Sepertinya anda belum terdaftar di forum komunitas DhammaCitta. Untuk mendaftar silahkan klik disini ...

apollonian
URL pendek: http://dhct.ws/f14420.90 | Berbagi di Twitter

Author Topic: Kelirumologi ala Buddhis  (Read 7218 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Mr. Wei

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 120
  • -Receive: 126
  • Posts: 3.028
  • Reputasi: 97
  • Gender: Male
Kelirumologi ala Buddhis
« on: 06 January 2010, 02:01:00 AM »
 _/\_

Pernah membaca buku 'Ensiklopedia Kelirumologi' atau 'Kaleidoskopi Kelirumologi'? Kata kelirumologi pertama kali saya kenal dari buku yang ditulis oleh Jaya Suprana tersebut. Kelirumologi merupakan 'ilmu' (logos) yang mencari (bukan membuat) kekeliruan selama ini. Tiba-tiba terlintas di ide saya untuk membuat Kelirumologi ala buddhis juga dengan mengadopsi gaya penyajian buku 'Ensiklopedia Kelirumologi' yang nakal-nakal sedikit. Berikut kekeliruan yang berhasil saya temukan:

NB: yang keliru bukan Agama Buddha, tapi tindakan manusianya yang keliru. ;D

1. Saṅgha
Kata Saṅgha merupakan salah satu kata dalam teks buddhisme yang paling sering salah dilafalkan. Alih-alih melafalkannya dengan benar sebagai ‘sang-gha’, orang awam lebih sering melafalkannya dengan ‘sang-ha’. Parahnya tidak hanya umat awam yang sering salah dalam melafalkan Saṅgha, tapi beberapa tokoh buddhis pun masih sering salah melafalkannya! Untuk mengingatkan pembaca akan cara lafal yang benar ini, belakangan ini beberapa penerbit buku-buku buddhis mengubah tulisan Saṅgha menjadi Saṃgha. Semoga tidak disalahlafalkan juga menjadi ‘sam-gha’.

2. Tuhan Yang Maha Esa

Banyak yang mempermasalahkan bahwa Agama Buddha adalah agama yang atheis karena tidak meyakini Tuhan, terutama yang mengatakan bahwa Agama Buddha tidak layak menjadi agama yang diizinkan untuk dianut di Indonesia karena dianggap sudah melanggar sila pertama dalam Pancasila Negara. Padahal mereka perlu menyadari, bahwa dalam sila pertama Pancasila Negara tertulis: ”Ketuhanan Yang Maha Esa” bukan ”Tuhan Yang Maha Esa”. Jadi bukan berarti semua agama di Indonesia harus meyakini Tuhan, donk.

3. Udana
Merasa kenal dengan kutipan di bawah ini:

"Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu."?

Kutipan tersebut berasal dari Kitab Udana VIII:3, salah satu kitab dalam Tipitaka. Benar sekali jika anda mengatakan bahwa tulisan di atas adalah kutipan Tipitaka yang diadopsi menjadi konsep ketuhanan dalam Agama Buddha di Indonesia. Namun ternyata kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa itu adalah konsep ketuhanan dalam Agama Buddha tanpa mengetahui apa yang sebenarnya dibahas dalam ayat tersebut. Tahukah sebenarnya apa yang dibahas dalam kutipan tersebut? Tidak lain dan tidak bukan adalah tujuan dari Agama Buddha, Nibbana.

4. Patung
Salah satu cibiran keras dari orang-orang yang belum mengerti ajaran Buddha yaitu mengatakan bahwa Agama Buddha adalah agama berhala, karena menuhankan patung. Padahal jelas-jelas semasa hidupnya, Buddha Gotama tidak pernah mengajarkan untuk memohon rezeki di depan patung! Lagipula, tujuan dibuatnya patung Buddha juga bukan untuk dituhankan! Awalnya fungsi patung Buddha tidak jauh fungsinya dengan patung pahlawan atau bendera pusaka negara kita, yaitu untuk direnungi nilai-nilai luhurnya dan sebagai tanda penghormatan. Namun seiring dengan bertambahnya kegelapan batin manusia, patung Buddha malah dijadikan objek permintaan berkah, duh!

