topic short url: http://dhct.ws/f8212

Author Topic: [ASK] Pertikaian, perpecahan, dan konflik antar organisasi Buddhis di nusantara  (Read 13720 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.054
  • Reputasi: 56
  • Gender: Male
ISI SURAT DPP WALUBI
KEPADA PRESIDEN RI

 

Bersama ini kami melampirkan sejumlah informasi tentang apa itu Walubi, dan data sejumlah organisasi massa Umat Buddha Indonesia yang tergabung didalamnya. Sebagai gambaran singkat perkenankanlah kami melaporkan bahwa seorang Pejabat Litbang Depag telah menggunakan kesempatan dimana Menteri agama yang baru belum mulai berkantor, telah dengan sengaja berperan seakan-akan dirinya sebagai pengganti menteri serta tidak menghormati pembina tehnis agama Buddha, dimana Pejabat Litbang tersebut telah mengganti Kedudukan Walubi dengan KASI secara melawan sistim hukum yang berlaku.

 

Kami sangat prihatin dengan penjelasan yang diberikan oleh yang bersangkutan kepada jajaran Departemen Agama yang terkait bahwa Bapak presiden yang meminta terjadinya penyimpangan tersebut, sehingga rekayasa pejabat litbang Departemen Agama telah mendiskreditkan citra Bapak presiden seakan-akan presiden tidak memahami sistim hukum yang berlaku dan tidak menghargai pembina tehnis Departemen Agama, Sekertariat Menteri Agama dan sejumlah massa Umat Buddha yang tergabung di dalam Walubi.

 

Hormat Kami

DEWAN PENGURUS PUSAT
PERWAKILAN UMAT BUDDHA INDONESIA

 

Biksu Dutavira Mahastavira (Suhu Benny)

Koordinator Dewan Sangha Walubi.

 

Dra.Siti Hartati Murdaya                   Drs.Sudarmo Tasmin, Ak.

Ketua Umum                                      Sekretaris Jenderal.

 

 

 

Sumber dari Koran SUAR
Edisi Minggu Kedua Nopember 1999
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.054
  • Reputasi: 56
  • Gender: Male
Gus Dur: Agamawan Agar Bisa Atur Diri

Selasa, 21/03/2000politik & peristiwa, 21/3/2000 20:34 WIB

Reporter: Shinta NM Sinaga

detikcom - Jakarta,

Presiden Gus Dur bersuara keras ketika berdialog dengan masyarakat di Gedung Pola, Kwitang, Jakarta Pusat, Selasa (21/3/2000). “Hendaknya agamawan bisa mengatur diri,” tegas Gus Dur. Suara keras Gus Dur ini disampaikan menyusul adanya pertanyaan dari seorang tokoh Budha. Di awal jawabannya, Gus Dur mempertanyakan banyaknya kelompok yang ada di tubuh agama Budha. “Jangan harap saya akan datang ke Borobudur pada hari Waisak mendatang (seperti yang diminta Walubi). Sebab kalau saya datang, berarti saya mengakui Walubi (Perwakilan Umat Budha Indonesia) pimpinan Hartati Mudaya),” kata Gus Dur dalam acara "Dialog Gus Dur dengan Masyarakat dan Khalayak Ramai". “Pada hari itu (Waisak) saya akan berada di tempat lain.

Kalau agama lain, pada tanggal 4 April, saya ikut Nyepinya Parisade Hindu Dharma di Klaten. Saya tadi juga ikut tahun baru di rumah Punjabi di Jl Tanjung,” kata Gus Dur. “Jadi, hendaknya bisa ngatur diri sendiri,” tandas Gus Dur.“Dulu saya tanyai dulu pada agamawan, kenapa tak masuk ke Walubi. Mereka bilang, dibuang. Ini kan ciloko, masak agamawan dibuang. Selesaikan masalah itu, baru kita ke Borobudur.

Borobudur milik semua orang, bukan milik Walubi saja,” sambung Gus Dur.
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.054
  • Reputasi: 56
  • Gender: Male
YAYASAN JAKARTA DHAMMACAKA JAYA
Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, Jl. Agung Permai XV/12 Sunter, Jakarta 14350, Indonesia
Telepon (021) 686739, 6450206 Fax. (021) 626739

Jakarta, 3 September 1999

Nomor : 7/YJDJ/9/99
Lamp : 1 berkas
Hal : Pemakaian Wisma Narada oleh DPP Walubi Secara Tanpa Izin

Kepada Yang Mulia
Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI)
Jl. Lodan Raya No. 8-B
Jakarta

 

Dengan hormat,

Sehubungan dengan penyebaran informasi lewat media massa oleh DPP Walubi dan Dewan Sangha Walubi yang dapat menimbulkan penafsiran keliru tentang pertemuan mereka di Wisma Narada, yang berada di kompleks Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, pada tanggal 31 Agustus 1999, dengan ini kami beritahukan bahwa Yayasan Jakarta Dhammacakka Jaya, Kepala/Wakil Kepala Vihara, dan Dayaka Sabha sama sekali tidak bertanggung jawab atas pertemuan dan isi informasi yang sengaja disebarluaskan tersebut.

Yayasan Jakarta Dhammacakka Jaya selaku pemilik dan pengelola Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya tidak pernah memberikan izin kepada DPP Walubi (termasuk Dewan Sangha-nya) untuk mengadakan pertemuan/rapat maupun konperensi pers di Wisma Narada pada tanggal 31 Agustus 1999. Untuk lebih jelasnya, kami lampirkan rangkaian kejadian pemakaian Wisma Narada secara tanpa izin tersebut.

Demikian pemberitahuan kami, agar menjadi maklum adanya. Terima kasih.

Semoga Sang Tiratana selalu melindungi dan memberkahi kita.

 

Hormat kami,
Yayasan Jakarta Dhammacakka Jaya

 

Sukhemo Mahathera, M.A.         Ir. Silakumaro Tonny Coason
Ketua I                                     Sekretaris

Tembusan :
Yang Mulia Sangha Theravada Indonesia
Yang Mulia Sangha Mahayana Indonesia
Yang Mulia Sangha Agung Indonesia
Yth. PP Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi)
Yth. DPP Majelis Buddhayana Indonesia (MBI)
Yth. DPP Wanita Theravada Indonesia (Wandani)
Yth. DPP Pemuda Theravada Indonesia (Patria)

 

 

PEMAKAIAN WISMA NARADA
VIHARA JAKARTA DHAMMACAKKA JAYA
SECARA TANPA IZIN
OLEH DPP WALUBI DAN DEWAN SANGHA WALUBI
PADA TANGGAL 31 AGUSTUS 1999

Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya merupakan Vihara mazhab Theravada yang terbesar dan terlengkap di Indonesia. Sejak didirikan, vihara ini dikelola oleh Yayasan Jakarta Dhammacakka Jaya. Nama Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya sekarang ini telah identik dengan agama Buddha mazhab Theravada.

Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya terdiri dari Bangunan Utama (Uposathagara), Bangunan Dharma (Dharmasala), Tempat Tinggal Bhikkhu (Kuti), Wisma Narada (Ruang Serba Guna dan Perpustakaan) serta Taman Lumbini.

Saat pembangunan, tak terhitung jumlah umat yang berdana tenaga dan materi. Termasuk diantaranya Anton Haliman sebagai donatur terbesar dan Hartati Murdaya yang menyumbang sebuah bangunan yang dikenal sebagai Wisma Narada.

