topic short url: http://dhct.ws/f6325

Author Topic: Tata Cara Kematian Tradisi Tionghoa ( Cheng Beng, Baru meninggal, dan Buang ke )  (Read 23673 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
Tata Cara Sembayang Kepada orang yang baru meninggal

Dalam lingkungan Tradisi masyarakat tionghoa; salah satunya adalah penghormatan kepada leluhur termasuk salah satu bagian tradisi masyarakat Tionghoa. Disini saya membahas bagaimana tata cara sembayang masyarakat tionghoa kepada orang yang baru saja meninggal.

1. Hari 1 Penguburan / pembakaran : Pada hari pertama penguburan diadakan upacara penguburan. Upacara penguburan masyarakat Tionghoa ; tidaklah jauh beda dengan masyarakat budaya lainnya. Disini Dalam lingkungan Masyarakat Tionghoa biasanya akan dimulai upacara resesi sembayang, biasanya pemuka agama melakukan doa kepada si meninggal dan juga diikuti oleh keluarga si meninggal. Setelah itu penurunan peti mati; disini pihak keluarga dilarang melihat penurunan peti mati dan termasuk tamu pengunjung. (salah satu kepercayaan masyarakat tionghoa, bila melihat turunnya peti. ada kemungkin menyusul si meninggal atau usahanya jatuh atau meninggal). Setelah itu penaburan kembang ke liang kubur dengan dibarengi doa, dan setiap pihak keluarga mengambil satu gegam tanah dan dilempar kepeti mati sebagai tanda menghormati si meninggal. Setalah selesai resesi ini dilanjuti pemuka agama dengan pembagian gandum,koin, kacang ijo, jagung sebagai simbolik si meninggal memberikan berkah kepada pihak keluarga( semangkin banyak mendapatkanya semangkin banyak rejekinya). Dan terakhir upacara si pemuka agama melakukan doa kepada barang - barang sembayang seperti rumah rumahan dan material yang dibutuhkan oleh si meninggal. (catatan salah satu nya adanya kepercayaan adanya perlu kacung yang terdiri dari 1 orang wanita dan 1 orang pria yang di beri nama; saya masih menulusuri ini), lalu dibakar.

2. Hari dari meninggal hari ke 3 : Orang baru saja meninggal hari ke 3. Masyarakat tionghoa mengadakan salah satu sembayang menghormat leluhur. Disini Sesajian makanan, minuman dan juga kertas sembayang di bawa oleh pihak keluarga. Sembayang ini di adakan sebelum jam 4 pagi sampai jam 5 pagi. Dimaksudkan untuk memberi penghormatan kepada simeninggal yang baru bangkit dari kematiannya. (Buddhis mahayana menggunakan perhitungan 7 hari meninggal si almarhum

3. Hari 40 si meninggal sama seperti hari ke 3 perbedaaanya tidak perlu subuh untuk sembayang. (Buddhis mahayana perhitungannya 49 Hari).

4. Hari ke 100 Diadakan pesta di kuburan atau tempat tinggal si almarhum ( kalau dibakar). Diundang tamu untuk ikut sembayang si almarhum. Dan tetap disembayangi.

hari ke 1000 Sama pada hari ke 40

Catatan pinggiran selama 40 hari kematian almarhum pihak keluarga dilarang memakai pakaian merah. Karena pakaian merah simbol kebahagian. Dilarang mengunjungi pernikahan dan atau mengadakan pesta pernikahan.

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
Ceng Beng : mengunjungi makam

Seorang pernah bertanya, "Ceng Beng itu apa sih?" yang disambut dengan
tawa kawan-kawan lain,
"Buset, kalau nggak tahu Ceng Beng apaan jangan ngaku tionghoa lu!"

Hehehe, sebetulnya Ceng Beng itu apa sih? Ada banyak kisah mengenai asal
mula perayaan Ceng Beng ini, favorit gue adalah penjelasan yang paling
sederhana, paling simpel, tapi paling masuk akal menurut gue. Seperti
yang dituturkan seorang kakek kepada cucunya:

"Jaman dahulu, mayoritas orang Cina adalah petani. Selewat tahun
baru,di musim semi, petani disibukkan dengan musim tanam. Setelah
selesai menanam, orang ada waktu senggang selagi membiarkan benih yang
ditanam itu tumbuh mengakar. Diantara waktu senggang itulah orang punya
waktu untuk ziarah ke makam leluhur atau kerabat, sambil membersihkan
rumput-rumput yang bikin makam tampak tidak terawat, punya waktu untuk
memperbaiki makam leluhur yang rusak. Karena waktu senggang itu pula,
kadang acara mengunjungi makam ini dipakai untuk acara piknik keluarga
besar, semuanya berkumpul, piknik di makam, sambil membersihkan makam,
sambil senda gurau, bahkan yang meninggal dianggap hadir berkumpul
bersama anak cucu, ikut diundang piknik bahkan disediakan makanan bagi
mereka. Saat itu makam tidak jadi tempat angker, tapi jadi tempat
piknik."

Heheheeh, barangkali si Engkong lagi bernostalgia acara Ceng Beng di
kampung halamannya, gue nggak terlalu pusing soal awal mulanya Ceng
Beng, tapi terus terang gue lebih bisa menikmati acara Ceng Beng itu
belakangan ini, setelah dewasa, setelah mengalami, kalau orang sudah
dewasa itu susah mau kumpul-kumpul, kalau nggak ada satu festival resmi
seperti Ceng Beng begini, jarang kumpul sama saudara, maka gue semakin
senang mengamati, kalau Ceng Beng itu ngapain aja sih?

