topic short url: http://dhct.ws/f68

Author Topic: Buku "mantra penyembuh kanker" oleh Master Lu  (Read 40323 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Forte

  • Sebelumnya FoxRockman
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 16.539
  • Reputasi: 445
  • Gender: Male
Re: Re: Buku "mantra penyembuh kanker" oleh Master Lu
« Reply #75 on: 14 July 2007, 07:53:52 AM »
dengan seluruh hormat dari gw..tolong tunjukkan semua sutta yg ada tertulis demikian..tunjukan bahwa ada tertulis kalo Gerhana itu dimakan oleh Asura...tunjukkan semua stock anda...kalo anda bisa menunjukkannya..mungkin pada saat itu gw gk akan menjadi seorang Buddhist lage..I mean it! kecuali kalo ada isyarat2 didalamnya

kalo tentang rusa maybe gw masih bisa tolerate..karena mungkin sang rusa bukan berbicara dengan mulutnya tapi dengan hatinya, tapi kalo yg gerhana..gw gk bisa tolerate! tunjukan quote itu gw bakal tentang canon pali forever! gk bakal gw jadi Buddhist lage...

Sabar Bro.. Calm down please.. Ngopi dulu deh..  ~o)
Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedom—-to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way. - Viktor Frankl

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.107
  • Reputasi: 133
Re: Buku "mantra penyembuh kanker" oleh Master Lu
« Reply #76 on: 14 July 2007, 09:34:23 AM »
Namaste,

1.Sebenarnya kanker itu adalah penafsiran belakangan saja. Bahasa asli menggunakan "zhibing" yang secara harafiah adalah "penyakit berat." Dalam sutra disebutkan mengenai penyakit yang tumbuh pada berbagai organ tubuh manusia, oleh karena itu ada yang menafsirkannya sebagai kanker. Oleh karena itu, kata "kanker" ditaruh di dalam kurung, dalam artian itu hanya tafsiran saja.

Sdr. Tan, kita bisa saja menafsirkan sesuatu, tapi menafsirkan tanpa indikasi apapun, itu merupakan penafsiran yang gegabah.
Dalam sutra sama sekali tidak ada indikasi penyakit para bhiksu itu adalah penyakit kanker. Dalam sutra hanya dijelaskan bahwa para bhiksu tersebut hanya menjadi kurus. Di dalam sutra tidak disebutkan penyakit tersebut adalah penyakit yang tumbuh pada berbagai organ tubuh manusia, saya tidak melihatnya dalam sutra, mungkin Sdr. Tan bisa menunjukkan di alinea mana yang menyebutkan hal itu. Jika pun ada, Sdr. Tan, kata ”penyakit yang tumbuh...” bukan berarti ditafsirkan sebagai penyakit kanker. Kata ”penyakit’ di sini sangat luas artinya. Kanker sendiri adalah penyakit karena pembelahan sel yang tidak semestinya. Jadi setidaknya sutra mengatakan ”bagian tubuh (jaringan tubuh) yang tumbuh”  bukan ”penyakit yang tumbuh...”. Sekali lagi ini jika ada dalam sutra kalimat: ”penyakit yang tumbuh pada berbagai organ tubuh manusia”. Begitu juga kata ”zhibing” (”zhibing” bukan bahasa asli, karena bahasa asli sutra biasanya adalah Sanskerta) adalah kata yang terlalu umum (luas) dan tidak mengacu pada penyakit yang spesifik, jadi kita tidak bisa mengatakan ”zhibing”  adalah penyakit kanker.

Quote
2.Konsep "yin" dan "yang" tidak hanya dikenal di Tiongkok, melainkan juga di India. Biasanya literatur-literatur Upanisad menggunakan istilah "langit" dan "bumi," atau pernyataan yang berkesan dikotomis untuk mengkontraskan keduanya. Oleh karena itu, kemungkinan penerjemah menggunakan istilah "yin" hanya agar semata-mata dipahami oleh rakyat Tiongkok zaman itu. Dengan pertimbangan, suatu terjemahan tidak akan bermanfaat apabila tidak dapat dipahami oleh pembaca.
Kalau saya bilang nadi renmai, dumai, dan zhongmai, maka orang akan mengira bahwa itu adalah suatu konsep yang khas Tiongkok, tetapi bangsa India juga mengenal konsep serupa, dan menyebut nadi (jalan energi) itu sebagai ida, pingala, dan susumma. Jadi banyak konsep India dan Tiongkok yang mirip serta universal.

Sdr. Tan, saya tidak melihat dalam sutra adanya masalah dikotomis sehingga harus muncul istilah ”yin”. Dalam terjemahan bahasa Inggris lainnya, istilah ”yin’ diterjemahkan sebagai cool (dingin). Mungkin saja ini yang dimaksud. Tapi,  jika kita melihat kata-kata sebelumnya berhubungan kata ini, disebut dalam sutra adanya unsur panas, tetapi mengapa tidak diterjemahkan dengan kata ”yang”?
Jadi saya beranggapan bahwa tidak ada masalah dikotomis di sini, tetapi yang dimaksud adalah unsur yang lebih spesifik lagi. Panas ya panas, angin ya angin, sedangkan ”yin” memiliki banyak makna, tidak spesifik. Sayangnya kita tidak memiliki keseluruhan sutra ini dalam bahasa Sanskrit, dengan demikian kita tidak bisa tahu kata apa sebenarnya sehingga diterjemahkan dengan istilah ”yin”. Saya sendiri memperkirakan yang dimaksud adalah unsur tanah (Sanskerta- bhumi) . Jadi kita hanya baru bisa memperkirakan saja.

Mengenai dikotomi, saya merasa penasaran, apakah umum bahwa dikotomi dengan istilah "langit" dan "bumi" yang identik dengan istilah ”yin dan yang” terdapat dalam sutra-sutra Buddhist?

Quote
4.Saya setuju dengan studi skolastik terhadap suatu sutra/ sutta atau kitab suci apa saja. Tetapi studi skolastik tidak dimaksudkan untuk merendahkan suatu literatur keagamaan. Menurut hasil penelitian saya, Tipitaka Pali ataupun Tripitaka Mahayana itu sebagian besar "palsu," tetapi kenyataan ini tidak menggoyahkan saddha saya sebagai umat Buddha. Karena dalam dunia spiritual yang "palsu" dapat pula "asli," sedangkan yang "asli" dapat pula "palsu."