Sebagai bangunan yang sakral, seluruh komplek vihara ini hanya diperuntukkan bagi kegiatan keagamaan Buddha yang berdasarkan Kitab Suci Tipitaka, untuk umat Buddha beribadah, dan bukan untuk kegiatan politik.

Namun, pada tanggal 31 Agustus 1999, tanpa seizin dari Yayasan Jakarta Dhammacakka Jaya, DPP Walubi dan Dewan Sangha Walubi telah melakukan rapat dan jumpa pers-nya yang bernuansa politik untuk kepentingan Ketua Umum DPP Walubi di kompleks Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya.

Senin, 30 Agustus 1999
Malam hari, utusan DPP Walubi datang membawa surat dari DPP Walubi untuk Ketua Yayasan Jakarta Dhammacakka Jaya. Isinya memberitahukan bahwa akan diadakan pertemuan di Wisma Narada - salah satu bangunan yang berada dalam kompleks Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya - keesokan paginya (31 Agustus 1999 pukul 11.00). Dalam surat tersebut disebutkan bahwa izin penggunaan tempat sudah diperoleh dari Hartati Murdaya, Ketua Umum DPP Walubi (bukan dari Yayasan Jakarta Dhammacakka Jaya selaku pemilik dan pengelola Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya).

Selasa, 31 Agustus 1999
Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya yang biasa tenang dan sakral, pagi itu menjadi sangat mencekam. Petugas keamanan setempat, baik dari Polsek, Polres, Kodim, dsb. Berdatangan untuk berjaga-jaga. Sebelumnya, pengawal-pengawal pribadi dari perusahaan Hartati Murdaya sudah datang memeriksa lokasi dan berjaga-jaga di vihara.

Ketua Umum Yayasan Jakarta Dhammacaka Jaya telah membuat Pernyataan Kebenaran yang isinya menegaskan bahwa Yayasan Jakarta Dhammacakka Jaya tidak pernah memberi izin kepada Walubi untuk mengadakan rapat/pertemuan di kompleks Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya. Bila Walubi tetap memaksa mengadakan rapat, maka Walubi harus menanggung akibat dari karma buruk yang diperbuatnya.

Setiap pengunjung yang datang untuk rapat diberi satu lembar pernyataan dari Yayasan. Pemberitahuan ini ditempelkan pula di pintu Wisma Narada.

Kira-kira pukul 11 siang, Hartati Murdaya tiba di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya. Setelah turun dari mobilnya, Hartati menerima laporan dari pendukung-pendukungnya mengenai selebaran yang dibagikan pihak Vihara. Hartati pun bergegas ke pintu Vihara, lalu merampas secara paksa lembaran pernyataan dari petugas yang membagikan.

Melihat anggotanya yang membagi selebaran dimarahi Hartati Murdaya, Ketua Dayaka Sabha (Pengurus) Vihara menghampiri Hartati dan bertanya mengapa demikian. Hartati Murdaya marah dan berteriak membentak Ketua Dayaka Sabha Vihara sebagai provokator, yang ingin berhadapan langsung dengan dia. Saat itupun kelompok pendukung Hartati lalu mendorong Ketua Dayaka Sabha Vihara agar menjauh dari Hartati agar tidak terjadi konflik lebih jauh. Adu mulut sempat terjadi, Hartati mengatakan bahwa dia telah mendapat izin dari Ketua Umum Yayasan, tapi Ketua Dayaka Sabha tetap bersikeras bahwa belum diberikan.

Setelah memarahi Ketua Dayaka Sabha, Hartati Murdaya segera menjumpai Ariya Chandra, Sekjen Magabudhi yang juga hadir di Vihara. Hartati berteriak dan menuduh bahwa Ariya Chandra jangan berbicara Dhamma di muka, tetapi di belakang sebagai seorang provokator yang mau memecah belah umat. Hartati selanjutnya mengatakan bahwa ia sudah mendapatkan izin dari bhikkhu. Ariya Chandra menjawab, silahkan temui bhikkhu yang ada di vihara untuk membuktikannya.

Setelah itu, Hartati mendatangi tempat tinggal bhikkhu, tapi ia tidak mau menunggu dan menjumpai bhikkhu, karena saat itu para bhikkhu sedang makan siang.

Hartati segera menuju Wisma Narada. Rapat Walubi dilaksanakan di Wisma Narada dengan dihadiri oleh sekitar 50 orang pendukung Hartati Murdaya dan sekelompok bhikkhu anggota Dewan Sangha (termasuk bhikkhu warga negara asing yang baru datang ke Indonesia dan tidak dapat berbahasa Indonesia).

Pengurus Vihara yang ingin memantau pertemuan tidak diperkenankan masuk dan dihadang oleh karyawan Walubi di depan Wisma Narada. Praktis sejak itu, Wisma Narada tidak bisa didekati oleh orang-orang vihara karena dijaga oleh karyawan Walubi.

Di dalam Wisma Narada itu, maupun di halaman Bangunan Utama (Uposathagara) Hartati Murdaya dan para bhikkhu pendukungnya memberi keterangan pers yang isinya mendiskreditkan KASI dan MBI, serta memuji-muji pencalonan Hartati sebagai calon anggota MPR dari Walubi. Fitnah kepada para bhikkhu (ulama Buddha) yang tidak mendukungnya pun disampaikan kepada wartawan dari berbagai media massa.

Sekitar pukul 14.00 Hartati Murdaya meninggalkan Wisma Narada dan menuju Uposathagara dan didampingi para pengawal pribadinya dan para pendukungnya dari DPP Walubi. Setelah itu Hartati Murdaya menuju tempat tinggal bikkhu, tapi tidak menjumpai seorang bhikkhu pun.

Menjelang pukul 15.00 Hartati Murdaya meninggalkan Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya.
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.054
  • Reputasi: 56
  • Gender: Male
AR 168, 048/Minggu II September 1999

SURAT TERBUKA
KEPADA IBU SITI HARTATI MURDAYA
DAN KONCO-KONCONYA

Kami mewakili pribadi dan ratusan teman-teman yang semakin hari semakin sebal melihat sepak terjang Ibu Siti Hartati Murdaya dan konco-konco secara tegas memberikan pernyataan kami.

Secara pribadi kami salut dengan penampilan fisik luar anda yang luar biasa dan dengan tutur kata yang sangat manis, yang pastilah merupakan hasil dari karma baik anda di kehidupan sebelumnya. Tetapi kami sangat menyayangkan kelebihan anda itu tidak dipergunakan untuk tujuan yang baik, bahkan sebaliknya. Penampilan anda tersebut sama sekali berbeda dengan tindak tanduk anda dan kaki tangan anda selama ini, seperti yang kami alami sendiri atau yang kami lihat dan baca di media massa.

Ada banyak alasan mengapa kami memilih berseberangan dengan anda dan konco-konco anda, diantaranya adalah :

    * Kami adalah umat Buddha yang sangat menghormati Sangha, sebagai bagian dari Triratna (Tiga Permata Mulia). Dan Sangha itu sekarang bersatu di dalam Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI). Sangha yang terdiri oleh para bikkhu yang bertindak arif itu dengan tegas telah menarik suatu garis batas dengan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi-baru) pimpinan anda. Hal ini tentu telah melalui pertimbangan yang sangat panjang, dan kami meyakini itu sebagai keputusan yang baik dan arif bijaksana. Sehingga kamipun dengan tegas menyatakan bahwa kami berseberangan dengan anda dan konco-konco anda.

