topic short url: http://dhct.ws/f2310

Author Topic: Ceramah Bhante Uttamo "Satu Dhamma"  (Read 6680 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Yumi

  • Sebelumnya snailLcy
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.341
  • Reputasi: 118
  • Gender: Female
  • Good morning, Sunshine..
Ceramah Bhante Uttamo "Satu Dhamma"
« on: 15 April 2008, 12:34:12 PM »
Namo Buddhaya…!

Hi, teman2 sedhamma.. tgl 29 Maret kemarin saya ada dengar ceramah dhamma oleh Bhante Uttamo di Tiara Hotel & Convention, Medan dengan topik 1 Dhamma.

Saya rasa ini bagus banget, jadi saya tertarik membaginya dengan teman2 sekalian. Di sini saya akan coba uraikan inti dari ceramah yang saya dengar tersebut dengan kata2 saya.
Semoga bermanfaat..

Seperti kita ketahui di negara kita ini, selain ajaran agama dari Guru Agung kita Sang Buddha sendiri, juga terdapat ajaran dari aliran lainnya. Sering sekali kita dengar atau lihat bahwa konflik bisa terjadi atas nama agama atau aliran yang berbeda. Hal itu dikarenakan para umatnya yang saling memperdebatkan kebenaran agama yang diyakininya masing-masing.

Manusia biasanya sulit sekali menerima perbedaan, padahal kenyataannya kita memang hidup dalam perbedaan itu sendiri. Satu contoh yang paling dekat bisa kita amati dari kedua telapak tangan kita sendiri. Keduanya tidak sama. Saat makan, tangan kanan memegang sendok, tangan kiri memegang garpu. Kedua tangan ini berbeda, tetapi justru dalam perbedaan ini mereka memiliki perannya masing2 dan bisa saling bekerja sama untuk satu tujuan, menunjang hidup kita. Sungguh tidak bisa dibayangkan, apa jadinya kalau kedua telapak tangan kita ini bentuknya sama semua. Kedua2nya hanya tangan kiri atau kedua2nya hanya tangan kanan.

Begitu juga dengan keanekaragaman aliran agama yang ada. Semestinya kita bisa menerima bahwa tiap2 dari agama ini meskipun berbeda, juga menjalankan peran dan bidangnya masing2, tujuannya sama-sama mengarahkan manusia menjadi baik. Seperti aliran Theravada (dari India ) dan Mahayana (dari Tiongkok – dan menyebar lagi ke Tibet sebagai aliran Vajrayana). Theravada menuju pada Arahat, sedang Mahayana pada Bodhisattva. Kita bisa memandang perbedaan ini secara seimbang dengan melihat dari saat petapa Gotama duduk di bawah pohon Bodhi dan mencapai pencerahan sebagai titik awal (nol).

Theravada dimulai pada dimensi “setelah” titik itu, di mana lebih banyak terdapat khotbah2 Sang Buddha waktu Beliau telah mencapai pencerahan. Mahayana pada dimensi “sebelum” titik itu, sehingga lebih menitikberatkan pada kehidupan Bodhisatta sebelum mencapai kebuddhaan, yang mengumpulkan kebajikan/parami2. Dengan pola pandang yang seimbang (horizontal) tersebut, kita tidak lagi saling mendiskriminasikan aliran agama satu dengan lainnya.

Kemudian, setelah tadi kita melihat perbedaan yang ada pada kedua tangan kita sendiri, kita bisa coba melihat pada kedua tangan orang lain yang ada di sekitar kita. Lebih bagus atau jelek tangan siapakah? Jika dalam hal tangan saja, kita bisa merasa bahwa tangan milik kita lebih bagus dari tangan orang lain, maka ada kecenderungan dalam hal agama, kita juga bisa memandang ajaran agama yang kita anut lebih bagus dan memandang rendah ajaran agama yang dianut orang lain.