Saya hanya bisa mengatakan bahwa ini semua tergantung pikiran kita, apa yang tidak sesuai dengan pemikiran kita bukan berarti hal itu adalah suatu bentuk perendahan.
Mengenai penelitian anda, saya tidak tahu bagaimana cara anda meneliti, mungkin lain waktu anda bisa menceritakannya sehingga rekan-rekan yang lain mengetahui hasil penemuan anda. Dan saya yakin ketika anda menulis sebagian besar ”palsu” pasti ada sebagian yang ”asli”.
Ketika kita memasuki wilayah saddha, ini tergantung pengertian kita tentang saddha. Percaya dan menerima begitu saja, itu bukan saddha.
Dan kita juga tidak bisa menepis bahwa dalam dunia spiritual memungkinkan apa yang "palsu" tetap ”palsu”, dan apa yang ”asli” tetap ”asli”.

Quote
5.Studi literatur keagamaan tidak dapat mengandalkan logika saja, tetapi juga harus melihat makna esoteris atau tataran batiniah suatu naskah. Jika kita hanya mengandalkan segi logika saja, maka seluruh isi Jataka harus dianggap sebagai dongeng anak-anak dan demikian pula dengan vagga-vagga tertentu dalam Samyutta Nikaya, yang membahas mengenai dewa-dewa. Bahkan dalam Samyutta Nikaya dijelaskan bahwa penyebab gerhana bulan dan matahari adalah deva Suriya dan Chandra dimakan oleh raksasa Rahu. Kalau secara logika jelas sekali ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Tetapi sebenarnya maknanya bukan di sana. Hanya melihat kepada yang tersirat dalam memahami naskah keagaaan, tanpa bersedia memahami yang tersurat tentu saja tidak akan membuahkan manfaat bagi kemajuan batin.

Saya rasa ini sudah keluar topik. Tapi satu yang saya pahami, bahwa logika tidak identik dengan sains, dan melihat makna esoteris atau tataran batiniah suatu naskah tidak lain adalah upaya manusia melogiskan sesuatu sehingga bisa sesuai dengan tingkat pemikirannya.
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.107
  • Reputasi: 133
Re: Re: Buku "mantra penyembuh kanker" oleh Master Lu
« Reply #77 on: 14 July 2007, 09:35:11 AM »
Memang benar bahwa Buddha mengajarkan lahir, tua, sakit dan mati adalah hakekat hidup semua makhluk, tetapi ini tidak berarti bahwa orang tidak boleh berusaha mencari kesembuhan. Buddha tidak mengajarkan bahwa orang tidak boleh berharap untuk sembuh. Harapan itu tetap harus ditumbuhkan. Menafsirkan ajaran Buddha secara sempit sungguh berbahaya. Jika orang menganut pandangan ini, maka saat ini kita tidak akan mengenal vaksin cacat (Edward Jenner), vaksin rabies, vaksin TBC (Louis Pasteur), dll. Masalah usaha mencari kesembuhan itu berhasil atau tidak itu adalah masalah lain, tetapi dengan melafalkan mantra setidaknya orang menumbuhkan harapan dalam dirinya, sambil tetap menyadari bahwa dukkha dan anicca itu adalah hakekat kehidupan. Tidak ada yang kontradiktif di sini.

Apa yang disampaikan Sdr. Tan ada benarnya jika dipandang dari sudut pandang seseorang yang sakit sekali seumur hidup atau sakitnya beragam (tidak pernah sama) serta terlepas dari jaminan akan keberhasilan suatu mantra. Tapi bagaimana dengan orang yang sakit untuk kedua kalinya dengan sakit yang sama? Sang Buddha pernah sakit parah untuk kedua kalinya dan ada indikasi kedua penyakitnya tersebut adalah penyakit yang sama. Jika dengan mengucar mantra dapat menyembuhkan penyakit secara total (dalam sutra dikatakan sampai ke akar-akarnya), maka Sang Buddha tidak perlu sakit untuk yang kedua kalinya.(Bhikkhu Mettanando – How The Buddha Die)

Sdr. Tan, terlepas dari ada atau tidaknya indikasi Sang Buddha pernah sakit parah yang sama untuk kedua kalinya, saya sependapat adalah baik menumbuhkan harapan bagi seseorang yang sakit. Tetapi kenapa memberikan cara (bukan lagi sekedar harapan) yang membuat yang bersangkutan melekat (karena ada jaminan berhasil) berupa mantra yang bahkan tidak ada indikasi menyembuhkan? Bukankah lebih baik pergi ke dokter. Coba kita bandingkan dengan kisah KisaGotami dan Patacara. Di akhir kedua kisah yang menyedihkan itu yang juga berkaitan dengan lahir, tua, sakit dan mati tersebut, Sang Buddha memberikan Pengertian Benar bukan memberikan cara menolaknya atau menghilangkannya. 
Dan dalam kasus ini, berhasil atau tidak usaha mencari kesembuhan adalah penting karena telah secara jelas dinyatakan atau tepatnya diklaim dalam sutra, bahwa mengucar mantra ini akan menyembuhkan sampai ke akarnya. Tapi sekali lagi, tidak ada indikasi bahwa hanya dengan mengucar mantra akan sembuh, bahkan para bhiksu di dalam sutra tersebut tidak diketahui apakah sembuh atau tidak. Ini diluar dari kebiasaan suatu sutra atau sutta.
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.107
  • Reputasi: 133
Re: Buku "mantra penyembuh kanker" oleh Master Lu
« Reply #78 on: 14 July 2007, 09:35:47 AM »
Dahulu waktu para bhikshu India, seperti Amoghavajra, Subhakarasimha, dll, menerjemahkan sutra di Tiongkok, mereka melakukan transliterasi mantra serta dharani; yakni mengganti bunyi mantra Sanskrit dengan padanan bunyinya dalam bahasa Mandarin. Jadi mantra itu dalam bahasa Mandarin tidak punya arti. Sedangkan dalam bahasa Sanskrit mantra memiliki arti, itu adalah juga pembabaran kebenaran. Sebagai contoh: Tadhyata Om Gate-gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha! (Mantra Prajnaparamita), artinya adalah: "Menyeberanglah! Menyeberanglah ke Pantai Seberang (Bodhi)." Sutra Prajnaparamita Hrdaya mengatakan bahwa dengan membaca mantra itu orang dapat mengatasi segenap penderitaan. Kalau diartikan secara harafiah tanpa tahu makna mantranya, maka orang mengira itu adalah mantra ajaib yang dapat menyelesaikan semua permasalahan. Tetapi tidak demikian halnya. Jika kita hendak mengatasi segenap penderitaan, maka harus "menyeberang ke pantai seberang," yakni mencapai nibanna. Banyak orang salah paham tentang mantra, yang dianggap sama dengan jampi-jampi belaka, padahal mantra adalah juga Dharma.
Kembali ke pokok pertanyaan. Selama proses penyalinan sutra, mungkin saja terjadi kesalahan dalam menyalin mantra, yang dalam bahasa Mandarin hanya berupa bunyi2 tanpa arti. Oleh karena itu, beberapa mantra dalam bentuk transliterasi Mandarinnya berbeda dengan versi aslinya yang berbahasa Sanskrit. Belakangan ini, orang mulai mengembalikan lagi ke versi aslinya atau berusaha merekonstruksi lagi bahasa aslinya. Inilah sebabnya, bila ada versi Sanskritnya, saya selalu mencantumkannya dalam setiap terjemahan sutra saya, kendati berbeda dengan versi Mandarinnya. Demikian semoga tidak menimbulkan kebingungan.