Betul kata engkong, Ceng Beng itu acara piknik tidak kentara, hihihihi.
Pasalnya kita semua janjian, mau ke Bong (makam) hari apa jam berapa,
dan masing-masing mempersiapkan apa yang mau dibawa untuk disajikan di
altar, dalam khayalan seolah hendak menyajikannya kepada leluhur. Maka
kadang yang di bawa adalah buah/ makanan yang disukai oleh almarhum yang
makamnya dikunjungi. Yang lain biasanya adalah hidangan standar, seperti
buah dan beberapa macam masakan.

Ada yang bilang, sewaktu set up altar, itu sebetulnya memetakan alam
semesta diatas bidang datar. Jadi jangan heran kalau diatas altar
disediakan makanan yang berasal dari hewan air, darat, dan udara
(namanya samseng) , hasil bumi yang melambangkan yin dan yang. Buat gue
itu semua terlalu ruwet, gue cukup senang melihat sebentuk ayam, ikan,
dan kepala babi yang nyengir di atas altar, dikelilingi beberapa macam
kue manis dan buah-buahan warna warni, yang tampak indah dipandang.
Setelah selesai yang dituakan membereskan set up altar, dimulailah
upacara sembahyang. Mulai yang paling dituakan, lalu kepada cucu yang
kedudukannya paling muda (enggak lihat umur tapi lihat posisi
kedudukannya dalam silsilah keluarga). Saudara dan Anak pakai tiga
hio(dupa linting), cucu pakai dua hio, buyut dikasih jatah satu hio.
Dulu gue pernah tanya sama Oma, kalau sembahyang itu ngomong apa? Kata
Oma, Intinya mengundang leluhur untuk menerima sajian/suguhan dari kita.
Gue sih manggut-manggut aje waktu itu.

Setelah sembahyangan, mulai deh acara bakar bakaran, hehehe, hus, jangan
mikir kerusuhan, itu tuh yang dibakar itu duit duitan, Bank Hell notes
itu, atau Gin Coa, ceritanya nanti jadi uang yang akan digunakan di alam
akherat sana gitu, terus bakar juga beberapa barang lain, misalnya
koper2an yang isinya komplit duit, seperangkat pakaian, sendal, sepatu,
begitu. Kalau mau ada juga tambahan barang barang lain semuanya terbuat
dari kertas/plastik yang khusus di design untuk keperluan ini., sebangsa
mobil, handphone, creditcard, perhiasan, dompet, jam tangan, de el el,
hehehehe.
Sambil menunggu semua barang itu habis terbakar, mulailah acara piknik,
keluar deh bawaan masing-masing, biasanya bikinan sendiri, yang jarang
dijual di toko. Sambil makan, sambil ngobrol, gossip keluarga, kadang
senda gurau, jadilah kayak acara piknik beneran, piknik setahun sekali
keluarga besar.

Biasanya begitu makanan yang dibawa habis, selesai juga deh acara bakar
bakaran. Lalu tetua Kwa Pwee biasanya pakai sepasang uang logam,
menanyakan kepada "penghuni makam" apakah sudah selesai "makan".
Kalau sudah selesai, maka seantero anak cucu lalu pai (menghormat) lagi
sambil pamitan dan minta ijin membereskan altar. Setelah itu, altar
dibenahi, dan pulang. Tapi biasanya sih enggak langsung pulang, antero
keluarga besar lalu kumpul lagi di restoran, makan siang bersama,
setelah makan siang baru deh pada pulang ke rumah masing masing.

Kalau habis acara Ceng Beng, kecuali makan bersama di restoran, pulang
dari Bong enggak boleh mampir ke rumah orang lain, harus langsung pulang
ke rumah masing-masing. Setelah di rumah pun lantas mandi, baru setelah
itu mau kemana mau kemana boleh seperti biasa lagi.

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
Ceng Beng : Sembahyang Meja Abu

By : Julia Lau

Orang Tionghoa kalau meninggal kadang enggak dikubur, tapi di kremasi.
Abu sisa kremasi lalu bisa dibawa pulang, untuk ditaruh di meja abu di
rumah di altar leluhur, atau dititipkan di tempat Abu, yang biasanya
kayak apartment untuk guci2 abu, ada juga yang sisa abu tulangnya
disebar di gunung atau di laut.
Diperabukan maupun tidak, seringkali di rumah orang tionghoa ada meja
sembahyang leluhur, yang disebut meja abu, kadang ada foto2 Almarhum
dipajang disana, kadang tidak pakai foto, hanya papan kayu bertuliskan
nama dan tanggal kematiannya saja.

Setiap perayaan Ceng Beng yang berlangsung 15 hari sebelum sampai
mentoknya tanggal 5 April setiap tahun, keluarga gue ada satu hari
kumpul2 sembayang bersama di depan meja Abu. Di Meja Abu ini semua sanak
yang sudah meninggal nanti "disuguhi" penganan. Makanya sembahyang meja
abu biasanya juga berarti acara kumpul kumpul dan makan-makan keluarga
besar.
Makanan wajibnya hampir mirip kalau Imlek deh, ada Ikan, ada ayam, ada
babi plus beberapa penganan tambahan lain, yang biasanya merupakan
makanan kesukaan kerabat yang sudah almarhum. Jadi bisa tahu tahu ada
sayur asem, atau sambal goreng, atau asinan rujak yang kalau digabung
sih enggak nyambung, hehehehe.
Ritual ini seperti juga untuk 'mengingat' mereka yang sudah almarhum itu
jangan sampai terlupakan. Cerita dan Gossip juga kadang tentang mereka
yang sudah meninggal, tapi dalam suasana gembira. Sebab ritual sembayang
meja abu, seperti juga acara pesta makan bersama antara yang sudah
tiada dengan yang masih hidup di dunia, sing penting ngumpul, seolah
mereka masih ada hanya saja tidak terlihat !

