topic short url: http://dhct.ws/f257

Author Topic: Sigalovada Sutta  (Read 11963 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.332
  • Reputasi: 415
  • Gender: Male
  • not self
Sigalovada Sutta
« on: 31 July 2007, 09:47:53 AM »
Sigalovada Sutta

Sigalovada sutta ini berisikan percakapan Sang Buddha dengan seorang kepala
keluarga yang masih muda yang bernama Sigala. Disini dijabarkan bagaimana
ajaran tentang Ariyasa Vinaya (tata peraturan Ariya) yang terdapat dalam
ajaranNya, yaitu menghormati mereka yang berharga dan berguna dengan
menjalankan kewajiban kita masing-masing.

Sudah bukan rahasia lagi bagi kita, umat Buddha berkeluarga yang ingin hidup
berbahagia , aman, tentram dan sejahtera dengan menjalankan kewajiban kita.
Ingin tahu kewajiban kamu apa saja..? Lihat yang satu ini

Demikianlah yang telah kudengar:

Pada suatu hari Sang Bhagava bersemayam di dekat Rajagaha di Veluvana di
Kalandakanivapa. Pada waktu itu Sigala yang muda belia, putera seorangkepala
keluarga, bangun pagi-pagi sekali, pergi keluar Rajagaha. Dengan rambut dan
pakaian basah ia mengangkat tangan yang dirangkap, menyembah berbagai arah
bumi dan langit: Timur, Selatan, Barat, Utara, Bawah dan Atas.

Pada pagi itu Sang Bhagava setelah berkemas pagi-pagi sekali dengan
mengenakan jubah dan membawa mangkok memasuki Rajagaha untuk Pindapata.
Ketika Beliau melihat Sigala yang muda belia sedang memuja, Beliau bertanya:


"Kepada keluarga yang muda belia, mengapa engkau bangun pagi-pagi dan
meninggalkan Rajagaha dengan rambut dan pakaian basah, serta memuji berbagai
arah bumi dan langit?"

"Bhante, ayah hamba ketika mendekati ajalnya, telah berpesan kepada hamba:
'Ananda yang baik, engkau harus menyembah berbagai arah bumi dan langit'.
Demikian Bhante, karena menghormati kata-kata ayah hamba, mengindahkannya,
menjunjungnya, menganggap suci, maka hamba bangun pagi-pagi sekali,
meninggalkan Rajagaha dan memuja secara demikian."

"Tetapi dalam agama seorang Ariya, wahai kepala keluarga yang muda belia,
enam arah itu seharusnya tidak disembah secara demikian."

"Bagaimanakah, Bhante, dalam agama seorang Ariya, enam arah itu harus
disembah? Alangkah baiknya, Bhante, jika Sang Bhagava berkenan mengajarkan
sebuah ajaran yang membentangkan cara bagaimana enam arah itu harus disembah
dalam agama seorang Ariya. "

"Dengarkanlah, kepala keluarga yang muda belia, perhatikanlah kata-kata
kami, dan kami akan berbicara"

"Baiklah, Bhante," jawab Sigala yang muda belia.

"Sedemikian jauh, siswa Yang Ariya telah menyingkirkan empat cacat dalam
tingkah laku, duhai kepala keluarga yang muda belia. Sebegitu jauh ia tidak
melakukan perbuatan-perbuatan jahat karena empat dorongan, sebegitu jauh ia
tidak mengejar enam saluran yang menelan kekayaan. Demikianlah ia menjauhkan
diri dari empat belas cara jahat, dia itu pelindung enam arah, ia telah
terlatih sedemikian rupa untuk menaklukkan kedua alam, ia telah terjamin
untuk alam sini dan alam sana. Pada saat hancurnya badan jasmani setelah
mati, ia akan menitis dalam kehidupan bahagia di Surga.

Apakah empat cacat dalam tingkah laku yang telah ia singkirkan? 1.Membunuh,
2.mencuri, 3.kecabulan, dan 4.kata-kata dusta. Inilah empat cacat dal;am
perilaku yang telah ia singkirkan."

Demikian sabda Sang Bhagava.

Setelah Sang Bhagava bersabda demikian, kemudian Beliau bersabda pula:

"Penjagalan kehidupan, pencurian, berdusta, perzinaan; untuk semuannya itu
tidak sepatahpun kata pujian diberikan oleh Sang Bijaksana.

Apakah empat dorongan yang membuat orang melakukan perbuatan jahat?
Perbuatan jahat dilakukan atas dorongan: 1.Nafsu, 2.kebencian, 3.kebodohan,
4.ketakutan. Siswa Ariya tidak tersesat oleh dorongan-dorongan ini; ia tidak
melakukan perbuatan jahat karena dorongan ini."

Demikian sabda Sang Bhagava.

Setelah Sang Bhagava bersabda demikian, kemudian Beliau bersabda pula:

"Barang siapa melanggar Dhamma, karena nafsu atau kebencian, kebodohan, dan
ketakutan, maka nama baiknya akan menjadi suram. Barang siapa yang belum
pernah melanggar Dharmma karena nafsu atau kebenciaan, kebodohan, dan
ketakutan, maka namabaik akan menjadi penuh dan sempurna, bagaikan rembulan
dalam masa purnama siddhi.

Apakah enam saluran untuk menghambrkan kekayaan?

1.   Ketagihan minum-minuman yang memabukkan;
2.   Sering berkeluyuran di jalan pada waktu yang tidak tepat
3.   Mengejar tempat-tempat pelesiran;
4.   Gemar berjudi;
5.   Mempunyai pergaulan yang buruk;
6.   Kebiasaan menganggur.



Terdapat enam bahaya, duhai kepala keluarga yang muda belia, terhadap
ketagihan pada minum-minuman yang memabukkan:

1.   Kehilangan harta;
2.   Bertambahnya percekcokan;
3.   Mudah terkena penyakit;
4.   Kehilangan watak yang baik;
5.   Menampakkan diri secara tidak pantas;
6.   Melemahkan daya pikir atau kecerdasan.



Terdapat enam bahaya, duhai kepala keluarga yang muda belia, karena
berkeluyuran pada waktu yang tidak tepat:

1.   Diri sendiri tanpa penjagaan dan perlindungan
2.   Anak isteri tiada penjagaan dan perlindungan
3.   Harta bendanya tiada penjagaan dan perlindungan
4.   Lebih jauh lagi ia dituduh melakukan berbagai tindakan kejahatan
(yang belum jelas).
5.   Menjadi sasaran segala macam desas-desus;
6.   Ia akan mengalami banyak kesulitan.



Terdapat enam bahaya, duhai kepala keluarga yang muda belia, dari mencari
tempat-tempat pelesiran. Ia akan terus menerus berpikir:

1.   Di manakah ada tari-tarian?
2.   Di manakah ada nyanyi-nyanyian?
3.   Di manakah ada musik?
4.   Di manakah ada pertunjukan?
5.   Di manakah ada gendang dan tambu?
6.   Di manakah ada bunyi-bunyian?



Terdapat enam bahaya, duhai kepala keluarga yang muda belia, bagi orang yang
gemar berjudi:

1.   Jika menang, ia memperoleh kebencian;
2.   Jika kalah, ia tangisi harta bendanya yang telah hilang;
3.   Hartanya yang nyata dihamburkan;
4.   Di pengadilan kata-katanya tidak berharga;
5.   Dipandang rendah oleh sabahat-sahabat dan pejabat-pejabat
Pemerintah.
6.   Ia tidak disukai oleh orang-orang yang mencari menantu laki-laki,
karena mereka akan berkata: 'Seorang penjudi tidak akan sanggup memelihara
isterinya'.



Terdapat enam bahaya, duhai kepala keluarga yang muda belia, dari pergaulan
buruk:

1.   Setiap penjudi merupakan sahabat dan kawannya;
2.   Setiap pemogok merupakan sahabat dan kawannya;
3.   Setiap pemabuk merupakan sahabat dan kawannya;
4.   Setiap penipu merupakan sahabat dan kawannya;
5.   Setiap tukang memperdayai merupakan sahabat dan kawannya;
6.   Setiap tukang berkelahi merupakan sahabat dan kawannya.