    * Tindakan anda dan kaki tangan anda lainnya yang memutarbalikkan fakta dan menyerang Sangha secara membabibuta serta mengeluarkan pernyataan yang sangat berlebihan, seperti mengfitnah para bikkhu gila kedudukan, gila jabatan, serta meminta para bikkhu anggota Sangha untuk lepas jubah, dll. bagi kami adalah suatu tindakan yang tidak bisa ditolerir dan sangat bertentangan dengan hati nurani kami sebagai umat Buddha. Sangha memiliki aturannya sendiri yang tidak boleh dicampuri oleh umat awan (kami meragukan apakah anda mengerti akan hal itu ?). Umat awam tidak memiliki hak apapun untuk meminta terlebih lagi memaksa anggota Sangha untuk meninggalkan kebikhuannya, hanya Sangha sendirilah yang berhak untuk melakukan hal itu.

    * Lebih jauh lagi umat awam tidak berhak campur tangan dalam kehidupan Sangha, apalagi membuat persamuhan anggota Sangha, seperti yang telah anda lakukan dengan membentuk Dewan Sangha Walubi. Sangha memiliki garis silsilah yang jelas dan tidak terputus dari Guru Buddha Gautama sendiri, jadi bukanlah suatu kumpulan bikhu yang bisa dibentuk dan dibubarkan kapan saja. Bagi kami tindakan itu merupakan tindakan yang sangat keterlaluan, dan dapat dikategorikan Sangha-beda atau pemecah-belahan Sangha. Mungkin anda tidak tahu akan hal itu dan sebaiknya anda bertanya kepada beberapa konco anda yang bergelar Maha Pandita, bahkan di dalam jajaran anda ada seorang pandita terkenal sebagai ahli Abhidamma. Silakan tanyakan kepada mereka, apakah diperkenankan umat / organisasi awam mendirikan suatu lembaga Sangha. Ingat Sangha-beda adalah satu dari lima Akusala Garuka-kamma, yang mana bagi mereka yang melakukannya pastilah terlahir di neraka avici.

    * Terakhir kami ingin anda dan kaki tangan anda tahu bahwa yang dimaksud dengan bersatu bukanlah berarti mencampuradukan akidah agama. Jawab pertanyaan kami ini dengan sejujur-jujurnya, siapakah yang bisa disebut sebagai umat Buddha? Seorang yang ber-KTP Buddhakah atau mereka yang berlindung kepada Triratna? Dan bagaimana pula kriteria agama Buddha itu ?

Setahu kami kriteria agama Buddha adalah sbb. :

    * Mengakui Siddharta Gautama Buddha adalah Guru atau Nabinya,
    * Mengakui Tripitaka adalah Kitab Sucinya,
    * Memiliki Vihara / Cetya yang dipakai sebagai tempat ibadahnya,
    * Nirwana adalah tujuan akhirnya, dan
    * Memiliki Umat yang berlindung kepada Buddha, Dharma dan Sangha (Triratna).

Tolong koreksi kami yang bodoh ini, bila kami menyatakan bahwa anda dan konco-konco anda itu bukanlah umat Buddha. Majelis-majelis yang tergabung di dalam Walubi-baru sebagian besar bukanlah majelis agama Buddha. Anda-anda semua boleh mengakui anda adalah umat Buddha, tapi apakah benar anda mengakui Siddharta Gautama sebagai Guru? Apakah benar anda mengakui Tripitaka sebagai Kitab Suci? Apakah anda berlindung kepada Triratna?

Jawablah dengan jujur, dengan hati nurani, buat apa mengakui sesuatu yang tidak anda akui, yang bertentangan dengan hati nurani anda semua. Jadilah seperti umat Kong Hu Cu, yang tidak mau dijadikan satu dengan Buddha, karena mereka tahu bahwa mereka berbeda, dan mereka terus memperjuangkan itu sehingga sekarang simpati dari banyak pihak berdatangan kepada mereka. Dan saat ini mereka sangat mungkin diakui sebagai agama sendiri. Janganlah menjadi orang yang munafik, jadilah orang yang jujur dan bijaksana. Mana yang lebih baik menjadi agama sendiri tanpa perlu diatur-atur oleh kelompok lain yang berbeda dengan anda, ataukah bergabung dengan organisasi yang tidak jelas legalitasnya dan tidak sepenuhnya memperjuangkan aspirasi anda semua.

Kami semua akan jauh lebih menghargai anda sebagai agama / kepercayaan lain seperti kami menghargai umat Islam, kr****n, ka****k, Hindu, Kong Hu Cu dan juga aliran kepercayaan lainnya yang ada di Indonesia, ketimbang anda mengaku umat Buddha tapi menjalankan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Guru Buddha Gautama.

Demikianlah surat dari kami ini untuk memperjelas posisi kami bahwa kami tidak akan mentolerir semua tindakan yang bertentangan dengan kebenaran dan pengrusakan ajaran Buddha Gautama.

 

Jakarta, 01 September 1999

 

Witarsa
Koordinator
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.054
  • Reputasi: 56
  • Gender: Male
Hartati Murdaya Mengabdi dan Berprestasi
Click gambar untuk memperbesar / Click on the picture to enlarge


NAMA Dra. S. Hartati Murdaya mulai muncul ke permukaan, dan orang banyak membicarakan mengenai perkembangan kehidupan umat beragama Buddha di Indonesia, menjelang Munas II Walubi, dimana Hartati sedang, mengemban tugas mulia dari Bhante Girirakkhito Mahathera, untuk menyelesaikan kemelut yang terjadi dalam tubuh Walubi. Misi yang diemban Oleh Dra. S. Hartati Murdaya semua itu dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, ternyata berhasil dan sukses.

Dalam Pasca Munas II Walubi di dalam tubuh DPP Walubi terjadi kemelut masalah AD dan ART Walubi, yang berakhir telah dikeluarkannya Sangha Agung Indonesia (SAGIN) dan Majelis Buddhayana Indonesia (MBI). Disini S.Hartati Murdaya memegang peranan yang sangat penting, bahkan dapat dikatakan peran beliau sangat menentukan sekali. Hal ini disebabkan dalam ketulusan berdana, korban jiwa, raga, berupa mengorbankan materi tenaga dan pikirannya dalam mengupayakan agar harkat dan martabat Walubi dapat ditingkatkan di mata pemerintahan dan masyarakat. Ternyata upaya ini berhasil Dra.S. Hartati Murdaya membawa nama harum Walubi.

Konsolidasi DPP Walubi menyelenggarakan penyempurnaan susunan personalia DPP Walubi dengan mengadakan musyawarah daerah (Musda) dan musyawarah wilayah (Muswil) Walubi di seluruh Indonesia, dimana peranan dan gerakan S.Hartati Murdaya sangat besar sebagai Ketua Umum/Pelaksana Dewan Penyantun. Sehingga Musda dan Muswil Walubi yang diadakan dapat berjalan dengan mulus.

Altar Dharmasanti Waisak di JHCC, Jakarta    
Sendratari kelahiran Pangeran Sidharta di tampilkan pada gema pembukaan Dharmasanti Waisak 2537 di JHCC,Jakarta

Even upacara Suci Waisak Nasional yang dilaksanakan di Candi Mendut dan Candi Borobudur sejak tahun 1993-1996 telah terlaksana dengan sukses besar. Dan pada tahun 1996 ritual upacara Waisak di Mendut dan Borobudur merupakan Waisak paling akbar. Dibawa kepanitiaan S.Hartati Murdaya. Dalam upacara Trisuci Waisak dan Dharmasanti Waisak Nasional di tahun 1993 hingga 1996 peran dari sosok seorang Ibu Murdaya termanifestasi dari keberhasilannya dalam memegang kunci WALUBI.