Diawali dengan set up meja altar, yang dipenuhi berbagai makanan, mulai
dari nasi, lauk, kue dan buah-buahan. Nasi biasanya di siapkan di
mangkuk2 kecil, ada berapa almarhum yang "diundang" sedemikian banyak
mangkuk nasi disediakan, dengan sumpit ditancap tegak lurus diatas nasi.
Gue pernah diomelin bokap karena menancapkan sumpit ke atas nasi yang
sedang gue makan, sama bokap langsung dicabut lalu gue diomelin, sumpit
tertancap hanya untuk menyuguhi orang mati, kamu masih hidup, sumpitnya
harus ditaruh di pinggir mangkuk, jangan ditancep begitu, apa mau cepet
mati? gitu katanya, heheheheh.

Sedangkan buah-buahan dan kue-kue biasanya disusun dalam kombinasi angka
ganjil, misalnya tiga atau lima buah saja setiap macam. Begitupun untuk
lauk pauk teman nasi yang disiapkan masing masing hanya semangkuk
keciiiil yang untuk orang hidup pasti gak cukup deh segitu.
Gue pernah tanya sama mami, "Mam, nasinya ada tigabelas, kok kuenya
cuman lima? Nanti pada rebutan donk?"
Mami dengan santainya bilang "Alam sini lain dengan alam sana, bahkan
satu kue bisa cukup untuk ber tigabelas masing-masing dapat satu."

Gue melongo, tapi nggak tanya lagi, walaupun logika sebagai anak kecil
pun waktu itu sudah heran bagaimana mungkin???? Hehehe, urusan
kepercayaan memang tidak perlu diselaraskan dengan logika, kalau
dianggap cukup, ya cukuplah. Hanya saja dulu gue berpikir, yah
barangkali di alam sana ada ilmu pengganda makanan, atau mesin yang bisa
memperbesar rumah-rumahan kertas jadi sebesar gedung betulan, atau ilmu
yang mengubah uang-uangan kertas Gin Cua menjadi perak solid. Tugas yang
hidup cuman tinggal mengirim bahan-bahannya ke alam sana, beres.

Setelah set up meja altar, dimulai lah acara sembahyang, dimulai dari
yang paling dituakan, mengundang para almarhum untuk bertandang dan
menerima yang sudah disediakan. Entah bagaimana, ceritanya makanan yang
disuguhkan saat Ceng Beng ini akan mengenyangkan mereka di alam sana,
supaya mereka tidak jadi setan kelaparan saat bulan tujuh, saat chinese
ghost festival. Nah untuk sembahyang di meja abu ini ada perdebatan, ada
yang bilang anak dari almarhum pai kui (hormat berlutut) 12 kali, ada
yang bilang pai kui hanya 3 kali, entah mana yang betul deh. Pokoknya
setelah acara sembayang mengundang para leluhur dan almarhum ini
sementara yang dari alam sana "makan", yang hidup juga sibuk mengisi
perut dengan berbagai suguhan yang disediakan. Yang datang biasanya
masing-masing bawa satu penganan, jadi kayak POT LUCK gitu, makanan jadi
baaaaanyaaaaaaaaaakkkk macam dan jumlahnya, alhasil.... kekenyangan,
hehehehehe.

Sambil makan makan tangan bekerja, membuat uang uangan. Sebab
berikutnya ada acara bakar-bakar Gin Cua berkarung-karung, sebanyak
sanggup dibuat. Sebab yang namanya Gin Cua itu semacam kertas merang
yang diatasnya ada sapuan keperakan. Kertas berbentuk segi empat ini
harus digulung dulu kayak semprong, lalu ujungnya dikerucutkan dan
ditekuk keatas supaya bentuknya nggak berubah lagi. Kata Oma dulu, kalau
enggak dibentuk dulu, percuma kirim Gin cua ke alam sana, enggak bakalan
laku, maka anak cucu yang dirumah yang membuat dulu gincua jadi bentuk
uang uangan, lalu dibakar, dan dialam sana berubah jadi uang alambaka,
gitu.
Setelah Gin cua habis dibakar, mulai lah bakar barang-barang kiriman.
Ada koper kertas berisi uang dan seperangkat pakaian, lengkap dengan
sepatu dan sandalnya. Koper diberi "SEGEL" semacam kertas kuning,
bertuliskan ini kiriman untuk siapa (tulis nama almarhum) dan dari siapa
( tulis nama yang masih hidup yang ngirim) katanya supaya enggak nyasar,
hehehehehe. Dikirimnya pake TIKI kali, wakakakakaka......

Sambil bakar membakar ini anak cucu pada bercandaan semua, antara
percaya dan nggak percaya, berusaha merasionalisasikan hal-hal yang
tidak rasional.
Misalnya kemarin, kita ketawa-ketawa sambil kirim HANDPHONE ke alam
sana. Handphone dari kertas, dengan merk NODIA bukan NOKIA. Lalu nakut
nakutin sepupu gue, weh, besok kalu mau ceng beng lagi nyokap lu tinggal
SMS sama lu ya, minta dibawain makanan apa.
Lalu ada juga dompet dan sepatu merk VERSASI sambil bercanda kita
bilang, Si Versace kali bakalan nuntut deh di alam sana, karena
rancangannya beredar dengan merk VERSASI ini.
Lalu kita juga bercandain sepupu gue yang kirim Creditcard dari BANK OF
HELL bergambar Giam Lo Ong (raja akherat) bertuliskan VILLA (bukan
VISA), wah bokap lu disono kalau belanja ntar tinggal gesek aje deh,
tagihannya dikirim ke elu yah, getoh.
Lalu ada lagi sepupu gue yang masih SMP bilang gini, ngapain ya kita
kirim-kirim duit begini banyak, disana khan nggak ada Mall, dan Oom-oom
gue langsung nyahut, lu mana tahu kalau Giam Lo Ong udah bikin Mall
segede Taman Anggrek disana, atau barangkali Kongco2 kita yang dikirimin
duit berkarung-karung tiap taon udah pada investasi bikin Mall disana.
Candaan-candaan gila yang bikin kita ketawa-ketawa, sambil dalam hati
bilang "apa iya sih?" antara tidak percaya dan ingin percaya, sebab
alangkah menyenangkannya kalau kehidupan dunia bisa berlanjut di alam
sana, which is... heheheheh too good to be true. But again, kepercayaan
nggak perlu disambungkan sama logika, seberapa pun absurdnya, kalau
orang mau percaya demikian, mo bilang apa, ha ha ha ha, biarlah jadi
hiburan saja.

