topic short url: http://dhct.ws/f18845

Author Topic: APAKAH SUTRA TERATAI DIPENGARUHI JAINISME?  (Read 4479 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Aryacetana

  • Tamu
  • *
  • Posts: 44
  • Reputasi: 3
  • Gender: Male
  • Buddhist KTP (Kritis, To-the-Point)
APAKAH SUTRA TERATAI DIPENGARUHI JAINISME?
« on: 30 November 2010, 08:21:58 AM »
Walaupun judulnya ‘serem’ namun gw nggak bermaksud ‘merendahkan’ Mahayana lho. ^:)^ No offense ^:)^.

Tujuan saya membuka diskusi ini adalah untuk membuka mata rekan-rekan se-dharma/dhamma sekalian bahwa kita semua tidak pernah tahu siapa yang benar : Theravada atau Mahayana. Klaim bahwa masing-masing aliran adalah aliran PALING BENAR adalah klaim yang mendorong saya menjadi Buddhist non sektarian.

Saya terdorong membuka diskusi ini setelah saya membaca topic yang dibuat freecloud79: ADAKAH ALIRAN THERAVADA + MAHAYANA
Sorry, you are not allowed to see this part of the text. Please login or register.

Yang mana saya mulai memberikan komentar di halaman 9 topik itu.

Sutra Teratai memiliki 28 bab, versi Indonesianya dapat dibaca di Saddharma Pundarika Sutra 
Sorry, you are not allowed to see this part of the text. Please login or register.
atau versi English-nya dapat dibaca di The Lotus Sutra
Sorry, you are not allowed to see this part of the text. Please login or register.
adalah Sutra Mahayana yang konon paling SUPER karena merupakan sejenis sutra yang konon disabdakan Sang Buddha pada tahun-tahun terakhir sebelum parinibbana, semacam rangkuman semua ajaran Buddha 40 tahun sebelumnya.

Konon Sutra Teratai dikhotbahkan selama 8 tahun oleh Sang Buddha sebelum Sang Buddha Parinibanna/Parinirvana (Daisaku Ikeda, Buddhisme Seribu Tahun Pertama, Bab 8 Pembentukan Sutra Teratai, halaman 122).

Mengapa Sutra Teratai disebut SUPER? Karena Sutra Teratai dengan gamblang menyebutkan bahwa Buddha hanya menyediakan SATU jalan/kendaraan yaitu jalan/kendaraan bagi semua umat manusia untuk menjadi BUDDHA itu sendiri (atau minimal BODHISATVA). Tidak berhenti pada pencapaian Arahat/Arhat (seperti yang dipatok Theravada) atau Pacceka/Pratekya Buddha.  Seperti yang disebut dalam bab dua Sutra Teratai
Sorry, you are not allowed to see this part of the text. Please login or register.


Berikut beberapa kutipan Sutra Teratai bab dua : Upaya Kausalya (Skilfull Means) yang paling menghebohkan (bagi penganut Theravada) :

Quote
Sang Buddha bersabda lagi dengan syair :
"Cukuplah sudah, tiada gunanya berkata lagi,
HUKUM-Ku sangat dalam dan sulit diselami;
Mereka yang tinggi hati, ketika mendengarnya
Tidak akan mempercayainya dengan sungguh hati."

Quote
Ketika Beliau selesai bersabda demikian, kemudian di dalam persidangan itu bangkitlah 5000 bhiksu, bhiksuni, upasaka dan upasika dari tempat duduknya dengan segera bersujud kepada Sang Buddha, setelah itu mereka mengundurkan diri. Karena akar kedosaan yang ada di dalam diri orang-orang ini sangat begitu dalam dan sifat sombongnya sangat besar sehingga mereka berpendapat bahwa mereka telah memperoleh apa yang sebenarnya belum mereka dapatkan dan telah membuktikan apa yang sebenarnya belum mereka buktikan.

Quote
Seluruh hukum-hukum Kesunyataan ini hanya di peruntukkan bagi SATU KENDARAAN Buddha sehingga para mahluk hidup yang telah mendengar HUKUM dari para Buddha itu pada akhirnya dapat memperoleh pengetahuan yang sempurna.

Quote
Diseluruh alam semesta ini sesungguhnyalah tidak terdapat 2 kendaraan, apalagi yang ketiga.

Quote
Jika para pengikutKu yang menyebut dirinya sebagai Arhat ataupun Pratyekabuddha, maka mereka tidak akan mendengar atau mengerti bahwa para Buddha Tathagata hanya mengajar para Bodhisatva saja dan orang-orang ini bukanlah pengikut-pengikut Sang Buddha maupun Arhat ataupun Pratyekabuddha.

Namun, saya pribadi walaupun merasa bahwa tujuan Bodhisatva itu nampaknya lebih mengena di hati saya, namun saya tak suka ketika Sutra Teratai ini secara implisit/tersirat ‘menyerang’ Theravada.  :)  ^:)^

Menurut Daisaku Ikeda, Sutra Teratai merupakan sebuah Sutra Mahayana yang mengkritik pedas Hinayana (baca: Theravada).  Saya pribadi, sebagai non sektarian, tidak begitu suka dengan istilah Hinayana yang dipakai untuk ‘merendahkan’ Theravada. :) ^:)^

Mari kita periksa langsung Sutra Teratai khususnya Bab XV MUNCULNYA BODHISATVA DARI BUMI
Sorry, you are not allowed to see this part of the text. Please login or register.