Terdapat enam bahaya, duhai kepala keluarga yang muda belia, dari kebiasaan
menganggur:

1.   Ia berkata: 'Terlalu dingin' dan ia tidak bekerja;
2.   Ia berkata: 'Terlalu panas' dan ia tidak bekerja;
3.   Ia berkata: 'Terlalu pagi' dan ia tidak bekerja;
4.   Ia berkata: 'Terlalu siang' dan ia tidak bekerja;
5.   Ia berkata: 'Aku terlalu lapar' dan ia tidak bekerja;
6.   Ia berkata: 'Terlalu kenyang' dan ia tidak bekerja;



Sedangkan apa yang harus dilakukan tetap tidak dikerjakan, harta baru tidak
ia dapatkan, dan hartanya yang ada menjadi habis."

Demikian Sabda Sang Bhagava.

Setelah Sang Bhagava bersabda demikian, kemudian Sang Buddha bersabda pula:
"Beberapa sahabat memuji kawan minum. Beberapa orang mengatakan sahabat
baik, sahabat baik. Akan tetapi, yang membuktikan dirinya sebagai kawanmu
pada waktu bahaya, dialah yang benar-benar boleh dikatakan seorang sahabat."

"Tidur sewaktu matahari telah terbit dan perzinaan.
Terlibat dalam percekcokan-percekcokan dan berbuat jahat.
Bersahabat dengan orang-orang jahat dan berhati telengas.
Inilah enam sebab yang menjadikan orang tergelincir.

Jika ia bersahabat dnegan berkawan dengan orang-orang jahat
Mengatur hidupnya dengan cara jahat.
Baik di alam ini maupun d alam sana.
Orang itu akan terperosok dengan menyedihkan
Berjudi dan wanita, minuman keras, tarian dan nyanyian.
Tidur di waktu siang, berkeluyuran di waktu malam.
Bersahabat dengan orang jahat, berhati telengas.
Inilah enam sebab orang terjerumus (ke dalam penderitaan)

Berjudi dengan dadu, minum-minuman keras, ia pergi kepada wanita-wanita yang
dicintai bagaikan diri sendiri oleh laki-laki lain.

Mengikuti mereka yang berpikiran gelap, bukan yang berpikiran sadar. Ia
menjadi suram bagai bulan terbit dalam purnama tilam.

Peminum-peminum keras, pemiskin, melarat.
Haus sewaktu minum, pengejar kedai minuman.
Bagaikan batu ia tenggelam ke dalam hutang-hutang.
Cepat sekali ia membawa nista pada keluarganya.

Barang siapa mempunyai kebiasaan untuk tidur di waktu siang, memandang malam
sebagai waktu untuk bangun. Orang yang selalu tidak bertanggung-jawab dan
ada di isi dengan anggur. Tidak cakap untuk menjadi kepala keluarga. Terlalu
dingin, terlalu panas, terlalu siang, demikian keluhan (yang diucapkan).

Demikian orang yang meloloskan dari pekerjaan yang menunggu.
Kesempatan-kesempatan lewat untuk selama-lamannya. Akan tetapi, orang yang
menganggap dingin, atau panas sebagai hal yang kecil. Ia tidak akan
kehilangan kebahagiaannya dengan cara apapun juga.

Terdapat empat macam manusia, duhai kepala keluarga yang muda belia, yang
harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu:

1.   Orang yang sangat tamak;
2.   Orang yang banyak bicara, tetapi tidak berbuat sesuatu;
3.   Penjilat;
4.   Pemboros.



Dari mereka ini, orang yang pertama disebutkan diatas, ada empat dasar untuk
menganggap mereka sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu:

1.   Sangat tamak;
2.   Memberi sedikit meminta banyak;
3.   Melakukan kewajibannya karena takut;
4.   Hanya ingat pada kepentingannya sendiri.



Terhadap orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat sesuatu atas empat
alasan untuk dipandang sebagai musuh yang berpura-pura sebagai sahabat,
yaitu:

1.   Ia menyebutkan persahabatan di masa lampau;
2.   Ia menyebutkan persahabatan untuk masa yang akan datang;
3.   Ia berusaha mendapatkan kesayangan seseorang dengan kata-kata
kosong;
4.   Jika ada kesempatan untuk memberikan jasa kepada seseorang, ia
menyatakan tidak sanggup.



Terhadap orang penjilat ada empat alasan untuk memandang mereka sebagai
musuh yang berpura-pura sebagai sahabat, yaitu:

1.   Ia menyetujui hal-hal yang salah dan
2.   Menjauhkan diri dari hal-hal yang baik;
3.   Ia memuji engkau dihadapan seseorang dan
4.   Bicara buruk tentang diri seseorang dihadapan orang lain.



Terhadap orang pemboros ada empat alasan untuk memandang mereka sebagai
musuh yang berpura-pura sebagai sahabat, yaitu:

1.   Ia menjadi kawanmu, jika engkau menyerah pada minuman keras;
2.   Ia menjadi kawanmu, jika engkau berkeluyuran di jalanan pada waktu
yang tidak tepat;
3.   Ia menjadi kawanmu, jika engkau mencari pertunjukan pentas dan
tempat-tempat pelesiran;
4.   Ia menjadi kawanmu, jika engkau gemar berjudi."



Demikianlah sabda Sang Buddha.

Setelah bersabda demikian, kemudian bersabda pula:

"Sabahat yang selalu mencari sesuatu untuk diambil, sahabat-sahabat yang
ucapannya berbeda dengan perbuatannya, sahabat yang menjilat dan membuat
kamu senang dengan yang demikian. Kawan yang riang gembira dan dijalan
sesat. Empat ini adalah musuh-musuh.

Demikianlah, setelah mengenal, biarlah orang bijaksana menghindar jauh dari
mereka bagaikan jalan yang berbahaya dan menakutkan.

Ada empat jenis, duhai kepala keluarga yang muda belia, sahabat-sahabat yang
harus dipandang sebagai sahabat dengan berhati tulus:

1.   Penolong;
2.   Sahabat di waktu senang dan susah;
3.   Sahabat yang memberi nasihat yang baik;
4.   Sahabat yang simpati.



Atas empat dasar sahabat yang menolong harus dipandang sebagai sahabat yang
berhati tulus, yaitu:

1.   Ia menjaga dirimu sewaktu kamu tidak siap;
2.   Ia menjaga milikmu sewaktu engkau lengah;
3.   Ia menjadi pelindungmu sewaktu engkau sedang ketakutan;
4.   Jika engkau melakukan tugas, ia memberikan bekal dua kali lipat
(dari yang kamu perlukan).



Atas empat dasar sahabat di waktu senang dan susah yang harus dipandang
sebagai sahabat yagn berhati tulus, yaitu:

1.   ia menceritakan rahasia-rahasia kepadamu;
2.   ia tidak menceritakan rahasia itu kepada orang lain
3.   didalam kesusahan ia tidak akan meninggalkanmu;
4.   untuk membela dirimu, ia bersedia mengorbankan nyawanya.



Atas empat dasar sahabat yang menasihatkan apa yang harus engkau lakukan
sebagai yang berhati tulus, yaitu:

1.   ia mencegah engkau berbuat salah;
2.   ia menganjurkan engkau berbuat yang benar
3.   ia memberitahukan apa yang belum pernah engkau dengar
4.   ia tunjukkan padamu jalan ke surga.



Atas empat dasar sahabat yang bersimpati harus dipandang berhati tulus:

1.   Ia tidak merasa senang atas kesusahanmu;
2.   Ia merasa senang akan kejayaanmu;
3.   Ia cegah orang lain bicara jelek tentang dirimu;
4.   Ia sanjung setiap orang yang memuji dirimu."



Demikian sabda Sang Bhagava.