Tapi gue masih terkenang-kenang sama creditcard itu tadi,
hihihihihihi....... masih demen nakutin sepupu gue, bener lu kaga takut
tau-tau ada tagihan dari BANK OF HELL ke elo??? wakakakakkakakaka......

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
Tatacara Kremasi Jenazah yg pernah dimakamkan dan akan di taburkan ke laut

Dear milis BT
Upacara penggalian kerangka leluhur saya sdh dilaksanakan.
Saya coba menceritakan sekilas urutan yang sdh kami lakukan:

* Persiapan
1. Setelah disepakati oleh anggota keluarga maka kita cari hari baik untuk menggali kubur
2. Hubungi ke yayasan kematian untuk pesan peti dan atur tgl kremasi
3. minta ijin ke pengelola pemakaman
* Pelaksanaan
1. Sembahyang pemberitahuan dan mohon ijin (leluhur dan Ho tek Ceng Sin)
2. Menggali kubur (oleh yayasan)
3. Mengangkat kerangka
4. Di cuci dan dimasukkan ke peti (urut dari kaki ke kepala),
5. Dimasukkan kertas uang ke masing-masing peti
6. Nisan di pecah demikian juga patung2nya
7. Peti dibawa ke krematorium -- kremasi
8. Abu dimasukkan ke guci
9. Tabur ke laut

Kira-kira begitu sharing yang bisa saya berikan, semoga sedikit menambah wawasan. Saya yakin belum sempurna yang kami lakukan, tapi itulah usaha paling optimal yang dapat kami kerjakan untuk lelhur kami
Sekali lagi terimakasih kami ucapkan kepada rekan milis BT yang sdh membantu memberikan masukkan kepada kami

Rgds

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
Cheng Beng, Hari Penghormatan Leluhur

Setiap tanggal 4 atau 5 April, menurut tradisi Tionghoa,
adalah hari Cheng Beng (Mandarin: Qingming). Di mana menurut
tradisi Tionghoa, orang akan beramai-ramai pergi ke tempat
pemakaman orang tua atau para leluhurnya untuk melakukan upacara
penghormatan. Biasanya upacara penghormatan ini dilakukan dengan
berbagai jenis, misalnya saja membersihkan kuburan, menebarkan
kertas sampai dengan membakar kertas yang sering dikenal dengan
Gincua (mandarin: Yinzhi=kertas perak).

Cheng beng adalah salah satu dari 24 Jieqi yang ditentukan
berdasarkan posisi bumi terhadap matahari. Pada Kalender Gregorian
AWAL (bukan akhir!) Cheng beng jatuh pada tanggal 5 April atau 4
April. Bila kita artikan kata Cheng beng, maka Cheng berarti cerah
dan Beng artinya terang sehingga bila digabungkan maka Chengbeng
berarti terang dan cerah.

Saat Chengbeng ideal untuk berziarah dan membersihkan makam
karena cuaca yang bagus (cuaca cerah, langit terang). Apalagi pada
jaman dahulu lokasi pemakaman cukup jauh dari tempat
pemukiman.
Bahkan bila ada orang yang tinggal jauh dari kampung halamannya,
mereka akan berusaha untuk pulang ke kampung halamannya, khusus
untuk melakukan upacara penghormatan para luluhur.

Sejarah Cheng Beng

Sejarah Cheng beng dimulai sejak dulu kala dan sulit dilacak kapan
dimulainya. Pada dinasti Zhou, awalnya tradisi ini merupakan suatu
upacara yang berhubungan dengan musim dan pertanian
serta pertanda berakhirnya hawa dingin (bukan cuaca)
dan dimulainya hawa panas. Ada sebuah syair yang
menggambarkan bagaimana cheng beng itu yaitu: "Sehari
sebelum cheng beng tidak ada api" atau yang sering
disebut Hanshijie (han: dingin, shi: makanan, jie:
perayaan/festival).

Hanshijie adalah hari untuk memperingati Jie Zitui yang
tewas terbakar di gunung Mianshan. Jin Wengong (raja
muda negara Jin pada periode Chunqiu akhir dinasti
Zhou) memerintahkan rakyat untuk tidak menyalakan api
pada hari tewasnya Jie Zitui. Semua makanan dimakan
dalam kondisi dingin, sehingga disebut perayaan makanan
dingin.

Chengbeng lebih tepat jika dikatakan terjadi pada tengah
musim semi. Pertengahan musim semi (Chunfen) sendiri
jatuh pada tanggal 21 Maret, sedangkan awal musim
panas (Lixia) jatuh pada tanggal 6 Mei.
Sejak jaman dahulu hari cheng beng ini adalah hari untuk
menghormati leluhur. Pada dinasti Tang, hari cheng beng
ditetapkan sebagai hari wajib untuk para pejabat untuk
menghormati para leluhur yang telah meninggal, dengan
mengimplementasikannya berupa membersihkan kuburan
para leluhur, sembahyang dan lain-lain.