Ternyata memang benar, bahwa sutra ini mengkritik pedas Hinayana (perhatikan yang saya kapital/besar-kan hurufnya).
Quote
Kemudian didalam pertemuan agung para Bodhisatva itu, Sang Buddha bersabda demikian, “Begitulah, begitulah, putera-puteraKu yang baik ! Sang Tathagata berada dalam keadaan yang baik-baik saja dengan sedikit rasa sakit dan duka. Para umat ini sangat mudah dirubah dan Aku pun tidak bercemas hati lagi. Karena seluruh umat ini selama banyak generasi telah tiada henti-hentinya menerima petunjukKu dan memuliakan serta memuja para Buddha yang terdahulu yang telah membina akar-akar kebajikan. Sejak pertama kali para mahluk ini melihatKu dan mendengarkan khotbahKu, semua menerimanya dengan penuh keyakinan dan masuk kedalam kebijaksanaan Sang Tathagata, KECUALI mereka yang telah terlebih dahulu menjalankan dan mempelajari tentang KENDARAAN KECIL [baca: HINAYANA]; namun demikian orang-orang semacam ini, sekarang telah Aku buat mereka mendengar Sutra ini dan masuk kedalam bijak-kebuddhaan”

Namun di sisi lain, dari beberapa istilah yang dipakai dalam sutra Teratai ini, jelas sekali bahwa sutra Teratai ini mengambil istilah-istilah Jainisme, sebuah ajaran non Buddhisme, misalnya istilah JINA & SRAVAKA yang nanti akan saya eksplorasi lebih lanjut. :) ^:)^
 

---000---

Konon pula, menurut Theravada, ketika Sang Buddha hidup, Sang Buddha dimusuhi oleh Nigantha Nataputta [Pali] / Nigantha Nataputra [Sansekerta], seorang pemimpin terkenal Jainisme. Theravada paling anti terhadap Jainisme.

Bahkan Theravada melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa Nigantha Nataputta adalah Mahavira, Jain/Tirthankara terakhir, Bapa Jainisme.

Referensi Mahavira sebagai Jain terakhir
Sorry, you are not allowed to see this part of the text. Please login or register.

Quote
The 24th, and last Tirthankar is Mahavir, lived from 599 to 527 BC…

Referensi Theravada yang menyamakan Nigantha Nataputta dengan Mahavira:
DICTIONARY OF PALI NAMES 
Sorry, you are not allowed to see this part of the text. Please login or register.

Quote
Nigantha Nātaputta is the name by which the Jaina teacher, Mahāvīra, was known to his contemporaries…..

Bahkan konon Nigantha Nataputta bekerjasama dengan Devadatta.

---000----

Masih menurut Daisaku Ikeda (seorang intelektual awam dari Buddhisme Nichiren), Sang Buddha pada tahun-tahun terakhirnya mengubah metode dalam menyampaian gagasannya disesuaikan dengan kemampuan berpikir para pendengar Dharma (halaman 125,  Bab 8, Buddhisme Seribu Tahun Pertama).

Berikut saya kutip argumen Daisaku Ikeda di halaman 125 buku Buddhisme Seribu Tahun Pertama.
Quote
Shakyamuni memulai karir wejangannya sebagai pribadi tunggal menantang dunia intelektual India kuno. Nampaknya dia mula-mula mengarahkan percakapannya terutama kepada para pertapa…sambil meniadakan pandangan para Brahmana dan … enam guru atau pemikir bebas yang tidak ortodoks…

By the way, Nigantha Nataputra adalah satu dari enam guru/ pemikir bebas atau shramana /  sramana / samana tersebut.
http://en.wikipedia.org/wiki/Shramana
6 Samana/Sramana/Shramana dalam teks Pali/Theravada yaitu Sāmaññaphala Sutta:
1) Purana Kassapa: Amoralisme
2) Makkhali Gosala: Fatalisme
3) Ajita Kesakambali: Materialisme/Nihilisme
4) Pakudha Kaccayana: Eternalisme
5) Nigantha Nataputta : Jainisme/Asketisme
6) Sanjaya Belatthaputta : Agnostik-isme

Jadi Daisaku Ikeda secara IMPLISIT MENOLAK bahwa Sutra Teratai dipengaruhi Jainisme dengan menyajikan argumen bahwa Buddha menolak pandangan enam guru/pemikir bebas. Padahal kalau kita analisis, Sutra Teratai memakai istilah-istilah Jainisme. :) ^:)^

---000---

Saya berikan Bab Pertama Sutra Teratai yang menunjukkan bahwa Sutra Teratai memakai istilah-istilah Jainisme.

Sorry, you are not allowed to see this part of the text. Please login or register.