Jika deretan kalimat pada mantra yang membuat suatu dampak, maka kasihan sekali masyarakat Tiongkok yang mengandalkan mantra yang tidak ada arti, salah atau kurang dalam terjemahannya selama ratusan tahun. Dengan kata lain sebelum adanya rekonstruksi, para pengguna mantra berbasis mandarin, telah mempelajari dhamma yang kosong. Bukan kah demikian?

Saya tidak yakin mantra Prajnaparamita artinya seperti yang Sdr. Tan sampaikan. Dengan kata lain arti yang anda sampaikan hanyalah perkiraan saja. Kata ”Aum” /Om adalah kata yang tidak bisa diterjemahkan secara tepat, dan anda pasti tidak menerjemahkannya. Dan jika arti dan maknanya adalah seperti yang anda sampaikan, maka, mantra penyembuh ”kanker” dan mantra-mantra lain tidak perlu lagi diciptakan, cukup satu mantra. Bahkan mantra pun tidak perlu ada jika sudah ada Pengertian Benar bahwa jika kita hendak mengatasi segenap penderitaan, maka harus "menyeberang ke pantai seberang," yakni mencapai nibbana. Sang Buddha sudah menyatakan Pengertian Benar ini selama 45 tahun secara lugas, lalu untuk apa Ia justru menyembunyikan pemahaman ini dibalik kata-kata yang perlu pemahaman khusus (mantra)?

Terakhir, saya tidak tahu mantra Sankserta dari mantra penyembuh ”kanker” adalah mantra hasil rekonstruksi dari mandarin ke Sanskerta atau memang demikian. Yang pasti, dengan tidak meninggalkan rasa hormat kepada Y.M Yijing, mantra dalam terjemahan mandarinnya sangat fatal karena tidak dicantumkan kata ”Aum” /Om sebuah aksara yang bisa dikatakan penting sebagai pembuka suatu mantra.

NB: Apakah sdr. Tan memiliki literatur Sanskerta dari sutra penyembuh "kanker" ini? Jika ada bisakah anda mempostingnya?
Thanks.

Demikian.
« Last Edit: 14 July 2007, 09:38:13 AM by Kelana »
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline Tan

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 510
  • Reputasi: 31
Re: Re: Buku "mantra penyembuh kanker" oleh Master Lu
« Reply #79 on: 14 July 2007, 10:21:31 AM »
dengan seluruh hormat dari gw..tolong tunjukkan semua sutta yg ada tertulis demikian..tunjukan bahwa ada tertulis kalo Gerhana itu dimakan oleh Asura...tunjukkan semua stock anda...kalo anda bisa menunjukkannya..mungkin pada saat itu gw gk akan menjadi seorang Buddhist lage..I mean it! kecuali kalo ada isyarat2 didalamnya

kalo tentang rusa maybe gw masih bisa tolerate..karena mungkin sang rusa bukan berbicara dengan mulutnya tapi dengan hatinya, tapi kalo yg gerhana..gw gk bisa tolerate! tunjukan quote itu gw bakal tentang canon pali forever! gk bakal gw jadi Buddhist lage...

TAN:

Waduh.. kalau dibilang bicara dengan hati ya ga bisa donk, Pak. Lha wong di dalam Jataka disebutkan kalau rusanya bisa ngomong dengan raja (manusia) kok. Jika Anda menafsirkan seperti itu berarti Anda sudah masuk keluar dari tataran harafiah. Oleh karena itu, tidaklah bijaksana jika Anda menafsirkan literatur sekte lain dengan pandangan harafiah pula. Itu tidak fair!

Sekarang saya pastekan dulu Suriya Sutta (Samyutta Nikaya 2.10):

Thus have I heard:

On one occasion the Blessed One was living near Savatthi at Jetavana at Anathapindika's monastery. At that time Suriya, the sun deity, was seized by Rahu, Lord of Asuras. Thereupon calling to mind the Blessed One, Suriya, the Sun deity, recited this stanza:

i. "O Buddha, the Hero, thou art wholly free from all evil. My adoration to thee. I have fallen into distress. Be thou my refuge."

Thereupon the Blessed One addressed a stanza to Rahu, Lord of Asuras, on behalf of Suriya thus:

ii. "O Rahu, Suriya has gone for refuge to the Tathagata, the Consummate One. Release Suriya. The Buddhas radiate compassion on the world (of beings).

iii. "O Rahu, swallow not the dispeller of darkness, the shining one, the radiant and effulgent traveler through the sky. Rahu, release Suriya, my son."

Thereupon Rahu, Lord of Asuras, released Suriya, and immediately came to the presence of Vepacitta, Lord of Asuras, and stood beside him trembling with fear and with hair standing on end. Then Vepacitta addressed Rahu in this stanza:

iv. "Rahu, why did you suddenly release Suriya? Why have you come trembling, and why are you standing here terrified?"

"I have been spoken to by the Buddha in a stanza (requesting me release Suriya). If I had not released Suriya my head would have split into seven pieces. While yet I live, I should have had no happiness. (Therefore I released Suriya)."


