topic short url: http://dhct.ws/f24666

Author Topic: Lanjutan pembahasan tentang aliran Dhammakaya  (Read 1790 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline dato' tono

  • Sebelumnya: dhanuttono
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.606
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Namo Buddhaya...
Re: Lanjutan pembahasan tentang aliran Dhammakaya
« Reply #15 on: 28 October 2013, 01:13:57 PM »
Hubungan dengan Negara dan Politik Nasional

Wat Phra Dhammakāya tetap tidak berpihak dan netral dari politik ketika ia merupakan Soon-phuttachak-patibattham. Peraturan nomor enam dari sepuluh peraturan yang terpasang bagi setiap pengunjung komunitas itu dan juga di dalam Buku Paritta Dhammadāyāda menyatakan: "Tidak boleh ada kampanye atau kegiatan politik di dalam wat."16 Di dalam pembentukan Partai Palang Tham pada akhir 1980-an pimpinan wat, pada waktu itu Phra Dattajīvo, terang-terangan menolak undangan Mr Chamlong Srimuang untuk berpartisipasi dalam partai yang baru itu dalam percakapan telepon mereka.17

Ketidakberpihakan dalam politik ini tidak lagi benar bagi Wat Phra Dhammakāya. Wat ini mengambil peran aktif dalam pembentukan partai politiknya sendiri pada 14 Juni, 2000, Partai Thai-Mahā-rat,18 setelah terungkap serangkaian skandal publik di kalangan pimpinan komunitas. Karena beberapa alasan praktis, partai itu tidak begitu sukses dalam pemilihan umum dan akhirnya dibubarkan dengan perintah pengadilan pada 24 Desember 2002.19 Tampaknya, inisiatif politik Phra Dhammajayo tidak bekerja sebagaimana diharapkan dan pembentukan partai politik yang didukung oleh Dhammakāya ternyata merupakan kegagalan. Namun demikian, keterlibatan dalam politik nasional dilihat sebagai keperluan. Pimpinan wat secara terbuka mendukung calon-calon bagi posisi senator dalam pemilihan 2000 dan memperoleh pengaruh cukup besar di kalangan para senator. Pimpinan wat merencanakan bekerja sama dengan Partai Thai Rak Thai (TRT), karena mereka mempunyai sikap yang sama terhadap bisnis dan manajemen modal. Sayang sekali, TRT juga berafiliasi dengan Mr Chamlong Srimuang dan gerakan Santi Asoke. Namun, pimpinan Wat Phra Dhammakāya tidak ragu menjalin kontak erat dengan pimpinan TRT.

Perlahan-lahan, upaya itu membuahkan hasil. Keuntungan paling penting dalam politik bagi Wat Phra Dhammakāya adalah aliansinya dengan TRT di bawah pimpinan Mr. Thaksin Shinawatra pada awal 2005. Hubungan dengan TRT meningkatkan pamor pimpinan wat itu. Semua tuntutan yang dilancarkan oleh Kejaksaan Agung terhadap kepala vihara Wat Phra Dhammakāya dicabut dari pengadilan. Insiden itu merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah sistem peradilan Thai. Seluk-beluk peristiwa ini tetap menjadi pokok perdebatan sengit dan kontroversi, oleh karena Jaksa Agung yang bertanggung jawab atas penuntutan terhadap kepala vihara itu tiba-tiba meninggal dunia. Ia pernah bersumpah bahwa ia akan mendorong tuntutan peradilan karena semua bukti kriminal sudah jelas. Setelah kematiannya yang mendadak, jenazahnya dikremasikan dengan cepat. Perdana Menteri Thaksin Shinawatra langsung menunjuk Jaksa Agung baru, yang tanpa menunda-nunda mencabut dari pengadilan semua 52 tuntutan terhadap kepala vihara.20 Ini merupakan insiden pertama semacam ini yang terjadi dalam sejarah hukum di Thailand.