Di sini yang lebih ditekankan adalah bagaimana diri kita sendiri dulu sebagai umat Buddha. Pembahasan mengenai agama sepertinya hal yang sangat sensitif, apalagi dengan umat yang kepercayaannya tidak satu versi dengan kita. Misalkan: kalau kita berbincang dengan seorang teman, tiba-tiba saat topik bahasannya lari ke pertanyaan, “kamu menganut agama/aliran kepercayaan apa?” dan kemudian ternyata jawabannya tidak sama seperti kepercayan kita, apakah kita akan risih atau menarik diri sejenak? Berpikir “oh, ternyata orang ini bukan dari golongan saya (seakan2 kita sendiri paling benar, orang lain sesat).”

Sering sekali kita lupa, bahwa tujuan utama setiap agama adalah untuk mengajarkan kepada manusia tentang bagaimana menjalani suatu kehidupan yang terhormat dan tidak membahayakan serta menemukan pembebasan dari penderitaan fisik dan mental. Ketika kita memilih satu kepercayaan, tidak lantas berarti ajaran agama yang kita pilih bagus sementara yang lainnya jelek. Kita bahagia meyakininya, bahagia menjalaninya semata-mata karena kita “cocok” dengan ajaran agama yang kita anut tersebut. Bukan perihal benar-salah/bagus-jelek.

Tidak jarang di antara kita yang tentu merasa telah mempunyai keyakinan yang kuat dan mantap (SADDHA) terhadap Dhamma-Vinaya dari Guru kita sendiri, Sang Buddha. Seolah tidak ada lagi keragu-raguan (VICIKICCHA) sedikitpun.

Apa kita benar2 yakin bahwa kita sudah memiliki SADDHA itu…?
Apakah benar kita se-yakin itu pada isi tulisan yang terdapat dalam Tipitaka….?
Kalau kita benar seyakin itu, wuahh..hebat!! berarti banyak di antara kita yang mengaku sudah mencapai tingkat kesucian Sotapanna.
Atau tanpa kita sadari, malah kita ini juga hanya percaya saja dari membaca buku2 yang berisi Sutta-Sutta Guru atau mendengar dhammadesana dari Sangha…? Sudahkah kita EHIPASSIKO secara sempurna dengan mem-PRAKTEK-kan sendiri seluruh ajaran Guru…?
Sudahkah JALAN ARYA BERUAS DELAPAN tersebut kita buktikan sendiri, bukan cuma mengerti secara baik teori dhamma belaka…?
Kalau belum, maka janganlah dulu kita terlalu percaya diri atau bangga dengan ajaran agama kita sendiri. Juga janganlah kita menganggap bahwa hanya ajaran agama kita sendirilah yang paling mulia, sementara yang lainnya keliru.

Bhante sendiri mengatakan, ketika pernah suatu kali ditanyai umat, Beliau masih menjawab BELUM YAKIN, harus satu-satu dibuktikan dan dilatih sendiri terlebih dahulu, sampai suatu saat ketika sudah mencapai pencerahan, baru bisa yakin bahwa sudah mencapai tingkat kesucian itu atau belum. Bhante berkata bahwa Beliau memang PERCAYA pada dhamma, tapi belum YAKIN sepenuhnya, masih terus dibuktikan. Kalau Beliau tidak percaya, tidak mungkin Beliau memilih ajaran Buddha dan menjadi Bhikkhu.