Lokasi: Gunung Gridhrakuta, kota Rajagraha, negara Magadha
Waktu: 40 tahun lebih setelah Penerangan Sempurna

Yang hadir:
1) Arahat (baca: Bhiksu), misalnya Maha Kasyapa, Ananda, Sariputra, Maudgalyayana
2) Bodhisatva, misalnya Manjusri, Maitreya, Avalokitesvara, Maha Stamaprapta
3) Dewa-dewa misalnya Indra, Candra, Surya, Ishvara
4) Naga-naga
5) Garuda-garuda
6) Raja-raja misalnya Ajathasatru (putra Bimbisara)
7) dll
Singkat kata : SEMUA DEWA & MANUSIA

Dalam bab satu Sutra Teratai ini dikisahkan Bodhisatva Maitreya (yang saat itu bernama Ajita) bertanya dengan penuh keheranan kepada Bodhisatva Manjusri mengenai begitu ‘plural’nya yang hadir mulai dari bhiksu-bhiksuni, upasaka-upasika, bodhistva-mahasatva, dewa-asura, naga-garuda, sampai raja-raja dari negara/kerajaan besar dan kecil.

Bodhisatva Manjusri menjawab pertanyaan Bodhisatva Maitreya bahwa pada zaman dulu hidup seorang Buddha bernama Candra-surya-pradipa.

Quote
"Anak-anakku yang baik. Pada zaman dahulu yang tak terjangkau, terbatas dan tanpa awal asamkhyaya kalpanya, hiduplah seorang Buddha bernama Sang Candrasuryapradipa Tathagata, Raja diraja, waskita, memiliki kebijaksanaan agung, telah mencapai Maha Pari Nirvana, maha mengetahui dunia, pemimpin besar, maha jina, guru besar para dewa naga dan manusia, Buddha, Yang Dihormati Dunia.

Beliau mengikrarkan Hukum Agung yang baik pada permulaannya, baik pada pertengahannya, dan baik pula pada akhirnya, yang mempunyai arti yang sangat dalam, dengan kata-kata yang sedap didengarnya, murni tanpa cacat, serba tepat dan tanpa salah dan Agung dalam pementasannya. Bagi mereka yang ingin menjadi Sravaka, Beliau memberikan tanggapan terhadap Hukum Empat Kesunyataan Mulia, yang mengatasi kelahiran, usia tua, sakit dan kematian dan akhirnya jalan ke Nirvana, bagi mereka yang mencari tingkat Praceka Buddha, Beliau memberikan tanggapan ke arah Hukum Paticca Samupaddha ( 12 nidana ); bagi mereka yang menuju ke KeBodhisatvaan, beliau memberikan tanggapan dengan penerangan tentang Sad-Paramita yang akan membawa mereka kearah Penerangan Agung dan mendapat Pengertian Sempurna.

Jawaban Bodhisatva Manjusri yang mengkaitkan ‘hubungan’ antara Ariya-sacca /4 Kebenaran Mulia (mengenai dukkha, penyebab dukkha, berakhirnya dukkha, dengan Jalan Mulia Beruas Delapan) dengan Sravaka, Paticca-samuppada dengan Pacceka Buddha, Sad-paramita dengan Bodhisatva adalah sesuatu yang cukup kontroversial, minimal cukup ‘ganjil’ ditinjau dari sudut pandang Theravada. :) ^:)^

Disini, bagaimanapun juga, dipakai istilah Sravaka (sebuah sebutan untuk umat awam Jainisme). :) ^:)^

Referensi mengenai istilah SRAVAKA dalam Jainisme
Sorry, you are not allowed to see this part of the text. Please login or register.

Quote
…the Shravak and Shravika are the lay men and women…
Kesimpulan: sravaka/sravika identik dengan upasaka/upasika dalam Theravada

Apakah pemakaian istilah SHRAVAKA yang khas Jainisme ini menunjukkan adanya hubungan erat antara Jainisme dengan Buddhisme? :) ^:)^

Bahkan sebelumnya (masih di bab satu) ada kutipan yang menggambarkan Bodhisatva Manjusri sebagai orang yang telah memiliki pengetahuan sempurna/ JINA/ JAIN.

Quote
"Disini hadir Manjusri, Putera Buddha yang telah dapat menjadi JINA, yang selalu berhubungan dan bersujud kepada para Buddha yang lampau dan pernah pula menyaksikan tanda-tanda kegaiban seperti ini. Baiklah kutanyakan padaNya"

Apakah pemakaian istilah JINA/JAIN yang khas Jainisme ini menunjukkan adanya hubungan erat antara Jainisme dengan Buddhisme? :) ^:)^


---000---

Jadi ada dua pertanyaan saya yang intinya serupa:
1) Apakah pemakaian istilah JINA/JAIN yang khas Jainisme ini menunjukkan adanya hubungan erat antara Jainisme dengan Buddhisme? :) ^:)^
2) Apakah pemakaian istilah SHRAVAKA yang khas Jainisme ini menunjukkan adanya hubungan erat antara Jainisme dengan Buddhisme? :) ^:)^