Pada pagi Minggu pertama dari September 2006, Phra Dhammajayo mengumumkan kemenangannya yang menentukan kepada massa dari Wat Phra Dhammakāya dengan kalimat kesukaannya dalam Bahasa Pali: Jitaṃ me (“Aku menang!”). Kemudian, setiap koran yang memuat kritik terhadap Kepala Vihara Wat Phra Dhammakāya diharuskan memuat permintaan maaf resmi. Sejak saat itu, publik Thai hampir tidak pernah melihat kritik terhadap Wat Phra Dhammakāya atau kepala viharanya. Juga, segera setelah itu, Phra Dhammajayo sekali lagi diangkat menjadi Kepala Vihara Wat Phra Dhammakāya.

Kudeta pada 19 September 2006 tidak mengakhiri ikatan dengan perdana menteri yang terguling, yang sekarang hidup dalam pengasingan di berbagai tempat di dunia. Wat Phra Dhammakāya secara aktif mempromosikan Partai Kekuatan Rakyat (PPP), yang muncul dari TRT. Sebagai tambahan dari dukungan terhadap beberapa murid yang mencalonkan diri dalam kampanye pemilihan pada 2008, para bhikkhu dari Wat Phra Dhammakāya secara terang-terangan mengatakan kepada para pengunjung untuk memilih PPP.

Sekalipun menghadapi kampanye negatif dan diskriminasi keras dari militer dan sektor konservatif dari politik Thai, PPP berhasil memenangkan pemilihan dan membentuk mayoritas dalam pemerintahan koalisi yang dipimpin oleh dua perdana menteri berturutan, Samak Sunthoravej dan Somchai Wongsawat. Namun PPP dibubarkan oleh Mahkamah Konstitusi Thailand pada Desember 2008, yang menyebabkan naiknya pemerintahan koalisi baru dipimpin oleh Partai Demokrat di bawah pimpinan Abhisit Vejjajiva.

Para mantan anggota PPP membentuk partai baru yang dinamakan Partai Pheu Thai yang melanjutkan kesetiaannya kepada Thaksin Shinawatra. Partai baru ini menang secara telak dalam pemilihan umum pada 2011. Wat Phra Dhammakāya lagi-lagi memainkan peran aktif dalam kampanye politik. Di bawah perdana menteri perempuan pertama Thailand, untuk pertama kali Wat Phra Dhammakāya mempunyai beberapa murid inti duduk di Parlemen. Pada dewasa ini, para pengikut setia Wat Phra Dhammakāya menjadi anggota senior dari partai-partai politik utama, yaitu Partai Pheu Thai, Partai Democrat, dan Partai Chart Thai Pattana untuk menyebutkan beberapa saja.

Pada 5 Desember 2011, dalam perayaan Ulang Tahun ke-84 Raja Bhumipol Adulyadej, kepala vihara mendapat gelar Phra Thammayanthera. Wakilnya mendapat gelar-pangkat Phraratch, setingkat lebih tinggi dalam sistem feodal kepangkatan, yang masih ada di dalam Dewan Sangha Thailand. Ini tanda jelas dari kemenangan wat di dalam pemerintahan dan persetujuan dari Dinasti Chakri. Namun, istana juga mengangkat kepala vihara Wat Loung Phor Soth Dhammakāyārām, pengecam tangguh dari Wat Phra Dhammakāya, dengan memberi pangkat Phra Thep, yang setara dengan pangkat Phra Dhammajayo.


16 Lihat juga Buku Paritta Dhammadāyāda (76).
17 Salah satu pengalaman langsung penulis, yang tinggal di in Wat Phra Dhammakāya. Palang Tham Party, 9 Juni 2531-10 Oct 2550.
18 Nama “Thai Mahā-rat” adalah nama bagi zaman keemasan di masa depan baru bagi Thailand sebagaimana dinubuatkan oleh Kepala Vihara Wat Phra Dhammakāya pada 1988, pada masa ketika wat itu sering dikunjungi oleh Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn.
19 Ketetapan Mahkamah Konstitusi 63/2545; also, www.concourt.or.th/download/Summary_desic/45.
20 Salah satu di antara tuntutan itu adalah Penghinaan Terhadap Raja (Lese Majeste). Pada 2000, saya pribadi diperiksa tiga kali oleh seorang pejabat polisi tingkat tinggi dari Departemen Keamanan selama lebih dari enambelas jam seluruhnya. Kepada saya dikatakan bahwa mereka telah memperoleh banyak dokumen penting yang diedarkan oleh pengikut wat. Mereka terkejut bahwa pimpinan wat mengharapkan berakhirnya Dinasti Chakri, Monarki di Thailand.
Sesuai benih yang ditabur, demikian lah buah yang di tuai, penanam kebajikan akan memperoleh kebahagiaan.