Dalam Tipitaka yang kita percayai (namun bukan yang kita terima begitu saja),
memang ada disebutkan bahwa selama ajaran dari seorang Buddha belum lenyap, maka Buddha yang baru tidak akan muncul. Seperti yang kita ketahui saat ini ajaran dari Buddha Sakyamuni masih ada. Kalaupun ada desas-desus muncul Buddha baru, pastilah bukan di Bumi tempat kita tinggal saat ini, melainkan di Bumi (alam) yang lain lagi. Karena Dhamma/ajaran dari para Buddha adalah sama, menyangkut Empat Kesunyataan Mulia. Kita masih berada dalam masa kejayaan Dhamma, di mana masih banyak buku berisi Dhamma dari Sang Guru, masih banyak Sangha, bisa disimpulkan kedatangan Buddha yang baru ke Bumi kita ini masih sangat lama sekali, kita sendiri masih dapat bertumimbal lahir dalam banyak lagi kehidupan sebelum kepunahan Dhamma ini. Kita boleh saja mempercayai, tapi belum tentu setiap orang juga akan “sesuai” dengan paham kita.

Sekali lagi, inilah yang dinamakan perbedaan itu. Ada seni dalam kehidupan kita. Kelihatan beraneka, namun di dalamnya tetap hanya 1Dhamma (kebenaran).

Seperti sebuah gelas yang dibentuk dengan berbagai macam motif, namun sesungguhnya itu tetap sebuah gelas yang fungsinya sama, hanya kita sendiri yang melihatnya sebagai berbeda dan kompleks. Begitu juga dengan berbagai aliran kepercayaan yang berbeda-beda, pikiran kita sendirilah yang melabelinya dengan berbagai macam merk.

Setiap agama apapun yang pada dasarnya mengarah pada “Hindari kejahatan, Lakukan Kebajikan, Sucikan Pikiran”, maka agama tersebut sesuai dengan Dhamma. Ada banyak cara pendekatan meraih kebahagiaan batin. Ritual ataupun berbagai macam metode dari masing2 umat agama hanya merupakan “tradisi” atau sebuah“kebiasaan” yang mereka jalani, yang mereka percayai. Seperti contoh sederhana, jubah yang dipakai oleh Bhikkhu di tempat kita tidak akan cocok dipakai oleh Bhiksu/Suhu di Tiongkok pada bulan November. Jubah2 Suhu di sana memang sudah dirancang sesuai untuk mereka kenakan di daerah itu. Jadi, tidaklah perlu dipermasalahkan. Senantiasa belajar menyesuaikan diri pada setiap kondisi yang berbeda. Jangan menyulut pertentangan/permusuhan. Sebaliknya, pupuklah persahabatan dengan menjaga kerukunan dengan sesama, saling menghargai perbedaan. Semoga Semua Makhluk Bahagia…

*****

Berikut ini saya juga mengutip beberapa pernyataan untuk bersama kita renungkan sejenak.

Raja Asoka
Kita tidak seharusnya memandang rendah, mengecam, atau bahkan menolak paham dari aliran/agama lain. Siapa saja yang menghormati agamanya sendiri dan mencela agama2 lain, berpikir bahwa ia sedang berbakti pada agamanya sendiri, namun dengan berbuat demikian ia justru melukai agamanya sendiri secara lebih menyedihkan. Dengan menghormati agama2 lain atas pertimbangan tertentu, seseorang membantu agamanya sendiri untuk tumbuh di samping juga tidak merugikan agama2 lain.

Mahatma Gandhi
Kita tidak bisa mengharapkan negara kita berkembang menjadi hanya satu agama yang sama semua, tetapi dalam perbedaan2 agama itu kita belajar bersikap toleran dan dapat bekerja sama satu sama lain.

YM Dalai Lama XIV
Setiap tindakan yang sadar dan yang bertujuan untuk membawa sebuah hasil
(akibat), muncul dari sebuah motivasi. Agama saya sangat sederhana. Motivasi utama saya- yaitu Cinta Kasih. Agama saya adalah kebaikan hati.

-Buddha- Majjhima Nikaya.
O para Bhikkhu, bahkan pandangan ini – Dhamma,
yang begitu suci dan begitu jelas,
jika Engkau mencengkeramnya kuat2,
jika Engkau menimang-nimangnya,
jika Engkau melekat padanya,
maka Engkau tidak mengerti,
bahwa ajaran itu sama seperti sebuah rakit,
yang mana digunakan untuk menyeberang,
bukannya untuk digenggam erat-erat.