Di dinasti Tang ini, implementasi hari cheng beng hampir
sama dengan kegiatan sekarang, misalnya seperti
membakar uang-uangan, menggantung lembaran kertas
pada pohon Liu, sembayang dan membersihkan kuburan.
Yang hilang adalah menggantung lembaran kertas, yang
sebagai gantinya lembaran kertas itu ditaruh di atas
kuburan. Kebiasaan lainnya adalah bermain layang-layang,
makan telur, melukis telur dan mengukir kulit
telur.

Permainan layang-layang dilakukan pada saat Chengbeng
karena selain cuaca yang cerah dan langit yang terang,
kondisi angin sangat ideal untuk bermain layang-layang.
Sedangkan pohon Liu dihubungkan dengan Jie Zitui,
karena Jie Zitui tewas terbakar di bawah pohon liu.
Pada dinasti Song (960-1279) dimulai kebiasaan
menggantungkan gambar burung walet yang terbuat
tepung dan buah pohon liu di depan pintu. Gambar ini
disebut burung walet Zitui.

Kebiasaan orang-orang Tionghoa yang menaruh untaian
kertas panjang di kuburan dan menaruh kertas di atas
batu nisan itu dimulai sejak dinasti Ming.
Menurut cerita rakyat yang beredar, kebiasaan seperti
itu atas suruhan Zhu Yuanzhang, kaisar pendiri dinasti
Ming, untuk mencari kuburan ayahnya. Dikarenakan tidak
tahu letaknya, ia menyuruh seluruh rakyat untuk menaruh
kertas di batu nisan leluhurnya. Rakyatpun mematuhi
perintah tersebut, lalu ia mencari kuburan ayahnya yang
batu nisannya tidak ada kertas dan ia menemukannya.

Kenapa pada hari cheng beng itu harus membersihkan
kuburan?

Itu berkaitan dengan tumbuhnya semak belukar yang
dikawatirkan akar-akarnya akan merusak tanah kuburan
tersebut. Juga binatang-binatang akan bersarang di semak
tersebut sehingga dapat merusak kuburan itu juga.
Dikarenakan saat itu cuaca mulai menghangat, maka hari
itu dianggap hari yang cocok untuk membersihkan kuburan.
Selain cerita di atas, ada pula tradisi dimana jika orang
yang merantau itu ketika pulang pada saat cheng beng,
orang itu akan mengambil tanah tempat lahirnya dan
menaruh di kantong merah. Ketika orang tersebut tiba lagi
di tanah tempat ia merantau, ia akan menorehkan tanah
tersebut ke alas kakinya sebagai perlambang bahwa ia
tetap menginjak tanah leluhurnya

Offline andry

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.097
  • Reputasi: 128
tradisi cina ribet juga yak...
mendingan tradisi hutan
Samma Vayama

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
Ngak juga

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
tradisi kertas sembayangan

QingMing [ChengBeng/ChniMia] adalah salah satu dari 24
jieqi [cuekhui], konon sudah dikenal sejak dinasti Xia
[He] (2100-1600 SM). 24 jieqi adalah awal dan tengah
bulan kalender matahari (bukan kalender bulan), karena
itu Qingming jatuh pada tanggal 5 atau 4 April
(kalender Masehi tanggal 18 bulan 2 samapai dengan tanggal 9 bulan 3 kalender tionghoa). Jieqi lainnya yang banyak diperingati
adalah DongZhi [TangCi/TangCue] yang jatuh sekitar
tanggal 22 Desember.

Perayaan Qingming memang sudah ada sejak dinasti Zhou
[Ciu] (1100-221 SM), pada periode ChunQiu [ChunChiu]
(770-476 SM). Seorang pangeran bernama ZhongEr
[TiongJi]dari kerajaan Jin [Cin] yang melarikan diri
karena difitnah oleh selir ayahnya. Dalam pelarian ia
ditemani oleh para pengawalnya, diantaranya adalah Jie
ZiTui [Kai CuThui] yang sangat setia.
Beberapa tahun kemudian pangeran ZhongEr kembali ke
negeri Jin, dan berhasil menjadi raja bernama Jin
WenGong [Cin BunKong]. Seluruh pengikutnya diberikan
jabatan dan hadiah kecuali Jie Zitui.
Jie Zitui merasa ia tidak dihargai oleh sang raja,
lalu ia pergi bersama ibunya ke gunung MianShan
[BianSan].
Belakangan raja Jin Wengong teringat pada Jie Zitui,
ia mencarinya sampai ke Mianshan. Setelah beberapa
hari mencari, Jie belum ditemukan. Atas usul seorang
penasehatnya, Jin Wengong membakar hutan di Mianshan
supaya Jie segera keluar karena api.


Sebenarnya tradisi QingMing itu sudah ada sejak jaman
dahulu kala (sejak dinasti Zhou) dan awal mulanya
adalah suatu upacara yang berhubungan dengan musim dan
pertanian. Pertanda berakhirnya hawa (bukan
cuaca)dingin dan mulainya hawa panas. Dan ada satu
syair kuno yaitu "Sehari sebelum Qing Ming tidak ada
api" atau yang sering disebut HanSeJie.