---

Demikian kekeliruan yang saya himpun barusan, bukannya bermaksud sok pintar, tapi saya hanya ingin share hal-hal yang saya ketahui (walaupun saya yakin nyaris 99% user DC pasti sudah tahu hal-hal di atas). Saya juga yakin kalau senior-senior di sini pasti mengetahui beberapa kekeliruan yang dilakukan oleh umat buddha (secara umum) juga, silakan di share disini  _/\_

« Last Edit: 06 January 2010, 02:15:38 AM by Mr. Wei »

 

Offline Mr. Wei

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 120
  • -Receive: 126
  • Posts: 3.028
  • Reputasi: 97
  • Gender: Male
Re: Kelirumologi ala Buddhis
« Reply #91 on: 26 January 2010, 08:20:43 PM »
nanti mr wei + upasaka bisa siapkan section kelirumologi buddhis di modul baru nih.
tapi topik yg di angkat mr.wei senstif2 lho om..
Contohnya mslh maitreya,dan aye lg request topik LSY ama si Wei ;D

*siap2 bentuk team penanggung jawab ^-^ buat ngadapin UU ITE ;D


Ntar tinggal ngumpulin koin lagi ;D

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 248
  • -Receive: 91
  • Posts: 4.206
  • Reputasi: -11
  • Gender: Male
Re: Kelirumologi ala Buddhis
« Reply #92 on: 08 February 2010, 10:00:42 PM »
boleh tidak kalau saya kutip untuk kesejahteraan banyak makhluk?

Anumodana _/\_
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Indra

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 754
  • -Receive: 2090
  • Posts: 10.961
  • Reputasi: 327
  • Gender: Male
Re: Kelirumologi ala Buddhis
« Reply #93 on: 08 February 2010, 10:11:54 PM »
Riky, semua materi yg ada di DC boleh dikutip tanpa harus minta izin

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 248
  • -Receive: 91
  • Posts: 4.206
  • Reputasi: -11
  • Gender: Male
Re: Kelirumologi ala Buddhis
« Reply #94 on: 08 February 2010, 10:16:33 PM »
Riky, semua materi yg ada di DC boleh dikutip tanpa harus minta izin

wow...Anumodana sebesar2nya ko.. _/\_

[Masih butuh banyak bimbingan dari Ko Indra.. :)]
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 152
  • -Receive: 353
  • Posts: 1.710
  • Reputasi: 100
Re: Kelirumologi ala Buddhis
« Reply #95 on: 08 February 2010, 10:40:03 PM »
Tanya:     
Kelirumologi ala Buddhis ini referensinya apa, ya ?
Jika tidak ada referensi yang tepat maka semua orang bisa menafsirkan beda-beda. Bahkan nanti malah kelirumologi ala Buddhis menjadi kelirumologi ala Buddhis yang keliru.  ;D
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 248
  • -Receive: 91
  • Posts: 4.206
  • Reputasi: -11
  • Gender: Male
Re: Kelirumologi ala Buddhis
« Reply #96 on: 09 February 2010, 07:43:38 PM »
Tanya:     
Kelirumologi ala Buddhis ini referensinya apa, ya ?
Jika tidak ada referensi yang tepat maka semua orang bisa menafsirkan beda-beda. Bahkan nanti malah kelirumologi ala Buddhis menjadi kelirumologi ala Buddhis yang keliru.  ;D


haha..tapi kan beberapa itu ada referensinya?maksudnya seperti kata awalnya kan "kelirumologi" bukan "membuat" kesalahan,tapi "mencari" kesalahan yang ada..kalau memang kurang tepat atau ada yang keliru..Mohon koreksinya,biar kita semua paham.. _/\_
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Mr. Wei

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 120
  • -Receive: 126
  • Posts: 3.028
  • Reputasi: 97
  • Gender: Male
Re: Kelirumologi ala Buddhis
« Reply #97 on: 09 February 2010, 08:45:45 PM »
boleh tidak kalau saya kutip untuk kesejahteraan banyak makhluk?

