topic short url: http://dhct.ws/f8769

Author Topic: Mitos Gunung Kawi dan Komodifikasi Budaya  (Read 3241 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
Mitos Gunung Kawi dan Komodifikasi Budaya
« on: 05 February 2009, 10:15:32 AM »
Penulis: Rm DanarDono
Pengamat Kebudayaan jawa

Pesarean Gunung Kawi

Hampir setiap kali penyelenggaraan diklat mata pelajaran sosiologi
dan antropologi di PPPPTK PKn dan IPS Malang, Gunung Kawi selalu
menjadi tempat bagi para peserta diklat untuk mengadakan Praktik
Penelitian Lapangan (PPL). Tujuannya adalah menggali data dan
keterangan tentang sebuah fenomena dan fakta sosial, sekaligus mitos
bahwa Gunung Kawi merupakan tempat untuk mencari kekayaan dalam
dimensi spiritual.

Gunung Kawi terletak pada ketinggian 2.860 meter dari permukaan laut,
terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur, tepatnya di Kecamatan
Wonosari, sekitar 40 km sebelah barat Kota Malang. Dulu daerah ini
disebut Ngajum. Namanya berubah menjadi Wonosari karena di tempat ini
terdapat obyek wisata spiritual. Wono diartikan sebagai hutan,
sedangkan Sari berarti inti. Namun bagi warga setempat, Wonosari
dimaksudkan sebagai pusat atau tempat yang mendatangkan rezeki.
Kecamatan Wonosari memiliki luas hampir 67 kilometer persegi, dengan
jumlah penduduk 43 ribu jiwa. Tempat ini berkembang menjadi daerah
tujuan wisata ziarah sejak tahun 1980-an.

Sebenarnya bukanlah Gunung Kawi-nya yang membuat tempat ini terkenal,
tetapi adanya sebuah kompleks pemakaman di lereng selatan yang
dikeramatkan, yaitu makam Eyang Kyai Zakaria alias Eyang Jugo, dan
Raden Mas Imam Sujono, alias Eyang Sujo. Penduduk setempat menyebut
area pemakaman tersebut dengan nama "Pesarean Gunung Kawi". Pesarean
yang terletak di ketinggian sekitar 800 m ini walaupun berada di
lereng gunung, namun mudah dijangkau, karena selain jalannya bagus,
banyak angkutan umum yang menuju ke sana. Dari terminal Desa
Wonosari, perjalanan diteruskan dengan berjalan mendaki menyusuri
jalan bertangga semen yang berjarak kira-kira 750 m. Sepanjang
perjalanan mendaki ini dapat dijumpai restoran, hotel, kios souvenir
dan lapak-lapak yang menjual perlengkapan ritual. Setelah melewati
beberapa gerbang, di ujung jalan didapati sebuah gapura, pintu masuk
makam keramat. Makam yang menjadi pusat dari kompleks Pesarean Gunung
Kawi. Makam yang menjadi magnet untuk menarik puluhan ribu orang
datang setiap tahunnya.


Mitos Pesugihan

Gunung Kawi memang dikenal sebagai tempat untuk mencari kekayaan
(pesugihan). Konon, barang siapa melakukan ritual dengan rasa
kepasrahan dan pengharapan yang tinggi maka akan terkabul
permintaanya, terutama menyangkut tentang kekayaan.

Mitos ini diyakini banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah
merasakan "berkah" berziarah ke Gunung Kawi. Namun bagi kalangan
rasionalis-positivis, hal ini merupakan isapan jempol belaka.