Offline dato' tono

  • Sebelumnya: dhanuttono
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.606
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Namo Buddhaya...
Re: Lanjutan pembahasan tentang aliran Dhammakaya
« Reply #16 on: 28 October 2013, 01:14:56 PM »
Penutup

Gnostisisme, reinkarnasi, avatar dan Armageddon tidak asing di dunia agama; juga konsep ādi-buddha dikenal baik dalam Buddhisme Mahāyāna. Tetapi cukup mengejutkan melihat semua ini sebagai bagian dari Buddhisme monastik di Thailand abad ke-21. Konsep-konsep religius ini secara berhati-hati diintegrasikan bagi murid-murid terpilih dari Wat Phra Dhammakāya, yang melihat diri mereka sebagai pengikut taat dari Agama Buddha. Namun, sebenarnya mereka adalah anggota taat dari sebuah gerakan spiritual urban yang diorganisasi di seputar pimpinan karismatik.

Sekalipun kepala vihara Wat Phra Dhammakāya telah terlibat skandal-skandal penipuan publlik, ia adalah satu-satunya tokoh di balik roda administrasinya. Ia tidak perlu memberikan ajaran esoteriknya kepada setiap pengikutnya. Ia hanya membutuhkan sejumlah tertentu murid inti yang mempercayainya. Di antara jutaan murid dari wat itu, Phra Chaiboon Dhammajayo dipandang sebagai bodhisattva yang mempunyai kekuatan besar yang telah mengabdikan hidupnya bagi kebaikan semua makhluk hidup dalam memetik jasa yang diperoleh. Bagi ribuan murid inti, ia bukan hanya tokoh paling penting dalam hidup mereka, tetapi juga tokoh paling penting di seluruh alam semesta sebagai Pencipta dan reinkarnasi dari Yang Mahakuasa, Buddha Asali.

Teologi Bala Tentara Cahaya, bila diterapkan di kalangan murid-murid dekat dari Wat Phra Dhammakāya, bukan hanya mengilhami suatu rasa tanggung jawab yang kuat terhadap perintah dan otoritas pimpinan wat; itu juga memberikan kebanggaan dan energi kepada mereka untuk menanggungkan kehidupan yang keras dan sulit, sekalipun tidak ada konsep ketaatan dalam ajaran Buddha dalam tradisi Theravāda. Sekali berkomitmen sebagai serdadu dalam Bala Tentara Dharma, mereka bersedia mengorbankan segala sesuatu bagi pemimpin mereka. Terlepas dari itu, setiap cobaan berat, skandal dan berita buruk terhadap anggota mana pun dari komunitas ditafsirkan sebagai perbuatan para Māra, bukan sebagai akibat dari karma di masa lampau. Wat Phra Dhammakāya meluas ke dalam ribuan program dan kegiatan di luar vihara, mentransformasikan masyarakat Thai. Ribuan keluarga melihat anak-anak mereka, laki-laki dan perempuan muda, memberikan pengabdian tanpa menghiraukan diri sendiri kepada Guru, Kepala Vihara Wat Phra Dhammakāya; ratusan ribu lagi bersedia mengorbankan hidup mereka untuk melakukan apa pun demi mengabdi kepadanya.

Pada dewasa ini, Wat Phra Dhammakāya telah berdiri sebagai organisasi internasional -- kerajaan spiritual yang tumbuh dari kepemimpinan karismatik dari Phra Phromayanthera atau Phra Chaiboon Dhammajayo, yang bersumpah untuk menyebarluaskan misi dari pendiri teknik meditasi itu ke seluruh dunia. Sesungguhnya, kegiatan monastik itu hanya sekadar puncak gunung es; perluasan material dan finansial dari komunitas itu lebih maju daripada retret-retret meditasinya. Dilengkapi dengan TV satelit 24 jam, pendanaan tak terbatas, lokasi yang sangat baik, sebidang tanah luas tidak jauh dari Bangkok, dan jutaan pengikut, banyak di antaranya menduduki jabatan tinggi di kabinet, sektor swasta, militer dan partai politik -- Wat Phra Dhammakāya akan berkembang, bukan saja memenuhi misinya yang terlihat, tetapi juga membuat perubahan radikal dalam sistem politik Thailand.
Sesuai benih yang ditabur, demikian lah buah yang di tuai, penanam kebajikan akan memperoleh kebahagiaan.