Dua pertanyaan itu terkait erat dengan topik: APAKAH SUTRA TERATAI DIPENGARUHI JAINISME? :) ^:)^

Ini akan menjadi diskusi yang seru, tapi saya harap teman-teman se-Dharma/Dhamma MENJAGA SUASANA DISKUSI agar tidak menjadi DEBAT PANAS yang saling MENCACIMAKI. :) :) ^:)^

Mari kita lihat apakah diskusi ini akan menjadi debat kusir atau tidak.  :) :) ^:)^

Diskusi dimulai…
« Last Edit: 30 November 2010, 08:49:32 AM by Aryacetana »
i'm a non-god-ly human being _/\_
it means if gods (of any religions) try to play 'GOD' on me, i will 'HUMAN-ize' them :))

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.763
  • Reputasi: 261
Re: APAKAH SUTRA TERATAI DIPENGARUHI JAINISME?
« Reply #1 on: 30 November 2010, 10:37:35 AM »
Numpang tanya, "Hinayana" ini diajarkan oleh siapa yah?

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.076
  • Reputasi: 56
  • Gender: Male
Re: APAKAH SUTRA TERATAI DIPENGARUHI JAINISME?
« Reply #2 on: 30 November 2010, 11:55:19 AM »
mungkin kesamaan istilah itu bukan hal yg besar. Toh Jainisme dan Buddhisme hidup dan berkembang di lingkungan yg sama dengan bahasa yg sama

Apalagi pertapa Gotama sebelumnya juga belajar macam-macam aliran sebelum duduk di bawah pohon Bodhi
Atau mungkin Buddha mengajar memakai kosakata Jain supaya bisa lebih mudah dicerna oleh mereka
Atau mungkin Sutra Teratai ditulis murid Buddha yg bekas pengikut Jainisme

banyak kemungkinan
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline Shinichi

  • Sebelumnya: Seniya
  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.654
  • Reputasi: 154
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: APAKAH SUTRA TERATAI DIPENGARUHI JAINISME?
« Reply #3 on: 30 November 2010, 08:19:41 PM »
Yup, mungkin saja kedua ajaran (Buddhisme dan Jainisme) memakai istilah yang sama tetapi berbeda maknanya sesuai dengan konteks ajaran masing-masing.

Dalam Buddhisme, Jina yang berarti "sang penakluk" (the conqueror) merupakan salah satu sebutan bagi Sang Buddha yang telah menaklukkan nafsu-nafsu. Sebutan ini jarang digunakan dalam kanon Pali, tetapi umum digunakan dalam beberapa teks Pali yang belakangan seperti Jinalankara yang ditulis oleh Buddhadatta dan Jinacarita oleh Medhankara. Istilah ini banyak digunakan dalam teks Sanskerta seperti Mahavastu Avadana.

Demikian juga istilah savaka (Skt: sravaka) yang berarti "pendengar" (diterjemahkan sebagai siswa) dapat ditemukan dalam kanon Pali maupun teks-teks Buddhis yang belakangan. Namun savaka dalam Buddhisme awal menunjuk pada umat awam (para upasaka dan upasika) maupun anggota Sangha (bandingkan dengan sravaka dalam Jainisme yang hanya menunjuk pada umat awam saja). Lihat juga
Sorry, you are not allowed to see this part of the text. Please login or register.


Berikut ini adalah entri kata "jina" dan "savaka" dalam kamus bahasa Pali:

Quote
Jina

Jina [pp. med. of jayati] conquering, victorious, often of the Buddha, "Victor": jitā me pāpakā dhammā tasmâhaŋ Upaka jino ti Vin i.8=M i.171; Vin v.217; Sn 379, 697, 989, 996. magga˚ conqueror of the Path Sn 84 sq.; saŋsuddha˚ (id.) Sn 372. Cp khetta˚. In other connections: Pv iv.333; Th 2, 419 (jin' amhase rūpinaŋ Lacchiŋ expld at ThA 268 as jinā amhase jinā vat' amha rūpavatiŋ Siriŋ).
   -- cakka the Buddha's reign, rule, authority J iv.100; -- putta disciple of the B. Miln 177; -- bhūmi the ground or footing of a conqueror PvA 254; -- sāsana the doctrine of the B. Dpvs iv.3, 10.

Sumber:
Sorry, you are not allowed to see this part of the text. Please login or register.


Sāvaka

Sāvaka [fr. śru] a hearer, disciple (never an Arahant) D i.164; ii.104; iii.47, 52, 120 sq., 133; A i.88; M i.234; S ii.26; It 75 sq., 79; J i.229; Vism 214, 411. -- fem. sāvikā D ii.105; iii.123; Th 2, 335; S iv.379; A i.25, 88. (Cp. ariya -- ˚, agga -- ˚, mahā).
   -- sangha the congregation of the eight Aryas M ii.120; S i.220 (cattāri purisayugāni aṭṭha purisapuggalā); ii.79 sq.; It 88.

Sumber:
Sorry, you are not allowed to see this part of the text. Please login or register.