Setelah Sang Bhagava bersabda demikian, kemudian Sang Bhagava bersabda pula:


"Sahabat yang menjadi kawan penolong, sahabat pada waktu senang dan susah,
sahabat yang memberikan apa yang engkau butuhkan dan ia yang menggetar
dengan simpati untuk dirimu. Empat jenis sahabat ini adalah orang bijaksana
yang harus dikenal sebagai sahabat dan kepada empat sahabat ini ia harus
menyediakan dirinya bagikan seorang ibu terhadap anak kandungnya sendiri.

Orang bijaksana dan cerdas bercahaya bagaikan api yang berkobar-kobar. Ia
yang mengumpulkan kekayaannya dengan cara tidak merugikan (makhluk lain),
bagaikan kumbang yang menjelajah mengumpulkan madu, kekayaannya akan
bertumpuk-tumpuk bagaikan sarang semut yang semakin tinggi.

Dengan kekayaan yang diperoleh dengan cara demikian, seorang upasaka pantas
untuk suatu kehidupan berumah tangga. Ia membagi kekayaannya atas empat
bagian. Dengan demikian ia akan mendapat persahabatan.

Satu bagian untuk keperluannya sendiri,
Dua bagian untuk menjalankan usahanya.
Bagian keempat disimpan sebagai cadangan.
Dan cara bagaimanakah, duhai kepala keluarga yag muda belia, siswa yang
Ariya melindungi enam arah itu?

Keenam arah itu harus dipandang sebagai berikut:

1.   Ibu dan ayah sebagai arah timur;
2.   Para guru sebagai arah selatan;
3.   Isteri dan anak sebagai arah barat;
4.   Sahabat dan kawan sebagai arah utara;
5.   Pelayan dan buruh sebagai arah bawah;
6.   Petapa dan brahmana sebagai arah atas.



There is no place like 127.0.0.1

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.332
  • Reputasi: 415
  • Gender: Male
  • not self
Re: Sigalovada Sutta
« Reply #1 on: 31 July 2007, 09:48:22 AM »
Dalam lima cara seorang anak memperlakuklan orang tuannya sebagai arah
timur:

1.   Dahulu aku ditunjang oleh mereka, sekarang aku kaan menjadi
penunjang mereka.
2.   Aku akan menjalankan kewajibanku terhadap mereka;
3.   Aku akan pertahankan kehormatan keluargaku;
4.   Aku akan mengurus warisanku;
5.   Aku akan mengatur pemberian sesaji kepada sanak keluargaku yang
telah meninggal.



Dalam lima cara orang tua yang diperlalukan demikian, sebagai arah timur
menunjukkan kecintaan mereka kepada anak-anaknya:

1.   Mereka mencegah ia berbuat kejahatan;
2.   Mereka mendorong supaya ia berbuat baik;
3.   Mereka melatih ia dalam suatu pekerjaan;
4.   Mereka melaksanakan perkawinan yang pantas bagi anaknya;
5.   Dan menyerahkan warisan pada waktunya.



Demikianlah arah timur terlindung untuknya, dibuat aman dan terjamin.

Dalam lima cara siswa-siswa harus memperlakukan guru mereka sebagai arah
selatan:

1.   Dengan bangun dari tempat duduk mereka (memberi hormat);
2.   Dengan melayani mereka
3.   Dengan tekad baik untuk belajar;
4.   Dengan memberikan persembahan kepada mereka;
5.   Dan dengan memberikan perhatian sewaktu diberi pelajaran.



Dan dalam lima cara, guru akan diperlakukan demikian sebagai arah selatan
akan berbuat kepada murid-muridnya:

1.   Mereka melatih siswa itu sedemikian rupa, sehingga ia terlatih
dengan baik.
2.   Mereka membuat ia menguasai apa yang telah diajarkan;
3.   Mereka mengajarkan secara mendalam ilmu pengetahuan dan kesenian;
4.   Mereka bicara baik tentang muridnya di antara sahabat dan
kawan-kawannya;
5.   Mereka melengkapi muridnya demi keamanan dalam setiap arah.



Demikianlah arah selatan terlindungi untuknyua, dibuat aman dan terjamin.

Dalam lima cara seorang isteri harus diperlakukan sebagai arah barat oleh
suaminya:

1.   Dengan perhatian;
2.   Dengan keramah-tamahan;
3.   Dengan kesetiaan;
4.   Dengan menyerahkan kekuasaan kepadanya;
5.   Dengan memberikan barang-barang perhiasan kepadanya.



Dalam lima cara ini sang isteri membalas cinta suaminya sebagai arah barat:

1.   Kewajiban-kewajibannya dilakukan dengan sebaik-baiknya
2.   Berlaku ramah-tamah kepada sanak keluarga dari kedua pihak;
3.   Dengan kesetiaan
4.   Menjaga barang-barang yang ia bawa
5.   Pandai dan rajin mengurus segala pekerjaan rumah tangga.



Demikianlah arah barat ini terlindung untuknya, dibuat aman dan terjamin.

Dalam lima cara anggota keluarga memperlakukan sahabat dan kawannya sebagai
arah utara:

1.   Dengan murah hati;
2.   Ramah tamah;
3.   Berbuat untuk kebahagiaan mereka
4.   Memperlakukan mereka bagaikan memperlakukan diri sendiri.
5.   Menepati janji



Diperlakukan dalam lima cara ini, sebagai arah utara, sahabat dan
kawan-kawan akan mencintainya:

1.   Melindunginya, jika ia tidak siaga.
2.   Dan dalam keadaan yang demikian menjaga harta bendanya;
3.   Dalam bahaya ia dapat berlindung pada mereka;
4.   Mereka tidak akan meninggalkan dia dalam kesulitan;
5.   Mereka menghormati keluargannya.

Demikianlah arah utara terlindung untuknya, dibuat aman dan terjamin.

Dalam lima cara majikan akan memperlakukan pelayan dan buruhnya sebagai arah
bawah:

1.   Memberikan tugas yang sesuai dengan kemampuan mereka;
2.   Memberikan makanan dan upah kepada mereka;
3.   Merawat mereka sewaktu sakit;
4.   Membagi mereka makanan yang istimewa;
5.   Memberikan mereka liburan pada waktu tertentu.



Diperlakukan dalam lima cara itu, pelayan dan pekerja akan menjunjung
majikan mereka dalam lima cara:

6.   Mereka bangun lebih pagi daripada majikan mereka;
7.   Mereka beristirahat setelah majikan mereka beristirahat;
8.   Mereka puas dengan apa yang diberikan kepada mereka;
9.   Mereka melakukan kewajiban mereka dengan baik;
10.   Dimana saja mereka akan memuji majikan mereka. Demikianlah arah
barat terlindung untuknya, dibuat aman dan terjamin.

Ada lima cara seorang anggota keluarga harus memperlakukan para samana dan
brahmana sebagai arah atas:

1.   Dengan perbuatan yang ramah tamah;
2.   Dengan ucapan yang ramah tamah;
3.   Dengan pikiran yang bersih;
4.   Membuka pintu bagi mereka;
5.   Memberikan mereka keperluan hidup.



Diperlakukan demikian sebagai arah atas, para samana (petapa) dan brahmana
memperlakukan para anggota keluarga itu dalam enam cara:

6.   Mereka mencegah anggota keluarga melakukan kejahatan;
7.   Mereka menganjurkan ia berbuat kebaikan;
8.   Pikiran mereka selalu terjaga terhadapnya;
9.   Mereka ajarkan apa yang belum pernah ia dengar;
10.   Mereka memperjelas apa yang telah ia dengar;
11.   Mereka menunjukkan jalan kehidupan ke surga.


Dalam enam cara ini para petapa dan brahmana memperlihatkan cinta-kasih
mereka kepada gharavasa.

Demikianlah arah atas melindungi mereka, dibuat aman dan terjamin."

Demikianlah sabda Sang Bhagava. Setelah Sang Bhagava bersabda demikian,
kemudian Beliau bersabda lagi:

"Ibu dan ayah adalah arah timur.
Dan guru-guru adalah arah selatan.
Isteri dan anak-anak arah barat.
Sahabat dan kerabat arah utara.
Pelayan dan buruh arah bawah
Dan arah atas adalah para petapa dan brahmana.
Orang yang menjalani kehidupan berkeluarga harus menghormati keenam arah
ini.