<!--[if gte vml 1]> <![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]-->Mitos
dalam bahasa sehari-hari diartikan sebagai cerita bohong, kepalsuan,
dan hal-hal yang berbau dongeng (tahayul). Dalam bahasa Inggris, myth
yang mengadopsi bahasa Latin mythus berarti penuturan khayali belaka.
Antropolog memandang mitos sebagai sesuatu yang diperlukan manusia
untuk menjelaskan alam lingkungan di sekitarnya, dan juga sejarah
masa lampaunya. Dalam hal ini, mitos dianggap sebagai semacam
pelukisan atas kenyataan dalam bentuk yang disederhanakan sehingga
dipahami oleh awam (Ruslani, 2006: 5). Namun mitos, bagi kalangan
penganut strukturalisme-fungsional juga dianggap penting karena
berfungsi sebagai penyedia rasa makna hidup yang membuat orang yang
bersangkutan tidak menjadi sia-sia hidupnya. Perasaan bahwa hidup ini
berguna dan bertujuan lebih tinggi daripada pengalaman keseharian
merupakan unsur penting dalam kebahagiaan.

Biasanya lonjakan masyarakat yang melakukan ritual terjadi pada hari
Jumat Legi ( hari pemakaman Eyang Jugo) dan tanggal 12 bulan Suro
(memperingati wafatnya Eyang Sujo). Ritual dilakukan dengan
meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam,
berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan.

Di dalam bangunan makam, pengunjung tidak boleh memikirkan sesuatu
yang tidak baik serta disarankan untuk mandi keramas sebelum berdoa
di depan makam. Hal ini menunjukkan simbol bahwa pengunjung harus
suci lahir dan batin sebelum berdoa.

Selain pesarean sebagai fokus utama tujuan para pengunjung, terdapat
tempat-tempat lain yang dikunjungi karena 'dikeramatkan' dan
dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk mendatangakan keberuntungan,
antara lain:

1. Rumah Padepokan Eyang Sujo

Rumah padepokan ini semula dikuasakan kepada pengikut terdekat Eyang
Sujo yang bernama Ki Maridun. Di tempat ini terdapat berbagai
peninggalan yang dikeramatkan milik Eyang Sujo, antara lain adalah
bantal dan guling yang berbahan batang pohon kelapa, serta tombak
pusaka semasa perang Diponegoro.

2. Guci Kuno

Dua buah guci kuno merupakan peninggalan Eyang Jugo. Pada jaman dulu
guci kuno ini dipakai untuk menyimpan air suci untuk pengobatan.
Masyarakat sering menyebutnya dengan nama 'janjam'. Mungkin ingin
menganalogkan dengan air zamzam dari Padang Arafah yang memiliki
aneka khasiat. Guci kuno ini sekarang diletakkan di samping kiri
pesarean. Masyarakat meyakini bahwa dengan meminum air dari guci ini
akan membikin seseorang menjadi awet muda.

3. Pohon Dewandaru

Di area pesarean, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan
keberuntungan. Pohon ini disebut pohon dewandaru, pohon kesabaran.
Pohon yang termasuk jenis cereme Belanda ini oleh orang Tionghoa
disebut sebagai shian-to atau pohon dewa. Eyang Jugo dan Eyang Sujo
menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman. Untuk
mendapat 'simbol perantara kekayaan', para peziarah menunggu dahan,
buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka
langsung berebut. Untuk memanfaatkannya sebagai azimat, biasanya daun
itu dibungkus dengan selembar uang kemudian disimpan ke dalam dompet.
Namun, untuk mendapatkan daun dan buah dewandaru diperlukan
kesabaran. Hitungannya bukan hanya, jam, bisa berhari-hari, bahkan
berbulan-bulan. Bila harapan mereka terkabul, para peziarah akan
datang lagi ke tempat ini untuk melakukan syukuran.

Pejuang Diponegoro

Siapakah sesungguhnya Eyang Jugo dan Eyang Sujo, yang dimakamkan
dalam satu liang lahat di pesarean Gunung Kawi ini? Menurut
Soeryowidagdo (1989), Eyang Jugo atau Kyai Zakaria II dan Eyang Sujo
atau Raden Mas Iman Sudjono adalah bhayangkara terdekat Pangeran
Diponegoro. Pada tahun 1830 saat perjuangan terpecah belah oleh
siasat kompeni, dan Pangeran Diponegoro tertangkap kemudian
diasingkan ke Makasar, Eyang Jugo dan Eyang Sujo mengasingkan diri ke
wilayah Gunung Kawi ini.

