topic short url: http://dhct.ws/f6660

Author Topic: Dasar Pandangan Agama Buddha : oleh Venerable S. Dhammika  (Read 7205 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.397
  • Reputasi: 422
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Dasar Pandangan Agama Buddha : oleh Venerable S. Dhammika
« on: 30 November 2008, 05:56:32 AM »
Teori

ALAM SEMESTA

   1.      Dapat dikatakan, hampir setiap agama memiliki mitos yang mencoba menerangkan asal dan segi-segi alami dari alam semesta. Mesir kuno mempercayai bahwa Dewa Khnumm menciptakan alam-semesta kemudian membuat manusia dari tanah liat, lalu Dewi Hathor meniupkan hidup kepada mereka. Yunani kuno mempercayai, bahwa segala sesuatu dibuat oleh Oceanus, air yang pertama. Yahudi kuno serta kaum kr****n memiliki dua legenda penciptaan, keduanya tercatat di kitab Bible. Yang pertama mengatakan, bahwa Hebrew menciptakan alam semesta serta terang dan gelap pada hari pertama, air dan daratan kering pada hari ke dua, semua tumbuhan pada hari ke tiga, matahari dan bulan serta bintang-bintang pada hari ke empat, semua burung dan hewan pada hari ke lima, lalu laki-laki dan wanita pertama pada hari ke enam.*1 Legenda penciptaan yang ke dua menyebutkan bahwa Tuhan membuat bumi, lalu laki-laki pertama, lalu tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang, lalu terakhir seorang wanita.*2 Cina kuno mempercayai P'an Ku memahat alam-semesta yang sebelumnya berantakan, setelah mati tulangnya berubah menjadi bukit, dagingnya menjadi tanah, giginya menjadi kandungan logam dan seterusnya, keseluruhan kejadian itu berjalan selama 18.000 tahun. Pula, setiap agama mempunyai pemahaman yang berbeda menyangkut umur dan luas alam semesta, tapi kebanyakan masih dalam jangkauan manusia. Kitab Bible, misalnya menunjukkan bahwa alam semesta berumur beberapa ribu tahun. Sesuai pergantian zaman lalu mitos dan legenda, kemudian terganti oleh penelitian alam semesta ilmiah yang moderen.

   2.      Perkembangan dari Ilmu Fisika moderen saat ini telah sampai pada kesimpulan bahwa alam semesta tidak berawal secara serentak. Alam semesta secara berkesinambungan berubah dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, terbentuk dan hancur, suatu proses tanpa awal dan akhir. Dengan sendirinya, bila dinyatakan, bahwa bila alam semesta berawal secara serentak, maka diperlukan energi awal yang terjadi dari sesuatu yang tidak ada, dan hal ini jelas bertentangan dengan kaidah ilmu pengetahuan.
      Sang Buddha berpendapat, bahwa alam semesta, yang disebut Beliau sebagai Samsara, adalah tanpa awal. Beliau bersabda:

      Tidak dapat ditentukan awal dari alam semesta. Titik terjauh dari kehidupan, berpindah dari kelahiran ke kelahiran, terikat oleh ketidaktahuan dan keinginan, tidaklah dapat diketahui.

   3.      Para pakar ilmu pengetahuan sekarang meyakini, bahwa alam semesta adalah suatu sistim yang berdenyut, yang setelah mengembang secara maksimal, lalu menciut dengan segala energi yang ditekan pada suatu bentukan masa; sedemikan besar sehingga menyebabkan ledakan, yang disebut sebagai "big bang", yang berakibat pelepasan energi. Pengembangan dan penciutan alam semesta berlangsung dalam kurun waktu milyaran tahun. Sekali, lagi, Sang Buddha telah memaklumi pengembangan dan penciutan alam semesta. Beliau bersabda:

      Lebih awal atau lebih lambat, ada suatu waktu, sesudah masa waktu yang sangat panjang sekali alam semesta menciut ....... Tetapi lebih awal atau lebih lambat, sesudah masa yang lama sekali, alam semesta mulai mengembang lagi.

   4.      Penemuan teleskop konvensional dan teleskop radio belakangan kemudian, telah memungkinkan para ahli astronomi untuk mengetahui tidak saja asal dan sifat alami dari alam semesta, tapi juga susunannya. Diketahui sekarang, bahwa alam semesta terdiri dari sekian milyar bintang, planet, asteroid dan komet. Semua benda langit tersebut berkelompok dalam bentuk cakram atau spiral yang disebut galaksi. Planet bumi kita hanya satu titik kecil yang terdapat pada suatu galaksi yang diberi nama Bimasakti (Inggeris: Milky Way). Bimasakti atau Milky Way terdiri atas kurang lebih 100 milyar bintang dengan jarak dari ujung ke ujung 60.000 tahun cahaya. Telah diketahui pula bahwa galaksi-galaksi di alam semesta ini tersusun berkelompok. Kelompok galaksi dimana Bimasakti kita berada terdiri dari dua lusin galaksi; kelompok lain, kelompok Virgo misalnya terdiri dari ribuan galaksi.
      Dibalik kenyataan; bahwa tata surya, galaksi, dan kelompok galaksi baru diketahui di dunia Barat setelah penemuan peralatan canggih; maka ternyata kitab suci Agama Buddha telah banyak menyebutkan hal tersebut ribuan tahun sebelumnya. Penganut agama Buddha sejak zaman dahulu telah menggambarkan galaksi sebagai berbentuk spiral. Istilah dalam bahasa Pali untuk galaksi adalah "cakkavala"; yang berasal dari kata "cakka", yang berarti cakram / roda. Sang Buddha secara sangat jelas dan tepat menggambarkan kelompok-kelompok galaksi, yang oleh para ilmuwan baru ditemukan. Beliau menyebutnya sebagai sistim dunia (lokadhatu) dan menambahkan perbedaan dalam ukurannya: sistim dunia ribuan-lipat, sistim dunia puluhan ribu-lipat, sistim dunia besar, dan seterusnya. Beliau menyebutkan sistim dunia terdiri dari ribuan matahari dan planet, walau sebenarnya oleh para ahli astronomi menyebutnya sebagai jutaan.

      Sejauh matahari-matahari dan bulan-bulan berputar, bersinar dan memancarkan sinarnya ke angkasa, sejauh itu pula sistim dunia ribuan-lipat. Didalamnya terdapat ribuan matahari, ribuan bulan.

   5.      Dahulu, dalam waktu yang sangat lama, manusia tidak dapat membayangkan luas alam-semesta baik dalam satuan waktu maupun ruang untuk dapat memahami asal dan luas alam-semesta. Pemikiran saat itu terbatas serta terikat ke pemahaman dunia semata. Didalam Bible misalnya, dipahami bahwa seluruh alam-semesta diciptakan dalam enam hari dan penciptaan itu terjadi barulah beberapa ribu tahun lalu.
      Saat ini, para ahli astronomi menghitung bintang dalam satuan ribuan-milyar dan mengukur jarak alam semesta dalam satuan tahun cahaya; satu tahun cahaya adalah jarak yang dapat ditempuh oleh cahaya dalam waktu satu tahun. Manusia zaman dulu jelas tidak dapat membayangkan dimensi seperti itu. Sang Buddha, adalah pengecualian. Kebijaksanaan-Nya, yang tak terbatas, dapat memahami konsep dari alam semesta yang tak terbatas. Beliau menyebut adanya "daerah gelap, hitam, kelam diantara sistim-sistim dunia, sedemikian rupa hingga cahaya matahari dan bulan sekalipun tak dapat mencapainya ......."6. Waktu yang diperlukan untuk terbentuk dan hancurnya sistim dunia sangatlah panjang; diperlukan sangat banyak 'kappa' (sebagai satuan waktu) untuk itu. Sewaktu Sang Buddha ditanya tentang panjang kurun waktu satu kappa, Beliau menjawab:

      "Sangat panjang kurun waktu satu kappa. Tak dapat diperhitungkan dengan tahun, abad ataupun ribuan abad". "Bila demikian, Guru, dapatkah dengan menggunakan perumpamaan?"
      "Dapat. Bayangkan bongkahan suatu gunung besar, tanpa retak, tanpa celah, padat, berukuran panjang 1 mil, lebar 1 mil dan tingginya juga 1 mil. Lalu bayangkan setiap seratus tahun ada seorang datang menggosoknya dengan sepotong sutra Benares. Maka, akan lebih cepat bukit itu habis tergosok dari pada suatu kappa berlalu. Pula ketahuilah, lebih dari satu, lebih dari ribuan, lebih dari ratusan ribu kappa, sebenarnya telah berlalu"

      Disini terlihat, betapa Sang Buddha menggunakan perumpamaan seperti diuraikan diatas untuk memberi gambaran tentang "jarak ruang dalam satuan waktu"; sama halnya para ahli astronomi saat ini menggambarkan "jarak-jarak di angkasa luar dengan menggunakan satuan tahun cahaya".

   6.      Namun, Sang Buddha menyebut tentang asal dan perluasan alam semesta hanya sepintas lalu. Beliau tidak menganggap, bahwa berteori dan berspekulasi tentang hal tersebut, adalah lebih penting dibanding masalah utama kita, yakni mengakhiri penderitaan dan mencapai kebahagiaan Nibbana (Sansekerta: Nirwana). Ketika seorang sekali waktu mendesak Sang Buddha untuk menjawab pertanyaan tentang luasnya alam semesta, Sang Buddha membandingkan keadaan orang tersebut sebagai seorang yang terkena panah beracun, namun menolak diobati dan dicabuti anak panah tersebut, sebelum orang tersebut mengetahui secara jelas siapa yang melepaskan anak panah tersebut. Sang Buddha, lalu bersabda:

      Menjalani hidup yang suci tak dikatakan tergantung apakah alam semesta ini terbatas atau tidak, atau keduanya atau tidak keduanya. Sebab apakah alam semesta ini, terbatas atau tidak; tetaplah ada kelahiran, tetap ada usia-lanjut, tetap ada kematian, kesedihan, penyesalan, penderitaan, keperihan dan keputusasaan; dan untuk mengatasi semua itulah semua yang Saya ajarkan.


      Sangat jelas, dengan hanya berbekal pengetahuan tentang bagaimana alam-semesta terjadi, kita tidak akan dapat mengatasi penderitaan, pula tidak akan dapat mengembangkan kemurahan hati, kebajikan dan cinta kasih. Buat Sang Buddha pertanyaan menyangkut hal-hal ini adalah jauh lebih penting dari pada spekulasi tentang asal-mula alam semesta.

   7.      Walau demikian, konsep Sang Buddha tentang alam-semesta yang sangat tepat dan maju, menyebabkan kita bertanya dalam diri; bagaimana bisa Beliau mengetahui semua ini. Bagaimana mungkin seorang mengetahui tentang berkelompoknya Bimasakti dan bahwa Bimasakti itu berbentuk spiral, jauh sebelum penemuan teleskop? Bagaimana Dia, yang hidup di zaman lampau demikian menghayati ke-takterbatasan waktu dan ruang? Jawaban satu-satunya yang mungkin ialah karena, Beliau, sebagai yang disebut oleh Beliau sendiri, adalah Buddha yang telah mencapai Pencerahan (Inggeris: enlightenment). Batin-Nya demikian sempurna, bebas dari prasangka dan kekhayalan yang biasanya mengabuti batin orang biasa, pengetahuannya telah berkembang diluar kemampuan manusia biasa. Sang Buddha menyatakan diri-Nya sebagai "pengenal alam-semesta" (lokavidu), dan pernyataan Beliau memang terbukti kebenarannya.
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.397
  • Reputasi: 422
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Dasar Pandangan Agama Buddha : oleh Venerable S. Dhammika
« Reply #1 on: 30 November 2008, 05:59:56 AM »
KEHIDUPAN DAN ALAM KEHIDUPAN

   8.      Bagaimana dan kapan kehidupan bermula adalah misteri dan mungkin akan tetap demikian. Kebanyakan agama-agama menyatakan bahwa Tuhan mereka masing-masing yang menciptakan kehidupan. Namun pernyataan demikian belum tentu dapat menjawab bagaimana kehidupan dimulai, sebab bila Tuhan adalah makhluk-hidup, maka dengan demikian harus sejalan dengan pemahaman, bahwa 'hidup berasal dari hidup'. Dan, dalam hal ini belum dapat diterangkan bagaimana kehidupan Tuhan (sebagai suatu pribadi) dimulai. Terpisah dari legenda-legenda, maka selama ini, ada dua teori ilmiah yang mencoba menerangkan bagaimana kehidupan bermula di dunia ini. Pertama, adalah Hipotesa Haldane-Oparin, yang dinamai sesuai nama dua sarjana yang pertama yang mengemukakan bahwa bahan organik berasal dari bahan anorganik.1 Menurut hipotesa mereka, pada zaman lampau, campuran dari gas anorganik yang sederhana larut dalam laut, lalu dengan energi matahari membentuk molekul prasejarah yang pertama; molekul ini kemudian merupakan prasyarat bermulanya kehidupan. Hipotesa ini adalah yang paling diterima dalam menerangkan asal kehidupan. Kemudian, baru-baru ini, Sir Fred Hoyle dan Professor Chandra Wickramasinghe menyajikan hipotesa yang sangat berbeda.2 Mereka mengatakan bahwa bentuk kehidupan yang sederhana ber-evolusi di angkasa luar lalu terbawa ke bumi oleh meteor-meteor dan ekor komet yang sedang melintas. Namun, cara bagaimanapun kehidupan dimulai, pada kenyataannya telah pernah ditemukan bukti-bukti berupa fosil berbentuk batang yang menyerupai ganggang dan bakteri primitif kita saat ini, yang telah ada sejak 2,7 milyar tahun lalu. Hampir semua ahli sependapat bahwa bentuk kehidupan awal berkembang dipermukaan laut.

   9.      Agama Buddha mengajarkan, asal kehidupan tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia. Walau demikian, Sang Buddha juga memberi gambaran bagaimana kehidupan berawal di bumi. Beliau menjelaskan, ketika alam-semesta mulai mengembang, alam yang telah ada barulah alam surga (alam-dewa).

      Dan demikian mereka hidup, terdiri dari batin saja, senantiasa berbahagia, badannya mengeluarkan cahaya, bergerak di angkasa dengan jayanya, dan bertahan begitu sampai masa yang sangat lama sekali. Pada waktu itu bumi hanya terdiri dari massa air semata dan semuanya gelap kelam. Tidak ada bulan atau matahari, belum ada tata-surya, bintang belum terlihat, belum ada perhitungan waktu bulan, pertengahan-bulan, tahun atau musim, belum ada laki-laki dan wanita, hanya makhluk itu saja yang ada. Lalu setelah jarak waktu yang sangat lama, buih-buih yang menggiurkan terbentuk diatas permukaan massa air dimana makhluk-makhluk itu berada. Bentuknya seperti lapisan yang terbentuk diatas susu panas yang mendingin. Warnanya seperti dadih-susu (susu yang mengental) atau mentega, dan rasanya seperti madu murni. Lalu, beberapa makhluk yang bersifat rakus berkata: "Saya berkata, apa yang seperti ini !, lalu mencoba buih itu dengan jarinya. Ketika ia melakukannya, dia menyukainya, dan keinginan timbul diantara mereka. Jadi mereka mulai berpencar memakannya. Setelah itu, cahaya badannya menghilang; lalu bulan dan matahari, siang dan malam, bulan dan pertengahan bulan, tahun dan musim, terjadi.3

      Sang Buddha menerangkan lebih lanjut, bahwa badan makhluk itu bertambah nyata setiap mereka makan, lalu timbul ciri-ciri seksual. Mengenai perubahan tersebut, Beliau berkata, berlangsung "pada kurun waktu yang sangat, sangat panjang".4 Saat ini, setiap ilmuwan pun, tak dapat tidak sependapat bahwa semua yang dijelaskan Sang Buddha adalah sama dengan temuan ilmiah tentang asal tata-surya tersebut. Temuan ilmiah dan Sang Buddha, keduanya sependapat, bahwa permukaan bumi pada masa awalnya tertutup oleh air. Pula, keduanya sependapat bahwa kehidupan pertama mengambang diatas permukaan air, dimana mereka menyerap sari makanan. Keduanya juga sependapat, bahwa bentuk kehidupan awal adalah aseksual (tak berjenis kelamin), pula keduanya sependapat bahwa bentuk kehidupan ber-evolusi, dari bentuk yang sederhana ke bentuk kehidupan yang lebih kompleks, dan bahwa proses itu berlangsung dalam waktu yang sangat panjang.

  10.      Ilmu pengetahuan membagi kehidupan menurut susunan tubuhnya, sedangkan Sang Buddha membaginya menurut apa yang dialaminya. Sang Buddha mengatakan ada enam alam kehidupan, berbeda satu dari lainnya dalam hal apa yang dialami dalam alam kehidupannya masing-masing. Ada Alam Dewa, Alam Manusia, Alam Binatang, Alam Roh Lapar, Alam Roh Cemburu, Alam Neraka. Marilah kita menelitinya satu demi satu.

  11.      Para dewa, yang dalam bahasa Inggeris sering disebut sebagai "gods", dan alam dimana mereka berada sering disebut sebagai "heaven" (surga), namun kedua istilah itu tidak tepat untuk mengungkapkan konsep tentang dewa, Kata "God" (Tuhan) adalah konsep ketuhanan yang menyangkut cinta-kasih, menyangkut kekuatan untuk mencipta dan mengendalikan segalanya, yang sama sekali berbeda dibanding manusia. Kata "surga" menyangkut konsep ketuhanan dari kehidupan kekal sesudah kematian, dimana tidak ada yang berbuat kesalahan seperti kehidupan dibumi. Pada kenyataannya, para dewa tidaklah sempurna dan pula tidak kekal, bila masa kehidupannya usia mereka bisa terlahir kembali sebagai manusia, demikian pula sebaliknya manusia bisa terlahir kembali sebagai dewa. Ciri utama dari kehidupan dewa, adalah bahwa para dewa mengalami lebih banyak kebahagiaan.

      Pula, surga tempatnya tidaklah mesti selalu terpisah dari alam kehidupan lainnya; surga tidak "di atas sana", pula neraka tidak "di bawah sana". Satu dewa bisa saja berada disamping satu manusia ataupun disamping satu roh-lapar. Yang membuat mereka terpisah atau berbeda, adalah pada keadaan yang dialaminya, bukan pada tempat dimana mereka masing-masing berada. Karena dewa-dewa mungkin saja adalah manusia-manusia sebelum mereka terlahir di Alam Dewa, maka mereka senantiasa masih tertarik pada apa yang dikerjakan manusia. Mereka bisa menjawab doa seseorang, melindungi orang tertentu dari mara bahaya, namun bisa menyebabkan kesulitan-kesulitan diantara manusia.

  12.      Setelah pembicaraan tentang perbedaan antara dewa dan "gods", kita sampai pada yang diajarkan oleh Sang Buddha tentang konsep "penciptaan" alam-semesta oleh suatu "maha-dewa" atau makhluk tertentu. Keberadaan makhluk seperti itu dibantah oleh Sang Buddha, sebab menurut Beliau, pemahaman seperti itu adalah tidak masuk akal, tanpa pembuktian yang mendukungnya. Ada beberapa argumentasi yang mencoba membuktikan adanya "maha-dewa" pencipta, namun Buddha Dhamma malah membuktikan bahwa tidak satupun argumentasi itu memuaskan. Argumentasi pertama mengatakan seperti ini: "Segala sesuatu mempunyai kausa (sebab), oleh karenanya selayaknya ada kausa pertama, dan bahwa kausa pertama itulah "maha-dewa" itu. Ada beberapa alasan penolakan pada argumentasi ini. Pertama, ialah bahwa argumentasi diatas justru bertolak belakang dengan pernyataan/argumentasi itu sendiri. Oleh karena, segala sesuatu mempunyai kausa, maka kausa pertama seharusnya mempunyai kausa juga. Kedua, tidak ada alasan yang masuk akal, bahwa segala sesuatu harus mempunyai satu kausa tunggal. Semua benda pada dasarnya terbentuk dari beberapa kausa, dengan demikian adalah sangat makul kalau dikatakan bahwa sesuatu hal memiliki sepuluh, ratusan atau bahkan ribuan kausa. Ketiga, walau ada kausa pertama yang tunggal, namun tidak terbukti bahwa itu adalah suatu "maha-dewa". Banyak kemungkinan untuk itu. Lalu ke-empat, adalah secara makul tidak mungkin ada kausa pertama atau asal dari alam-semesta. Suatu permulaan, adalah suatu kejadian, dan sama halnya dengan kejadian-kejadian pada umumnya, permulaan adalah suatu perlangsungan, yang tentunya pasti mengambil masa atau waktu untuk perlangsungannya. Waktu terdiri atas lampau, sekarang dan akan datang. Oleh karenanya pada setiap kejadian yang berlangsung, ada waktu sebelum terjadi (waktu lampau), waktu ketika terjadi (sekarang) dan waktu sesudah terjadi (waktu akan datang). Sebelum dari apa yang disebut "penciptaan oleh maha-dewa", dengan sendirinya tidak ada waktu (karena segala sesuatu belum ada). Lalu, jelas tidaklah mungkin bahwa sesuatu "tanpa-waktu" menghasilkan waktu, sama tidak mungkinnya gelap menghasilkan terang, atau kering dapat menimbulkan basah.

  13.      Argumentasi lain, mengenai keberadaan "maha-dewa" tersebut, adalah sebagai berikut: dikatakan "Segala sesuatu secara alami mempunyai tujuan dan aturan. Tidak terjadi secara kebetulan, namun dirancang. Apabila alam adalah rancangan, maka harus ada perancang, lalu perancang itu seharusnya "maha-dewa" tersebut". Ada beberapa alasan penolakan pada argumentasi diatas. Pertama, walau misalnya diakui bahwa alam ini dirancang, namun tidak terbukti bahwa perancangnya adalah "maha-dewa" tersebut, juga tidak terbukti bahwa perancangnya adalah tunggal. Pada kenyataannya, alam demikian rumit serta kompleks, wajar bila memerlukan banyak perancang. Jadi, bila segala sesuatu dirancang, maka perlu ada beberapa "pencipta". Kedua, walau misalnya alam ini dirancang, maka ternyata tampak aspek kekejaman dalam rancangannya. Sebagai contoh, kuman tuberkulosa dirancang untuk menggerogoti paru-paru manusia. Mulut belut laut dirancang untuk mencengkram tubuh ikan mangsanya untuk kemudian pelan-pelan dimakan hidup-hidup penuh rasa sakit. Kuman kusta dirancang untuk menggerogoti daging manusia sehingga anggota badan rusak. Dengan demikian, walau, misalnya alam dirancang, kenyataan bahwa justru banyak rancangan menyebabkan penderitaan menyimpulkan bahwa Yang-Esa yang maha-pengasih tidak pernah menciptakannya sedemikian rupa. Ke-tiga, walau misalnya alam ini dirancang, banyak dari rancangan itu justru salah. Bila "maha-dewa sempurna" itu merancang, maka ciptaannya seharusnya sempurna pula. Kenyataannya hujan memang mengairi persawahan, tapi kadang-kadang hujan tidak datang, menyebabkan berjuta orang meninggal karena kelaparan, atau hujan terlampau banyak, menyebabkan ribuan orang kehilangan rumahnya atau hidupnya karena banjir. Setiap tahun jutaan bayi dilahirkan cacat mental atau badaniah yang sangat mengerikan. Produksi sel tubuh, kadang-kadang salah, menyebabkan tumor dan kanker. Kenyataan, bahwa perancangan alam tidaklah sempurna meng-indikasikan bahwa "maha-dewa", pencipta yang seharusnya sempurna bukanlah perancangnya.

  14.      Agama Buddha juga masih memiliki beberapa argumentasi kuat untuk menganggap "maha-dewa" itu, tidaklah maha-tahu, maha-kuasa serta maha-pengasih. Argumentasi pertama adalah, apabila "maha-dewa" itu maha-tahu, maka "maha-dewa" itu pasti mengetahui semua masa lalu, mengetahui semua masa sekarang dan mengetahui semua masa yang akan datang. Dengan demikian seharusnya "maha-dewa" itu pasti mengetahui pilihan yang dijatuhkan seseorang, pikiran yang dipunyai seseorang, tindakan yang akan dilakukan seseorang, jauh sebelum dilaksanakan oleh orang itu. Jadi, dengan demikian setiap manusia seharusnya hanya dapat bertindak sesuai apa yang telah "maha-dewa" ramalkan sebelumnya; seluruh kehidupan setiap orang telah dipastikan dan telah ditentukan sebelumnya. Dengan demikian, berdasar pada pemahaman "maha-dewa maha-tahu" itu tidak mungkin lagi ada kebebasan keinginan lagi; lalu bila tidak ada kebebasan keinginan, seseorang tidak seharusnya bertanggung jawab pada setiap tindakannya, pula ide untuk berbuat kebajikan dan menghindari kejahatan, tidak berarti lagi.
      Sehubungan dengan itu, argumentasi lain, adalah sebagai berikut:
      Bila "maha-dewa" adalah pencipta dan pengendali segalanya, maka tiada gunanya manusia berbuat apapun, sebab manusia bagaikan wayang-kulit dari kehendak "maha-dewa" sebagai dalangnya, dan dengan sendirinya "maha-dewa" itulah penanggung jawab dari semua tindakan manusia yang tidak terpuji. Sang Buddha menyatakan argumentasi-nya sebagai berikut:

      Ada beberapa pertapa dan kaum Brahmana yang percaya dan mengajarkan, bahwa apapun yang dialami manusia, menyenangkan, menyakitkan atau netral, semuanya disebabkan oleh keinginan "maha-dewa". Saya menemui dan bertanya pada mereka, apakah benar mereka mengajarkan demikian, mereka ternyata mengiyakan, lalu saya berkata: "Apabila demikian, tuan yang terhormat, mereka yang membunuh, mencuri dan berzina pula atas kehendak "maha-dewa" tersebut. Mereka harus berbohong, berfitnah dan berkata kasar serta bergunjing, disebabkan karena kemauan-nya. Mereka harus menjadi serakah, pembenci dan berpandangan salah karena kemauan "maha-dewa" tersebut". Mereka menyandarkan semuanya sebagai keputusan "sang maha-dewa" akan kehilangan gairah keinginan dan daya-upaya untuk berbuat ini atau tidak berbuat itu.5

      Pujangga Buddhis, Santideva, menyatakan dengan sederhana: "Bila "maha-dewa" lah penyebab semua kejadian, lalu apa gunanya manusia berusaha sekuat tenaga?"6.