Anumodana _/\_

Riky, semua materi yg ada di DC boleh dikutip tanpa harus minta izin

Terwakili oleh Bang Indra ;D

Tanya:     
Kelirumologi ala Buddhis ini referensinya apa, ya ?
Jika tidak ada referensi yang tepat maka semua orang bisa menafsirkan beda-beda. Bahkan nanti malah kelirumologi ala Buddhis menjadi kelirumologi ala Buddhis yang keliru.  ;D

Tanya:     
Kelirumologi ala Buddhis ini referensinya apa, ya ?
Jika tidak ada referensi yang tepat maka semua orang bisa menafsirkan beda-beda. Bahkan nanti malah kelirumologi ala Buddhis menjadi kelirumologi ala Buddhis yang keliru.  ;D


haha..tapi kan beberapa itu ada referensinya?maksudnya seperti kata awalnya kan "kelirumologi" bukan "membuat" kesalahan,tapi "mencari" kesalahan yang ada..kalau memang kurang tepat atau ada yang keliru..Mohon koreksinya,biar kita semua paham.. _/\_

Terwakili oleh Bang Riky :)

Offline dewi_go

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 136
  • -Receive: 621
  • Posts: 1.849
  • Reputasi: 67
  • Gender: Female
Re: Kelirumologi ala Buddhis
« Reply #98 on: 09 February 2010, 08:53:24 PM »
Kalo tantang falun gong saya bisa menjelaskan sedikit, dulu saya pernah ikut dalam senam taichi mereka, kalo hanya sebatas senam mungkin baik bagi tubuh. tapi yang saya tidak suka dibuku Zhuan falunny ada Teks yang menyebutkan shifuny LiHongZhe punya kekuatan yang lebih tinggi dari Sang Buddha lho, dia bilang dia sudah menciptakan dunia yang jauh lebih tinggi daripada Buddha, dunia Buddha letaknya kauh dari tempat yang sudah saya ciptakan, begitu kira2 yang saya ingat ada kata2 tsb dalam buku zhuan falunny.
Mengapa aliran ini ditentang di tiongkok, semua praktisi ditangkap dan di siksa say juga kurang tau yang sebenarny apakah benar terjadi atau hanya rekayasa pihak tertentu saja.
Tapi yang saya tidak habis pikir shifuny ada aman2 saja di amerika sedangkan para praktisiny tertindas.
Sweet things are easy 2 buy,
but sweet people are difficult to find.
Life ends when u stop dreaming, hope ends when u stop believing,
Love ends when u stop caring,
Friendship ends when u stop sharing.
So share this with whom ever u consider a friend.
To love without condition... ......... .........

Offline Mr. Wei

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 120
  • -Receive: 126
  • Posts: 3.028
  • Reputasi: 97
  • Gender: Male
Re: Kelirumologi ala Buddhis
« Reply #99 on: 09 February 2010, 08:56:17 PM »
Dan ironisnya, buku Zhuan Fa Lun dijual bebas di toko-toko buku, termasuk Gr*media.

Offline dewi_go

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 136
  • -Receive: 621
  • Posts: 1.849
  • Reputasi: 67
  • Gender: Female
Re: Kelirumologi ala Buddhis
« Reply #100 on: 09 February 2010, 09:06:38 PM »
ya justru itu yang tidak mengerti selalu menganggap itu hanya senam tubuh biasa tapi kalo udah dipahami .. gawat lho, beruntung saya masih punya karma baik yang bisa melindungiku dari kesesatan :)
Sweet things are easy 2 buy,
but sweet people are difficult to find.
Life ends when u stop dreaming, hope ends when u stop believing,
Love ends when u stop caring,
Friendship ends when u stop sharing.
So share this with whom ever u consider a friend.
To love without condition... ......... .........

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 152
  • -Receive: 353
  • Posts: 1.710
  • Reputasi: 100
Re: Kelirumologi ala Buddhis
« Reply #101 on: 09 February 2010, 10:02:02 PM »
haha..tapi kan beberapa itu ada referensinya?maksudnya seperti kata awalnya kan "kelirumologi" bukan "membuat" kesalahan,tapi "mencari" kesalahan yang ada..kalau memang kurang tepat atau ada yang keliru..Mohon koreksinya,biar kita semua paham.. _/\_

