topic short url: http://dhct.ws/f22419

Author Topic: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha  (Read 2132 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Shinichi

  • Sebelumnya: Seniya
  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.654
  • Reputasi: 154
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« on: 03 May 2012, 07:48:03 AM »
Bagaimana pandangan Buddhis terhadap jati diri? Apakah bertentangan dg ajaran Anatta?

Utk pengertian jati diri menurut pandangan umum bisa dilihat di
Sorry, you are not allowed to see this part of the text. Please login or register.
"Only through deduction does the real image of truth appear."
"When you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Indra

  • Pensiunan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.392
  • Reputasi: 441
  • Gender: Male
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #1 on: 03 May 2012, 07:56:17 AM »
itu jadi diri menurut pandangan wongso, bukan pandangan umum. secara buddhis jelas tidak ada diri apakah yg dari jati atau dari mahoni dll.

Offline Shinichi

  • Sebelumnya: Seniya
  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.654
  • Reputasi: 154
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #2 on: 03 May 2012, 08:15:21 AM »
:)

Itu kan cuma contoh yg mewakili pandangan umum aja....
"Only through deduction does the real image of truth appear."
"When you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Ms. Q

  • Teman
  • **
  • Posts: 67
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #3 on: 03 May 2012, 10:15:09 AM »
itu jadi diri menurut pandangan wongso, bukan pandangan umum. secara buddhis jelas tidak ada diri apakah yg dari jati atau dari mahoni dll.

om andrie itu buddhist kk...

Offline Rico Tsiau

  • Kebetulan terjoin ke DC
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.970
  • Reputasi: 116
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #4 on: 03 May 2012, 10:23:51 AM »
om andrie itu buddhist kk...

lalu? kenapa?

Offline Indra

  • Pensiunan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.392
  • Reputasi: 441
  • Gender: Male
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #5 on: 03 May 2012, 10:56:25 AM »
om andrie itu buddhist kk...

benar, lalu kenapa? sptnya saya tidak sedang membahas soal apakah seseorang adalah buddhis atau bukan buddhis, melainkan lebih kepada topik "jati-diri", posisi Buddhism dalam hal DIRI sudah saya sampaikan di atas

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.835
  • Reputasi: 106
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #6 on: 04 May 2012, 05:25:41 AM »
om andrie itu buddhist kk...

ya, selain om andrie masih banyak orang yang harus diakui buddhist kk... :))
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline GandalfTheElder

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.480
  • Reputasi: 75
  • Gender: Male
  • Exactly who we are is just enough (C. Underwood)
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #7 on: 04 May 2012, 06:55:17 AM »
 [at] ariyakumara

Tidak bertentangan. Saya prnh bertanya pada Ajahn Brahm: "Ajahn, kenapa para bhikkhu terkadang ngomong tidak ada aku (anatta) tetapi terkadang juga ngomong jadilah diri kita sendiri?" Ajahn Brahm menjawab: "Itu berarti anda dapat menjadi apapun yang anda inginkan! Karena tidak ada aku (anatta), maka jadilah apapun yang kita suka." Seorang ayah bisa juga adalah seorang anak, demikian sebaliknya. Seorang pelukis bisa saja seorang arsitek atau koki. Jati diri yang manakah kita? Karena Anatta kita dapat terus beradaptasi.

Dalam pandangan Mahayana juga demikian. Justru karena semua bersifat Anatman dan Sunyata, maka berbagai potensi dan kemungkinan bisa muncul dalam "diri" kita. Seperti yg dikatakan Andrie Wongso, banyak potensi di dalam diri kita, kualitas-kualitas yang baik. Dahulu di board Mahayana saya pernah bahas ini, bahwa Shunyata adalah suatu konsep yang menyatakan bahwa hidup ini selalu berubah-ubah, dinamis dan penuh potensi.

Sorry, you are not allowed to see this part of the text. Please login or register.


Perumpamaan Andrie ttg air dan ombak sebenarnya adalah pengertian anitya. Setiap waktu sellau berubah-ubah, air bisa jadi ombak.

Andrie juga berkata, kita sama-sama manusia, tidak ada alasan menjadi kerdil. Dalam filsafat Tiantai, setiap manusia memiliki 10 dunia di dalamnya, dari Buddha sampai neraka. Semua manusia sama, memiliki potensi 10 alam, menjadi Buddha, Bodhisattva, Arhat, Dewa, Manusia, Hewan, Asura, Preta atau masuk ke Neraka. Semuanya sederajat, semuanya mempunyai potensi tertinggi menjadi Buddha, jangan kita jadi kerdil lagi. 10 Dunia ini adalah potensi dari Anatman. Ada potnesi kemampuan yang luar biasa dalam diri kita untuk menjadi Dewa (berkelimpahan, kekayaan) bahkan sampai untuk menjadi Buddha.

 _/\_
« Last Edit: 04 May 2012, 07:00:17 AM by GandalfTheElder »
Theravada is my root. This is the body of my practice.... It [Tibetan Buddhism]has given me my Compassion practice. Vajrayana is my thunder, my power. This is the heart of my practice..True wisdom is simple and full of lightness and humor. Zen is my no-self (??). This is the soul of my practice.