  15.      Argumentasi lain mengenai konsep "maha-dewa", sebagai berikut: keberadaan kejahatan dan penderitaan didunia adalah bukti bahwa "maha-dewa" yang maha-kasih, maha-kuasa tidaklah ada, sebab bila ada tentunya "maha-dewa" sedemikian itu bisa menghentikan segala kejahatan, bencana dan penderitaan. Seorang manusia sederhana sekalipun akan berbuat apa saja agar terbebas dari sakit, kelaparan dan ketakutan apabila mereka berdaya untuk itu; lalu mengapa "maha-dewa" yang lebih sempurna dan maha-kuasa itu tidak bertindak? Ada pula pendapat yang mengatakan, bahwa penderitaan adalah hukuman "maha-dewa" bagi yang berbuat kejahatan. Tapi bukankah orang yang baik juga ditimpa bencana, sakit, kematian mendadak, sebaliknya penjahat juga ada yang sukses, sehat dan bahagia. Lalu, apa pula yang mengatakan bahwa semua penderitaan manusia disebabkan oleh dosa. Walau manusia memang harus bertanggung jawab dalam bentuk penderitaan, namun tetap mereka tidak dapat dipersalahkan untuk beberapa macam penderitaan seperti kanker, gempa bumi, paceklik, kekeringan dan juga terlahir cacat. Satu lagi, juga ada pendapat bahwa kejahatan dan penderitaan disebabkan oleh para iblis. Tetap, tak dapat diterangkan mengapa "maha-dewa pengasih" tidak dapat menyelamatkan orang-orang tak berdosa. Mengapa "maha-dewa pengasih" membiarkan penderitaan terjadi? Oleh karenanya, adanya penderitaan yang mengerikan dan tanpa tujuan itu merupakan bukti tidak adanya "maha-dewa maha-pengasih" tersebut.

      Sang Buddha bersabda:

      Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan;
      Mengapa "maha-dewa" itu tidak menciptakan secara baik?
      Bila kekuatannya demikian tak terbatas,
      Mengapa tangannya begitu jarang memberkati,
      Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata?
      Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela.
      Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal.
      Saya menganggap, "maha-dewa" adalah ketak-adilan.
      Yang membuat dunia yang diatur keliru.7

  16.      Ada pendapat yang mengatakan bahwa hanyalah kepercayaan pada "maha-dewa yang bercirikan sifat seperti diatas" yang dapat menjamin kebahagiaan serta membuat hidup berarti atau hanya dengan keyakinan seperti itu kita dapat mengatasi masalah kita sendiri. Namun, jutaan manusia yang juga berbahagia, produktif dan bermoral dalam hidupnya tanpa harus menyandang konsep tentang adanya "maha-dewa" berciri sedemikian. Mereka juga berhasil mengatasi kecacatan, ketidak-mampuan dan kekerasan hidup melalui kekuatan dan ketetapan hati mereka sendiri, tanpa bersandar pada kekuasaan "maha-dewa" tersebut. Apabila manusia bermoral, bahagia dan berkasih-sayang pada sesamanya serta mempunyai tujuan hidup, maka kepercayaan sedemikian diatas kiranya tidaklah diperlukan. Namun, adalah penting diketahui bahwa untuk orang tertentu kepercayaan pada bentuk-bentuk atau ciri-ciri "maha-dewa" sedemikian diatas adalah berarti dan penting untuk hidupnya. Oleh karenanya, walau tidak menganut paham sedemikian bagi dirinya sendiri, seorang umat Buddha hendaknya tetap menghormati mereka yang berkeyakinan seperti itu.

 
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.397
  • Reputasi: 422
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Dasar Pandangan Agama Buddha : oleh Venerable S. Dhammika
« Reply #2 on: 30 November 2008, 06:00:17 AM »
17.      Alam Manusia (Manussa loka) adalah terbaik di antara alam-alam kehidupan sebab hanya di alam inilah kita mendapat kesempatan terbesar untuk mengembangkan kebijaksanaan dan mencapai Pencerahan. Para dewa menikmati kebahagiaan yang demikian tinggi, sedemikian rupa sehingga mereka tidak terdorong untuk mengembangkan batinnya, sebaliknya makhluk di alam-alam rendah mengalami demikian banyak penderitaan sehingga mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Manusia mengalami kebahagiaan dan kesengsaraan dalam bagian yang sama. Ukuran dan struktur otak manusia memungkinkan kesadaran untuk berpikir, menalar dan memiliki daya ingat. Sebenarnya, Buddhis kuno mengungkapkan keberadaan manusia dalam berpikir, dalam kata manusia (manussa), yang berasal dari kata mana ussannata, yang berarti "mengutamakan berpikir". Manusia juga mempunyai bahasa yang berkembang baik, yang memungkinkan komunikasi Dhamma dengan baik. Dibalik kenyataan bahwa alam manusia adalah yang terbaik dari segala alam, namun terlahir sebagai manusia adalah kesempatan yang sangat jarang, oleh karena kita seharusnya menggunakan sebaik mungkin kesempatan tersebut. Sang Buddha bertanya:

      "Yang mana lebih banyak - pasir diujung kuku saya, atau pasir seluruh bumi?"

      "Guru, jauh lebih banyak pasir di bumi ini. Sangat sedikit pasir di ujung kuku Guru. Satu sama lain tidak dapat dibandingkan."

      "Demikian pula, makhluk yang dilahirkan sebagai manusia adalah sangat sedikit. Jauh lebih banyak yang terlahir dalam alam-alam lainnya. Oleh karenanya engkau hendaknya melatih dirimu, dengan senantiasa berpikir: "Kita akan hidup sebaik mungkin".8

  18.      Tidak hanya, terlahir sebagai manusia adalah kesempatan terbaik untuk mencapai Pencerahan, namun juga karena semua manusia bisa mencapai Pencerahan. Alasan untuk itu adalah karena umat manusia hanyalah satu. Hal itu perlu disebutkan karena ada agama-agama dan paham-paham politik yang menganggap perbedaan ras, kasta atau kelas menyebabkan perbedaan kapasitas intelektual, oleh karenanya mereka harus diperlakukan berbeda dan diberi kesempatan berbeda. Hindu kuno mengajarkan pemahaman seperti itu, dengan membagi manusia atas empat kasta dan mengeluarkan yang terendah, kasta Sudra, dari kehidupan sosial dan agama, karena dianggap tidak mempunyai kemampuan intelektual. Sang Buddha menentang keras paham tersebut. Puluhan khotbah Beliau menampilkan alasan untuk meruntuhkan sistim kasta dan menegakkan persamaan martabat dan harkat manusia.9 Beliau bersabda:

      Apabila engkau memperhatikan pepohonan atau rumput,
      Tanpa mengetahuinya,
      Mereka tampak beraneka macam dan ragam,
      Ada bermacam jenisnya

      Lalu perhatikan ngengat dan kumbang,
      Atau serangga kecil seperti semut;
      Mereka tampak beraneka macam dan ragam,
      Ada bermacam jenisnya

      Dan pada makhluk ber-kaki empat,
      Yang besar dan kecil,
      Mereka tampak beraneka macam dan ragam,
      Ada bermacam jenisnya

      Perhatikan makhluk yang merayap pada perutnya,
      Ular dan hewan melata lainnya.
      Mereka tampak beraneka macam dan ragam,
      Ada bermacam jenisnya.

      Perhatikan ikan
      Dan semua yang hidup di air
      Mereka tampak beraneka macam dan ragam,
      Ada bermacam jenisnya

      Perhatikan burung yang beterbangan
      Mereka yang bepergian melalui angkasa;
      Mereka juga tampak beraneka macam dan ragam,
      Ada bermacam jenisnya
      Pada semua makhluk-makhluk itu,
      Macam dan ragamnya dapat terlihat;

      Pada manusia tidak ada perbedaan diantaranya.
      Tidak dirambut atau kepala, ditelinga atau mata,
      Tidak di mulut atau hidung, bibir atau alis,
      Adanya perbedaan yang mencolok.
      Tidak di leher atau bahu,
      Tidak di perut atau dada,
      Tidak pula pada kelamin
      Adanya perbedaan mencolok.

      Tidak pada tangan atau kaki, pada jari atau kuku,
      Tidak pada betis, paha atau bentuk penampilan,
      Adanya perbedaan ragam dan macamnya,
      Seperti pada makhluk lainnya.

      Ragam manusia tidak berbeda banyak,
      Seperti makhluk lainnya.
      Yang berbeda antara umat manusia,
      Hanyalah perbedaan tak bermakna.10

  19.      Ada pendapat bahwa wanita mempunyai kemampuan spiritual yang kurang dibanding laki-laki. Dalam hal ini Agama Buddha, beranggapan bahwa maskulinitas dan feminitas adalah perbedaan bentuk, bukanlah perbedaan batin.11 Pencerahan dicapai mengembangkan kebijaksanaan dan welas-asih, dan siapa saja, tidak tergantung dari jenis kelaminnya dapat mencapainya. Sang Buddha bersabda:

      Wanita, dari perumah-tangga biasa sampai yang telah meninggalkan keduniawian, dapat mencapai tingkat Pemenang-Arus, tingkat Yang-Kembali-Sekali, tingkat Yang-Tak-Kembali, tingkat Arahat.12
      Oleh karenanya wanita seharusnya diperlakukan sama dan mendapat kesempatan yang sama dengan kaum lelaki. Pandangan Sang Buddha pada kemampuan pencapaian Pencerahan oleh wanita dirangkum dengan baik oleh seorang murid Beliau bernama Soma.

      Kodrat sebagai wanita tidaklah berperan
      Tatkala batin tenang dan kokoh,
      Tatkala pengetahuan berkembang hari ke hari,
      Dan ketika dia merenungkan Dhamma.
      Seseorang yang berpikir seperti ini:
      Oleh karena "Saya wanita" atau "Saya pria"
      Ataupun setiap pikiran "Saya adalah ......"
      Mara akan dapat menyapanya.13

      Beberapa agama mengajarkan bahwa wanita diberi peran oleh Tuhan, biasanya sebagai ibu atau isteri, dan mereka wajib melaksanakan peran itu. Agama Buddha tidaklah mengajarkan demikian. Wanita sebagai halnya lelaki bebas untuk memilih perannya, sebagai ibu, isteri, pengusaha, biarawati, dan lainnya; apapun yang mereka pikir memberi kepuasan dan kebahagiaan.

      Karena mengetahui bahwa setiap insan dapat mencapai Pencerahan, Sang Buddha mengajarkan Dhamma kepada semua orang, dengan harapan semuanya mempelajarinya, melaksanakannya dan saling mengajarkannya. Ketika Mara membujuknya agar mati lebih dini, Sang Buddha menjawab:

      Saya tidak akan mati sebelum para bhikkhu, bhikkhuni, umat awam pria serta wanita telah mempelajari mendalami, kebijaksanaan dan terlatih, dapat mengingat ajaran, menguasai ajaran utama dan tambahan serta bermoral; sampai mereka dapat menguasai, dapat menyampaikan pada lainnya, mengajarkannya, memaklumkannya, memperdalam, menghayati, menerangkan serta membabarkannya; sampai mereka mampu membedakannya dari ajaran salah yang diajarkan oleh yang lainnya dan dapat menyebarkan kebenaran yang meyakinkan serta dapat membebaskan ini, ke segala penjuru. Saya tidak akan mati sampai tata kehidupan yang suci telah dicapai, dihargai dan dihormati; sampai ajaran kebenaran ini dikenal luas diantara dewa dan manusia.14

  20.      Alam Binatang (tiracchana yoni) termasuk semua hewan menyusui, burung-burung, ikan, binatang melata dan serangga. Pada Alam Binatang; perasaan setia, mengasihi, berkorban dan sebagainya hampir tidak ada lagi, unsur pendorong utama dalam kehidupan mereka adalah sekadar naluri makan, seks dan mempertahankan hidup. Karenanya binatang saling memangsa tanpa cinta-kasih atau welas-asih, tanpa mengharapkan bantuan atau simpati dari yang lainnya. Sang Buddha bersabda tentang Alam Binatang:

      Disana tidak ada kehidupan sesuai Dhamma, tidak ada keseimbangan hidup, tidak dilakukan yang baik dan terlatih; hanya saling memangsa dan memakan yang lebih lemah.15

  21.      Alam Roh-Lapar (peta) adalah alam makhluk yang batinnya senantiasa tersiksa oleh kerinduan, keinginan dan perasaan frustasi karena tidak mendapatkan yang diinginkan, mereka senantiasa mengembara mencoba memuaskan lapar.

  22.      Alam Roh-Cemburu (asura) disebut demikian karena mereka tersiksa oleh cemburu dan keinginan memiliki. Kebahagiaan di alam lain terutama Alam Dewa, menyebabkan mereka terbakar api cemburu.

  23.      Makhluk yang semata-mata mengalami rasa sakit berada di Alam Neraka (niraya). Kesakitan yang mereka alami bukan jasmaniah, tapi adalah rasa takut, kwatir, tertekan dan penyesalan mendalam.

  24.      Walau alam kehidupan adalah tempat, namun sebenarnya lebih dari demikian; alam-alam tersebut terutama adalah keadaan batin. Seseorang yang anggun, berdaya dan bahagia dapat dikatakan berada di alam dewa seperti kebahagiaan dewa sebenarnya. Pula, manusia yang mengalami banyak penderitaan batin dapat dikatakan berada di alam neraka seperti penderitaan batin dapat dikatakan berada di alam neraka seperti penderitaan di alam neraka sebenarnya. Sang Buddha menegaskan, dengan bersabda:

      Apabila seorang dungu berkata bahwa neraka ada dibawah laut, maka mereka sebenarnya berkata palsu tak berdasar. Istilah "neraka" adalah menunjukkan perasaan-perasaan yang menyakitkan.16

      Pada umumnya semua agama menerima adanya alam surga dan alam neraka, namun adalah anggapan salah bahwa keberadaan di kedua alam itu adalah selamanya. Sang Buddha mengajarkan, bahwa sesudah masa hidup satu makhluk di suatu alam habis, makhluk itu akan lahir lagi di alam lain. Proses kelahiran dan kematian yang tak berujung pangkal, berpindah dari satu alam ke alam lain, itulah yang disebut samsara. Ajaran Sang Buddha menolong kita untuk berbahagia pada kehidupan sekarang ini dan agar terlahir di alam yang penuh kebahagiaan pada kehidupan yang akan datang. Namun, kebahagiaan yang lengkap hanya bisa dicapai setelah terbebas dari Samsara dan mencapai Pencerahan, dan inilah tujuan tertinggi dari ajaran Sang Buddha.

  25.      Andaikata ada seorang ilmuwan yang tinggal di tengah-tengah perkampungan suatu suku tertentu, katakanlah untuk mempelajari adat istiadat mereka; lalu, pada suatu hari dia melihat penduduk kampung sedang mengadakan permainan tradisonal mereka. Si ilmuwan, walau memperhatikan dengan seksama permainan itu, tidak akan mengerti apapun, karena tidak mengetahui aturan main permainan tersebut. Lalu, setelah dia diberitahu aturan permainan tersebut, maka semua gerakan atau tindakan dari para pemain yang sebelumnya tidak berarti, sekarang telah mempunyai arti baginya.
      Kehidupan kita sebenarnya menyerupai perumpamaan diatas. Semua yang terjadi pada kita dan sekeliling kita tampak tidak berarti dan membingungkan, oleh karena tiadanya pengertian.

      Untuk dapat mengerti makna kehidupan, kita masing-masing mengadakan penelitian lewat ajaran agama, namun selalu ada kejanggalan-kejanggalan yang tidak dapat dijelaskan oleh agama, atau malah bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri (yang mungkin lalu dianggap saja sebagai "misteri"). Namun setelah Sang Buddha tampil menerangkan, mengapa dan bagaimana semua ini terjadi, barulah kehidupan ini tampak berarti dan mempunyai makna bagi kita. Tujuan hidup tak lain adalah melepaskan diri dari samsara dan membebaskan batin kita untuk mencapai kedamaian Nibbana. Sang Buddha bersabda:

      Kehidupan suci bukanlah demi keberuntungan karena mendapat kekayaan, kehormatan dan kemasyuran, dan kehidupan bermoral; bukan pula demi keberuntungan yang dikarenakan dapat memusatkan pikiran, pula bukan untuk keberuntungan yang dikarenakan oleh pengetahuan dan kewaskitaan. Tapi adalah sesuatu "kebebasan batin yang tak tergoyahkan" itulah yang menjadi tujuan dari kehidupan yang suci, itulah sasaran-nya, itulah titik puncak-nya.17
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.397
  • Reputasi: 422
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Dasar Pandangan Agama Buddha : oleh Venerable S. Dhammika
« Reply #3 on: 30 November 2008, 06:01:44 AM »
K A R M A

26. Telah disebutkan di depan, bahwa setelah mati, kita akan lahir kembali di salah satu dari enam alam kehidupan. Lalu, keadaan-keadaan bagaimanakah yang mensyaratkan kelahiran di masing-masing alam itu? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut; marilah kita lihat pandangan agama Buddha tentang penyebab semua keadaan umumnya terjadi. Sebagian masyarakat akan menyandarkan jawaban atas segala keadaan yang terjadi, baik atau buruk, kepada Tuhan. Namun agama Buddha menyangkal ciri ketuhanan seperti itu; lalu bagaimana menerangkan kehidupan alam-semesta yang demikian dinamis, alam-semesta yang selalu penuh pergolakan, interaksi dan kejadian-kejadian? Agama Buddha, seperti halnya ilmu pengetahuan, mengajarkan sebab-musabab yang alami. Menurut agama Buddha, semua fenomena di alam-semesta ini bekerja menurut salah satu dasar lima hukum alam (niyama).1 Hukum-hukum fisika (utu niyama) mengatur keberaturan fisik anorganik, mengatur temperatur didih air, kecepatan cahaya, siklus musim, dan sebagainya. Hukum-hukum biologis (bija niyama) mengatur pertumbuhan, reproduksi, hukum genetika/penurunan sifat dan semua aspek makhluk hidup. Hukum-hukum psikologik (citta niyama) mengatur fungsi-fungsi kesadaran serta fenomena ekstrasensorik seperti telepati, kewaskitaan (Inggeris: clairvoyance) dan sebagainya. Dibawah hukum-hukum semesta (dhamma niyama) bekerja hukum gaya-berat, termodinamik dan segala fenomena semacamnya diseluruh alam-semesta ini. Namun hukum yang sangat menarik adalah hukum karma (kamma niyama). Selama berabad-abad, doktrin agama Buddha tentang karma (Pali: Kamma), telah sering disalah-artikan sebagai paham deterministik/takdir. Saat ini pun, masih sering didengar diantara orang-orang, rohaniawan Buddhis sekalipun, yang mengatakan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak kamma. Karenanya, banyak tafsiran tentang kamma yang agak janggal bila dibandingkan dengan ajaran Sang Buddha sendiri. Hal ini disebabkan karena pada umumnya, doktrin kamma yang diajarkan saat ini tidak berdasarkan ajaran Sang Buddha langsung, tapi berdasarkan kepustakaan komentar, yang sebagian besar diantaranya ditulis ribuan tahun setelah era Sang Buddha. Kita akan mencoba menelusuri doktrin kamma, seperti apa yang digambarkan oleh Sang Buddha dalam bentuk pemahaman moderen yang sederhana.

27. Istilah 'kamma' berarti tindakan (Inggeris: action) serta mengacu pada kehendak (cetana) pikiran, ucapan dan tindakan jasmani kita. Sang Buddha bersabda:

        Saya katakan, kehendak adalah kamma, karena didahului oleh kehendak seseorang lalu bertindak dengan jasmani, ucapan dan pikiran.2

Istilah 'vipaka' berarti hasil atau dampak serta mengacu pada hasil tindakan berdasar kehendak kita. Dengan demikian, menolong seseorang (suatu kamma) akan menghasilkan persahabatan baru yang baik (suatu vipaka). Pula sebaliknya, berdusta (suatu kamma) berakibat ketahuan dan oleh karenanya dipermalu dan dimaki (suatu vipaka). Tentunya, kehendak untuk berbuat sesuatu (belum dilaksanakan) berbeda dari bila telah dilaksanakan, walau keduanya akan berdampak, yang pertama (kehendak saja) lebih ringan dari kedua (telah melaksanakannya). Setiap kali kita dengan sengaja berpikir, berkata dan bertindak, maka jelas telah terjadi perubahan pada kesadaran kita. Dengan demikian, tipe manusia bagaimana kita saat ini tergantung dari timbunan perbuatan yang telah dilakukan masa-masa sebelumnya, demikian pula apa yang kita lakukan sekarang akan membentuk watak kita di hari kemudian.

        Kita adalah apa yang telah kita perbuat.
        Apa yang akan kita perbuat adalah demikian kita akan jadinya.

Watak kita saat ini dibentuk dan dipengaruhi oleh hubungan kita dengan sesama kita, reaksi kita pada berbagai situasi, yang kemudian pada gilirannya menentukan berbahagia atau tidaknya kita sendiri. Sang Buddha mengatakan, sebagai berikut:

        Semua makhluk adalah pemilik kamma-nya sendiri, pewaris kamma-nya, kamma-nya adalah kandungan yang melahirkannya, dengan kamma-nya dia berhubungan, kamma-nya adalah pelindungnya. Apapun kamma-nya, baik atau buruk, mereka akan mewarisinya.3

28. Dengan demikian adalah penting untuk membedakan pengerttian antara faktor-faktor penentu (Inggeris: determining factors) dari faktor-faktor prasyarat (Inggeris: conditioning factors). Bila dikatakan, bahwa keadaan kita kini hanya ditentukan oleh tindak-tanduk kita sebelumnya dan keadaan masa mendatang ditentukan hanya oleh tindak-tanduk saat ini, berarti seluruh kehidupan telah diputuskan dan ditentukan sebelumnya; kita tidak bebas lagi untuk berprakarsa dan merubah segalanya. Namun, kamma tidaklah memutuskan keberadaan kita. Tindak-tanduk kita masa lampau turut menentukan saat sekarang, lalu tindak-tanduk saat sekarang turut menentukan masa depan, dengan kata lain tindak-tanduk mempengaruhi dalam derajat yang besar atau kecil. Dengan demikian masih ada kesempatan untuk melatih kemauan dan berusaha berubah. Hukum kamma, dengan demikian, lebih berarti suatu kecenderungan, bukan sekadar suatu konsekwensi yang tak dapat diubah dan dielakkan. Ajaran Buddha tidak mengajarkan paham "takdir" (niyativada), juga tidak mengajarkan paham "bebas kehendak" (attakiriyavada), tapi suatu 'kehendak-berprasyarat' (Inggeris: conditioned).

Hukum kamma turut (menjadi prasyarat) dalam menentukan tiga hal apakah kita terlahir kembali atau tidak, di alam mana kita akan terlahir, dan pengalaman bagaimana yang akan dialami di kehidupan yang akan datang tersebut. Kita akan menelusurinya satu persatu.

29. Menurut Sang Buddha, tindak-tanduk manusia-biasa pada dasarnya bercirikan keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kegelapan-batin (moha), atau seperti sering disebutkan oleh Sang Buddha, semuanya berakar pada ketidaktahuan (avijja) dan keinginan-rendah (tanha). Tindakan baik pun bila dijejaki kadang-kadang masih terwarnai oleh kekotoran batin tersebut. Keserakahan, kebencian dan kegelapan batin mendasari tindakan kita sehari-hari, tapi tidak semua tindakan itu akan berbuah akibat pada kehidupan sekarang ini; daya/energi yang tidak berbuah pada kehidupan sekarang ini akan mendorong kita ke kehidupan baru sesudah kita mati. Sebagai analogi sehari-hari, mobil bergerak karena adanya mesin, bila mesin tiba-tiba terhenti, energi sisa tetap akan mendorong mobil sebentar, sampai mesin dapat dihidupkan kembali. Sang Buddha berkata:

        Ada tiga sumber asal dari tindakan seseorang. Apa yang tiga itu? Keserakahan, kebencian dan kegelapan batin. Setiap tindakan yang dilahirkan, berasal dan timbul dari keserakahan, kebencian dan kegelapan batin akan berbuah, dimanapun dia terlahir kembali; dimanapun tindakan itu berbuah, dia akan mengalami hasilnya, pada kehidupan ini ataupun dikehidupan mendatang.4

Selama kita bertindak dengan didasari keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin, selama itu pula kita membuat kamma, baik ataupun buruk, dan oleh karenanya kita terlahir kembali. Dengan tercapainya Pencerahan; keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin telah terkikis habis, dan dengan sendirinya walau kita tetap bertindak, kita tidak menghasilkan kamma baru lagi, dan setelah kematian kita tidak akan terlahir kembali.

30. Lebih lanjut Sang Buddha bersabda:

        Ada tiga sumber asal dari tindakan seseorang. Apa yang tiga itu? Bebas dari keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin. Setiap tindakan yang dilahirkan, berasal dan timbul dari keadaan terbebas dari keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin oleh karena keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin tiada lagi kamma terhenti, terpotong pada akarnya, seperti sisa potongan pohon palma yang tak dapat tumbuh lagi di kemudian hari.5

Kamma yang menyebabkan kita terlahir lagi, dan bila terlahir kembali, akan terlahir di salah satu dari enam alam-kehidupan. Kamma yang telah kita timbun akan menjadi prasyarat di alam mana kita akan terlahir. Semua tindakan yang dilakukan dengan sengaja mempunyai sisi etis, yang dikelompokkan atas empat tipe oleh Sang Buddha. Beliau bersabda:

        Ada empat macam kamma, yang saya telah terawangi melalui kebijaksanaan-Ku dan kupermaklumkan pada dunia. Apa yang empat itu? Yakni kamma gelap berbuah gelap, kamma terang berbuah terang, kamma terang dan gelap berbuah terang dan gelap, kamma yang tidak terang pula tidak gelap berbuah tidak terang pula tidak gelap.6

"Kamma gelap" mengacu pada perilaku yang didasari keserakahan, kemarahan, ketaksabaran dan keadaan batin negatif lainnya, kesemuanya akan berbuah kegelisahan dan kesusahan, yang disebut Sang Buddha sebagai "berbuah gelap". "Kamma terang" mengacu pada perilaku yang didasari pada keadaan batin yang positif, seperti kebajikan, kemurahan-hati dan kejujuran, akan berbuah ketenangan dan kebahagiaan atau "berbuah terang". "Kamma terang dan gelap" mengacu pada perilaku yang didorong oleh campuran oleh kehendak positif dan kehendak negatif, dan oleh karenanya berdampak campuran pula. "Kamma yang tidak terang, tidak pula gelap" mengacu pada perilaku yang netral, yang kemudian berbuah netral pula. Apabila kamma tertentu menonjol dalam perilaku kita sehari-hari, kita akan tertarik, pada waktu mati, kepada salah satu dari enam alam-kehidupan diatas. Sang Buddha bersabda:

        Dan apa beragam kamma itu? Adalah kamma yang akan berbuah di alam-neraka, di alam-binatang, di alam roh-lapar, di alam manusia, pula ada kamma yang berbuah di alam dewa.7

Manusia yang kejam, ganas dan penuh kebencian, dapat terlahir di alam neraka atau terlahir sebagai manusia dengan kesengsaraan seumur hidupnya. Manusia yang tujuan hidupnya hanya makan, pemuasan seks dan kesenangan duniawi serta tidak berusaha mengembangkan kecerdasan dan kebajikan, dapat terlahir sebagai binatang atau manusia yang akan mengalami kehidupan yang penuh kemalangan. Manusia yang berambisi buruk, tak pernah terpuaskan, serta terikat pada seks, alkohol dan ganja akan cenderung terlahir sebagai Roh-lapar, atau sebagai manusia yang tersiksa oleh ketidak-puasan; sedangkan mereka yang hidupnya senantiasa dipenuhi oleh rasa cemburu, dan iri-hati akan terlahir di alam Roh-cemburu atau sebagai manusia yang terikat dan tersiksa pada kecemburuannya. Mereka yang senantiasa berbahagia, tak berbuat buruk dan senantiasa mencintai mereka yang lain, akan terlahir sebagai dewa atau manusia yang senantiasa bergembira dan bahagia.