Pemberian simbolik dari Walubi.Henny Honoris kepada pihak panti laras di serahkan langsung di Jakarta.    
Pra Waisak 1993, Walubi memberikan snack pada penderita sakit jiwa di Jakarta.

Selanjutnya even lain Hartati Murdaya adalah merekrut para pengusaha Buddhis (konglomerat) untuk bersama-sama mendirikan Yayasan Kepedulian Sosial Paramita. Yang pada intinya merespon positif kegiatan bakti sosial dengan mengumpulkan dana sebagian dari harta para pengusaha, dibagikan untuk warga masyarakat tak mampu.

Pada akhirnya alm. Bhante Girirakkhito memberi gelar kepada S. Hartati Murdaya sebagai Ratu Lebah. Energik disetiap even dalam membangun bangsa.

Demikian Siti Hartati Murdaya sebagai ratu lebah, berhasil menghimpun para konglomerat Buddhis membentuk Yayasan Paramita. Disini membuktikan prestasi yang luar biasa dari pengabdian seorang ibu dalam upaya mengentaskan kemiskinan.

Kalau ditanya tentang pengabdian apalagi yang diberikan oleh S. Hartati Murdaya yang di pandang sebagai prestasinya, adalah sebagai berikut :

   1. Vihara Buddha Metta adalah tempat ibadah umat Buddha, mantan rumah milik Hartati Murdaya yang dirubah menjadi Vihara, ini digunakan demi kepentingan umat Buddha dalam meningkatkan keyakinan.
   2. Perpustakaan Narada sebagai sumbangsih upaya mencerdaskan kehidupan bangsa khususnya umat Buddha.
   3. Vihara Mendut, salah satu vihara letaknya bersebelahan dengan Candi Mendut, Vihara ini dibangun untuk kepentingan umat berpuja bakti.

Inilah figur Hartati Murdaya, salah satu pengusaha yang berani terjun dalam organisasi Buddhis dan kegiatan sosial keagamaan di Indonesia, yang kemudian dapat disusul oleh konglomerat lainnya yang telah mulai menunjukkan prestasi dalam pengabdiannya.

WLB
http://www.walubi.or.id/warta/warta.30.07.2003.shtml
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.054
  • Reputasi: 56
  • Gender: Male
PERNYATAAN UMAT BUDDHA INDONESIA
Menyesalkan Pernyataan Walubi dan FKUB DKI

Ditujukan Kepada:
- Sekjen Departemen Agama Republik Indonesia
- Indonesian Committee Religion for Peace (ICRP)
- DPP Walubi: dpp [at] ...
- FKUB DKI: b26tan [at] ...

Ditembuskan Kepada:
- Metro TV: webmetro [at] ...
- Media Indonesia: redaksi [at] ...
- Liputan 6: lip6 [at] ...
- Kompas: kompas [at] ...
- Tempo: koran [at] ...
- Harian Indonesia: redaksi [at] ...
- Harian Republika: redaksi [at] ...
- Seputar Indonesia: redaksi [at] ...
- The Jakarta Pos: opinion [at] ...
- Jawa Pos: editor [at] ...
- Sinar Harapan: redaksi [at] ...
- Pikiran Rakyat: redaksi [at] ...
- Surabaya Post: redaksi [at] ...
- Surya: surya1 [at] ...
- Bali Post: balipost [at] ...
- Pontianak Post: redaksi [at] ...
- Intisari: intisari [at] ...
- Detik.Com: redaksi [at] ...
- Okzone.com: redaksi [at] ...

Salam Pembebasan!
Dukung Perjuangan Kemanusiaan Rakyat Burma!

Ketika kejahatan kemanusiaan oleh junta militer Myanmar menjadi
keprihatinan dunia internasional, sangat disesalkan bahwa Walubi
(Perwakilan Umat Buddha Indonesia) melalui Bhiksu Tadisha Paramita
dan FKUB (Forum Komunikasi Umat Buddha) DKI melalui Budiman Sudharma
telah dengan gegabah mengeluarkan pernyataan yang sesungguhnya tidak
perlu, yang menunjukkan betapa rendahnya kepekaan sosial kemanusiaan
dari kedua organisasi berlabel Buddhis tersebut.

Pernyataan Walubi yang menyayangkan turunnya bhikkhu-bhikkhu Burma
melakukan aksi merupakan sebuah pengingkaran Walubi bahwa aksi damai
bhikkhu-bhikku Burma tersebut merupakan perwujudan ikrar Bodhisattva
yang rela mengorbankan nyawa bagi kepentingan orang banyak.
Seharusnya Walubi melihat bahwa ketika peluru tajam telah ditembakkan
ke arah para bhikkhu yang sangat dihormati oleh seluruh umat Buddha,
sesungguhnya seruan moral sudah tidak mungkin digubris oleh junta
militer Myanmar.

Pernyataan FKUB DKI yang diketuai oleh Budiman Sudharma (yang juga
merupakan ketua salah satu majelis di dalam tubuh Walubi) adalah
pernyataan yang sesungguhnya tidak berdasar. Aksi oleh bhikkhu-
bhikkhu anggota Sangha di Indonesia merupakan bentuk solidaritas bagi
perjuangan rakyat Burma yang tertindas di bawah penguasa junta
militer yang tidak manusiawi. Aksi solidaritas bhikku-bhikkhu anggota
Sangha di Indonesia sesungguhnya merupakan aksi kemanusiaan dan
sekali-kali bukan aksi politik.

Umat Buddha Indonesia merasa gerah dengan pernyataan kedua organisasi
tersebut (Walubi dan FKUB DKI), dan karenanya merasa perlu
menyampaikan dan menjelaskan:

1. Pernyataan Walubi dan FKUB DKI merupakan pernyataan yang patut
dikecam karena sebagai organisasi sosial keagamaan, pernyataan kedua
organsiasi tersebut tidak mencerminkan welas asih yang menjadi
landasan ajaran Buddha.

2. Pernyataan Walubi dan FKUB DKI tidak mencerminkan sikap umat
Buddha Indonesia yang bersimpati pada perjuangan rakyat Burma dan
berempati pada penderitaan rakyat Burma di bawah penindasan junta
militer Myanmar.

3. Umat Buddha Indonesia menolak segala bentuk pembodohan terselubung
dengan mengatasnamakan ajaran Buddha, seakan-akan bahwa solidaritas
dan kepedulian terhadap penderitaan sesama manusia merupakan hal yang
tidak layak diekspresikan oleh bhikkhu-bhikkhu anggota Sangha.

4. Umat Buddha Indonesia meminta kepada Walubi dan FKUB DKI, jika
tidak dapat bersimpati pada penderitaan rakyat Burma, agar tidak
menyampaikan pernyataan yang akan memberi kesan mewakili umat Buddha
Indonesia.

5. Umat Buddha Indonesia meminta kepada media massa agar tidak
menjadikan pernyataan dari kedua organisasi sebagai gambaran luas
yang mewakili sikap umat Buddha Indonesia terkait tindak kejahatan
kemanusiaan oleh junta militer Myanmar di Burma.