Offline Rico Tsiau

  • Kebetulan terjoin ke DC
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.971
  • Reputasi: 117
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Lanjutan pembahasan tentang aliran Dhammakaya
« Reply #17 on: 28 October 2013, 03:06:27 PM »
wow.. aa ketik ulang yach?

saya sudah sempat baca versi pdf-nya.

so mau ikutan gabung jadi tentaranya?  :)) :))

sayang gak dikasih tau kapan waktunya perang besar ini  :D

Offline Rico Tsiau

  • Kebetulan terjoin ke DC
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.971
  • Reputasi: 117
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Lanjutan pembahasan tentang aliran Dhammakaya
« Reply #18 on: 28 October 2013, 03:08:54 PM »
Referensi
 
Ekachai, Sanitsuda. “Life After Dhammakāya, Interview of Phra Mettanando Bhikkhu.” Bangkok
Post, March 22, 2000.
 
Feungfusakul, Apinya. “Wat Phra Dhammakāya, Case Study of Urban Buddhist Reform
Movement.” Journal of Buddhist Studies (Warasarn Phuttasartsuksa), Chulalongkorn University,
2541 BE (AD 1997); อภิญญา เฟื่องฟสูกลุ งานวจิยั
ศาสนทศัน์ของชมุ ชนเมืองสมยัใหม่ศกึษากรณีวดัพระธรรมกายวารสารพทุ ธศาสน์ศกึษา จฬุ าลงกรณ์มหาวทิยาลยั ปีที่ 5 ฉบบั ที่ 1 มกราคม-
เมษายน 2541.
 
MacKenzie, Rory. “Millenarianism and a New Thai Buddhist Movement.” The
Mahachulalongkorn Journal of Buddhist Studies, Vol. I, 2008 (Bangkok:
Mahachulalongkornrajavidyalaya University Press, 2008).
 
Mettanando Bhikkhu. Knowledge on Dhammakāya. Bangkok: Baan Nukaew, 1988.
 
Phra Bhavanāvisuddhikhun (Sermchai Jayamaṅgala P.T.6). Tobpanhā-Thammapatibat
(Meditation Practices: Q&A). Wat Loung Phor Soth -dhammaakayaram, June 2542 BE (AD
1999); พระภาวนาวสิทุ ธิคณุ (เสริมชยั ชยมงฺคโล ป.ธ.๖) ตอบปัญหาธรรมปฏิบตัิ วดัหลวงพอ่ สดธรรมกายาราม พิมพ์ครัง้ท ี่ 1 มิถนุ ายน
2542.

Wat Loung Phor Soth-dhammaakayaram. Phra Monkhol-thep-muni, Biography and
Achievements. First Publication November 2543 BE (AD 2000); พระมงคลเทพมนุ ีชีวประวตัิและผลงาน
วดัหลวงพอ่ สดธรรมกายาราม พิมพ์ครัง้ท ี่ 1 พฤศจิกายน พ.ศ. 2543.
 
Wat Paknam. Dhammakāya. Bangkok, 2499 BE (AD 1956); เรื่องธรรมกาย วดัปากน้าภาษีเจริญ กรุงเทพฯ พ.ศ.
2499.
Wat Phra Dhammakāya. Dhammadāyāda Chanting Book. December 1, 2542 BE (AD 1999);
บทสวดมนต์ฉบบัธรรมทายาท วดัพระธรรมกาย 1 ธันวาคม 2542.
 
Williams, Paul & Tribe A. Buddhist Thought: A Complete Introduction to the Indian Tradition,
Routledge, London and New York, 2000.