31. Namun tentunya; kita tidak akan terlahir di Alam Neraka disebabkan hanya karena berbohong sekali ataupun beberapa kali; pula kita tidak akan terlahir di Alam Surga disebabkan karena bermurah hati dari waktu ke waktu. Sang Buddha menjelaskan bahwa, perilaku tertentu yang berpengaruh kuat, menjadi kebiasaan dan menonjol di batin seseorang (atau seperti yang Beliau katakan tindakan yang "terbiasa, terikat dan sering dilaksanakan"8) yang akan menentukan kelahiran di alam-alam yang lebih rendah atau di alam-alam yang lebih tinggi. Kebanyakan manusia adalah tipe rata-rata, yakni jarang berperilaku sangat baik juga jarang berperilaku sangat buruk, lalu sisa waktu diisi dengan perilaku yang sedikit baik dan sedikit buruk, mereka ini kemungkinan juga akan terlahir sebagai manusia rata-rata pada umumnya dan akan mengalami hal yang biasa-biasa pula dalam kehidupannya. Namun, seseorang melaksanakan Dhamma secara tulus dan benar, maka besar kemungkinan baginya untuk terlahir di Alam Surga atau sebagai manusia dengan lingkungan yang baik.

32. Hal ke tiga yang turut ditentukan oleh hukum kamma adalah pengalaman yang akan dialami selama hidup kita. Sering dikatakan, bahwa apa yang dialami pada kehidupan setiap orang saat ini adalah hasil dari apa yang diperbuatnya di kehidupan sebelumnya, pula apa yang diperbuat pada kehidupan sekarang akan berbuah pada kehidupan yang akan datang. Pengertian tersebut, yakni bahwa semua yang dilakukan akan berbuah pada salah satu kehidupan mendatang (tidak pada kehidupan saat ini), ternyata salah. Sang Buddha berkata:

        Hasil dari suatu kamma ada tiga macam. Apa yang tiga itu? Yang berbuah pada kehidupan sekarang, yang berbuah pada kehidupan berikut, dan yang berbuah pada kehidupan-kehidupan yang selanjutnya.9

Seperti kenyataan yang kita alami sehari-hari, malah banyak perbuatan membawa akibat seketika atau segera. Tidak selamanya harus menunggu sampai kehidupan yang akan datang.

Salah pengertian lain tentang kamma, ialah anggapan bahwa setiap perbuatan pasti berakibat; tindakan negatif, misalnya, pasti tak terelakkan berbuah negatif. Walau Sang Sang Buddha seringkali memberi kesan seperti itu, namun Beliau juga menjelaskan bahwa akibat dari setiap perbuatan bukanlah tak terelakkan seperti itu. Beliau berkata:

        Bila seseorang berkata, bahwa hanya apa yang diperbuat itulah yang diperolehnya, maka bila hal itu benar, maka menuntut kehidupan suci tidaklah berarti - sebab tak ada kesempatan untuk mengatasi penderitaan. Tapi bila seorang berkata, bahwa bila seorang berbuat demi apa yang akan diperolehnya, lalu itulah yang diperolehnya, maka menuntut kehidupan suci adalah berarti ada kesempatan untuk menghancurkan penderitaan. Contohnya, suatu kejahatan kecil dilakukan seseorang, tindakan itu bisa berbuah pada kehidupan ini atau sama sekali tidak berbuah. Sekarang, manusia yang bagaimana, yang walau dengan kejahatan kecil sekalipun tetap akan membawanya ke neraka? Seorang yang tidak berhati-hati dalam mengembangkan tindakan jasmani, pikiran dan ucapannya. Dia tidak mengembangkan kebijaksanaan, dia seorang yang tidak berarti, dia tidak mengembangkan dirinya sendiri, hidupnya sempit dan dapat diukur. Perbuatan kecil saja dapat membawanya ke neraka. Lalu sekarang, seorang yang dengan hati-hati mengembangkan tindakan jasmani, pikiran dan ucapannya. Dia mengembangkan kebijaksanaan, dia seorang yang berarti, dia mengembangkan dirinya sendiri, hidup tanpa batas dan tidak terukur. Bagi orang seperti ini, sebuah kejahatan kecil bisa berbuah dikehidupan ini atau tidak sama sekali. Seandainya seorang menaruh sejumput garam kedalam sebuah cawan kecil. Air tersebut tidak akan bisa diminum. Mengapa? Karena cawan itu kecil. Nah, sekarang seandainya seorang menaruh sejumput garam ke sungai Gangga. Airnya akan tetap dapat diminum. Karena banyaknya air di sungai tersebut.10

Jadi jelas, pada seorang yang watak baiknya menonjol, maka perbuatan buruk kecil yang dilakukannya hanya akan berbuah akibat yang tak berarti atau mungkin sama sekali tidak berbuah; sebaliknya pada seorang yang selama hidupnya ternodai oleh perbuatan buruk, maka perbuatan baik kecil yang dilakukannya akan terselubungi. Pula, buah dari suatu perbuatan bisa saja tidak jadi masak dan berbuah, karena terhapus atau terlarut oleh perbuatan yang lain. Sebagai contoh, seorang mencuri sesuatu, namun kemudian menyadari kekeliruannya. Dia mengembalikan barang tersebut, lalu berusaha berbuat baik dan berjanji tidak akan berbuat demikian lagi di kemudian hari. Pada keadaan seperti ini, buah hasil dari perbuatan buruk (mencuri) tersebut terhapus oleh perbuatan baiknya yang belakangan (insaf dan mengembalikan barang tersebut). Seperti disebutkan sebelumnya, hukum kamma adalah sesuatu yang menyangkut kecenderungan, bukan suatu konsekwensi yang tak dapat dirubah serta tak dapat dielakkan.

33. Namun salah pengertian yang paling umum tentang hukum kamma adalah kepercayaan bahwa setiap kejadian yang kita alami; tersandung, jatuh sakit, menang undian, terlahir tampan, semuanya adalah hasil kamma lampau semata-mata. Dengan alasan yang sangat tepat Sang Buddha menolak kepercayaan salah tersebut. Sebab bila demikian halnya, maka sia-sia untuk berbuat baik dan menghindari perbuatan tercela, sebab keseluruhan hidup ditentukan sebelumnya. Sang Buddha bersabda:

        Ada beberapa pertapa dan kaum Brahmin, yang mempercayai dan mengajarkan bahwa apapun yang dialami seseorang, menyenangkan, menyakitkan atau netral, semua disebabkan oleh kamma lampau. Saya menemui mereka dan bertanya apakah benar mereka mengajarkan sedemikian, mereka ternyata mengiyakan, saya berkata: "Bila demikian, tuan yang terhormat, seseorang membunuh, mencuri dan berzina disebabkan kamma lampau, mereka berbohong, berfitnah, berkata kasar dan tak berharga disebabkan kamma lampau. Mereka menjadi serakah, membenci dan penuh pandangan salah disebabkan kamma lampau." Mereka yang mendasarkan segala sesuatu pada kamma lampau sebagai unsur penentu akan kehilangan keinginan dan usaha untuk berbuat ini atau tak berbuat itu.11

Berdasarkan pengetahuan bahwa ada lima hukum yang mengatur semesta (26), jelas bahwa kamma hanyalah salah satu dari beberapa penyebab yang menjadikan kita. Terlahir cantik, jelek, utuh atau cacat mungkin disebabkan oleh turunan (hukum Biologis), bukan semata-mata oleh perbuatan yang baik atau buruk di masa lampau. Cerdas atau bodoh mungkin disebabkan karena keadaan sosial dan pengaruh orang-tua (hukum Fisika dan hukum Psikologik), bukan semata-mata oleh perbuatan baik atau buruk. Mati muda atau berumur panjang mungkin karena gabungan antara masalah gisi (hukum Biologis), lingkungan yang sehat (hukum Fisika) dan mungkin pula sikap dan pandangan hidup (hukum Psikologik), bukan semata-mata karena perbuatan yang baik atau buruk di masa lampau. Menghubungkan semua yang terjadi pada kita (baik ataupun buruk) sebagai melulu akibat perbuatan masa lampau, menurut Sang Buddha, berarti menutup mata pada kaidah sebab dan akibat yang telah dibenarkan oleh pengalaman kita sendiri. Beliau bersabda:

        Sehubungan dengan itu, ada penderitaan yang ditimbulkan oleh empedu, oleh lendir, dari udara, oleh kecelakaan, oleh keadaan yang tak dapat diketahui sebelumnya, dan juga oleh hasil perbuatan lampau seperti diketahui dari pengalamanmu sendiri. Dan kenyataan bahwa penderitaan timbul dari berbagai penyebab telah diketahui dunia sebagai suatu kebenaran. Oleh karenanya pertapa dan kaum Brahmin yang berkata: "Apapun kesenangan atau penderitaan atau keadaan batin yang dialami seseorang, kesemuanya disebabkan karena masa lampau," maka pernyataan mereka bertentangan dengan pengalaman setiap orang yang telah diakui kebenarannya oleh dunia. Oleh karenanya, Saya katakan, bahwa mereka itu salah.12

Sang Buddha mengajar kita hukum kamma, oleh karenanya kita dapat memaklumi keadaan seperti sekarang ini, oleh karenanya kita dapat merubah diri sendiri, dan oleh karenanya kita dapat menciptakan prasyarat-prasyarat yang membantu pencapaian Nibbana.
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.397
  • Reputasi: 422
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Dasar Pandangan Agama Buddha : oleh Venerable S. Dhammika
« Reply #4 on: 30 November 2008, 06:03:57 AM »
Kelahiran - Kembali

  34.      Sering dipertanyakan didalam masyarakat: "Apa yang terjadi sesudah kita mati?" Ada tiga macam jawaban untuk pertanyaan itu. Mereka yang percaya pada adanya "maha-dewa penguasa semesta" akan menjawab, bahwa setelah mati seorang akan pergi ke salah satu, surga kekal atau neraka kekal tergantung pada perbuatan atau agama orang itu. Yang lain mengatakan bahwa bila hidup seseorang berakhir, keberadaannya juga berakhir. Ini adalah kepercayaan "kemusnahan pada kematian", yang merupakan pandangan materialistik. Sang Buddha berkata setelah kematian, kita akan terlahir pada kehidupan baru, dan bahwa proses mati dan terlahir kembali ini akan berkelanjutan sampai kebebasan Nibbana tercapai.

  35.      Agama Buddha menganggap kedua pandangan diatas tidak benar dan tidak lengkap. Pandangan pertama ditolak karena tidak masuk-akal, tidak adil dan kejam. Si jahat tidak semestinya dilaknat hukuman-kekal di neraka, juga Si baik tidak semestinya dianugerahi surga-kekal, hanya karena berbuat kejahatan atau kebaikan dibumi selama 60 atau 70 tahun, sepanjang hidupnya sekalipun, masa 60 atau 70 tidak sebanding dengan kekal selama-lamanya. Juga adalah tidak masuk akal, bahwa "maha-dewa yang semestinya maha-pengasih" mencampakkan dan menghukum "ciptaannya" berupa siksaan dan kesakitan selama tak terhitung jutaan tahun. Pandangan diatas juga tidak bisa menjawab banyak pertanyaan-pertanyaan penting sehubungan dengan itu. Apa yang dialami para binatang setelah mati? Apa yang terjadi pada jutaan bayi yang mati dalam kandungan, pula yang mati segera setelah lahir? Apakah mereka ke surga atau ke neraka? Kalau ke surga, maka jelas tak adil sebab mereka belum pernah berbuat baik, lalu bila dihukum di neraka juga tidak adil karena mereka belum sempat berbuat kejahatan.

      Pandangan materialistik, juga tidak dapat menjawab banyak pertanyaan-pertanyaan mendasar. Para kaum materialistik sulit menjawab fenomena kompleks, misalnya bagaimana kesadaran manusia yang timbul setelah pertemuan dua sel kelamin dan perkembangannya selama 9 bulan. Saat ini, setelah Parapsikologi telah diterima sebagai cabang ilmu pengetahuan, fenomena seperti telepati dan sebagainya, bertambah tidak cocok dengan pandangan kaum materialistik tentang batin manusia. Agama Buddha menawarkan keterangan yang sangat memuaskan tentang dari mana kita datang dan apa yang akan terjadi setelah kita mati.

  36.      Proses kelahiran kembali, yang disebut punabbhava, secara harfiah berarti 'menjadi lagi'. Sang Buddha berkata, untuk dapat terlahir kembali, tiga syarat harus dipenuhi: sepasang (calon) orang tua yang subur, hubungan seksual dan adanya gandhabba.1 Istilah 'gandhabba' berarti datang dari tempat lain', mengacu pada suatu arus energi batin yang terdiri dari kecenderungan-kecenderungan, kemampuan-kemampuan dan ciri-ciri karakteristik yang meninggalkan badan yang telah mati. Ketika badan mati, 'batin bergerak keatas' (uddhamgami)2 dan mengembangkan diri lagi pada sel telur (calon) ibu yang baru saja dibuahi. Janin tumbuh, lahir dan berkembang sebagai pribadi baru, dengan diprasyarati, baik oleh karakteristik batin yang terbawa (dari kehidupan lampau) juga oleh lingkungan barunya. Kepribadiannya akan berubah dan bermodifikasi oleh usaha kesadaran, pendidikan, pengaruh orang tua dan lingkungan sosial. Watak menyukai atau tidak menyukai, bakat kemampuan dan sebagainya, yang dikenal sebagai "sifat bawaan" dari setiap individu sebenarnya adalah terbawa dari kehidupan sebelumnya. Dengan kata lain, watak serta apa yang dialami pada kehidupan kita saat sekarang, pada tingkat-tingkat tertentu adalah hasil (vipaka) dari perbuatan (kamma) kehidupan lampau. Perbuatan-perbuatan kita selama hidup, demikian pula, akan menentukan di alam kehidupan mana kita akan dilahirkan.

  37.      Secara sederhana, untuk dapat mengerti bagaimana 'batin' 'berpindah' dari satu badan ke badan yang lain, maka kita dapat membandingkannya dengan pancaran siaran radio. Gelombang radio, yang jelas memang tidak terdiri atas musik atau pidato, namun adalah energi pada frekwensi-frekwensi yang berbeda, dipancarkan lewat angkasa, tertarik dan ditangkap oleh pesawat penerima/radio yang kemudian disiarkan sebagai musik atau pidato. Dengan cara yang sama, 'batin' meninggalkan badan pada saat kematian, bergerak di angkasa, tertarik dan masuk ke sel telur yang telah dibuahi dan di-'siar' kan sebagai suatu pribadi baru. Baik gelombang radio maupun 'batin' bukanlah benda tapi suatu proses dinamis, dengan demikian tidaklah benar bila dikatakan bahwa "jiwa yang tak berubah" berpindah ke badan baru sebagai halnya musik dan pidato terlepas berpindah ke pesawat pemancar ke radio. Pula, jelas tidak ada 'keadaan-antara' (antarabhava), sebab 'batin' langsung berpindah dari satu badan ke yang lainnya, seperti halnya gelombang radio langsung ditangkap segera setelah dipancarkan.

  38.      Apakah ada bukti yang mendukung doktrin kelahiran kembali? Selama berabad-abad, telah banyak orang yang menyatakan dapat mengingat kehidupannya yang lalu, sebelum dilahirkan kembali. Catatan tertua justru dari Eropa, Pythagoras (582-500 SM), filsuf dan ahli matematika Yunani, menyatakan dapat mengingat beberapa kehidupannya yang lalu. Akhir-akhir ini banyak kasus-kasus orang-orang yang dengan jelas dapat mengingat kejadian-kejadian yang dialaminya pada kehidupannya yang lampau, beberapa dari kasus tersebut telah dibuktikan kebenarannya. Bukti-bukti kelahiran kembali yang paling mengesankan adalah berupa hasil riset dari Ian Stevenson, seorang ilmuwan Amerika. Dr. Stevenson, yang adalah profesor di bidang Psikiatri (Ilmu Kedokteran Jiwa) di Universitas Virginia, memulai risetnya ditahun 1958, dan ternyata kemudian disambut dan dikenal dunia internasional. Selama bertahun-tahun, dia melaporkan secara rinci kasus-kasus orang dewasa maupun anak-anak, yang dapat mengingat kehidupan lalunya-semuanya dilatar-belakangi oleh metoda riset ilmiah secara cermat. Rekan ilmuwannya, Dr. Harold Leif, mengomentari riset Ian Stevenson, sebagai berikut: "Hanya salah satu dari dua kemungkinan, dia membuat satu kesalahan besar atau dia akan dikenal sebagai Galileo-nya abad ke XX."3

  39.      Mari kita meninjau satu kasus penelitian Dr. Stevenson, seorang anak bernama Ravi Shankar dilahirkan 1951 di kota Kanaiy, India Utara. Ayahnya bernama Ram Gupta; sejak berumur dua tahun si anak berkeras bahwa ayah sebenarnya adalah seorang bankir bernama Jogeshwar. Dia juga mengatakan bahwa pada kehidupan lalunya dia dibunuh dengan digorok tenggorokannya oleh dua orang - Chaturi dan Jamahar. Sebagai bukti, si anak menunjuk tanda lahir di lehernya, yang memang bertanda-lahir seperti bekas luka potong. Penyelidikan kemudian membuktikan, bahwa ternyata setengah mil dari kediaman mereka, ada seorang bernama Jogeshwar yang mempunyai anak laki-laki bernama Munna yang telah dibunuh, persis seperti yang digambarkan oleh Ravi Shankar. Yang berwajib sejauh ini memang sangat mencurigai dua orang sebagai pembunuhnya, seorang binatu bernama Chaturi dan seorang bankir bernama Jamahar, namun mereka dibebaskan karena kurangnya bukti. Munna dibunuh enam bulan sebelum Ravi lahir. Riset Dr. Stevenson terbukti kebenarannya secara sangat rinci.4 Banyak dari kasus-kasus seperti diatas mempunyai bukti yang sangat kuat, ialah bahwa setelah kematian, seorang akan terlahir kembali dengan ingatan yang jelas pada kejadian yang sangat dramatis pada kehidupan lampaunya. Sebaliknya, sejauh ini, tidak pernah ada bukti-bukti yang dapat mendukung kedua pandangan yang disebutkan sebelumnya diatas (34).

  40.      Terlepas dari bukti-bukti diatas, doktrin kelahiran kembali amat menarik karena sangat adil. Menurut pandangan agama lain, walau seorang berperilaku baik dalam hidupnya, maka dia tetap dapat saja dihukum selamanya di neraka kekal, karena dianggap memeluk agama yang salah. Ini jelas sangatlah tidak adil. Kamma dan kelahiran kembali berarti orang baik akan terlahir baik, apapun agama yang dianutnya. Pula, orang jahat akan tetap mempertanggung-jawabkan perbuatannya, walaupun dia "insaf" dan mengubah agamanya di menit-menit terakhir kehidupannya. Doktrin kelahiran kembali juga memungkinkan setiap orang untuk senantiasa mempunyai kesempatan lagi. Pandangan agama lain, hanya memberi kesempatan sekali saja. Apa yang dia perbuat dan apa kepercayaannya pada hidupnya yang singkat pada satu kehidupan, menentukan bagaimana dia selamanya secara kekal. Sebaliknya, Sang Buddha menegaskan bahwa bila kita gagal memurnikan diri kita pada kehidupan ini, kita masih dapat melakukannya pada kehidupan akan datang atau yang berikutnya lagi. Kelahiran kembali juga memungkinkan kita untuk senantiasa menyempurnakan keahlian dan minat kita yang telah kita kembangkan pada kehidupan kini, pada kehidupan akan datang. Sang Buddha, malah mengatakan kita dapat saja bertemu, dengan orang yang kita cintai dan sayangi pada kehidupan mendatang, bila kita mempunyai keterikatan yang kuat dengannya.

      Perumah tangga Nakulapita dan isterinya Nakulamata mendatangi Sang Buddha; setelah bersimpuh, Nakulapita berkata: "Guru, sejak isteri saya dibawa ke rumah pada saya, ketika itu saya masih seorang anak perjaka, dia masih seorang anak gadis, saya tidak pernah secara sadar menyakitinya baik rohaniah, apalagi jasmaniah. Guru, kami bertekad untuk saling menyayangi, tidak saja pada kehidupan ini, namun juga pada kehidupan mendatang."

      Nakulamata kemudian berkata: "Guru, sejak saya dibawa kerumah suamiku, ketika itu saya masih seorang anak gadis, dia masih seorang anak perjaka, saya tidak pernah secara sadar menyakitinya baik rohaniah, apalagi jasmaniah. Guru, kami bertekad untuk saling menyayangi, tidak saja pada kehidupan ini, namun juga pada kehidupan mendatang."

      Sang Buddha kemudian bersabda: "Apabila suami dan isteri bertekad untuk saling menyayangi pada kehidupan ini dan pada kehidupan mendatang, dan keduanya sepadan dalam keyakinan, sepadan dalam moral, sepadan dalam kemurahan hati dan sepadan dalam kebijaksanaan, maka mereka akan saling menyayangi dalam kehidupan ini, pula pada kehidupan mendatang.5

  41.      Dengan demikian, secara jujur beralasan bila dikatakan, doktrin kelahiran-kembali lebih dapat diterima, lebih adil dan lebih menarik hati dibanding teori tentang masalah sesudah kematian yang lain. Sekarang, secara mengejutkan doktrin kelahiran-kembali (sering juga disebut reinkarnasi, transmigrasi) makin menarik minat masyarakat. Penarikan pendapat umum (Inggeris: gallup polls) di Inggeris, menunjukkan bahwa mereka yang percaya pada adanya kelahiran-kembali meningkat jumlahnya dari 18% pada tahun 1968 menjadi 28% di tahun 1978, persentasi terbesar dari mereka berumur sekitar 25 sampai 35 tahun. Penelitian yang sama di Amerika menunjukkan bahwa 28% dari bangsa Amerika menerima doktrin tersebut.6 Jumlah para pemikir, filsuf serta ilmuwan yang menerima doktrin kelahiran-kembali meningkat secara sangat mengesankan. Dua filsuf terkenal memberi argumentasi tentang kelahiran-kembali yang masuk-akal dan etis, mereka adalah J.M.E.M. Taggat dan C.J. Duccuas. Thomas Huxley, ilmuwan yang memperkenalkan Sains pada abad ke XIX ke sistim pendidikan di Inggris, yang pula adalah ilmuwan pertama yang mendukung teori Darwin, percaya bahwa kelahiran kembali adalah doktrin yang benar-benar dapat diterima. Dalam bukunya "Evolution and Ethics and other Essays", dia menulis:

      Pada doktrin kelahiran-kembali, baik yang berasal dari pandangan kaum Brahmin ataupun Buddhis, telah siap, semua sarana untuk menyusun pertahanan yang beralasan yang menghubungkan kosmos (alam-semesta) dengan manusia ..... Tapi paham yang adil ini belum lebih diterima dibanding yang lainnya; dan para pemikir yang sembrono secara tak berhati-hati menolaknya serta mencampakkannya sebagai sesuatu yang jelas tak masuk akal. Sama halnya dengan doktrin evolusi, doktrin kelahiran-kembali berakar pada dunia yang nyata; dan mampu mendapatkan dukungan-dukungan seperti argumentasi yang kuat dari persamaan yang dapat memenuhinya.7

      Professor Gustaf Stromberg, ahli astronomi Swedia, ahli fisika yang adalah kawan Einstein, juga menyebutkan paham kelahiran-kembali sebagai paham yang sangat memikat hati.

      Banyak pendapat yang berbeda, mengenai dapat atau tidaknya jiwa manusia ber-reinkarnasi ke dunia lagi. Pada tahun 1936 suatu kasus yang sangat menarik dilaporkan dan diteliti secara luas oleh mereka yang berwajib di India. Seorang anak gadis (Shanti Devi dari Delhi) secara tepat dapat menggambarkan kehidupan lalunya (di Mattra, lima ratus mil dari Delhi) yang berakhir sekitar setahun sebelum 'kelahiran-keduanya'. Dia menyebut nama suami dan anaknya serta memberi gambaran mengenai riwayat hidup serta rumahnya yang lalu. Panitia penyelidik membawanya ke rumah keluarganya pada kehidupan sebelumnya, yang ternyata membenarkan segala pernyataannya. Diantara masyarakat India, reinkarnasi adalah dianggap masalah biasa; hal yang mereka anggap luar biasa pada kasus ini adalah sedemikian banyaknya hal yang dapat diingat kembali oleh si gadis ini. Kasus ini dan kasus-kasus yang sama dapat dianggap sebagai bukti tambahan tentang teori kekuatan daya ingat.8

      Profesor Julian Huxley, ilmuwan terhormat dari Inggeris, bekas Direktur Jendral UNESCO, percaya bahwa paham kelahiran-kembali seirama dengan jalan pikiran ilmu pengetahuan.

