Sangha di bumi yang lain ?
Karena sesungguhnya muncul nya Sammasambuddha pasti muncul Tiratana - Buddha, Dhamma, dan Sangha.
Ini adalah pertanyaan yang timbul dari pemikiran saya mengenai hal ini.
Kita sebagai makhluk di bumi ini pantas bersyukur karena mempunyai berkah yang sangat besar dengan munculnya seorang Sammasambuddha, terlebih lagi sebagai manusia yang bisa mempelajari dan mempraktekkan Dhamma yang di ajarkan Buddha.
Jika Buddha Gotama hanya mengajarkan Dhamma di bumi ini ( walaupun ‘wilayah kekuasaan’ Nya mencakup 10 ribu tata surya - ada bumi yang lain ), tentunya bumi kita ini sungguh mendapatkan berkah yang sangat mulia.
Utk point 2), selain mengenai tinggi tubuh Buddha, saya juga masih mempunyai keraguan mengenai konversi satuan ukuran yang digunakan pada zaman Buddha tsb. Misalnya : dikatakan bahwa 1 yojana itu sebanding kira2 = 16 km. Dalam beberapa bagian sutta kadang dijumpai penggunaan satuan yojana utk menggambarkan sosok Asura, jarak suatu tempat, besar sudah benda dll, yang terkadang kalau di konversikan ke satuan km, hasilnya sangat mencengangkan dan diluar logika ( pandangan zaman skrg ). Bagaimana pendapat saudara2 se Dhamma mengenai hal ini ? mohon pencerahannya
Salam Metta,
Qing Sen
September 18th, 2008 at 13:56
Sdr Qing Sen,
tambahan untuk yg tidak terukur itu adalah bagi yang mencoba untuk mengukur tinggi badan Buddha.
September 18th, 2008 at 13:42
Sdr. Qing Sen,
1. Bukankah Buddha memiliki kekuatan2 yg tidak terbayangkan oleh kita, misalnya pada waktu mengajarkan Abhidhamma di Tavatimsa, beliau juga pada saat yang sama mengajarkan kepada Sariputta di alam manusia denagn cara menciptakan tiruan diriNya, mungkin saja Buddha mengerahkan kekuatan yang sama untuk mengajar di alam semesta lainnya.
2. Tinggi badan Buddha Gotama itu diukur berdasarkan tinggi rata2 manusia pada masa itu, karena pada kisah kunjungan Raja Ajatasattu menemui Sang Buddha, dikatakan bahwa Ajatasattu tidak mampu membedakan Sang Buddha dari para Bhikkhu lainnya, ini tentunya karena sosok Sang Buddha mirip dengan sosok bhikkhu lainnya, karena kalau Sang Buddha memiliki tinggi yg luar biasa tentu akan mudah dikenali.
Ini adalah pendapat pribadi
September 17th, 2008 at 23:57
Namo Buddhaya Saudara-saudara sekalian,
Sehubungan dengan buku RAPB ini, ada beberapa point yang saya masih kurang mengerti :
1) Di katakan bahwa dalam wilayah sepuluh ribu tatasurya ini hanya bisa menopang satu SammasamBuddha, dengan kata lain tidak mungkin muncul dua SammasamBuddha pada saat yang bersamaan. Dengan demikian bisa di artikan bahwa wilayah ‘kekuasaan’ satu Sammasambuddha yang muncul pada bumi/planet tertentu mencakup 10 ribu tatasurya. Kemunculan Sammasambuddha tentunya akan membawa berkah bagi semua makhluk di semua tata surya tersebut, membuka jalan ke tanpa kematian: Nibbana.
Sang Buddha Gotama muncul di Bumi kita, memberikan ajaran Dhamma yang sudah terlupakan sejak zaman Buddha Kassapa. Nah, kurang mengertinya di sini, bagaimana seorang Buddha mengajar di bumi-bumi lain yang berada di dalam wilayah ‘kekuasaan’ nya ( andaikan di 10 ribu tata surya tsb mempunyai semua 31 alam kehidupan seperti di Bumi , ada manusia lain di planet lain.. alam deva. dll ), sementara Buddha Gotama muncul di Bumi ini, dan masa waktu mengajar nya hanya 45 Tahun, bagaimana Buddha mengajar Dhamma di bumi-bumi yang lain ? Mungkin saudara2 sekalian ada yang bisa menanggapi point ini, atau mungkin ada rujukan dari Tipitaka mengenai hal ini?
2) a) Di katakan bahwa tinggi Buddha Gotama adalah enam belas atau delapan belas lengan - hal: 401 buku I RAPB ( cat : 1 lengan = 40 cm ), berarti tinggi Buddha Gotama itu 640 cm atau 720 cm. Dan juga Buddha-Buddha yang lain mempunyai tinggi badan yang bahkan melebihi tinggi badan Buddha Gotama.
b) Sementara pada bab lain, dikatakan bahwa tinggi seorang Buddha tidak terukur.
* antara a) dan b) saling bertolak belakang, mungkin saudara2 sekalian ada yang bisa menanggapi hal ini, mohon pencerahan..
* jika memang tinggi Buddha itu 640 cm atau pun 720 cm.. bisa dibayangkan betapa tingginya tubuh seorang Buddha, atau mungkin saja rata2 tinggi tubuh manusia pada zaman Buddha Gotama adalah sekitar itu.
September 10th, 2008 at 16:44
aduh kalau saya mau mendapatkan bukunya dimana ya? T_T
soalnya kalau e-book susah sekali dibacanya harus buka komputer. sangat tidak nyaman kalau harus baca dr monitor.
September 5th, 2008 at 08:20
Sungguh sukar menjadi seorang Buddha.
Tidak ada kondisi yang tercipta secara kebetulan, semuanya karena tekad.
Kenapa Maya Dewi yg menjadi istri Siddharta, kenapa Sariputta dan Moggalana yg berhak diposisi kanan dan kiri Buddha Gautama.
Bacalah selagi masih lagi waktu !
August 19th, 2008 at 06:07
Bagus, Bagus,
Kalau begitu mari kita baca dan renungkan !
Buku yang kita tinggal baca saja, tidak ada yang semudah membaca saja dibanding kalau kita harus menyusun atau menyadur buku tersebut dari awal
Ada ralat, buku yang saya sarankan baca terlebih dahulu adalah buku berjudul Kronologi Hidup Buddha yang bisa didapat di toko2 buku. Barulah buku RAPB ini. Tetap semangat !
August 18th, 2008 at 17:50
namo buddhaya…
salam kenal buat komunitas, semoga umat buddha akan terus berkembang dan terus maju…..
August 18th, 2008 at 11:07
Bagus, Bagus
kalo saya membacanya berurutan bisa menjadi kendala. seperti di buku paritta: “dutiyampi,tatiyampi,dst”. maklum kan.setelah selesai hingga akhir bab kita tetap perlu membacanya berulang.saya sgt merekomen buku ini &alangkah baiknya jika kita membaca buku The Chronicle of Buddha terlebih dahulu sebagai pengantar (saya yakin teman2 pasti akan merasakan perbedaannya). The Chronicle of Buddha bisa di dapat di toko2 buku,dulu saya membelinya di Gramedia sebelum akhirnya hadir di vihara. coba kunjungi website Ehipassiko utk ket lebih lanjut
Semangat ! Viriya ! Jiayou !
RAPB memang luar biasa,diterjemahkan ke bhs Indonesia dalam wujud buku oleh orang2 yg luar biasa pula.Memang bukunya luar biasa tebal &berat! Katanya lengkap &akurat.jadi saya membacanya sering lompat ke halaman berikut