Jelas itu mengacu pada peristiwa gerhana matahari, yang menurut Sutta di atas disebabkan oleh Rahu. Rahu ini dalam legenda Jawa disebut Bathara Kala.
Tapi saya kira Anda tidak perlu meninggalkan agama Buddha. Yang perlu Anda tinggalkan adalah sudut pandang Anda yang terlalu mengandalkan logika. Padahal dalam menelaah kitab suci agama apapun, kita tidak dapat sepenuhnya mengandalkan logika.

Metta,

Tan

Offline Tan

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 510
  • Reputasi: 31
Re: Buku "mantra penyembuh kanker" oleh Master Lu
« Reply #80 on: 14 July 2007, 10:24:28 AM »
Tambahan ulasan untuk Suriya Sutta:

Lagipula mana mungkin matahari ada dewanya. Kok kayak agama Shinto saja? Matahari itu adalah bola berapi yang terbakar karena Helium. Bagaimana Anda menjelaskannya?

Metta,

Tan

Offline Tan

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 510
  • Reputasi: 31
Re: Buku "mantra penyembuh kanker" oleh Master Lu
« Reply #81 on: 14 July 2007, 11:25:00 AM »
Saya akan coba mendiskusikan pertanyaan Anda satu persatu.


Namaste,

1.Sebenarnya kanker itu adalah penafsiran belakangan saja. Bahasa asli menggunakan "zhibing" yang secara harafiah adalah "penyakit berat." Dalam sutra disebutkan mengenai penyakit yang tumbuh pada berbagai organ tubuh manusia, oleh karena itu ada yang menafsirkannya sebagai kanker. Oleh karena itu, kata "kanker" ditaruh di dalam kurung, dalam artian itu hanya tafsiran saja.

Sdr. Tan, kita bisa saja menafsirkan sesuatu, tapi menafsirkan tanpa indikasi apapun, itu merupakan penafsiran yang gegabah.
Dalam sutra sama sekali tidak ada indikasi penyakit para bhiksu itu adalah penyakit kanker. Dalam sutra hanya dijelaskan bahwa para bhiksu tersebut hanya menjadi kurus. Di dalam sutra tidak disebutkan penyakit tersebut adalah penyakit yang tumbuh pada berbagai organ tubuh manusia, saya tidak melihatnya dalam sutra, mungkin Sdr. Tan bisa menunjukkan di alinea mana yang menyebutkan hal itu. Jika pun ada, Sdr. Tan, kata ”penyakit yang tumbuh...” bukan berarti ditafsirkan sebagai penyakit kanker. Kata ”penyakit’ di sini sangat luas artinya. Kanker sendiri adalah penyakit karena pembelahan sel yang tidak semestinya. Jadi setidaknya sutra mengatakan ”bagian tubuh (jaringan tubuh) yang tumbuh”  bukan ”penyakit yang tumbuh...”. Sekali lagi ini jika ada dalam sutra kalimat: ”penyakit yang tumbuh pada berbagai organ tubuh manusia”. Begitu juga kata ”zhibing” (”zhibing” bukan bahasa asli, karena bahasa asli sutra biasanya adalah Sanskerta) adalah kata yang terlalu umum (luas) dan tidak mengacu pada penyakit yang spesifik, jadi kita tidak bisa mengatakan ”zhibing”  adalah penyakit kanker.

TAN:

Sebenarnya yang menafsirkannya sebagai kanker bukan saya. Lagipula menurut hemat saya hendak ditafsirkan sebagai kanker sekalipun juga tidak terlalu masalah. Yang pasti dalam terjemahan, saya telah mencantumkan makna harafiahnya, yakni "penyakit berat." Selain itu, hendak ditafsirkan sebagai kanker tidak mengurangi esensi sutranya sendiri. Selain itu, zhibing dalam bahasa Mandarin Wenyan (Mandarin sastra kuno) mungkin pula mengacu pada salah satu penyakit tertentu. Saya sedang cari literaturnya. Kalau Anda dapat membantu mencari maknanya yang tepat saya sangat berterima kasih.

***

Quote
2.Konsep "yin" dan "yang" tidak hanya dikenal di Tiongkok, melainkan juga di India. Biasanya literatur-literatur Upanisad menggunakan istilah "langit" dan "bumi," atau pernyataan yang berkesan dikotomis untuk mengkontraskan keduanya. Oleh karena itu, kemungkinan penerjemah menggunakan istilah "yin" hanya agar semata-mata dipahami oleh rakyat Tiongkok zaman itu. Dengan pertimbangan, suatu terjemahan tidak akan bermanfaat apabila tidak dapat dipahami oleh pembaca.
Kalau saya bilang nadi renmai, dumai, dan zhongmai, maka orang akan mengira bahwa itu adalah suatu konsep yang khas Tiongkok, tetapi bangsa India juga mengenal konsep serupa, dan menyebut nadi (jalan energi) itu sebagai ida, pingala, dan susumma. Jadi banyak konsep India dan Tiongkok yang mirip serta universal.

Sdr. Tan, saya tidak melihat dalam sutra adanya masalah dikotomis sehingga harus muncul istilah ”yin”. Dalam terjemahan bahasa Inggris lainnya, istilah ”yin’ diterjemahkan sebagai cool (dingin). Mungkin saja ini yang dimaksud. Tapi,  jika kita melihat kata-kata sebelumnya berhubungan kata ini, disebut dalam sutra adanya unsur panas, tetapi mengapa tidak diterjemahkan dengan kata ”yang”?
Jadi saya beranggapan bahwa tidak ada masalah dikotomis di sini, tetapi yang dimaksud adalah unsur yang lebih spesifik lagi. Panas ya panas, angin ya angin, sedangkan ”yin” memiliki banyak makna, tidak spesifik. Sayangnya kita tidak memiliki keseluruhan sutra ini dalam bahasa Sanskrit, dengan demikian kita tidak bisa tahu kata apa sebenarnya sehingga diterjemahkan dengan istilah ”yin”. Saya sendiri memperkirakan yang dimaksud adalah unsur tanah (Sanskerta- bhumi) . Jadi kita hanya baru bisa memperkirakan saja.

Istilah yin itu memang tertera di sutranya demikian. Saya tidak berhak merubahnya. Tetapi karena yang ada adalah terjemahan mandarinnya, maka memang benar bahwa kita hanya dapat memperkirakannya saja. Terjemahan Anda sebagai unsur tanah juga masuk akal. Saya juga berharap dapat menemukan teks Sanskritnya.