"Only through deduction does the real image of truth appear."
"When you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Aryacetana

  • Tamu
  • *
  • Posts: 44
  • Reputasi: 3
  • Gender: Male
  • Buddhist KTP (Kritis, To-the-Point)
Re: APAKAH SUTRA TERATAI DIPENGARUHI JAINISME?
« Reply #4 on: 01 December 2010, 11:52:30 AM »
Quote
Kainyn_Kutho:
Numpang tanya, "Hinayana" ini diajarkan oleh siapa yah?
Mahayana ekstrem? :) ^:)^


to: seniya

Savaka / sravaka dalam Buddhisme Nichiren (yang diwakili Daisaku Ikeda) disebut shomon yang merupakan alam ketujuh dari 10 alam kehidupan yaitu alam kecendekiaan alias orang yang mencapai pencerahan dengan mendengarkan ajaran Buddha.
Jadi savaka / shomon = sotapana-sakadagami-anagami ? Cmiiw (correct me if i’m wrong). :)

Daisaku Ikeda (intelektual awam Buddhisme Nichiren) menyebutkan alam ke-8 adalah engaku (pratekya Buddha), alam ke-9 adalah bosatsu (bodhisattva), alam ke-10 adalah Butsuda  (Buddha). 

Daisaku ini kayaknya demen banget sama Sutra Teratai. Konon Buddhisme Tantrayana juga demen Sutra Teratai lho. Cmiiw  :) ^:)^

Kayaknya yang dimaksud Sutra Teratai sebagai pratekya/pacceka buddha   adalah arahat . Cmiiw .  :) ^:)^

_/\_

« Last Edit: 01 December 2010, 11:57:42 AM by Aryacetana »
i'm a non-god-ly human being _/\_
it means if gods (of any religions) try to play 'GOD' on me, i will 'HUMAN-ize' them :))

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.763
  • Reputasi: 261
Re: APAKAH SUTRA TERATAI DIPENGARUHI JAINISME?
« Reply #5 on: 01 December 2010, 01:27:05 PM »
Mahayana ekstrem? :) ^:)^
Lalu kalau menurut "Mahayana ekstrem" ini, Hinayana berada di naungan pengajaran Buddha juga, atau semacam sangha pemberontak, atau bagaimana?

Offline Shinichi

  • Sebelumnya: Seniya
  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.654
  • Reputasi: 154
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: APAKAH SUTRA TERATAI DIPENGARUHI JAINISME?
« Reply #6 on: 01 December 2010, 08:18:47 PM »
to: seniya

Savaka / sravaka dalam Buddhisme Nichiren (yang diwakili Daisaku Ikeda) disebut shomon yang merupakan alam ketujuh dari 10 alam kehidupan yaitu alam kecendekiaan alias orang yang mencapai pencerahan dengan mendengarkan ajaran Buddha.
Jadi savaka / shomon = sotapana-sakadagami-anagami ? Cmiiw (correct me if i’m wrong). :)

Daisaku Ikeda (intelektual awam Buddhisme Nichiren) menyebutkan alam ke-8 adalah engaku (pratekya Buddha), alam ke-9 adalah bosatsu (bodhisattva), alam ke-10 adalah Butsuda  (Buddha). 

Daisaku ini kayaknya demen banget sama Sutra Teratai. Konon Buddhisme Tantrayana juga demen Sutra Teratai lho. Cmiiw  :) ^:)^

Kayaknya yang dimaksud Sutra Teratai sebagai pratekya/pacceka buddha   adalah arahat . Cmiiw .  :) ^:)^

_/\_


Untuk penggunaan istilah "savaka" seperti yang ditulis dalam kamus bahasa Pali di atas adalah untuk menunjuk pada "siswa" secara umum (tidak harus mereka yang mencapai kesucian Arahat - never an Arahant seperti yang ditulis dalam Pali Dictionary). Belakangan muncul istilah "Savaka Buddha" yang menunjuk pada para siswa Sang Buddha yang mencapai Kebuddhaan dengan mendengar ajaran Sang Buddha, yaitu para Arahat. Jadi "savaka" lebih luas cakupan maknanya daripada "Savaka Buddha".

Tiga jenis Buddha menurut komentar Pali adalah Savaka Buddha, Pacceka (Skt: Pratyeka) Buddha, dan Samma (Skt: Samyak) Sambuddha. Pacceka Buddha adalah mereka yang mencapai Pencerahan dengan upayanya sendiri, tetapi tidak dapat mengajarkan orang lain mencapai hal yang sama. Pacceka Buddha ada banyak dalam satu masa dan muncul saat ajaran Samma Sambuddha sudah dilupakan. Samma Sambuddha adalah mereka yang mencapai Pencerahan dengan upayanya sendiri dan dapat mengajarkan orang lain mencapai hal yang sama.

Jadi, Savaka Buddha = Arahat (istilah lainnya Catusacca Buddha, yaitu mereka yang memahami Empat Kebenaran Mulia/Catu-ariya-sacca), sedangkan Sotapanna, Sakadagami, dan Anagami bukan Savaka Buddha walaupun mereka termasuk "savaka" (bersama dengan Arahat, mereka disebut Ariya Savaka/siswa mulia). Pacceka Buddha bukan Arahat.