Semenjak itu mereka berdua tidak lagi berjuang dengan mengangkat
senjata, tetapi mengubah perjuangan melalui pendidikan. Kedua mantan
bhayangkara balatentara Pangeran Diponegoro ini, selain berdakwah
agama islam dan mengajarkan ajaran moral kejawen, juga mengajarkan
cara bercocok tanam, pengobatan, olah kanuragan serta ketrampilan
lain yang berguna bagi penduduk setempat. Perbuatan dan karya mereka
sangat dihargai oleh penduduk di daerah tersebut, sehingga banyak
masyarakat dari daerah kabupaten Malang dan Blitar datang ke
padepokan mereka untuk menjadi murid atau pengikutnya.

Setelah Eyang Jugo meninggal tahun 1871, dan menyusul Eyang Iman Sujo
tahun 1876, para murid dan pengikutnya tetap menghormatinya. Setiap
tahun, para keturunan, pengikut dan juga para peziarah lain datang ke
makam mereka melakukan peringatan. Setiap malam Jumat Legi, malam
meninggalnya Eyang Jugo, dan juga peringatan wafatnya Eyang Sujo
setiap tanggal 1 bulan Suro (muharram), di tempat ini selalu diadakan
perayaan tahlil akbar dan upacara ritual lainnya. Upacara ini
biasanya dipimpin oleh juru kunci makam yang masih merupakan para
keturunan Eyang Sujo.

Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya
membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Namun
para peziarah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji,
semakin banyak berkah yang akan didapat. Untuk masuk ke makam
keramat, para peziarah bersikap seperti hendak menghadap raja, mereka
berjalan dengan lutut.

Hingga dewasa ini pesarean tersebut telah banyak dikunjungi oleh
berbagai kalangan dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka bukan saja
berasal dari daerah Malang, Surabaya, atau daerah lain yang
berdekatan dengan lokasi pesarean, tetapi juga dari berbagai penjuru
tanah air. Heterogenitas pengunjung seperti ini mengindikasikan bahwa
sosok kedua tokoh ini adalah tokoh yang kharismatik dan populis.

Namun di sisi lain, motif para pengunjung yang datang ke pesarean ini
pun sangat beragam pula. Ada yang hanya sekedar berwisata, mendoakan
leluhur, melakukan penelitian ilmiah, dan yang paling umum adalah
kunjungan ziarah untuk memanjatkan doa agar keinginan lekas terkabul.


Ritual dalam Komodifikasi Budaya

Pada setiap malam Satu Suro (Muharram), area Pesarean Gunung Kawi
dikunjungi oleh ribuan orang peziarah dari berbagai kota dan daerah
telah berdatangan sejak sore hari. Mereka memenuhi penginapan-
penginapan yang memang banyak terdapat di daerah sekitar pesarean
(makam). Sambil beristirahat, mereka menunggu saat datangnya tengah
malam di mana berbagai upacara ritual akan diselenggarakan. Para
pedagang bunga, kemenyan, lilin, hio (dupa) dan perlengkapan sesaji
lainnya sibuk melayani para peziarah. Sementara itu beberapa ibu-ibu
menggoreng ratusan ekor ayam utuh yang dipesan para peziarah untuk
upacara sesaji malam harinya.

Seiring dengan itu pada keesokan harinya diadakan kirab sesaji dan
pembakaran patung simbol sangkala (Bathara Kala). Bencana yang terus
menerus melanda bumi Indonesia membuat masyarakat prihatin. Sikap
prihatin inipun diungkapkan dalam prosesi kirab sesaji di pesarean
Eyang Jugo dan Eyang Sujo melalui upacara pembakaran patung sangkala
atau ogoh-ogoh. Patung sangkala atau ogoh-ogoh, dikenal sebagai
simbol keangkaramurkaan dan malapetaka. Dengan dibakarnya patung ini,
diharapkan sifat keangkaramurkaan dan malapetaka bisa lenyap dari
bumi pertiwi. Prosesi kirab ini diikuti oleh seluruh elemen
masyarakat Wonosari, diawali dengan kirab sesaji dari lapangan desa
setempat kemudian diarak berjalan menuju ke pesarean. Di akhir
prosesi, patung sangkala dibakar oleh Kepala Desa Wonosari, sementara
pengusung patung, yang memakai pakaian serba hitam, menari-nari
layaknya kesetanan.