***

Mengenai dikotomi, saya merasa penasaran, apakah umum bahwa dikotomi dengan istilah "langit" dan "bumi" yang identik dengan istilah ”yin dan yang” terdapat dalam sutra-sutra Buddhist?

TAN:

Konsep dikotomi seperti di Tiongkok juga dapat dijumpai di literatur2 Hindu, seperti Upanisad. Saya sedang menerjemahkan Mundaka Upanisad, yang di dalamnya juga mengandung konsep dikotomi seperti itu. Memang bahwa istilahnya tidak harus "langit" dan "bumi," tetapi bisa juga Atman dan Brahman, dll.
Saya hanya hendak mengungkapkan bahwa konsep seperti itu tidak hanya monopoli bangsa Tionghua saja.


Quote
4.Saya setuju dengan studi skolastik terhadap suatu sutra/ sutta atau kitab suci apa saja. Tetapi studi skolastik tidak dimaksudkan untuk merendahkan suatu literatur keagamaan. Menurut hasil penelitian saya, Tipitaka Pali ataupun Tripitaka Mahayana itu sebagian besar "palsu," tetapi kenyataan ini tidak menggoyahkan saddha saya sebagai umat Buddha. Karena dalam dunia spiritual yang "palsu" dapat pula "asli," sedangkan yang "asli" dapat pula "palsu."

Saya hanya bisa mengatakan bahwa ini semua tergantung pikiran kita, apa yang tidak sesuai dengan pemikiran kita bukan berarti hal itu adalah suatu bentuk perendahan.
Mengenai penelitian anda, saya tidak tahu bagaimana cara anda meneliti, mungkin lain waktu anda bisa menceritakannya sehingga rekan-rekan yang lain mengetahui hasil penemuan anda. Dan saya yakin ketika anda menulis sebagian besar ”palsu” pasti ada sebagian yang ”asli”.
Ketika kita memasuki wilayah saddha, ini tergantung pengertian kita tentang saddha. Percaya dan menerima begitu saja, itu bukan saddha.
Dan kita juga tidak bisa menepis bahwa dalam dunia spiritual memungkinkan apa yang "palsu" tetap ”palsu”, dan apa yang ”asli” tetap ”asli”.

TAN:

Sebenarnya kita juga tidak pernah dapat mengetahui secara pasti apakah yang dianggap "asli" oleh para ahli itu benar-benar "asli." Para ahli beranggapan bahwa yang asli sebenarnya hanya beberapa bagian dari Sutta Nipata. Memang benar menerima begitu saja juga bukan saddha yang benar, oleh karena itu, kita harus menggunakan kebijaksanaan dalam menentukan mana yang "asli" dan mana yang "palsu." Pandangan atau hasil penelitian para ahli tidak dapat dijadikan pula patokan untuk menentukan "asli" atau "palsu"nya suatu naskah keagamaan, meskipun suatu naskah secara lahiriah "palsu," tetapi dapat juga secara spiritual adalah "asli."

***

Quote
5.Studi literatur keagamaan tidak dapat mengandalkan logika saja, tetapi juga harus melihat makna esoteris atau tataran batiniah suatu naskah. Jika kita hanya mengandalkan segi logika saja, maka seluruh isi Jataka harus dianggap sebagai dongeng anak-anak dan demikian pula dengan vagga-vagga tertentu dalam Samyutta Nikaya, yang membahas mengenai dewa-dewa. Bahkan dalam Samyutta Nikaya dijelaskan bahwa penyebab gerhana bulan dan matahari adalah deva Suriya dan Chandra dimakan oleh raksasa Rahu. Kalau secara logika jelas sekali ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Tetapi sebenarnya maknanya bukan di sana. Hanya melihat kepada yang tersirat dalam memahami naskah keagaaan, tanpa bersedia memahami yang tersurat tentu saja tidak akan membuahkan manfaat bagi kemajuan batin.

Saya rasa ini sudah keluar topik. Tapi satu yang saya pahami, bahwa logika tidak identik dengan sains, dan melihat makna esoteris atau tataran batiniah suatu naskah tidak lain adalah upaya manusia melogiskan sesuatu sehingga bisa sesuai dengan tingkat pemikirannya.


TAN:

Sebenarnya tidak keluar topik. Ini adalah satu kesatuan. Banyak orang yang mendiskreditkan bahwa naskah Mahayana banyak mengandung tahayul, padahal yang mereka kenal adalah praktik luar Mahayana. Di sini saya mencoba membuktikan bahwa dalam kanon Pali pun juga terkandung tahayul yang sama. Kanon Pali juga terdapat hal-hal yang tak masuk akal. Jika seseorang menolak naskah Mahayana dengan alasan di dalamnya banyak terkandung tahayul, maka naskah Pali juga harus ditolak pula, atau dengan kata lain menolak Buddhisme secara keseluruhan!
Oleh karena itu, saya hanya hendak menyampaikan bahwa kita hendaknya tidak menafsirkan sesuatu secara harafiah. Saya tidak sependapat bahwa melihat makna esoteris adalah upaya melogiskan sesuatu hingga sesuai dengan tingkat pemikirannya. Justru makna esoteris itu adalah makna supra-rasional, yang mengatasi logika. Tentu saja secara logis, sampai saat ini saya masih tidak dapat menerima konsep bahwa gerhana matahari disebabkan oleh Rahu, rusa yang dapat berbicara, ataupun air paritta dari mangkuk Sang Buddha yang bila dipercikkan dapat menghilangkan wabah. Itu bagi logika saya, sama saja denga dongeng. Tetapi saya tidak hanya semata melihat makna harafiah (yang tersuratnya) saja.

Metta,

Tan

Offline Tan

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 510
  • Reputasi: 31
Re: Re: Buku "mantra penyembuh kanker" oleh Master Lu
« Reply #82 on: 14 July 2007, 11:32:55 AM »
Memang benar bahwa Buddha mengajarkan lahir, tua, sakit dan mati adalah hakekat hidup semua makhluk, tetapi ini tidak berarti bahwa orang tidak boleh berusaha mencari kesembuhan. Buddha tidak mengajarkan bahwa orang tidak boleh berharap untuk sembuh. Harapan itu tetap harus ditumbuhkan. Menafsirkan ajaran Buddha secara sempit sungguh berbahaya. Jika orang menganut pandangan ini, maka saat ini kita tidak akan mengenal vaksin cacat (Edward Jenner), vaksin rabies, vaksin TBC (Louis Pasteur), dll. Masalah usaha mencari kesembuhan itu berhasil atau tidak itu adalah masalah lain, tetapi dengan melafalkan mantra setidaknya orang menumbuhkan harapan dalam dirinya, sambil tetap menyadari bahwa dukkha dan anicca itu adalah hakekat kehidupan. Tidak ada yang kontradiktif di sini.