Tentang 10 alam kehidupan memang dikenal dalam Mahayana, tetapi saya lebih melihatnya sebagai 10 tingkat spiritual yang bisa dialami oleh semua makhluk. Alasannya 4 "alam kehidupan" terakhir (Sravaka, Pratyeka, Bodhisattva, dan Buddha) bukan alam kehidupan (loka/bhumi) dalam pengertian sebenarnya karena tidak ada yang namanya alam Sravaka, Pratyeka, Bodhisattva dan Buddha (keempatnya bukan jenis makhluk berdasarkan kelahiran kembalinya, tetapi berdasarkan pencapaian spiritualnya). Lihat di
Sorry, you are not allowed to see this part of the text. Please login or register.
untuk lebih jelasnya.
« Last Edit: 01 December 2010, 08:20:37 PM by seniya »
"Only through deduction does the real image of truth appear."
"When you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Indra

  • Pensiunan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.392
  • Reputasi: 441
  • Gender: Male
Re: APAKAH SUTRA TERATAI DIPENGARUHI JAINISME?
« Reply #7 on: 01 December 2010, 09:32:25 PM »
 [at]  Seniya

anda mengatakan bahwa Paccekabuddha bukan Arahat, walaupun telah mecapai pencerahan. bisakah anda menjelaskan lebih lanjut mengenai hal ini? bagaimanakah pencerahan seorang paccekabuddha itu?

Offline Sol Capoeira

  • Sebelumnya: El Sol
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.746
  • Reputasi: 6
  • Gender: Male
Re: APAKAH SUTRA TERATAI DIPENGARUHI JAINISME?
« Reply #8 on: 01 December 2010, 11:56:17 PM »
padahal di jaman sang Buddha belum ada yg namanya Hinayana ato Mahayana...aneh2 aja neh Sutra..=_="

Offline Aryacetana

  • Tamu
  • *
  • Posts: 44
  • Reputasi: 3
  • Gender: Male
  • Buddhist KTP (Kritis, To-the-Point)
Re: APAKAH SUTRA TERATAI DIPENGARUHI JAINISME?
« Reply #9 on: 02 December 2010, 07:59:19 AM »
Lalu kalau menurut "Mahayana ekstrem" ini, Hinayana berada di naungan pengajaran Buddha juga, atau semacam sangha pemberontak, atau bagaimana?

gw ga tahu makanya gw pakai tanda tanya (?) gitu lho. tapi dari kutipan-kutipan sutra teratai ini kayaknya hinayana ini dianggap semacam pemberontak. baca aja di bab dua sutra teratai yang sudah saya kutip itu
Quote
Ketika Beliau selesai bersabda demikian, kemudian di dalam persidangan itu bangkitlah 5000 bhiksu, bhiksuni, upasaka dan upasika dari tempat duduknya dengan segera bersujud kepada Sang Buddha, setelah itu mereka mengundurkan diri. Karena akar kedosaan yang ada di dalam diri orang-orang ini sangat begitu dalam dan sifat sombongnya sangat besar sehingga mereka berpendapat bahwa mereka telah memperoleh apa yang sebenarnya belum mereka dapatkan dan telah membuktikan apa yang sebenarnya belum mereka buktikan.
Gimana? kritik sutra teratai ini terhadap hinayana bisa you 'rasa'kan gak?
i'm a non-god-ly human being _/\_
it means if gods (of any religions) try to play 'GOD' on me, i will 'HUMAN-ize' them :))

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.763
  • Reputasi: 261
Re: APAKAH SUTRA TERATAI DIPENGARUHI JAINISME?
« Reply #10 on: 02 December 2010, 08:37:40 AM »
gw ga tahu makanya gw pakai tanda tanya (?) gitu lho. tapi dari kutipan-kutipan sutra teratai ini kayaknya hinayana ini dianggap semacam pemberontak. baca aja di bab dua sutra teratai yang sudah saya kutip itu
Oh, saya pikir ada dijelaskan juga di sutra tersebut, karena saya baru baca 3 bab langsung kehilangan minat.


Quote
Gimana? kritik sutra teratai ini terhadap hinayana bisa you 'rasa'kan gak?
Saya pikir kalau memang Buddha hanya mengajarkan satu jalan, maka seharusnya itu bernama "Ajaran Buddha" saja, mengapa harus ada embel-embel "Mahayana" dan "Hinayana"? Saya ambil contoh di Kanon Pali, banyak juga Bhikkhu yang tidak senang atau tidak mampu mengikuti, maka mengundurkan diri. Tapi tidak muncul istilah "asli/berontak", ajaran mayor/minor, kendaraan besar/kecil, dan lain sebagainya. Mereka hanya dikatakan mengundurkan diri saja. Sebagian tetap jadi upasaka/upasika, sebagian memang meninggalkan ajaran dan mengikuti ajaran lain.