Ini menandakan QingMing adalah awal panas. Tapi selain
itu juga menyangkut kisah Jie ZhiTui yang mati
terpanggang karena ulah Jin WenGong yang ingat akan
budinya dan memaksa Jie keluar sedangkan Jie takut
dibunuh oleh bekas junjungannya. Jie mati terbakar
dalam posisi menutupi tubuh ibunya. Sejak itu Jin
WenGong memakai bakiak dan mengganti nama gunung
tempat Jie terbakar menjadi gunung Jie dan menguburnya
di pohon Liu yang mati meranggas. Serta memerintahkan
kepada seluruh rakyatnya agar pada 1 hari sebelum Qing
Ming tidak menyalakan kompor sehingga rakyatnya
memakan makanan yang dingin (Han Se. 1 tahun kemudian
Jin mendatangi makam Jie dan mengucapkan penyesalan
serta membuat suatu upacara penghormatan yang megah.
Disitu Jin melihat bahwa pohon Liu itu tumbuh lagi.
Dan ia terkenang akan Jie sehingga pohon tua itu
disebut QingMing Liu dan sejak itu ditetapkan sebagai
hari QingMing.

Walaupun kisah Jie itu tercatat dalam DongZhou LieGuo
Zi dan banyak buku2 sejarah itu mencatat namanya tapi
kisah tsb diatas hanya ada dalam Dongzhou LieGuoZi dan
catatan2 sejarah lainnya tidak pernah menulis kisahnya
yang mati dibakar.

Hari HanSe sendiri berhubungan dengan cuaca begitu
juga QingMing , dimasukkannya kisah Jie yang terbakar
itu lebih bertujuan utk mengenang jasa org yang
berjasa kemudian yang disisihkan , secara moral kisah
ini utk selalu ingat akan org yang berjasa. Sama
seperti kisah QuYan dengan DuanWu(pekcun).

Kebiasaan menggunakan batang Liu sebagai pertanda
QingMing ada yang mengaitkan dengan Shen Nong. Dan ada
juga yang mengaitkan dengan pemberontakan Sorban
Kuning.

Ada juga yang mengaitkan dengan mengusir hawa jahat.
QingMing itu merupakan salah satu dari 3 hari setan
dalam setahun. Dimana pada hari itu dipercaya para
setan diberi kebebasan. Tidak hanya pada hari CioKo
atau QiYue Ban saja.

Kebiasaan menggunakan batang Liu itu merupakan
pengaruh Buddhism Mahayana , terutama menyangkut
dengan Avalokitesvara Bodhisatva.

Kenapa pada hari QingMing itu harus
menyapu/membersihkan kuburan ? Itu berkaitan dengan
tumbuhnya rumput , ditakuti binatang2 merusak kuburan.
Dan cuaca mulai menghangat. Jadi hari itu dianggap
cocok utk membersihkan kuburan.

Dan sejak jaman dahulu hari QingMing ini adalah hari
utk menghormati leluhur , membersihkan kuburan. Dan
pada dinasti Tang , hari QingMing ditetapkan sebagai
hari wajib utk para pejabat membersihkan kuburan ,
mengurus kuburan2 yang terlantar dan menghormati para
leluhur.

Tradisi jaman dahulu (dinasti Tang)sama seperti
sekarang , seperti membakar uang2an , menggantung
lembaran kertas pada pohon Liu, sembayang ,
membersihkan kuburan. Yang mungkin hilang adalah
menggantung lembaran kertas dan sebagai gantinya
lembaran kertas itu ditaruh diatas kuburan.

Kebiasaan lainnya adalah main layangan , makan telur ,
melukis telur dan mengukir kulit telur. Dan tidak ada
kebiasaan yang membakar rumah2an , mobil2an. Membakar
mobil2an , rumah2an itu hanya dilakukan sekali saja ,
yaitu ketika pada saat penguburan.

Tujuan QingMing itu adalah menghormati leluhur serta
ingat kampung halaman.
Contohnya ada satu tradisi dimana jika org yang
merantau itu ketika pulang pada saat QingMing , org
tsb akan mengambil tanah tempat lahirnya dan menaruh
dikantong merah. Ketika org tsb tiba lagi ditanah
tempat ia merantau, ia akan menorehkan tanah tsb ke
alas kakinya sebagai perlambang bahwa ia tetap
menginjak tanah leluhurnya.
============================================================ ===================

http://www.friendster.com/group-discussion/index.php?t=msg&th=1576802&start=0&

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
Tata cara membuat Bong pay

Yang pertama adalah mu qiu atau tempat dimana peti jenazah dikuburkan.
Mu gui ( cat: artikan saja bukit kuburan )saya sebut bagian pertama
untuk tidak membingungkan.

Bagian ke dua itu terdiri dari beberapa bagian.
Kemudian ada tembok yang mengelilingi mu gui, bagian depan
disekeliling dibelakang batu nisan disebut mu an qian kao (
cat:artikan tembok yang mengelilingi peti jenazah dikuburkan ) dan
dibagian belakang disebut mu an hou kao.

Tepat dibelakang batu nisan, disebut mu jian atau bahu. Didepan batu
nisan ada meja. Jika kita ke kuburan orang Tionghoa, kita bisa lihat
di sisi kiri dan kanan depan batu nisan ada bangunan atau tembok yang
mengelilingi ruang di depan batu nisan. Bangunan itu disebut qu shou (
cat : artinya adalah lekukan tangan ) dan kadang disebut mu shou atau
tangan kuburan.
Kemudian ada altar untuk Hou Tu ( cat : Ratu Bumi atau bunda bumi ).
Jika tidak ada altar Ratu Bumi biasanya digantikan dengan altar Tudi
gong ( cat: kakek bumi ) atau Fushen ( cat: dewa rejeki ).
Paling depan dibagian ke dua adalah mucheng atau tembok yang membatasi
kuburan ( cat: wilayah yin ) dengan tempat diluar.

Kuburan yang tidak ada mu an, tetap memiliki mu shou. Ini melambangkan
yang meninggal itu tetap menjadi satu bagian dari keluarga yang
ditinggalkan.

Mucheng dibuat karena berdasarkan keyakinan bahwa 2 dunia itu memiliki
pembatas.