Offline tesla

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.406
  • Reputasi: 125
  • Gender: Male
  • bukan di surga atau neraka, hanya di sini
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #8 on: 04 May 2012, 09:18:32 AM »
Bagus banget kata ajahn Brahm. Krn anatta kita bisa menjadi apa saja. Cuma nasehatin utk menjadi diri sendiri saya ga setuju. Tujuan akhir umat Buddha adalah berhenti menjadi. (Tentunya ini ga akan cocok dibicarakan motivator)
Lepaskan keserakahan akan kesenangan. Lihatlah bahwa melepaskan dunia adalah kedamaian. Tidak ada sesuatu pun yang perlu kau raup, dan tidak ada satu pun yang perlu kau dorong pergi. ~ Buddha ~

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.400
  • Reputasi: 422
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #9 on: 04 May 2012, 09:51:46 AM »
Bagus banget kata ajahn Brahm. Krn anatta kita bisa menjadi apa saja. Cuma nasehatin utk menjadi diri sendiri saya ga setuju. Tujuan akhir umat Buddha adalah berhenti menjadi. (Tentunya ini ga akan cocok dibicarakan motivator)
kalau tujuan menjadi bodisatwa itu tujuan umat buda bukan?
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline tesla

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.406
  • Reputasi: 125
  • Gender: Male
  • bukan di surga atau neraka, hanya di sini
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #10 on: 04 May 2012, 12:09:52 PM »
menjadi bodhisatwa itu tujuan akhirnya menjadi Buddha juga.

jadi harusnya sarannya:
jadilah arahat atau jadilah Buddha ;)
Lepaskan keserakahan akan kesenangan. Lihatlah bahwa melepaskan dunia adalah kedamaian. Tidak ada sesuatu pun yang perlu kau raup, dan tidak ada satu pun yang perlu kau dorong pergi. ~ Buddha ~

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.000
  • Reputasi: 43
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #11 on: 04 May 2012, 03:34:58 PM »
Diri yang sebenarnya hanya lah perpaduan, kondisi yang saling mendukung. Tapi karena terjebak pandangan salah maka menganggap diri itu ada dan nyata.

Manusia membuat jati diri karena mencari tujuan hidup. Dan itu akan semakin membuat pandangan akan diri semakin nyata.(melekat pada pandangan diri)

Offline Shinichi

  • Sebelumnya: Seniya
  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.654
  • Reputasi: 154
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #12 on: 04 May 2012, 06:07:33 PM »
[at] ariyakumara

Tidak bertentangan. Saya prnh bertanya pada Ajahn Brahm: "Ajahn, kenapa para bhikkhu terkadang ngomong tidak ada aku (anatta) tetapi terkadang juga ngomong jadilah diri kita sendiri?" Ajahn Brahm menjawab: "Itu berarti anda dapat menjadi apapun yang anda inginkan! Karena tidak ada aku (anatta), maka jadilah apapun yang kita suka." Seorang ayah bisa juga adalah seorang anak, demikian sebaliknya. Seorang pelukis bisa saja seorang arsitek atau koki. Jati diri yang manakah kita? Karena Anatta kita dapat terus beradaptasi.

Dalam pandangan Mahayana juga demikian. Justru karena semua bersifat Anatman dan Sunyata, maka berbagai potensi dan kemungkinan bisa muncul dalam "diri" kita. Seperti yg dikatakan Andrie Wongso, banyak potensi di dalam diri kita, kualitas-kualitas yang baik. Dahulu di board Mahayana saya pernah bahas ini, bahwa Shunyata adalah suatu konsep yang menyatakan bahwa hidup ini selalu berubah-ubah, dinamis dan penuh potensi.

Sorry, you are not allowed to see this part of the text. Please login or register.


Perumpamaan Andrie ttg air dan ombak sebenarnya adalah pengertian anitya. Setiap waktu sellau berubah-ubah, air bisa jadi ombak.

Andrie juga berkata, kita sama-sama manusia, tidak ada alasan menjadi kerdil. Dalam filsafat Tiantai, setiap manusia memiliki 10 dunia di dalamnya, dari Buddha sampai neraka. Semua manusia sama, memiliki potensi 10 alam, menjadi Buddha, Bodhisattva, Arhat, Dewa, Manusia, Hewan, Asura, Preta atau masuk ke Neraka. Semuanya sederajat, semuanya mempunyai potensi tertinggi menjadi Buddha, jangan kita jadi kerdil lagi. 10 Dunia ini adalah potensi dari Anatman. Ada potnesi kemampuan yang luar biasa dalam diri kita untuk menjadi Dewa (berkelimpahan, kekayaan) bahkan sampai untuk menjadi Buddha.

 _/\_

Terima kasih, suatu pengertian yg baru bagi saya... :)

Diri yang sebenarnya hanya lah perpaduan, kondisi yang saling mendukung. Tapi karena terjebak pandangan salah maka menganggap diri itu ada dan nyata.