6. Umat Buddha Indonesia bersolidaritas atas perjuangan kemanusiaan
di Burma dan mendukung segala bentuk solidaritas untuk Burma di mana
saja oleh siapa saja.

Demikian petisi ini disampaikan untuk menjelaskan sikap umat Buddha
di Indonesia terkait krisis kemanusiaan di Burma.


Indonesia, 4 Oktober 2007
Solidaritas Umat Buddha Indonesia Untuk Perjuangan Rakyat Burma
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.054
  • Reputasi: 56
  • Gender: Male
Nammo Buddhaya,

Kalo cerita soal WALUBI, saya ingin flash back ke belasan tahun yang lampau, dimana kejadiannya merupakan lembaran hitam bagi Umat Buddhist di Indonesia, sekaligus pencetus 'lahir'nya KASI.

Berikut harap dibaca sebagai :
"WALUBI" = Perwalian Umat Buddha Indonesia sedangkan "walubi" = wanita luar biasa.

Tepatnya di tahun berapa saya tidak terlalu ingat, tapi kalau tidak salah di sekitar 1994 atau 1995, saat itu terjadi penangkapan beberapa tokoh Buddhist (setidaknya ada 2 orang yang sempat tertangkap dan sempat di setrum listrik) bahkan Tokoh Pelopor Kebangkitan Agama Buddha di Indonesia yang juga merupakan Bikkhu Pertama di Indonesia waktu itu juga dicari-cari dengan tuduhan yang tidak jelas oleh "walubi" yang nota bene menguasai "WALUBI".

Hal ini bisa terjadi karena para tokoh2 tersebut punya harga diri yang tinggi sehingga tidak bersedia 'di beli' untuk mendukung ambisi2 "walubi" yang dianggap sudah keluar jalur dan menggunakan "WALUBI" sebagai kendaraan politik untuk mencapai ambisi2 si "walubi" tadi.

Memang "walubi" itu kan sudah lama menjadi aktifis dan terkenal di kalangan Mahasiswa Buddhis maupun umat Buddhis umumnya, tapi pada periode waktu kejadian diataslah, belangnya baru mulai terlihat, dengan Money Politic dan kekuasaannya yang dimilikinya (baik secara ekonomi maupun koneksinya dengan pejabat pemerintahan saat itu) sebagian tokoh2 Buddhis memang berhasil 'di beli' olehnya, tetapi yang menjunjung tinggi kebenaran akhirnya berseberangan dengannya sehingga dianggap musuh olehnya.

Sekali lagi dengan POWER yang di milikinya saat itu, beliau juga berhasil menggandeng seorang jenderal TNI aktif (kalau tidak salah posisinya Kasum ABRI waktu itu) untuk menangkapi para tokoh yang tidak bersedia 'di beli' olehnya (seperti tersebut diatas), nah kejadian pertikaian ini terjadi cukup lama yang juga mengakibatkan terpecahnya Umat Buddhis di Indonesia termasuk juga sebagian kalangan anggota Sangha, sampai seorang keluarga dari Ibu Tien Soeharto yang adalah aktifis Buddhis dan berpihak kepada yang berseberangan dengan "walubi", akhirnya minta bantuan Ibu Tien untuk turun tangan, barulah tokoh2 Buddhis kita yang masuk daftar buronan pihak "walubi" baru bisa aman.

Belakangan para anggota Sangha dari berbagai aliran yang tidak bersedia ikut berpihak kepada "walubi" akhirnya berkonferensi dan lahirlah KASI yang ada sekarang ini (dahulu hanya ada SAI = Sangha Agung Indonesia).

Terakhir juga sang "walubi" sempat duduk di kursi pemerintahan sebagai anggota MPR dari golongan agama Buddha, dan sampai sekarang "WALUBI" adalah dibawah kekuasaan dia dan identik dengan "walubi".

Nah cerita singkat diatas adalah sedikit gambaran realita yang benar2 terjadi yang saya ingin para Saudara seDharma disini yang mungkin belum tau untuk sedikit banyak mengetahui fakta yang ada (karena kalau lihat usia dari banyak anggota DC disini, pada saat kejadian diatas, mungkin baru duduk dibangku SD / SMP), bagi saya yang juga adalah seorang Umat Buddhis Indonesia yang katanya 'Suara' saya juga diwakili oleh "WALUBI" tentunya, ingin saya TEGAS kan bahwa "WALUBI" yang sekarang bukan "WALUBI" yang dulu lagi, dan 'suara' umat Buddhis mana yang diwakilinya juga sudah tidak jelas. Karena nota bene "WALUBI" yang sekarang adalah merupakan kendaraan politik bagi "walubi" untuk menggolkan ambisi2 pribadinya dengan mem-bawa2 nama UMAT BUDDHIS di INDONESIA.

Dengan demikian, menurut saya, semua organisasi, lembaga atau apa saja yang dibentuk oleh "WALUBI" maupun "walubi" (termasuk FKUB tentunya) yang mengatas namakan umat Buddha Indonesia adalah tidak valid lagi, memang secara hukum "WALUBI" diakui pemerintah Indonesia, tapi faktanya hanya mewakili segelintir umat Buddha yang bersedia jadi alat politiknya "walubi".

Nah jadi tidak heran kalau terjadi pernyataan2 mengenai kasus Burma seperti yang dibahas dalam thread ini, wong dia-nya aja prakteknya tidak beda sama junta militer kok. Masalahnya adalah "WALUBI" masih juga dipakai untuk meng-atas nama-kan Umat Buddha Indonesia.

Nah saudara2 se Dharma, saya tegaskan disini, cerita yang singkat mengenai kejadian belasan tahun yang lalu ini adalah yang benar2 terjadi, bahkan saat itu juga mengundang keprihatinan dari tokoh2 agama tetangga, (apa bukan lembaran hitam bagi kita?), nah saya ceritakan disini sebenarnya tidak bermaksud untuk subjektif atau menyudutkan pihak2 tertentu, tidak bermaksud mencari musuh, melainkan hanya ingin membuka FAKTA yang ada karena kita sebagai UMAT BUDDHA di INDONESIA, 'suara' kita sering diatas namakan oleh "WALUBI" yang nota bene bagi kebanyakan dari kita sudah dianggap tidak valid.

Satu hal lagi, saya juga tidak ingin berpolemik berkepanjangan dengan cerita saya ini, sebagai Umat Buddha, sebenarnya kasus ini sudah Closed dan tidak perlu diungkit2 lagi, akan tetapi dengan adanya tindak tanduk dan pernyataan2 yang sering keluar dari "WALUBI" yang meng-atas nama-kan suara kita2 padahal tidak sesuai Hati Nurani kita, barulah saya ingin beritau tentang sejarah yang pernah terjadi ini agar saudara2 se Dharma tau "WALUBI" yang sebenarnya (ditujukan bagi yang belum tahu aja yah). Terlebih lagi Tokoh2 dan para anggota Sangha yang jadi korban pada saat itu saja (yang kebanyakan orangnya masih hidup saat ini), sekarang tidak mengungkit ungkit kejadian itu lagi, jadi mungkin ada karma yang harus saya tanggung dengan membuka kebenaran disini? saya siap untuk sebuah kebenaran. Dengan cerita ini saya juga tidak bermaksud mengajak keberpihakan saudara2 sekalian, bahkan saya anjurkan untuk memakai kebijaksanaan dan ehipasiko dalam menelaah suatu masalah.