With Metta,
Yumita Lenacari
http://groups.yahoo.com/group/samaggiphala/message/46739
Para bhikkhu, fajar berwarna kuning keemasan adalah pertanda awal terbitnya matahari.
Demikian pula, kesempurnaan sila adalah awal timbulnya Jalan Mulia Berunsur Delapan.
~Silasampada Sutta - Suryapeyyala~

Offline Fei Lun Hai

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 687
  • Reputasi: 24
  • Gender: Female
Re: Ceramah Bhante Uttamo "Satu Dhamma"
« Reply #1 on: 15 April 2008, 12:49:45 PM »
Quote
Theravada menuju pada Arahat, sedang Mahayana pada Bodhisattva. Kita bisa memandang perbedaan ini secara seimbang dengan melihat dari saat petapa Gotama duduk di bawah pohon Bodhi dan mencapai pencerahan sebagai titik awal (nol).

Theravada dimulai pada dimensi “setelah” titik itu, di mana lebih banyak terdapat khotbah2 Sang Buddha waktu Beliau telah mencapai pencerahan. Mahayana pada dimensi “sebelum” titik itu, sehingga lebih menitikberatkan pada kehidupan Bodhisatta sebelum mencapai kebuddhaan, yang mengumpulkan kebajikan/parami2.

Ada yg bisa menjelaskan hal ini? Apa maksudnya? Thanks  _/\_
your life simple or complex is depend on yourself

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.332
  • Reputasi: 414
  • Gender: Male
  • not self
Re: Ceramah Bhante Uttamo "Satu Dhamma"
« Reply #2 on: 15 April 2008, 02:32:14 PM »
theravada fokus pada sesudah pangeran siddharta menjadi buddha, jadi ajaran2xnya yg membebaskan kita.

kalau mahayana fokus pada bagaimana pangeran siddharta menjadi seorang buddha *termasuk pada kehidupan2x sbeleumnya*.
There is no place like 127.0.0.1

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
Re: Ceramah Bhante Uttamo "Satu Dhamma"
« Reply #3 on: 29 May 2008, 01:24:52 PM »
"Setiap agama apapun yang pada dasarnya mengarah pada “Hindari kejahatan, Lakukan Kebajikan, Sucikan Pikiran”, maka agama tersebut sesuai dengan Dhamma"
Ada yg Bisa jelaskan yg di bold atas??
APakah Maiterya sendiri memenuhi kriteria tersbt??
Jika Dhamma sendiri tlah dirubah apakah kita diam dan menutup sebelah mata saja??
APakah tetap berpegang teguh pada kerukunan dan berkata,"Itu hanya masalah keyakinan yg berbeda2?"
_/\_
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline o17co177

  • Teman
  • **
  • Posts: 86
  • Reputasi: 3
  • Gender: Male
  • A Night At The Opera
Re: Ceramah Bhante Uttamo "Satu Dhamma"
« Reply #4 on: 29 May 2008, 05:13:38 PM »
"Setiap agama apapun yang pada dasarnya mengarah pada “Hindari kejahatan, Lakukan Kebajikan, Sucikan Pikiran”, maka agama tersebut sesuai dengan Dhamma"

Apakah agama yang beraliran keras bisa disebut bukan agama?