Manusia membuat jati diri karena mencari tujuan hidup. Dan itu akan semakin membuat pandangan akan diri semakin nyata.(melekat pada pandangan diri)

Jika tidak ada tujuan hidup, bagaimana kita menjalankan hidup ini? Apakah seperti musafir yg berkelana tanpa tujuan?
"Only through deduction does the real image of truth appear."
"When you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.835
  • Reputasi: 106
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #13 on: 04 May 2012, 09:02:35 PM »
Terima kasih, suatu pengertian yg baru bagi saya... :)

Jika tidak ada tujuan hidup, bagaimana kita menjalankan hidup ini? Apakah seperti musafir yg berkelana tanpa tujuan?

...
Inilah, o para Bhikkhu, Kebenaran Ariya tetang asal mula penderitaan (dukkasamudaya ariyasacca), yakni kesenangan (tanha), inilah, yang membuat kelahiran kembali, yang disertai dengan hawa nafsu dan kegemaran, yang menggemari objek disana sini, yakni :
kamatanha : kesenangan terhadap nafsu indrawi
bhavatanha : kesenangan terhadap kemenjadian
vibhavatanha : kesenangan  terhadap ketidak-menjadian
....
cuplikan Dhammacakka-Pavattana Sutta
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline GandalfTheElder

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.480
  • Reputasi: 75
  • Gender: Male
  • Exactly who we are is just enough (C. Underwood)
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #14 on: 05 May 2012, 06:12:41 AM »
 [at] tesla (and ariyakumara)

Saya kira "menjadi diri sendiri" ini adalah bahasa awam untuk membuat orang-orang mengerti. Seperti yang Buddha sendiri katakan, pengertian Tathagatagarbha atau Diri Sejati (Mahatman) sebenarnya adalah upaya terampil untuk menjelaskan Shunyata / Anatman bagi mereka yang masih belum mengerti / masih terikat pandangan Atman sehingga lbh mudah mencerna.

Kalu Rinpoche pernah berkata:
"Take a break. Be yourself. When you are trying to be like someone, it doesn't make you a Buddha. When you be yourself, you are the Buddha"

Ajahn Brahm pernah berkata:
Your true home is inside of yourself. You can see that in your meditation. Home is a place where you can just be yourself, be at peace, be at ease, be nothing, just empty and free.

Itulah makna menjadi diri sendiri dalam Buddhisme: diri sejati yang bebas, kosong, tidak ada apa-apa alias Buddha. Ini adalah pengertian Anatman / Anatta. Kita beristirahat di dalam Alaya, kita berada saat ini, dan beristirahat dalam momen ini, sadar akan diri kita sepenuhnya, be yourself.

Tentu dalam Buddhisme kita mempunyai tujuan hidup. Seperti kata Ajahn Chah, kita menggunakan keinginan untuk mencapai non-keinginan. Kita  berusaha menjadi / menemukan tujuan hidup untuk mencapai sesuatu yang "tanpa tujuan" dan "tanpa kemenjadian"

Desire is a defilement. But we must first have desire in order to start practicing the Way. Suppose you went to buy coconuts at the market and while carrying them back home someone asked: "Why did you buy those coconuts?" "I bought them to eat," you reply. "Are you going to eat the shells, too?" "Of course not!" "I don't believe you," he insists. "If you're not going to eat the shells, then why did you buy them?" Well, what do you say? How are you going to answer that question?

We practice with desire to begin with. If we didn't have desire, we wouldn't practice. Contemplating in this way can give rise to wisdom, you know. For example, those coconuts: Are you going to eat the shells as well? Of course not. Then why do you take them? They're useful for wrapping the coconuts in. If after eating the coconuts you throw the shells away, there is no problem. Our practice is the same. We keep desire first, just like we do with the coconut shells, for it's still not time to "throw" it away. This is how the practice is. If somebody wants to accuse us of eating coconut shells, that's their business. We know what we're doing.
(Ajahn Chah)

Tapi tentu "tanpa tujuan" dan "tanpa kemenjadian" seharusnya tidak dimaknai secara negatif. Pemahamannya adalah: kita bisa bebas sepenuhnya menentukan tujuan dan mau menjadi apa, tanpa TERIKAT "diriku itu sebenarnya begini, tidak bisa kalau begitu, atau ooo seharusnya diriku gini, aku percaya diriku gini, maka aku harus seperti itu (rata2 orang kaya gini)."

Jadi kita bisa fleksibel sepenuhnya dan mampu menggunakan potensi yang tidak terbatas dari pikiran kita, inilah kebijaksanaan atau prajna.

 _/\_
« Last Edit: 05 May 2012, 06:16:48 AM by GandalfTheElder »
Theravada is my root. This is the body of my practice.... It [Tibetan Buddhism]has given me my Compassion practice. Vajrayana is my thunder, my power. This is the heart of my practice..True wisdom is simple and full of lightness and humor. Zen is my no-self (??). This is the soul of my practice.