SABBE SATTA BHAVANTU SUKHITATTA
SADHU, SADHU, SADHU

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=703.15
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.054
  • Reputasi: 56
  • Gender: Male
GUS DUR MEGAWATI DAN HARTATI MURDAYA
SUHADI SENDJAJA

 

Jurnal Jakarta. Dewan Pimpinan Parisadha buddha Darma Niciren Syosyu Indonesia yang mengadakan Pasamuan agung Nasional IV dari tanggal 28-31 Oktober 1999 di Megamendung, telah memilih kembali SUHADI SENDJAJA sebagai Ketua Umum untuk masa bhakti 1999 s/d 2004.

 

Dalam kesempatan berbincang dengan wartawan JURNAL di Megamendung, Suhadi memberikan tanggapan tentang pemerintahan baru yang terpilih secara demokrasi dan disaksikan oleh hampir seluruh rakyat Indonesia.

 

‘’Terpilihnya GUS DUR sebagai Presiden IV, adalah suatu fenomena baru, bahwa bangsa kita mampu menembus pandang materialistis, karena hati GUS DUR bisa membaca kemauan rakyat dan punya kebijaksanaan, figur yang tepat pada saat ini, janganlah melihat fisiknya, tapi lihatlah jiwanya. Dan MEGAWATI adalah pasangan yang serasi, karena telah teruji dengan gejolak-gejolak yang pernah di alaminya’’, kata Suhadi.

 

Ketika ditanya mengenai Hartati Murdaya yang menjadi utusan golongan yang mewakili umat Buddha, Suhadi bersyukur dan berharap bahwa Hartati dapat menyampaikan aspirasi umat kepada Pemerintah guna mewujudkan kehidupan yang serasi antar umat beragama di Indonesia.

 

Dan, Hartati Murdaya pantas duduk di kursi legislatif mewakili utusan golongan Buddha, walaupun selama ini ia tetap diserang oleh kelompok buddha lain yang tidak memiliki anggota. Semua itu dihadapi dengan senyum oleh Murdaya.

 

“Kalau kita semua mensyukuri apa yang telah kita alami, terutama suksesnya Pemilihan Umum, Sidang Umum MPR 1999, serta terpilihnya Presiden dan Wakil Presiden pilihan rakyat dan telah terbentuknya Kabinet Persatuan Nasional, tentu kita akan dapat mengatasi masalah-masalah Multi Krisis yang dialami bangsa kita pada saat ini,” ujar Suhadi.

 

Ketika ditanya mengenai program NSI dimasa yang akan datang, sesuai dengan hasil keputusan dari Pasamuan Agung Nasional ke IV, garis besarnya adalah pembinaan umat, konsolidasi organisasi, pembinaan generasi muda, kegiatan sosial kemasyarakatan, pembangunan sarana peribadatan dan sarana penunjang lainnya serta pelayanan umat.

 

Sebab kalau pemahamannya tanggung-tanggung bisa terjadi penyimpangan dan disalahgunakan, terhadap agama lain, dan ini bukan tujuan NSI.

 

Ditambahkan didalam Buddha mempunyai filosofi bagaimana mengagungkan jiwa bagi agama Buddha. Satu jiwa tak bisa ditukarkan dengan 3000 dunia. Guna mewujudkan ini, umat bisa menciptakan manusia yang punya kwalitas moral, bukan menilai orang dari segi materialistis, tapi dilihat dari jiwanya, tak ada diskriminasi antara manusia, suku dan mempunyai mental yang baik sesuai dengan ajaran Buddha.

 

Pasamuan Agung ini yang dihadiri oleh kurang lebih 1000 umat yang terdiri dari 12 utusan/propinsi dilaksanakan dalam rangka menyambut hari jadi NSI ke 35 dan telah merumuskan program dan pengurusan untuk periode 1999-2004 dengan susunan pengurus:

Ketua Umum  : Suhadi Sendjaya

Sekretaris Jenderal            : Surjono Karjadi

Bendahara       : Irawati Lukman

Ketua-Ketua :

- Dharma            : Ir.Sumitra Mulyadi

- Karitra : Jajat Herjawan

Pembinaan  dan Pengembangan Susunan : Eddy kurniawan

            - Lanjut Usia     : Rianto Gunadi

            - Kewanitaan            : Soeng Pit Tjen

            - Kepemudaan            : Julius Wijanata

 

            Menyimak penjelasan Presiden Abdurrahman Wahid beserta Wakil Presiden Megawati, maka perioritas utama program Kabinet Persatuan Nasional adalah memulihkan kembali perekonomian rakyat, penegakkan HAM dan Supremasi Hukum.

            Memasuki tahapan selanjutnya dari era reformasi bagi NSI mempunyai makna penting karena telah membawa suasana kebangsaan semakin sejuk dan penuh dinamika religius dan humanis, sehingga dibawah kepemimpinan Gus Dur dan MEGA supremasi hukum dalam memberi rasa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia akan merupakan tolak ukur bagi terselenggaranya pemerintah yang bersih, berwibawa dan jujur yang merupakan kemauan keras pemerintahan Gus Dur.

 

            Program utama NSI ialah mewujudkan tugasnya selaku Bodhisatva muncul dari bumi untuk menyebar luaskan Dharma Agung  NAM MYOHO RENGGE KYO, agar setiap manusia dapat mencapai kebahagiaan mutlak lahir dan bathin, sehingga terwujudlah masyarakat bangsa dan negara Indonesia yang bersatu, adil dan makmur serta beradab. (HASAN/JOHNY0)

 