Bagaimana pendapat anda tentang "kekerasan yang mengatasnamakan agama"?
Seaside whenever you stroll along with me
I'm merely contemplating what you feel inside
Meanwhile I ask you to be my Clementine
You say you will if you could but you can't
I love you madly
Let my imagination run away with you gladly
A brand new angle highly commendable
Seaside rendezvous

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
Re: Ceramah Bhante Uttamo "Satu Dhamma"
« Reply #5 on: 30 May 2008, 09:22:42 AM »
"Setiap agama apapun yang pada dasarnya mengarah pada “Hindari kejahatan, Lakukan Kebajikan, Sucikan Pikiran”, maka agama tersebut sesuai dengan Dhamma"
Nanya lagi..
Jika hal tersbt dipenuhi tetapi tdk mengakui Tiratana????
Tdk mengajarkan ttg 4kesunyataan Mulia,Hukum kamma,Punabhava,paticcasammupadda,dan tilakkhana?
Apakah masih disebut sesuai dgn Dhamma??
_/\_
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline o17co177

  • Teman
  • **
  • Posts: 86
  • Reputasi: 3
  • Gender: Male
  • A Night At The Opera
Re: Ceramah Bhante Uttamo "Satu Dhamma"
« Reply #6 on: 05 June 2008, 06:13:30 PM »
"Setiap agama apapun yang pada dasarnya mengarah pada “Hindari kejahatan, Lakukan Kebajikan, Sucikan Pikiran”, maka agama tersebut sesuai dengan Dhamma"
Nanya lagi..
Jika hal tersbt dipenuhi tetapi tdk mengakui Tiratana????
Tdk mengajarkan ttg 4kesunyataan Mulia,Hukum kamma,Punabhava,paticcasammupadda,dan tilakkhana?
Apakah masih disebut sesuai dgn Dhamma??
_/\_


mungkin tidak bisa dikatakan DHAMMA, tetapi pengertian DHAMMA itu sendiri menurut g sangat luas sekali..
jadi mungkin bisa jadi 4 kesunyataan mulia, hukum kamma, dll itu di agama lain memiliki "TEMA" yang berbeda..

SSMHB
Seaside whenever you stroll along with me
I'm merely contemplating what you feel inside
Meanwhile I ask you to be my Clementine
You say you will if you could but you can't
I love you madly
Let my imagination run away with you gladly
A brand new angle highly commendable
Seaside rendezvous

Offline June

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 160
  • Reputasi: 9
  • Buddhism is to be practised
Re: Ceramah Bhante Uttamo "Satu Dhamma"
« Reply #7 on: 02 July 2008, 12:07:52 PM »
 _/\_Salutku pada Yumi, apa yg ditulis Yumi ini isinya hampir semuanya sama dengan yg dibabarkan oleh Bhante Uttamo lo.... Yumi keren de...  8)

"Setiap agama apapun yang pada dasarnya mengarah pada “Hindari kejahatan, Lakukan Kebajikan, Sucikan Pikiran”, maka agama tersebut sesuai dengan Dhamma"
Ada yg Bisa jelaskan yg di bold atas??
APakah Maiterya sendiri memenuhi kriteria tersbt??
Jika Dhamma sendiri tlah dirubah apakah kita diam dan menutup sebelah mata saja??
APakah tetap berpegang teguh pada kerukunan dan berkata,"Itu hanya masalah keyakinan yg berbeda2?"
_/\_

Dear bro,
Mungkin saya menanggapi statement diatas sedikit. Agama tersebut sesuai dengan dhamma bukan berarti bahwa agama tersebut adalah agama Buddha, kan... Nah, kl menurut bhante inti ajaran Buddha Gautama adalah "Hindari kejahatan, lakukan kebajikan, sucikan hati dan pikiran." Namun, bnyak agama lain yg mengajarkan "Hindari kejahatan, lekukan kebajikan", ga nyampe ke "sucikan hati dan pikiran". Sy sndr tdk mengenal ajaran Maitreya, so sy tdk tau ajarannya itu seperti apa... Namun, kalo memang ajaran Maitreya mengajarkan "Hindari kejahatan, lakukan kebajikan, sucikan hati dan pikiran", maka ajarannya sesuai  dengan Dhamma...