Apa yang disampaikan Sdr. Tan ada benarnya jika dipandang dari sudut pandang seseorang yang sakit sekali seumur hidup atau sakitnya beragam (tidak pernah sama) serta terlepas dari jaminan akan keberhasilan suatu mantra. Tapi bagaimana dengan orang yang sakit untuk kedua kalinya dengan sakit yang sama? Sang Buddha pernah sakit parah untuk kedua kalinya dan ada indikasi kedua penyakitnya tersebut adalah penyakit yang sama. Jika dengan mengucar mantra dapat menyembuhkan penyakit secara total (dalam sutra dikatakan sampai ke akar-akarnya), maka Sang Buddha tidak perlu sakit untuk yang kedua kalinya.(Bhikkhu Mettanando – How The Buddha Die)

Sdr. Tan, terlepas dari ada atau tidaknya indikasi Sang Buddha pernah sakit parah yang sama untuk kedua kalinya, saya sependapat adalah baik menumbuhkan harapan bagi seseorang yang sakit. Tetapi kenapa memberikan cara (bukan lagi sekedar harapan) yang membuat yang bersangkutan melekat (karena ada jaminan berhasil) berupa mantra yang bahkan tidak ada indikasi menyembuhkan? Bukankah lebih baik pergi ke dokter. Coba kita bandingkan dengan kisah KisaGotami dan Patacara. Di akhir kedua kisah yang menyedihkan itu yang juga berkaitan dengan lahir, tua, sakit dan mati tersebut, Sang Buddha memberikan Pengertian Benar bukan memberikan cara menolaknya atau menghilangkannya. 
Dan dalam kasus ini, berhasil atau tidak usaha mencari kesembuhan adalah penting karena telah secara jelas dinyatakan atau tepatnya diklaim dalam sutra, bahwa mengucar mantra ini akan menyembuhkan sampai ke akarnya. Tapi sekali lagi, tidak ada indikasi bahwa hanya dengan mengucar mantra akan sembuh, bahkan para bhiksu di dalam sutra tersebut tidak diketahui apakah sembuh atau tidak. Ini diluar dari kebiasaan suatu sutra atau sutta.


TAN:

Pertanyaan Anda akan saya balik pula dengan pertanyaan:

Dalam sumber Pali saya pernah membaca: di kota Vesali pernah ada wabah penyakit dan kelaparan. Lalu sang Buddha memercikkan air paritta yang ada di mangkuknya, sehingga akhirnya wabah penyakit dan kelaparan itu sirna. Mengapa pada saat itu, Sang Buddha tidak memaparkan saja bahwa lahir, sakit, dan mati adalah wajar? Lagipula mana masuk akal dengan memercikkan air wabah penyakit dan kelaparan dapat sirna. Sepengetahuan saya kalau ada wabah penyakit ya harus dipanggilkan tim medis dan bukannya ciprat2 air paritta. Bisa-bisa dokter tidak laku nanti :)) Lalu kalau kelaparan ya harus didatangkan bahan makanan, masa dengan diperciki air paritta bisa kenyang? Kalau begitu nanti kalau saya lapar, saya bacakan saja paritta pada air dan diminum. Pasti nanti jadi kenyang. Apakah begitu? :)) Jadi jelas sekali Anda tidak dapat menafsirkannya secara harafiah.

Kalau Anda menafsirkannya secara harafiah, maka agar fair Anda juga harus menolak kanon Pali atau Buddhisme secara keseluruhan, karena dalam kanon Pali juga terdapat kisah-kisah tidak masuk akal, yang terkadang bertentangan dengan ajaran Buddha sendiri. Milindapanha adalah bukti adanya kontradiksi dalam kanon Pali, yang "dicoba" untuk diselaraskan, walaupun (maaf) saya lihat bahwa penjelasannya dipaksakan. Saya baca Milindapanha terkadang sampai mengernyitkan dahi atau terkadang tersenyum sendiri. Karena penjelasannya terkadang ada yang sangat-sangat dipaksakan.

Metta,

Tan

Offline Tan

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 510
  • Reputasi: 31
Re: Buku "mantra penyembuh kanker" oleh Master Lu
« Reply #83 on: 14 July 2007, 11:41:41 AM »
Dahulu waktu para bhikshu India, seperti Amoghavajra, Subhakarasimha, dll, menerjemahkan sutra di Tiongkok, mereka melakukan transliterasi mantra serta dharani; yakni mengganti bunyi mantra Sanskrit dengan padanan bunyinya dalam bahasa Mandarin. Jadi mantra itu dalam bahasa Mandarin tidak punya arti. Sedangkan dalam bahasa Sanskrit mantra memiliki arti, itu adalah juga pembabaran kebenaran. Sebagai contoh: Tadhyata Om Gate-gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha! (Mantra Prajnaparamita), artinya adalah: "Menyeberanglah! Menyeberanglah ke Pantai Seberang (Bodhi)." Sutra Prajnaparamita Hrdaya mengatakan bahwa dengan membaca mantra itu orang dapat mengatasi segenap penderitaan. Kalau diartikan secara harafiah tanpa tahu makna mantranya, maka orang mengira itu adalah mantra ajaib yang dapat menyelesaikan semua permasalahan. Tetapi tidak demikian halnya. Jika kita hendak mengatasi segenap penderitaan, maka harus "menyeberang ke pantai seberang," yakni mencapai nibanna. Banyak orang salah paham tentang mantra, yang dianggap sama dengan jampi-jampi belaka, padahal mantra adalah juga Dharma.
Kembali ke pokok pertanyaan. Selama proses penyalinan sutra, mungkin saja terjadi kesalahan dalam menyalin mantra, yang dalam bahasa Mandarin hanya berupa bunyi2 tanpa arti. Oleh karena itu, beberapa mantra dalam bentuk transliterasi Mandarinnya berbeda dengan versi aslinya yang berbahasa Sanskrit. Belakangan ini, orang mulai mengembalikan lagi ke versi aslinya atau berusaha merekonstruksi lagi bahasa aslinya. Inilah sebabnya, bila ada versi Sanskritnya, saya selalu mencantumkannya dalam setiap terjemahan sutra saya, kendati berbeda dengan versi Mandarinnya. Demikian semoga tidak menimbulkan kebingungan.