      Tidak ada kekuatan yang dapat merintangi terlepasnya 'roh kehidupan kekal' makhluk pribadi, pada saat kematiannya, dengan berbagai cara; sama seperti pesan-pesan radio yang terlepas dari pesawat pemancar-radio dengan caranya sendiri pula. Tapi, hendaknya dicamkan bahwa pesan-pesan radio hanya akan berwujud kembali sebagai pesan setelah berkontak dengan struktur materi baru - yakni pesawat penerima-radio. Pada roh kita-keluar darinya. Kemudian ..... tak pernah dapat berpikir atau merasakan lagi, bila tidak kembali 'berwujud' dengan cara bagaimanapun. Kepribadian kita sangat didasari oleh jasmani kita, yang dengan sendirinya tidak mungkin hidup dalam makna sebenarnya. Tanpa adanya 'semacam badan' .... Saya dapat memikirkan sesuatu yang terlepas, yang sama keadaannya, pada lelaki dan wanita, seperti pesan-pesan radio pada pesawat pemancar; tapi dalam hal 'kematian' semestinya, seperti yang dapat dimaklumi oleh siapa saja, yang terjadi adalah gejolak dalam berbagai bentuk yang mengembara, sampai ..... mereka ....... datang kembali dalam wujud kesadaran yang aktual, setelah berkontak dengan sesuatu yang dapat bekerja sebagai 'pesawat penerima untuk batin'.9

      Mereka yang berpikiran praktis dan bersahaja sekalipun seperti Henry Ford, industrialis Amerika, pula dapat menemukan nilai kebenaran dalam paham kelahiran-kembali. Ford tertarik pada masalah kelahiran-kembali, sebab tidak seperti paham agama lain, kelahiran kembali memberi kesempatan untuk mengembangkan diri sendiri. Henry Ford berkata:

      Saya menerima pandangan reinkarnasi sejak saya berumur 26 tahun .... Agama tidak menawarkan apapun dalam satu hal .... Bekerja juga tidak memberi kepuasan yang lengkap. Bekerja adalah hal yang sia-sia, bila kita tidak dapat menerapkan pengalaman yang kita kumpulkan pada satu kehidupan, pada kehidupan berikutnya. Sewaktu saya menemukan paham Reinkarnasi, rasanya seakan saya menemukan suatu rencana alam-semesta. Saya sadar bahwa selalu ada kesempatan untuk melaksanakan ide-ide saya. Waktu bukan lagi suatu yang terbatas. Saya bukan lagi budak dari jarum-jarum jam ... Genius adalah suatu pengalaman. Ada pendapat yang menganggap, bahwa itu adalah karunia atau bakat, tapi sebenarnya itu adalah buah dari pengalaman-pengalaman yang panjang dalam beberapa kehidupan. Jiwa-jiwa ada yang lebih matang dari jiwa-jiwa yang lainnya ... Dengan mengetahui adanya Reinkarnasi, membawa ketenangan batiniah bagi saya .... Apabila anda merekam percakapan ini, tulislah demikian, bahwa ini memberi ketenangan batiniah. Saya suka berkomunikasi dengan yang lainnya tentang ketenangan yang diberikan oleh pandangan tentang kehidupan yang panjang.10

      Dengan demikian ajaran agama Buddha tentang kelahiran-kembali didasari oleh bukti-bukti ilmiah yang mendukungnya. Akan senantiasa masuk-akal dan selalu dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tak dapat dijawab baik oleh pandangan agama-agama lain maupun pandangan materialistik.
« Last Edit: 30 November 2008, 06:12:47 AM by ryu »
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.397
  • Reputasi: 422
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Dasar Pandangan Agama Buddha : oleh Venerable S. Dhammika
« Reply #5 on: 30 November 2008, 06:11:42 AM »
Empat Kebenaran Mulia

  42.      Inti dari seluruh ajaran Sang Buddha adalah Empat Kebenaran Mulia (cattari ariya sacca). Dengan mengerti Empat Kebenaran Mulia, dapat dikatakan seseorang telah mengerti agama Buddha. Sang Buddha memberi batasan tentang Kebenaran yang pertama, sebagai berikut:

      Lalu, apakah kebenaran mulia tentang penderitaan itu (dukkha ariya sacca)? Lahir adalah penderitaan, bertambah tua adalah penderitaan, sakit adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan; sedih, penyesalan, nyeri, duka-cita dan putus asa adalah penderitaan, berpisah dari yang dicintai adalah penderitaan, berkumpul dengan yang tidak disukai adalah penderitaan.1

      Terlihat dari pernyataan diatas, bahwa Sang Buddha berbicara tentang dua macam penderitaan - jasmaniah dan rohaniah. Penderitaan jasmaniah adalah rasa sakit yang disebabkan oleh penyakit, kecelakaan, umur tua, kecapaian, dan sebagainya. Penderitaan rohaniah termasuk rasa sakit oleh keadaan mental-takut, bosan, gelisah, sedih, kesepian dan segala perasaan negatif lainnya. Hidup adalah pengalaman-pengalaman pada penderitaan, dalam berbagai kadar, sedikit ataupun banyak. Sang Buddha tidak mengingkari adanya kebahagiaan dan kegembiraan, Beliau semata-mata mengingatkan kita pada kenyataan yang tak dapat disangkal, ialah bahwa penderitaan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan, bahwa penderitaan adalah masalah yang kita semua alami, pula sekaligus ingin kita hindari. Pada dasarnya, hampir semua kegiatan dan upaya kita sehari-hari, tanpa kita sadari, bersangkutan dengan usaha untuk menghindari penderitaan dan mencari kebahagiaan. Namun, walau begitu banyak waktu dan akal-daya yang dikerahkan untuk mencari kebahagiaan sejati, kepuasan dan kedamaian hati tetaplah jarang dan sulit digapai. Sang Buddha, bagai seorang dokter yang penuh kasih-sayang, datang untuk menunjukkan pada umat manusia, cara untuk mengatasi penderitaan, kesakitan, kematian dan kelahiran kembali, dan juga cara agar dapat mencapai kebahagiaan Nibbana.

  43.      Kebanyakan agama berdasar pada kepercayaan semata, namun ajaran Sang Buddha berdasar pada kebenaran yang kokoh. Kebenaran (sacca) dapat didefinisikan sebagai pernyataan atau pengejawantahan-realisasi, yang berhubungan dengan kenyataan. Kebanyakan ajaran agama membuat pernyataan yang dikatakannya benar, namun karena kebanyakan pernyataan itu tak dapat dibuktikan, maka tetap disebut sebagai kepercayaan, bukannya kebenaran. Apabila seseorang berkata: "Ada seribu rupiah dalam saku saya," dan setelah diperiksa memang ada seribu rupiah dalam sakunya, maka baru dikatakan bahwa pernyataan orang itu benar dan kita kemudian maklumi hal itu sebagai kebenaran.

      Apabila kita tidak dapat memeriksa sakunya, kita hanya dapat mengatakan bahwa orang itu menyatakan mempunyai seribu rupiah dan bahwa kita mempercayai pernyataannya. Kebenaran, yang adalah pembuktian jelas lebih berharga dibanding pernyataan, yang hanya untuk dipercayai. Penderitaan bukan suatu paham; itu adalah suatu kenyataan. Penderitaan bukan juga sesuatu yang diterima keberadaannya, karena disebut dalam kitab suci, tapi sesuatu yang kita ketahui lewat pengalaman kita sendiri. Jadi sangatlah tepat bila dikatakan bahwa ajaran Sang Buddha berdasarkan kenyataan yang dapat dibuktikan oleh kita semua, bukan kepercayaan yang diterima atas dasar keyakinan semata.

  44. Kebenaran mulia yang kedua adalah Kebenaran Mulia tentang Penyebab Penderitaan (dukkha samudaya ariya sacca). Sang Buddha memperlihatkan pada kita, bahwa semua penderitaan yang kita alami disebabkan langsung atau tidak langsung oleh keinginan-rendah (tanha) dan ketidak-tahuan (avijja)2 Adalah mudah dimengerti, bagaimana nafsu-keinginan dan ketidak-tahuan, dapat menyebabkan penderitaan batiniah. Sebagai contoh yang sederhana, seseorang berkeinginan kuat untuk menjadi kaya, sebab menurutnya uang adalah segala-galanya dan akan menyebabkannya berbahagia. Lalu, karena tidak berhasil menjadi kaya, dia frustrasi dan sangat kecewa. Hubungan antara keinginan-rendah (menginginkan uang) dan ketidak-tahuan (pandangan salah, bahwa uang semata yang dapat akan memberinya kebahagiaan) di satu pihak; dan penderitaan (frustrasi dan kekecewaan) pada pihak lainnya. Tapi, apakah keinginan-rendah dan ketidak-tahuan juga dapat menyebabkan penderitaan jasmaniah? Telah kita lihat sebelumnya (30), bahwa keinginan-rendah menyebabkan kamma, yang pada gilirannya kemudian menyebabkan kelahiran-kembali. Terlahir-kembali berarti memiliki badan, dan memiliki badan berarti bisa mengalami kecelakaan, terluka, sakit, menjadi lemah dan tua dan segala macam penderitaan badaniah. Dengan demikian jelas, bahwa keinginan-rendah dan ketidak-tahuan juga menyebabkan penderitaan badaniah.

  45. Tapi, apabila keinginan adalah salah satu penyebab dari penderitaan, bukankah kita seharusnya tidak usah berdaya-upaya untuk hal apapun juga? Untuk dapat menjawab pertanyaan diatas, adalah penting untuk menyadari bahwa Sang Buddha mengajarkan perbedaan antara keinginan yang tumbuh dari ketidak-tahuan dan keinginan yang timbul atas dasar pengertian. Sang Buddha sering mengatakan, bahwa kita seharusnya senantiasa bergairah (adithana), kita senantiasa bertekad (tibbacchanda), juga senantiasa mempunyai cita-cita yang kuat untuk mencapai Nibbana (chandajato anakkate)3. Keinginan menjadi orang-tua yang baik, keinginan menjadi teman yang setia, keinginan menjadi warga-negara yang bertanggung jawab adalah keinginan yang berdasar atas pengertian, dengan demikian akan menghasilkan kebaikan, bukannya penderitaan. Berkeinginan melaksanakan Jalan atau mencapai Nibbana adalah keinginan berdasar atas pengertian, dengan demikian akan menghasilkan kebaikan, bukannya penderitaan. Apabila kehendak, keinginan dan cita-cita didasarkan atas pengertian, dan apabila kesemuanya itu diwujudkan dalam bentuk perilaku sehari-hari, dan bila semuanya diarahkan pada sasaran yang mulia, maka justru keinginan semacam itulah yang dianjurkan.

  46. Kebenaran Mulia yang ke-tiga adalah Kebenaran Mulia mengenai Musnahnya Penderitaan (dukkha nirodha ariya sacca). Pada Kebenaran ini, Sang Buddha dengan jelas dan tegas mengajar kita, bahwa kita dapat bebas dari penderitaan dan mencapai kebebasan dan kebahagiaan Nibbana. Istilah Nibbana secara harfiah berarti 'padam', serta mengacu ke pemadaman api keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin. Sang Buddha, juga menggunakan ungkapan-ungkapan lain unyuk menggambarkan keadaan ini - kelanggengan (amata), Pernaungan Yang Aman (khema), Kedamaian (santa), Perlindungan (tana), Kebahagiaan Tertinggi (paramam sukham), Penghancuran Keinginan rendah (tanhakkhaya), Keabadian (dhura). Apa itu Nibbana? Ada pendapat yang menganggap bahwa Nibbana identik dengan kemusnahan dari pribadi (Inggeris: annihilation). Sang Buddha menegaskan bahwa pandangan ini salah.

              Apabila seorang telah membebaskan batinnya, para dewa sekalipun tak dapat menjejakinya, walau mereka berpikir: "Ini adalah kesadaran Tathagata." Mengapa? Disebabkan karena Buddha tak terjejaki. Walau Saya berkata demikian, beberapa pertapa dan Brahmin, salah menafsirkan, bertentangan dengan kenyataan, mereka berkata: "Pertapa Gotama adalah berpandangan nihilis, sebab dia mengajarkan pemotongan, penghancuran, hilangnya keberadaan secara menyeluruh," tapi Saya tidak mengatakan demikian. Dari dulu sampai sekarang, Saya hanya mengajarkan tentang Penderitaan dan penghentian Penderitaan.4

      Ada kelompok Buddhis, yang menyatakan bahwa Nibbana adalah pemusnahan diri, namun mereka juga menolak bahwa Sang Buddha mengajarkan "Kemusnahan diri". Mereka mencoba menjelaskan kontradiksi ini dengan berkata: "Pemusnahan-Diri hanya mungkin terjadi, bila ada pribadi yang akan dimusnahkan. Namun pada kebenaran akhir tidak ada suatu yang disebut "Pribadi". Lalu bagaimana mungkin Nibbana adalah "Pemusnahan-Diri", bila tidak ada pribadi yang akan musnah?" Dibalik permainan-kata diatas, mereka juga tetap mengatakan Nibbana adalah kekosongan, dimana pribadi tidak ada lagi dalam bentuk apapun. Banyak kesempatan bagi Sang Buddha untuk dapat menyatakan bahwa mereka yang mencapai Nibbana telah hilang keberadaannya, tapi Beliau tidak pernah mengatakan demikian. Sekali waktu, Upasiva bertanya kepada Sang Buddha:

              Mereka yang telah pergi (ke Nibbana),
              Apakah mereka musnah keberadaannya,
              Atau mereka tetap tak lekang selamanya?
              Jelaskan pada saya, Oh, Guru Bijaksana
              Sebab Kaulah yang mengetahui sejelasnya.

      Lalu, Sang Buddha menjawab:

              Tak dapat dinilai mereka yang telah pergi.
              Yang oleh seseorang mungkin dikatakan sebagai
              Tidak ada lagi.
              Ketika semua fenomena telah tiada,
              Semua cara untuk menggambarkannya juga tiada.5

      Sekali waktu, seorang pengembara bernama Vacchagota bertanya pada Sang Buddha, tentang keberadaan mereka yang telah mencapai Nibbana, mereka timbul (dengan kata lain, tetap keberadaannya) atau tidak timbul (dengan kata lain, hilang keberadaannya). Sang Buddha menolak untuk memberi jawaban, dan menerangkan pada kita bahwa Beliau menolak, karena Nibbana adalah keadaan yang tak dapat diterangkan dengan kata-kata.

              "Tapi, Gotama yang bijaksana, dimana timbulnya para siswa yang batinnya telah terbebaskan itu?"
              "Istilah 'Timbul' tidak dapat terpakai"
              "Bila demikian, bagaimana kalau dikatakan 'Tidak timbul'"
              "Tidak timbul" juga tidak terpakai.
              "Bila demikian, apakah mereka 'timbul dan juga tidak timbul'?"
              "'Timbul dan juga tidak timbul' juga tidak terpakai."
              "Bila demikian mereka 'tidak timbul dan juga tidak tidak timbul'?"
              "'Tidak timbul dan juga tidak tidak timbul', juga tidak terpakai".
              "Dengan demikian, saya kehilangan jejak dalam hal ini, Gotama yang baik, saya bingung, dan kepuasan yang saya dapati pada pembahasan kita yang lalu, sekarang telah tiada lagi...."
              "Kesadaran Tathagata terbebas dari pengungkapan-pengungkapan; dia begitu dalam, tak terukur, tak diketahui dalamnya seperti lautan. 'Timbul' tak terpakai, 'tidak-timbul' tak terpakai, 'Timbul dan juga tidak timbul' tak terpakai, 'tidak timbul dan juga tidak tidak timbul' juga tidak terpakai."6

      Yang dimaksud Sang Buddha, bahwa seorang yang telah mencapai Nibbana keberadaannya tidak ada lagi, adalah bahwa semua ciri-ciri yang dihubungkan dengan keberadaan - lahir, mati, jasmaniah, bergerak dalam waktu dan ruang, dan berperasaan sebagai suatu pribadi sendiri - tidak lagi dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan Nibbana. Yang dimaksud Sang Buddha, bahwa seseorang yang telah mencapai Nibbana keberadaannya tidak musnah, adalah tepat seperti itu. Dimensi Nibbana tak dapat digambarkan secara tepat dengan bahasa duniawi, pula keberadaan Nibbana tak dapat dibayangkan oleh pikiran duniawi.

  47. Walau sulit digambarkan, namun Sang Buddha memberi pada kita gambaran umum tentang keberadaan Nibbana. Dengan menggambarkan batin manusia, Sang Buddha berkata:

              Batin adalah putih suci, namun dia ternodai oleh kekotoran batin yang sebelumnya tidak ada. Orang awam tidak menyadarinya, oleh karenanya mereka tidak menjaga batinnya. Batin adalah putih suci, dan dapat dimurnikan dari kekotoran batin yang sebelumnya memang tidak ada. Siswa yang agung mengerti hal itu, makanya mereka menjaga batin mereka.7

      Dengan kata lain, batin adalah suci pada awalnya (pabhassaram idam citam), kemudian dinodai kotoran batin yang sebenarnya adalah sesuatu yang asing bagi batin. Bila kotoran batin dibersihkan, maka batin kembali suci lagi. Sang Buddha bersabda:

              Dimana tanah, air, api dan udara tak berpijak? Dimanakah yang panjang dan pendek, kecil dan besar, murni dan tak murni, nama dan rupa, akhirnya musnah? Jawabnya adalah: Itu adalah kesadaran dari seorang Yang Agung - tak tertandai, tak terikat, dan bercahaya. Disana tak ada tempat tanah, air, api dan udara itu berpijak. Disana yang panjang dan pendek, kecil dan besar, murni dan tak murni, nama dan rupa akhirnya musnah. Bila kesadaran telah musnah, maka demikian pula semuanya itu.8

      Nibbana adalah "alam" dimana jasmaniah dan semua keberadaan berlawanan-pasang - panjang dan pendek, kecil dan besar, murni dan tak murni - tidak ada lagi serta batin tak tertandai lagi (anidassanam), tak terikat (anatam) dan bercahaya (sabbato pabham). Bercirikan sebagai keadaan-kekal (nibbanapadam accutam) dari kemurnian (suddhi), kebebasan (vimitti) dan kebahagiaan-tertinggi (nibbanam paramam sukham).

  48. Sang Buddha juga memberitahu, bahwa Nibbana dicapai dalam dua tingkatan atau cara. Pertama, mereka yang mencapai Nibbana, dengan batin yang telah bebas, tapi karena jasmani-nya masih ada, maka dia masih menjadi obyek penderitaan jasmaniah. Ini disebut Nibbana dengan sisa dasar (saupadisesa nibbana). Lalu, setelah mereka mati, batin juga dibebaskan dari penderitaan jasmaniah dan seorang mencapai Nibbana sempurna. Ini disebut sebagai Nibbana tanpa sisa dasar (anupadisesa nibbana), atau sering pula disebut sebagai Nibbana sempurna (parinibbana).     
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.397
  • Reputasi: 422
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Dasar Pandangan Agama Buddha : oleh Venerable S. Dhammika
« Reply #6 on: 30 November 2008, 06:12:02 AM »
  49. Walau kita hanya dapat mengerti sepenuhnya keadaan Nibbana setelah kita mengalaminya sendiri, namun kita tetap dapat mengetahui keberadaan keadaan itu. Pertama, kita dapat menyimpulkan keberadaannya. Apabila ada dimensi disertai kelahiran, kematian, kekotoran batin dan kejadian, maka dapat disimpulkan bahwa ada dimensi tanpa itu. Naskah Buddhis kuno menyebutkan:

              Dimana ada panas,
              Disitu pasti pula ada dingin.
              Demikian pula,
              Dimana ada tiga api,
              Disitu pasti pula ada Nibbana.

              Dimana ada kejahatan,
              Disitu pasti pula ada kebajikan.
              Demikian pula,
              Dimana ada kelahiran,
              Keadaan "tak-terlahir", dengan demikian, juga ada.9

      Kedua, kita dapat mengetahui adanya keadaan seperti Nibbana, karena Sang Buddha mencapainya, dan Beliau dengan tegas menjelaskan keberadaannya. Beliau bersabda:

              Ada sesuatu Yang Tak-Terlahirkan, Tak-Terjadi, Tak-Terbuat, Tak-Tergabung. Bila tidak ada yang Tak-Terlahirkan, Tak-Terjadi, Tak-Terbuat, Tak-Tergabung, maka tidak akan ada jalan untuk bebas dari Terlahir, Terjadi, Terbuat dan Tergabung. Tetapi karena adanya Yang Tak-Terlahirkan, Tak-Terjadi, Tak-Terbuat, Tak-Tergabung, maka ada jalan untuk terbebas dari Terlahir, Terjadi, Terbuat dan Tergabung.10

      Sekali lagi Beliau menegaskan keberadaan-Nya, sebagai berikut:

              Ada suatu keadaan, dimana tidak ada tanah, air, api dan udara, dimana tidak ada Lingkup Ruang Tak-terbatas, Kesadaran Tak-terbatas, Kehampaan, juga Lingkup bukan-Kesadaran bukan pula Tanpa-kesadaran, tidak di bumi ini, di bumi seberang ataupun keduanya, tidak ada matahari, tidak ada bulan, dimana tidak ada yang datang untuk dilahirkan, tidak ada yang pergi ke kematian, tidak ada kurun waktu, tidak ada yang terjatuh dan timbul. Bukan sesuatu yang terpaku, tidak pula bergerak, dia berasaskan kehampaan. Inilah sebenarnya akhir penderitaan.11

  50.      Dapatkah setiap orang mencapai kebahagiaan dan kebebasan Nibbana? Bila dapat, apakah setiap orang pada akhirnya akan mencapainya? Jawaban untuk hal yang pertama adalah jelas, yakni bahwa setiap orang dapat mencapai Nibbana, dan justru Sang Buddha senantiasa mendorong setiap orang untuk menjadikan Nibbana tujuan hidupnya serta agar berupaya sekuatnya untuk mencapainya. Senandung para wanita yang telah mencapai Nibbana, terdengar lantang dan jelas, dalam menjawab pertanyaan ini.

              Keadaan Abadi ini telah banyak yang mencapainya,
              Dan tetap dapat dicapai saat inipun,
              Bagi siapa yang menjalankannya sendiri,
              Tapi tidak bagi yang tidak berusaha sekuatnya.12

      Apakah setiap orang dapat mencapai Nibbana atau tidak? Jawaban dari pertanyaan ini tak dapat diramalkan, karena setiap orang mempunyai minat dan cita-cita masing-masing. Sang Buddha telah mengajarkan Dhamma dan dengan segala macam cara, menganjurkan orang untuk melaksanakannya; namun tentu saja pelaksananya tergantung pada orang itu sendiri-sendiri.

              "Gotama Yang Baik, setelah diajar dan diarahkan oleh-Mu, apakah semua siswa-Mu akan mencapai cita-cita murni itu, atau sebagian tidak akan berhasil?"
              "Sebagian akan mencapainya dan sebagian tidak."
              "Apa alasannya, Gotama Yang Baik? Apa penyebabnya?"
              "Saya akan bertanya padamu, Brahmin; jawablah bila berkenan. Bagaimana pikiranmu? Apakah engkau mengetahui jalan ke Rajagaha?"
              "Ya, Gotama Yang Baik, saya mengetahuinya."
              "Baik, andaikan seorang datang padamu, dan berkata bahwa dia ingin ke Rajagaha dan bertanya arahnya. Lalu, engkau berkata: 'Jalan ini menuju ke Rajagaha; berjalanlah terus sampai ke suatu desa, berjalanlah terus sampai engkau sampai di pasar, lalu bila engkau berjalan terus engkau akan sampai di Rajagaha dengan kebun-kebunnya yang indah, hutan-hutan yang indah, lapangan-lapangan yang indah dan kolam-kolam yang indah. Namun, walau telah ditunjukkan dan diarahkan olehmu jalan itu, tapi orang tadi mengambil jalan lain yang menuju ke Barat. Dan, oleh karenanya dia tidak sampai ke Rajagaha. Lalu, andaikan seorang lagi datang padamu, dan dia juga berkeinginan ke Rajagaha, lalu karena dia mengikuti petunjukmu, maka akhirnya dia tiba dengan selamat. Jadi oleh karena ada Rajagaha, oleh karena ada jalan menuju kesana, dan juga ada engkau sebagai penunjuk jalan, mengapa orang yang pertama tidak sampai sedangkan orang yang satunya lagi sampai ke Rajagaha?" "Gotama Yang Baik, apa yang harus saya kerjakan dalam hal ini? Saya tiada lain hanyalah seorang penunjuk jalan." "Demikian pula, Brahmin; ada Nibbana, ada jalan menuju ke Nibbana, dan ada Saya sebagai penunjuk jalan menuju ke Nibbana. Tapi hanya sebagian Siswa yang diajar dan diarahkan oleh-Ku yang mencapai Nibbana, sebagian lainnya tidak. Apa yang dapat Saya perbuat dalam hal ini? Sang Tathagata adalah penunjuk Jalan.13

      Tapi satu hal yang pasti - siapapun yang mencapai Nibbana adalah sebagai hasil menjalankan ajaran Sang Buddha.

              "Bila, dengan pengertian penuh Gotama Yang Baik telah mengajarkan Dhamma pada siswa-Nya untuk pemurnian makhluk hidup, untuk mengatasi penyesalan dan keputus-asaan, untuk mengakhiri kesedihan dan kemurungan, untuk mencapai tatacara-nya, untuk mencapai nibbana; lalu apakah seluruh dunia akan mencapainya, atau seperduanya, atau sepertiganya?"
              Sampai disitu, Sang Buddha berdiam diri. Lalu Ananda berpikir: "Orang ini hendaknya jangan sampai berpikir bahwa Sang Buddha tidak dapat menjawab pertanyaan yang penting ini." Jadi Ananda berkata: "Saya akan memberi suatu perumpamaan." Bayangkan ada suatu kota dikelilingi oleh tembok dengan dasar pondasi yang sangat kuat, bermenara dan berpintu gerbang hanya satu, pintu gerbang dijaga ketat, hanya orang yang dikenal diperbolehkan melewatinya, dan orang asing tak diperbolehkan melewatinya. Lalu, ketika seseorang berjaga di sekeliling tembok, dia tidak menemukan satupun lobang yang dapat dilewati walau oleh seekor kucing pun. Dengan demikian dia tahu, bahwa semua makhluk, besar ataupun kecil, hanya dapat masuk ke kota atau keluar dari kota dengan melewati gerbang tersebut. Sama halnya dengan pertanyaanmu, tidaklah penting bagi Sang Buddha. Apa yang disabdakan Beliau adalah, bahwa "Siapapun yang telah terbebas, sedang terbebas ataupun akan terbebas dari dunia ini, dia akan terbebas dengan cara melepaskan ke-lima rintangan, melepaskan kesesatan-batin yang melemahkan kebijaksanaan, dia akan terbebas dengan cara mengembangkan batin dalam empat dasar kesadaran, dan dengan mengembangkan tujuh unsur pencerahan."14

      Setelah Sang Buddha mencapai Nibbana, Beliau "mengajak" semua umat manusia untuk mengikuti Jalan agar umat manusia juga dapat menikmati kedamaian, kebahagiaan dan kebebasan. "Ajakan" Beliau masih berlaku sampai saat ini.

              Pintu-pintu ke ke Abadi-an telah terbuka,
              Marilah, mereka yang dapat mendengar, berusaha dengan keyakinan.15

  51.      Kebenaran Mulia yang ke empat adalah Jalan yang menuju ke akhir penderitaan (dukkha nirodha gamini patipada), dan Jalan-nya adalah Jalan Berunsur Delapan (Ariya Atthangika Magga). Disebut 'Mulia' karena bila dilaksanakan, maka akan menuntun seseorang ke kehidupan yang mulia; disebut 'Berunsur Delapan', karena terdiri dari Delapan Unsur, dan disebut 'Jalan', karena seperti jalan pada umumnya, akan menuntun seseorang dari satu tempat ke tempat lain, dengan hal ini dari Samsara ke Nibbana. Dari Empat Kebenaran Mulia; tiga kebenaran yang pertama adalah bagaimana pandangan Sang Buddha terhadap dunia ini - Teori; lalu Kebenaran ke-empat adalah apa yang dianjurkan Sang Buddha kepada kita untuk mengatasinya - Pelaksanaannya.