Dari pandangan saya, tujuan dari topik "kelirumologi", yaitu mengarsipkan/mendaftar kekeliruan yang beredar di masyarakat. Tapi adalah hal yang lucu dan tidak bermanfaat jika "kelirumologi" ini hanya mengarsipkan/mendaftar kekeliruan yang ada tanpa perbaikan dari kekeliruan tersebut. Misalnya kita hanya mendaftar : di masyarakat ada pandangan bahwa umat Buddha menyembah patung. (titik). Tanpa adanya perbaikan dari pandangan keliru ini, apa manfaatnya? Nah, Sdr. Wei dalam topik ini saya anggap sudah membuat daftar kekeliruan dan juga sudah memberikan perbaikan/pembetulan dari apa yang keliru. (saya tidak tahu apa Sdr. Wei pribadi menyadari atau tidak bahwa ia sudah melakukan perbaikan dari beragam kekeliruan)

Yang menjadi pertanyaan saya apa referensinya, apa pakem atau acuan dari perbaikan/pembetulan dari kekeliruan ini? Contoh, mengenai pelafalan kata Saṅgha yang keliru oleh beberapa umat. Ketika  Sdr. Wei mengatakan: "Alih-alih melafalkannya dengan benar sebagai ‘sang-gha’ , orang awam lebih sering melafalkannya dengan ‘sang-ha’. " Ini (yang di bold) berarti ada usaha memberikan pembetulan dari suatu kekeliruan. Lalu apa acuan,referensinya yang diambil oleh Sdr. Wei. sehinga mengatakan ‘sang-gha’ adalah pelafalan yang benar? Pasti ada sumbernya, apakah dari kamus, dari pembicaraan dengan bhante, atau dari pengalaman pribadi, dst. Dan seberapa besar kesaihan dari referensi, pakem, acuan tersebut ? Tanpa landasan yang kuat, maka akan banyak tafsir, tidak mudah untuk dipercaya (jika untuk dijadikan sebuah buku), mengundang debat kusir, dsb. Hal-hal ini sudah saya lihat tanda-tandanya ketika berbicara mengenai jimat. Yang saya khawatirkan adalah munculnya pandangan-pandangan pribadi sebagai pembetulan dari kekeliruan yang ada. Jika pandangan pribadi itu mendekat pada Dhamma, tapi kalau menjauhi Dhamma?? Kecuali memang topik "kelirumologi" bertujuan juga untuk mengumpulkan pendangan-pandangan pribadi, akan lain lagi ceritanya.

Demikian.  _/\_
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline Indra

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 754
  • -Receive: 2090
  • Posts: 10.961
  • Reputasi: 327
  • Gender: Male
Re: Kelirumologi ala Buddhis
« Reply #102 on: 09 February 2010, 10:15:26 PM »
Setuju dengan Bro Kelana, kalau thread ini direncanakan akan dipublikasikan dalam bentuk ebook/printed book, sebaiknya disertakan sumber yg valid

Offline Mr. Wei

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 120
  • -Receive: 126
  • Posts: 3.028
  • Reputasi: 97
  • Gender: Male
Re: Kelirumologi ala Buddhis
« Reply #103 on: 09 February 2010, 10:19:17 PM »
haha..tapi kan beberapa itu ada referensinya?maksudnya seperti kata awalnya kan "kelirumologi" bukan "membuat" kesalahan,tapi "mencari" kesalahan yang ada..kalau memang kurang tepat atau ada yang keliru..Mohon koreksinya,biar kita semua paham.. _/\_

Dari pandangan saya, tujuan dari topik "kelirumologi", yaitu mengarsipkan/mendaftar kekeliruan yang beredar di masyarakat. Tapi adalah hal yang lucu dan tidak bermanfaat jika "kelirumologi" ini hanya mengarsipkan/mendaftar kekeliruan yang ada tanpa perbaikan dari kekeliruan tersebut. Misalnya kita hanya mendaftar : di masyarakat ada pandangan bahwa umat Buddha menyembah patung. (titik). Tanpa adanya perbaikan dari pandangan keliru ini, apa manfaatnya? Nah, Sdr. Wei dalam topik ini saya anggap sudah membuat daftar kekeliruan dan juga sudah memberikan perbaikan/pembetulan dari apa yang keliru. (saya tidak tahu apa Sdr. Wei pribadi menyadari atau tidak bahwa ia sudah melakukan perbaikan dari beragam kekeliruan)