Sumber dari Koran JURNAL
Edisi Tgl.15 s/d 25 nopember 1999
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.054
  • Reputasi: 56
  • Gender: Male
From: "Tjandra Irawan" <[EMAIL PROTECTED]>
>To: "Parokinet" <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: [Pnet] Fw: Surat Terbuka Kepada Dra. Siti Hartati Murdaya
>Date: Thu, 19 Nov 1998 17:15:39 +0700
--------------
>
>Kepada Yth.
>Semua Komponen Bangsa Indonesia
>Perihal : Pernyataan Dra. Siti Hartati Murdaya di TVRI
>
>Salam Reformasi,
>Menanggapi pernyataan Dra. Siti Hartati Murdaya? di TVRI pada acara Dialog
>Khusus, hari Senin, 16 November 1998, yang direlay oleh seluruh stasiun
>televisi yang ada, dimana ada pernyataan-pernyataan yang sangat tidak layak
>diucapkan dan sangat meresahkan, apalagi mengatasnamakan Tokoh Masyarakat
>Umat Buddha.? Maka kami para pemuda Buddhis yang tergabung dalam
>Sekretariat
>Bersama Persaudaraan Muda-Mudi Vihara-vihara Buddhayana Indonesia (Sekber
>PMVBI), ingin menyampaikan beberapa keberatan kami kepada Dra. Siti Hartati
>Murdaya, sebagai berikut :
>
>1.? Anda menyatakan bahwa  gerakan demo yang dilakukan mahasiswa telah
>ditunggangi atau ada yang menggerakkannya  ? Pernyataan itu sangat arogan
>dan tanpa alasan, bahkan mengarah kepada suatu fitnah atau tuduhan tanpa
>dasar / bukti yang jelas.? Tak selayaknya hal itu keluar dari mulut anda,
>kecuali anda tahu dengan jelas bahwa indikasi itu benar.
>Pergerakan mahasiswa itu murni adanya tanpa rekayasa politik manapun.?
>Kalaupun
>ada yang bersimpati kepada mahasiswa, itu tak lebih dikarenakan panggilan
>hati nurani mereka masing-masing untuk membela yang tertindas.? Mungkin
>anda kurang membaca aspirasi perjuangan mahasiswa, sehingga menuduh
>secara membabi-buta.
>
>2.? Anda menyatakan bahwa  di Indonesia belum ada beasiswa untuk mahasiswa,
>sehingga membuat mahasiswa itu stress dan lalu mengadakan demo &quot;
>Kami sangat menyesalkan bahkan mengutuk pernyataan itu.? Sebagai seorang
>cendikiawan Buddhis (ketua KCBI), anda mestinya tahu bahwa sudah banyak
>beasiswa yang ditujukan ke mahasiswa yang diprakarsai oleh instansi
>pemerintah maupun swasta.?? Pernyataan anda bahwa mahasiswa berdemo
>karena stress terlebih lagi stress yang dikarenakan uang kuliah?
>benar-benar
>telah memukul hati nurani kami sebagai pemuda.? Anda sudah
>menginjak-injak martabat seluruh Pemuda se-Indonesia (khususnya
>mahasiswa).? Kami
>bukan manusia serendah itu  mungkin anda memang sering meyumbang ke
>mana-mana (karena anda termasuk konglomerat papan atas yang berlebih),
>melaksanakan aksi sosial, bagi-bagi sembako ke orang miskin.? Tapi bukan
>berarti
>anda bisa menyamakan semua orang seperti itu.? Rakyat yang tak mampu
>sekalipun tidak akan stress hanya karena anda tidak membagikan mereka
>sembako,
>apalagi mahasiswa.? Mahasiswa tidak mungkin stress hanya karena tidak
>memperoleh beasiswa.?? Dan perlu kami tegaskan lagi bahwa demo mahasiswa
>dilaksanakan karena panggilan hati nurani untuk menyatakan kebenaran, bukan
>karena stress.
>
>3.? Anda menyatakan bahwa  saya bukan orang yang ahli politik dan tidak
>tahu
>soal politik, tapi saya seorang pengusaha ? ngapain ribut terus, makan
>susah, toko-toko tutup, bisnis nggak jalan  apa nggak keliru kita ini
>tujuan perjuangan ini khan untuk rakyat agar rakyat sejahtera Kami
>menilai pernyataan anda ini sangat munafik.? Anda tidak mungkin tidak
>mengetahui permasalahan politik negara kita sekarang ini, rakyat jelata
>sekalipun tahu apa yang terjadi.? Anda adalah seorang anggota DPA (Dewan
>Pertimbangan Agung), Ketua KCBI (Keluarga Cendikiawan Buddhis Indonesia),
>
>Ketua Umum Sementara Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia), dan selain
>itu dari beberapa media yang kami baca dan kami lihat, anda cukup dekat
>dengan tokoh-tokoh pemerintah dan ABRI, bahkan andapun cukup aktif di
>partai
>politik tertentu.? Jadi sangat mustahil anda tidak tahu soal politik yang
>terjadi saat ini.? Janganlah anda berpura-pura buta soal politik, karena
>apa
>yang anda lakukan selama ini tak lepas dari politik.? Semua tahu anda
>seorang pengusaha (konglomerat bahkan), tapi jangan karena itu anda melihat
>segala sesuatunya dari kacamata seorang pengusaha semata.
>Kesejahteraan masyarakat secara adil dan merata bukan semata-mata karena
>jalannya
>bisnis atau perekonomian.? Apakah anda merasa selama 32 tahun ini bisnis
>tidak berjalan baik, tapi apakah bangsa ini sejahtera ???? Rakyat miskin
>di mana-mana, kesenjangan sangat terasa.? Inikah yang anda inginkan???
>
>4. Anda menyatakan bahwa  di negara lain pergantian kekuasaan tidak
>menimbulkan kekacauan seperti di Indonesia  mengapa kita tidak belajar dari
>negara lain  ? Kami tidak tahu pasti apa yang melatar belakangi arah
>pembicaraan anda.? Apakah anda seorang yang kurang peka lingkungan atau
>karena anda terlalu disibukkan oleh bisnis anda yang begitu menyita waktu
>anda sehingga anda tidak juga tahu bahwa bukan hanya di Indonesia hal ini
>terjadi.? Di manapun di dunia ini pergantian kekuasaan selalu enimbulkan
>kekacauan dan kerusuhan, apabila orang / rezim yang berkuasa bertindak
>semena-mena, melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela, dan yang
>memaksakan
>/ mempertahankan kedudukannya, serta yang menindas rakyat.? Apakah anda
>juga
>tidak tahu bahwa hal itu terjadi di negeri Indonesia ini.? Manalah mungkin
>kezaliman yang ada bisa tumbang dengan damai, kalau justru mereka
>sendirilah
>yang membuat semuanya ini tidak damai.
>
>Kami sangat kecewa terhadap pernyataan-pernyataan? anda itu.? Anda telah
>mencoreng muka umat Buddha Indonesia di mata semua komponen bangsa ini
>terutama para mahasiswa.
>Kepada segenap komponen bangsa? yang merasa terhina oleh
>pernyataan-pernyataan tersebut, khususnya para mahasiswa, teman
>seperjuangan kami, dengan ini kami nyatakan bahwa :
>
>1. Pernyataan yang disampaikan oleh Dra. Siti Hartati Murdaya tersebut
>bukanlah mewakili aspirasi umat Buddha pada umumnya, dan hal itu hanyalah
>pernyataan pribadi belaka.
>2. Kami menuntut Dra. Siti Hartati Murdaya untuk meminta maaf kepada
>seluruh komponen bangsa Indonesia, terutama mahasiswa atas
>pernyataan-pernyataan tersebut.
>3. Kami meminta dengan tegas agar Dra. Siti Hartati Murdaya tidak lagi
>berbicara atas kapasitasnya sebagai Tokoh umat Buddha.
>
>Demikianlah surat pernyataan kami ini dibuat, dengan itikad baik.
>
>
>Jakarta, 17 November 1998
>Sekretariat Jendral Sekber PMVBI
>
>
>Henry Gunawan Chandra, SE.
>Pjs. Sekjen
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.054
  • Reputasi: 56
  • Gender: Male
From: "prajnavira prajnavira" <prajnavira [at] hotmail.com>
To: pemuda_buddhis [at] egroups.com, apakabar [at] saltmine.radix.net
Subject: PRESS RELEASE DPP WALUBI
Date: Thu, 09 Sep 1999 05:22:09 GMT

Press Release

1. Gedung Wisma Narada merupakan gedung yang dibangun oleh Dra. Siti Hartati
Murdaya yang letaknya bersebelahan dengan ruang Puja Bakti (Dhammasala)
Vihara Dhammacakka Jaya. Wisma Narada berlantai dua yaitu lantai pertama
Ruang Serba Guna dan lantai dua Ruang Kepustakaan. Wisma ini merupakan
sarana pengembangan IPTEK dan aktivitas sosial kemasyarakatan bagi Umat
Buddha Indonesia dari berbagai sekte yang ada dan seluruh operasional
(gaji karyawan, listrik dan air) ini dibiayai langsung oleh Dra. Siti
Hartati Murdaya.