Jika deretan kalimat pada mantra yang membuat suatu dampak, maka kasihan sekali masyarakat Tiongkok yang mengandalkan mantra yang tidak ada arti, salah atau kurang dalam terjemahannya selama ratusan tahun. Dengan kata lain sebelum adanya rekonstruksi, para pengguna mantra berbasis mandarin, telah mempelajari dhamma yang kosong. Bukan kah demikian?

Saya tidak yakin mantra Prajnaparamita artinya seperti yang Sdr. Tan sampaikan. Dengan kata lain arti yang anda sampaikan hanyalah perkiraan saja. Kata ”Aum” /Om adalah kata yang tidak bisa diterjemahkan secara tepat, dan anda pasti tidak menerjemahkannya. Dan jika arti dan maknanya adalah seperti yang anda sampaikan, maka, mantra penyembuh ”kanker” dan mantra-mantra lain tidak perlu lagi diciptakan, cukup satu mantra. Bahkan mantra pun tidak perlu ada jika sudah ada Pengertian Benar bahwa jika kita hendak mengatasi segenap penderitaan, maka harus "menyeberang ke pantai seberang," yakni mencapai nibbana. Sang Buddha sudah menyatakan Pengertian Benar ini selama 45 tahun secara lugas, lalu untuk apa Ia justru menyembunyikan pemahaman ini dibalik kata-kata yang perlu pemahaman khusus (mantra)?

Terakhir, saya tidak tahu mantra Sankserta dari mantra penyembuh ”kanker” adalah mantra hasil rekonstruksi dari mandarin ke Sanskerta atau memang demikian. Yang pasti, dengan tidak meninggalkan rasa hormat kepada Y.M Yijing, mantra dalam terjemahan mandarinnya sangat fatal karena tidak dicantumkan kata ”Aum” /Om sebuah aksara yang bisa dikatakan penting sebagai pembuka suatu mantra.

NB: Apakah sdr. Tan memiliki literatur Sanskerta dari sutra penyembuh "kanker" ini? Jika ada bisakah anda mempostingnya?
Thanks.

Demikian.


TAN:

Makanya saya juga tidak setuju transliterasi itu. Memang kasihan orang-orang Tiongkok yang tidak tahu mantranya dengan benar. Saya tidak tahu alasan mengapa mantra2 itu ditransliterasi bunyi Mandarinnya. Mengapa tidak dibiarkan saja dalam huruf Siddham (devanagari)? Kalau orang memang berniat belajar Buddhisme sudah sewajarnya belajar huruf Siddham. Saya saja dapat membaca huruf Siddham tanpa kesulitan. Huruf Siddham tidaklah susah. Masih lebih susah huruf Mandarin. Itulah sebabnya sudah menjadi tugas umat Mahayana untuk menyebar-luaskan kembali versi Sanskritnya.

Mengenai mantra Prajnaparamita, memang benar bahwa mantra itu mengandung makna yang mendalam dan tidak dapat semata-mata diterjemahkan secara harafiah. Tetapi terkadang terjemahan (walaupun tidak menjelaskan makna mantra itu secara sempurna) juga membantu untuk memperlihatkan bahwa mantra itu juga adalah Dharma, karena saya lihat ada rekan-rekan di forum ini yang nampaknya mendiskreditkan mantra. Jadi saya sebagai umat Mahayana harus menjelaskan bahwa mantra adalah Dharma.

Adanya mantra atau tidak, tak berhubungan dengan pembabaran Dharma Sang Bhagava selama 45 tahun. Mantrayana yang merupakan bagian Mahayana adalah sebuah metode, karena banyak orang yang dapat lebih mudah dibawa ke jalan Dharma dengan metode Mantra, ketimbang dengan semata-mata mendengungkan.. Pengertian Benar... Pengertian Benar. Kata Pengertian Benar (Samyakdrsthi) sebenarnya juga adalah mantra kok, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Buddhadharma Mahayana mengajarkan bahwa Sang Buddha memiliki 84.000 pintu Dharma.

Metta,

Tan

Offline Tan

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 510
  • Reputasi: 31
Re: Buku "mantra penyembuh kanker" oleh Master Lu
« Reply #84 on: 14 July 2007, 11:46:48 AM »
Tambahan lagi:

Kalau air di mangkuk Sang Buddha dapat membebaskan warga Vesali dari wabah penyakit dan kelaparan, mengapa air itu tidak dapat membebaskan Beliau sendiri dari penyakit?  =))

Ada yang dapat menjelaskannya? ;)


Metta,


Tan

Offline Tan

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 510
  • Reputasi: 31
Re: Re: Buku "mantra penyembuh kanker" oleh Master Lu
« Reply #85 on: 14 July 2007, 11:53:33 AM »
dengan seluruh hormat dari gw..tolong tunjukkan semua sutta yg ada tertulis demikian..tunjukan bahwa ada tertulis kalo Gerhana itu dimakan oleh Asura...tunjukkan semua stock anda...kalo anda bisa menunjukkannya..mungkin pada saat itu gw gk akan menjadi seorang Buddhist lage..I mean it! kecuali kalo ada isyarat2 didalamnya

kalo tentang rusa maybe gw masih bisa tolerate..karena mungkin sang rusa bukan berbicara dengan mulutnya tapi dengan hatinya, tapi kalo yg gerhana..gw gk bisa tolerate! tunjukan quote itu gw bakal tentang canon pali forever! gk bakal gw jadi Buddhist lage...