Sedangkan di Sutra ini, terlihat Buddha seperti lidahnya bercabang dua. Pertama ajarkan "sravaka/Hinayana" ke murid-murid, lalu tiba-tiba setelah beberapa lama berubah jadi "Mahayana". Ini seperti orang buka cult, pertama ajarkan Polytheisme, kemudian setelah beberapa lama, ajarannya menjadi Monotheisme. Menurut saya, "Buddha" yang jenis begitu seharusnya tidak parinibbana, melainkan terlahir di Avicci karena memecah-belah sangha.


Offline Shinichi

  • Sebelumnya: Seniya
  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.654
  • Reputasi: 154
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: APAKAH SUTRA TERATAI DIPENGARUHI JAINISME?
« Reply #11 on: 02 December 2010, 07:09:41 PM »
[at]  Seniya

anda mengatakan bahwa Paccekabuddha bukan Arahat, walaupun telah mecapai pencerahan. bisakah anda menjelaskan lebih lanjut mengenai hal ini? bagaimanakah pencerahan seorang paccekabuddha itu?

Bukankah para Savaka Buddha (Arahat), Pacceka Buddha, dan Samma Sambuddha ketiga berbeda dalam cara pencapaian Kebuddhaan mereka, walaupun kualitas spiritualnya (setidaknya dalam Buddhisme awal)?

Bedanya kan udah jelas dari definisi ketiga jenis Buddha tersebut: Savaka Buddha mencapai Pencerahan dengan belajar dari orang lain, Pacceka Buddha dengan upaya sendiri tetapi tidak bisa mengajar, dan Samma Sambuddha dengan upaya sendiri dan bisa mengajar.

Benar kan?????
"Only through deduction does the real image of truth appear."
"When you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline rooney

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.750
  • Reputasi: 47
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia...
Re: APAKAH SUTRA TERATAI DIPENGARUHI JAINISME?
« Reply #12 on: 02 December 2010, 07:53:09 PM »
Bukankah para Savaka Buddha (Arahat), Pacceka Buddha, dan Samma Sambuddha ketiga berbeda dalam cara pencapaian Kebuddhaan mereka, walaupun kualitas spiritualnya (setidaknya dalam Buddhisme awal)?

Bedanya kan udah jelas dari definisi ketiga jenis Buddha tersebut: Savaka Buddha mencapai Pencerahan dengan belajar dari orang lain, Pacceka Buddha dengan upaya sendiri tetapi tidak bisa mengajar, dan Samma Sambuddha dengan upaya sendiri dan bisa mengajar.

Benar kan?????

Baik Savaka, Pacekka, maupun Sammasambuddha, ketiganya adalah Arahat. Mereka setara dalam hal pengetahuan tentang melenyapkan Dukkha

Offline Shinichi

  • Sebelumnya: Seniya
  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.654
  • Reputasi: 154
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: APAKAH SUTRA TERATAI DIPENGARUHI JAINISME?
« Reply #13 on: 02 December 2010, 08:23:32 PM »
OK, ketiganya sama-sama telah merealisasikan Empat Kebenaran Mulia, tetapi jika seseorang berkata tentang Arahat maka yang dimaksud adalah Savaka Buddha, bukan Pacceka Buddha apalagi Samma Sambuddha. Mereka serupa tetapi tidak sama. Perbedaan ketiganya menurut komentar:

Quote
The Commentary on the Khuddakapāṭha gives an exposition of the classes of living beings and classifies them from the lower to the higher stages of existence.

Human beings are divided into women and men. The men are further classified into those who are householders and those who have left their houses, the anagārika. The anāgārika are divided into ordinary people (puthujjana) and noble ones (ariya). The ariya are again classified into those who need further instruction (sekha) and those who do not need further instruction (asekha, i.e., the arahats). These are divided into those who, in their prior practise went the way of pure insight (sukkhavipassaka) and those who had started with the practise of quietude (samathayānika). The samathayānika are divided into those who have not attained the perfections of a disciple (sāvaka) and those who have. Then follow the Paccekabuddhas, who are called higher than the disciples because of the greatness of their virtue. “Even several hundreds of disciples who are like Sāriputta and Moggallāna do not attain a hundredth part of the virtues, of
one Paccekabuddha.”

Higher than the Paccekabuddhas are the Sammāsambuddhas because of the greatness of their virtue: “For even (a group of) Paccekabuddhas seated on the whole of the (continent of) Jambudīpa so close together that sitting cross-legged (their knees) would touch each other, do not attain a portion, or a sixteenth part or a small fraction (of that) of the virtues of one perfectly enlightened one” (I 177–178).

The Puggalapaññatti enumerates nine individuals, first the Sammāsambuddha, secondly the Paccekabuddha, thirdly the sāvaka, etc. The first two are distinguished as follows: “What individual is the Sammāsambuddha? In this world a certain individual awakes by himself to the truths among teachings that are not heard of before and then attains omniscience (sabbaññutā) and mastery of the powers (bala); this individual is called a Sammāsambuddha.

“What individual is the Paccekabuddha? To this world a certain individual awakes by himself to the truths among teachings that are not heard of before and then he does not attain omniscience or mastery of the powers; this individual is called a Paccekabuddha” (Pug 10).