2. Penyelebaran Pernyataan Kebenaran yang tidak sesuai dengan penjelasan
dari Bhikkhu Subalaratano (Ketua Umum Yayasan Dhammacakka Jaya) bahwa beliau
tidak tahu menahu adanya selebaran tersebut, jelas merupakan upaya mengadu
domba antara Dra Siti Hartati Murdaya dan Bhikkhu Subalaratano Mahatera
yang dilakukan KASI dan pendukungnya yang bertujuan memecah belah umat
Buddha Indonesia yang bergabung dalam WALUBI. Tindakan menjual nama
merupakan bagian dari rangkaian besar rencana KASI yang mengunakan cara
Status Qou untuk kepentingan pribadi dan memecah belah umat Buddha. Bukti
ini merupakan perbuatan yang nyata yang dialami langsung oleh umat Buddha
Indonesia di wisma Narada.

3. Surat nomor 7/YJDJ/9/99 yang ditandatangani oleh Sukhemo Mahathera, MA.
dan Ir. Silakumaro Tonny Coason merupakan bukti oknum KASI yang
berkali-kali berupaya memecahbelah Umat Buddha Indonesia. Sebelum dan
sesudah peristiwa tersebut Dra Siti Hartati Murdaya selaku pengelola dan
penanggung jawab operasional pengunaan Gedung Narada telah mendapatkan
perizinan dari pihak-pihak yang berwenang. Kedua oknum ini yang tidak pernah
bertanggung jawab dari mulai pembangunan, perawatan dan operasional gedung
Narada hanya berlindung di dalam kepengurusan Yayasan yang sebenarnya adalah
Bhikkhu Subalaratano selaku Ketua Umum Yayasan Dhammacakka Jaya. Oknum
tersebut berupaya mengagalkan Pertemuan di Wisma Narada dengan mendatangkan
sekelompok demonstran dari MBI untuk menghalangi pengunaan ruang tersebut,
sehingga mengundang kedatangan dari aparat keamanan. Peristiwa tersebut
menimbulkan pengertian dan kebahagiaan bagi seluruh umat Buddha serta
memperjelas prilaku oknum yang selalu berupaya memecahbelah umat Buddha
Indonesia.

4. Peristiwa Demonstrasi tanggal 8 September 1999 di KPU oleh Forum Aksi
Damai Umat Buddha Indonesia (FADUBI) bentukan KASI dan MBI yang berpusat di
Vihara Mahavira Graha Pusat di Jalan Lodan Raya No. 6 B. Jakarta Utara.
FADUBI yang semula mengaku berpusat di Perum Dasana Blok UB 15 No. 2, Legok
Tangerang ternyata berpusat di Vihara Mahavira Graha Pusat yang menjadi
Pusat KASI yang senantiasa berupaya memecahbelah umat Buddha dan mengunakan
Komplek Vihara sebagai Pusat Kegiatan Politik dan hujatan untuk
menjerumuskan umat Buddha Indonesia ke dalam pertumpahan darah.

Daftar aktivitas KASI dalam kegiatan Politik Praktis :
1. KASI terlibat dalam mendirikan Partai Buddha Demokrat Indonesia dengan
menempatkan kursi Sekjen Parbudi yaitu Bhiksu Gunabadra Sthavira dalam DPP
Parbudi, sesuai dengan Berita Negara No 24 tertanggal 23 Maret 1999.
2. KASI dan Parbudi dalam edaran Hari Raya Waisak 2543/1999 disaat minggu
tenang Pemilu 1999 telah menganjurkan dan mempengaruhi Umat Buddha agar
memilih Partai Keadilan dan Persatuan (PKP). Tindakan dan cara-cara
mempengaruhi umat Buddha dengan selebaran dan edaran yang inkonstitusional
disaat minggu tenang merupakan parktek lama dari kelompok Status Quo untuk
mengarahkan umat Buddha ke dalam salah satu Parpol peserta Pemilu.
Yang tertera dalam selebaran adalah :
* Konfensi Agung Sangha Indonesia (KASI) yaitu :
a. Bhikkhu Panyavaro Mahathera.
b. Bhiksu Sthavira Aryamaitri.
c. Bhiksu Mahasthavira Dharmasagaro.
* Partai Buddha Demokrat Indonesia (Parbudi) yaitu :
     Ken Suryadin, SH (Ketua DPD Parbudi Jakarta).
3. Menjadikan Vihara dibawah pembinaan KASI menjadi Pusat kegiatan
     Politik Praktis dan Penghujatan yang tidak sesuai dengan fungsinya
     sebagai Pusat Peribadatan Agama.
 Vihara Mahavira Graha Pusat Jalan Lodan Raya No. 6 B. Jakarta
Utara. Menjadi tempat organisir Demonstran Forum Aksi Damai Umat Buddha
Indonesia.
 Vihara di Tanjung Duren digunakan untuk mengumpulkan tandatangan
dan menghimpun umat Buddha untuk melaksanakan demonstrasi laporan dari
Steven, Mahasiswa dan aktivis Umat Buddha (harian Jakarta tanggal 1
September 1999).
4. Bhikku KASI menyebarkan kebencian, pemutarbalikan fakta dan memecahbelah
umat Buddha dengan mendatangi KPU dan ICW untuk meminta kursi Golongan Agama
Buddha dihapuskan. Hal ini menandakan bahwa tidak ada kecintaan dan
penghargaan kepada Agama dan Umat Buddha yang telah menunjukan dharma
baktinya kepada nusa dan bangsa serta diberikan kehormatan yang sejajar
dengan Umat agama lainnya. Jika Utusan golongan Agama Buddha ditiadakan
berarti eksistensi umat Buddha tidak dihargai dan diakui keberadaanya serta
tidak menghormati Supermasi Hukum yang memberikan utusan golongan Agama
Buddha. Sikap KASI ini telah menodai citra umat Buddha dan menandakan penuh
ambisi keduniawian dan rela mengorbankan kepentingan umat Buddha agar tidak
berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hanya karena KASI
dan MBI yang mewakili sebagian kecil umat Buddha tidak dapat mewakili utusan
Golongan Agama Buddha di MPR maka rela seluruh kepentingan umat Buddha
dikorbankan, hal ini bertentangan dengan paham demokrasi yang diperjuangkan
dimasa Reformasi menuju Indonesia baru.

5. Surat No. 455.5/1204.DIV dari PLH. Dirjen Sospol yang mengatas-namakan
Mendagri bahwa KASI terdaftar di dirjen Sospol dan layak mewakili umatnya
pada forum apapun. Hal ini membuktikan bahwa KASI merupakan ORMAS yang
berhubungan dan berkaitan lansung dengan Partai Politik yang juga dibina
oleh Dirjen Sosial Politik, bukan organisasi Keagamaan yang dibina oleh
Departemen Agama RI.

6. KASI tidak diakui Keberadaannya dan Pembinaan oleh Departemen Agama
berdasarkan Surat No. H/BA.01.1/452/IV/99/RHS yang ditandatangani oleh
Dirjen Bimas Hindu dan Buddha sebagaimana layaknya Organisasi Keagamaan,
sudah membuktikan bahwa KASI adalah kelompok Partisan yang mengutamakan
kehidupan duniawi dan menjadi bagian yang berafiliasi kepada Partai Politik
yang membahayakan kehidupan keagamaan Buddha dengan prilakunya yang memecah
belah dan mengadu domba umat Buddha Indonesia.

Hormat kami,
Dewan Pengurus Pusat
Perwakilan Umat Buddha Indonesia
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra