
Pernah membaca buku 'Ensiklopedia Kelirumologi' atau 'Kaleidoskopi Kelirumologi'? Kata kelirumologi pertama kali saya kenal dari buku yang ditulis oleh Jaya Suprana tersebut. Kelirumologi merupakan 'ilmu' (logos) yang mencari (bukan membuat) kekeliruan selama ini. Tiba-tiba terlintas di ide saya untuk membuat Kelirumologi ala buddhis juga dengan mengadopsi gaya penyajian buku 'Ensiklopedia Kelirumologi' yang nakal-nakal sedikit. Berikut kekeliruan yang berhasil saya temukan:
NB: yang keliru bukan Agama Buddha, tapi tindakan manusianya yang keliru.
1. SaṅghaKata
Saṅgha merupakan salah satu kata dalam teks buddhisme yang paling sering salah dilafalkan. Alih-alih melafalkannya dengan benar sebagai ‘sang-gha’, orang awam lebih sering melafalkannya dengan ‘sang-ha’. Parahnya tidak hanya umat awam yang sering salah dalam melafalkan
Saṅgha, tapi beberapa tokoh buddhis pun masih sering salah melafalkannya! Untuk mengingatkan pembaca akan cara lafal yang benar ini, belakangan ini beberapa penerbit buku-buku buddhis mengubah tulisan
Saṅgha menjadi
Saṃgha. Semoga tidak disalahlafalkan juga menjadi ‘sam-gha’.
2. Tuhan Yang Maha EsaBanyak yang mempermasalahkan bahwa Agama Buddha adalah agama yang atheis karena tidak meyakini Tuhan, terutama yang mengatakan bahwa Agama Buddha tidak layak menjadi agama yang diizinkan untuk dianut di Indonesia karena dianggap sudah melanggar sila pertama dalam Pancasila Negara. Padahal mereka perlu menyadari, bahwa dalam sila pertama Pancasila Negara tertulis: ”Ketuhanan Yang Maha Esa” bukan ”Tuhan Yang Maha Esa”. Jadi bukan berarti semua agama di Indonesia harus meyakini Tuhan,
donk.
3. UdanaMerasa kenal dengan kutipan di bawah ini:
"Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu."?Kutipan tersebut berasal dari Kitab Udana VIII:3, salah satu kitab dalam Tipitaka. Benar sekali jika anda mengatakan bahwa tulisan di atas adalah kutipan Tipitaka yang diadopsi menjadi konsep ketuhanan dalam Agama Buddha di Indonesia. Namun ternyata kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa itu adalah konsep ketuhanan dalam Agama Buddha tanpa mengetahui apa yang sebenarnya dibahas dalam ayat tersebut. Tahukah sebenarnya apa yang dibahas dalam kutipan tersebut? Tidak lain dan tidak bukan adalah tujuan dari Agama Buddha, Nibbana.
4. PatungSalah satu cibiran keras dari orang-orang yang belum mengerti ajaran Buddha yaitu mengatakan bahwa Agama Buddha adalah agama berhala, karena menuhankan patung. Padahal jelas-jelas semasa hidupnya, Buddha Gotama tidak pernah mengajarkan untuk memohon rezeki di depan patung! Lagipula, tujuan dibuatnya patung Buddha juga bukan untuk dituhankan! Awalnya fungsi patung Buddha tidak jauh fungsinya dengan patung pahlawan atau bendera pusaka negara kita, yaitu untuk direnungi nilai-nilai luhurnya dan sebagai tanda penghormatan. Namun seiring dengan bertambahnya kegelapan batin manusia, patung Buddha malah dijadikan objek permintaan berkah,
duh!
---
Demikian kekeliruan yang saya himpun barusan, bukannya bermaksud sok pintar, tapi saya hanya ingin share hal-hal yang saya ketahui (walaupun saya yakin nyaris 99% user DC pasti sudah tahu hal-hal di atas). Saya juga yakin kalau senior-senior di sini pasti mengetahui beberapa kekeliruan yang dilakukan oleh umat buddha (secara umum) juga, silakan di share disini