Quote
Raja Asoka
Kita tidak seharusnya memandang rendah, mengecam, atau bahkan menolak paham dari aliran/agama lain. Siapa saja yang menghormati agamanya sendiri dan mencela agama2 lain, berpikir bahwa ia sedang berbakti pada agamanya sendiri, namun dengan berbuat demikian ia justru melukai agamanya sendiri secara lebih menyedihkan. Dengan menghormati agama2 lain atas pertimbangan tertentu, seseorang membantu agamanya sendiri untuk tumbuh di samping juga tidak merugikan agama2 lain.

Pernyataan Raja Asoka keren bngt.... Setuju bngt.....  ;)
« Last Edit: 02 July 2008, 12:11:44 PM by June »
Buddhist newsletter

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
Re: Ceramah Bhante Uttamo "Satu Dhamma"
« Reply #8 on: 02 July 2008, 12:33:20 PM »
Saya rasa ,silakan kepada saudara yang membuat judul ini kembali menoleh apa benar itu yang dikatakan oleh Bhante Uttamo?
Sedangkan yang saya baca didalam artikel Buddhis(B+)
Dikatakan sesuai dengan Dhamma jika didalam agama tersebut memiliki 4Kesunyataan Mulia,Hukum kamma,Punabhava,Tilakkhana.....
Mungkin pada sesi selanjutnya saya akan membawa artikel tersebut....

Salam,
Riky
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.665
  • Reputasi: 187
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Ceramah Bhante Uttamo "Satu Dhamma"
« Reply #9 on: 02 July 2008, 01:25:26 PM »
"Setiap agama apapun yang pada dasarnya mengarah pada “Hindari kejahatan, Lakukan Kebajikan, Sucikan Pikiran”, maka agama tersebut sesuai dengan Dhamma"
Nanya lagi..
Jika hal tersbt dipenuhi tetapi tdk mengakui Tiratana????
Tdk mengajarkan ttg 4kesunyataan Mulia,Hukum kamma,Punabhava,paticcasammupadda,dan tilakkhana?
Apakah masih disebut sesuai dgn Dhamma??
_/\_


Tentu kalimat yg dibold adalah suatu hal yg sesuai Dhamma. Coba perhatikan dan renungkan " Satu Dhamma" dan sesuai Dhamma. Dhamma banyak sekali sendi2nya dan bagian2nya. Dan agama2 ada yg mengajarkan "satu Dhamma" dan ada juga bagian2nya. Nah yg mengikuti atau yg mengajarkan bagian Dhamma sudah bisa dikatakan sesuai Dhamma pada bagian yg dimengerti. Tetapi bila tidak memahami"satu Dhamma" maka tidak membawa pada pembebasan atau Nibbana. jadi sebenarnya agama2 atau aliran banyak juga yg telah sesuai Dhamma.

Suatu agama sudah seharusnya menghargai suatu perbedaan agama lainnya dan menghindari gesekan2 yg mana banyak umat awam yg masih bergantung pada label. Dengan begitu agama tersebut telah jeli dalam menghindari kejahatan yg kasar ataupun yg halus sekalipun, dan telah melakukan kebajikan.

Dan dinamika yg terjadi masyarakat mengenai hidup keberagamaan adalah ada yg saling menghargai dan ada juga yg tidak menghargai.

Contoh2 yg menghargai saya rasa sudah jelas. Dan kasus tidak menghargai dengan frontalpun sudah jelas. Yang seringkali tidak dicermati oleh banyak orang adalah "tidak menghargai" dengan cara halus, misalnya dengan memberikan penjelasan menyimpang terhadap kaidah kebenaran agama tertentu dan penyimpangan tersebut dianggap suatu hal yg benar tanpa mencoba menggali kaidah yg sebenarnya dan penyimpangan tsb diatasnamakan kaidah kebenaran agama yg disimpangkan. Maka hal tersebut tidaklah sesuai dengan Dhamma dan hal inilah juga pandangan keliru. Contoh : Agama A punya suatu ajaran misal XWYZ berdasarkan kitab suci KEREN lalu B memiliki ajaran BEGO dengan kitab suci BUTEK , Dan B mengatakan ajaran BEGO sebagai agama A.