“The arahats, o great king, whose evil Influences (āsava) have been annihilated, whose stains have been washed away, whose defilements have been left behind, who have reached perfection, who have attained the highest good, who have destroyed the bonds of existence, who have attained mastership in analysis (paṭisambhidā), are pure on the stages of the sāvaka. In the province of the sāvaka their thoughts arise lightly and move lightly, (but) on the stages of the Pacceka-buddha they arise with difficulty and move sluggishly. And why? Because they have been fully purified in the province of the sāvaka and because they have not been fully purified in the province of the Paccekabuddha” (Mil 101).

“Those Paccekabuddhas, O great king, are self-existent (sayambhū), without a teacher, living solitarily (ekacāri), resembling the horn of a rhinoceros, in their own province possessing thoughts which are pure and stainless; in their own province their thoughts arise lightly and move lightly, (but) on the stages of the omniscient Buddha they arise with difficulty and move sluggishly. And why? Because they have been fully purified in their own province and because of the greatness of the province of the omniscient Buddha.

“It is, O great king, like a man who on his own land might cross a small river by night or by day, whenever he wants, without fear, but who might be afraid, might tarry and might not dare to cross the great ocean, having seen that it is deep, wide and unfathomable, and with no other shore in sight, and why? Because of the familiarity with his own land and of the greatness of the great ocean” (Mil 105).

[Suttanipata Commentary:]“Buddhas are enlightened by themselves and enlighten others: Paccekabuddhas are enlightened by themselves (but) do not enlighten others: they comprehend only the essence of meaning (attharasa), not the essence of the idea (dhammarasa). Because they are not able to put the supramundane dhamma into concepts and teach it; their realisation of the Dhamma is like a dream seen by a dumb man and like the taste of a curry from the city to one who lives in the forest; they reach the whole that consists of supernatural power (iddhi), attainments (samāpatti) and analysis (paṭisambhidā).

As to the eminence of their virtues they are lower than Buddhas and higher than disciples; making others enter upon the religious life they teach the practise of lesser ethics (abhisamācārika)7 with this instruction: ”Austerity regarding the mind should be practised, perfection should not fall into stagnation.”

Buddhaghosa’s commentary on the Dīghanikāya describes three different categories of knowledge as follows: “The knowledge of the perfections of a disciple is deep, (but) therein is no determination (vavatthāna). And further the knowledge of a Paccekabuddha is deeper than that, (but) also in that there is no determination. And the knowledge of omniscience is deeper than that. And there is no other that is deeper …” (D-a I 100).

And in the Sāratthappakāsinī “Disciples … attain the knowledge of the perfections of a disciple, Paccekabuddhas the knowledge of self-enlightenment, (and) Buddhas the knowledge of omniscience” (S-a III 208).

In addition to the classification of Buddha, Paccekabuddha and disciple, another classification occurring in the commentarial literature speaks of four kinds of Buddhas: the omniscient Buddha, the Paccekabuddha, the four-truths Buddha, and the learned Buddha (S-a I 25). These are explained as follows: “Here (the person) who, having fulfilled all the thirty perfections, attains perfect enlightenment, is called an omniscient Buddha. (He), who, having fulfilled the
perfections in the course of one hundred thousand kalpas plus two incalculable periods, attains the state of a self-existent one, is called a Paccekabuddha. The remaining ones who have destroyed the evil influences are called four-truths-Buddhas. And those who are very learned (are called) learned Buddhas” (S-a I 25). In this classification the third member of the threefold series, the disciple, has been divided into the liberated disciple or arahat and the disciple who is learned in the teaching but not yet liberated.

Sumber: The Paccekabuddha, A Buddhist Ascetic: A Study of the Concept of the Paccekabuddha in Pali Canonical and Commentarial Literature
"Only through deduction does the real image of truth appear."
"When you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Indra

  • Pensiunan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.392
  • Reputasi: 441
  • Gender: Male
Re: APAKAH SUTRA TERATAI DIPENGARUHI JAINISME?
« Reply #14 on: 02 December 2010, 09:03:03 PM »
Bukankah para Savaka Buddha (Arahat), Pacceka Buddha, dan Samma Sambuddha ketiga berbeda dalam cara pencapaian Kebuddhaan mereka, walaupun kualitas spiritualnya (setidaknya dalam Buddhisme awal)?

Bedanya kan udah jelas dari definisi ketiga jenis Buddha tersebut: Savaka Buddha mencapai Pencerahan dengan belajar dari orang lain, Pacceka Buddha dengan upaya sendiri tetapi tidak bisa mengajar, dan Samma Sambuddha dengan upaya sendiri dan bisa mengajar.

Benar kan?????

demikian jugalah yg saya pelajari sehubungan dengan ke3 makhluk agung tersebut. tapi itu tidak menjelaskan bahwa Paccekabuddha adalah bukan Arahat. bagaimana pula dengan Sammasambuddha? apakah seorang Sammasambuddha adalah Arahat atau bukan?