Fungsi mu an semacam benteng dari erosi tanah yang disebabkan oleh
hujan dan bentuk kuburan yang bulat sebenarnya memiliki fungsi sebagai
pembuangan air.

Untuk ukuran kuburan, biasanya menggunakan meteran fengshui. Meteran
fengshui ini sebenarnya terbagi 2 bagian yaitu meteran Wengong dan
meteran Dinglan.
Meteran yang digunakan untuk kuburan adalah meteran Dinglan.

Menurut kepercayaan Tiongkok purba, manusia yang meninggal adalah Yin
dan kembali ke Yin atau bumi. Dan bumi direpresentasikan sebagai Ratu
atau Bunda.

Bongpay (Mu Bei = Mandarin) adalah sebutan dalam dialek Hokkian untuk
papan
nisan pada makam tradisional Tionghoa yang biasanya terbuat dari batu,
marmer
ataupun batu sejenis lainnya. Di atas bongpay biasanya terdapat
tulisan-tulisan
dalam karakter Han yang mengandung makna dan nilai artistik tersendiri.
Bongpay biasanya selain menuliskan mengenai mendiang pemilik makam tadi,
juga melambangkan bakti dari anak cucu sang mendiang.

Bongpay adalah bagian terpenting dari makam tradisional Tionghoa, namun
sekilas berbeda2 dalam bentuk dan cara penulisannya sesuai dengan bentuk
makam yang mempunyai sedikit perbedaan dari zaman ke zaman. Di masa
Dinasti
Tang, bongpay diletakkan di tengah2 makam dan biasanya ada dituliskan
riwayat
hidup mendiang pemilik makam. Di zaman Dinasti Sung, ada pahatan gambar
pada bongpay.

Bentuk makam dengan bongpay di depan dan sistem penulisannya yang
sekarang
lumrah kita lihat adalah bentuk dan sistem penulisan mulai dari zaman
Dinasti
Ming dan diteruskan sampai sekarang sehingga kalau ditilik2 telah berumur
lebih dari 600 tahun. Cara penulisan dan pembacaannya adalah dari kanan
ke kiri dan atas ke bawah. Di bawah ini saya akan membahas sekilas
tentang
sistem dan susunan penulisan bongpay.

Bongpay yang umumnya kita lihat adalah terdiri dari 4 bagian, yaitu Baris
Kanan, Baris Tengah, Baris Horizontal (Mata Bongpay) dan Baris Kiri :

* Baris Kanan

Menuliskan masa dan waktu saat bongpay ini dibuat ataupun diperbaiki.
Biasanya ditulis dalam tahun kekaisaran, tahun Tian Gan Di Zhi (tahun
shio),
musim atau bulan. Cara penulisan tidak akan saya ulas di sini karena
banyak
cara penulisan di masyarakat, namun harus mengikuti aturan (5n + 1) = 6,
11 karakter yang bermakna dan terpulang pada arti "Lahir" pada 5 karakter
"Lahir, Tua, Sakit, Mati dan Derita".

Satu contoh adalah bongpay salah satu member di sini beberapa bulan
lalu, di mana bongpay leluhurnya dibuat pada musim gugur (sekitar bulan
9) tahun 1897 dituliskan menjadi "Guang Xi tahun 23, Ding You Shui (tahun
shio ayam), musim gugur". Ada pula yang menulis sampai kepada hitungan
bulan.


* Baris Tengah

Menuliskan tentang nama dan status selama hidup mendiang. Di zaman
Dinasti
Ming dan Qing, biasanya dimulai dengan 2 karakter Huang Ming atau
Huang Qing,
namun pada saat sekarang ini, biasanya langsung dimulai dengan 2 karakter
Xian Kao atau Xian Bi yang artinya "Mendiang Ayah" atau "Mendiang
Ibu". Baris
tengah ini lalu diakhiri dengan karakter Mu atau Zhi Mu yang artinya
"Makam"
atau "Yang Punya Makam"

Status dan kedudukan dalam masyarakat selama hidupnya juga boleh
dituliskan
di sini. Seperti gelar kesarjanaan yang didapat melalui ujian maupun
sumbangan
ke kekaisaran, ataupun pernah menjadi pejabat di daerah tertentu.

Jumlah karakter di sini harus menurut aturan (5n + 2) = 7, 12, 17, 22
karakter untuk memenuhi makna "Tua" pada 5 kata tadi.

* Mata Bongpay

Mata Bongpay adalah baris yang horizontal yang biasanya hanya terdiri
dari 2 karakter. Biasanya bertuliskan :

* Daerah (kabupaten kuno) di mana marga atau keluarga mendiang
berasal,
misalnya marga Huang adalah Jiang Xia, marga Zhang adalah Qing He
deelel.
* Peristiwa besar mengenai marga atau keluarga mendiang, misalnya
marga Jiang adalah Liu Gui dikarenakan sebagian keturunan marga Jiang
adalah
bersaudara kandung dengan marga Wang (bukan Wang raja), Weng, Fang, Gong,
Hong sejak zaman Dinasti Sung. Marga Guo adalah Fen Yang, marga Lin
adalah
Wen Li deelel.
* Jumlah generasi mendiang dalam silsilah keluarganya yang
ditandai
dengan karakter yang tidak sama namun berurutan setiap generasi membentuk
suatu kata panjang yang mempunyai makna.
* Kampung halaman, misalnya orang2 Tionghoa perantauan ada yang
menuliskan tempat dari mana mereka berasal seperti Chao Zhou (Tio Chiu),
Fu Zhou (Hok Chiu), Quan Zhou (Cuan Chiu) deelel.