(click to show/hide)

Offline Indra

  • Pensiunan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.392
  • Reputasi: 441
  • Gender: Male
Re: Lanjutan pembahasan tentang aliran Dhammakaya
« Reply #19 on: 28 October 2013, 03:36:45 PM »
GRP untuk dato, dan utang GRP utk Rico Tsiau

Offline dato' tono

  • Sebelumnya: dhanuttono
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.606
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Namo Buddhaya...
Re: Lanjutan pembahasan tentang aliran Dhammakaya
« Reply #20 on: 28 October 2013, 04:00:28 PM »
jika suatu ketika Phra Dhammajayo meninggal, siapakah yg menjadi Phra Ton-thād ?


sayang gak dikasih tau kapan waktunya perang besar ini  :D

di artikel disebutkan :
Adalah aneh bahwa, dalam empat puluh tahun usia komunitas itu, Kepala Vihara tidak pernah mengajarkan kepada siapa pun bagaimana cara berperang melawan para Māra; padahal inilah tugas yang diklaimnya sebagai tugas pokoknya. Tampaknya, Kepala Vihara adalah Guru Besar meditasi Dhammakāya yang menyimpan teknik meditasi tertinggi bagi dirinya sendiri.
Sesuai benih yang ditabur, demikian lah buah yang di tuai, penanam kebajikan akan memperoleh kebahagiaan.

Offline Rico Tsiau

  • Kebetulan terjoin ke DC
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.971
  • Reputasi: 117
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Lanjutan pembahasan tentang aliran Dhammakaya
« Reply #21 on: 28 October 2013, 04:30:14 PM »
GRP untuk dato, dan utang GRP utk Rico Tsiau

tq, klik back. untuk aa juga..

jika suatu ketika Phra Dhammajayo meninggal, siapakah yg menjadi Phra Ton-thād ?

dalam artikel ini juga tidak disebutkan siapa penggantinya. atau memang tidak akan muncul pengganti, dalam arti ajarannya adalah penggantinya?

di artikel disebutkan :
Adalah aneh bahwa, dalam empat puluh tahun usia komunitas itu, Kepala Vihara tidak pernah mengajarkan kepada siapa pun bagaimana cara berperang melawan para Māra; padahal inilah tugas yang diklaimnya sebagai tugas pokoknya. Tampaknya, Kepala Vihara adalah Guru Besar meditasi Dhammakāya yang menyimpan teknik meditasi tertinggi bagi dirinya sendiri.

ya.. dan herannya para pengikutnya tidak bertanya2.. atau ada namun dalam artikel ini tidak muncul.

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.835
  • Reputasi: 106
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Lanjutan pembahasan tentang aliran Dhammakaya
« Reply #22 on: 29 October 2013, 05:23:53 AM »
masih malu2 ngakunya !
ganti aja nama viharanya jadi Wat Phra Thaksin Shinawatra Dhammakaya
memang benar pada masa pimpinan PM Thaksin, pamor aliran Dhammakaya melaju kencang
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline sanjiva

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.094
  • Reputasi: 101
  • Gender: Male
Re: Lanjutan pembahasan tentang aliran Dhammakaya
« Reply #23 on: 29 October 2013, 03:22:59 PM »
wow.. aa ketik ulang yach?

saya sudah sempat baca versi pdf-nya.
Bagi linknya donk bro  ;D
«   Ignorance is bliss, but the truth will set you free   »

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.702
  • Reputasi: 105
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Lanjutan pembahasan tentang aliran Dhammakaya
« Reply #24 on: 29 October 2013, 05:07:36 PM »
dari googling judulnya cuman nongol satu link:
http://www.meditasi-mengenal-diri.org/ebook/Wat_Phra_Dhammakaya.pdf
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.744
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Lanjutan pembahasan tentang aliran Dhammakaya
« Reply #25 on: 29 October 2013, 06:56:06 PM »
ajaran menyimpang lagi? tidak boleh mengkritisi pemimpin tertinggi dari vihara?