Orang yang bajik dan bijaksana,
Lemah lembut dan sungguh-sungguh
Rendah hati dan penurut,
Ia yang demikian akan memperoleh kehormatan.

Ia yang bersemangat dan tidak malas
Tidak tergoncang oleh kemalangan
Perilaku yang tidak tercela dan cerdas ,
Ia yang demikian akan memperoleh kehormatan.

Orang yang ramah dan bersahabat,
Terbuka dan tidak mementingkan diri sendiri,
Seorang penurut, penasihat, pemimpin,
Ia yang demikian akan memperoleh kehormatan.

Dermawan, ucapan yang ramah,
Hidup penuh pengabdian,
Berada di atas semua golongan.
Selama keadaan menghendakinya

Empat jalan kemenangan ini membuat dunia berputar seperti pisau pasak pada
kereta yang berjalan.

Jika hal ini ada di dunia, tiada seorang ibu maupun seorang ayan yagn akan
mendapat penghargaan dan penghormatan dari anak mereka sendiri.

Oleh karena empat jalan-kemenangan ini dipuji oleh para bijaksana dalam
berbagai cara; kemuliaan yang akan mereka capai dan pujian yang sudah
sepantasnya mereka peroleh"

Setelah Sang Bhagava bersabda demikian, Sigala, kepala keluarga yang muda
belia, berkata demikian:

"Indah, Bhagava, Indah!

Sang Bhagava, bagaikan seorang yang telah menegakkan apa yang telah roboh,
atau membuka apa yang tersembunyi atau menunjukkan jalan kepada yang telah
tersesat, atau membawa mampu ke tempat yang gelap sehingga mereka yang
mempunyai mata akan dapat melihat. Dem

Sigalovada Sutta

Sigalovada sutta ini berisikan percakapan Sang Buddha dengan seorang kepala
keluarga yang masih muda yang bernama Sigala. Disini dijabarkan bagaimana
ajaran tentang Ariyasa Vinaya (tata peraturan Ariya) yang terdapat dalam
ajaranNya, yaitu menghormati mereka yang berharga dan berguna dengan
menjalankan kewajiban kita masing-masing.

Sudah bukan rahasia lagi bagi kita, umat Buddha berkeluarga yang ingin hidup
berbahagia , aman, tentram dan sejahtera dengan menjalankan kewajiban kita.
Ingin tahu kewajiban kamu apa saja..? Lihat yang satu ini

Demikianlah yang telah kudengar:

Pada suatu hari Sang Bhagava bersemayam di dekat Rajagaha di Veluvana di
Kalandakanivapa. Pada waktu itu Sigala yang muda belia, putera seorangkepala
keluarga, bangun pagi-pagi sekali, pergi keluar Rajagaha. Dengan rambut dan
pakaian basah ia mengangkat tangan yang dirangkap, menyembah berbagai arah
bumi dan langit: Timur, Selatan, Barat, Utara, Bawah dan Atas.

Pada pagi itu Sang Bhagava setelah berkemas pagi-pagi sekali dengan
mengenakan jubah dan membawa mangkok memasuki Rajagaha untuk Pindapata.
Ketika Beliau melihat Sigala yang muda belia sedang memuja, Beliau bertanya:


"Kepada keluarga yang muda belia, mengapa engkau bangun pagi-pagi dan
meninggalkan Rajagaha dengan rambut dan pakaian basah, serta memuji berbagai
arah bumi dan langit?"

"Bhante, ayah hamba ketika mendekati ajalnya, telah berpesan kepada hamba:
'Ananda yang baik, engkau harus menyembah berbagai arah bumi dan langit'.
Demikian Bhante, karena menghormati kata-kata ayah hamba, mengindahkannya,
menjunjungnya, menganggap suci, maka hamba bangun pagi-pagi sekali,
meninggalkan Rajagaha dan memuja secara demikian."

"Tetapi dalam agama seorang Ariya, wahai kepala keluarga yang muda belia,
enam arah itu seharusnya tidak disembah secara demikian."

"Bagaimanakah, Bhante, dalam agama seorang Ariya, enam arah itu harus
disembah? Alangkah baiknya, Bhante, jika Sang Bhagava berkenan mengajarkan
sebuah ajaran yang membentangkan cara bagaimana enam arah itu harus disembah
dalam agama seorang Ariya. "

"Dengarkanlah, kepala keluarga yang muda belia, perhatikanlah kata-kata
kami, dan kami akan berbicara"

"Baiklah, Bhante," jawab Sigala yang muda belia.

"Sedemikian jauh, siswa Yang Ariya telah menyingkirkan empat cacat dalam
tingkah laku, duhai kepala keluarga yang muda belia. Sebegitu jauh ia tidak
melakukan perbuatan-perbuatan jahat karena empat dorongan, sebegitu jauh ia
tidak mengejar enam saluran yang menelan kekayaan. Demikianlah ia menjauhkan
diri dari empat belas cara jahat, dia itu pelindung enam arah, ia telah
terlatih sedemikian rupa untuk menaklukkan kedua alam, ia telah terjamin
untuk alam sini dan alam sana. Pada saat hancurnya badan jasmani setelah
mati, ia akan menitis dalam kehidupan bahagia di Surga.

Apakah empat cacat dalam tingkah laku yang telah ia singkirkan? 1.Membunuh,
2.mencuri, 3.kecabulan, dan 4.kata-kata dusta. Inilah empat cacat dal;am
perilaku yang telah ia singkirkan."

Demikian sabda Sang Bhagava.

Setelah Sang Bhagava bersabda demikian, kemudian Beliau bersabda pula:

"Penjagalan kehidupan, pencurian, berdusta, perzinaan; untuk semuannya itu
tidak sepatahpun kata pujian diberikan oleh Sang Bijaksana.

Apakah empat dorongan yang membuat orang melakukan perbuatan jahat?
Perbuatan jahat dilakukan atas dorongan: 1.Nafsu, 2.kebencian, 3.kebodohan,
4.ketakutan. Siswa Ariya tidak tersesat oleh dorongan-dorongan ini; ia tidak
melakukan perbuatan jahat karena dorongan ini."

Demikian sabda Sang Bhagava.

Setelah Sang Bhagava bersabda demikian, kemudian Beliau bersabda pula:

"Barang siapa melanggar Dhamma, karena nafsu atau kebencian, kebodohan, dan
ketakutan, maka nama baiknya akan menjadi suram. Barang siapa yang belum
pernah melanggar Dharmma karena nafsu atau kebenciaan, kebodohan, dan
ketakutan, maka namabaik akan menjadi penuh dan sempurna, bagaikan rembulan
dalam masa purnama siddhi.


Apakah enam saluran untuk menghambrkan kekayaan?

1.   Ketagihan minum-minuman yang memabukkan;
2.   Sering berkeluyuran di jalan pada waktu yang tidak tepat
3.   Mengejar tempat-tempat pelesiran;
4.   Gemar berjudi;
5.   Mempunyai pergaulan yang buruk;
6.   Kebiasaan menganggur.



Terdapat enam bahaya, duhai kepala keluarga yang muda belia, terhadap
ketagihan pada minum-minuman yang memabukkan:

1.   Kehilangan harta;
2.   Bertambahnya percekcokan;
3.   Mudah terkena penyakit;
4.   Kehilangan watak yang baik;
5.   Menampakkan diri secara tidak pantas;
6.   Melemahkan daya pikir atau kecerdasan.



Terdapat enam bahaya, duhai kepala keluarga yang muda belia, karena
berkeluyuran pada waktu yang tidak tepat:

1.   Diri sendiri tanpa penjagaan dan perlindungan
2.   Anak isteri tiada penjagaan dan perlindungan
3.   Harta bendanya tiada penjagaan dan perlindungan
4.   Lebih jauh lagi ia dituduh melakukan berbagai tindakan kejahatan
(yang belum jelas).
5.   Menjadi sasaran segala macam desas-desus;
6.   Ia akan mengalami banyak kesulitan.