Melihat potret suasana tersebut, Pesarean Gunung Kawi lebih mirip
pasar raya dari pada sebuah kompleks pemakaman. Pertunjukan wayang
kulit, musik dangdut, serta barongsai pun ikut meramaikan suasana.
Kesan seram, angker, dan tempat mencari kekayaan yang seperti yang
dibayangkan, pada saat itu seolah tenggelam oleh hingar-bingar para
pengunjung.

Ketika zaman berubah, motif spiritual juga terus bergeser. Dengan
dalih estetika, nampaknya pihak pemerintah daerah setempat merasa
perubahan `tampilan' upacara ritual sudah merupakan kebutuhan. Dengan
diciptakannya upacara ritual yang semakin meriah. Banyak yang
bernilai jual di sana-sini. Fungsi latennya sudah bisa ditebak, yaitu
agar upacara ritual bisa lebih enak ditonton, berselera pasar, dan
selanjutnya bisa mendongkrak pendapatan daerah (marketable). Tak
peduli apakah kreasi ini meninggalkan sisi nilai-nilai ritual atau
mengabaikan makna bagi komunitas pemiliknya. Kondisi semacam ini
menurut Theodore Adorno dan Horkheimer bisa disebut sebagai
komodifikasi budaya (Agger, 2006: 179). Kedua tokoh aliran sosiologi
kritis asal Jerman ini melihat bahwa budaya di era kapital serta
industrialisasi ini telah menjelma sebagai sebuah komoditas. Artinya,
suatu fenomena budaya akan diproduksi terus menerus dan dimodifikasi
untuk memperoleh keuntungan.

Etnis Tionghoa dan Pesan Multikultural

Dengan berjalannya waktu, sekarang boleh dibilang lebih banyak
masyarakat Tionghoa yang datang berziarah daripada masyarakat Jawa
sendiri. Bahkan dalam hari-hari tertentu, seperti hari raya Imlek dan
Tahun Baru Islam, jumlah masyarakat Tionghoa yang datang berziarah
jauh lebih banyak daripada masyarakat Jawa sendiri.

Keikutsertaan warga Tionghoa dalam lingkungan perziarahan di Pesarean
Gunung Kawi sebenarnya dimulai dari seorang yang bernama Tan Kie Lam.
Pada waktu itu ia sempat diobati dan disembuhkan oleh Eyang Sujo
berkat air guci wasiat peninggalan Eyang Jugo. Kemudian, Tan Kie Lam
pun ikut berguru di padepokan gunung kawi dan tinggal di sana.
Sebagai seorang Tionghoa, ia mungkin merasa kurang pas dengan ikut
cara ritual masyarakat Jawa. Akhirnya, ia mendirikan
sebuah "kelenteng kecil"-nya sendiri untuk bersembahyang dan untuk
menghormati kedua almarhum gurunya.

Tetapi yang membuat Pesarean Gunung Kawi ini terkenal adalah seorang
Tionghoa yang kemudian menjadi pediri perusahaan rokok Bentoel -
sebuah perusahaan rokok besar yang pernah berdiri di Malang. Konon,
sang pendiri PT. Bentoel ini, ketika itu datang untuk berguru olah-
kanuragan di padepokan Gunung Kawi. Tetapi oleh sang juru kunci niat
itu ditolak dengan alasan bahwa ia tidak pantas menjadi seorang
pendekar, tetapi lebih cocok menjadi pedagang saja. Sang juru kunci
lantas menyarankan ia pulang saja, sambil membekalinya dua batang
bentoel (umbi-umbian).