Offline sanjiva

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.094
  • Reputasi: 101
  • Gender: Male
Re: Lanjutan pembahasan tentang aliran Dhammakaya
« Reply #26 on: 30 October 2013, 10:22:05 AM »
dari googling judulnya cuman nongol satu link:
http://www.meditasi-mengenal-diri.org/ebook/Wat_Phra_Dhammakaya.pdf
Iya, di google cuma keluar yg itu di atas.  Tks.
«   Ignorance is bliss, but the truth will set you free   »

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.702
  • Reputasi: 105
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Lanjutan pembahasan tentang aliran Dhammakaya
« Reply #27 on: 30 October 2013, 10:55:15 AM »
SIAPA BAKAL MENJADI SANGHARAJA THAILAND YG AKAN DATANG?

Ini tidak perlu diragukan lagi. Pada Senin kemarin telah ditunjuk kepala vihara Wat Paknam Bhasicharoen, Somdet Phra Maha Ratchamangalacharn (Chuang Vorapunyo), 88 tahun, sebagai caretaker kedudukan Sangharaja. Setelah masa berkabung selama 3 bulan lewat, pasti ia akan menjadi Sangharaja yg akan datang.

Banyak pihak di Thailand prihatin dg keadaan ini. Mengapa? Karena Wat Paknam adalah cikal bakal dari sekte Dhammakaya yg kini amat berjaya, dg pemimpinnya Phra Dhammajayo, kepala vihara terbesar di dunia (yg bangunannya berbentuk piring terbang), wat Phra Dhammakaya, tidak jauh disebelah utara Bangkok. Phra Dhammajayo ini ditahbiskan oleh Somdet di atas.

Phra Dhammajayo ini pula yg mengklaim dirinya sebagai titisan Adi Buddha (Phra Ton Thard, kira2 sama dg Tuhan YME).

Sekte Dhammakaya mengajarkan bahwa pahala (punna) bisa dibeli dengan menyumbangkan sejumlah uang ke Wat Phra Dhammakaya. Bahkan tempat di Nibbana pun bisa dipesan dari sekarang dengan menyumbang sejumlah uang yg lebih besar kepada wat itu.

Link: Bangkok Post, 30 Oct 2013 - "Sangha feudal hierarchy has to go for good"
Sorry, you are not allowed to see this part of the text. Please login or register.


(sumber: fb pak hudoyo)
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline dato' tono

  • Sebelumnya: dhanuttono
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.606
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Namo Buddhaya...
Re: Lanjutan pembahasan tentang aliran Dhammakaya
« Reply #28 on: 30 October 2013, 11:10:45 AM »
Sangha feudal hierarchy has to go for good 
Published: 30 Oct 2013


Before Pope Francis was named head of the Catholic Church, the search for a new pontiff triggered much excitement as well as honest criticism of the church system, and hope for reform.

How I wish I could say the same thing about the search for a new Supreme Patriarch.

Here, there is no excitement whatsoever. The rules according to the Sangha Bill have made it very clear that this top position goes straight to the most senior monk in the ecclesiastical ranks.

There is an urgent need to fix the centralised, authoritarian system that is deeply corrupt and out of touch with the modern world. But when hierarchy reigns supreme in the clerical gerontocracy, thereis no hope whatsoever for Sangha reform no matter who the next supreme patriarch is.

We almost don't need to ask the "who" question. All roads are already leading to the temple of Wat Paknam Phasi Charoen.

Its 88-year-old abbot, Somdet Phra Maha Ratchamangalacharn (Chuang Vorapunyo) was named caretaker Supreme Patriarch by the National Office of Buddhism on Monday. We can be sure his stature will be further cemented when the mourning period is over three months from now.

It should have been a moment of nationwide joy. But it won't be. The Dhammakaya factor is why.

Wat Paknam, you see, is closely linked to the all-powerful Wat Phra Dhammakaya and its highly controversial abbot Phra Dhammachayo, who basically teaches you can buy "boon" or merit _ and even a place in nirvana, which he describes as a celestial abode.

Somdet Phra Maha Ratchamangalacharn is Phra Dhammachayo's preceptor.

Phra Dhammachayo and his Dhammakaya movement have long been mired in controversy. Stories abound, for example, about his followers facing pressure to donate and subsequently going bankrupt because of the temple's excessive focus on donations as a principal way to make merit.

He is also under fire for teaching that nirvana is a celestial place with atta, or material self, which goes against the core Buddhist teachings on anatta, or non-self.