Terdapat enam bahaya, duhai kepala keluarga yang muda belia, dari mencari
tempat-tempat pelesiran. Ia akan terus menerus berpikir:

1.   Di manakah ada tari-tarian?
2.   Di manakah ada nyanyi-nyanyian?
3.   Di manakah ada musik?
4.   Di manakah ada pertunjukan?
5.   Di manakah ada gendang dan tambu?
6.   Di manakah ada bunyi-bunyian?



There is no place like 127.0.0.1

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.332
  • Reputasi: 415
  • Gender: Male
  • not self
Re: Sigalovada Sutta
« Reply #2 on: 31 July 2007, 09:48:47 AM »
Terdapat enam bahaya, duhai kepala keluarga yang muda belia, bagi orang yang
gemar berjudi:

1.   Jika menang, ia memperoleh kebencian;
2.   Jika kalah, ia tangisi harta bendanya yang telah hilang;
3.   Hartanya yang nyata dihamburkan;
4.   Di pengadilan kata-katanya tidak berharga;
5.   Dipandang rendah oleh sabahat-sahabat dan pejabat-pejabat
Pemerintah.
6.   Ia tidak disukai oleh orang-orang yang mencari menantu laki-laki,
karena mereka akan berkata: 'Seorang penjudi tidak akan sanggup memelihara
isterinya'.



Terdapat enam bahaya, duhai kepala keluarga yang muda belia, dari pergaulan
buruk:

1.   Setiap penjudi merupakan sahabat dan kawannya;
2.   Setiap pemogok merupakan sahabat dan kawannya;
3.   Setiap pemabuk merupakan sahabat dan kawannya;
4.   Setiap penipu merupakan sahabat dan kawannya;
5.   Setiap tukang memperdayai merupakan sahabat dan kawannya;
6.   Setiap tukang berkelahi merupakan sahabat dan kawannya.



Terdapat enam bahaya, duhai kepala keluarga yang muda belia, dari kebiasaan
menganggur:

1.   Ia berkata: 'Terlalu dingin' dan ia tidak bekerja;
2.   Ia berkata: 'Terlalu panas' dan ia tidak bekerja;
3.   Ia berkata: 'Terlalu pagi' dan ia tidak bekerja;
4.   Ia berkata: 'Terlalu siang' dan ia tidak bekerja;
5.   Ia berkata: 'Aku terlalu lapar' dan ia tidak bekerja;
6.   Ia berkata: 'Terlalu kenyang' dan ia tidak bekerja;



Sedangkan apa yang harus dilakukan tetap tidak dikerjakan, harta baru tidak
ia dapatkan, dan hartanya yang ada menjadi habis."

Demikian Sabda Sang Bhagava.

Setelah Sang Bhagava bersabda demikian, kemudian Sang Buddha bersabda pula:
"Beberapa sahabat memuji kawan minum. Beberapa orang mengatakan sahabat
baik, sahabat baik. Akan tetapi, yang membuktikan dirinya sebagai kawanmu
pada waktu bahaya, dialah yang benar-benar boleh dikatakan seorang sahabat."

"Tidur sewaktu matahari telah terbit dan perzinaan.
Terlibat dalam percekcokan-percekcokan dan berbuat jahat.
Bersahabat dengan orang-orang jahat dan berhati telengas.
Inilah enam sebab yang menjadikan orang tergelincir.

Jika ia bersahabat dnegan berkawan dengan orang-orang jahat
Mengatur hidupnya dengan cara jahat.
Baik di alam ini maupun d alam sana.
Orang itu akan terperosok dengan menyedihkan
Berjudi dan wanita, minuman keras, tarian dan nyanyian.
Tidur di waktu siang, berkeluyuran di waktu malam.
Bersahabat dengan orang jahat, berhati telengas.
Inilah enam sebab orang terjerumus (ke dalam penderitaan)

Berjudi dengan dadu, minum-minuman keras, ia pergi kepada wanita-wanita yang
dicintai bagaikan diri sendiri oleh laki-laki lain.

Mengikuti mereka yang berpikiran gelap, bukan yang berpikiran sadar. Ia
menjadi suram bagai bulan terbit dalam purnama tilam.

Peminum-peminum keras, pemiskin, melarat.
Haus sewaktu minum, pengejar kedai minuman.
Bagaikan batu ia tenggelam ke dalam hutang-hutang.
Cepat sekali ia membawa nista pada keluarganya.

Barang siapa mempunyai kebiasaan untuk tidur di waktu siang, memandang malam
sebagai waktu untuk bangun. Orang yang selalu tidak bertanggung-jawab dan
ada di isi dengan anggur. Tidak cakap untuk menjadi kepala keluarga. Terlalu
dingin, terlalu panas, terlalu siang, demikian keluhan (yang diucapkan).

Demikian orang yang meloloskan dari pekerjaan yang menunggu.
Kesempatan-kesempatan lewat untuk selama-lamannya. Akan tetapi, orang yang
menganggap dingin, atau panas sebagai hal yang kecil. Ia tidak akan
kehilangan kebahagiaannya dengan cara apapun juga.

Terdapat empat macam manusia, duhai kepala keluarga yang muda belia, yang
harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu:

1.   Orang yang sangat tamak;
2.   Orang yang banyak bicara, tetapi tidak berbuat sesuatu;
3.   Penjilat;
4.   Pemboros.



Dari mereka ini, orang yang pertama disebutkan diatas, ada empat dasar untuk
menganggap mereka sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu:

1.   Sangat tamak;
2.   Memberi sedikit meminta banyak;
3.   Melakukan kewajibannya karena takut;
4.   Hanya ingat pada kepentingannya sendiri.



Terhadap orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat sesuatu atas empat
alasan untuk dipandang sebagai musuh yang berpura-pura sebagai sahabat,
yaitu:

1.   Ia menyebutkan persahabatan di masa lampau;
2.   Ia menyebutkan persahabatan untuk masa yang akan datang;
3.   Ia berusaha mendapatkan kesayangan seseorang dengan kata-kata
kosong;
4.   Jika ada kesempatan untuk memberikan jasa kepada seseorang, ia
menyatakan tidak sanggup.



Terhadap orang penjilat ada empat alasan untuk memandang mereka sebagai
musuh yang berpura-pura sebagai sahabat, yaitu:

1.   Ia menyetujui hal-hal yang salah dan
2.   Menjauhkan diri dari hal-hal yang baik;
3.   Ia memuji engkau dihadapan seseorang dan
4.   Bicara buruk tentang diri seseorang dihadapan orang lain.



Terhadap orang pemboros ada empat alasan untuk memandang mereka sebagai
musuh yang berpura-pura sebagai sahabat, yaitu:

1.   Ia menjadi kawanmu, jika engkau menyerah pada minuman keras;
2.   Ia menjadi kawanmu, jika engkau berkeluyuran di jalanan pada waktu
yang tidak tepat;
3.   Ia menjadi kawanmu, jika engkau mencari pertunjukan pentas dan
tempat-tempat pelesiran;
4.   Ia menjadi kawanmu, jika engkau gemar berjudi."



Demikianlah sabda Sang Buddha.

Setelah bersabda demikian, kemudian bersabda pula:

"Sabahat yang selalu mencari sesuatu untuk diambil, sahabat-sahabat yang
ucapannya berbeda dengan perbuatannya, sahabat yang menjilat dan membuat
kamu senang dengan yang demikian. Kawan yang riang gembira dan dijalan
sesat. Empat ini adalah musuh-musuh.

Demikianlah, setelah mengenal, biarlah orang bijaksana menghindar jauh dari
mereka bagaikan jalan yang berbahaya dan menakutkan.

Ada empat jenis, duhai kepala keluarga yang muda belia, sahabat-sahabat yang
harus dipandang sebagai sahabat dengan berhati tulus:

1.   Penolong;
2.   Sahabat di waktu senang dan susah;
3.   Sahabat yang memberi nasihat yang baik;
4.   Sahabat yang simpati.