  52.      Empat Kebenaran Mulia mempunyai ciri-ciri yang khas. Pertama merupakan suatu sistim yang lengkap dari suatu latihan spiritual, berisikan semua yang dibutuhkan untuk kehidupan yang etis, pengertian yang jelas dan pencapai Nibbana. Karena Nibbana adalah tujuan hidup, maka semua aspek kehidupan diperhitungkan untuk usaha itu, dan itulah yang ditunjukkan dalam Jalan Berunsur Delapan. Adalah kenyataan umum pada masa sekarang, bahwa suatu agama turut menerima malah kadang-kadang mengikuti ajaran agama yang lain. Beberapa kaum kr****n liberal misalnya, saat ini setelah melihat nilai-nilai meditasi, juga telah mempraktekkan meditasi. Namun, karena Jalan Berunsur Delapan telah lengkap, Agama Buddha tidak perlu meminjam apapun dari keyakinan lain. Kedua, Jalan Berunsur Delapan adalah satu-satunya praktek keagamaan yang menuju kebebasan Nibbana. Sang Buddha bersabda:

              Dari semua jalan, Yang Berunsur Delapan yang terbaik
              Dari semua kebenaran, Yang Empat yang terbaik
              Dari semua keadaan, bebas dari murka yang terbaik
              Dari semua manusia, yang sadar yang terbaik
              Inilah Jalan satu-satunya;
              Tak ada lain yang bisa menjadikan murni dan sadar.
              Jalani Jalan itu,
              Dan engkau akan mengatasi Mara.

              Jalani Jalan ini,
              Dan engkau akan mengakhiri penderitaan.
              Saya memaklumatkan Jalan ini,
              Ditemukan oleh Saya sendiri.16

      Kebanyakan agama tidaklah lengkap, sebab hanya dapat menuntun untuk terlahir kembali di-alam surga para Dewa, yang walau lebih baik dari alam-alam lainnya; namun tetap tidak sebaik dibanding dengan mencapai kebahagiaan tertinggi - Nibbana.

      Ciri ke tiga dari Jalan Berunsur Delapan adalah bahwa Jalan itu berlaku selamanya. Selama ribuan tahun Jalan itu mungkin tertutup oleh ketidaktahuan atau ketakhyulan, tetapi karena berlaku selamanya, maka niscaya akan ada seseorang yang menemukannya kembali, berubah pandangan karenanya, dan mengajarkannya kembali demi kebaikan umat manusia. Demikian pula, berabad-abad sebelum ini, Jalan itu telah pernah diketahui tapi lalu terlupakan, lalu diketemukan kembali dan diajarkan oleh Buddha Gotama. Inilah, seperti yang dikatakan Sang Buddha "Jalan lama yang masih tetap berlaku dan akan senantiasa demikian."

              Sama halnya, andaikata ada seorang mengembara didalam hutan, lalu menemukan suatu jalan tua, jalan-setapak tua, dilewati oleh orang-orang di masa-masa sebelumnya, yang bila diikuti terus, akan sampai ke suatu kota kuno, suatu benteng agung kuno yang dihuni oleh orang masa lampau, dengan taman-taman dan hutan-hutannya, dengan penampungan air dan tembok-temboknya suatu tempat yang sangat indah. Lalu, seandainya pengembara itu menyampaikan penemuannya pada raja atau menteri, dengan berkata: "Tuan, ketahuilah, saya telah menemukan suatu kota kuno. Pugarlah tempat itu." Lalu, seandainya kota kuno itu dipugar, menjadi cerah, berkembang, dihuni, terisi oleh wangsa-wangsa, dan bertumbuh serta bertambah luas. Demikian pula, saya telah melihat Jalan tua itu, Jalan yang telah dilewati para Buddha Tercerahi di masa-masa sebelumnya. Dan Jalan yang manakah itu? Itulah Jalan Berunsur Delapan.17

  53.      Sang Buddha kadang-kadang menyebut Jalan Berunsur Delapan dengan suatu nama lain, untuk menunjukkan bahwa Jalan itu tidak hanya untuk dilaksanakan untuk mencapai kebebasan Nibbana, namun semangat yang menjiwainya juga harus dijalankan. Beliau menamakannya "Jalan Tengah" (majjhima-patipada) diantara jalan yang ekstrim. Beliau secara rinci menyebut "pemuasan-diri" sebagai ekstrim yang satu, dan "pemusnahan-diri" sebagai ekstrim lainnya, lalu menganjurkan bahwa mereka yang mengikuti Jalan, hendaknya menghindari semua yang ekstrim. Ke-ekstriman adalah perilaku yang ditandai kepercayaan bahwa hanya satu jalan yang paling benar, tanpa toleransi pada pilihan lain dan tidaklah luwes. Ke-ekstriman cenderung menyebabkan seorang agresif dan membutakan diri pada jalan yang lain dalam melaksanakan sesuatu, dan inilah menyebabkannya berbahaya. Seorang Buddhis hendaknya melaksanakan Jalan dengan moderat (mattaññuta), luwes (mudu) dan diserta kemauan untuk mempertimbangkan sudut pandang yang lain. Dalam setiap aspek kehidupan dan pelaksanaannya, seorang Buddhis hendaknya menjadi seorang yang mengambil jalan tengah yang bahagia.

  54.      Jalan Berunsur Delapan secara tradisional dibagi dalam tiga bagian: Moral/kebajikan (sila), Pemusatan-Pikiran (samadhi) dan Kebijaksanaan (pañña). Pembicaraan Sejati, Tindakan Sejati dan Penghidupan Sejati dikelompokkan dalam Kelompok Moral; Daya-Upaya Sejati, Kesadaran Sejati dan Konsentrasi/Pemusatan Pikiran Sejati dikelompokkan dalam Kelompok Pemusatan-Pikiran; Pengertian Sejati dan Pikiran Sejati dikelompokkan dalam Kelompok Kebijaksanaan. Namun, untuk menekankan beberapa aspek penting yang kadang-kadang diabaikan, maka dalam pembahasan ini, kita akan mengelompokkan 'Jalan' dengan cara yang lain. Pengertian Sejati dikelompokkan sebagai Latihan Intelektual/Akal-Budi (Intellectual Training); Pikiran Sejati, Pembicaraan Sejati, Tindakan Sejati dan Penghidupan Sejati dikelompokkan dalam Latihan-Etika (Ethical Training); lalu Daya-upaya Sejati, Kesadaran-Sejati dan Pemusatan-Pikiran Sejati dikelompokkan dalam Latihan Kejiwaan (Psychological Training). Dengan pelaksanaan Latihan Intelektual, dimaksudkan agar kita hendaknya memahami terlebih dahulu secara jelas serta realitas konsep Empat Kebenaran Mulia; lalu kemudian secara bertahap melangkah mewujudkannya dengan mengembangkan langkah-langkah lain dari Jalan. Dengan Latihan Etika, kita menentukan apa yang baik, lalu melaksanakannya, baik pada diri kita pribadi juga pada tindak-tanduk kita dalam bermasyarakat. Dengan Latihan-Kejiwaan, dimaksudkan adalah perubahan batin secara sadar dari yang bersifat keduniawian ke keadaan batin yang murni. Dengan melaksanakan langkah-langkah Jalan Berjalur Delapan dalam kehidupan, maka seseorang menjadi Buddhis, dan dengan menghayati kebenarannya dalam batin, yang dengan sendirinya akan timbul setelah melaksanakannya, seseorang akan dapat mencapai Pencerahan.

              Pengembara Nandiya bertanya kepada Sang Buddha: "Keadaan apakah, yang bila dikembangkan dan dilaksanakan akan menuntun ke Nibbana, sasarannya adalah Nibbana, bertitik-puncak di Nibbana?"
              "Nandiya, ada Delapan Hal, yang bila dikembangkan dan dilaksanakan, menuntun ke Nibbana, sasarannya adalah Nibbana, bertitik-puncak di Nibbana."
              "Apa yang Delapan itu?"
              "Pengertian Sejati, Pikiran Sejati, Pembicaraan Sejati, Tindakan Sejati, Penghidupan Sejati, Daya-upaya Sejati, Kesadaran Sejati dan Pemusatan-pikiran Sejati."18


      JALAN MULIA BERJALUR DELAPAN
      Latihan Akal-budi/ Intelektual      Pengertian Sejati            (samma ditthi)
                                                 Pikiran Sejati                  (samma sankappa)

      Latihan Etika/Moral              Pembicaraan Sejati         (samma vaca)
                                                 Tindakan Sejati              (samma kammanta)
                                                 Penghidupan Sejati          (samma ajiva)



      Latihan Kejiwaan/ Psikologik   Daya-upaya Sejati         (samma vayama)
                                                 Kesadaran Sejati              (samma sati)
                                                 Pemusatan-pikiran Sejati    (samma samadhi)
     
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.397
  • Reputasi: 422
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Dasar Pandangan Agama Buddha : oleh Venerable S. Dhammika
« Reply #7 on: 30 November 2008, 06:16:33 AM »
Pelaksanaan

Pengenalan

  55.      Sebagian besar umat manusia niscaya sependapat, bahwa kebenaran adalah harta yang tak ternilai dalam kehidupan kita. Masalahnya kemudian terletak pada patokan atau dasar yang seharusnya dipakai untuk menetapkan benar tidaknya "kebenaran" itu. Ribuan agama, sekte dan falsafah yang ada saat ini membuat pernyataan yang sama seperti pernyataan agama-agama, sekte-sekte yang ada pada zaman Sang Buddha, yakni bahwa "hanya ini yang benar, yang lain salah"1. Agama Buddha juga menyatakan mengajarkan kebenaran, yakni kebenaran dotrin utama yang dikenal sebagai Empat Kebenaran Mulia; namun, agama Buddha tidak secara dogmatis menyatakan kebenarannya tanpa alasan, juga tidak menekankan agar kita menerima kebenarannya mentah-mentah tanpa mempertanyakannya kembali; justru agama Buddha menganjurkan kita, agar melangkah lebih jauh, meneliti, menemukan serta mengetahui kebenaran itu demi diri sendiri. Untuk meneliti kebenaran dari suatu pernyataan, dengan sendirinya kita memerlukan metoda atau cara. Marilah kita lihat, cara dan strategi terbaik, yang diajarkan oleh Sang Buddha, yang dapat membantu kita dalam pencarian kebenaran.


  56.      Usaha pemahaman dan penghayatan adalah proses-proses yang dengan sendirinya memakan waktu. Fakta harus dikumpulkan, disusun secara benar, dipertimbangkan dan mungkin ditata kembali secara teliti untuk menjadi fakta baru, yang tentunya tidak dengan cara tergesa-gesa. Kadang-kadang orang-orang tertentu ingin mengalihkan kita ke agamanya, mencoba secepatnya agar kita dapat menerima ajaran agamanya tanpa penelitian mendalam dan pemikiran terlebih dahulu. Mereka melakukannya karena gairah berlebihan pada keyakinan mereka, tapi mungkin juga karena mereka berharap dapat mengalahkan kesetiaan pada keyakinan kita sebelum kita sempat menemukan semua fakta, fakta yang diperkirakan menjadi kelemahan dari agamanya sendiri. Bagaimanapun juga, membuat keputusan secara terburu-buru adalah suatu kesalahan. Sang Buddha dalam riwayat hidupnya tidak pernah mendesak secepatnya seseorang untuk menerima ajaran-Nya. Beliau malah akan menganjurkan untuk tidak tergesa-gesa menerima ajaran-Nya, bila Beliau berpendapat bahwa seseorang yang sedang dihadapi-Nya menerima Dhamma hanya karena gairah berlebihan, bukan didasarkan pada pemikiran yang matang. Sekali waktu, setelah diskusi yang lama, seorang tokoh yang bernama Upali berharap agar dapat diterima menjadi siswa oleh Sang Buddha, tetapi justru Sang Buddha berkata kepadanya:

      Upali, telitilah secara mendalam terlebih dahulu. Penelitian yang mendalam adalah sangat baik, bagi orang yang terkenal seperti dirimu.2

      Kita hendaknya menerima nasehat seperti itu pula. Penerimaan atau penolakan suatu keyakinan, seyogyanya dilakukan setelah suatu perenungan yang hati-hati dan tidak tergesa-gesa.

  57.      Setiap sudut pandang dari suatu masalah mempunyai dua sisi, sisi yang baik dan sisi yang jelek, dengan kata lain kekuatan dan kelemahannya. Pengikut-pengikut tertentu dari setiap agama senantiasa berusaha untuk menonjolkan argumentasi dan bukti yang mendukung keyakinannya, dan berusaha menyembunyikan yang tidak mendukungnya. Sebaliknya, juga senantiasa berusaha menggaris-bawahi ketaktaatasasan dan fakta-fakta yang saling bertentangan, seraya berusaha mengabaikan segi-segi yang kuat dari keyakinan yang tak dianutnya. Semestinya, demi untuk mendapatkan pengertian yang seimbang dan tidak memihak dari setiap sudut pandang, kita hendaknya mempertimbangkan argumentasi kedua pihak. Sang Buddha bersabda:

      Tidak hanya atas dasar pendapat sepihak,
      Seseorang akan dekat pada kebenaran.
      Orang Bijaksana adalah mereka yang menyelidiki,
      Ceritera dari kedua belah pihak.3

      Sekali waktu, dalam kehidupan Sang Buddha, ada kelompok bhikkhu yang mulai mengajarkan ajaran yang bertentangan dengan Dhamma. Umat awam dan siswa-siswa menjadi bingung, dan ketika mereka mempertanyakan hal ini kepada Sang Buddha, Beliau memberi jawaban yang sekaligus menunjukkan keyakinan-Nya pada kebenaran sejati ajaran-Nya dan juga pada kemampuan umat manusia untuk dapat memahaminya. Beliau berkata kepada mereka:

      Hendaknya engkau mendengarkan 'Dhamma' dari ke dua belah pihak, simaklah 'Dhamma' dari ke dua belah pihak; lalu pilihlah pandangan, pihak, ajakan dan ajaran dari dia yang benar mengucapkan Dhamma.4

      Beliau tidak menekankan "siapa yang harus dipercaya", tapi Beliau menyarankan agar mereka mendengarkan dulu kedua pandangan yang berbeda itu, mempertimbangkannya secara berhati-hati dan terakhir baru menarik kesimpulan sendiri. Demikian pula hendaknya, cara-cara kita dalam mencari kebenaran.

  58.      Walaupun kita telah berhasil membentuk keyakinan kita, namun adalah sangat penting, bahwa kita meyakininya dengan luwes, dengan cara membiarkan batin dan pikiran kita tetap terbuka. Ada orang-orang berpendapat bahwa mereka baru dapat membuktikan keyakinan pada agama sendiri, dengan cara mempertahankan keyakinan sendiri secara dogmatis dan menolak untuk mendengarkan pandangan yang lain. Dari pandangan Buddhis, pendapat ini salah. Sebab setelah menerima suatu ajaran agama tertentu, mereka tidak dapat lagi mempelajari sesuatu yang baru, mereka hanya melihat kepercayaannya dari sudut pandangan mereka sendiri, atau memperoleh nilai-nilai wawasan yang rendah melalui tafsiran-tafsiran belaka. Alhasil, dalam usaha mencari kebenaran, mereka sering terlibat pertengkaran kecil-kecil dengan yang lainnya. Sang Buddha menceritakan suatu perumpamaan yang sangat menarik untuk melukiskan masalah ini:

      Sekali waktu, ada seorang raja di Savatthi. Dia memanggil pengawalnya dan berkata: "Ke sini, pengawalku yang baik, pergi dan kumpulkanlah mereka yang buta sejak lahir di Savatthi ini, pada satu tempat." "Baik, tuanku", sahut pengawalnya, lalu dia melaksanakan titah rajanya, lalu setelah selesai dikumpulkan, raja berseru lagi kepadanya: "Sekarang, pengawalku yang baik, tunjukkan pada orang-orang buta ini seekor gajah." "Baik, tuanku", kata pengawalnya, lalu melaksanakan lagi titah rajanya. Dia mendekatkan salah seorang dari orang-orang buta itu di kepala gajah, seorang lagi di telinganya, seorang di gadingnya, seorang di belalainya, seorang di kakinya, seorang di punggungnya, seorang di ekornya, seorang lagi di ujung-ekornya lalu pengawal berseru: "Wahai, orang-orang buta, inilah yang disebut gajah". Setelah itu, sang pengawal kembali menghadap pada raja dan berkata: "Tuanku, gajah telah ditunjukkan kepada semua orang buta. Sesuai titah baginda." Sang raja kemudian menghampiri orang-orang buta, sudahkah engkau tahu bagaimana gajah itu?" "Ya, tuanku, kita telah mengetahuinya," kata mereka. "Bila demikian, katakan bagaimana yang disebut gajah." Orang buta yang memegang kepala gajah berkata "Gajah menyerupai tempayan." Yang memegang telinga berkata: "Gajah menyerupai kipas." Demikian seterusnya, mereka mengatakan gading seperti ujung bajak, belalai seperti pegangan bajak, badan gajah seperti lumbung padi, kaki seperti tiang, bokong seperti lesung, dan ekor sebagai alu-nya, ujung ekor seperti sapu. Mereka mulai bertengkar, berteriak: "Ya, begitu!" "Tidak, tidak begitu!" "Gajah, tidak seperti itu!" "Ya, seperti itu!". Mereka kemudian berkelahi, dan sang raja malah menikmati apa yang dilihatnya.5

      Makna dari perumpamaan ini sangatlah jelas. Mereka yang menarik kesimpulan dengan tergesa-gesa, tanpa menelitinya dari segala sudut, adalah sama halnya mendapat sebagian sudut pandang dari suatu kebenaran, dan bila dia menutup mata batinnya dan tergantung kepada pandangannya saja secara dogmatis, kecil kemungkinan bagi mereka untuk mengerti sesuatu secara lengkap.

  59.      Murid Sang Buddha bernama Kumara Kassapa memakai suatu perumpamaan serupa dalam menyarankan kita untuk menghindari masalah seperti itu.

      Sekali waktu, seluruh penduduk dari suatu kecamatan meninggalkan wilayahnya. Lalu ada seorang berkata pada kawannya: "Mari, kita kembali ke sana lagi; mungkin kita masih menemukan sesuatu yang berharga." Kawannya menyetujui, dan ketika mereka sampai di sana, mereka menemukan setumpuk tali ramin yang dibuang di jalanan desa. "Mari kita mengikat dan membawanya, orang itu berkata pada kawannya, yang segera menyetujui, dan merekapun melakukannya. Tidak lama, mereka pun sampai di desa lain, di sana mereka menemukan setumpuk kain ramin, dari tali ramin yang telah ditenun, orang itu lalu berkata pada kawannya: "Demi kain ramin inilah, sehingga kita mengumpulkan tali ramin tadi. Buang saja tali ramin itu, mari kita bawa saja kain ramin ini." Tetapi kawannya berkata: "Saya telah membawa tali ramin ini sepanjang jalan tadi, lagi pula ini telah terikat rapih. Saya akan tetap membawa tali ramin ini saja. Lakukan saja kehendakmu sendiri." Lalu, orang pertama tadi membuang tali raminnya dan membawa kain ramin tersebut. Tak lama dalam perjalanan selanjutnya, mereka menemukan benang linen, kain linen, kapas, benang katun, kain katun, besi, tembaga, kaleng, timah dan perak; dan setiap kali menemukan yang lebih berharga, orang tadi mengganti bawaannya, sedang si kawannya tetap membawa tali raminnya. Tak lama kemudian, mereka sampai di suatu desa yang lain, di sana mereka menemukan setumpuk emas, dan orang tadi berseru kepada kawannya: "Emas ini adalah yang paling kita inginkan dari segalanya. Buanglah tali raminmu, saya juga akan membuang perakku, lalu kita bawa emas ini." Tetapi kawannya berkata: "Saya telah membawa tali ramin ini sepanjang perjalanan, lagi pula ini telah terikat rapih. Saya tetap akan membawanya. Lakukan saja olehmu sendiri." Dengan demikian, orang tadi membuang perak tersebut, lalu membawa emas itu. Ketika mereka akhirnya tiba kembali di rumahnya masing-masing, orang yang membawa tali ramin tidaklah membawa kegembiraan pada keluarganya, juga tidak pada dirinya sendiri; sedangkan orang yang membawa emas telah pula membawa banyak kegembiraan baik pada keluarganya, maupun pada dirinya sendiri.6
      Pandangan atau pendapat tentang kebenaran tak ubahnya bayangan cermin seseorang. Pandangan atau pendapat itu bayangan-cerminnya sedang kebenaran adalah orang itu sendiri. Pandangan mewakili kenyataan, namun bukanlah kenyataan itu sendiri. Bila kita senantiasa mengingat ini dalam batin, pandangan-pandangan dapat menunjukkan kita ke arah kebenaran, dan bila kita tetap berusaha maju, kita akan secara bertahap melepaskan pandangan-pandangan itu dan menggantikannya dengan penghayatan langsung.
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.397
  • Reputasi: 422
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Dasar Pandangan Agama Buddha : oleh Venerable S. Dhammika
« Reply #8 on: 30 November 2008, 06:17:59 AM »
Pengertian Sejati

  60. Sang Buddha bersabda, bahwa segala sesuatu ditandai oleh tiga ciri: ketaklanggengan (anicca), ketidakpuasan (dukkha) dan ketiada diri-alamian (anatta). Ketak-langgengan, ciri keberadaan yang pertama, mudah dimengerti oleh setiap pengamat dan pemikir. Kegagalan dapat berubah menjadi kesuksesan, cinta bisa meluntur atau malah menjadi benci, peradaban suatu bangsa bisa saja menurun sedang yang lain meningkat, anak-anak bertumbuh menjadi dewasa, lalu menjadi tua dan mati. Semuanya senantiasa dalam proses perubahan ke sesuatu yang lain.

  61. Ciri keberadaan ke dua, ketak-puasan atau penderitaan berarti, tidak ada sesuatu yang dapat memberi kepuasan yang lengkap dan kekal, disebabkan karena ketak-langgengan dan sifat alami batin yang senantiasa berprasyarat (Inggeris: conditioned mind). Dalam keadaan berbahagia bagaimanapun, kita juga dibayangi oleh kecemasan, bahwa kebahagiaan itu akan berakhir, atau oleh pikiran bahwa mungkin yang lainnya itu lebih menyenangkan dari pada yang ini.

  62. Ciri keberadaan ke tiga, adalah bahwa segala sesuatu yang ada secara alami sebenarnya bercirikan ketiada-dirian. Pengertian umum mengatakan, bahwa semua yang ada di alam ini mempunyai diri secara alami, yakni suatu inti - pada manusia inti itu adalah jiwa yang tidak berubah dan adalah suatu diri sejati dari benda atau manusia tersebut. Yang benar adalah, segala sesuatu adalah perpaduan unsur (sankhara), terdiri dari bagian-bagian dan pada gilirannya menjadi bagian dari yang lainnya lagi, suatu benda baru ber-eksistensi bila semua bagian-bagian (sebagai prasyarat) terpadu. Rumah, misalnya, adalah perpaduan batu-bata, jendela-jendela, pintu-pintu dan atap, dan tidak merupakan bagian tersendiri yang terpisah dari komponen-komponen di atas. Demikian pula manusia. Kita, seperti dikatakan Sang Buddha, terbuat dari Lima Unsur (pañca khanda): tubuh-jasmani (rupa), perasaan (vedana), pencerapan (sañña), bentuk-bentuk mental (sankhara) dan kesadaran (viññana), dan oleh karena kita adalah perpaduan dari unsur-unsur, yang semuanya senantiasa berubah, kita juga tidak mempunyai diri-alami, tidak ada inti-diri yang berdiri sendiri serta kekal.

  63. Pengertian tentang 'tiga ciri keberadaan benda-benda' mempunyai dampak yang mendasar pada setiap aspek kehidupan kita dalam hal ini bagaimana kita melihat diri kita dan dunia sekeliling kita. Bila kita tidak mengerti atau tidak dapat menerima ciri ketak-langgengan diri; maka umur tua dan kematian akan sangat menakutkan dan mengerikan. Bila kita memaklumi, bahwa segala sesuatu hanya memberi kebahagiaan yang terbatas waktunya, maka kita senantiasa berusaha mencari nafkah yang lebih banyak, kita menanamkan modal kita demi nilai yang lebih tinggi, dan kita mengambil langkah-langkah demi mengamankannya. Sebaliknya bila kita menganggap bahwa kita mempunyai diri, sikap dan perilaku yang didasari 'Aku', 'Milikku' akan menonjol dalam kehidupan kita, dan timbullah segala masalah yang disebabkan oleh pendirian yang menyesatkan itu.

  64. Telah dikatakan sebelumnya bahwa tujuan hidup adalah membebaskan diri dari samsara dan mencapai kebahagiaan Nibbana (25). Kita terikat pada samsara, karena disamping segala masalah yang disebabkannya, juga ketidak-tahuan menghalangi kita untuk melihat kenyataan seperti apa adanya. Ketidak-tahuan yang dimaksud adalah pengetahuan tentang kenyataan ciri kehidupan di atas, ketak-langgengan, ketak-puasan dan ketiada-diri alami. Dengan mengembangkan Pengertian Sejati (samma ditthi), maka kebijaksanaan (pañña) akan menggantikan ketidak-tahuan. Kita kemudian dapat melihat kenyataan seperti apa adanya (yathabhutañanadassana), kita mengatasi kemelekatan (nibbida) pada segala keberadaan Samsara, nafsu keinginan terhapus (viraga), dan dengan demikian kita senantiasa puas, tenang dan bebas (vimutti).1

        Semua yang merupakan gabungan unsur tidaklah kekal.
        Orang yang memakluminya melalui kebijaksanaan,
        Dia dapat mengatasi penderitaan.
        Inilah jalan menuju kemurnian sejati.

        Semua yang merupakan gabungan unsur tidaklah memuaskan
        Orang yang memakluminya melalui kebijaksanaan,
        Dia dapat mengatasi penderitaan.
        Inilah jalan menuju kemurnian sejati.

        Semua yang merupakan gabungan unsur tak mempunyai diri
        Orang yang memakluminya melalui kebijaksanaan,
        Dia dapat mengatasi penderitaan.
        Inilah jalan menuju kemurnian sejati.2

  65. Dengan pencapaian Pengertian Sejati, seperti yang dikatakan Sang Buddha, adalah seperti orang buta yang dapat melihat lagi, dan oleh karenanya semua pendiriannya berubah, karena dia dapat melihat sekarang dengan jelas.