<!--[if gte vml 1]><![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]-->Sesampai
di rumah, ia berpikir bahwa oleh-oleh dua batang bentoel ini pasti
punya arti. Akhirnya, ia menggunakan Cap Bentoel sebagai merk
usahanya. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya, perusahan rokok Cap
Bentoel maju pesat. Dan sebagai tanda terima kasih dan baktinya
terhadap Eyang Jugo dan Eyang Sudjo, ia membagun jalan dan prasarana-
prasarana di kompleks Pesarean Gunung Kawi tersebut.

Rupanya, kabar hubungan antara kesuksesan Rokok Bentoel dan pesarean
Gunung Kawi dengan cepat menyebar luas di kalangan masyarakat
Tionghoa. Akibatnya banyak masyarakat Tionghoa berbondong-bondong
datang ke sana. Selain mengikuti upacara ritual standar Islam-Kejawen
yang dilakukan oleh para juru kunci makam, para peziarah Tionghoa
juga melakukan ritual tionghoanya. Segera saja klenteng kecil buatan
Tan Kie Lam dirasa tak bisa lagi menampung membanjirnya kaum Tionghoa
yang ingin bersembahyang. Untuk itu dibangunlah tiga buah kelenteng
kecil yang letaknya lebih dekat lagi dengan makam. Di ketiga
kelenteng ini diisi oleh Dewa Bumi Ti Kong, Dewi Kwan Im, dan
kelenteng khusus untuk Ciam-si (ramalan). Sering terlihat lilin-lilin
merah besar yang tingginya 2m atau lebih berjejalan memenuhi
kelenteng ini. Di atas sampul plastik lilin-lilin tersebut biasanya
tertulis permohonan dari perusahaan atau keluarga tertentu. Sedangkan
di areal pesarean dibangun sebuah masjid yang cukup megah, yang
menurut petugas pemandu merupakan sumbangan seorang konglomerat di
Indonesia.

Memang, kecuali dalam pendopo makam, di hampir semua tempat di
kompleks makam yang dikeramatkan oleh masyarakat Jawa, seperti
Padepokan Eyang Iman Sujono, bekas rumah tinggal Tan Kie Lam, dan
pemandian Sumber Manggis, semuanya juga diletakkan altar ritulal khas
Tionghoa. Bahkan kedua Eyang mendapat julukan dalam bahasa Tionghoa.
Eyang Djego disebut Taw Low She atau Guru Besar Pertama, sedangkan
Djie Low She atau Guru Besar Kedua adalah sebutan untuk Eyang Iman
Sujo.

Hasil akhirnya, sekarang kompleks pesarean Gunung Kawi menjadi tempat
percampuran budaya dan ritual khas Jawa dan Tionghoa. Bagi mereka
yang pertama kali datang ke gunung kawi pastilah akan mengkerutkan
dahi melihat apa yang terjadi di sini.

Adalah menjadi pemandangan rutin di kelenteng Gunung Kawi bila
melihat seorang Jawa bersarung dan bertopi haji dengan khitmatnya
bersoja dengan hio di tangan, sementara di sampingnya seorang ibu
berkerudung sedang dengan penuh konsentrasi mengocok bambu ramalan
(ciam-si). Dan kalau diperhatikan, ternyata para `petugas kelenteng'
gunung Kawi ini pun ternyata kebanyakan adalah warga Jawa.

Pada setiap upacara perayaan ritual, setelah lepas malam, para
peziarah Jawa dan Tionghoa larut dalam kegiatannya. Mereka berjalan
berlawanan arah jarum jam mengelilingi pendopo sebanyak tujuh kali,
dengan setiap saat berhenti di depan pintu sisi utara, timur, selatan
dan barat, sambil menghormat ke dalam makam.

Sementara itu, di dalam pendopo makam dipenuhi para peziarah Jawa dan
Tionghoa yang memiliki niatan khusus. Sambil membawa bunga dan
kemenyan, mereka dengan sabar menunggu giliran didoakan di depan
nisan oleh para asisten juru kunci. Setelah doa dalam bahasa Jawa dan
Arab digumamkan, biasanya para peziarah akan mendapat "bunga layon"
(bunga layu) yang sudah ditaburkan dari makam. Khabarnya bunga
tersebut memiliki khasiat pembawa rezeki dan pengobatan. Uniknya,
banyak peziarah yang menempatkan bunga tersebut di kantong merah dan
kuning yang bergambar lambang Pakua dan bertuliskan huruf Tionghoa.
Yang merah cocok untuk ditempatkan di tempat usaha, sedangkan yang
kuning di bawa pulang untuk digantung di dalam rumah.