* Baris Kiri

Menuliskan siapa yang membuat bongpay tersebut yang biasanya adalah
anak dan cucu mendiang. Ada yang menuliskan nama dari anak laki2 dan cucu
dalam (anak dari anak laki2), ada pula yang cuma menuliskan beberapa
karakter
sebagai pengganti nama anak dan cucu dalam mendiang. Bagi yang tidak
punya
anak laki2 biasanya menuliskan dibuat oleh anak perempuan.

Jumlah karakter memenuhi aturan (5n + 1) karakter.

Demikianlah sekilas tata cara dan arti penulisan dari bongpay yang lumrah
kita lihat dalam makam tradisional Tionghoa. Sekarang ini, di beberapa
negara
yang kekurangan lahan, cara pemakaman yang dipopulerkan pemerintah adalah
dengan pembakaran dan kemudian ditempatkan dalam rumah abu. Di sini,
setiap
abu jenazah mempunyai bilik2 tersendiri dan bongpay-nya otomatis juga
menjadi
kecil sesuai kebutuhan. Semoga informasi yang pas-pasan ini dapat
bermanfaat,
dan mohon koreksi serta tambahan bila ada kesalahan maupun kekurangan.


Rinto Jiang
Disarikan dari berbagai sumber

Re: [budaya_tionghua] Ralat ([Budaya Tradisi] Sekilas Tata Cara Penulisan
Bongpay (Nisan) Tradisional Tionghoa)

encoding: BIG5



RJ:
Satu contoh adalah bongpay salah satu member di sini beberapa bulan lalu,
di mana bongpay leluhurnya dibuat pada musim gugur (sekitar bulan 9)
tahun
1897 dituliskan menjadi "Guang Xi tahun 23, Ding You Shui (tahun shio
ayam),
musim gugur". Ada pula yang menulis sampai kepada hitungan bulan.


KH:

Tulisan pada bongpai tsb adalah:
大清光绪二十三年丁酉\
岁季秋月吉旦修
(Daqing
Guangxu Ershisannian Dingyousui Jiqiuyue Jidan xiu). Daqing: adalah
Dinasti
Qing (yang besar), Guangxu adalah nama kaisar, Ershisannian adalah tahun
pemerintahan kaisar Guangxu yang ke 23 (tahun 1897 Masehi), Dingyousui
adalah
tahun ayam api, Jiqiuyue adalah bulan 9 imlek, Jidan adalah hari yang
baik.
(tidak disebutkan tanggal yang tepat).
-> kata Ji pada jiqiu berarti bulan ke tiga dalam musim gugur, yaitu
bulan
9. Dalam penulisan bulan, dikenal penulisan dengan 孟 仲 季
(meng, zhong,
dan ji) yang dipakai pada awal, tengah, dan akhir suatu musim. Bulan 1
imlek:
mengchun (孟春), bulan 2: zhongchun, bulan 3: jichun, bulan 4:
mengxia (孟
夏), bulan 5: zhongxia, bulan 6: jixia, bulan 7: mengqiu
(孟秋), bulan 8:
zhongqiu, bulan 9: jiqiu, bulan 10: mengdong (孟冬), bulan 11:
zhongdong,
bulan 12: jidong.

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.446
  • Reputasi: 234
  • Gender: Male
[at] purnama...

weh, mangstabh juga pengetahuan u tentang tradisi orang Chinese..
cocok tuh berargumen ma bokap g..

tp sayangnya bokap g sudah bertumimbal-lahir, gak tau sekarang dimana...  :(
"Those who are skilled in combat do not become angered, those who are skilled at winning do not become afraid. Thus the wise win before the fight, while the ignorant fight to win."

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
Paling tidak bermanfaat bagi yang memerlukannya suatu saat, jadi ngak perlu tanya sana - sini kan udah ada pedoman lengkapnya :)

Offline JackDaniel

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 825
  • Reputasi: 24
  • Gender: Male
Mantap..
Trus,rumah yg anggota keluarganya meninggal, dia atas pintu di nempel krtas dgn tanda silang mksdnya ap y?
"Karena pandangan yang salah orang bodoh menghina ajaran mulia, orang suci dan orang bijak. Ia akan menerima akibatnya yang buruk, seperti rumput kastha yang berbuah hanya untuk menghancurkan dirinya sendiri".

DHAMMAPADA, syair 164

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
informasi bahwa ada yang meninggal. Tradisi itu udah ngak pernah dipakai lagi jaman sekarang, kebanyakan masyarakat Chinese jaman sekarang tidak mau terlalu ribet, Kalo mau dijalani 100% tradisi Chinese atas orang meninggal jaman sekarang udah ngak mungkin, seperti 100 hari kematian pihak keluarga ngak boleh keluar dari rumah. Itu sudah hilang karena ngak mungkin lagi dijalani, karena jaman dahulu kehidupannya masih bertani, jadi bisa lakukan itu, jaman sekarang mana mungkin, kagak keluar 1 hari aja sudah makan biaya.

Maka diganti dengan Tidak menggunakan pakaian merah. tidak kerumah orang selama 3 hari. kalo tempat usaha atau kerja masih dilakukan.

Offline JackDaniel

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 825
  • Reputasi: 24
  • Gender: Male
Dulu saya kalo ga salah pernah dngar kalo ada anggota keluarga yg meninggal,tdk blh merayakan chinese new year,apa emank ada ato saya yg salah tangkap? Thx
"Karena pandangan yang salah orang bodoh menghina ajaran mulia, orang suci dan orang bijak. Ia akan menerima akibatnya yang buruk, seperti rumput kastha yang berbuah hanya untuk menghancurkan dirinya sendiri".

DHAMMAPADA, syair 164

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
Kalau baru meninggal pas deket chinese new year iya.

Kalau dulu benar, ngak boleh, sekarang cukup 40 hari/ 49 hari saja