        Sama dengan orang yang buta sejak lahir, tidak dapat melihat bentuk dan warna, rata atau tidak rata, bintang-bintang, matahari maupun bulan. Mungkin karena mendengar seseorang menceritakan tentang keanggunan kain yang putih bersih, indah dan tak bernoda, maka diapun mulai menginginkannya. Tetapi seorang lalu menipunya dengan memberinya selembar kain kasar, kumal dan ternoda lemak, tapi berkata: "Orang yang baik, inilah selembar kain putih bersih, indah dan tak bernoda." Dia lalu menerima dan memakainya. Lalu, suatu ketika teman dan kerabatnya mengantarnya ke tabib untuk mengobatinya, memberinya ramuan, larutan, obat gosok dan obat-obatan, maka penglinatannya pulih kembali. Dengan sendirinya kesenangan dan kemelekatan pada kain kumalnya terhapus, dia tidak menganggap lagi orang yang memberi kain kumal itu sebagai kawannya. Dia malah mungkin menganggapnya sebagai musuh, berpikir: "Untuk kurun-waktu yang begitu lama, saya telah tertipu, diperbodoh oleh orang itu."

        Demikian pula, bila saya mengajarkanmu Dhamma, dengan berkata: "Inilah yang sehat, inilah jalan ke Nibbana." Engkau lalu mengetahui yang sehat, engkau melihat Nibbana. Dengan timbulnya penglihatan itu, nafsu-keinginan dan kemelakatan pada Lima Unsur Ketergantungan terhapus. Engkau mungkin akan berpikir: "Untuk kurun-waktu yang begitu lama, saya telah tertipu dan diperbodoh oleh batin, dengan tergantung pada badan, perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk batin dan kesadaran. Diprasyarati oleh ketergantungan ada kejadian, diprasyarati oleh kejadian ada kelahiran, diprasyarati oleh kelahiran, maka umur-tua, kematian, kesedihan, penyesalan, penderitaan, kedukaan dan keputus-asaan-pun terjadi."3

  66. Ada tiga cara mengembangkan kebijaksanaan, demi memahami kenyataan secara jelas. Kita dapat mengembangkan dengan cara berpikir (cintamaya pañña), dengan cara belajar dan mendalami (sutamaya pañña) dan dengan cara melaksanakan meditasi (bhavanamaya pañña).4 Pemikiran dan perenungan yang mendalam akan mengantar kita ke pemahaman bahwa, ajaran Sang Buddha tentang Tiga Ciri Keberadaan adalah benar adanya. Namun, pemahaman ini, bila hanya berada dipermukaan batin saja dalam bentuk sekadar pengetahuan, maka tidak akan merubah keadaan kita. Banyak perokok mengetahui bahwa merokok membahayakan kesehatan, tapi mereka tetap juga merokok. Demikian pula, secara akal-budi mungkin kita telah menerima kebenaran dari ciri ketak-langgengan hidup, tapi kita tetap bertindak sepertinya akan hidup abadi. Untuk dapat merubah sikap sepenuhnya, pengertian tentang ini harus lebih mendalam. Ajaran Sang Buddha, dan mungkin pula ilmu-ilmu seperti Ilmu Fisika, Ilmu Faal dan Ilmu Jiwa dapat memberikan kita penghayatan yang langsung dan mendalam tentang kebenaran dari ketak-langgengan, ketak-puasan dan ketiada-diri-alamian. Tapi pada akhirnya, hanyalah batin yang telah ditenangkan dan dimurnikan oleh pelaksana meditasi, yang dapat menghayati pengertian lengkap tentang kebenaran-kebenaran (Tiga Ciri Keberadaan) ini. Kita akan mendapatkan gambaran tentang ini dalam bab Kesadaran Sejati dan Pemusatan-pikiran Sejati.
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.397
  • Reputasi: 422
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Dasar Pandangan Agama Buddha : oleh Venerable S. Dhammika
« Reply #9 on: 30 November 2008, 06:20:49 AM »
Latihan Etika

Pengenalan

  67. Seperti telah disebutkan, melalui latihan etika kita menentukan apa yang baik dan kemudian melaksanakannya, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam perilaku masyarakat. Dari satu sudut pandang, dapat disebutkan ada dua macam hal-hal intrinsik dan hal sebagai sarana pencapaian tujuan. Hal intrinsik adalah tujuan dan sasarannya tercapai langsung. Kesehatan, kedamaian, kebahagiaan, cinta dan tentunya Nibbana adalah hal yang bersasaran langsung dengan demikian adalah hal yang intrinsik. Hal sebagai sarana, adalah segala sesuatu yang bisa membantu untuk mencapai hal intrinsik diatas. Uang, misalnya adalah hal sebagai sarana, karena dengan uang kita dapat membeli makanan bergizi dan obat-obatan demi kesehatan kita (yang adalah hal intrinsik). Demikian juga, memaafkan lalu berbaikan kembali adalah hal sebagai sarana, sebab akan menuju kedamaian yang adalah hal intrinsik. Ternyata etika yang diajarkan oleh Sang Buddha merangkul kedua macam hal diatas, jadi berlaku untuk pencapaian kebahagiaan duniawi dan juga kebahagiaan Nibbana.

  68. Tetapi, bagaimana kita dapat mengetahui yang mana perilaku baik dan yang mana yang buruk? Untuk agama-agama tertentu, dengan dasar pendekatan legislatif (perancangan hukum) pada etika, pertanyaan diatas mudah dijawab. Apa yang disabdakan Tuhan sebagai baik, haruslah dikerjakan, dan apa yang disabdakan Tuhan sebagi buruk haruslah dihindari. Untuk menjadi baik, seseorang harus melaksanakan apa yang diperintahkan Tuhan. Pengabaian perintah-perintah itu akan menyebabkan pembalasan yang sangat berat, jauh melebihi perbuatan itu sendiri - akan membawa seseorang ke takdir penguasa alam semesta yang mungkin akan memasukkannya ke neraka untuk selamanya. Kekurangan yang sangat nyata dalam cara pendekatan moral diatas adalah bahwa kepatuhan lebih diutamakan dari pada pengertian; ketidak-patuhan akan menyebabkan ketakutan yang sangat mendalam.

  69. Agama Buddha mengajarkan bahwa pembatasan tentang apa yang baik dan apa yang buruk, didasarkan pada tiga azas - azas sarana, azas hasil-akibat dan azas universal. Azas pertama adalah bahwa suatu tingkah-laku adalah baik kalau tingkah-laku tersebut dapat membantu pencapaian sasaran. Sasaran akhir dari kehidupan seorang Buddhis adalah Nibbana, yang juga digambarkan sebagai terhapusnya keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin secara sempurna.
      Jambukhadaka, seorang pengembara bertanya kepada Yang Mulia Sariputta: "Mereka berbicara tentang Nibbana, Nibbana! Tapi kawan, apa Nibbana itu?"
      "Terhentinya keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin adalah Nibbana."1

      Jadi kita katakan, bahwa semua yang menambah dan menyebabkan keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin, atau yang menjauhkan kita dari Nibbana, adalah buruk. Apabila tingkah-laku kita tidak menambah, tetapi mengurangi keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin, maka itu adalah suatu etika-moral yang netral atau tidak-berakibat. Sebagai contoh, Sang Buddha mengatakan agar kita tidak perlu menghabiskan waktu untuk berusaha mengetahui asal-muasal alam-semesta, bukan karena berspekulasi tentang hal itu adalah tidak baik, tapi karena "hal itu tidak membantu penglepasan, pemutusan, penghentian, penenangan, pengetahuan yang lebih tinggi, kebangkitan atau ke Nibbana."2 Apabila tingkah-laku kita senantiasa dapat melemahkan keserakahan, kebencian dan kegelapan batin dan menambah kebajikan, cinta dan pengertian, yang mengantar kita ke Nibbana, itulah yang disebut tingkah-laku yang baik. Sang Buddha memberi ilustrasi yang sangat baik tentang azas sarana dalam moral, dalam jawaban Beliau pada pertanyaan: "Bagaimana kita dapat mengetahui, yang mana sejalan dengan ajaran-Mu dan yang mana yang tidak?"

      Ajaran-ajaran yang dapat engkau katakan sebagai: "Ajaran-ajaran ini tidak membawa ke penglepasan, penghentian, penenangan, pengetahuan yang lebih tinggi, kebangkitan atau ke Nibbaba" - dapatlah engkau pastikan sebagai bukan Dhamma, bukan tata-tertib, bukan kata-kata Sang Guru. Tapi ajaran-ajaran yang dapat engkau katakan sebagai: "Ajaran-ajaran ini membawa ke penglepasan, penghentian, penenangan, pengetahuan yang lebih tinggi, kebangkitan atau ke Nibbaba" engkau pastikan sebagai Dhamma, tata-tertib, kata-kata Sang Guru.3

  70. Azas ke dua yang digunakan oleh agama Buddha untuk menentukan yang baik dan yang buruk adalah azas hasil-akibat; kita menentukan macam tingkah-laku tergantung dari hasil atau akibat perbuatan tersebut.

          Perbuatan yang menyebabkan penyesalan dan mengakibatkan ratapan dan air-mata adalah perbuatan tidak baik.
          Perbuatan yang tidak menyebabkan penyesalan dan mengakibatkan kegembiraan dan kebahagiaan adalah perbuatan baik.4

      Tidak ada orang yang secara sadar menyakiti dirinya sendiri, jadi apabila tindakan kita menyebabkan sakit, ketegangan dan penderitaan, pastilah suatu yang tidak semestinya.

  71. Azas ke tiga dalam penentuan yang baik dari yang buruk adalah azas universalitas atau azas penerimaan umum. Dalam satu hal semua makhluk mempunyai persamaan, yakni mendambakan kebahagiaan dan senantiasa berusaha menghindari penderitaan: oleh karenanya kita dapat menyimpulkan (anumana)5 bahwa apa yang menyakitkan bagi seorang juga akan menyakitkan bagi orang-lain. Atas dasar kenyataan tadi, azas universalitas mengajarkan bahwa kita hendaknya tidak melakukan pada orang lain hal-hal yang kita juga tidak kehendaki dilakukan orang-lain pada kita. Sang Buddha mengatakannya sebagai berikut:

          Dhamma yang bagaimana yang bila dilaksanakan menghasilkan kebajikan pada seseorang? Menyangkut hal ini, siswa yang baik merenungkan: "Inilah saya, menyenangi kehidupan, tidak mengharapkan kematian, menyenangi kenikmatan-kenikmatan dan tidak menyukai penderitaan. Apabila seseorang bermaksud membunuhku, saya tidak akan menyukai hal itu. Demikian pula, apabila saya bermaksud membunuh orang lain, dia juga tidak akan menyukainya? Sebab apa yang saya tidak sukai, pasti pula tidak disukai orang lain; bagaimana mungkin saya dapat membebani orang lain seperti itu?" Berdasar perenungan tersebut, seseorang hendaknya bertekad tidak membunuh, menganjurkan orang lain untuk demikian pula, dan senantiasa menghargai tekad itu.
          Selanjutnya, siswa yang baik merenungkan: "Apabila seseorang bermaksud mencuri milikku, saya tidak akan menyukai hal itu? Demikian pula, apabila saya bermaksud mencuri milik orang lain, dia juga tidak akan menyukainya. Sebab apa yang saya tidak sukai, pasti pula tidak disukai orang lain; bagaimana mungkin saya dapat membebani orang lain seperti itu?" Berdasar perenungan tersebut, seseorang hendaknya bertekad tidak mencuri, menganjurkan orang lain untuk demikian pula, dan senantiasa menghargai tekad itu.
          Selanjutnya, siswa yang baik merenungkan: "Apabila seseorang bermaksud berzina dengan pasangan (suami/istri)-ku, saya tidak akan menyukai hal itu? Demikian pula, apabila saya bermaksud berzina dengan pasangan orang lain, dia juga tidak akan menyukainya. Sebab apa yang saya tidak sukai, pasti pula tidak disukai orang lain; bagaimana mungkin saya dapat membebani orang lain seperti itu?" Berdasar perenungan tersebut, seseorang hendaknya bertekad menghindari tindakan tak bersusila, menganjurkan orang lain untuk demikian pula, dan senantiasa menghargai tekad itu.
          Selanjutnya, siswa yang baik merenungkan: "Apabila seseorang bermaksud menghancurkan keberuntunganku dengan berkata tidak benar, saya tidak akan menyukai hal itu? Demikian pula, apabila saya bermaksud menghancurkan keberuntungan orang lain dengan berkata yang tidak benar, dia juga tidak akan menyukainya. Sebab apa yang saya tidak sukai, pasti pula tidak disukai orang lain; bagaimana mungkin saya dapat membebani orang lain seperti itu?" Berdasar perenungan tersebut, seseorang hendaknya bertekad tidak berbohong, menganjurkan orang lain untuk demikian pula, dan senantiasa menghargai tekad itu
          Selanjutnya, siswa yang baik merenungkan lebih lanjut: "Apabila seseorang bermaksud menjauhkan saya dari kawan-kawanku dengan berfitnah, berkata-kata kasar pada saya atau menarik saya untuk membicarakan hal-hal yang tak berguna dan penuh pergunjingan, saya tidak akan menyukai hal itu? Demikian pula, apabila saya bermaksud melakukannya pada orang lain, dia juga tidak akan menyukainya. Sebab apa yang saya tidak sukai, pasti pula tidak disukai orang lain; bagaimana mungkin saya dapat membebani orang lain seperti itu?" Berdasar perenungan tersebut, seseorang hendaknya bertekad tidak berbicara fitnah, berkata kasar dan bergunjing, menganjurkan orang lain untuk demikian pula, dan senantiasa menghargai tekad itu.6

  72. Telah kita pelajari sebelumnya (27), bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita umumnya berkehendak dulu sebelum bertindak; oleh karenanya, dengan berdasar pada tiga azas diatas, kita hendaknya memasukkan kehendak-kehendak baik terlebih dahulu pada setiap rencana tindakan kita sebelum melaksanakannya. Apabila suatu tindakan memperkuat kecenderungan-kecenderungan yang menjauhkan kita dari Nibbana, menyebabkan diri kita dan orang lain menderita, pula bukan tindakan yang kita senangi bila diperbuat orang lain pada diri kita, pula adalah tindakan yang didasari oleh kehendak negatif seperti kebencian, keserakahan, kesombongan dan sebagainya; itulah yang disebut tidak baik dan salah. Sebaliknya bila suatu tindakan memperkuat kecenderungan yang mendekatkan kita ke Nibbana, tidak menyebabkan penderitaan pada diri kita dan orang lain, pula adalah tindakan yang kita senangi bila diperbuat orang lain pada diri kita, pula adalah tindakan yang didasari oleh kehendak positif seperti cinta-kasih, kemurahan-hati, dan sebagainya; itulah yang disebut benar dan baik. Berdasar hanya pada salah satu saja dari ke-tiga azas diatas, tidaklah cukup untuk menilai kesatuan yang tepat untuk dijadikan petunjuk untuk berpikir, berbicara dan bertindak. Menjadi baik dalam pandangan Buddhis tidak sekadar mematuhi perintah-perintah; tapi juga perlu bahwa kita memikirkan tujuan kita, bahwa kita mawas-diri dalam berpikir, berbicara dan bertindak, dan bahwa kita menjadi peka dalam hubungan antara sesama kita. Secara singkat, diperlukan akal-budi dan pengertian. Dengan demikian adalah tepat bila dikatakan, bahwa agama Buddha meletakkan dasar pendidikan pada moralitas.

  73. Dalam membicarakan kebajikan, adalah penting ditekankan bahwa agama Buddha mengajarkan keunggulan dari kebajikan. Beberapa agama mengajarkan bahwa secara alami manusia pada dasarnya berdosa, dan bahwa manusia, dengan kekuatannya sendiri, tidak akan mampu menjadi baik, dan bahwa hanya dapat ditolong dengan memohon belas-kasih dari makhluk adikodrati tertentu. Pemahaman Sang Buddha tentang ciri alami manusia sangat berbeda dari pandangan pesimis dan suram tersebut diatas. Kebaikan atau kebajikan adalah lebih kuat dari kejahatan.

          Sang raja bertanya: "Yang Mulia Nagasena, yang mana lebih kuat, kebajikan atau kejahatan?"
          "Kebajikan adalah lebih besar, Tuanku, kejahatan hanyalah suatu yang kecil."
          "Kenapa demikian?"
          "Tuanku, orang yang berbuat kejahatan mungkin akan dengan menyesal berkata: "Perbuatan jahat telah saya perbuat; oleh karenanya kejahatan tidaklah bertambah. Tetapi orang yang berbuat kebajikan tidaklah pernah menyesal. Karena bebas dari penyesalan, timbul rasa-senang, dari perasaan senang timbul kegembiraan, dari kegembiraan timbul ketenangan, dari ketenangan timbul kebahagiaan, dan dalam batin yang berbahagia seseorang bisa memusatkan pikirannya. Seseorang yang memusatkan pikirannya dapat melihat semuanya seperti apa adanya, dan dengan demikian kebajikan akan bertambah."7

      Dalam salah satu percakapan yang sangat sering dikutip dan dijadikan inspirasi, Sang Buddha menyerukan kita agar, berbuat kebajikan dan kebaikan sebanyak-banyaknya dalam hidup kita, seperti yang dilakukan Beliau.

          Menghindari perbuatan salah; dapatlah dilakukan. Apabila tidak dapat dilakukan, Saya tidak akan menganjurkan engkau untuk melakukannya. Tapi karena dapat dilakukan, Saya berkata padamu: 'Hindari perbuatan salah.' Bila dengan menghindari kesalahan akan membawa kehilangan dan kesesalan, Saya tidak akan menganjurkan untuk melakukannya. Tapi karena itu membawa keberuntungan dan kebahagiaan, Saya menganjurkan engkau: 'Hindari perbuatan salah'.
          Mengembangkan kebajikan, dapatlah dilakukan. Apabila tidak dapat dilakukan, Saya tidak akan menganjurkan engkau untuk melakukannya. Tapi karena dapat dilakukan, Saya berkata padamu: 'Kembangkan kebajikan.' Bila dengan mengembangkan kebajikan membawa kehilangan dan kesesalan, Saya tidak akan menganjurkan untuk melakukannya. Tapi karena itu membawa keberuntungan dan kebahagiaan, Saya menganjurkan engkau: 'Kembangkan kebajikan.'8
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.397
  • Reputasi: 422
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Dasar Pandangan Agama Buddha : oleh Venerable S. Dhammika
« Reply #10 on: 30 November 2008, 06:22:10 AM »
PIKIRAN SEJATI

  74.      Sekarang kita akan mempelajari Latihan Etika dalam hubungannya dengan perilaku pribadi. Langkah pertama dalam Latihan Etika adalah pengembangan Pikiran Sejati (samma samkappa). Istilah 'samkappa' berarti pikiran dan kehendak dan mengacu pada semua pikiran-pikiran kita, terutama pikiran yang menggerakkan tindakan. Secara filosofis, umumnya hanyalah perilaku jasmani dan ucapan yang digolongkan etika, tidak termasuk pikiran. Tetapi, kebijaksanaan Sang Buddha memberi pemahaman bahwa jalan pikiran kita mempunyai pengaruh mendasar pada apa yang kita lakukan.

              Pikiran mendahului segalanya.
              Pikiran adalah pemimpinnya,
              Pikiran adalah pembentuknya.1

      Juga:

              Dunia dituntun oleh pikiran;
              Oleh pikiran dunia dinodai
              Hanya pikiran semata-mata
              Yang menyebabkan segala yang dibawahnya tergoyah.2

      Dengan sendirinya, bila kita berkeinginan merubah perilaku ucapan dan perilaku tindakan kita, kita harus terlebih dahulu merubah pikiran yang menggerakkan kedua perilaku itu.

  75.      Sang Buddha menggambarkan Pikiran Sejati seperti dibawah ini:

              Dan apa Pikiran Sejati itu? Pikiran yang didasari pikiran penghentian, pikiran cinta-kasih dan pikiran untuk menolong - inilah yang disebut Pikiran Sejati.3

      Beliau juga memberitahu alasan perlunya pengembangan Pikiran Sejati.

              Tiga jenis pikiran; yang menyebabkan kebutaan, hilangnya pandangan dan pengetahuan, yang mengakhiri kebijaksanaan, yang berhubungan dengan kesulitan, dan tidak menuntun ke Nibbana. Apa yang tiga itu? Pikiran yang didasari keserakahan, pikiran yang didasari kebencian dan pikiran yang didasari keinginan-merugikan. Tiga jenis pikiran yang memberi penglihatan, pandangan dan pengetahuan, yang meningkatkan kebijaksanaan, yang berhubungan dengan keselarasan dan menuntun ke Nibbana. Apa yang tiga itu? Berpikir didasari penghentian, berpikir didasari cinta-kasih dan berpikir didasari keinginan-menolong.4
       
  76. Pikiran Sejati pertama adalah penghentian. Penghentian diterjemahkan dari kata 'nekkhamma', yang sebenarnya malah berarti 'melangkah maju'. Dengan demikian suatu penghentian yang sejati bukanlah pengingkaran/penyiksaan diri yang menyakitkan, tetapi suatu penglepasan dari segala sesuatu yang mengikat kita, yang menyebabkan kita tak dapat melangkah maju secara spiritual. Sebenarnya, kita semua terlalu banyak dipusingkan oleh hal-hal kecil yang sebenarnya tidak kita butuhkan, kita mengikat diri pada hal-hal yang tidaklah penting, sehingga kita senantiasa sibuk tanpa pernah benar-benar mencapai sesuatu. Akibatnya kita tidak melihat nilai sebenarnya dari kehidupan ini. Merencanakan hidup yang lebih sederhana dan senantiasa merasa puas adalah langkah pertama dari hidup yang sebenarnya. Untuk orang tertentu, penghentian tersebut mungkin akan berupa keinginan untuk meninggalkan kehidupan berkeluarga, harta benda dan kedudukan, lalu menjadi bhikkhu atau bhikkhuni. Kehidupan vihara, bila ditekuni, membebaskan seseorang dari kewajiban-kewajiban orang awam, yang kadang-kadang memang menyulitkan pengembangan nilai spiritual dan dengan demikian membantu seseorang dalam pencapaian Nibbana.

  77. Salah satu tipe pikiran yang berhubungan dengan Penghentian adalah Memaafkan (khamanasila). Memaafkan adalah menghilangkan pikiran-jahat atau keinginan membalas, yang ditujukan kepada seseorang dan mengganti pikiran negatif tersebut dengan pikiran untuk rukun kembali. Melepaskan harta milik kadang-kadang lebih mudah dibanding memaafkan seseorang yang mungkin telah mempermalukan, mempersulit atau menyakiti kita. Sang Buddha menekankan betapa pentingnya sikap pemberian maaf, sebagai berikut:

              Dari tiga hal kita dapat mengenal seorang bijaksana? Apa yang tiga itu? Dia bisa melihat kekurangannya. Bila dia melihat kekurangannya dia mencoba memperbaikinya. Dan bila seseorang mengakui kekurangannya, dia akan memaafkannya sebagai mana mestinya.5

      Memaafkan adalah penting sebab akan membebaskan kita dari api kebencian, dengan melaksanakannya maka dengan sendirinya memungkinkan pengembangan nilai-nilai positif seperti kesabaran dan cinta-kasih. Mempertahankan pikiran membenci hanya akan mempertajam kebencian, sedangkan melepaskan kebencian akan memungkinkan timbulnya cinta-kasih. Sang Buddha bersabda:

              "Dia merugikan saya, dia menyakiti saya,
              Dia semena-mena pada saya, dia merampok saya."
              Mereka yang tetap berpikiran seperti itu
              Tidak pernah dapat meredakan kebenciannya.

              "Dia merugikan saya, dia menyakiti saya,
              Dia semena-mena pada saya, dia merampok saya."
              Mereka yang tidak berpikiran seperti itu
              Akan dapat meredakan kebenciannya.

              Sebab didunia ini,
              Kebencian tidak pernah dipadamkan oleh kebencian
              Hanya cinta-kasih yang dapat memadamkan kebencian
              Inilah Hukum yang abadi.6

  78. Hal yang berhubungan dengan Pemberian-maaf adalah pikiran berterima kasih (katavedita), yang adalah pikiran dan juga adalah perasaan. Bila Pemberian-maaf adalah penglepasan pikiran-jahat atas perbuatan seseorang yang menyakitkan kita, maka berterima-kasih adalah pikiran atau ucapan kepada seseorang yang telah menolong kita, dan ini hanya dimungkinkan bila kita dapat mengatasi keangkuhan kita sendiri. Kita dapat menyatakan terima kasih dengan kata-kata atau dengan membalas jasa, walau tidak selalu harus perlu demikian. Kadangkala dalam menyampaikan rasa terima kasih, penghargaan saja sudah cukup. Sang Buddha bersabda:

              Sebenarnya, mereka yang adalah orang-orang baik adalah yang senantiasa berterima-kasih dan bersyukur.7

  79. Pikiran Sejati yang lainnya adalah Pikiran Cinta-kasih (avyapada). Cinta-kasih adalah perpaduan antara pikiran dan perasaan dari persahabatan, kehangatan, melindungi dan menyukai seseorang. Gurulagomi, seorang pujangga Buddhis terkenal dengan indah menggambarkan ciri-ciri cinta-kasih dengan membandingkannya dengan kebencian.

              Benci menahan; cinta melepaskan. Benci mencekik; cinta membebaskan. Benci membawa penyesalan, cinta membawa kedamaian. Benci meronta; cinta mengheningkan, mendiamkan, menenangkan. Benci memecahkan; cinta mempersatukan. Benci memperkeras; cinta melunakkan. Benci merintangi; cinta membantu.8

      Kita semua memiliki pikiran cinta-kasih setidaknya pada orang-orang tertentu, orang-tua, isteri atau suami, anak-anak atau teman-teman. Namun demikian, kita dapat pada waktu yang sama bersikap netral atau malah tidak menyukai seseorang. Dalam melaksanakan Pikiran Sejati, kita berusaha mengembangkan cinta-kasih secara merata pada semua makhluk.

              Seperti air mendinginkan yang baik dan jahat,
              Dan membersihkan semua noda dan debu,
              Demikian pula hendaknya engkau mengembangkan pikiran cinta-kasih
              Pada kawan maupun lawan,
              Dan dengan mencapai kesempurnaan cinta-kasih,
              Engkau akan mencapai Pencerahan sempurna.9

      Bila pikiran-pikiran cinta-kasih diperluas tanpa memandang bulu, maka adalah wajar bila kita memasukkan para binatang dalam jangkauan cinta-kasih kita. Sang Buddha menganjurkan kita agar menyayangi dan mencintai tidak hanya manusia tetapi semua makhluk.