Berbaurnya unsur budaya dalam sebuah ritual antara budaya Jawa dan
Tionghoa ini terlihat mencolok lagi pada peringatan Malam Satu Suro
lalu. Dalam kompleks pemakaman tersebut, tempat pertunjukan wayang
kulit dengan lakon tertentu sering dipesan oleh warga Tionghoa
sebagai hajat nadarnya. Sedangkan pada acara yang sama beberapa warga
masyarakat Jawa berpartisipasi memberikan angpau atau malah menjadi
bagian dari penari barongsai yang sedang beraksi.

Dalam kacamata budaya, ada hal yang menarik dalam fenomena ini.
Mayoritas pelaku ritual adalah penduduk asli yang berpakaian adat
Jawa Timuran sambil membawa tandu-tandu berisisi aneka sesembahan,
namun di tengah iring-iringan warga Jawa dan Tionghoa yang juga
diiringi tarian Jawa ini menyelip juga barongsai, tarian singa khas
Tionghoa. Entah apakah peristiwa semacam ini pernah terlintas di
benak oleh Eyang Jugo dan Eyang Iman Sujo semasa hidupnya. Tapi yang
jelas, upacara semacam ini dapat menjadi pemersatu antaretnis yang
membawa pesan multikultural, yakni kerukunan dan perdamaian.

Referensi

Agger, Ben. 2006. Teori Sosial Kritis. Yogyakarta: Kreasi Wacana

Ruslani, 2005. Tabir Mistik Ilmu Ghaib dan Perdukunan. Yogyakarta:
Tinta.

Tjiau, Sen dan Winuranto Adhi. Gunung Kawi: dari Burung sampai Turki,
Akhirnya Bentoel. Majalah Trust. www.majalahtrust.com. 23 April 2007

Hadinoto, RM Danardono. Gunung Kawi. www.mediaindonesia.com. 20
Oktober 2004

Baehaqi, Ahmad. Mencari Berkah ke Gunung Kawi. www.news [at] ....
13 September 2006

Soeryowidagdo. 1989. Pesarean Gunung Kawi. Malang: Yayasan Ngesti
Gondo.


*)Susvi Tantoro, S.Sos.

Teknisi pada Labdik Sosiologi

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
Re: Mitos Gunung Kawi dan Komodifikasi Budaya
« Reply #1 on: 05 February 2009, 10:24:22 AM »
Saya tidak pernah meneliti gunung kawi, jadi no Comment, tapi soal mempelajari islam kejawen, saya jawab saya ngerti sedikit sedikit, Fenomena Gunung kawi, Adalah salah satu akuturasi antara Islam, Hindu dan Buddha, mengapa Islam kejawen mempelajari Agama Hindu dan Buddha sebagai Akulturasi mereka, dan tradisi mereka.

Dalam hal ini Gunung Kawi merupakan salah satu aset nasional, yang menarik di diskusikan, yang mau diskusi silakan, saya hanya bisa jawab dari segi Islam kejawen, kalau tanya gunung kawi saya hanya bisa jawab "no Comment".

dalam pengantar diskusi postingan ini, Islam kejawen mempengaruhi Alkuturasi budaya, klenteng Tionghoa dan cukup menakjuban adalah Vihara baru di suka bumi yang berbasis Agama Buddha bernama Nam hai Kuan im, di daerah Pesisir Pantai selatan, dekat bandung, Memiliki akulturasi Budaya antara Islam kejawen, Dengan agama buddha, dari segi bangunan, sampai tempat peribatan, Fenomena ini lah, Asimilasi budaya terjadi

Sekian Kata pengantar dari saya

_/\_