Atas empat dasar sahabat yang menolong harus dipandang sebagai sahabat yang
berhati tulus, yaitu:

1.   Ia menjaga dirimu sewaktu kamu tidak siap;
2.   Ia menjaga milikmu sewaktu engkau lengah;
3.   Ia menjadi pelindungmu sewaktu engkau sedang ketakutan;
4.   Jika engkau melakukan tugas, ia memberikan bekal dua kali lipat
(dari yang kamu perlukan).



Atas empat dasar sahabat di waktu senang dan susah yang harus dipandang
sebagai sahabat yagn berhati tulus, yaitu:

1.   ia menceritakan rahasia-rahasia kepadamu;
2.   ia tidak menceritakan rahasia itu kepada orang lain
3.   didalam kesusahan ia tidak akan meninggalkanmu;
4.   untuk membela dirimu, ia bersedia mengorbankan nyawanya.



Atas empat dasar sahabat yang menasihatkan apa yang harus engkau lakukan
sebagai yang berhati tulus, yaitu:

1.   ia mencegah engkau berbuat salah;
2.   ia menganjurkan engkau berbuat yang benar
3.   ia memberitahukan apa yang belum pernah engkau dengar
4.   ia tunjukkan padamu jalan ke surga.



Atas empat dasar sahabat yang bersimpati harus dipandang berhati tulus:

1.   Ia tidak merasa senang atas kesusahanmu;
2.   Ia merasa senang akan kejayaanmu;
3.   Ia cegah orang lain bicara jelek tentang dirimu;
4.   Ia sanjung setiap orang yang memuji dirimu."



Demikian sabda Sang Bhagava.

Setelah Sang Bhagava bersabda demikian, kemudian Sang Bhagava bersabda pula:


"Sahabat yang menjadi kawan penolong, sahabat pada waktu senang dan susah,
sahabat yang memberikan apa yang engkau butuhkan dan ia yang menggetar
dengan simpati untuk dirimu. Empat jenis sahabat ini adalah orang bijaksana
yang harus dikenal sebagai sahabat dan kepada empat sahabat ini ia harus
menyediakan dirinya bagikan seorang ibu terhadap anak kandungnya sendiri.

Orang bijaksana dan cerdas bercahaya bagaikan api yang berkobar-kobar. Ia
yang mengumpulkan kekayaannya dengan cara tidak merugikan (makhluk lain),
bagaikan kumbang yang menjelajah mengumpulkan madu, kekayaannya akan
bertumpuk-tumpuk bagaikan sarang semut yang semakin tinggi.

Dengan kekayaan yang diperoleh dengan cara demikian, seorang upasaka pantas
untuk suatu kehidupan berumah tangga. Ia membagi kekayaannya atas empat
bagian. Dengan demikian ia akan mendapat persahabatan.

Satu bagian untuk keperluannya sendiri,
Dua bagian untuk menjalankan usahanya.
Bagian keempat disimpan sebagai cadangan.
Dan cara bagaimanakah, duhai kepala keluarga yag muda belia, siswa yang
Ariya melindungi enam arah itu?

Keenam arah itu harus dipandang sebagai berikut:

1.   Ibu dan ayah sebagai arah timur;
2.   Para guru sebagai arah selatan;
3.   Isteri dan anak sebagai arah barat;
4.   Sahabat dan kawan sebagai arah utara;
5.   Pelayan dan buruh sebagai arah bawah;
6.   Petapa dan brahmana sebagai arah atas.



Dalam lima cara seorang anak memperlakuklan orang tuannya sebagai arah
timur:

1.   Dahulu aku ditunjang oleh mereka, sekarang aku kaan menjadi
penunjang mereka.
2.   Aku akan menjalankan kewajibanku terhadap mereka;
3.   Aku akan pertahankan kehormatan keluargaku;
4.   Aku akan mengurus warisanku;
5.   Aku akan mengatur pemberian sesaji kepada sanak keluargaku yang
telah meninggal.



Dalam lima cara orang tua yang diperlalukan demikian, sebagai arah timur
menunjukkan kecintaan mereka kepada anak-anaknya:

1.   Mereka mencegah ia berbuat kejahatan;
2.   Mereka mendorong supaya ia berbuat baik;
3.   Mereka melatih ia dalam suatu pekerjaan;
4.   Mereka melaksanakan perkawinan yang pantas bagi anaknya;
5.   Dan menyerahkan warisan pada waktunya.



Demikianlah arah timur terlindung untuknya, dibuat aman dan terjamin.

Dalam lima cara siswa-siswa harus memperlakukan guru mereka sebagai arah
selatan:

1.   Dengan bangun dari tempat duduk mereka (memberi hormat);
2.   Dengan melayani mereka
3.   Dengan tekad baik untuk belajar;
4.   Dengan memberikan persembahan kepada mereka;
5.   Dan dengan memberikan perhatian sewaktu diberi pelajaran.



Dan dalam lima cara, guru akan diperlakukan demikian sebagai arah selatan
akan berbuat kepada murid-muridnya:

1.   Mereka melatih siswa itu sedemikian rupa, sehingga ia terlatih
dengan baik.
2.   Mereka membuat ia menguasai apa yang telah diajarkan;
3.   Mereka mengajarkan secara mendalam ilmu pengetahuan dan kesenian;
4.   Mereka bicara baik tentang muridnya di antara sahabat dan
kawan-kawannya;
5.   Mereka melengkapi muridnya demi keamanan dalam setiap arah.



Demikianlah arah selatan terlindungi untuknyua, dibuat aman dan terjamin.

Dalam lima cara seorang isteri harus diperlakukan sebagai arah barat oleh
suaminya:

1.   Dengan perhatian;
2.   Dengan keramah-tamahan;
3.   Dengan kesetiaan;
4.   Dengan menyerahkan kekuasaan kepadanya;
5.   Dengan memberikan barang-barang perhiasan kepadanya.



Dalam lima cara ini sang isteri membalas cinta suaminya sebagai arah barat:

1.   Kewajiban-kewajibannya dilakukan dengan sebaik-baiknya
2.   Berlaku ramah-tamah kepada sanak keluarga dari kedua pihak;
3.   Dengan kesetiaan
4.   Menjaga barang-barang yang ia bawa
5.   Pandai dan rajin mengurus segala pekerjaan rumah tangga.



Demikianlah arah barat ini terlindung untuknya, dibuat aman dan terjamin.

Dalam lima cara anggota keluarga memperlakukan sahabat dan kawannya sebagai
arah utara:

1.   Dengan murah hati;
2.   Ramah tamah;
3.   Berbuat untuk kebahagiaan mereka
4.   Memperlakukan mereka bagaikan memperlakukan diri sendiri.
5.   Menepati janji



Diperlakukan dalam lima cara ini, sebagai arah utara, sahabat dan
kawan-kawan akan mencintainya:

1.   Melindunginya, jika ia tidak siaga.
2.   Dan dalam keadaan yang demikian menjaga harta bendanya;
3.   Dalam bahaya ia dapat berlindung pada mereka;
4.   Mereka tidak akan meninggalkan dia dalam kesulitan;
5.   Mereka menghormati keluargannya.

Demikianlah arah utara terlindung untuknya, dibuat aman dan terjamin.

Dalam lima cara majikan akan memperlakukan pelayan dan buruhnya sebagai arah
bawah:

1.   Memberikan tugas yang sesuai dengan kemampuan mereka;
2.   Memberikan makanan dan upah kepada mereka;
3.   Merawat mereka sewaktu sakit;
4.   Membagi mereka makanan yang istimewa;
5.   Memberikan mereka liburan pada waktu tertentu.



Diperlakukan dalam lima cara itu, pelayan dan pekerja akan menjunjung
majikan mereka dalam lima cara:

6.   Mereka bangun lebih pagi daripada majikan mereka;
7.   Mereka beristirahat setelah majikan mereka beristirahat;
8.   Mereka puas dengan apa yang diberikan kepada mereka;
9.   Mereka melakukan kewajiban mereka dengan baik;
10.   Dimana saja mereka akan memuji majikan mereka. Demikianlah arah
barat terlindung untuknya, dibuat aman dan terjamin.