Sabar Bro.. Calm down please.. Ngopi dulu deh..  ~o)

Inilah sikap yang saya sesalkan, banyak umat aliran Theravada yang bahkan tidak pernah baca kitab-kitabnya sendiri, tetapi dapat menghakimi bahwa Mahayana adalah penuh tahayul. Padahal mereka juga belum pernah baca literatur Mahayana, seperti Sutra Prajnaparamita 100.000 baris, Madhyamika Nagarjuna, Samatha-vipasyana karya Zhiyi, filsafat aliran Tiantai, filsafat aliran Mizong, filsafat aliran Huayan, Avatamsaka Sutra, dll. Jelas isinya sangat sangat jauh dari tahayul. Jelas saya sangat prihatin dan sedih menyaksikan fakta ini. Ingin menangis rasanya :'(

Metta,

Tan

Offline Sol Capoeira

  • Sebelumnya: El Sol
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.746
  • Reputasi: 6
  • Gender: Male
Re: Re: Buku "mantra penyembuh kanker" oleh Master Lu
« Reply #86 on: 14 July 2007, 01:07:58 PM »
Quote
TAN:

Waduh.. kalau dibilang bicara dengan hati ya ga bisa donk, Pak. Lha wong di dalam Jataka disebutkan kalau rusanya bisa ngomong dengan raja (manusia) kok. Jika Anda menafsirkan seperti itu berarti Anda sudah masuk keluar dari tataran harafiah. Oleh karena itu, tidaklah bijaksana jika Anda menafsirkan literatur sekte lain dengan pandangan harafiah pula. Itu tidak fair!

Sekarang saya pastekan dulu Suriya Sutta (Samyutta Nikaya 2.10):

Thus have I heard:

On one occasion the Blessed One was living near Savatthi at Jetavana at Anathapindika's monastery. At that time Suriya, the sun deity, was seized by Rahu, Lord of Asuras. Thereupon calling to mind the Blessed One, Suriya, the Sun deity, recited this stanza:

i. "O Buddha, the Hero, thou art wholly free from all evil. My adoration to thee. I have fallen into distress. Be thou my refuge."

Thereupon the Blessed One addressed a stanza to Rahu, Lord of Asuras, on behalf of Suriya thus:

ii. "O Rahu, Suriya has gone for refuge to the Tathagata, the Consummate One. Release Suriya. The Buddhas radiate compassion on the world (of beings).

iii. "O Rahu, swallow not the dispeller of darkness, the shining one, the radiant and effulgent traveler through the sky. Rahu, release Suriya, my son."

Thereupon Rahu, Lord of Asuras, released Suriya, and immediately came to the presence of Vepacitta, Lord of Asuras, and stood beside him trembling with fear and with hair standing on end. Then Vepacitta addressed Rahu in this stanza:

iv. "Rahu, why did you suddenly release Suriya? Why have you come trembling, and why are you standing here terrified?"

"I have been spoken to by the Buddha in a stanza (requesting me release Suriya). If I had not released Suriya my head would have split into seven pieces. While yet I live, I should have had no happiness. (Therefore I released Suriya)."


Jelas itu mengacu pada peristiwa gerhana matahari, yang menurut Sutta di atas disebabkan oleh Rahu. Rahu ini dalam legenda Jawa disebut Bathara Kala.
Tapi saya kira Anda tidak perlu meninggalkan agama Buddha. Yang perlu Anda tinggalkan adalah sudut pandang Anda yang terlalu mengandalkan logika. Padahal dalam menelaah kitab suci agama apapun, kita tidak dapat sepenuhnya mengandalkan logika.

Metta,

Tan
damn! loe buat gw kawatir ampe 1 hari..cuma mo kasi gw liat sutta ini? mwahahahahaha gw relief banget karena sutta ini gk nulis sama skale kalo itu gerhana..dan itu cuma pendapat loe...WTH?! :))

Offline Sol Capoeira

  • Sebelumnya: El Sol
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.746
  • Reputasi: 6
  • Gender: Male
Re: Re: Buku "mantra penyembuh kanker" oleh Master Lu
« Reply #87 on: 14 July 2007, 01:09:41 PM »
Quote
Tambahan ulasan untuk Suriya Sutta:

Lagipula mana mungkin matahari ada dewanya. Kok kayak agama Shinto saja? Matahari itu adalah bola berapi yang terbakar karena Helium. Bagaimana Anda menjelaskannya?

Metta,

Tan
mwahahahah gk jade deh gw jadi Atheist mwhahahahaha....Dewa kenapa gk bisa di Matahari? wong dewa dimana2..yg gk mungkin tuh Boddhisatva yg penuh kemelekatan(pengen nolong semua makhluk) yg gk mungkin ada di Matahari or disamping loe nolongin loe ketik  :)) _/\_ _/\_

Offline Sol Capoeira

  • Sebelumnya: El Sol
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.746
  • Reputasi: 6
  • Gender: Male
Re: Re: Buku "mantra penyembuh kanker" oleh Master Lu
« Reply #88 on: 14 July 2007, 01:18:29 PM »
Quote
84.000 pintu Dharma.
kedukunan, pemerkosaan, pembunuhan, perampokan, dll..karena semuanya itu pintu Dharma..bukankah begitu? yuk mulai sekarang kita melanggar sila seperti Mahayana...yahooo!! ;D

runnnn awaaaaaaaaayyyyyyyyyyyyyyy..... :P

Offline Sol Capoeira

  • Sebelumnya: El Sol
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.746
  • Reputasi: 6
  • Gender: Male
Re: Re: Buku "mantra penyembuh kanker" oleh Master Lu
« Reply #89 on: 14 July 2007, 01:22:22 PM »
Quote
Inilah sikap yang saya sesalkan, banyak umat aliran Theravada yang bahkan tidak pernah baca kitab-kitabnya sendiri, tetapi dapat menghakimi bahwa Mahayana adalah penuh tahayul. Padahal mereka juga belum pernah baca literatur Mahayana, seperti Sutra Prajnaparamita 100.000 baris, Madhyamika Nagarjuna, Samatha-vipasyana karya Zhiyi, filsafat aliran Tiantai, filsafat aliran Mizong, filsafat aliran Huayan, Avatamsaka Sutra, dll. Jelas isinya sangat sangat jauh dari tahayul. Jelas saya sangat prihatin dan sedih menyaksikan fakta ini. Ingin menangis rasanya Cry

Metta,

Tan
lah gmana mao baca sutra2 itu? wong..sutra2 yg di umum aja dah ngawur...contohne ada 1 buku yg namane kuan im keng...dihalaman blakang ada 10 mantra kecil..dan dibawah mantranya ada keterangan kira2 kayak gini:

kalo eloe baca ini mantra 100000 kale..maka dewa XX dan dewa YY akan dikirim lewat fedex ketempat ente untuk melindungimu

wth? :))