              Seperti ibu yang melindungi anak tunggalnya
              Walau itu dapat mengorbankan hidupnya sendiri,
              Demikian pula, hendaknya seseorang mengembangkan cinta-kasih tanpa batas
              Kepada semua makhluk di dunia ini.10

  80.      Sebelum pikiran cinta-kasih memenuhi batin kita, kita hendaknya berusaha menolak masuknya pikiran-jahat, kemurkaan dan niat pembalasan; atau bila pikiran semacam itu muncul kita memotongnya dengan segera. Pikiran-pikiran semacam itu hanya akan membelokkan pengertian kita dan menyebabkan perasaan kita terkungkung.

              Kebencian membawa kemalangan besar,
              Kebencian menggoyahkan dan merusak batin;
              Bahaya mengerikan inilah,
              Yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang

              Dengan sia-sia, seseorang tak dapat melihat kebajikan
              Tak dapat melihat segalanya seperti apa adanya.
              Hanya kebutaan dan kegelapan yang terjadi
              Bila seorang dikendalikan oleh kebencian.11

      Sebaliknya, pikiran cinta-kasih niscaya diikuti oleh kebahagiaan. Bila kita berbahagia, kita akan dinilai oleh orang sekeliling kita sebagai orang yang menyenangkan, tidak berbahaya, oleh karenanya hubungan dengan sesama kita akan lebih harmonis. Keindahan cinta-kasih digambarkan oleh Bhikkhu Anuruddha, dengan mengumpamakan dirinya dan para rekan bhikkhu-nya, sebagai "hidup bersama dalam persahabatan dan kerukunan, seperti susu dalam air, saling menjaga dengan mata-pandangan cinta-kasih."12 Ketika ditanyai oleh Sang Buddha cara Anuruddha melaksanakannya, dia menjawab:

              Dalam hal ini, saya berpikir: "Sebenarnya adalah suatu keberuntungan bagiku, sebenarnya adalah sangat baik bahwa saya, hidup dalam masyarakat kehidupan suci seperti ini." Saya melaksanakan cinta-kasih lewat perbuatan, ucapan dan pikiran pada mereka, baik sebagai bagian masyarakat maupun pribadi. Saya berpikir: "Kenapa saya tidak menyampingkan keinginan-keinginan pribadiku dan menerima keinginan-keinginan mereka?" Dan saya-pun bertindak demikian. Memang, kita berbeda dalam jasmani, namun kita adalah satu dalam rohani.13

  81. Pikiran Sejati yang terakhir adalah pikiran untuk senantiasa hendak menolong (avihimsa), yang membangkitkan kemauan untuk membantu, melayani dan membagi beban atau tugas pada sesama kita. Termasuk dalam pikiran ini, adalah pikiran untuk membantu orang lain agar dapat mencapai Pencerahan. Sang Buddha menekankan bahwa hendaknya keinginan untuk menolong diri sendiri dan menolong diri orang lain senantiasa seimbang.

              Ada empat macam manusia didalam dunia ini. Apa yang empat itu? Dia yang tidak memperhatikan kebaikan dirinya maupun kebaikan orang lain, dia yang memperhatikan kebaikan orang lain tapi tidak memperhatikan kebaikan dirinya, dia yang memperhatikan kebaikan dirinya tapi tidak memperhatikan kebaikan orang lain, dan dia yang memperhatikan kebaikan dirinya maupun kebaikan orang lain. Seperti sebatang kayu di perkuburan, terbakar di kedua ujungnya, tercemari ditengahnya, tak dapat dipakai sebagai kayu api di dusun ataupun sebagai kayu bangunan di hutan seperti perumpamaan itulah, Saya katakan, orang yang tidak memperhatikan kebaikan bagi dirinya maupun kebaikan orang lain. Dia yang memperhatikan kebaikan orang lain tapi tidak memperhatikan kebaikan dirinya adalah lebih unggul dan lebih baik. Dia yang memperhatikan kebaikan dirinya tapi tidak memperhatikan kebaikan orang lain juga lebih unggul dan lebih baik. Tapi dia yang memperhatikan kebaikan dirinya maupun kebaikan orang lain dialah dari ke empat tipe manusia diatas, pemimpinnya, terbaik, terpuncak, tertinggi, teristimewa. Seperti dari seekor lembu dihasilkan susu, dari krim susu, dari mentega krim, dari mentega-susu, dan dari mentega-susu dihasilkan susu-asam, yang dikatakan yang terbaik - demikian pula, orang yang memperhatikan kebaikan bagi dirinya dan kebaikan bagi diri orang lain adalah yang terbaik, dialah dari ke empat tipe manusia diatas, pemimpinnya, terbaik, terpuncak, tertinggi, teristimewa.14

      Apabila kita memang berkeinginan menolong seseorang, maka akan banyak kesempatan untuk melaksanakannya. Namun kadang-kadang kita tidak sepenuh hati untuk menolong karena masih diliputi ke-akuan - egonisme; kita mungkin akan ragu tentang perlu atau tidaknya pertolongan kita, atau ragu tentang akan dihargai atau tidaknya pertolongan kita. Kadang-kadang pula, dikarenakan pikiran jahat atau karena orang yang akan ditolong tidak pernah menolong kita sebelumnya, menyebabkan kita enggan menolong seseorang. Dalam keadaan seperti ini Pikiran Sejati, akan menghilangkan keraguan itu, kita akan berpikir sedemikian: "Mungkin saja dia tidak membutuhkan pertolongan, tapi saya akan mencoba mengusahakannya," atau "Saya tidak tahu apa yang harus diperbuat tapi saya akan menanyakannya," atau "Mereka tidak pernah menolong saya sebelumnya, tapi sekarang mereka sangat perlu ditolong, saya akan menolong mereka, bagaimanapun juga." Untuk senantiasa berpikir seperti itu, kita hendaknya merenungkan betapa Sang Buddha serta para siswa-siswa yang telah Tercerahi, telah pula menolong kita.

              Ketika Tathagata atau Siswa-siswa Tathagata hidup didunia ini, yang dilakukan adalah demi kebaikan seluruhnya, demi kebahagiaan, demi kebajikan, demi keberuntungan dan kebahagiaan para dewa dan manusia.15
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.397
  • Reputasi: 422
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Dasar Pandangan Agama Buddha : oleh Venerable S. Dhammika
« Reply #11 on: 30 November 2008, 06:24:46 AM »
PEMBICARAAN SEJATI

  82.      Berbicara adalah kemampuan unik manusia. Dengan berbicara kita dapat berkomunikasi dengan sesama kita dengan sangat tepat. Dengan berbicara secara benar, kita dapat saling mengerti, saling meredakan keresahan, saling membantu dengan berbagai cara melalui kata-kata kita. Sebaliknya bila kita berbicara tidak semestinya, kita dapat menyakiti diri kita dan diri orang lain; itulah seperti yang dikatakan Sang Buddha sebagai memiliki pedang dimulut.1 Oleh karenanya mengembangkan Pembicaraan Sejati (samma vaca) merupakan aspek yang sangat penting dalam Latihan Etika. Sang Buddha seringkali menggambarkan ciri dari Pembicaraan Sejati. Pada suatu kesempatan Sang Buddha bersabda:

          Kata-kata yang mempunyai empat nilai adalah yang diucapkan baik, bukan pembicaraan jahat, tidak salah, dan tidak dicela para bijaksana. Apa empat itu? Mengenai ini, seorang berbicara dengan kata-kata yang indah, bukannya buruk; seorang berbicara dengan kata-kata yang benar, bukannya salah; seorang berbicara dengan kata-kata yang halus, bukannya kasar; seorang berbicara dengan kata-kata penuh kebenaran, bukan kepalsuan.2

          Beliau berkata, bahwa sabda Beliau adalah penuh kebenaran, berguna, diutarakan pada saat yang tepat dan didorong oleh kasih-sayang. Dari pernyataan Beliau ini kita dapatkan petunjuk atau definisi dari Pembicaraan Benar.3

  83.      Sang Buddha menggambarkan ucapan benar seperti ini:

          Mengenai hal ini, seorang tidak lagi berbohong dan selamanya menghindarinya. Bila dia bersaksi di pengadilan warga, pertemuan warga, rukun warga, atau mahkamah agung, dan ditanya: "Katakan pada kami, orang yang baik, apa yang engkau ketahui?" bila ia tidak tahu, dia berkata: "Saya tidak tahu," dan bila dia mengetahui, dia berkata: "Saya tahu." Apabila dia tidak melihat, dia berkata: "Saya tidak lihat," dan apabila dia melihat, dia berkata: "Saya lihat." Dia tidak akan sengaja berbohong, baik untuk keuntungan dirinya sendiri, keuntungan orang lain ataupun demi kesenangan duniawi lainnya.4

      Jelas, berbicara dalam kebenaran (sacca) berarti menghindari kebohongan, pembicaraan mendua (tidak konsisten), melebih-lebihkan, kebenaran setengah-setengah; berbicara dalam kebenaran berarti berbicara hanya sesuai kenyataan yang diketahui. Seperti telah kita pelajari sebelumnya, kehendak yang muncul sebelum berbuat sesuatu sangatlah berperan. Seseorang dapat saja mengatakan suatu kebenaran tapi disertai keinginan untuk menyakiti hati dapat saja menutup kebenaran atau malah berbohong tanpa pertimbangan dan kebijaksanaan. Kebenaran hendaknya tidak digunakan untuk menyakiti hati seseorang, bila kebenaran yang merugikan seseorang harus diutarakan, maka harus dilakukan dengan hati-hati, penuh pertimbangan dan tenggang rasa. Demikian pula, hendaknya kita hanya terpaksa menutupi kebenaran atau berbohong, apabila tidak ada pilihan lain dan kita telah mawas pada kemungkinan kepentingan-kepentingan pribadi. Namun dalam kebanyakan situasi, kejujuran tetaplah cara terbaik. Bila kita telah berbicara dengan benar, kita tidak pernah kwatir pada kemungkinan ketahuan berbohong dikemudian hari, dan kita tidak akan terjerat dengan kebohongan baru untuk menutupi kebohongan-kebohongan sebelumnya. Menjadi jujur adalah memiliki hati-nurani yang sejati, dapat dipercayai, dapat diharapkan dan dihargai oleh sesamanya.

  84. Telah kita lihat sebelumnya bahwa dari satu sudut pandang, agama Buddha mengenal dua macam hal-hal yang intrinsik dan hal sebagai sarana (67); semua perkataan/pembicaraan yang membantu terwujudnya kedua macam hal tadi, dapat disebut sebagai bermanfaat. Nibbana, adalah suatu hal yang intrinsik, jadi mengajarkan Dhamma, mendiskusikannya, dan menerangkannya kepada yang lain atau mencetaknya dalam bentuk buku (karena bahasa tulisan adalah bahasa lisan yang dapat terlihat) adalah tujuan yang termulia dari segala kata-kata yang dapat kita ucapkan.

          Sang Buddha tertutur dengan kata-kata yang menuntun
          menuju kemenangan pada kedamaian,
          Pengakhiran kesengsaraan, dan
          Pencapaian Nibbana.
          Sebenarnya, inilah kata-kata termulia.5

      Sang Buddha mengharapkan agar Dhamma ajarannya disebar luaskan sedemikian rupa sehingga semua orang dapat belajar hidup berbahagia dan damai; dan dia mengharapkan agar seluruh Siswa-Nya membagi kepada orang-lain, apa yang oleh Beliau telah bagi pula pada mereka.

          Bila dia tak berbicara, orang tak akan mengenalnya;
          Dia hanyalah orang bijaksana ditengah orang bodoh
          Tapi kalau dia berbicara dan mengajarkan Kebenaran,
          Orang lain akan mengenalnya.
          Oleh karenanya hendaknya dia membabarkan Dhamma,
          Hendaknya dia mengibarkan panji kebijaksanaan itu tinggi-tinggi.6


      Tentu saja, membagi pengetahuan Dhamma pada orang lain bukanlah sekadar berbicara dengan lantang tentang keyakinan kita. Seyogyanya ada keselarasan antara apa yang kita coba babarkan dan cara kita membabarkannya, kita haruslah peka pada keyakinan-keyakinan orang lain, pula harus dipahami bahwa ada tipe manusia yang memang tidak akan pernah tertarik pada Dhamma. Praktek-praktek dalam penyebar-luasan agama seperti pembicaraan-mendua (berubah-ubah/tidak konsisten), menakut-nakuti, membagi-bagi hadiah atau menjanjikan kesempatan kerja, sangat tidak sejalan dengan semangat Buddhis. Cara seperti itu malah hanya akan menumbuhkan 'egoisme', kompromi (merubah/menyesuaikan doktrin keagamaan sendiri), intoleransi; bukannya keyakinan sejati pada agama sendiri dan tenggang rasa pada orang lain. Sang Buddha menekankan perlunya pertimbangan yang mendalam sebelum memperkenalkan Dhamma kepada orang lain.

          Sebenarnya, tidaklah mudah mengajarkan Dhamma kepada orang lain, terlebih dahulu kembangkan secara baik lima hal, lalu setelah itu ajarkanlah Dhamma. Apa yang lima itu? Ajarkan Dhamma pada orang lain, dengan berpikir: "Saya akan menyampaikan Dhamma secara bertahap; saya akan berbicara dengan kemauan baik; saya akan berbicara dengan hati yang bersih; saya tidak akan berbicara demi kepentingan sendiri; saya tidak akan berbicara yang merugikan diri sendiri, maupun diri orang lain."7

      Yang mulia Sariputta, salah satu murid utama Sang Buddha, memberi nasehat yang sama:

          Apabila seseorang berharap mengajar pada yang lainnya, hendaknya dia mengembangkan terlebih dahulu lima hal sebelum mengajar. Apa yang lima itu? Hendaknya dia berpikir: "Saya akan berbicara pada waktu yang tepat, bukan pada waktu yang salah. Saya akan berbicara tentang apa yang adalah, bukan tentang apa yang bukanlah. Saya akan berbicara dengan lemah-lembut, bukan dengan kekerasan. Saya akan berbicara tentang yang baik, bukan tentang apa yang tidak baik. Saya akan berbicara dengan hati dipenuhi cinta-kasih, bukan dengan pikiran yang dipenuhi keinginan-jahat."8

      Terpisah dari nilai-nilai diatas, Sang Buddha juga berkata bahwa cara penyampaian yang jelas, disertai keyakinan dan kemampuan menjawab, juga sangat berperan dalam pembabaran Dhamma.

          Bila seseorang mengajar mereka yang ingin belajar,
          Tanpa keraguan dan kerahasiaan dalam pengertian,
          Membuka segalanya dan tidak menyembunyikan ajaran,
          Berbicara dengan menatap
          Tidak marah bila mendapat pertanyaan
          Bhikkhu seperti inilah yang berharga
          Untuk membabarkan ajaran.9

      Namun, tidak setiap orang mempunyai atau dapat mengembangkan keahlian ini, dan adalah penting untuk diingat bahwa kadang-kadang suatu penjelasan yang sederhana dan tulus tentang mengapa kita berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha lebih meyakinkan daripada pembabaran dan argumentasi yang sulit-sulit.

Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.397
  • Reputasi: 422
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Dasar Pandangan Agama Buddha : oleh Venerable S. Dhammika
« Reply #12 on: 30 November 2008, 06:25:26 AM »
  85. Pembicaraan yang menuntun pada hal-hal sebagai sarana (67) adalah juga berguna. Bila ada ketidaksesuaian atau perselisihan pendapat diantara dua orang, adalah mudah untuk membiarkan mereka bertengkar, bila kita tak dapat lagi mengubah keadaan dengan kata-kata. Kadang-kadang kemarahan, kebanggaan berlebihan dan keputusan untuk memilih cara kita sendiri; malah mempertajam pertengkaran diantara mereka. Kedamaian dan keserasian antara semua orang adalah sesuatu yang indah; menahan diri untuk berbicara yang tidak terpuji dan berbicara demi kedamaian dan pengertian adalah dengan cara tertutur secara baik. Menyangkut ini, Sang Buddha bersabda:

          Tidak menfitnah, tidak mengulangi disana sesuatu yang didengarnya disini, atau mengulangi disini apa yang didengarnya disana, dengan tujuan agar orang bertengkar. Jadi, merujukkan mereka yang telah terpisah dan menserasikan mereka yang telah bersatu, bergembira dalam keserasian; keserasian menjadi pendorong baginya dalam berbicara.10

      Lalu, tentunya pula, semua yang kita katakan hanya akan berguna bila mempunyai kepenadaan dengan yang dipertanyakan, bila maknanya jelas, bebas dari kerancuan bahasa, tidak berbelit-belit dan mudah dipahami oleh yang mendengarnya.

  86. Tapi, tentunya, bukan materi bahasan saja yang akan menjadi sarana spiritual satu-satunya; pewaktuan (Inggeris: timing) yang tepat juga berperan. Kata-kata yang diucapkan pada waktu tertentu mungkin adalah tepat, tapi pada waktu yang lain mungkin tidak. Mengetahui saat yang tepat dan peka tentang waktu yang tepat untuk menyampaikan sesuatu, akan menyebabkan kata-kata kita lebih sangkil. Seperti kita ketahui sebelumnya, berbicara tentang Dhamma adalah sangat baik, tetapi berbicara terus-menerus mengenai Dhamma juga tidaklah tepat. Seseorang yang hanya mau menang sendiri dalam setiap kesempatan berbicara, hanya membicarakan hal-hal yang disenanginya, akan tidak menyadari bahwa lawan bicaranya tidaklah tertarik lagi, malah dapat menyebabkan ketidaksenangan pada dirinya dan juga pada obyek pembicaraannya tadi.

  87. Kritik adalah suatu tipe lain dari pembicaraan, yang pada satu pihak adalah penting bagi seorang untuk mengetahui sesuatu lebih baik atau bagi mereka yang mau membantu yang lainnya untuk mengetahui sesuatu, namun juga memerlukan pewaktuan yang tepat. Sering seorang kawan dapat melihat noda dalam watak kita yang perlu kita ketahui tapi kita sendiri tidak melihatnya; menyadarkan seseorang akan hal itu sangatlah bermanfaat. Agar konstruktif adalah penting mempertimbangkan waktu dalam menyampaikan kritik pada seseorang; mengkritik seseorang didepan orang banyak, mengkritik pada suasana yang masih panas, atau terus-menerus mengkritik mungkin malah menyebabkan hasil yang sebaliknya dari yang diharapkan. Demikian pula, kritik apa saja yang kita lontarkan pada orang lain hanya dapat diterima bila kita sendiri telah bersih dari kesalahan-kesalahan serupa. Sang Buddha berkata:

          Seseorang yang ingin memperingati orang lain hendaknya meneliti dulu: "Apakah, saya adalah atau saya bukanlah, seorang yang melaksanakan kemurnian dalam ucapan dan tindakan? Apakah, saya pemilik atau saya bukanlah pemilik kemurnian dalam ucapan dan tindakan, tidak cacat dan tak bernoda? Apakah semua keadaan itu ada pada saya atau tidak? Apabila tidak, maka orang-orang tanpa ragu akan berkata: "Ayo, sekarang, perbaiki dulu olehmu sendiri tindakan dan ucapanmu." Niscaya akan ada orang yang akan berkata demikian. Lagi, seseorang yang ingin memperingati orang lain hendaknya meneliti dulu: "Sudahkah saya mengembangkan kehendak baik, bebas dari pikiran jahat pada sesama, dalam kehidupan suci? Apakah semua keadaan itu ada pada saya atau tidak? Apabila tidak, maka orang-orang tanpa ragu akan berkata: "Ayo, sekarang, kembangkan dulu olehmu sendiri kehendak baik." Niscaya akan ada orang yang akan berkata demikian.11

      Disamping kritik konstruktif, maka penghargaan atau pujian yang tulus juga berperan dalam hubungan sosial dan pelaksana kehidupan Buddhis. Sang Buddha sering menyebut keadaan ini sebagai "dipuji oleh para bijaksana." Hal ini disebabkan karena mereka yang peka biasanya telah memaklumi bahwa penghargaan atas usaha atau hasil jerih payah seseorang akan membangkitkan kegairahan dan kegembiraan. Tetapi pujian hendaknya pula diucapkan pada waktu yang tepat. Pujian bila tidak diucapkan semestinya hanya bernilai sedikit lebih rendah dibanding kebanggaan yang berlebihan. Penghargaan yang tidak diberikan semestinya menyebabkan seseorang kurang berani untuk terus melaksanakan sesuatu yang sudah tepat.

  88. Selain masalah materi dan pewaktuan, hendaknya dipahami pula bahwa dalam beberapa keadaan; bila semua yang penting-penting telah ditekankan atau tidak ada lagi yang perlu disampaikan, maka kadang-kadang diam lebih baik daripada berbicara. Diam melengkapi bicara sama halnya keharuman melengkapi bunga. Diam memberi kesempatan pada orang lain untuk menyampaikan pikirannya dan memungkinkan kita untuk mendengarkan apa yang mereka pikirkan. Malah, ada beberapa perasaan yang akan lebih baik bila dikomunikasikan dengan berdiam daripada berbicara. Mereka yang penuh dengan kata-kata belum berarti penuh dengan kebijaksanaan. Sang Buddha berkata:

          Belajarlah dari air,
          Dari celah dan retakan gunung,
          Menderu deras dari kawah uap
          Namun mengalir dengan tenang di sungai

          Sesuatu yang kosong berbunyi nyaring,
          Sesuatu yang penuh tidak berbunyi.
          Yang bodoh seperti tempayan yang berisi separuh,
          Yang bijaksana seperti kolam dalam yang tenang.12

      Bila kita tidak menyadari nilai dari diam, kita cenderung senang berbicara, dan pembicaraan kita akan mudah dibumbui pergunjingan dan omongan tak berguna. Bila ini telah terjadi, maka tidak lama kemudian kata-kata tak senonoh yang menggusarkan orang lain akan turut terucapkan, lalu timbullah kesalahpahaman dan pertengkaran.

          Bila ada pembicaraan yang memancing pertengkaran, akan banyak kata-kata, bila hanya kata-kata, seseorang mudah terpancing, seorang yang terpancing tak akan terkendali, dan bila seorang tak terkendali pikirannya akan kacau tak terpusat.13


      Diam memberi kesempatan pada kita untuk merenung dengan tenang, menenangkan pikiran, memberi nilai tambah pada meditasi bahkan dapat menambah keagungan pada sifat kita. Mengetahui waktu yang tepat untuk berbicara dan waktu yang tepat untuk diam adalah suatu keahlian yang hendaknya dikembangkan oleh setiap pemeluk agama Buddha.

      Perihal, orang yang bertutur kata dengan menyenangkan, Sang Buddha berkata:

          Dengan tidak berkata-kata kasar, seseorang akan mengucapkan sesuatu yang tak akan dipersalahkan, menyenangkan didengar, dapat diterima, berkenan di hati, sopan, menyenangkan dan disenangi oleh semua orang.14


      Bila pembicaraan kita ditandai dengan bentakan keras, kasar dalam melampiaskan ketidaksenangan atau mempersalahkan seseorang, maka ucapan kita akan jauh dari menyenangkan. Dalam bertutur, kata-kata Sang Buddha selalu "dapat diterima dengan baik, sopan dan mengundang simpati"; bila kita hendak mengembangkan Pembicaraan Sejati, hendaknya kita menteladani Beliau.15

  89. Dunia diliputi penderitaan; bila kita tidak lagi berbicarakan hal-hal yang dapat memecahbelah persahabatan atau menyakiti hati orang, kita dengan demikian tidak lagi turut menyebabkan penderitaan tersebut. Dengan kata-kata yang tepat, malah kita dapat berperan positif dalam meredakan sakit-hati dan menyembuhkan keperihan seseorang yang disebabkan oleh orang lain.Terkadang, dalam suatu situasi kita tidak dapat menyumbangkan apa-apa lagi untuk meringankan penderitaan seseorang, tapi dalam kasus seperti ini, mengucapkan sesuatu selalu akan berarti. Kasih-sayang, selain melunakkan hati, juga memberi kekuatan dan keberanian. Bila kita berbicara didasari kasih-sayang, kita akan siap untuk berbicara lantang melawan ketidakadilan, kita akan menghibur dan menenangkan mereka yang tertekan, kita akan mendapat keberanian untuk menyarankan mereka yang lain agar mereka merubah sikap mereka atau mempertimbangkan kembali rencana-rencana mereka (bila rencana-rencana tersebut akan merugikan segala pihak). Suatu kejadian dalam kehidupan Sang Buddha menekankan hal ini dengan baik.