Ada lima cara seorang anggota keluarga harus memperlakukan para samana dan
brahmana sebagai arah atas:

1.   Dengan perbuatan yang ramah tamah;
2.   Dengan ucapan yang ramah tamah;
3.   Dengan pikiran yang bersih;
4.   Membuka pintu bagi mereka;
5.   Memberikan mereka keperluan hidup.



Diperlakukan demikian sebagai arah atas, para samana (petapa) dan brahmana
memperlakukan para anggota keluarga itu dalam enam cara:

6.   Mereka mencegah anggota keluarga melakukan kejahatan;
7.   Mereka menganjurkan ia berbuat kebaikan;
8.   Pikiran mereka selalu terjaga terhadapnya;
9.   Mereka ajarkan apa yang belum pernah ia dengar;
10.   Mereka memperjelas apa yang telah ia dengar;
11.   Mereka menunjukkan jalan kehidupan ke surga.


Dalam enam cara ini para petapa dan brahmana memperlihatkan cinta-kasih
mereka kepada gharavasa.

Demikianlah arah atas melindungi mereka, dibuat aman dan terjamin."

Demikianlah sabda Sang Bhagava. Setelah Sang Bhagava bersabda demikian,
kemudian Beliau bersabda lagi:

"Ibu dan ayah adalah arah timur.
Dan guru-guru adalah arah selatan.
Isteri dan anak-anak arah barat.
Sahabat dan kerabat arah utara.
Pelayan dan buruh arah bawah
Dan arah atas adalah para petapa dan brahmana.
Orang yang menjalani kehidupan berkeluarga harus menghormati keenam arah
ini.

Orang yang bajik dan bijaksana,
Lemah lembut dan sungguh-sungguh
Rendah hati dan penurut,
Ia yang demikian akan memperoleh kehormatan.

Ia yang bersemangat dan tidak malas
Tidak tergoncang oleh kemalangan
Perilaku yang tidak tercela dan cerdas ,
Ia yang demikian akan memperoleh kehormatan.

Orang yang ramah dan bersahabat,
Terbuka dan tidak mementingkan diri sendiri,
Seorang penurut, penasihat, pemimpin,
Ia yang demikian akan memperoleh kehormatan.

Dermawan, ucapan yang ramah,
Hidup penuh pengabdian,
Berada di atas semua golongan.
Selama keadaan menghendakinya

Empat jalan kemenangan ini membuat dunia berputar seperti pisau pasak pada
kereta yang berjalan.

Jika hal ini ada di dunia, tiada seorang ibu maupun seorang ayan yagn akan
mendapat penghargaan dan penghormatan dari anak mereka sendiri.

Oleh karena empat jalan-kemenangan ini dipuji oleh para bijaksana dalam
berbagai cara; kemuliaan yang akan mereka capai dan pujian yang sudah
sepantasnya mereka peroleh"

Setelah Sang Bhagava bersabda demikian, Sigala, kepala keluarga yang muda
belia, berkata demikian:

"Indah, Bhagava, Indah!

Sang Bhagava, bagaikan seorang yang telah menegakkan apa yang telah roboh,
atau membuka apa yang tersembunyi atau menunjukkan jalan kepada yang telah
tersesat, atau membawa mampu ke tempat yang gelap sehingga mereka yang
mempunyai mata akan dapat melihat. Demikian juga, dhamma yang telah
dibabarkan dalam berbagai cara oleh Sang Bhagava.

Saya berlindung kepada Sang Bhagava, kepada Buddha, Dhamma dan Sangha.
Semoga Sang Bhagava menerima saya sebagai siswa, sebagai seorang yang telah
berlindung sejak hari ini sampai akhir hayat."



ikian juga, dhamma yang telah dibabarkan dalam berbagai cara oleh Sang
Bhagava.

Saya berlindung kepada Sang Bhagava, kepada Buddha, Dhamma dan Sangha.
Semoga Sang Bhagava menerima saya sebagai siswa, sebagai seorang yang telah
berlindung sejak hari ini sampai akhir hayat."
There is no place like 127.0.0.1

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.671
  • Reputasi: 102
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Sigalovada Sutta
« Reply #3 on: 31 July 2007, 10:15:25 AM »
apa menurut anda sigalovada masih relevan di jaman sekarang untuk dijadikan referensi kata per kata?

jaman sekarang posisi hubungan suami dengan istri sudah berubah banyak.
kebanyakan rumah tangga mempunyai dobel income, istri juga bekerja.

dan apakah sigalovada relevan di kondisi indonesia?
di indonesia budaya memelihara pertapa dan brahmana tidak ada, karena memang keberadaan mereka tidak banyak.
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.332
  • Reputasi: 415
  • Gender: Male
  • not self
Re: Sigalovada Sutta
« Reply #4 on: 31 July 2007, 10:45:06 AM »
Itu kan guideline masa lampau, tentu tidak bisa diambil bulat2x.

Harus dilihat apa makna dibalik itu.
1. Bagaimana sang buddha merubah cara berpikir/pandang tanpa merubah kebiasaan di sigalovada
2. menghormati mereka yang berharga dan berguna dengan menjalankan kewajiban kita masing-masing.

There is no place like 127.0.0.1

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.107
  • Reputasi: 133
Re: Sigalovada Sutta
« Reply #5 on: 31 July 2007, 11:57:05 AM »
apa menurut anda sigalovada masih relevan di jaman sekarang untuk dijadikan referensi kata per kata?

jaman sekarang posisi hubungan suami dengan istri sudah berubah banyak.
kebanyakan rumah tangga mempunyai dobel income, istri juga bekerja.

Menurut saya, masih, karena sifatnya umum, dan tidak ada kaitan dengan dobel income. Punya dobel income bukan berarti seorang istri tidak bisa pandai mengurus rumah tangga. Dan mengurus rumah tangga bukan hanya kerja di dapur menjadi upik abu. Memperhatikan anak, memilih warna gorden, dsb ini juga termasuk mengurus rumah tangga.

Punya dobel income juga bukan berarti seorang seorang suami tidak perlu memberikan perhiasan kepada istrinya sebagai tanda cintanya dan keperduliannya, meskipun sang istri memiliki penghasilan. Justru perlu sebagai tanda keperdulian dan cintanya.

Quote
dan apakah sigalovada relevan di kondisi indonesia?
di indonesia budaya memelihara pertapa dan brahmana tidak ada, karena memang keberadaan mereka tidak banyak.

Masih. Pertapa dan brahmana bisa dikatakan sebagai agamawan/rohaniwan. Indonesia memiliki beragam agama dan tentu saja agamawan/rohaniwan disebut dengan nama yang berbeda.
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.671
  • Reputasi: 102
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Sigalovada Sutta
« Reply #6 on: 31 July 2007, 01:19:25 PM »
Menurut saya, masih, karena sifatnya umum, dan tidak ada kaitan dengan dobel income. Punya dobel income bukan berarti seorang istri tidak bisa pandai mengurus rumah tangga. Dan mengurus rumah tangga bukan hanya kerja di dapur menjadi upik abu. Memperhatikan anak, memilih warna gorden, dsb ini juga termasuk mengurus rumah tangga.

Punya dobel income juga bukan berarti seorang seorang suami tidak perlu memberikan perhiasan kepada istrinya sebagai tanda cintanya dan keperduliannya, meskipun sang istri memiliki penghasilan. Justru perlu sebagai tanda keperdulian dan cintanya.
bukannya itu gak adil, bang?
bayangin kalo istri kerja, trus masih harus ngerjain pekerjaan rumah tangga, dsbnya.
bukankah bebannya jadi dobel?
buat cewek2, ati2 kalo mo dikawinin ama bang kelana ya, tuntutannya banyak hehehehe  :))


Masih. Pertapa dan brahmana bisa dikatakan sebagai agamawan/rohaniwan. Indonesia memiliki beragam agama dan tentu saja agamawan/rohaniwan disebut dengan nama yang berbeda.
tapi budaya miara agamawan itu gak ada di indonesia...
agamawan di indonesia hanya dibayar dengan respek, bukan dipiara (kecuali pendeta bethany yg sampe naek mercy berkat "kemurahan hati" umat).

itu tradisi yg udah ribuan taon di india dari budaya india mengenai brahmana dan pertapa...
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.671
  • Reputasi: 102
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Sigalovada Sutta
« Reply #7 on: 31 July 2007, 01:20:18 PM »
Itu kan guideline masa lampau, tentu tidak bisa diambil bulat2x.