Buddhism teaches that all things are impermanent, non-self, and in a constant flux of beginning and passing away. The realisation of this ultimate truth is key to one's ability to let go of attachment...

Interestingly, Phra Dhammachayo's capitalistic version of Buddhism meshes well with the rich and powerful, and others who think it is simply great to be able to buy a place in heaven.

At the height of the controversy in 1999, the late Supreme Patriarch issued an ordinance declaring that Phra Dhammachayo must be defrocked for distorting the Buddhist canon, dividing the Sangha, and for fraud and embezzlement.

It is no secret that the Pheu Thai-led government supports the Dhammakaya abbot. And it came as no surprise that the public prosecutors eventually dropped the charges against him in 2006.

The Dhammakaya movement has since grown steadily. Monks nationwide are receiving scholarship support from Dhammakaya. School teachers are ordered by their bosses who are Dhammakaya followers to attend Dhammakaya meditation courses. The elders, pampered by gifts and recognition, are happy to equate Dhammakaya's propagation overseas as an expansion of Thai Buddhism.

Critics of Dhammakaya often express concerns that this ambitious movement will soon take over the Sangha Council.

That used to be my concern. Not anymore, though.

A visit to a museum in Japan totally changed my view on the Dhammakaya matter. There, I saw hundreds of Buddha images in different forms as shaped by their different cultural origins.

Suddenly, I came to realise the truth and beauty of diversity.

Indeed, we may not agree with the Dhammakaya movement, but is it a threat in itself if the social environment is open to competing views?

The real threat, in my view, is the closed and authoritarian system of the Sangha itself.

By monopolising power, denying its mistakes, punishing dissent and preventing change, the current system _ if left in the hands of incompetents _ will produce the dysfunctional clergy we now see.

In the hands of the efficient power-hungry, however, the destruction will be immense.

If we can open up the Sangha system, say goodbye to its feudal hierarchy, and return it to the community, there is no need to fear Dhammakaya.

Sesuai benih yang ditabur, demikian lah buah yang di tuai, penanam kebajikan akan memperoleh kebahagiaan.

Offline sanjiva

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.094
  • Reputasi: 101
  • Gender: Male
Re: Lanjutan pembahasan tentang aliran Dhammakaya
« Reply #29 on: 30 October 2013, 01:11:36 PM »
Gw terjemahkan bebas, ga pake kamus dan seadanya saja....
---------------------------------------


Hirarki Feodal Sangha Harus Dihilangkan
Published: 30 Oct 2013


Sebelum Paus Francis ditunjuk menjadi kepala Gereja Katholik, pencarian untuk seorang pemimpin yang baru telah menimbulkan kegairahan seperti juga kritik yang terbuka atas sistem gereja dan harapan untuk reformasi.

Saya berharap dapat berkata yang sama dengan di atas mengenai pencarian untuk Sangharaja baru.

Di sini, ternyata tidak ada kegairahan apapun.  Aturan sesuai UU untk Sangha Thailand sudah sangat jelas bahwa posisi puncak ini akan diserahkan kepada bhikkhu paling senior dari rangking di sangha.

Ada kebutuhan yang mendesak untuk memperbaiki sistem otoriter dan tersentralisasi yang sangat korup dan jauh dari sentuhan dunia modern.  Tapi jika hirarki pimpinan tertinggi didasari oleh senioritas usia, tidak ada harapan apapun untuk reformasi sangha siapapun yang akan menjadi sangharaja berikutnya.

Kita hampir tidak perlu bertanya siapa.  Semua jalan sudah menuju ke Wat Paknam Phasi Charoen.

Dialah kepala vihara berusia 88 tahun, Somdet Phra Maha Ratchamangalacharn (Chuang Vorapunyo) yang ditunjuk menjadi pelaksana sangharaja oleh Kantor Nasional Agama Buddha di hari Senin. Kita dapat memastikan bahwa penunjukkan ini akan dipermanenkan setelah periode berkabung berakhir tiga bulan dari sekarang.

Seharusnya ini menjadi momen kegembiraan nasional, tapi tidak.  Sebabnya adalah faktor Dhammakaya nya.