          Dikisahkan, bahwa suku Sakya dan suku Koliya bekerja sama membendung air sungai Rohini antara Kapivatthu dan Koliya, lalu bercocok tanam diatas tanah di kedua seberang sungai. Di bulan Jetthamula, tanaman mulai layu, oleh karenanya para petani dari kedua dusun mulai berunding. Orang-orang Koliya berkata: "Apabila air sungai dialirkan ke kedua seberang sungai, maka airnya tidak akan cukup bagi kedua pihak kita. Karena saat ini tanaman-tanaman kami akan dituai dengan sekali diairi saja, maka berikan dulu air itu pada kami." Tapi orang-orang Sakya menjawab: "Setelah lumbung-lumbungmu penuh, kami tidak dapat bertebal-muka membawa barang-barang berharga kami dalam keranjang dan kantong, berjalan dari rumah ke rumah, dan mengemis darimu. Tanaman kami akan dituai dengan sekali diairi, oleh karenanya berikan dulu air itu dulu pada kami."
          "Kami tidak akan memberikannya padamu."
          "Kami juga tidak akan memberikannya padamu."
          Perundingan mulai memanas, seorang mulai memukul lawannya, pukulan lalu dibalas, perkelahianpun tak terhindari, begitu mereka mulai berkelahi merekapun saling menjelekkan asal turunan keluarga kerajaan yang lain. Pekerja suku Koliya berkata: "Bawalah anak-anakmu keasalmu. Bagaimana mungkin kita dikalahkan oleh gajah-gajah, kuda-kuda, perisai-perisai dan senjata-senjata dari mereka yang berperilaku seperti anjing dan serigala, berhubungan kelamin dengan saudara perempuannya sendiri. Suku Sakya menjawab: "Kau orang-orang lepra, bawalah anak-anakmu keasalmu. Bagaimana mungkin kita dikalahkan oleh gajah-gajah, kuda-kuda, perisai-perisai dan senjata-senjata dari orang-orang buangan tak berpunya yang hidup diatas pohon seperti binatang."
          Kedua kelompok lalu bubar dan melaporkan pertengkaran itu pada masing-masing ketua kelompok yang bertanggung jawab pada pekerja-pekerja itu, yang lalu melaporkannya lagi pada penguasa. Suku Sakya bersiap-siap berperang dan berkata: "Akan kita perlihatkan kekuatan dan kehebatan dari mereka yang berhubungan kelamin dengan saudara perempuannya sendiri." Suku Koliya juga mempersiapkan perang dan berkata: "Akan kita perlihatkan kekuatan dan kehebatan dari mereka yang hidup diatas pohon seperti binatang."
          Saat itu, Sang Buddha melihat keadaan dunia dengan kewaskitaan-Nya pada subuh hari itu, Beliau melihat kerabat-kerabat-Nya dan berpikir: "Bila tidak saya lerai, orang-orang ini akan saling bunuh. Adalah kewajibanku untuk pergi menemui mereka." Dengan terbang melalui udara Beliau kemudian pergi ke tempat para kerabat-Nya berkumpul, dengan duduk bersimpuh melayang di udara ditengah-tengah sungai Rohini. Ketika mereka melihat Beliau, para kerabat ini kemudian melempar senjatanya dan menyembah Beliau. Sang Buddha kemudian berkata: "Apa yang menyebabkan pertempuran ini, wahai Raja?" "Kami sebenarnya tidak begitu tahu secara jelas." "Lalu bagaimana untuk mengetahuinya?" "Mahapatih mengetahuinya."
          Ketika ditanya Mahapatih menyarankan agar jelas menanyakan pada wakilnya. Demikian seterusnya satu demi satu ditanya, namun tidak ada yang mengetahui sejelasnya; sampai akhirnya para pekerja yang ditanya. Mereka menjawab: "Pertengkaran disebabkan oleh air."
          Lalu Sang Buddha berkata pada Raja: "Apa nilai dari air, Tuan Raja?"
          "Hanya sedikit, Yang Mulia."
          "Apa nilai dari seorang pendekar perang?"
          "Pendekar perang, Yang Mulia, sangat bernilai."
          Lalu Sang Buddha berkata: "Bila demikian tidaklah benar, bahwa demi air engkau mengorbankan para pendekarmu." Mereka semua berdiam diri. "Tuan-tuan Raja, kenapa tuan-tuan bertindak seperti ini? Bila Saya tidak berada disini hari ini, engkau akan menyebabkan sungai tumpahan darah. Tindakanmu sangat tak berharga. Engkau hidup dalam kebencian, menyebarkan lima macam kebencian; Saya hidup penuh cinta-kasih. Engkau hidup disakiti nafsu; Saya hidup bebas dari kesakitan itu. Engkau hidup mengajar lima macam kesenangan indera; Saya hidup dengan rasa bahagia dan puas.16

      Kejadian diatas menunjukkan, betapa kata-kata yang tak dikendalikan pikiran dapat menyebabkan pertikaian, betapa manusia mudah terbawa arus oleh permainan kata dan slogan-slogan, dan betapa seorang yang didorong kasih-sayang dapat merubah keadaan hanya dengan bertutur-kata sederhana. Suara tenang namun lantang penuh kasih-sayang dan alasan-alasan dapat memenangkan keganasan, angkara murka dan ketidak-tahuan. Bagi kita, kasih-sayang saja mungkin belum dapat menimbulkan keberanian dan ketakgentaran seperti Sang Buddha, tapi bila kita senantiasa merenungkan ajaran-Nya lewat tindakan dan kata-kata-Nya; kasih-sayang akan menjadi pendorong dibelakang tutur-kata kita.

          Bila engkau berbicara pada yang lain, engkau mungkin saja berbicara pada waktu yang tepat atau waktu yang tidak tepat, sesuai kenyataan atau tidak, secara halus atau kasar, tentang yang benar atau yang salah, dengan pikiran dipenuhi cinta-kasih atau pikiran dipenuhi kebencian.
          Dengan cara ini engkau hendaknya berlatih diri: "Batin kami tidak akan ternodai, juga kami tidak akan melontarkan kata-kata jahat, tapi dengan bijaksana dan penuh welas-asih, kami akan hidup dengan batin penuh cinta-kasih, tanpa kebencian.17
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.397
  • Reputasi: 422
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Dasar Pandangan Agama Buddha : oleh Venerable S. Dhammika
« Reply #13 on: 30 November 2008, 06:27:29 AM »
TINDAKAN SEJATI

  90.      Tindakan adalah sesuatu yang kita perbuat dengan menggerakkan badan kita. Tindakan salah adalah tindakan yang disertai dorongan negatif dan menghasilkan dampak negatif, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain; sebaliknya Tindakan Sejati (samma kammanta) disertai dorongan positif dan mempunyai dampak positif baik pada diri sendiri maupun diri orang lain. Karena setiap makhluk hidup sangat menghargai hidupnya dan hidup dari yang mereka cintai, maka membunuh mereka atau mengancam kehidupan mereka adalah salah satu dari yang terburuk yang dapat dilakukan seorang padanya. Pembunuhan melibatkan kekerasan, ketakutan dan kesakitan pada diri korban, dan akan memperkuat kecenderungan kekerasan, kebencian dan hati tak berbelaskasih pada pelakunya. Bila kita menjaga perasaan orang lain, kita tidak akan membunuh atau menyebabkan kesakitan pada mereka seperti halnya kita tidak lakukan pada diri sendiri. Sang Buddha bersabda:

          Semua gemetar pada kekerasan, semua takut kematian
          Tempatkan dirimu pada tempat orang yang lain
          Oleh karenanya jangan membunuh ataupun menyebabkan mereka terbunuh.

          Semua gemetar pada kekerasan, semua menghargai hidup
          Tempatkan dirimu pada tempat orang yang lain
          Oleh karenanya jangan membunuh ataupun menyebabkan mereka terbunuh.1

      Dan bila kita ingin lebih nengembangkan kasih-sayang, sedemikian kuat dan luasnya, seperti semestinya, maka adalah masuk akal bahwa kita juga hendaknya menghindari pembunuhan makhluk apa pun, tidak hanya manusia.

  91. Berpantang dan menghindari mengambil hidup makhluk lain, adalah suatu aspek teramat penting dari Tindakan Sejati, dengan sendirinya adalah penghargaan pada kehidupan. Usaha-usaha untuk membuat keadaan dan segala benda-benda menjadi aman sedemikian rupa sehingga tidak dapat melukai seseorang, menghilangkan penyakit, memberi pernaungan dan perlindungan pada yang memerlukan, membantu memberi kedamaian dan merujukkan pertikaian-pertikaian adalah tindakan-tindakan positif terbaik yang selalu dapat kita prakarsai. Hal lain, yang oleh Sang Buddha sangat ditekankan, sebagai langkah mempertahankan dan menghargai kehidupan, adalah merawat dan menyembuhkan orang sakit. Sang Buddha menyebut dirinya sendiri "dokter yang baik" (anuttaro bhisako)2, yang dalam hal ini berarti Beliau dapat menyembuhkan mereka yang rohani-nya sakit oleh karena kekotoran-batin, dengan obat Dhamma.3 Tapi Beliau memang adalah seorang tabib dan perawat bagi mereka yang sakit badaniah. Kitab Suci Tipitaka mencatat banyak kali, Beliau mengunjungi orang sakit, menasehati dan menghibur mereka, malah merawat mereka.

          Pada waktu itu, seorang bhikkhu menderita disentri, dan berbaring lemah ditempat yang telah dihamburi tinjanya sendiri. Sang Buddha dan Ananda yang lagi mengunjungi tempat itu, menjenguk bhikkhu tersebut, seraya bertanya: "Bhikkhu, apa yang terjadi padamu?"
          "Saya menderita disentri."
          "Apa tidak ada yang merawatmu?"
          "Tidak ada, Tuanku."
          "Kenapa para bhikkhu tidak merawatmu?"
          "Karena saya tak berguna lagi bagi mereka, Tuanku."
          Lalu, Sang Buddha berseru pada Ananda: "Pergi dan ambillah air. Kita akan memandikan bhikkhu ini." Dengan demikian, Ananda mengambil air; sementara Sang Buddha menuang air, Ananda mencuci seluruh badan bhikkhu itu. Dengan mengangkatnya pada kepala dan kakinya, Sang Buddha dan Ananda membaringkannya kembali ke pembaringannya.
          Kemudian, Sang Buddha memanggil seluruh bhikkhu dan bertanya pada mereka: "Kenapa, wahai para bhikkhu, engkau tidak merawat bhikkhu sakit itu?"
          "Sebab sudah tidak berguna bagi kita, Yang Mulia."
          "Kamu sekalian tidak mempunyai ayah dan ibu lagi yang akan merawatmu. Bila kamu sekalian tidak saling merawat, siapa yang akan melakukannya? Siapa yang ingin merawat Daku, hendaknya merawat pula mereka yang sakit."4

      Jelas, berbicara dalam kebenaran (sacca) berarti menghindari kebohongan, pembicaraan mendua (tidak konsisten), melebih-lebihkan, kebenaran setengah-setengah; berbicara dalam kebenaran berarti berbicara hanya sesuai kenyataan yang diketahui. Seperti telah kita pelajari sebelumnya, kehendak yang muncul sebelum berbuat sesuatu sangatlah berperan. Seseorang dapat saja mengatakan suatu kebenaran tapi disertai keinginan untuk menyakiti hati dapat saja menutup kebenaran atau malah berbohong tanpa pertimbangan dan kebijaksanaan. Kebenaran hendaknya tidak digunakan untuk menyakiti hati seseorang, bila kebenaran yang merugikan seseorang harus diutarakan, maka harus dilakukan dengan hati-hati, penuh pertimbangan dan tenggang rasa. Demikian pula, hendaknya kita hanya terpaksa menutupi kebenaran atau berbohong, apabila tidak ada pilihan lain dan kita telah mawas pada kemungkinan kepentingan-kepentingan pribadi. Namun dalam kebanyakan situasi, kejujuran tetaplah cara terbaik. Bila kita telah berbicara dengan benar, kita tidak pernah kwatir pada kemungkinan ketahuan berbohong dikemudian hari, dan kita tidak akan terjerat dengan kebohongan baru untuk menutupi kebohongan-kebohongan sebelumnya. Menjadi jujur adalah memiliki hati-nurani yang sejati, dapat dipercayai, dapat diharapkan dan dihargai oleh sesamanya.

          Dengan lima cara, seorang yang merawat orang sakit adalah tepat merawat si sakit. Apa lima itu? Dia menyiapkan obat; dia mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak baik, yang baik ditawarkannya, dan yang tidak baik tidak ditawarkannya; dia merawat si sakit dengan cinta-kasih, tanpa pamrih; dia tak tergoyah oleh tinja, kencing, muntah dan ludah; dari waktu ke waktu dia mengajarkan, memberi wawasan, menghibur serta memberinya kepuasan batin dengan membicarakan Dhamma.5

      Bila kita dapat merawat orang sakit, dengan mengembangkan hal-hal seperti diatas, kita telah dapat menambah nilai rohani mereka seperti yang telah kita lakukan pada jasmani mereka. Subhasitaratnakhosa membuat perumpamaan sederhana tentang mereka yang dapat menyampingkan kepentingan pribadinya, bertindak tak mementingkan diri sendiri, dengan perumpamaan sebuah pohon.

          Pohon memberi naungan bagi yang lain,
          Sementara dia sendiri ditimpa panas matahari,
          Buah yang dihasilkannya diperuntukkan bagi yang lain
          Demikianlah orang-baik adalah bagaikan pohon.6

  92.      Dalam hubungannya dengan yang telah diajarkan tentang pembunuhan; apakah seorang Buddhis hendaknya vegetaris? Pada zaman Sang Buddha, juga pada zaman ini, ada pendapat bahwa makanan tertentu, terutama daging, akan menghilangkan kemurnian dan menodai mereka yang memakannya. Agama Buddha secara jelas mengatakan bukan karena makanan kita menjadi ternoda - hanya pikiran, perbuatan dan perkataan yang jahat, yang mengotori kita.

          Apabila seseorang kasar, congkak, menghasut, menipu, licik dan tidak mau berbagi pada orang lain.
          Inilah yang membuat manusia ternodai, bukan karena makan daging.

          Kemarahan, kesombongan, keras kepala, keinginan jahat, licik, cemburu, angkuh, berkelompok dengan mereka yang jahat.
          Inilah yang membuat manusia ternodai, bukan karena makan daging.

          Bermoral jelek, tak membayar utang, bergunjing, menipu, bersaksi-dusta, berbuat jahat seperti itu kepada yang lainnya.
          Inilah yang membuat manusia ternodai, bukan karena makan daging.7

      Sebagian orang lainnya menjadi vegetaris, bukan karena anggapan bahwa daging menyebabkan mereka ternodai, tetapi karena menganggap bahwa dengan memakan daging, maka mereka terlibat pembunuhan, walaupun tidak langsung. Apa yang dikatakan Sang Buddha tentang ini? Pertama, Sang Buddha sendiri bukanlah seorang vegetaris, tidak ada rekaman selama empat puluh tahun masa penyebaran ajaran-Nya, yang menunjukkan bahwa Beliau menganjurkan hidup vegetaris. Dalam peraturan kebhikkhuan Sang Buddha berkata bahwa daging-daging binatang liar tertentu jangan dimakan, hal ini berarti daging yang lainnya dapat dimakan;8 pada lain kesempatan secara rinci Sang Buddha menganjurkan pemberian kaldu daging untuk memberi kekuatan pada tubuh yang sedang sakit.9 Sewaktu sepupu Sang Buddha, Devadatta, meminta pada Sang Buddha agar peraturan pertapaan yang keras, yang salah satu diantaranya adalah berpantang makan daging, diperlakukan bagi para bhikkhu; Sang Buddha ternyata tidak menerima permintaan itu.10 Sekali waktu, sekelompok orang Jain mencoba menjatuhkan nama Sang Buddha dan Siswa-Nya, karena menerima dan memakan makanan berdaging yang ditawarkan kepada mereka. Menjawab pertanyaan Siswa-Nya, atas pertanyaan apa yang harus dilakukan bila makanan berdaging ditawarkan pada mereka, Sang Buddha berkata agar mereka hendaknya menerimanya, kecuali bila melihat, mendengar, ataupun mencurigai, bahwa hewan itu khusus dibunuh untuk menjadi makanan mereka.11

Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.397
  • Reputasi: 422
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Dasar Pandangan Agama Buddha : oleh Venerable S. Dhammika
« Reply #14 on: 30 November 2008, 06:27:52 AM »
  93. Dengan demikian posisi ajaran Sang Buddha dalam hal ini adalah jelas. Ada dua kasus yang berbeda: Pertama, adalah membunuh dengan tangan sendiri, menyuruh seseorang untuk membunuh atas namanya, atau membiarkan seseorang untuk membunuh atas namanya; ke dua, adalah memakan daging dari binatang yang dibunuh tanpa izin, persetujuan dan setahu dari seseorang. Pada kasus pertama, seseorang bertanggung jawab langsung; pada kasus ke dua seseorang, sedikit atau banyak turut bertanggung jawab secara tidak langsung. Kritik dilontarkan pada tradisi Buddhis kuno dalam perbedaan pendapat ini dengan menyatakan bahwa kedua kasus diatas tidak jauh berbeda. Walau demikian, seseorang vegetaris ketat sekali pun sama tanggung jawabnya dengan pemakan daging, terhadap makhluk yang dibunuh secara tidak langsung. Sayuran, sebagai makanan para vegetaris tidak luput dari penyemprotan hama serangga; pula para vegetarian mungkin pula menggunakan sepatu kulit, mereka juga mengkin menggunakan bahan-bahan rumah tangga yang dibuat dari bagian-bagian hewan (misalnya sabun yang dibuat dari lemak hewan), mereka juga tanpa ragu menggunakan obat terdiri dari serum hewan atau dibuat setelah dicoba dengan mengorbankan binatang percobaan. Dari seluruh produk hewan, tentunya tidak saja yang dimakan yang ditolak; secara konsekwen, untuk menjadi vegetaris mutlak, seorang hendaknya juga tidak menggunakan seluruh produk hewan dan sayuran yang dibudidayakan. Jadi, untuk sekadar hidup berarti harus "memurnikan" makanannya, lingkungannya dan hidupnya, padahal sebenarnya demikianlah hakekat keberadaan alam yang tidak dapat memuaskan secara mutlak. Pada dasarnya, seorang Buddhis hendaknya mengerjakan apa saja untuk mencegah pembunuhan; dia bisa memilih menjadi vegetaris, orang lainnya mungkin lebih jauh, yang lain lagi mungkin tak sejauh itu. Setiap orang bebas menentukan caranya masing-masing. Tapi walau bagaimana pun juga, mereka yang non-vegetaris, secara spiritual mengambil peranan yang sama dengan para vegetaris.

  94. Mencuri adalah suatu tindakan salah sebab memperkuat keserakahan, kelicikan dan kebohongan pada orang yang melakukan pencurian, dan menyebabkan kesusahan dan penyesalan pada mereka yang kecurian. Dalam melaksanakan ajaran Sang Buddha, kita menghindari mengambil barang milik orang lain, malah sebaliknya diajar membagi barang milik kita pada orang lain. Kedermawanan (dana) dan kemurahan-hati (caga), tidak hanya mengurangi rasa-kepemilikan, tapi juga memenangkan rasa hormat, mengikat persahabatan dan memberi kegembiraan pada yang lain. Pesan Sang Buddha:

          "Apakah mungkin, Yang Mulia Guru, melihat hasil nyata dari kedermawanan?"
          Sang Buddha menjawab: "Ya, kita dapat melihat hasil nyata dari kedermawanan. Pemberi, si dermawan, akan dicintai dan disayangi oleh banyak orang. Inilah hasil yang nyata dari kedermawanan. Mereka yang bijaksana dan baik, meneladaninya. Inilah hasil yang nyata dari kedermawanan. Nama-harumnya akan menyebar kemana-mana. Ini juga adalah hasil yang nyata dari kedermawanan. Juga, kemana pun dia bergabung, akan dihargai; diterima dengan rasa aman dan tanpa kesulitan oleh para Brahmana, para perumah tangga atau pun yang hidup menyepi. Inilah hasil yang nyata dari pemberian. Dan pada akhirnya, si pemberi, si dermawan, setelah kematiannya akan terlahir di alam surga. Inilah hasil nyata yang terlihat kemudian.12

  95. Secara tradisional di dalam agama Buddha dikenal empat macam pemberian. Yang pertama adalah pemberian barang materi (amisa dana). Termasuk disini pemberian makanan, pakaian, uang dan barang-barang lain yang dapat berguna bagi orang lain. Sang Buddha mengajak kita untuk melihat nilai-nilai yang terkandung dalam setiap pemberian dan mempertimbangkan dampak pemberian pada yang menerimanya. Dengan demikian, akan terlihat bahwa pemberian, walau sekadar materi, akan sangat berharga, baik pada pemberi juga pada penerima. Sebagai contoh, bila kita memberi obat pada seorang, maka kita tidak hanya sekadar memberinya kumpulan bahan kimia (yang bernama obat), tapi kita telah pula memberi kesehatan dan kebahagiaan, malah kita mungkin telah pula memberi hidup. Dalam hal pemberian makanan Sang Buddha bersabda:>

          Sewaktu memberi makanan, si pemberi telah pula memberi lima hal. Apa yang lima itu? Dia memberi hidup, kecantikan, kebahagiaan, kekuatan dan akal-budi. Dalam pemberian itu, si pemberi telah mengambil-bagian pula dalam hidup, kecantikan, kebahagiaan, kekuatan dan akal-budi, saat ini maupun saat akan datang.13

      Pemberian lain adalah pemberian tenaga (parichaya dana), yang berarti meminjamkan bakat, keahlian dan waktu kita kepada seorang atau perhimpunan yang membutuhkannya. Bekerja sukarela pada usaha-usaha kemanusiaan, pada vihara-vihara dan organisasi Buddhis adalah contoh yang baik dari pemberian ini. Macam pemberian ke tiga adalah pemberian rasa-aman (abhayadana). Sangat sering, masyarakat sekeliling kita ditakutkan oleh sikap pikiran mereka sendiri; imajinasi menyebabkan mereka selalu mengkwatirkan hal yang baru 'mungkin' terjadi, bukannya pada hal-hal yang benar kenyataan dan menjadi ancaman sebenarnya. Dalam hal ini, kata-kata yang memberi keyakinan dan ketenangan akan dapat meniup kabut ketakutan itu. Di antara rasa takut, maka rasa takut pada kematian adalah yang paling menakutkan, terutama bila kematian telah dekat. Bila kita telah berkeyakinan kokoh pada Tiga Permata (Buddha, Dhamma dan Sangha), bila kita bermoral tinggi dan bila kita telah mengerti proses kelahiran kembali, kematian bukan lagi sesuatu yang menakutkan. Perasaan tak takut pada kematian inilah yang hendaknya kita turut salurkan pada mereka yang menjelang kematiannya. Menganjurkan seorang yang menghadapi kematian untuk mengingat perbuatan-perbuatan baiknya, membantu memberi pengertian bahwa kematian adalah bagian alamiah dari proses kehidupan, atau sekadar menemani mereka, mendengarkan mereka atau membuat tubuh mereka lebih nyaman; semua hal diatas akan sangat membantu agar mereka dapat mati dengan perasaan damai dan tenang. Pemberian yang sangat dekat dengan pemberian rasa-aman adalah pemberian Dhamma (dhamma dana), yang oleh Sang Buddha disebut sebagai pemberian yang termulia.14 Selain secara langsung membabarkan Dhamma pada yang lain, maka kita dapat memberi dana Dhamma dengan cara menulis buku-buku tentang agama Buddha, mencetaknya untuk dibagikan cuma-cuma, membantu kehidupan para bhikkhu dan para pandita dan juga perhimpunan yang menangani usaha-usaha itu.

  96. Kita dapat menyampaikan pesan, agar seorang suka berdana dengan berbagai cara dan motivasi, karena tidak semua orang memiliki semangat menolong dan cinta-kasih yang diharapkan mendorongnya berdana. Mengacu pada orang yang mengembangkan kedermawaan, Paramitasamasa menjelaskan, sebagai berikut:

          Pemberi; tidak berfoya-foya, yang adalah racun; tidak mencelakakan orang lain; tidak takut dan tidak malu; dan tidak mencari-cari mereka yang dianggapnya pantas untuk menerima.

          Dia tidak memberi sesuatu yang perlu bila yang lainnya masih baik, atau dengan memandang rendah berpikir: "Mereka tidak pantas untuk ditawari," dia juga tidak menurunkan nilai pemberiannya dengan mengharapkan balasan, dia juga tidak memberi tanpa ketulusan atau keraguan.

          Bila memberi pada orang bijaksana, dia tidak merasa bangga berlebihan; bila memberi pada orang biasa, dia tidak merasa terhina. Dia memberi dengan rela, tidak akan memandang tinggi dirinya juga tidak memandang rendah yang lainnya.

          Dia tidak memberi dengan maksud yang tidak baik; dia tidak memberi tanpa cita-cita mulia. Dia tidak memberi dengan kemarahan, juga tidak menyesali apa yang telah dia berikan.

          Dia tidak memberi banyak bila dipuji atau sedikit bila tidak dipuji. Dia tidak memberi sesuatu yang merugikan atau menimbulkan perilaku tercela.15

  97. Seks adalah aspek penting dalam menyangkut masalah biologi dan psikologis. Tujuan utama adalah untuk me-reproduksi turunan, tapi juga berkembang dari sekadar masalah batiniah dan isteri. Sering dorongan seksual dibumbui oleh takhyul dan tabu sehingga menjadikannya sumber perasaan bersalah, ketakutan dan penyakit mental. Demikian pula, dorongan seksual tak terkendali akan menyebabkan frustrasi, perzinahan, dan penderaan. Untuk menolong kita, menghindari kedua ekstrim diatas, sedemikian rupa sehingga masalah seks ditempatkan pada tempat yang tepat baik secara badaniah, psikologis dan kehidupan sosial, Sang Buddha mengajar kita agar menghindari apa yang disebut-Nya sebagai 'Perilaku-seksual yang salah' (kamesu miccha cara). Perilaku-seksual yang salah adalah semua perilaku yang merugikan diri kita atau diri orang lain. Pemerkosaan adalah contoh yang jelas dari perilaku-seksual yang salah. Perzinaan adalah contoh lainnya sebab menyebabkan pengingkaran janji, kebohongan dan kepalsuan, terpisah dari perasaan dihianati yang mungkin disebabkannya. Mengambil keuntungan dari orang yang bodoh, orang yang mudah tertipu atau orang yang ber-emosi lemah, demi memuaskan dorongan seksual adalah juga perilaku-seksual yang salah. Perzinaan, walau mungkin tidak secara langsung menyakiti hati seorang atau orang lain, akan mencampakkan kita dari kehidupan mulia dan cenderung membuat kita tidak berhati-hati pada perasaan dan harapan seseorang. Agama Buddha, sejalan dengan pemikiran moderen, yakni bahwa baik masturbasi, maupun seks pranikah yang dilandasi kebahagiaan dan tanggung jawab bersama, bukanlah masalah dosa/kesalahan. Hubungan seks sebelum pernikahan adalah tercela karena dapat menyebabkan kehamilan dan segala keadaan yang disebabkannya, yang kemudian berakhir dengan tindakan-tindakan yang merugikan batin. Pengendalian diri dan penyederhanaan dalam dorongan seks adalah apa yang disebut sebagai perilaku-seksual yang terlatih baik bagi seorang Buddhis.

  98. Karena agama Buddha sangat mengutamakan pikiran (dalam hal ini peranannya, latihan-latihannya dan perubahan-perubahannya), maka dengan sendirinya keadaan jasmani jugalah penting, karena dapat mempengaruhi keadaan pikiran/batin kita. Oleh karenanya Sang Buddha mengajarkan agar kita senantiasa menjaga kesehatan badan.16 Olah raga, diet seimbang, sederhana dalam makanan, dan paling penting menghindari minuman-keras dan obat-obatan yang menyebabkan kecanduan; adalah sangat membantu menjaga kesehatan itu. Berpantang minuman-keras adalah mutlak dalam pelaksanaan tata kehidupan seorang Buddhis.

          Mereka yang mengikuti jalan Dhamma
          Hendaknya tidak minum minuman-keras
          Atau menyarankan seseorang untuk meminumnya,
          Karena mengetahui akibat dari kemabukan.

          Disebabkan mabuk,
          Seorang yang bodoh berbuat sesuatu yang tercela
          Dan juga menyebabkan orang lainnya tak berhati-hati
          Hindarilah akar dari tindakan salah ini,
          Kebodohan ini hanya disenangi mereka yang bodoh.17

      Bila kita mabuk, kesadaran akan menurun dan kecerobohan terjadi, dengan demikian kita mudah berbuat kesalahan. Walau mungkin tidak langsung merugikan jasmani bila di minum dalam jumlah sedikit, namun lama kelamaan sebagai mana biasanya jumlah yang diminum akan bertambah banyak, dan dengan demikian akan merugikan jasmani. Dalam keadaan mabuk tak disangkal lagi, seseorang mudah mencelakakan dirinya sendiri. Tapi, yang lebih buruk, minuman keras sangat merugikan batin dan pikiran, menyebabkan hilangnya kewaspadaan, dengan demikian menonjolkan hal-hal yang justru harus diatasi dalam pelaksanaan tata kehidupan Buddhis.
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))