_/\_

Quote
Yang menjadi pertanyaan saya apa referensinya, apa pakem atau acuan dari perbaikan/pembetulan dari kekeliruan ini? Contoh, mengenai pelafalan kata Saṅgha yang keliru oleh beberapa umat. Ketika  Sdr. Wei mengatakan: "Alih-alih melafalkannya dengan benar sebagai ‘sang-gha’ , orang awam lebih sering melafalkannya dengan ‘sang-ha’. " Ini (yang di bold) berarti ada usaha memberikan pembetulan dari suatu kekeliruan. Lalu apa acuan,referensinya yang diambil oleh Sdr. Wei. sehinga mengatakan ‘sang-gha’ adalah pelafalan yang benar? Pasti ada sumbernya, apakah dari kamus, dari pembicaraan dengan bhante, atau dari pengalaman pribadi, dst. Dan seberapa besar kesaihan dari referensi, pakem, acuan tersebut ? Tanpa landasan yang kuat, maka akan banyak tafsir, tidak mudah untuk dipercaya (jika untuk dijadikan sebuah buku), mengundang debat kusir, dsb. Hal-hal ini sudah saya lihat tanda-tandanya ketika berbicara mengenai jimat. Yang saya khawatirkan adalah munculnya pandangan-pandangan pribadi sebagai pembetulan dari kekeliruan yang ada. Jika pandangan pribadi itu mendekat pada Dhamma, tapi kalau menjauhi Dhamma?? Kecuali memang topik "kelirumologi" bertujuan juga untuk mengumpulkan pendangan-pandangan pribadi, akan lain lagi ceritanya.

Demikian.  _/\_

Hmmm... kalau untuk pelafalan Sangha memang sudah dituliskan di halaman depan beberapa buku paritta bahwa n dengan titik di atasnya dibaca ng. Untuk jimat memang tidak ada referensi. Saya tidak bermaksud membuat kelirumologi dengan bersumber pandangan pribadi, walaupun tidak saya sanggahi jika beberapa artikel di sini memang bersumber dari pandangan pribadi.

Untuk ke depannya akan saya usahakan menggunakan referensi, thanx atas masukannya :)

Offline Mr.Jhonz

  • Sebelumnya: Chikennn
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 355
  • -Receive: 230
  • Posts: 2.835
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
  • simple life
Re: Kelirumologi ala Buddhis
« Reply #104 on: 19 March 2010, 10:52:25 PM »
Btw,
Request soal "karma" dunk..
Soalnya masyarakat umum sering mempresesikan karma sebgai nasib buruk,cth:kalo kena lemparan batu pasti di bilang kena karma,coba kalo kena undian lotree,ga ada yg bilang karma..:hammer:

Btw,project kelirumologi udah kelar blom?? Si wei menghilang.. :'(
buddha; "berjuanglah dengan tekun dan perhatian murni"

Offline kusalaputto

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 137
  • -Receive: 119
  • Posts: 1.285
  • Reputasi: 30
  • Gender: Male
Re: Kelirumologi ala Buddhis
« Reply #105 on: 20 March 2010, 02:17:14 PM »
Btw,
Request soal "karma" dunk..
Soalnya masyarakat umum sering mempresesikan karma sebgai nasib buruk,cth:kalo kena lemparan batu pasti di bilang kena karma,coba kalo kena undian lotree,ga ada yg bilang karma..:hammer:

Btw,project kelirumologi udah kelar blom?? Si wei menghilang.. :'(
sebenernya ini mind set yg terjadi & beredar di masyarakat bahwa mereka tidak tahu ada kamma baik nah dah jadi tugas kita untuk merubah mind set ini

 

Related Topics

  Subject / Started by Replies Last post
129 Replies
19795 Views
Last post 25 February 2010, 09:47:30 PM
by wiithink
Kaos Buddhis

Started by Forte « 1 2 3 4 5  All » Kaki Lima

61 Replies
7772 Views
Last post 10 January 2012, 11:53:33 PM
by mudika
51 Replies
6042 Views
Last post 16 May 2008, 08:00:12 PM
by Riky_dave
4 Replies
882 Views
Last post 09 February 2009, 01:39:03 PM
by sobat-dharma
2 Replies
551 Views
Last post 06 October 2010, 10:34:28 AM
by Elin
7 Replies
686 Views
Last post 22 November 2010, 09:59:42 AM
by morpheus
39 Replies
1616 Views
Last post 26 December 2010, 10:18:25 AM
by pannadevi