Harus dilihat apa makna dibalik itu.
1. Bagaimana sang buddha merubah cara berpikir/pandang tanpa merubah kebiasaan di sigalovada
2. menghormati mereka yang berharga dan berguna dengan menjalankan kewajiban kita masing-masing.
owe setuju nih bang...
dasar udah pengalaman ^:)^ :))
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline langitbiru

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 547
  • Reputasi: 23
Re: Sigalovada Sutta
« Reply #8 on: 31 July 2007, 02:08:32 PM »
Quote
Dalam lima cara seorang isteri harus diperlakukan sebagai arah barat oleh
suaminya:
1.   Dengan perhatian;
2.   Dengan keramah-tamahan;
3.   Dengan kesetiaan;
4.   Dengan menyerahkan kekuasaan kepadanya;
5.   Dengan memberikan barang-barang perhiasan kepadanya.

gw rasa hubungan yg dianjurkan di sutta itu hubungan yg equal (kl diagama lain, gw baca ada keharusan istri untuk mengikuti kemauan suaminya). artinya hubunganyg begini bisa dimodifikasi sesuai dgn kebutuhan jaman. kl istrinya bekerja juga, tanggung jawab mengurus rumah tangga bisa saling dibagi.  :-?
oni... kao titi bobo... gigi...

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.671
  • Reputasi: 102
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Sigalovada Sutta
« Reply #9 on: 31 July 2007, 03:34:38 PM »
tuh, akhirnya ada ce yg buka suara :))
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.107
  • Reputasi: 133
Re: Sigalovada Sutta
« Reply #10 on: 31 July 2007, 05:19:51 PM »
bukannya itu gak adil, bang?
bayangin kalo istri kerja, trus masih harus ngerjain pekerjaan rumah tangga, dsbnya.
bukankah bebannya jadi dobel?
buat cewek2, ati2 kalo mo dikawinin ama bang kelana ya, tuntutannya banyak hehehehe  :))

:D Jangan salah paham, Sdr. Morp. Seperti yang saya sampaikan yang namanya pekerjaan rumah bukan hanya jadi upik abu, jadi bisa dipilih. Dan ini bukan masalah adil tidak adil, tapi itulah resiko yang harus diambil oleh istri yang bekerja. Harus ada yang mengurus pekerjaan rumah demi kebahagiaan keluarga khususnya anak. Nah, jika ada kasus tertentu dalam mengurus rumah tangga, peran istri bisa digantikan oleh suami, toh suami juga berperan sebagai ortu kan. Suami berperan menjadi istri bukan berarti pria jadi wanita loh. ^-^



Quote
tapi budaya miara agamawan itu gak ada di indonesia...
agamawan di indonesia hanya dibayar dengan respek, bukan dipiara (kecuali pendeta bethany yg sampe naek mercy berkat "kemurahan hati" umat).
itu tradisi yg udah ribuan taon di india dari budaya india mengenai brahmana dan pertapa...

Kok sampai pelihara segala?? :o
Saya tidak melihat bahwa yang ada dalam Sigalovada Sutta adalah memelihara agamawan.
« Last Edit: 31 July 2007, 05:22:39 PM by Kelana »
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.671
  • Reputasi: 102
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Sigalovada Sutta
« Reply #11 on: 01 August 2007, 10:34:06 AM »
:D Jangan salah paham, Sdr. Morp. Seperti yang saya sampaikan yang namanya pekerjaan rumah bukan hanya jadi upik abu, jadi bisa dipilih. Dan ini bukan masalah adil tidak adil, tapi itulah resiko yang harus diambil oleh istri yang bekerja. Harus ada yang mengurus pekerjaan rumah demi kebahagiaan keluarga khususnya anak. Nah, jika ada kasus tertentu dalam mengurus rumah tangga, peran istri bisa digantikan oleh suami, toh suami juga berperan sebagai ortu kan. Suami berperan menjadi istri bukan berarti pria jadi wanita loh. ^-^
jadi anda setuju pan, sigalovada sutta gak harus diturutin kata per kata?

jaman sekarang rasanya ok aja kalo istri gak pandai dan rajin ngerjain kerjaan rumah, bisa ditanggung bareng, atau pake pembantu atau pake robot: http://irobot.com/ ;D

jaman sekarang juga perhiasan mungkin udah gak terlalu 'in'. tas prada ama louis vitton lebih diminati ;D
tul gak? tul gak?

Kok sampai pelihara segala?? :o
Saya tidak melihat bahwa yang ada dalam Sigalovada Sutta adalah memelihara agamawan.
eh, bahasa saya kacau yah...
maksud saya miara itu ya dikasih penghidupan, ditanggung penghidupannya...
maksud saya, tradisi brahmacari kan adanya di india, gak ada di indonesia...
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.332
  • Reputasi: 415
  • Gender: Male
  • not self
Re: Sigalovada Sutta
« Reply #12 on: 01 August 2007, 10:48:40 AM »
Nanti ada tanggung jawab dan dan kewajiban robot juga :P *joke*
There is no place like 127.0.0.1

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.107
  • Reputasi: 133
Re: Sigalovada Sutta
« Reply #13 on: 01 August 2007, 11:47:50 AM »
jadi anda setuju pan, sigalovada sutta gak harus diturutin kata per kata?

jaman sekarang rasanya ok aja kalo istri gak pandai dan rajin ngerjain kerjaan rumah, bisa ditanggung bareng, atau pake pembantu atau pake robot: http://irobot.com/ ;D

jaman sekarang juga perhiasan mungkin udah gak terlalu 'in'. tas prada ama louis vitton lebih diminati ;D
tul gak? tul gak?

Pertanyaan Sdr. Morp kan : “apa menurut anda sigalovada masih relevan di jaman sekarang untuk dijadikan referensi kata per kata?”
Maka jawaban saya : masih, karena toh masih ada istri yang juga tidak bekerja di luar rumah.
Tapi kalau pertanyaannya: “apa sigalovada sutta gak harus diturutin kata per kata?”
Maka jawaban saya: yup, tidak HARUS diturutin kata per kata, dengan kata lain bisa ya diturutin kata per kata bisa juga tidak.

Tergantung ditekankan yang mana dalam pertanyaan tersebut.

Ah masa wanita tidak suka pakai perhiasan, misalnya anting. Perhiasan antinya luas loh, bisa anting, gelang, kalung, tusuk konde, cincin, body pierce, dll


Quote
eh, bahasa saya kacau yah...
maksud saya miara itu ya dikasih penghidupan, ditanggung penghidupannya...
maksud saya, tradisi brahmacari kan adanya di india, gak ada di indonesia...

Wah saya kurang tahu kalau ini. Mungkin sistem keagamaannya berbeda.
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: Sigalovada Sutta
« Reply #14 on: 01 August 2007, 12:42:30 PM »
jaman sekarang juga perhiasan mungkin udah gak terlalu 'in'. tas prada ama louis vitton lebih diminati ;D
tul gak? tul gak?

Ah masa wanita tidak suka pakai perhiasan, misalnya anting. Perhiasan antinya luas loh, bisa anting, gelang, kalung, tusuk konde, cincin, body pierce, dll

yup, sebenarnya perhiasan itu adalah benda yang digunakan untuk memperindah/mempercantik penampilan..... disini kita sebenarnya bisa memasukkan foam, jelly, mahkota, dan sebagainya

eh, bahasa saya kacau yah...
maksud saya miara itu ya dikasih penghidupan, ditanggung penghidupannya...
maksud saya, tradisi brahmacari kan adanya di india, gak ada di indonesia...

Wah saya kurang tahu kalau ini. Mungkin sistem keagamaannya berbeda.

loh, kalo ga ada yang nanggung, lalu vihara bisa jalan darimana????  #-o