Jadi menghargai keanekaragaman beragama bukanlah terbatas pada tidak mencela ,tidak menghina agama lain tetapi menghargai kaidah yg terkandung dan landasan kebenaran yg terkandung dalam agama itu.

Bahan renungan : Satu Dhamma adalah kebenaran yg hanya memiliki satu cita rasa bukan banyak rasa(benarkah demikian?). Dan renungkan pula sesuai Dhamma.

Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
Re: Ceramah Bhante Uttamo "Satu Dhamma"
« Reply #10 on: 02 July 2008, 01:32:47 PM »
Dhamma begitu luas...
Jangan hanya karena 1bagian Dhamma yang kecil lantas mengklaimnya sebagai Dhamma yang Mutlak...Mengklaimnya sebagai Kebenaran....Mengklaimnya sebagai ajaran Bhagava...
Jika disana hanya terdapat 1bagian Dhamma dan lainnya hanyalah berisi "debu"?Lantas itu tetap disebut agama yang sesuai Dhamma?
Sedangkan Didalam tubuh agama Buddha sendiri,ada beribu2 Dhamma tapi hanya segelintir orang yang benar2 memahaminya....
Apalagi didalam aliran lain yang cuma mencaplok sedikit Dhamma dan sisanya hanyalah "debu".....:)

Salam,
Riky
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.740
  • Reputasi: 234
  • Gender: Male
Re: Ceramah Bhante Uttamo "Satu Dhamma"
« Reply #11 on: 02 July 2008, 01:36:25 PM »
Pak Handaka pernah bilang, "Jangan berbuat jahat, Lakukan kebajikan, Sucikan hati dan pikiran" itu mencakup sila (jangan berbuat jahat), samadhi (lakukan kebajikan), dan panya (sucikan hati dan pikiran).

Hal yang sama dengan satu kendaraan jalan (ekayana magga), satu jalan mulia beruas delapan, sama dengan 4 landasan perhatian penuh.

Tentu saja hal ini mencakup hukum kamma, dan hal-hal lain yang oleh sebagian orang malah dihindari, tetapi diajarkan oleh Sang Buddha.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
Re: Ceramah Bhante Uttamo "Satu Dhamma"
« Reply #12 on: 02 July 2008, 02:08:42 PM »
Pak Handaka pernah bilang, "Jangan berbuat jahat, Lakukan kebajikan, Sucikan hati dan pikiran" itu mencakup sila (jangan berbuat jahat), samadhi (lakukan kebajikan), dan panya (sucikan hati dan pikiran).
Saya ingin bertanya,"Jika anda menyuruh sila dan samadhi,maka kebanyakkan orang akan terbuai pada sila dan samadhi dan lupa terhadap panya" :)
Panya sudah mencakup semuanya....

Salam,
Riky
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Yong_Cheng

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 280
  • Reputasi: 16
  • Gender: Male
Re: Ceramah Bhante Uttamo "Satu Dhamma"
« Reply #13 on: 02 July 2008, 02:38:29 PM »
mau nanya, bingung nih dhamma/dharma/Dhamma/Dharma (dengan huruf kapital) bedanya apa? sejarah kata Dhamma/Dharma berasal dari mana? mohon pencerahan ^:)^
 _/\_
Perjalanan seribu mil diawali dengan satu langkah kaki

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.740
  • Reputasi: 234
  • Gender: Male
Re: Ceramah Bhante Uttamo "Satu Dhamma"
« Reply #14 on: 02 July 2008, 04:55:18 PM »
Bahasanya om, Bahasa Sang Buddha kan Bahasa pada jaman itu. Terus pecah jadi dua bahasa, Pali dan Sansekerta.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days