Wat Paknam, erat terkait dengan Wat Phra Dhammakaya yang sangat berpengaruh dan kepala viharanya Phra Dhammachayo yang begitu kontroversial, yang mengajarkan bahwa orang dapat membeli pahala dan kebajikan dan bahkan tempat di nirvana, yang dia gambarkan sebagai tempat kediaman surgawi.

Somdet Phra Maha Ratchamangalacharn adalah guru pembimbing dari Phra Dhammachayo.

Phra Dhammachayo dan gerakan Dhammakaya-nya sudah lama terjerumus dalam kontroversi.  Banyak cerita, contohnya bagaimana pengikut2nya mendapat tekanan untuk memberi derma (ke vihara mereka) dan kemudian menjadi bangkrut karena penekanan vihara yang berlebihan dalam hal derma sebagai jalan utama untuk berbuat kebajikan.

Dia juga mendapat serangan karena mengajarkan bahwa virvana adalah tempat surgawi dengan atta atau diri jasmaniah (roh) yang bertentangan dengan ajaran inti Buddha tentang anatta atau tanpa diri (roh).

Buddhisme mengajarkan bahwa segala bentukan adalah tidak kekal dan terus berubah.  Merealisiasi kebenaran tertinggi ini adalah kunci bagi kemampuan seseorang untuk melepaskan kemelekatan...

Menariknya, versi kapitalistik Buddhisme dari Phra Dhammachayo ini berhubungan erat dengan mereka yang kaya dan berkuasa, dan mereka2 yang berpikir bahwa gampang untuk membeli tempat di surga.

Pada puncak kontroversi di tahun 1999, mendiang Sangharaja mengeluarkan peraturan yang mengumumkan bahwa Phra Dhammachayo harus dikeluarkan dari sangha karena menyimpangkan kitab suci, memecah sangha, dan penipuan serta penggelapan.

Bukan rahasia lagi kalau pemerintah yang dipimpin partai penguasa Pheu Thai mendukung kepala vihara Dhammakaya ini. Dan tidak mengejutkan kalau jaksa pemerintah kemudian membatalkan tuntutan terhadapnya di tahun 2006

Sejak itu gerakan Dhammakaya berkembang terus menerus.  Para bhikkhu dari pelosok negeri mendapat beasiswa dari Dhammakaya. Para guru sekolah diperintahkan pimpinan mereka yang menjadi pengikut Dhammakaya untuk menghadiri latiah meditasi Dhammakaya.  Para tetua, mendapat berbagai hadiah dan penghargaan, dengan senang hati mengatakan bahwa penyebaran Dhammakaya ke mancanegara sebagai penyebaran Buddhisme Thailand.

Para pengkritik Dhammakaya sering mengekspresikan keprihatinan bahwa gerakan ambisius ini akan segera mengambil alih dewan sangha.

Dulu hal itu menjadi perhatian saya, walaupun sekarang tidak lagi.

Sautiu kunjungan ke sebuah museum di Jepang merubah pandanganku atas masalah Dhammakaya.  Di sana, saya melihat ratusan gambaran Buddha dalam bentuk yang berbeda2 sebagaimana yang dibentuk oleh asal kebudayaan yang berbeda2.

Tiba-tiba, saya menjadi sadar akan kebenaran dan keindahan dari keragaman.

Sungguhpun, kita mungkin tidak setuju dengan gerakan Dhammakaya, tapi apakah menjadi ancaman jika lingkungan sosial terbuka terhadap pandangan2 yang saling bersaing?

Ancaman sebenarnya, dalam pandangan saya, , adalah sistem yang tertutup dan otoriter dari sangha itu sendiri.

Dengan monopoli kekuasaan, mengabaikan kesalahan2nya, menghukum mereka yang berbeda pendapat serta menghalangi perubahan, sistem yang berjalan saat ini-- jika tetap di tangan2 yang tidak kompeten--- akan menghasilkan pejabat2 yang menyeleweng seperti yang kita lihat sekarang.

Di tangan2 efisien yang haus kekuasaan, kehancuran ini akan meluas.

Jika kita bisa membuka sistem di sangha, meninggalkan hirarki feodalnya, dan mengembalikannya ke komunitas, tidak perlu takut terhadap Dhammakaya.

-------------------------------------
«   Ignorance is bliss, but the truth will set you free   »